Assalammualaikum Wr Wb Dunsanak sa Palanta Yml

Karano indak ado nan marespon di milis, tapi Bapak MM*** lai sato marespon
di FB dengan respon yang panjang. Hanifah copas tulisan Bapak MM*** disini
semoga berkenan

Salam

Hanifah

Muchwardi Muchtar <https://www.facebook.com/muchwardi.muchtar?fref=nf>
8 jam <https://www.facebook.com/muchwardi.muchtar/posts/708408052558140> · Kota
Bekasi <https://www.facebook.com/pages/Kota-Bekasi/112413425436794> ·

Karena cukup banyak teman-2 (via HP, email, FB) yang menanyakan bagaimana
pendapat Bapak Muchwardi Muchtar *** tentang UU Pilkada yang telah disahkan
DPR-RI pecan lalu, maka melalui FB rsemi milik saya ini, saya akan
paparkanan saya.

Selamat menikmati pandangan lain dari orang lain yang bukan anggota parpol
apa pun di negeri ini.

Seorang.Ibu Dosen Matematika dari Padang meminta pendapat Pak m.m. Dan.
"gara-gara" FB-nya tersebutlah, saya mau tak mau mencoba beropini dengan
mengedepankan kerangka akidah yang saya peluk.

Nah, sudah siapkah "majlis alam maya" ini untuk menerima perbedaan pendapat
bila kita bicara soal paham demokrasi di republik kumpulan kaum bedebah ini?

OK, saya mulai.
Maaf sebelumnya bagi Sanak lain yang seakidah dan ---insha Allah---
secita-cita. Jika pendapat saya ini nyleneh menurut istilah kaum JIL (bukan
: Jaringan Iblis Laknatullah) yang memperdewakan HAM (bukan daging babi)
dalam berkehidupan di negeri kita.

Agama yang saya peluk mengajarkan kepada saya KETIKA KITA TERBENTUR (bahasa
minang : tatumbuak aka) pada pro dan kontra soal "aturan main di dunia".
Apalagi dari mulai wong cilik (grass root) sampai pada anak bangsa yang
pakar di bidang ketatanegaraan banyak yang berbeda pendapat. Kalau para
"abdi parpol" banyak yang berebeda pendapat soal Pilkada, bagi saya tidak
aneh. Yang mengherankan adalah banyaknya manusia Indonesia yang pura-pura
lupa kepada sila keampat Pancasila yang berbunyi : "Kerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan /
perwakilan".

Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sudah semakin tergeser dari fungsi
dan
kedudukannya dalam era demokrasi ini. Hal ini terlihat jelas pada pelaksaan
pemilu yang
berbeda jauh dari pelaksanaan pemilu pada saat Orde Baru. Pemilu saat ini,
baik pemilihan
Caleg, Bupati, Gubernur, bahkan sampai tingkatan Presiden semua warga
negara Indonesia
diberi hak sepenuhnya untuk ikut memilih.
Nilai - nilai pancasila yang seharusnya di aplikasikan dalam kehidupan
bernegara
ataupun kehidupan bangsa Indonesia sehari-hari belum sepenuhnya
dilaksanakan. Banyak
penyimpangan - penyimpangan yang terjadi terhadap hilai - nilai pancasila
sehingga bisa
menimbulkan dampak negatif.

Kita terlalu manut kepada "ajaran demokrasi" yang diterapkan sering bermata
dua oleh Negara hipokrit semacam AS. "Suara rakyat adalah suara tuhan",
istilah orang yang berasal dari kampong Socrates. Padahal dalam agama
(Islam) yang saya penuh seyakin-yakinnya dunai akhirat, TIDAK SELAMANYA
YANG BANYAK (baca : SUARA TERBANYAK) ITU KEBENARAN. Biar sedikit suara yang
mendukungnya, sepanjang yang diyakini oleh (pemeluk Islam) itu adalah
hakiki manurut ajaran Islam yang berdasarkan perintah kitab suci yang
berasal dari langit (Al Quran) dan dicontohkan oleh (sunnah) nabi atau
pernah diucapkan oleh junjuangan kita nabi Muhammad SAW, maka ia adalah
SULUH HIDUP BAGI UMAT MANUSIA DI ATAS DUNIA, ketika ia berbeda pendapat
dalam adu opini seputar mana yang baik atau banyak mudharatnya bila memilih
produk anak manusia.

Ingat ya, Bu Ipah.
Secermelang apa pun paham demokrasi yang diiplementasikan dengan ajaran
susulan bernama trias politika (legislatif, eksekutif dan judikatif), tokh
bagi pemeluk Islam (seperti Pak m.m ini misalnya) IA HANYA PELENGKAP
KEHIDUPAN DI DUNIA. Padahal bagi umat Islam yang bagai buih di tengah
lautan ini kalau ingin SELAMAT HIDUP DI DUNIA DAN AKHIRAT selalulah untuk
kembali ke ajaran Allah SWT yang diturunkan melalui Muhammad SAW.

Jadi, kalau ditanayakan kepada saya bagaimana komentar Pak m.m soal Pilkada
di NKRI ini?
Jawaban saya yang sudah berkali-kali saya tulis dalam kesempatan apa pun di
internet, bahkan via blog [email protected] adalah : Islam tidak mengenal
ajaran demokrasi yang menyatakan suara rakyat adalah suara tuhan. Sekali
lagi saya ulangi : "tidak ada jaminan, bahwa yang terbanyak itu adalah
kebenaran.!!!!".

Seperti yang berlaku dalam "menerapkan demokrasi" di kampung saya
Minangkabau (yang juga berarti kampung Ipah, kampung Arman Bahar, kampung
Bundo Evy Nizhamul, atau Sudirman Munir, atau Jefry Geovani dll, dst)
SETIAP MEMILIH PEMIMPIN KAUM SEMENJAKN ZAMAN DOELOE ADALAH MEMAKAI SISTEM
MUSYAWARAH MENUJU MUFAKAT.

Dalam memilih Datuak atau Kapalo Nagari (di Minangkabau) berlaku sistem
bibit, bobot dan bebet. Jadi, orang yang akan dipilih menjadi Pemimpin anak
kamanakan dan mengapalai nagari di Minangkabau itu, "ajaran demokrasi" di
ranah minang adalah dengan duduak baselo yang "hanya" diwakili oleh niniak
mamak, cadiak pandai di sekitar kaum atau nagari mereka.

Kalau dipakai pula di Minangkabau hari ini sistem demokrasi (yg member hak
suara sama bagi anak kamanakan, bundo, induak-induak sampai pareman pasa di
nagari ybs) yang sangat dibanggakan kaum orientalis barat semacam Amerika
(dgn alssan HAM gombal....!!......== >m.m), maka sebentar lagi nagari-nagari
di Minangkabau akan hancur lebur masuk bumi.

Jadi, kesimpulan "ruok lapeh" saya via FB ini Ibu Ipah, adalah satu saja :
Memang sebaiknya untuk pemilihan Bupati, Gubernur (tidak Walikota...!)
dipakai melalui jalur wakil-wakil kita yang di DPRD saja. Kita sudah
mempercayai mereka ketika diadakan Pemilu Legislatif. Kenapa kepercayaan
yang telah kita amanahkan sebagai "penyembah paham demokrasi" mesti
dicurigai DPRD ada main dengan para KaDa yang diangkat mereka?

Sepanjang LSM (bermoral) tetap hidup di sekitar DPRD, dan KPK atau Polisi &
Kejaksaan bekerja sesuai amanah yang diberikan Negara, tentu seperti apa
pun anggota DPRD pandainya menyimpan bangkai KKN ketika terjadi proses
pemilihan KaDa, tentu akan tercium juga. Yakinlah...! Selama 32 tahun DPRD
memilih para KaDa di republik kupulan kaum bedebah ini, ternyata
"aman-aman" saja, dan rakyat pun tidak ada yang perang baku bunuh karena
"pemimpin pujaannya yang telah memberi sembako atau menjannjikan angin
surge kepada mereka" tidak terpilih dalam pesta demokrasi ecek-ecek yang
diblow up oleh jaringan media massa yang dikangkangi Yahudi.

Salam QS 2 : 120 .............................!!!
"Selamat malam Ibu Ipah dan FB-ers-ku di alam maya nan fana.

mm***


Pada 28 September 2014 22.07, Hanifah Damanhuri <[email protected]> menulis:

> Telaah - Rekonsiliasi Nasional : Kemadanian Demokrasi Berbangsa dan
> Bernegara
>
> Minggu, 28 September 2014 20:52 WIB
>
> Dr Ir Ricky Avenzora M.Sc*
>
>
>
> http://www.antarakalbar.com/berita/326892/telaah--rekonsiliasi-nasional--kemadanian-demokrasi-berbangsa-dan-bernegara
>
>
> Salam
>
> Hanifah
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke