Mak MM, MakNgah dan adidunsanak Palanta RN n.a.h, Membaca kisah-(kisah) bernuansa ilahiyah dari sosok-sosok yang sudah dimuliakan Allah sejak kecil seperti Imam Abu Hanifah ini memang selalu membuat kita terpaku dan takjub pada kebesaran Allah Swt, karena berdasarkan akal pikiran kita tak mungkin anak sekecil itu punya ilmu dan kemampuan logika begitu luar biasa tanpa campur tangan Allah.
Tetapi karena pada saat yang sama kita juga tahu bahwa kita (termasuk anak-anak dan cucu-cucu kita) kecil sekali kemungkinannya untuk bisa menjadi "the next Imam Hanafi" (kalau tidak disebut mustahil sama sekali), pertanyaannya: masih mungkinkah kita mencontoh perilaku Imam Hanafi saat beliau dewasa? Ada dua contoh yang masyhur dari sekian banyak kisah tentang Imam Hanafi yang melegenda. 1/ Yang pertama, menyangkut sikap beliau terhadap seorang tetangganya yang ternyata selalu menghindari beliau jika mereka berpapasan di jalan raya. Setelah beberapa kali kejadian, Imam Hanafi baru menyadari bahwa sang tetangga itu jika sudah melihat dirinya dari kejauhan dan mereka akan berpapasan, maka orang itu akan memilih jalan lain, menghindar. Di tengah kesibukannya yang tinggi sebagai seorang fuqaha dan juga saudagar, Imam Hanafi yang berpikir jangan-jangan dirinya sudah berbuat kesalahan yang membuat sang tetangga enggan mendekatinya, akhirnya datang ke rumah orang itu untuk mencari tahu penyebabnya. Di luar dugaan sang imam, sang tetangga yang didatangi menjelaskan dengan terbata-bata dan penuh rasa bersalah bahwa penyebab dia selalu menghindari Imam Hanafi bukanlah karena kesalahan sang imam pada dirinya, melainkan karena dia masih punya utang sebesar 10.000 dirham kepada sang imam yang belum bisa dia bayar meski sudah berusaha keras untuk melunasi secepatnya. (Jika 1 dirham = Rp. 50.000 dengan kurs sekarang, maka utang sang tetangga kepada Imam Hanafi sekitar Rp. 500 juta). Setelah mendengar penjelasan itu, hati Imam Hanafi yang tadinya risau tersebab dia khawatir sudah melakukan kesalahan menjadi tenang. Lalu dia pun memberikan jawaban yang justru membuat sang tetangga kaget luar biasa. Apa pasal? Imam Hanafi menjawab bahwa kalau masalah utang itu yang menyebabkan silaturahim keduanya terganggu, maka Imam Hanafi dengan ikhlas lillahi ta'ala membebaskan sang tetangga dari kewajiban mengembalikan utang. Sang tetangga terpana dan semakin hormat dengan Imam Hanafi yang bukan cuma sudah terkenal luas ilmunya, tetapi juga begitu mulia akhlaknya. 2/ Di waktu berbeda, seorang tetangga lain Imam Hanafi (berbeda dengan si pengutang), adalah seorang yang gemar mabuk dan bicara keras-keras pada malam hari, mengganggu para tetangga, temasuk Imam Hanafi. Berkali-kali diingatkan agar tobat, tidak mempan juga. Satu ketika Imam Hanafi menyadari bahwa lingkungan tempat tinggalnya sudah jauh lebih tenang pada malam hari, tidak ada racauan sang pemabuk. Heran dengan perubahan suasana itu, Imam Hanafi mencari tahu penyebabnya. Ternyata sang pemabuk sedang masuk penjara karena melakukan satu perbuatan kriminal. Apa yang dilakukan sang Imam? Begitu mendengar tetangganya di penjara, Imam Hanafi bergegas mengunjungi sang peracau. Setelah mengetahui duduk perkara kriminalitas yang dilakukan sang tetangga, Imam Hanafi meminta kepada aparat agar tetangga itu dibebaskan dengan dia sebagai penjamin. Bukan hanya dibebaskan, tetangga pengacau itu pun diberikan sejumlah uang oleh imam Hanafi dengan menghitung jumlah pendapatannya sehari yang hilang selama dia di penjara. Tindakan Imam Hanafi yang tak disangka-sangka sang tetangga pemabuk itu membuatnya tersentak, menggigil, gemetar atas kesalahannya selama ini, dan bertobat. Pada pengajian Imam Hanafi berikutnya, sang pemabuk terlihat hadir di majelis tanpa disuruh datang, dan kelak menjadi salah seorang muridnya yang saleh. Pada contoh Imam Hanafi, kita yang orang awam bisa melihat dengan gamblang bahwa maksud Islam sebagai *rahmatan lil 'alamin* itu terlihat sangat jelas dan mudah dimengerti tanpa banyak retorika, tanpa banyak slogan. Imam Hanafi betul-betul menjadi rahmat bagi lingkungannya (di luar warisan kitab fikihnya kelak yang merupakan rahmat lain bagi pemahaman muslim tentang agama mereka sendiri) Dari kedua contoh itu Mak MM, Mak Ngah, dan para dunsanak Palanta RN nan alah banyak makan asam garam kehidupan: mungkinkah teladan sikap Imam Hanafi itu bisa dicontoh oleh muslim saat ini, wa bil khusus, orang-orang Islam Indonesia, wa bil khusus lagi warga Minang mukallaf yang hidup dengan bersendi pada Kitabullah? Kalau mungkin dicontoh, bagaimana penjelasannya. Kalau sikap Imam Hanafi tak mungkin dicontoh, bagaimana pula uraiannya. Mohon pencerahan. Wassalam, ANB 2014-12-16 20:14 GMT+07:00 Muchwardi Muchtar <[email protected]>: > He yai yai........, MakNgah kok maagiah carito indak sampai tandeh? > > *Who was the young boy?* > > Soe Hok Djin-kah? > > Atau (mungkin) sebentar lagi Zhōng Wànxué / 鍾萬學 (Basuki Tajahaja Purnama) > ka maikuai pulo parjalanan hiduik Rang Sumando awak Soe Hok Djin tu? > Hanyo Allah SWT sajolah nan ka tahu apo nan katajadi bisuak pagi. > > Salam buek Uni Leila (tolong Mak Ngah sampaikan ka) psikolog kasayangan > ambo tu di Ausi........................................, > *mm**** > > > > 2014-12-16 8:52 GMT+07:00 Sjamsir Sjarif <[email protected]>: >> >> I received a WhatsApp message from a good friend, Leila Budiman, >> currently lives in Melbourne, Australia. I'd like to forward this message >> FYI. >> >> Salam, >> -- Sjamsir Sjarif >> Santa Cruz, California >> >> True Story, very interesting... >> >> There was once a man who was an enemy to Islam. He had three famous >> questions that no person could answer. No Islamic scholar in Baghdad could >> answer his three questions...thus he made fun of Islam in public. He >> constantly ridiculed Islam and the Muslims. One day a small boy, who`s age >> was 10, came along and heard the man yelling and screaming at Muslims in >> the street. He was challenging people openly to answer the three questions. >> >> > .... > >> The young boy was one of our leaders and one of the greatest scholars, >> Imam Abu Hanîfa (May Allah bless him). >> Don't only read this story pass it on so as other will learn from the >> lessons it Carrys with it. [image: 🌟] >> >> ~~ Via iPhone, Sjamsir Sjarif, Santa Cruz, CA, USA >> >> >> > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
