Ambo  setuju  jo  pandapek  ko. Apolah arti  namo  kalau  beko  indak  bisa  
diisi  sasuai  jo  namo...

<div>-------- Original message --------</div><div>From: "Akmal N. Basral" 
<[email protected]> </div><div>Date:01/07/2015  9:21 AM  (GMT-05:00) 
</div><div>To: [email protected] </div><div>Cc:  </div><div>Subject: 
[R@ntau-Net] DIM: Parak Bundo Indak Bapaga (Darman Moenir) </div><div>
</div>Assalamu'alaikum Wr. Wb adidunsanak Palanta RN n.a.h,

Salah seorang sastrawan Minang terkemuka saat ini, Darman Moenir, yang 
kebetulan juga tinggal di ranah, menuliskan opininya di harian Singgalang edisi 
6 Januari 2015.

Terlepas nanti setuju atau tidak dengan pendapat ybs, menarik mengetahui sudut 
pandang seorang sastrawan yang sehari-hari berpeluh dan berinteraksi dengan 
masyarakat setempat.

Salam,

ANB



* * *



DIM: Parak Bundo Indak Bapaga?

(96 Views) January 6, 2015 8:18 am | Published by sgl17 | No comment

Darman Moenir — KINI, parak “bundo” tu bana takah indak bapaga. Demikian pesan 
pendek saya terima dari (Engku) Sutan Rajo Endah yang domisili di Bogor. 
Kecuali melalui media-sosial “pesan pendek” yang berkecambah dari ujung jari 
sebagian besar pengguna telepon seluler, secara pribadi Endah tak saya kenal. 
Kami belum pernah kopi-darat. Endah mengaku berumur 80 tahun lebih, berasal 
dari Maninjau.

Selama tiga tahun saling berkirim pesan pendek, saya mendapat kesan, Endah 
peduli terhadap kampung-halaman, terhadap Minangkabau, terhadap pantun, 
terhadap sastra lisan. Dia Sutan, pernah kerja pemerintah, terpandang.
Suatu pagi pekan lalu, dalam bahasa Minangkabau berdegap, Endah menulis: 
“Asalamualaikum. Aa paminun kawa pagi ko, Angku? Katan jo goreang atau nasi 
lamak jo durian? Baa pakambangan DIM kini tu, Angku? Agiah-agiahlah ambo 
baritonyo. Wasalam. St. R.E.”


Saya membalas: “Apo DIM tu, Angku Sutan Rajo Endah?”


Endah menjelaskan: “DIM = Daerah Istimewa Minangkabau. Tadanga di ambo, ado nan 
bausaho mampajuangkan DIM tu.”


Pesan-pendek saya kemudian menerakan kalimat: “Yo, Angku St. R.E. Tapi ambo 
ndak basalero jo DIM tu do. Maloyo paruik ambo. Awaklah di NKRI. A juo lai? Ka 
bargolak awak liak? Indak usah Angku. Mambana! Banyak karajo lain nan alun 
takakok.”


Tidak lama setelah itu, saya membaca penjelasan Endah: “Salapiak kito duduak tu 
Angku. Beda saketek, Angku dakek kapalo jamba, ambo lah di ikua jamba. Ambo 
‘satuju’ istimewa tu tapi ‘bukan’ tatulih atau disorak-sorakan. Buktikan sajo 
jo ‘pabuatan’ sainggo urang lain mandaceh kagum dalam atinyo, iyo ebat 
Minangkabau ko. Kini parak ‘bundo’ tu bana takah indak bapaga.”


Oleh satu-dua orang, melalui surat kabar dan media sosial, dua-tiga bulan 
belakangan memang dilempar hasrat untuk mengubah Provinsi Sumatra Barat menjadi 
Daerah Istimewa Minangkabau.


Sesungguhnya apa? Mengapa sekarang serta-merta ada keinginan untuk 
mengistimewakan diri? Tidakkah para pendiri republik mulai dari Abdoel Moeis, 
M. Yamin, Tan Malaka, Soetan Sjahrir, Agoes Salim sampai Mohammad Hatta, tidak 
pernah menyampaikan gagasan hendak mendaerah-istimewakan Minangkabau?
Tokoh-tokoh itu, bersama tokoh-tokoh hebat lain dari berbagai etnik di 
Nusantara, malah menyumbang sangat besar agar RI eksis! Yamin termasuk yang 
maksimal mengupayakan agar bahasa Minangkabau, bahasa Melayu, menjadi bahasa 
kebangsaan: bahasa Indonesia. Ini keajaiban, di antara 700 bahasa daerah, hadir 
bahasa Indonesia. Negara tetangga masih bergaduh soal bahasa kebangsaan.


Tokoh-tokoh hebat seperti Datuak Suri Maharadjo Diradjo Simabua, Sitti 
Manggopoh, Rohana Koedoes, Buya Hamka, Mohammad Natsir, Ali Akbar Navis, Idroes 
Hakimy Datuak Rajo Pangulu, Kamardi Rais Datuak P. Simulie, atau antara lain 
yang berkibar dan menjulang tinggi di zaman ini, sebutlah, Syafei Ma’arif, 
Awaloeddin Djamin, Azwar Anas, Saldi Isra, Fasli Djalal, Fahmi Idris, Sjahrul 
Udjud, Basril Djabar, Maso’ed Abidin, Shofwan Karim, Eko Alvares, Nursyirwan, 
Firman Hasan, Mah di Bahar, Maidir Harun, Nur Ainas Abizar, Gus tf Sakai, Edy 
Utama, tidak pernah menyebut-nyebut keinginan mengistimewakan Daerah dan Ranah 
Minangkabau? Bukankah pada saat ini kita nyaman, sangat nyaman, bahkan bangga 
dengan Provinsi Sumbar, dalam NKRI?


Dan, tanpa diistimewakan pun, semengerti saya, Minangkabau tetap beradat, tetap 
hebat, tetap maslahat. Soal implementasi ABSSBK? Itu tergantung dari kemauan 
dan kesungguhan urang awak, di mana pun mereka berada. ABSSBK tentu saja bisa 
digunakan dengan baik, tanpa perlu menubuhkan DIM.


Pula, Minangkabau dan Provinsi Sumbar bukan urusan kecil, sederhana, tidak 
mungkin diubah bagai membalikkan telapak tangan. Minangkabau adalah satu etnik 
unik, berumur amat panjang dan takkan mungkin habis, kecuali kiamat. 
Minangkabau jadi milik dan kebanggaan jutaan orang, di sini, di mana-mana, di 
seantero jagad. Ratusan kitab sudah memapar dan bicara tentang Minangkabau.
Sumbar adalah sebuah provinsi yang di dalamnya terdapat Kabupaten dan Kepulauan 
Mentawai. Sumbar didiami oleh pelbagai etnik. Selain Mentawai, di sini bermukim 
etnik Jawa, Sunda, Tapanuli, Tionghoa, Keling dan bahkan Arab. Dengan mayoritas 
Islam, di sini ada orang-orang yang beragama Katolik, Protestan, Hindu, Budha, 
dan Kong Hu Cu.


Dengan semua keunikan dan sekaligus kehebatan Sumbar, apa perlu provinsi ini 
dijadikan Daerah Istimewa Minangkabau? Pertanyaan bisa diubah, apakah penubuhan 
DIM takkan menimbulkan masalah? Lalu, bagaimana keberadaannya di NKRI? Bila 
direntang bisa panjang. Banyak hal bisa disebut. Saya khawatir, isu DIM bisa 
berbuah konflik internal, berlama-lama, dan bukan tidak mungkin berdarah-darah.


Saya terkesan dengan Wasit Garis Khairul Jasmi “Hari Bela Negara” (Singgalang, 
Minggu, 21 Desember 2014): “Tapi HBN itu tak cukup alasan untuk menjadikan 
Sumbar sebagai daerah istimewa. Adat yang hebat dan nagari juga tak cukup. 
Matrilineal juga belum.” Di ujung kolom KJ menulis sarkastik: “Kami lebih 
banyak mengurut dada saja atau tersenyum melihat kurenah sejumlah pihak yang 
merasa bisa meng hitam-memutihkan Minangkabau.”


SMS Sutan Rajo Endah, kolom KJ, ota di lepau, merupakan ketak-setujuan terhadap 
DIM. Lebih bijak kita amal dan rayakan ABSSBK. Lebih baik kita selesaikan 
terutama bengkalai kultural yang tentu saja menjadi beban bersama. Tabik! (*)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke