|
Oleh : Dedi Yusmen,
Pengurus Pusat Masyarakat Peduli Pariwisata Sumbar (Mappas)
SECARA umum pariwisata merupakan salah satu bentuk pemanfaatan potensi sumber
daya alam, manusia dan lingkungan yang dapat memberikan keuntungan dari sisi
keekonomian. Banyak negara yang telah memanfaatkan potensi ini untuk
meningkatkan penerimaan negara dalam menyejahterakan rakyatnya. Negara di
Eropa seperti Belanda, Perancis, Italia dan Inggris sudah lama menjadikan
pariwisata sebagai salah satu pendapatan negara utama. Negara tetangga
seperti Singapura dan Malaysia
telah pula memanfaatkan pariwisata sebagai pemasukan utamanya, Singapura
dengan wisata belanjanya dan Malaysia
dengan jualannya "Truly Asia" itu.
Geowisata
merupakan salah satu jenis wisata minat khusus dengan memanfaatkan potensi
sumber daya alam meliputi, bentuk bentang alam, batuan, struktur geologi dan
sejarah kebumian, sehingga diperlukan peningkatan pengayaan wawasan dan
pemahaman proses fenomena fisik alam (pusdiklat geologi, 2007). Contoh objek
geowisata adalah gunung api, danau, air panas, pantai, sungai dan lain-lain.
Keindahan wilayah ini yang biasanya digunakan sebagai ikon wisata untuk
menarik para pengunjung. Siapa yang tidak kenal Danau Singkarak, Danau
Maninjau, Danau Diateh Danau Dibawah, Ngarai Sianok, Lembah Harau, Bukit
Barisan, lihat pula hamparan gunung sepanjang bukit barisan, Merapi,
Singgalang, Talang dengan potensi air panas, berdiri gagah dan walau kadang
mencemaskan, semua itu anugerah yang saling menyelindan pendukung keindahan
dan kesuburan alam ranah minang. Secara keilmuan terutama pada ilmu kebumian
(geosciense) seperti geologi dan geofisika, potensi ini dapat dijadikan
sebagai laboratorium alam yang lengkap dan bermanfaat.
Potensi Pengembangan
Sebelumnya
mari kita tengok ke dalam, ke ranah tercinta, Sumatera Barat, Sumatera Barat
yang bercikal dari "tigo luhak" yang konon kabarnya melalui tambo
dikatakan berawal dari Gunung Merapi sebesar "telur itik" itu
menunjukkan sebuah proses "terciptanya" Gunung Merapi
"diikuti" dengan kejadian alam berikut di sekitarnya, kejadian
Gunung Singgalang diikuti regangan tektonik lembah Ngarai Sianok ke baratnya,
danau, gunung, sungai, lembah dan paparan bukit itu telah dibentuk oleh
peristiwa geologi yang tidak hanya indah untuk dipandang, tapi dapat pula
dipelajari sejarah terbentuknya secara keilmuwan, terutama dari sisi ilmu
kebumian. Sebagai laboratorium alam "ilmu Kebumian" maka potensi
ini dapat dijadikan sebagai potensi lain pengembangan wisata. Secara praktis
di tempat wisata alam itu dapat dibuat sejarah geologi terbentuknya objek
wisata alam tersebut dan dimunculkan dalam "board" dan brosur
setiap objek wisata alam ini.
Potensi
geowisata di wilayah Sumatera Barat dapat dikembangkan dengan beberapa cara
seperti dengan membuat sejarah geologi daerah geowisata, membuat kunjungan
geowisata, pameran geowisata, dll. misalkan di Panorama Bukittinggi dapat
dibuat suatu "space" kecil yang menceritakan sejarah geologi
terbentuknya Ngarai Sianok, selain menarik untuk dibaca tentu juga akan
menambah sisi keilmuan bagi pengunjung, bagi peserta didik tentu dapat
dijadikan tambahan referensi dalam memahami pelajaran ilmu bumi di sekolah.
Di lain hal sebagai laboratorium alam, potensi geowisata ini tidak hanya
menarik bagi wisata tapi juga dapat menarik sebagai area penelitian.
Pendirian gedung Geowisata Sumbar dapat pula direncanakan berisi tentang
sejarah geologi suatu potensi wisata di tempat tujuan wisata, gedung
geowisata ini dibuat sebagai referensi awal bagi pengunjung geowisata Sumbar.
Peluang, Tantangan dan Kerjasama
Kerja
wisata ini tentu tidak mudah untuk segera diwujudkan, namun infrastruktur dan
sumberdaya yang ada saat ini di Sumbar khususnya diyakini dapat dielaborasi
untuk percepatan rencana pengembangan geowisata Sumbar tersebut. Tantangan
utama tentu adalah penyiapan sumber daya manusia yang akan mendukung
terwujudnya rencana ini. Untuk lebih memudahkan perwujudannya dengan segera,
maka instansi terkait dengan ilmu kebumian antara lain perguruan tinggi yang
ada di Sumbar seperti Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang dll.
Himpunan
Profesi ilmu Kebumian. Di Sumbar ada Komisariat Wilayah Himpunan Ahli
Geofisika (HAGI) dan Ikatan Ahli Geologi (IAGI) yang telah pula melaksanakan
beberapa kegiatannya di Sumbar seperti Acara "Lapau Mak Katik"di
TVRI Padang beberapa waktu lalu dan tanggap tsunami, yang dapat pula
dijadikan referensi dalam melengkapi terealisasinya rencana pengembangan
objek geowisata ini. Banyak pula ahli Geofisika, Geologi, Meterologi di
beberapa instansi di luar Sumbar yang berasal dari Sumatera Barat, seperti
Badan Meteorologi Geofisika (BMG) di mana Ketua BMG periode sebelumnya
berasal dari Sumatera Barat, Instansi Perguruan Tinggi, Lembaga Penelitian,
Industri dll. yang dapat diminta masukan dan bantuannya dalam rencana
pengembangan potensi geowisata Sumbar.
Untuk
memenuhi kekurangan ahli pemandu geowisata (geotourism guider),dapat pula
pada Sekolah Pariwisata seperti SMK Parawisata, Akademi Parawisata di Sumbar
ditambahkan kurikulum tentang geowisata, khususnya pengetahuan tentang
potensi geowisata Sumbar, pembuatan kurikulum tersebut dibantu oleh ahli-ahli
di atas. Saat ini di Kototabang terdapat stasiun Pengamatan Iklim dunia, yang
berpotensi dijadikan sebagai objek geowisata, stasiun Pengamatan Geofisika
dan Meteorologi di Padang Panjang dimintakan sebagai referensi data dalam
menambah khasanah ilmu para peminat dan penikmat geowisata. Geowisata yang
penuh tantangan ini ke depan dapat dijadikan salah satu ikon wisata Sumbar
yang merupakan peluang dan potensi bila dikerjakan dengan fokus dan serius,
semoga. (***)
|