Kenapa DIM diingingkan


Saya menggunakan “Dunia takambang jadi guru”,  apakah ini ilmiah atau tidak
terpulang kepada pembaca.



Saya melihat dari kata yang biasa  didengungkan untuk menyatakan dimana
kita berada yaitu “TANAH AIR”



Tanah air ini adalah tempat yang dihuni manusia.



Kalau boleh saya mengkelasifikasi  penghuninya  ialah:



1. Penguasa, Pengusaha, Buruh dan Petani (petani rakyat, bukan petani

    pengusaha

    Contoh: Indonesia dll



2. Penguasa, Pengusaha, Buruh.

    Contoh: Amerika Serikat.

    Petani ada tapi petani pengusaha. Petani kecil mungkin masih ada dari

    kalangan pribumi asli Indian dipedalaman, tapi yang dominan adalah

    petani pengusaha yang punya hektaran lahan unntuk peternakan dan

    pertanian bahan makanan.

    Yang terlihat dominan di Amerika Serikat itu adalah Penguasa,

    pengusaha dan buruh.  Beda dengan Indonesia, di Indonesia, Petani,

    Penguasa,  Buruh dan Pengusaha



3. Penguasa, Pengusaha dan  Buruh  yang kesemuanya dibingkai dengan

    teknik  cangih mutakhir



    Secara semu gabung- tempat Penguasa, dengan Pengusaha telah

     Terjadi, hakikinya yang ada hanya pengusaha dan buruh.

    Contoh: mungkin Singapura



Didaerah banyak pribuminya, petani rakyat masih mendominsasi kegiatan
ekonomi didaerah.



Mereka sudah akrab dengan tanah dan air, itulah keahliannya yang telah
diterima turun temurun sesuai dengan tatanan adat dan tradisi dari
leluhurnya.



Meskipun dalam serba terbatas, namun mereka nyaman dengan kehidupan yang
demikian. Indonesia mungkin bisa jadi acuan untuk ini.



Kita lihat lebih kedalam di Indonesia sendiri, Suku Sakai di Riau, Anak
Dalam di Jambi, Badui di Banten, Tengger Di Jawa Timur, Samin  pedalaman
Bojonegoro-Jatim, orang laut di Sulsel dan banyak lagi sampai ke Papua,
mereka nyaman dengan  kehidupan yang sudah tertata dengan tatanan adat dan
tradisi dari leluhur mereka. Meskipun bagi dunia modern dianggap masih
primitive.



Pada saat penjajajan Belanda dan Jepang kenyamanan diatas mulai terusik,
kemudian  sesudah penjajah meninggalkan negeri ini, sisa Indo Eropah, Timur
asing termasuk Timur Tengah yang masih tinggal dan penambahan pendatang
baru, menambah gencarnya pengusikan kenyamanan  diatas.



Pribumi yang tadinya nyaman dengan segala kesederhanannya, dengan  hadirnya
pendatang  Indo Eropah, Asia Tengah dan Asia Timur itu yang kesemuanya
lebih cerdas dan lebih lihai diserta modal, mereka dengan mudah mengiming
-imingi pribumi yang masih sederhana itu dengan sedikit  uang yang bisa
digunakan untuk kemewahan sementara,  sehingga pribumi ini mudah sekali
melepaskan tanahnya dan bergeser dari tempat asalnya.



Ditambah lagi kebijakan pemerintah untuk pengembangan Proverty, Perkebunan
dan  penambangan  sekedar menambah PAD dan devisa negara, menambah cepat
tergesernya pribumi ini ke pinggir.



Inilah yang terlihat nyata sekarang ini



Baik yang diperkotaan seperti Jakarta, pribuminya suka atau tidak harus
minggir meninggalkan tempat asalnya, yang tadinya ada di Menteng, Senen,  Jati
Negara, Mampang Prapatan dll, sekarang entah kemana dengan membawa
penderitaannya.



Tidak jauh berbeda dengan yang dipedalaman, suku Sakai dan Anak Dalam
dipedalamn Riau dan Jambi digeser oleh datangnya tambang minayak/Gas Bumi
dan perkebunan kelapa sawit.



Dengan kekuatan modal besar dari luar dan ada saja oknum  penguasa  Indonesia
yang lemah mentalnya pengusikan ini akan berlangsung terus.



Sekarang pengusikan sudah dimulai di Jakarta,  mungkin juga  sudah terjadi
untuk Bandung, Surabaya, Menado, Medan dll.



Pengusikan ini akan berjalan terus sampai ke pedalaman

Ke nagari, jorong  atau  Desa.

Dengan adanya globalisasi dan dengan akan masuknya masyarakat  ASEAN mulai
2015 yang akan merancah/merambah keseluruh pelosok  Indonesia, pengusikan
sampai ke Jorong/desa tak mungkin diatasi tanpa adanya usaha dari pemimpin
dan cerdik pandai negara ini.



Kalau pengusikan ini tidak dicegah, Jakarta sebentar lagi akan jadi
Singapura. Sekarang  2015 ini mungkin sebagian kota ini sudah jadi
Singapura, bersih dari pribumi, yang sebagian lagi ditempati pendatang
pribumi dari  daerah Indonesia lainnya.

Pribumi daerah yang tersisa di Jakarta inipun sebentar lagi akar minggir
juga.

Caranya,  nampaknya sangat mudah, dengan modal besar entah darimana,
mungkin Singapur, Taiwan,  Hongkong dll.

 Pribumi yang masih tinggal itu diiming saja dengan harga sedikit  mahal
agar mereka melepaskan tanahnya, kemudian bangun proverty dengan harga
milliaran dengan angsuran puluhan juta /bulan, seperti yang belangsung
dengan Indah Kapok, Karawaci, Senopati, Podomoro land, bikin laut jadi
hunian, Sentul city dsb. Ditambah lagi dengan kebijakan daerah menaikkan
PBB, mendorong untuk meinggalkan Jakarta.



Semua bangunan dengan harga mahal ini  tak mungkin terjangkau oleh pribumi,
dengan berbagai alasan datanglah pembeli luar, akhirnya yang
menghuni/memanfaatkan proverty yang serba mahal ini adalah orang luar bukan
pribumi Indonesia. Akibatnya Indonesia terpaksa menerima efek tambahan,
dengan leluasannya orang luar bergerak dihunian yang mahal itu. Sekarang
sudah mulai terlihat adanya pabrik narkoba di rumah mewah tersebut yang
merusak anak bangsa ini, mematikan 50 orang /hari mungkin ditambah lagi
pemalsuan pencetakan uang.



Kalau daerah di Indonesia ini tidak dipagari, apa yang berlaku di Jakarta
sekarang ini akan berlaku juga di kota-kota lainnya dan merambah sampai
pedalaman Indonesia tak terkecuali merambah/marancah Padang, Bukittinggi,
Payakumbuh,  Solok dan kota-kota besar lainnya di Sumbar. malah mungkin
merambah sampai ke pedalaman.



Dengan rapatnya penduduk RRT, India, Hongkong, Taiwan dan Singapura mungkin
juga Israel kesmuanya dengan modal besar otomatis mereka berusaha keras
mencari tempat hunian dan tempat penanaman modal yang baru.



Dengan memboncengi masyarakat ASEAN yang dapat izin masuk mulai 2015
ini,   serta
modal besar mereka dan Indonesia  dibiarkan terbuka untuk dimasuki,
kemungkinan dengan waktu tidak begitu lama Indonesia akan berubah warna,
pribumi minggir, pendatang menempati kota-kota  sampai ke nagari, jorong
/desa  di Indonesia ini.



Dengan demikian negara Indonesia akan menjadi hunian  pada angka no 2. yang
terdiri dari Pegusaha dan Buruh.



Kusus untuk Sumbar, daerah ini mempunyai tatanan adat sendiri dan agama
yang dianutnya yang sudah berlalu ratusan tahun lamanya meskipun sekarang
sudah mulai agak tergerus, kalau hanya dengan  aturan Pemerintah Daerah
yang berlaku sekarang ini, Sumbar akan mengalami nasib yang sama dengan
Jakarta, huniannya hanya terdiri dari Pengusaha dan Buruh. Pengusahanya
orang luar, buruhnya pribumi Sumbar.



Memagari Sumbar untuk lebih kuat  menghadapi gencarnya pengusikan dari luar
yang diutarakan diatas maka sudah suatu keniscayaan Sumbar memperjuangkan
terbentuknua Daerah Istimewa Minangkabau (DIM).



Dengan adanya DIM sehingga adat minangkabau serta agama yang dianutnya  itu
bisa terpelihara kokoh, mudah-mudahan pribumi Minangkabau tidak akan
terusir ke pinggir seperti apa yang dialami pribumi Betawi/Jakarta sekarang
ini.



Dengan DIM pemerintah daerah dapat mengatur/memagari  dirinya untuk
keselamatan daerahnya namun tetap dalam bingkai negara kesatuan RI.



Ada  beberapa tokoh yang memberikan gambaran  persyaratan berat  untuk
Sumbar bisa menjadi DIM dan malah ada yang sangat kawatir akan terjadi
macam-macam dan sangat trauma dengan kejadia PRRI  50 tahun yang lalu.



Mereka  kawatir  Sumbar itu jadi DIM dan  tidak kawatir  Sumbar  jadi
Singapura.



Secara akademis mungkin ini tesis, terserahlah nanti , waktu yang akan
menentukan,  tesis mana mendekati untuk diterapkan.

Dalam memperjuangkan DIM ini dipilih jalur konstitusional dalam bingkai
NKRI, tidak boleh keluar dari situ.



Tidak selesai oleh generasi sekarang, pesankan ke generasi berikutnya.



Ini adalah perinsip untuk mencegah Sumbar jadi Singapura.



Yang perlu sama-diawasi mungkin akan  munculnya provokator.



Penggagas serta  pendukung DIM baik di Rantau maupun di Ranah seperti
OMMPDIM , Hillary, dan tautan lainnya sadarlah  bahwa kita mencari kawan
sebanyak-banyaknya, ya itulah aturan main demokrasi kita sekarang ini.



Terus terang pribumi Minangkabau tidak akan mau daerahnya .

 menjadi hunian  hanya oleh Pengusaha dan Buruh.



Orang Minangkabau , termasuk suku-suku- lainnya di tanah air Indonesia ini
rasanya akan tetap  berusaha sekuat tenaga dan akan tetap mempertahankan
agar tanah air yang sudah diperjuangkan  dengan susah payah dan tumpah
darah ini tetap dikuasai dominan oleh pribumi, baik ekonomi maupun sosial
politiknya.



Wass,



Maturidi (L/76) Talang, Solok, Kutianyia, Duri Riau

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke