Pada 30 Januari 2015 18.36, yose hendra <[email protected]> menulis:
> Hormat utk Kakanda ANB > > Terima kasih atas empatinya kakanda... yah, ini mungkin sudah 'kesabaran' > kesekian dlm forum yang terhormat ini.. Seringkali mencoba membangun iklim > diskusi, tapi diabaikan, atau mungkin tdk dianggap... Dan ini pun semakin > menampakan bahwa 'dialektika' yang menjadi urat nadi orang Minang menjadi > hebat dlm berpikir, bertindak, dan menghegemoni pun dicontohkan oleh orang > yang saya anggap mesti merespon apa yang saya tanyakan.. Jujur DIM hanya > pikiran2 tuan2, angku2 yang merasa paling hebat, tapi tidak kami di Ranah, > apalagi kami yang masih muda; tumbuh, berproses mengganti bunga yang > layu... Masa depan Minang ditangan kami angku2!!! Ingat itu :) > > > Mudahan Tan Malaka tidak menangis dikubur... > > > Wassalam, > > > Yose Hendra > dari kampung > ANB: Dinda Yose di ranah n.a.h, 1/ karena kalimat dinda yang ambo stabilo kuning memakai obyek jamak "angku-angku" yang berarti banyak angku, izinkan ambo agiah saketek pengalaman dengan hampir sebagian besar "angku-angku" di palanta RN ko bahwa sebagian besar mereka adolah para senior, para orang tua, yang betul-betul menerapkan jiwa falsafah ABS SBK dengan konsisten, menunjukkan akhlak baik, tidak sombong, selalu menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada mereka, serta yang terpenting: punya kepedulian dan kepekaan sosial tinggi terhadap yang membutuhkan. Hanya saja seperti kebanyakan para orang baik lainnya, dinda Yose, "angku-angku" yang baik hati dan baik budi ini adalah para *silent majority*, tidak terlalu sering tampil ke palanta, atau memberi komentar. Tetapi mereka sungguh-sungguh punya kedua belah tangan yang selalu siap membantu dan hati lapang terbuka kepada siapa saja. Kalau dinda Yose makin rajin muncul di palanta, in syaa Allah akan mengetahui siapa saja mereka. Pendeknya, dengan segala dinamika diskusi dan debat di palanta ini, kita masih beruntung punya banyak orang tua dan senior yang penuh perhatian. Mukasuik ambo, jangan sampai tersebab kegusaran dinda Yose karena dua kali pertanyaan diabaikan, lantas seluruh angku di palanta ko kanai hariak "tigo tanda seru" pada kalimat dinda di ateh. 2/ Sebagai wartawan muda, dinda Yose harus kreatif mencari jawaban. Jika satu narasumber macet, cari narasumber lain. Atau ubah angle berita. Jadilah kritis. *Debunking*. Seperti Superman yang bukan melihat apa yang ada di dalam lemari, tetapi melihat apa yang ada *di belakang *lemari. Sebab memang begitulah tugas jurnalis, untuk membongkar motif. Itulah yang dilakukan Djamaluddin Datuak Maradjo Sutan "van" Talawi, Sawahlunto (a.k.a. Adinegoro), sehingga namanya ditabalkan sebagai anugerah tertinggi bagi dunia jurnalistik Indonesia. Jadilah kritis. Buatlah hipotesis untuk dinda uji di lapangan, seperti: - Mengapa ide DIM membadai di tahun politik menjelang Pilgub yang beberapa bulan lagi? - Mengapa petahana "diultimatum" secara "in absentia" secara terbuka via media sosial untuk menerima ide DIM (yang diyakini) bisa mengerek popularitasnya agar bisa kembali berkuasa pada periode kedua? - Bagaimana seandainya jika petahana "membeli" ide itu, dan atas kehendak Allah yang Maha Kuasa dan Pemilik Skenario Paling Tak Terduga di Semesta Raya, sang petahana justru kalah telak nantinya? Siapa yang bisa menjamin seseorang bisa menang atau kalah dalam kontestasi kekuasaan? - Bahkan ketika ide itu dijustifikasi dengan alasan yang terlihat syar'i, cobalah dinda Yose baca ulang pidato-pidato khalifah rasyidin yang empat, adakah keempatnya mengejar ambisi dan syahwat berkuasa? Ataukah mereka selalu menangis pada saat membacakan pidato pelantikan tersebabnya pahamnya tugas maha berat sebagai amir yang harus mereka pertanggungjawabkan di yaumil akhir? Cermati juga pidato-pidato khalifah pasca khalifah rasyidin, yakni khalifah yang terkenal adil dan berilmu agama tinggi seperti 'Umar bin Abdul Aziz (hati-hati, tidak semua khalifah dalam sejarah Islam itu orang yang patut dicontoh. Tidak sedikit juga khalifah yang fasik, zalim, pemabuk, dan pelaku beragam tindakan maksiat lain). - Dinda sempatkan waktu, betul-betul prioritaskan ikhtiar bukan mencari jika sempat, kisah hidup para Bapak Bangsa asal Minang, terutama saat mereka menderita luar biasa di tengah tekanan politik: 1. Adakah Bung Hatta ketika mengundurkan diri selamanya dari sisi Bung Karno, maka Bung Hatta mengultimatum BK dan memanas-manasi rakyat badarai Minang untuk membuat identitas eksklusif sendiri? 2. Adakah saat Buya Hamka dijebloskan ke dalam penjara tanpa pengadilan, beliau Allahuyarham mengeluarkan fatwa dan seruan jihad kepada rakyat Minang untuk menempatkan diri "sehelai benang lebih tinggi" dibanding suku lain di negeri ini? 3. Adakah saat Tan Malaka hidup dalam kesengsaraan, dan hidup berpindah-pindah tempat pelarian demi mempertahankan keyakinan politik, beliau merengek-rengek kepada orang Minang untuk berdiri di belakangnya, untuk mendukung ide-idenya tanpa reserve, seakan-akan jika dia bilang "A" seluruh semesta Minang juga harus bilang "A", dan sekiranya dia bilang "B" maka seluruh semesta Minang juga harus bilang "B"? Jika ketiga jawaban di atas adalah: TIDAK. Maka yakinlah kita tanpa ragu bahwa ketiganya adalah pemimpin sejati. Karena pemimpin sejati selalu lebih dulu menunjukkan keyakinan pada pilihan hidupnya, meski kebebasan mereka harus terampas. Bung Hatta harus meringkuk Boven Digul, Buya Hamka harus mengalami kejinya penyiksaan sehingga di puncak kesabarannya sebagai seorang manusia biasa beliau sempat terpikir untuk bunuh diri akibat kejamnya siksaan yang beliau alami (baca karya beliau "Tasauf Modern" dan pengalamannya yang membuat mata kita basah saat membacanya). - Terakhir, dinda Yose, ambo (mewakili generasi muda Minang di rantau) titip pertanyaan melalui dinda, sang jurnalis masa depan, tanyakan kepada siapa pun sosok Minang sekarang yang mengharapkan akan lahir Bung Hatta, Buya Hamka, dan Tan Malaka baru dari rahim Bundo Kandung, ya, tanyakan balik pada mereka, "Apa yang sudah Bapak/Ibu lakukan selama hidup untuk menjadi Bung Hatta/Buya Hamka, padahal Bapak/Ibu kenal dengan mereka, sering bicara dengan mereka, mungkin makan minum bersama pula, sementara kami yang muda-muda ini hanya tahu nama mereka dari halaman buku-buku sejarah?" Kejar mereka dengan pertanyaan lanjutan, "Jika Bapak/Ibu sendiri tak bisa menjadi seperti Bung Hatta atau Buya Hamka, bahkan bapak/ibu pun tak bisa menjadikan anak-anak kandung, keponakan, dan orang suku Bapak/Ibu yang terhormat menjadi sehebat Bung Hatta atau Buya Hamka, maka atas dalil apa kalian MEWAJIBKAN KAMI yang tak pernah melihat adanya KEBERANIAN Bung Hatta dan Buya Hamka pada diri kalian, kini harus menerima beban sejarah itu?" Bersikap kritislah selalu, dinda Yose. Karena dinda adalah jurnalis, suar dan suluh bangsa, yang akan menjadi penerang di tengah pekatnya hasrat ambisi mengejar kekuasaan yang kini bercokol di kepala banyak orang, bahkan yang tadinya kita anggap tokoh masyarakat. Dan jika kelak dinda Yose bertemu dengan orang-orang seperti itu, pada satu dan lain kesempatan, sebelum dinda pamit pulang, tanyakan lagi satu pertanyaan terakhir, "Maaf angku yang ambo hormati, jika dulu angku menikmati pesta pora dan kini meninggalkan banyak piring kotor, tolong jelaskan kepada kami, mengapa harus kami yang kebagian tugas untuk membersihkan seluruh piring dan gelas kotor yang bahkan kami cicipi seteguk air atau sebutir berasnya pun tak! Kenapa harus begitu, angku? Dan kini angku menyalahkan pula kami generasi muda yang datang setelah angku sebagai generasi yang tak berbudi karena hanya menambah panjang gelas dan piring kotor padahal angku tak pernah menunjukkan bagaimana caranya mencuci piring kotor betul-betul dengan mempertaruhkan hidup angku seperti dilakukan Bung Hatta dan Buya Hamka dulu." Lalu, tanpa perlu dinda Yose menunggu jawaban, segera berlalulah dari hadapannya. Karena jawaban yang dinda Yose harapkan tak akan pernah muncul. Tidak akan pernah. Karena dinda Yose tidak sedang berhadapan dengan Bung Hatta, atau Buya Hamka, atau Gandhi, atau Nelson Mandela, atau Hasan al-Banna, atau Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, atau para tokoh sejarah lain yang sudah membuktikan tidak berat bagi mereka untuk hidup dalam penderitaan, dalam penjara, selama mereka tetap memegang kebenaran yang diyakini dan tak menukarnya dengan kursi kekuasaan. Era tokoh-tokoh besar itu sudah berlalu, dinda Yose. *Gone*. Dan itulah yang paling menyedihkan hidup di masa sekarang, karena kita dikelilingi oleh orang-orang yang gemar menuding, tapi tak bisa membuktikan. Wassalam, ANB > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
