Buya Gusrizal Gazahar
<https://www.facebook.com/buyagusrizal.gazahar.1?fref=nf>
December 18 at 12:28am
<https://www.facebook.com/buyagusrizal.gazahar.1/posts/10202921919201006> ·
Edited
<https://www.facebook.com/buyagusrizal.gazahar.1/posts/10202921919201006#>
·

"Ayat Itu Menjatuhkan Tuan-tuan Bukan Menegakkan"
(Dalil kelompok Pluralisme Membolehkan Ucapan Selamat Natal, Adalah Hujjah
Salah Pasang Atau "Salah Samek")

Bila kaum pluralis berhujjah dengan ayat Al-Qur'an untuk membela fatwa
bolehnya mengucapkan selamat natal atau selamat hari raya peribadatan agama
apapun yang dirayakan oleh kaum kafir, kita akan menemukan ayat 33 surat
Maryam adalah andalan mereka.

{وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدتُّ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ
حَيًّا} [مريم : 33]
"Dan salam semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari
aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali" (QS. maryam
19:33)

Seolah-olah dengan satu ayat itu, menurut mereka selesailah perkara dan
gugurkah pandangan para ulama yang tidak hanya berhujjah dengan satu dalil.
Anehnya lagi dalam menggunakan ayat itu sebagai hujjah, mereka terlihat
sekali tidak jujur secara ilmiah dan sangat jelaskan memaksakan maksud ayat
agar sesuai dengan selera mereka.

Mungkin ini lah bukti nyata dari firman Allah swt:
{وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُم بِالْكِتَابِ
لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ
مِنْ عِندِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ
الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ} [آل عمران : 78]
"Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya
membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al
Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia (yang
dibaca itu datang) dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah.
Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui". (QS. Ali
'Imran 3:78)

Dan dikuatkan lagi oleh sabda Rasul saw:
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم من قال في
القرآن برأيه فليتبوأ مقعده من النار" (رواه النسائي و ابن حبان)
"Dari Ibnu 'Abbas ra, beliau berkata: Rasulullah saw bersabda: siapa yang
berbicara tentang Al-Qur'an dengan nalarnya (semata) maka tempatilah
kedudukanya dari api neraka". (HR. al-Nasa'iy dan Ibnu Hibban)

Bagaimana tidak ?!
Cobalah perhatikan bagaimana mereka mencabut ayat ayat itu dan menjadikan
huruf "waw" pada kata وَالسَّلَامُ tidak bermakna padahal ia merupakan
"huruf 'athaf" yang begitu penting dikala memahami munasabah (keharmonisan
atau kesesuaian) antara ayat dengan ayat sebelumnya. (Lihat i'rab "waw" ini
dalam kitab al-Tibyan fi i'rab al-Qur'an" karya Abu al-Baqa' al-'Akbariy).
Mungkin mereka menganggap itu hanya huruf permulaan yang tidak ada
hubungannya dengan ayat sebelumnya.
Dari titik awal itu saja, sudah ketahuan penipuan mereka terhadap umat.
Mereka putuskan hubungan antara ayat 33 surat Maryam itu dengan ayat-ayat
sebelumnya khususnya ayat 30 s/d 32 :

{قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا}
[مريم : 30]
( 30 ) Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al
Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,
{وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ
وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا} [مريم : 31]
( 31 ) dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku
berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan)
zakat selama aku hidup;
{وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا} [مريم : 32]
( 32 ) dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang
sombong lagi celaka.

Dan mereka malah sengaja melupakan ayat yang senada dengan itu dalam surat
yang sama (Surat Maryam) yaitu ayat 15 :
{وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ
حَيًّا} [مريم : 15]
( 15 ) Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia
meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.

Pekerjaan seperti inilah yang dinamakan pengkhianatan ilmiah ! Padahal
"ilmu munasabat" yang mengkaji tentang keharmonisan antara ayat dengan ayat
bahkan surat dengan surat, merupakan pembahasan dasar dalam ilmu tafsir.
Sehingga sangat mengherankan bila profesor tafsir bisa melupakan hal ini.
Mungkin mereka yang mengaku penganut "faham galauisme" atau "relatifisme",
akan mengatakan bahwa itu kan relatif bukanlah kepastian. Sayangnya
pernyataan seperti itu akan berhadapan dengan dinding kokoh yang terdiri
dari tafsir-tafsir ulama terkemuka nan jauh di atas kaliber mereka seperti
yang dikatakan oleh al-Qadhi al-Baidhawiy dalam tafsir beliau "Anwar
al-Tanzil wa Asrar al-Ta'wil" berikut ini:

وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ
حَيًّا كما هو على يحيى والتعريف للعهد والأظهر أنه للجنس والتعريض باللعن على
أعدائه، فإنه لما جعل جنس السلام على نفسه عرض بأن ضده عليهم كقوله تعالى:
وَالسَّلامُ عَلى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدى فإنه تعريض بأن العذاب على من كذب
وتولى
"Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan,
pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali",
sebagaimana juga berlaku pada Nabi Yahya (pada ayat 15). Penggunaan kata
ma'rifah (pada kata salam yaitu وَالسَّلامُ) menunjukkan bahwa maknanya
sudah dikatahui (yaitu tertuju kepada salam yang diberikan kepada Nabi
Yahya as) namun yang lebih nyata terlihat, adalah untuk menunjukkan jenis
serta sindiran dengan laknat kepada para musuhnya.
Sesungguhnya ketika Nabi Isa as menjadikan hakikat dari salam untuk
dirinya, beliau menyindir dengan menujukan kebalikannya menimpa mereka
(para musuh Nabi Isa as) seperti firman Allah swt وَالسَّلامُ عَلى مَنِ
اتَّبَعَ الْهُدى (Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang
mengikuti petunjuk). Sesungguhnya perkataan Allah swt tersebut adalah
sindiran atas orang yang mendustakan lagi berpaling (dari hidayah Allah
swt)".

Kalau diperhatikan tafsir-tafsir lainnya, seperti Ibnu Katsir,
al-Qurthubiy, al-Thabariy, al-Baghawiy, al-Shabuniy, al-Syaukaniy, Ibnu
'Asyur dan lainnya, tidak akan jauh berbeda penafsiran para ulama tersebut
dan bahkan tak seorang pun yang mengatakan bahwa ayat itu adalah dalil bagi
umat Islam untuk ikut merayakan kelahiran Nabi Isa as.

Selanjutnya bila ditelaah pula lebih jauh ungkapan السَّلامُ (salam) dalam
ayat itu maka kita menemukan bahwa kata itu merupakan mubtada' (subjek)
dari "khabar" (prediket) yang tidak dimunculkan. "Khabar" itu lah yang
menjadi gantungan dari kata عَلَيَّ (atas ku). Berarti kata "al-salam"
dalam ayat ini tertuju kepada عَلَيَّ (atas ku) yang membutuhkan tempat
kembalinya kata ganti "aku". Nah, jika diputuskan hubungan ayat itu dengan
ayat sebelumnya maka kita akan kehilangan "marja' al-dhamir" (tempat
kembalinya kata ganti).
Makanya tidak ada pilihan lain untuk mengembalikan kata ganti itu selain
kepada bayi yang ada dalam buaiyan pada ayat 29.
{فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ ۖ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَن كَانَ فِي الْمَهْدِ
صَبِيًّا} [مريم : 29]
( 29 ) maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami
akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?"

Dan itu tak lain adalah Nabi Isa yang diyakini oleh kaum muslimin sebagai
hamba Allah swt yang diutus sebagai Rasul seperti apa yang dikatakannya
dalam ayat berikutnya:
{قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا}
[مريم : 30]
( 30 ) Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al
Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi,

Nah, sebagai akhir penjelasan ini jikalau tuan-tuan yang selama ini selalu
menggugat kemapanan ajaran Islam dengan membawa bendera "progresif
modernis" dan mudah saja menuduh orang yang berbeda dengan tuan-tuan
sebagai penganut faham "konservatif kolot yang fanatik" masih saja
bersikukuh menggunakan ayat itu sebagai kebolehan mengucapkan selamat atas
kelahiran Nabi 'Isa, cobalah jawab dengan akal sehat dan hati manusia
hidup, apakah ayat itu menyatakan salam kepada Nabi 'Isa as yang merupakan
hamba dan Nabi Allah atau kepada Isa yang diyakini umat Nashraniy sebagai
anak tuhan dan bahkan juga sebagi tuhan ??????
Kalau ini tidak juga disadari, maka ketahuilah bahwa tuan-tuan telah
tersesat jauh dalam menyimpulkan hukum dari nash yang dikenal dengan
istinbath dan tuan-tuan sudah "salah samek" atau salah pasangkan nash dalam
penerapannya kepada kasus yang dikenal dengan "tathbiq".
Wallahu a'lam.
Saya tutup dengan:
... إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ
بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
"...Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih
berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan)
Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku
kembali". (QS. Hud 11:88)


2014-12-23 23:27 GMT+07:00 Akmal Nasery Basral <[email protected]>:

> Ada yang mau berkomentar?
>
> Salam,
>
> ANB
>
>
> http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/12/23/nh0yp6-irfan-hamka-buya-ucapkan-selamat-natal
>
> REPUBLIKA.CO.ID <http://republika.co.id/>, JAKARTA -- Putra mantan ketua
> Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Hamka, Irfan Hamka membantah ayahnya
> melarang mengucapkan selamat hari Natal kepada kaum Kristiani. Irfan
> mengatakan, dalam fatwa yang dikeluarkan Buya pada 1981, isinya bukan
> pelarangan mengucapkan selamat Natal atau mengharamkannya.
>
> Tapi, kata dia, yang diharamkan Buya adalah mengikuti ibadah Natal. Dia
> menjelaskan, maksud ayahnya tersebut, umat Islam dilarang mengikuti ibadah
> umat yang merayakan Natal, seperti menyanyi di gereja, membakar lilin atau
> apapun yang termasuk ibadah pada hari Natal.
>
> Dia mengisahkan, ayahnya dulu juga pernah mengucapkan selamat Natal bagi
> penganut Kristen. Dulu saat tinggal di Kebayoran Baru, ungkap dia, ada dua
> orang tetangga yang merupakan Kristiani. Nama kedua orang itu adalah Ong
> Liong Sikh dan Reneker.
>
> Saat ayahnya merayakan Idul Fitri, keduanya memberikan ucapan selamat
> kepada Buya. Begitu pun sebaliknya Buya juga mengucapkan selamat kepada
> kedua tetangganya tersebut. “Selamat, telah merayakan Natal kalian,” kata
> Irfan saat menirukan ucapan ayahnya kepada*Republika*, Selasa (23/12).
>
> Ulama penulis novel *Tenggelamnya Kapal van der Wijck* tersebut
> mengegaskan, dalam kata 'Natal kalian' untuk membatasi akidah. Pasalnya,
> dalam Alquran dijelaskan 'Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku'. Bahkan, lanjut
> Irfan, Buya juga pernah meminta istrinya untuk memberikan rendang kepada
> tetangganya. Tapi, rendang tersebut diberikan bukan saat malam Natal,
> melainkan tahun baru masehi.
>
> Irfan menegaskan tidak masalah mengucapkan selamat Natal, asalkan
> disertakan kata kalian atau bagi kaum Kristiano. Sebab, kata tersebut yang
> membedakan antara aqidah masing-masing agama. Dia juga meminta umat Islam
> untuk tidak mengucapkan selamat kepada umat Kristen sebelum umat tersebut
> merayakan ibadahnya. Karena, menurut Irfan, kata selamat diucapkan setelah
> peristiwa itu terjadi.
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>



-- 

*****
*MINANGKABAU*
*| Surau | Dangau | Lapau | Rantau*
*| Moral knowing | Moral feeling | Moral action*
*| Learning to know | Learning to be | Learning to do | Learning to live
together*
*| World's Heritage and Noble Indonesian Culture | World's Paradise*

*| Ranah Surgawi*

Salam Ta'zim
---------------------------------------
*Aslim Nurhasan ST SATI*
*|* http://www.haragreen.co.id/ | [email protected]
<[email protected]>
| +62811918886 @aslimnurhasan 29C01B7C | ®

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke