Buya Gusrizal Gazahar
<https://www.facebook.com/buyagusrizal.gazahar.1/posts/10202955874049856?fref=nf>

"Bila Sesuai Dengan Selera, Hilanglah Sikap Kritis Yang Dituhankan Selama
Ini"
(Wahai Kaum Muslimin, Jangan Latah dan Jangan Akali Dalil Untuk Membolehkan
Ucapan "Selamat Natal")

Seorang yang dipanggil "Buya" berasal dari Ranah ini, tertawa mendengarkan
ada yang mengharamkan ucapan "selamat natal" bagi kaum muslimin.
Saya juga tersenyum membacanya, karena memang itu yang bisa dilakukannya,
tertawa, mencemooh dan melontarkan cap "picik" kepada orang yang berbeda
dengannya.
Karena tak ada bahan baginya untuk menganalisa kajian fiqh apalagi tafsir.
Setiap persoalan agama, hanya dipandang dari sudut sosial dan politik yang
berlandaskan kepada penyerahan diri kepada realita walaupun menyimpang. Itu
lah yang mereka sebut realistis !!!!????

Tak usah heran ! Bagi mereka, konsistensi dalam bersikap tidak akan
ditemui. Yang mereka miliki hanya ilmu bersilat lidah yang tak pernah
terhambat sedikitpun walaupun mencederai persoalan yang prinsip dalam
syari'at Islam.
Lihatlah ! Bagaimana mereka menyorakkan pemisahan politik dan kekuasaan
dengan agama tapi mereka pergunakan kekuasaan itu untuk menancapkan kuku
berbisa pluralisme, liberalisme, relatifisme dan isme-isme lainnya ke dalam
tubuh umat Islam.
Kalau dibantah, mereka akan mengelak dengan "bukan itu yang kami maksud",
"anda tidak mengerti dengan istilah tsb" dan mereka akan mulai membawa kita
ke area perdebatan ilmiah ala mereka seolah-olah kita ini buta tidak bisa
melihat apa yang mereka lakukan dalam realita sebenarnya.

"Bersilat lidah" melakukan pembenaran terhadap selera mereka, terus
terlihat dengan jelas. Untuk membolehkan ucapan "selamat natal", mereka tak
segan berlindung di balik nama besar al-Qaradhawiy, Wahbah al-Zuhailiy,
Musthafa al-Zarqa dan lainnya.

Menggelikan sekali sikap mereka ini. Sikap kritis mereka jadi tumpul bila
pernyataan ulama itu sesuai dengan selera mereka namun mereka akan
berapi-api membantah bila ulama-ulama itu berfatwa "demokrasi itu
bercanggah dengan syura yang dijelaskan oleh Islam". Ulama besar akan kecil
bila berbicara tak sesuai selera. Begitu lah sikap para cendikiawan yang
berpayung liberalisme dan pluralisme tsb.
Seharusnya umat ini sudah menyadari bahwa mereka bukanlah orang-orang yang
menghormati ulama yang mereka sebutkan itu dan mereka bukan pula
orang-orang yang mau berhujjah sebenarnya dengan landasan ajaran Islam.
Mereka tak lebih adalah orang-orang yang tunduk kepada realita walupun
menyimpang dari kebenaran yang diturunkan oleh Allah swt.

Mungkin akan ada pula berkomentar ketika membaca tulisan ini, "itu
tendensius". Mungkin akan ada yang muncul dengan pernyataan seperti orang
bijak, "saatnya berbicara "kita" bukan berbicara "kami" dan "mereka" karena
itu akan memperlebar jurang perbedaan". Saya hanya akan menanggapinya
dengan "bila hilang keberanian untuk berbeda dalam hak dan bathil maka
hilanglah pegangan dalam kehidupan dan jadilah orang hanyut dan lenyap
dalam pusaran kehidupan itu. Sekarang memang zamannya seseorang harus
berani menyatakan perbedaan walupun akan dituduh aneh bahkan dungu oleh
mereka yang merasa pintar".

Tak perlu berselindung di balik nama besar Al-Qaradhawiy dan lainnya ! Tak
perlu pula segan untuk mengatakan tidak setuju dengan pernyataan
al-Qaradhawiy dan lainnya ! Bukankah itu sikap kritis yang tuan-tuan
ajarkan wahai kaum pluralis ???!!!
Kalau pandangan yang merujuk kepada para imam-imam madzhab saja tuan-tuan
cemoohkan dengan istilah "berfikir fiqh orientik", kenapa pernyataan Yusuf
al-Qaradhawiy dan al-Zarqa menjadi azimat bagi tuan-tuan untuk mengatakan
yang sesuai dengan selera tuan-tuan ? Kemana sikap kritis tuan-tuan selama
ini ?
Oh ya maaf, saya lupa bahwa tuan-tuan tak akan mau mengkritisinya atau
mungkin tidak mampu karena bagi tuan-tuan, landasan kritik itu hanya
realita dan kepentingan. Mana ada analisis ushul fiqh ?!! Ushul Fiqh kan
kurungan berfikir yang membuat picik menurut pandangan tuan-tuan.

Terserah tuan-tuan lah dalam menggunakan cercaan. Kami tetap akan mengurai
simpul fatwa ulama tersebut dengan ilmu alat yang selama ini menjadi
kerangka berfikir para ulama. Semoga tuan-tuan bisa merenungkannya !

Pendapat yang membolehkan ucapan selamat hari natal yang merupakan perayaan
atas kelahiran Isa sebagai anak tuhan, biasanya dilandaskan kepada firman
Allah swt ayat 8 surat "al-Mumtahanah" yang tidak melarang seorang muslim
memperlakukan non muslim dengan baik selama mereka tidak memerangi kaum
muslimin.
{لَّا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ
وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا
إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ} [الممتحنة : 8]
"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap
orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir
kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku
adil". (QS. al-Mumtahanah 60:8)

Penafsiran yang digunakan untuk menguatkan pendapat mereka , biasanya
bergerak dari perbedaan antara "al-birr" dalam kalimat تَبَرُّوهُمْ pada
ayat di atas dengan kalimat "al-wudd" dalam kalimat يُوَادُّونَ pada ayat
22 surat al-Mujadilah. Penjelasan Imam Al-Qarafiy dalam kitab "al-Furuq",
juga digunakan sebagai pembenaran kesimpulan mereka yang berujung kepada,
"mengucapkan selamat natal hanyalah sekedar basa basi (mujamalah) dan
merupakan bagian dari "al-birru"(bersikap baik) asal tidak ada rasa kasih
sayang atau "mawaddah" dengan mereka".

Namun sayang, mereka melupakan bahwa al-birru adalah wasilah yang sangat
dekat kepada "mawaddah" dan "mawaddah" merupakan perbuatan hati yang tidak
bisa dibaca melainkan dengan sikap zhahir. Dengan demikian, maka "mawaddah"
tidaklah bisa menjadi 'illat hukum karena tidak terukur bila kita merujuk
kepada kajian Ushul al-Fiqh (madzhab al-mutakallimin). Karena itulah
makanya Allah swt menyebutkan dua sabab zhahir yang menjadi alasan boleh
bersikap baik yaitu "tidak memerangi" dan "tidak menyingkirkan" kaum
muslimin.

Nah di sini, perlu dijawab oleh tuan-tuan yang mendapat gelar cendikiawan
dan juga panggilan keulamaan, "apakah non muslim di Indonesia, termasuk
dalam kategori tersebut ?". Jawablah dengan mata terbuka ! Bagaimana setiap
saat mereka mengintai titik lemah umat ini untuk dimanfaatkan ? Pemurtadan,
perang urat syaraf, perusakan aqidah dan serangan dalam bentuk politik
kekuasaan kepada umat ini mereka lancarkan bertubi-tubi di bawah payung
yang tuan-tuan sediakan yaitu "pluralisme". Bahkan kalau kita mau merenung,
seperti tidak ada nilainya kemayoritasan umat di negara ini !

Alangkah jauhnya tathbiq (penerapan) fatwa para ulama seperti
Al-Qaradhawiy, Wahbah al-Zuhailiy dll untuk kasus indonesia. Dan malah
secara khusus, saya sangat tidak sependapat dengan para ulama itu, bila itu
berlaku secara muthlaq di negara yang mayoritas muslim. Bila fatwa itu
digunakan di tengah umat Islam yang minoritas sebagai salah satu uslub
dakwah, itu mungkin masih bisa diterima walaupun tetap bukanlah pendapat
yang kuat.

Kemudian perlu dipertimbangkan juga sabab turun ayat 8 surat al-mumtahanah
itu. Kasus Asma' Binti Abi Bakr ra dengan Ibunya yang musrik, membuat
sebagian ahli tafsir memahami bahwa makna تَبَرُّوهُمْ itu adalah shilatur
rahim. Jadi tidak bisa diberlakukan secara umum.

Alasan berikutnya dari tuan-tuan yang membolehkan mengucapkan "selamat
natal" atau sejenisnya kepada orang kafir adalah mengeluarkan ucapan
selamat natal dari makna "tasyabbuh" yang terdapat dalam hadits:
من تشبه بقوم فهو منهم
"Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia adalah bagian dari kaum itu".
(HR. Abu Daud, Ahmad dari Ibnu 'Umar ra)
Suatu istinbath yang aneh dan terkesan sekali mencari pembenaran, bukan
kebenaran. Bagaimana pengecualian seperti itu datang begitu saja tanpa
dalil ? Itulah yang dinamakan dalam ilmu ushul al-fiqh dengan :
التخصيص بغير مخصص
"Pengkhususan tanpa ada (dalil) yang mengkhususkan"

Karena itulah, kita lihat para ulama menafsirkan ayat itu tanpa ada
pengecualian "tasyabbuh" baik perbuatan maupun perkataan. Apalagi larangan
bertasyabbuh dalam perkataan telah dinyatakan oleh firman Allah:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انظُرْنَا
وَاسْمَعُوا ۗ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [البقرة : 104]
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad):
"Raa'ina", tetapi katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi
orang-orang yang kafir siksaan yang pedih". (QS. al-Baqarah 2:104)

Lihatlah penjelasan Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat tersebut !
نهى الله تعالى عباده المؤمنين أن يتشبهوا بالكافرين في مقالهم وفعالهم
(المصباح المنير في تهذيب تفسير ابن كثير - الشيخ/ خالد بن عثمان السبت)
"Allah ta'ala melarang hamba-hambanya yang beriman untuk menyerupai
orang-orang kafir dalam pembicaraan dan perbuatan mereka ". (Lihat juga
Al-Mishbah al-Munir fi Tahzibi Tafsir Ibn Katsir - al-Syaikh Khalid Ibn
'Utsman al-Sabt)

Nah, tinggallah alasan "realita yang terjadi saat ini" menjadi tameng
terakhir untuk membolehkan ucapan selamat natal.
Untuk menjelaskan itu, saya cukup bertanya saja, apakah perlunya ucapan
selamat natal itu bagi kaum nashrani ? Apakah tanpa ucapan itu dari kaum
muslimin, orang-orang nashrani merasa kurang asyik dalam menikmati hari
raya mereka ? Apa untungnya untuk umat Islam ? Apakah tanpa itu, hubungan
sesama anak bangsa akan rusak ?

Dan ada lagi alasan yang sangat lucu yaitu: Tidak masalah mengucapkannya
asal tidak meyakini dan membenarkan maknanya. Semenjak kapan seorang muslim
disuruh demikian kalau tidak ada alasan yang dharurat ? Tak perlu berhujjah
dengan hadits mujamalah Nabi saw karena itu tidak terkait dengan perayaan
ibadah yang tegak di atas keyakinan syirik !

Renungkanlah wahai umat Islam, betapa jauh kita sudah terseret dengan
mengikuti cara-cara mereka. Bukankah dahulu mulanya dari ucapan selamat
kemudian perayaan seremonial negara kemudian do'a bersama kemudian natal
bersama kemudian atribut santa dan seterusnya.
Apa yang mereka tuju dari semua itu ? Dengarkan peryataan mereka melalui
salah seorang kristen yang menjadi manager suatu peruahaan makanan cepat
saji :
"Karyawan muslim yang mau memakai atribut natal tidak perlu dipermasalahkan
dan tak bisa dilarang. “Kalau dari hatinya welcome, ya gak apa-apa pakai
atribut natal. Masa saya larang?” ujarnya". (Islam Pos 29 Shafar 1436 H)

Dan perhatikan pula sikap umat Islam ! Mulai dari ucapan selamat-selamat
kemudian ikut acara-acaraan dan bahkan terseret jadi penggiat kegiatan.
Itulah yang terjadi pada acara tahun baru, valentine dll.
Alangkah naifnya seseorang yang telah diingatkan oleh pernyataan pahit di
hadapannya tapi belum juga terperingatkan. Apakah karena ghairah terhadap
Islam yang telah hilang sehingga semua perbuatan orang kafir harus di lihat
dengan husnuz zhann dan penyataan ulama yang mengingatkan, harus dihadapi
dengan cercaan.

Apakah tidak cukup berbagai kenyataan itu untuk mendorong berlakunya dalil
sad al-dzari'ah (سد الذريعة) ? Apakah tidak cukup yang terjadi di lapangan
menjadi alasan untuk menggunakan kaedah menolak kemafsadatan lebih
didahulukan dari meraih kemashlahatan (درء المفاسد مقدم على جلب المصالح) ?
Kalau belum juga, berarti tuan-tuan bukanlah orang yang bertasamuh
(bertoleransi) tapi adalah pecundang yang telah kehilangan jati diri
sebagai muslim.

Akhirnya, saya hanya bisa mengingatkan, bukalah mata tuan-tuan untuk
merenungkan bukti kebenaran sabda Rasulullah saw:
عن أبي سعيد الخدري قال ، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لتتبعن سنن
الذين من قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع حتى لو دخلوا في حجر ضب لاتبعتموهم ،
قلنا : يا رسول الله ، اليهود والنصارى؟ قال : فمن
"Dari Abu Sa’id al Khudri ra, beliau berkata : Rasulullah SAW pernah
bersabda :
“Kalian akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kalian, sejengkal
demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga jikalau mereka masuk ke
lubang biawak pun kalian akan mengikuti mereka.”
Sahabat bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah Yahudi dan Nasrani yang engkau
maksudkan?”
Nabi SAW menjawab : “Siapa lagi kalau bukan mereka?” ( HR. Muslim)

Ala.. qad ballaghtu, Allahumma fasyhad.

Saya tutup dengan:
... إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ
بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
"...Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih
berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan)
Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku
kembali". (QS. Hud 11:88)


2014-12-23 23:27 GMT+07:00 Akmal Nasery Basral <[email protected]>:

> Ada yang mau berkomentar?
>
> Salam,
>
> ANB
>
>
> http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/12/23/nh0yp6-irfan-hamka-buya-ucapkan-selamat-natal
>
> REPUBLIKA.CO.ID <http://republika.co.id/>, JAKARTA -- Putra mantan ketua
> Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Hamka, Irfan Hamka membantah ayahnya
> melarang mengucapkan selamat hari Natal kepada kaum Kristiani. Irfan
> mengatakan, dalam fatwa yang dikeluarkan Buya pada 1981, isinya bukan
> pelarangan mengucapkan selamat Natal atau mengharamkannya.
>
> Tapi, kata dia, yang diharamkan Buya adalah mengikuti ibadah Natal. Dia
> menjelaskan, maksud ayahnya tersebut, umat Islam dilarang mengikuti ibadah
> umat yang merayakan Natal, seperti menyanyi di gereja, membakar lilin atau
> apapun yang termasuk ibadah pada hari Natal.
>
> Dia mengisahkan, ayahnya dulu juga pernah mengucapkan selamat Natal bagi
> penganut Kristen. Dulu saat tinggal di Kebayoran Baru, ungkap dia, ada dua
> orang tetangga yang merupakan Kristiani. Nama kedua orang itu adalah Ong
> Liong Sikh dan Reneker.
>
> Saat ayahnya merayakan Idul Fitri, keduanya memberikan ucapan selamat
> kepada Buya. Begitu pun sebaliknya Buya juga mengucapkan selamat kepada
> kedua tetangganya tersebut. “Selamat, telah merayakan Natal kalian,” kata
> Irfan saat menirukan ucapan ayahnya kepada*Republika*, Selasa (23/12).
>
> Ulama penulis novel *Tenggelamnya Kapal van der Wijck* tersebut
> mengegaskan, dalam kata 'Natal kalian' untuk membatasi akidah. Pasalnya,
> dalam Alquran dijelaskan 'Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku'. Bahkan, lanjut
> Irfan, Buya juga pernah meminta istrinya untuk memberikan rendang kepada
> tetangganya. Tapi, rendang tersebut diberikan bukan saat malam Natal,
> melainkan tahun baru masehi.
>
> Irfan menegaskan tidak masalah mengucapkan selamat Natal, asalkan
> disertakan kata kalian atau bagi kaum Kristiano. Sebab, kata tersebut yang
> membedakan antara aqidah masing-masing agama. Dia juga meminta umat Islam
> untuk tidak mengucapkan selamat kepada umat Kristen sebelum umat tersebut
> merayakan ibadahnya. Karena, menurut Irfan, kata selamat diucapkan setelah
> peristiwa itu terjadi.
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>



-- 

*****
*MINANGKABAU*
*| Surau | Dangau | Lapau | Rantau*
*| Moral knowing | Moral feeling | Moral action*
*| Learning to know | Learning to be | Learning to do | Learning to live
together*
*| World's Heritage and Noble Indonesian Culture | World's Paradise*

*| Ranah Surgawi*

Salam Ta'zim
---------------------------------------
*Aslim Nurhasan ST SATI*
*|* http://www.haragreen.co.id/ | [email protected]
<[email protected]>
| +62811918886 @aslimnurhasan 29C01B7C | ®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke