Iko ciek lai tasia kaba di Surek Kaba Haluan. -- MakNgah Pembentukan DIM Masih Pro Kontra <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/nusantara/37786-pembentukan-dim-masih-pro-kontra> [image: PDF] <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/nusantara/37786-pembentukan-dim-masih-pro-kontra?format=pdf> [image: Cetak] <http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/nusantara/37786-pembentukan-dim-masih-pro-kontra?tmpl=component&print=1&layout=default&page=> [image: Surel] <http://www.harianhaluan.com/index.php/component/mailto/?tmpl=component&link=fd67128ead1a411a756c052c5a10b025294cae9c> Selasa, 03 Februari 2015 01:57
*JAKARTA, HALUAN —* Wacana pembentukan Daerah Otonomi Minangkabau (DIM) masih menimbulkan pro kontra. Pakar otonomi daerah Prof. Dr. Djohermansyah Djohan, MA menilai alasan untuk mengubah nama Sumatera Barat (Sumbar) dijadikan DIM tidak kuat, kurang tepat dan terlalu mengada-ada. “Apa urgensinya. Apa masyarakat Minangkabau di Sumbar tidak bisa lagi menjalankan Adat Basandi Syarak, Syarak Basandikan Kitabullah (ABS SBK)?,” kata Djohermansyah mempertanyakan, ketika diminta tanggapannya, di Jakarta, Senin (2/2). Menurut Djohermansyah Djohan, sampai sekarang ini di Sumbar tidak ada larangan bagi masyarakatnya dalam menjalankan ABS SBK tersebut. Karena itu tidak perlu ada UU yang mengatur secara khusus dengan mengubah Sumbar menjadi daerah istimewa. “Tidak ada urgensinya. Apa masyarakat Minang di Sumbar tidak bisa lagi menjalankan adatnya yang basandikan syarak, syarak basandikan Kitabullah. Apa masyarakat Minang di Sumbar dilarang menjalankan syariatnya, syarak mangato adat mamakai sehingga minta jaminan dengan UU keistimewaan?” ujar mantan Dirjen Otda Kemendagri itu. Kalau cuma alasannya meminta keistimewaan tersebut hanya untuk menjalan ABS SBK, dinilai Djohermansyah suatu alasan yang kurang kuat dan tepat untuk mengubah Sumbar menjadi DIM. “Alasannya mengada-ada dan tidak ada dasar yang kuat untuk meminta daerah istimewa,” kata Djohermansyah. Menurut Djohermansyah, dalam menjalankan ABS SBK di Sumbar hanya masalah internal. Langkah yang tepat menurutnya untuk menerapkan ABS SBK dalam masyarakat Minang di Sumbar adalah melalui kebijakan pemerintah provinsi, kabupaten dan kota sampai ke nagari dengan berbagai kreatif dan inovatif. “Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota bisa membuat peraturan daerah yang membuat ABS SBK betul-betul membumi dan dijalankan dalam kehidupan yang nyata sehari-hari masyarakat Minang di Sumbar,” saran Djohermansyah. Djohermansyah juga memperkirakan bahwa pemerintah tidak mudah menerima keistimewaan yang diusulkan karena konsekuensinya menyangkut masalah dana juga. “Ini akan menjadi preseden di kemudian baik karena daerah-daerah lain juga akan menuntut keistimewaan karena setiap daerah pasti memiliki keistimewaan tersendiri pula,” kata Djohermansyah. Karena itu dia menyarankan agar dilakukan perhitungan dan pengkajian secara matang akibat atau dampak dari implementasi. “Jangan hanya memikirkan secara serimonial saja. Kita juga harus memikirkan efek dan dampak lainnya dalam pembangunan daerah Sumbar, khusus di bidang pariwisata,” kata Djohermansyah. Selanjutnya .... Secara terpisah, ..... terusukan baca Haluan .... -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
