Sadang mancaliak-caliak ranahberita.com tampak lo tulisan ko ciek. Rancak lo diparedaan saketek, disalin sadonyo tanpa izin penerbit sakadar untuak dibaco Rang Lapau. --MakNgah Tukang Pakang
24 Juni 2014 Oleh: Y Fitrayadi Ilustrasi Uang (Foto: freemediagoo) Sudah selayaknya di Tanah Minangkabau berdiri Institut Pakang Minangkabau. Minangkabau Institute of Pakang. Sebuah lembaga pendidikan dan penelitian untuk urusan percaloan. Saya yakin setiap kampung punya tukang pakang. Iya. Mereka adalah yang di dalam bahasa lain dikenal sebagai broker, calo,middle man, makelar dan sebutan lainnya. Perantara dalam jual beli. Berharap komisi dan fee. Tukang pakang sejati adalah mereka yang sanggup jadi perantara barang apa saja. Mulai dari jarum pentul sampai pesawat terbang. Tapi kalau kita bicara pakang level nagari, barang yang mereka perantarakan biasanya kendaraan atau anjing berburu. Di kampung saya, tukang pakang paling hits,dipanggil Buyuang Ladiang aka Buyuang Cakar. Masih relatif muda umurnya, awal 40-an tahun. Tapi pencapaian materinya di atas rata-rata warga kampung. Dan hebatnya, dia tak lulus SD. Membaca terpatah-patah. Konon ia tak bisa menulis. Isterinya lah yang membantu dalam urusan korespondensi surat atau sms. Banyak yang menyepelekan profesi pakang. Profesi yang katanya tak bermodal. Hanya mengandalkan air liur. Tapi apakah sejatinya begitu? Saya rasa tidak. Ini profesi yang multidimensi. Butuh pendalaman teknis, jaringan yang luas dan inter-personal skill yang tinggi. Bayangkan jika tukang pakang anjing berburu hanya bermodal liur. Ia pastilah akan mengecewakan peburu babi yang ingin anjing bagus. Untuk mendapatkan anjing terbaik dengan harga layak, pastilah dia butuh akumulasi pengetahuan tentang anjing. Jaringan yang tidak bisa dibangun dalam sehari, mulai dari penyuplai anjing sampai para sopir pembawa ke kampung halaman. Singapura adalah negara pakang. Apapun yang kita cari, ada di sana. Singapura butuh proses lama dan berat untuk sampai di posisi ini. Mungkin karena mereka sadar tak ada sumber daya alam yang mereka banggakan. Dan tentu saja karena ada keuntungan lokasi. Mereka membangun reputasi, infrastruktur dan mental untuk itu. Mulai dari aturan yang kecil tapi penting: meludah. Bayangkan jika kita punya Institut Pakang Minangkabau. Menghasilkan tukang-tukang pakang terbaik. Banyak uang beredar dari feedan komisi. Tak perlu risau lagi dengan sumber daya alam yang terbatas.Tenang saja kalau soal pendaftar. Secara alami, kita adalah etnis calo. Etnis mental middle man. Selama ini tak berkembang, mungkin karena kita agak sinis pada profesi ini. Selamat menjadi pakang. Selamat menjadi Minang juga. * Y Fitrayadi adalah putra Sijunjuang, pegiat media sosial, tinggal dan bekerja di Jakarta. ~~ Via iPhone, Sjamsir Sjarif, Santa Cruz, CA, USA -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
