News <http://news.kompas.com>  / Megapolitan <http://megapolitan.kompas.com> 

Ini Klarifikasi Raden Nuh Terkait Dugaan Berada di Balik Akun @TrioMacan2000

Senin, 3 November 2014 | 06:23 WIB 

Description: Description: 
http://assets.kompas.com/data/photo/2014/11/02/2159294Raden-Nuh780x390.jpgRobertus
 Bellarminus RN pemilik akun @TM2000Back ditahan Polda Metro Jaya, Minggu 
(2/11/2014).

 


JAKARTA, KOMPAS.com - Sebelum ditangkap petugas Subdit Cybercrime, 
Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, pada Minggu (2/11/2014) dini hari, Raden Nuh 
sempat menyatakan klarifikasinya.

Raden menyatakan klarifikasi di media miliknya. Tulisan itu diakhiri dengan 
tempat dan tanggal Raden menulis, yakni Semarang, 1 November 2014.

Sedangkan berita mengenai klarifikasinya dimuat pada Sabtu (1/11/2014) pukul 
09.50 WIB. Tidak sampai 24 jam setelah klarifikasi dimuat,  Raden dibekuk di 
Jalan Tebet Barat Dalam V, di depan kantornya dan kamar kos teman wanitanya. 
Klarifikasi antara lain memuat ia mengakui menerima uang sekitar Rp 325 juta 
untuk operasional perusahaan media online.

Berikut klarifikasi Raden dalam situs berita miliknya itu:

Sehubungan dengan informasi yang saya terima mengenai tuduhan kepada saya yang 
disebutkan telah melakukan tindak pidana pemerasan terhadap Abdul Satar atau 
dan Wahyu Sakti Trenggono dengan ini disampaikan klarifkasi sebagai berikut :

1. Saya tidak pernah dan tak akan pernah melakukan pemerasan terhadap Abdul 
Satar atau Wahyu Sakti Trenggono atau siapa pun juga, baik pada masa lalu, 
sekarang atau masa akan datang karena tindakan itu jauh dari sifat dan karakter 
saya. Jangankan berbuat pemerasan, memikirkannya saja saya tak pernah.

2. Apalagi jika disebutkan saya memeras Abdul Satar atau biasa saya panggil 
Abangda Satar atau WS Trenggono, bahkan UNTUK MEMINTA UANG kepada Satar atau 
Trenggono, saya tidak pernah, meski Satar dan Trenggono kerap menawarkan 
bantuan uang atau lainnya kepada saya. Karena secara ekonomi, saya cukup mampu 
dan ketika ditawarkan bantuan uang dengan berbagai alasan, saya selalu menolak.

3. Benar bahwa saya ada menerima sejumlah uang, kalau tidak salah sebesar Rp. 
50 juta dan Rp. 275 juta pada pertengahan oktober 2014 lalu, terhadap pemberian 
uang tersebut saya sampaikan sebagai berikut :

Uang tersebut adalah untuk penggantian biaya operasional perusahaan/ kantor PT 
Asatu Media Perdana Bangsa yang merupakan milik Abdul Satar dan Wahyu Sakti 
Trenggono, saya dan Hari Koeshardjono. Di mana kepemilikan saham PT Asatu Media 
Perdana Bangsa sebesar 51% adalah milik Abdul Satar dan Trenggono, 35% milik 
saya dan Abadullah Rasyid, serta 14% milik Hari Koeshardjono. Namun, dalam akte 
perusahaan, saham milik Satar dan Trenggono dititipkan atas nama Hari Koes 
Hardjono.

Penyerahan uang sebanyak dua kali dilakukan di restoran Larazeta Jalan Tebet 
Barat Raya 17 Tebet, Jakarta selatan.Penyerahan kedua pada tanggal 16 Oktober 
2014 sekitar pukul 13.30 WIB di restoran Larazeta Jalan Tebet Barat Raya No. 17 
lantai 2. Di mana pertemuan itu adalah inisiatif dari Satar setelah pertemuan 
pertama beberapa hari sebelumnya yang mana juga merupakan inisiatif dari Satar 
melalui ajakan pertemuan kepada saya melalui pesan bbm (blackberry messenger)

Pada pertemuan pertama, Abdul Satar mengundang bertemu dan mengajak makan siang 
saya tanpa menyebutkan alasan dan maksud pertemuan. Setelah makan siang, 
barulah Abdul Satar menanyakan mengenai kondisi perusahaan PT Asatu Media 
Perdana Bangsa yang mengelola media online Asatunews.com. Saya jelaskan bahwa 
sejak Abdul Satar dan Trenggono tidak lagi atau menghentikan transfer biaya 
operasional kepada Asatunews sejak sekitar bulan Juni 2014 lalu, Asatunews 
memliki hutang di mana-mana, termasuk pada karyawan sendiri.

Asatunews didirikan atas inisiatif Wahyu Sakti Trenggono pasca pertemuan dengan 
saya, Hari Koeshadjono, Abdullah Rasyid dan Wahyu Sakti Trenggono pada hari 
Senin, tanggal 17 Juni 2013, sekitar pukul 18.30 hingga pukul 21.30 di Opal 
Cafe, Tebet Green Jalan MT Haryono Jakarta Selatan.

Sebelumnya, Abdullah Rasyid yang pada saat itu adalah Staf Khusus Menko Hatta 
Rajasa pada hari Senin siang sekitar pukul 15.00 Wib bertemu dengan saya di 
Aceh Corner Bidakara, Jl.MT Haryono Jakarta Selatan. Menurut Abdul Rasyid, ia 
ketika itu ditugaskan Menko Hatta Rajasa untuk menemui saya. Pada saat 
pertemuan itu juga hadir M Fahrudin (mantan sekjen KNPI) yang juga Sekretaris 
Polkam DPP Partai Demokrat.

Pada saat pertemuan itu, Abdullah Rasyid menerima telepon dari seseorang yang 
kemudian baru diketahui orang itu adalah Wahyu Sakti Trenggono, Wakil Bendahara 
Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga pengusaha nasional tangan kanan Menko 
Hatta Rajasa.  Di sela-sela pembicaraan telpon Rasyid dengan Wahyu Sakti 
Trenggono, tiba-tiba Abdullah Rasyid mengatakan Trenggono ingn bertemu saya, 
yang saya tolak karena saya tidak mengenalnya sama sekali.

Menanggapi penolakan saya, Rasyid memberikan handphone-nya dan meminta saya 
sampaikan penolakan langsung kepada Wahyu Sakti Trenggono yang terus 
mendesaknya untuk bisa bicara langsung kepada saya.

Melalui pembicaraan via handphone Rasyid itu, Trenggono mendesak saya agar 
bersedia bertemu dengannya hari itu juga. Akhirnya pertemuan pertama saya 
dengan Wahyu Sakti Trenggono (mitra Abdul Satar) terjadi juga di Opal Cafe, 
Pukul 18.30 sampai 21.30 Wib Senin 17 Juni 2013.

Pada saat pertemuan itu, Wahyu Sakti Trenggono meminta kami (Rasyid, Hari dan 
Saya) untuk membantu "mengamankan" PT Telkom, yang saat itu sedang disorot 
publik karena banyak dugaan korupsi, di antaranya korupsi proyek MPLIK di PT 
Telkom dan penjualan PT. Telkom Vision kepada Chairul Tandjung/ Trans Corp 
Grup, yang dinilai rakyat dilakukan  Telkom secara melanggar hukum dan 
merugikan negara USD 150 juta atau Rp. 1.8 Triliun.

Pada saat itu, Trenggono menawarkan sejumlah uang agar kami mau membantu 
mengamankan berbagai dugaan korupsi di Telkom yang telah merugikan negara 
sangat besar. "Abang, mau apa? Sebut saja. Saya punya uang lebih Rp 4 triliun, 
cash! Saya juga punya credit line lebih USD 4 miliar. Abang mau apa saja, saya 
bisa berikan," kata Trenggono kepada saya malam itu untuk membujuk saya 
membantu mengamankan korupsi-korupsi di PT Telkom Indonesia Tbk.

Menanggapi penawaran Trengono itu, saya menjawab "Saya punya uang Rp 4 juta di 
ATM BCA. Saya tidak punya credit line miliaran dollar Amerika seperti Mas 
Trenggono, tapi maaf, saya tidak butuh apa-apa". Mendengar jawaban saya, 
Trenggono langsung berdiri sambil memekikan "Allahu Akbar!" sambil memeluk 
saya, Mas Trenggono mengatakan "Inilah Saudara saya yang saya cari-cari selama 
ini".

Itulah sekelumit fakta awal pertemuan saya dengan Trenggono dan tak lama 
kemudian dengan Abdul Satar, yang merupakan mitra Trenggono. Dari pertemuan di 
Opal Cafe, Tebet Green, Jakarta Selatan, terjadilah hubungan 'persaudaraan' 
antara saya dengan Mas Trenggono dan Abdul Satar, hingga hari ini.

Pertemuan berikutnya intens terjadi, di mana dari puluhan kali pertemuan kami 
terutama di kantor Mas Trenggono dan Satar MT Building Jl.MT Haryono, Trenggono 
dan Satar mengajak kami untuk mendirikan media online ASATUNEWS yang pada 
awalnya direncanakan Trenggono dan Satar harus dapat mengalahkan kompetitor 
seperti Detik.news, Vivanews dan lain-lain. Saya, Hari dan Abdullah Rasyid 
diminta untuk membantu terwujudnya rencana itu.

Satar dan Trenggono berulang kali mengatakan bahwa mereka ingin membesarkan 
Asatunews yang baru berdiri itu. Berapapun biayanya akan mereka siapkan. Dalam 
dua tahun Asatunews harus mampu mengalahkan detik.news dan dalam 5 tahun akan 
mengalahkan Vivanews.

Dalam berbagai meeting mengenai perusahaan PT Asatu Media Perdana Bangsa, 
Trenggono dan Satar selalu mengulangi ambisi mereka tersebut. "Asatunews harus 
bisa menjadi holding company di mana berbagai perusahaan media dan media 
content berada di dalamnya". Kalimat ini selalu diulang-ulang oleh Trenggono 
dan Satar. Termasuk rencana pendirian media televisi nasional yang nantinya 
berada di dalan Holding Company Asatunews.

Konsekuensinya, kami diminta untuk mencari staf redaksi terbaik di Indonesia. 
Kami diminta untuk membentuk organisasi perusahaan yang lengkap secepatnya. 
Untuk kantor asatunews, Trenggono dan Satar menyewakan sebuah rumah berlantai 
dua di Jalan Tebet Barat Dalam V Nomor 26 Tebet Jakarta Selatan. (Tempat 
Kejadian Perkara/ TKP rekayasa kasus "pemerasan' oleh Edi Syahputra terhadap PT 
Telkom disebutkan terjadi. Sebuah kasus yang saya tahu persis adalah rekayasa 
dari pihak Telkom sendiri, dengan memberikan laporan palsu atau keterangan tak 
benar kepada Polda Metro Jaya.

Atas permintaan Trenggono dan Satar yang berulang-ulang ditekannya, organisasi 
Asatunews yang baru berdiri menjadi gemuk. Susunan organisasi redaksi dan 
perushaan hampir sempurna. Namun, konskuensinya, biaya operasional menjadi 
besar sedangkan pendapatan terutama iklan belum ada. Trenggono dan Satar selalu 
menekankan biaya tidak menjadi masalah. Berapapun akan disiapkan, yang penting 
rencana menjadikan Asatunews terbesar dapat terwujud.

Namun, kenyataannya pada bulan ketiga dan seterusnya, Trenggono dan Satar 
selalu mentransfer atau memberikan biaya operasional kurang dari seharusnya, 
juga sering terlambat yang mengakibatkan karyawan tidak nyaman bekerja dan satu 
per satu keluar dari Asatunews karena gaji sering terlambat. Meski begitu, kami 
dipaksa untuk merekrut staf baru lagi.

Kondisi ini berlangsug terus-menerus hingga utang perusahaan kepada banyak 
pihak menumpuk termasuk kepada karyawan sendiri seperti Santika yang mencapai 
Rp 50 juta dan kepada karyawan lain (utang gaji dll ratusan juta rupiah). 
Puncaknya pada Mei-Juni 2014 di mana para karyawan asatunews tidak lagi gajian 
dan untuk mengatasinya, terpaksa harus meminjam uang kemana-mana. Trenggono dan 
Satar tidak lagi mentransfer uang operasional. Pada Juli - Agustus - September 
2014 perusahaan terpaksa gadaikan mobil operasional. Hingga akhirnya sebagian 
karyawan di rumahkan dan tidak mendapat gaji dan THR. sebagian malah 
diberhentikan.

Pada awal Oktober 2014 tiba, Satar kirim sms mengajak bertemu dan menyerahkan 
sebagian uang untuk yang menjadi komitmen Trenggono dan Satar sejak pertama 
kali berniat mendirikan asatunews. Penyerahan uang dua kali yang dilakukan 
Satar melalui saya untuk Asatunews masing-masing Rp 50 juta dan Rp 275 juta.

Saya tahu skenario rekayasa kasus pidana atau kriminalisasi terhadap saya. Ada 
informasi, nasib saya juga akan dijadikan seperti Edi Syahputra, Ibnu Misbakhul 
Hayat, Hari Koeshardjono atau bahkan seperti Anas Urbaningrum dan Antasari 
Azhar, di mana opini palsu diciptakan secara masif dan terus menerus tanpa ada 
perimbangan berita yang sebenarnya.

Seiring dengan itu, kesalahan saya selaku manusia biasa akan dikorek-korek, 
dicari-dicari sampai ketemu dan jika tak ketemu maka akan diciptakan kejahatan 
fiktif di mana saya harus dihukum penjara atau dimatikan di penjara atas 
perintah orang-orang tertentu. Alangkah malangnya nasib Bangsa dan Negara 
Indonesia yang tercinta, di mana konstitusi dan mukaddimah UUD 1945 tegas 
menyatakan Indonesia adalah negara berdasarkan hukum, bukan kekuasaan.

Demikian disampaikan.

Semarang, 01 Nopember 2014

Semoga Allah SWT senantiasa bersama kita. Amiin YRA

Raden Nuh

Seperti diberitakan Raden Nuh ditangkap karena diduga sebagai admin akun 
Twitter TrioMacan2000. Raden Nuh ditangkap di sebuah kost-kostan di kawasan 
Tebet, Jakarta Selatan, dini hari tadi. Polda Metro Jaya saat ini menangani dua 
laporan polisi terkait akun TrioMacan2000. Sebelumnya atas laporan seorang 
petinggi PT Telkom beberapa waktu lalu, polisi menangkap seorang admin Twitter 
TrioMacan2000, bernama Edi Saputra.

Akun TrioMacan2000, dikabarkan mengalami perubahan alamat dari nama 
@TrioMacan2000 <http://www.tribunnews.com/tag/triomacan2000/>  menjadi 
@TM2000Back. Adapun akun @TrioMacan2000 
<http://www.tribunnews.com/tag/triomacan2000/>  sudah tak aktif sejak 13 Juni 
2013. Setelah populer dengan kicauan-kicauan mengenai kasus korupsi, hingga 
kini di twitter terdapat sejumlah akun yang menggunakan nama Triomacan2000. 
Hingga berita ini diturunkan belum muncul kicauan @TM2000Back terkait kabar 
penangkapan Raden Nuh. Saat Edi Saputra ditangkap, akun @TM2000Back tetap 
gencar berkicau tentang kasus Telkom maupun menjawab pertanyaan netizen.

Sejauh ini belum ada konfirmasi dari pihak-pihak yang disebut oleh Raden Nuh 
dalam klarifikasinya tersebut.

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf 
Of Akmal Nasery Basral
Sent: Wednesday, November 05, 2014 11:45 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [R@ntau-Net] Profil Raden Nuh, urang awak kah?

 

Tan Mudo, 

kalau menurut pengacara RN dan ES di acara ILC semalam, kedua kliennya itu 
ternyata kakak-adik. Kalau benar begitu, wow juga ya. 

(Ini salah satu repotnya kebiasaan nama di kita karena tidak memakai nama ayah, 
jadi tidak terlihat mereka bersaudara atau tidak. Kalau nama ayah mereka 
digandengkan pada nama mereka, lebih mudah mengidentifikasinya).

 

Salam,

 

ANB

 

 

 

 

 

Pada 4 November 2014 20.59, Nofend St. Mudo <[email protected]> menulis:


TOKOH TRIOMACAN CALEG SUMBAR II
Selasa, 04 November 2014 01:41

DITAHAN KARENA PERAS PETINGGI PT TELKOM

Misteri akun Twitter @TrioMacan2000 akhirnya terungkap, setelah Polda Metro 
Jaya menangkap dua pelaku yang diduga memeras petinggi PT Telkom.  Admin akun 
twitter tersebut Raden Nuh, ternyata Caleg DPR-RI  Dapil Sumbar II dari Partai 
Hanura.

PADANG, HALUAN — Ra­den Nuh, admin akun twitter @TrioMacan 2000 yang kini  
ditahan Polda Metro Jaya sejak Minggu (2/11) dini hari, ternyata pernah 
mencalonkan diri sebagai caleg DPR RI untuk daerah pemilihan Sum­bar II dari 
Partai Hanura.

Raden Nuh tercatat sebagai caleg nomor urut dua untuk daerah yang meliputi 
Pasaman, Pasaman Barat, Payakumbuh, Limapuluh Kota, Bukittinggi, Agam, Kota 
Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman.

Berdasarkan hasil pemilu 9 April lalu dari data Komisi Pemilihan Umum (KPU) 
Sumbar, ternyata Raden Nuh berhasil meraih 4.339 suara di Dapil Sumbar II. 
Perolehan ini menempatkan dirinya di urutan keempat setelah dida­hului Endang 
Tirtana, Tien Aspasia, dan Zefri.

Berdasarkan perolehan suara ini, Raden memperoleh suara terbanyak di Kabupaten 
Padang Pariaman sebanyak 997 suara, diikuti Limapuluh Kota seba­nyak 970 suara, 
Kabupaten Agam sebanyak 836 suara dan terkecil berada di Kota Bukit­tinggi 
sebanyak 77 suara.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Hanura Sumbar M Tauhid mengakui selama musim 
kampanye, ia tidak pernah bertemu dengan Raden Nuh bahkan untuk mencalon­kan 
diri sebagai caleg DPR RI dari Hanura. Meskipun pernah mendengar Raden Nuh 
menyambangi konstituennya, tetapi tak satu kalipun ia bertemu di lapangan.

“Saya kira, kami pernah bertemu sewaktu pembekalan caleg di gedung serbaguna 
Gelora Bung Karno. Namanya saya tahu, tapi kalau wajah saya tidak ingat lagi,” 
ujar Tauhid ketika dihubungi, Senin (3/11).

Tauhid sendiri menyatakan, untuk penetapan nama-nama caleg yang duduk untuk DPR 
RI merupakan ketetapan pusat. Daerah hanya menerima saja. M Tauhid sendiri 
melihat nama Raden Nuh juga tidak tertera pada pengurus partai, sehingga tidak 
banyak hubu­ngan yang terjalin dengan kader Hanura.

Sementara itu, pengakuan yang sama juga dikatakan oleh Ketua Dewan Pimpinan 
Cabang (DPC) Hanura Agam Helmon Datuak Hitam yang mengatakan belum pernah 
bertemu sama sekali dengan Raden Nuh.

“Meskipun pernah berkam­panye di Agam, dan pernah beberapa kali ingin menemui 
saya, tapi kami tak kunjung bertemu. Karena kesibukan masing-masing,” jelasnya.

Tak hanya itu, anggota DPRD Sumbar dari Fraksi Hanura Armiati yang mengaku 
pernah bertatap muka dengan Raden Nuh mengatakan, ia bukanlah orang yang 
terbuka dengan banyak orang.

“Kami hanya pernah bertemu, tidak pernah tandem saat kampanye. Jika ingin 
bersosia­lisasi, Raden Nuh memilih turun sendiri ke lapangan tanpa mengajak 
caleg lainnya. Yang saya tahu ia lebih banyak berkampanye di daerah Baso dan 
Canduang,” katanya.

Ketika ditanya apakah Raden Nuh merupakan orang Sumbar atau tidak, Armiati 
tidak menge­tahui dengan pasti. Meskipun Raden Nuh sempat mengatakan ia berasal 
dari Sumatera Barat.

“Saya tidak tahu persis. Begitu juga siapa saja tim yang mendu­kungnya, kami 
juga tidak tahu. Karena itu, saya sebut ia kurang open,” tutur Armiati.

Berdasarkan informasi dari situs beritasatu.com, diketahui Raden Nuh yang 
berusia 42 tahun adalah mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Almarhum 
ibunya Roslai­ni adalah guru dan juga mantan Ketua Aisyiyah di Medan, Sumatera 
Utara.  Ibu Raden Nuh juga disebut ikut dalam pergera­kan melawan PKI di Sumut. 
Ibunya juga sempat masuk urutan ketiga dari target PKI yang hendak dibunuh pada 
tahun 1965. Tidak hanya itu, Roslaini juga salah seorang perempuan aktivis 
yangg pernah diundang Presiden Soekarno di Istana untuk diskusi problem politik 
 dan negara.

Raden Nuh bersekolah SD dan SMP Muhammadiyah Medan dan juga disalah satu SMA 
Negeri di Medan. Mulai SMP hingga SMA, ia senantiasa menjadi Ketua OSIS. Dia 
juga kuliah di FISIP Universitas Sumatera Utara (USU) dan akuntansi USU di 
Medan. Karena tergolong orang yang cerdas, Raden Nuh waktu itu adalah 
aatu-satunya mahasis­wa yang kuliah pada dua Fakul­tas berlainan di USU.

Selama kuliah berlangsung, Raden Nuh aktif di sejumlah kegiatan, seperti pernah 
menjadi Ketua Ikatan Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara, Ketua Persatuan 
Mahasiswa Adminis­trasi Indonesia (Permadi), dan juga pernah menjadi aktivis 
lingkungan hidup bernama Kepalah.

Raden Nuh juga kerap mela­wan kebijakan rezim orde baru di bawah kepemimpinan 
Presiden Soeharto. Lebih lagi, akibat aktivitasnya tersebut, Raden Nuh sering 
masuk penjara. Salah satu aktivitas Raden Nuh yang menggemparkan adalah dia 
menggalang masyarakat untuk tetap melaksanakan acara Pekan Bemo 1990.

Pekan Bemo itu diadakan untuk membela para pengemudi bemo di Medan yang 
dilarang beroperasi penguasa. Akibat kejadian itu, ia ditangkap dan ditahan 
selama 21 hari oleh polisi, kopkamtib, dan intel pelaksana khusus (laksus).

Sebelumnya, tim dari Sub­direk­torat Cyber Crime Direktorat Kriminal Khusus 
Kepolisian Daerah Metro Jaya menangkap Raden Nuh, terduga salah satu 
administrator akun @Trio­Macan­2000, pada Minggu (2/11) dinihari. Sebelum 
mencokok Raden Nuh, polisi menangkap administrator lain akun Twitter tersebut, 
Edi Saputra, Selasa (28/10).

“Raden Nuh ditangkap sema­lam (Minggu,red) di Tebet,” kata Wakil Direktur 
Kriminal Khusus Ajun Komisaris Besar Sandy Nugroho Minggu, (2/11).

Menurut dia, penangkapan Raden Nuh tersebut masih berkaitan dengan kasus 
peme­rasan yang melibatkan Edi, salah satu komisaris media online.

“Berdasarkan laporan yang lain juga,” katanya.

Sandy menuturkan tempat penangkapan Raden Nuh dan Edi Saputra berbeda meski 
sama-sama berada di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. “Raden ditangkap di sebuah 
kos-kosan,” ujarnya. Sedangkan Edi ditangkap di sebuah kantor yang merangkap 
rumah.

Dalam kasus Edi, polisi menduga dia memeras AP, bos PT Telekomunikasi Indonesia 
Tbk, sebesar Rp50 juta. Edi disinyalir menggunakan modus mengin­timidasi AP 
dengan pemberitaan fitnah yang ditayangkannya di media online. Polisi menangkap 
Edi saat tengah menerima uang tersebut.

Namun, akun Twitter @Trio­Macan2000 membantah telah menerima sejumlah uang dari 
pejabat PT Telkom. “Maksud kami mengungkap ini adalah utk MEMBANTAH pemberitaan 
media2 tertentu yg tuduh kami seolah2 memeras dan menerima suap. ITU BOHONG,” 
cuit akun yang telah berganti nama menjadi @TM2000Back itu, Kamis (30/10) dini 
hari. (h/net/eni)

http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/haluan-padang/35419-tokoh-triomacan-caleg-sumbar-ii

                        

 

        

 

Pada 4 November 2014 19.24, Maturidi Donsan <[email protected]> menulis:

Kalau menengok profil Raden Nuh (RN) yang sampai ke KPU (KPU mengklarifikasi 
semua ?), dengan banyak pengalman dan pengetahuan akademis orangnya mungkin  
cukup intelektual. Integritasnya akan ditentukan perjalanan hidup kemudian.

Sebaiknya RN kalau memang mempunyai pengalaman dan pendidikan seperti yang 
sampaike KPU diatas,   layani saja penegak hukum dengan elegan. Kalau ada 
pelayanan penegak hukum yang kurang baik, sampaikan saja ke rekan media atau 
selesai perkaranya nanti ditulis semua, beberkan ke pers yang penting  masih 
dalam koridor pers..

Sayang kalau RN teriak, marak kepada petugas. Sebagai intelektual, baik 
dicontoh bapak-bapak Dir Bank Indonesia dalam melayani petugas.

Petugas hanya menjalankan tugas, mereka juga orang dapat perintah.  

RN ini nampaknya pada pileg lalu,pendulang suara Hanura untuk  Sumatera Barat 
bagian  Utara. apa memang RN dikenl didaerah itu.

Wass,

Maturidi (L/76) Talang, Solok, Kutianyia, Duri Riau

-- 

 

Wassalam

Nofend St. Mudo
37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok Selatan
Tweet:  <http://twitter.com/#!/@nofend> @nofend | YM: rankmarola 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke