Uda Maturidi  nan ambo hormati,
Poverty ditulisan kanda ko mungkin mukasuiknyo  Property, bukan?

<div>-------- Original message --------</div><div>From: Maturidi Donsan 
<[email protected]> </div><div>Date:02/02/2015  12:07 AM  (GMT-05:00) 
</div><div>To: [email protected] </div><div>Cc:  </div><div>Subject: 
[R@ntau-Net] Kenapa DIM diingingkan </div><div>
</div>Kenapa DIM diingingkan  
 
Saya menggunakan “Dunia takambang jadi guru”,  apakah ini ilmiah atau tidak 
terpulang kepada pembaca.
 
Saya melihat dari kata yang biasa  didengungkan untuk menyatakan dimana kita 
berada yaitu “TANAH AIR”
 
Tanah air ini adalah tempat yang dihuni manusia.
 
Kalau boleh saya mengkelasifikasi  penghuninya  ialah:
 
1. Penguasa, Pengusaha, Buruh dan Petani (petani rakyat, bukan petani
    pengusaha  
    Contoh: Indonesia dll
 
2. Penguasa, Pengusaha, Buruh.
    Contoh: Amerika Serikat.
    Petani ada tapi petani pengusaha. Petani kecil mungkin masih ada dari
    kalangan pribumi asli Indian dipedalaman, tapi yang dominan adalah
    petani pengusaha yang punya hektaran lahan unntuk peternakan dan
    pertanian bahan makanan.
    Yang terlihat dominan di Amerika Serikat itu adalah Penguasa,
    pengusaha dan buruh.  Beda dengan Indonesia, di Indonesia, Petani,
    Penguasa,  Buruh dan Pengusaha
 
3. Penguasa, Pengusaha dan  Buruh  yang kesemuanya dibingkai dengan
    teknik  cangih mutakhir
 
    Secara semu gabung- tempat Penguasa, dengan Pengusaha telah
     Terjadi, hakikinya yang ada hanya pengusaha dan buruh.
    Contoh: mungkin Singapura    
 
Didaerah banyak pribuminya, petani rakyat masih mendominsasi kegiatan ekonomi 
didaerah.
 
Mereka sudah akrab dengan tanah dan air, itulah keahliannya yang telah diterima 
turun temurun sesuai dengan tatanan adat dan tradisi dari leluhurnya.
 
Meskipun dalam serba terbatas, namun mereka nyaman dengan kehidupan yang 
demikian. Indonesia mungkin bisa jadi acuan untuk ini.
 
Kita lihat lebih kedalam di Indonesia sendiri, Suku Sakai di Riau, Anak Dalam 
di Jambi, Badui di Banten, Tengger Di Jawa Timur, Samin  pedalaman 
Bojonegoro-Jatim, orang laut di Sulsel dan banyak lagi sampai ke Papua, mereka 
nyaman dengan  kehidupan yang sudah tertata dengan tatanan adat dan tradisi 
dari leluhur mereka. Meskipun bagi dunia modern dianggap masih primitive.
 
Pada saat penjajajan Belanda dan Jepang kenyamanan diatas mulai terusik, 
kemudian  sesudah penjajah meninggalkan negeri ini, sisa Indo Eropah, Timur 
asing termasuk Timur Tengah yang masih tinggal dan penambahan pendatang baru, 
menambah gencarnya pengusikan kenyamanan  diatas.
 
Pribumi yang tadinya nyaman dengan segala kesederhanannya, dengan  hadirnya 
pendatang  Indo Eropah, Asia Tengah dan Asia Timur itu yang kesemuanya lebih 
cerdas dan lebih lihai diserta modal, mereka dengan mudah mengiming -imingi 
pribumi yang masih sederhana itu dengan sedikit  uang yang bisa digunakan untuk 
kemewahan sementara,  sehingga pribumi ini mudah sekali melepaskan tanahnya dan 
bergeser dari tempat asalnya.
 
Ditambah lagi kebijakan pemerintah untuk pengembangan Proverty, Perkebunan dan  
penambangan  sekedar menambah PAD dan devisa negara, menambah cepat tergesernya 
pribumi ini ke pinggir.
 
Inilah yang terlihat nyata sekarang ini
 
Baik yang diperkotaan seperti Jakarta, pribuminya suka atau tidak harus minggir 
meninggalkan tempat asalnya, yang tadinya ada di Menteng, Senen,  Jati Negara, 
Mampang Prapatan dll, sekarang entah kemana dengan membawa penderitaannya.  
 
Tidak jauh berbeda dengan yang dipedalaman, suku Sakai dan Anak Dalam 
dipedalamn Riau dan Jambi digeser oleh datangnya tambang minayak/Gas Bumi dan 
perkebunan kelapa sawit.
 
Dengan kekuatan modal besar dari luar dan ada saja oknum  penguasa  Indonesia 
yang lemah mentalnya pengusikan ini akan berlangsung terus.
 
Sekarang pengusikan sudah dimulai di Jakarta,  mungkin juga  sudah terjadi 
untuk Bandung, Surabaya, Menado, Medan dll.
 
Pengusikan ini akan berjalan terus sampai ke pedalaman
Ke nagari, jorong  atau  Desa.
Dengan adanya globalisasi dan dengan akan masuknya masyarakat  ASEAN mulai 2015 
yang akan merancah/merambah keseluruh pelosok  Indonesia, pengusikan sampai ke 
Jorong/desa tak mungkin diatasi tanpa adanya usaha dari pemimpin dan cerdik 
pandai negara ini.
 
Kalau pengusikan ini tidak dicegah, Jakarta sebentar lagi akan jadi Singapura. 
Sekarang  2015 ini mungkin sebagian kota ini sudah jadi Singapura, bersih dari 
pribumi, yang sebagian lagi ditempati pendatang pribumi dari  daerah Indonesia 
lainnya.
Pribumi daerah yang tersisa di Jakarta inipun sebentar lagi akar minggir juga.
Caranya,  nampaknya sangat mudah, dengan modal besar entah darimana, mungkin 
Singapur, Taiwan,  Hongkong dll.
 Pribumi yang masih tinggal itu diiming saja dengan harga sedikit  mahal agar 
mereka melepaskan tanahnya, kemudian bangun proverty dengan harga milliaran 
dengan angsuran puluhan juta /bulan, seperti yang belangsung dengan Indah 
Kapok, Karawaci, Senopati, Podomoro land, bikin laut jadi hunian, Sentul city 
dsb. Ditambah lagi dengan kebijakan daerah menaikkan PBB, mendorong untuk 
meinggalkan Jakarta.
 
Semua bangunan dengan harga mahal ini  tak mungkin terjangkau oleh pribumi, 
dengan berbagai alasan datanglah pembeli luar, akhirnya yang 
menghuni/memanfaatkan proverty yang serba mahal ini adalah orang luar bukan 
pribumi Indonesia. Akibatnya Indonesia terpaksa menerima efek tambahan, dengan 
leluasannya orang luar bergerak dihunian yang mahal itu. Sekarang sudah mulai 
terlihat adanya pabrik narkoba di rumah mewah tersebut yang merusak anak bangsa 
ini, mematikan 50 orang /hari mungkin ditambah lagi pemalsuan pencetakan uang.
 
Kalau daerah di Indonesia ini tidak dipagari, apa yang berlaku di Jakarta 
sekarang ini akan berlaku juga di kota-kota lainnya dan merambah sampai 
pedalaman Indonesia tak terkecuali merambah/marancah Padang, Bukittinggi, 
Payakumbuh,  Solok dan kota-kota besar lainnya di Sumbar. malah mungkin 
merambah sampai ke pedalaman.
 
Dengan rapatnya penduduk RRT, India, Hongkong, Taiwan dan Singapura mungkin 
juga Israel kesmuanya dengan modal besar otomatis mereka berusaha keras mencari 
tempat hunian dan tempat penanaman modal yang baru.
 
Dengan memboncengi masyarakat ASEAN yang dapat izin masuk mulai 2015 ini,   
serta modal besar mereka dan Indonesia  dibiarkan terbuka untuk dimasuki, 
kemungkinan dengan waktu tidak begitu lama Indonesia akan berubah warna, 
pribumi minggir, pendatang menempati kota-kota  sampai ke nagari, jorong /desa  
di Indonesia ini.
 
Dengan demikian negara Indonesia akan menjadi hunian  pada angka no 2. yang 
terdiri dari Pegusaha dan Buruh.
   
Kusus untuk Sumbar, daerah ini mempunyai tatanan adat sendiri dan agama yang 
dianutnya yang sudah berlalu ratusan tahun lamanya meskipun sekarang sudah 
mulai agak tergerus, kalau hanya dengan  aturan Pemerintah Daerah yang berlaku 
sekarang ini, Sumbar akan mengalami nasib yang sama dengan Jakarta, huniannya 
hanya terdiri dari Pengusaha dan Buruh. Pengusahanya orang luar, buruhnya 
pribumi Sumbar.
 
Memagari Sumbar untuk lebih kuat  menghadapi gencarnya pengusikan dari luar 
yang diutarakan diatas maka sudah suatu keniscayaan Sumbar memperjuangkan 
terbentuknua Daerah Istimewa Minangkabau (DIM).
 
Dengan adanya DIM sehingga adat minangkabau serta agama yang dianutnya  itu 
bisa terpelihara kokoh, mudah-mudahan pribumi Minangkabau tidak akan terusir ke 
pinggir seperti apa yang dialami pribumi Betawi/Jakarta sekarang ini.
 
Dengan DIM pemerintah daerah dapat mengatur/memagari  dirinya untuk keselamatan 
daerahnya namun tetap dalam bingkai negara kesatuan RI.
 
Ada  beberapa tokoh yang memberikan gambaran  persyaratan berat  untuk Sumbar 
bisa menjadi DIM dan malah ada yang sangat kawatir akan terjadi macam-macam dan 
sangat trauma dengan kejadia PRRI  50 tahun yang lalu.
 
Mereka  kawatir  Sumbar itu jadi DIM dan  tidak kawatir  Sumbar  jadi Singapura.
 
Secara akademis mungkin ini tesis, terserahlah nanti , waktu yang akan 
menentukan,  tesis mana mendekati untuk diterapkan.
Dalam memperjuangkan DIM ini dipilih jalur konstitusional dalam bingkai NKRI, 
tidak boleh keluar dari situ.
 
Tidak selesai oleh generasi sekarang, pesankan ke generasi berikutnya.
 
Ini adalah perinsip untuk mencegah Sumbar jadi Singapura.
 
Yang perlu sama-diawasi mungkin akan  munculnya provokator.
 
Penggagas serta  pendukung DIM baik di Rantau maupun di Ranah seperti OMMPDIM , 
Hillary, dan tautan lainnya sadarlah  bahwa kita mencari kawan 
sebanyak-banyaknya, ya itulah aturan main demokrasi kita sekarang ini.
 
Terus terang pribumi Minangkabau tidak akan mau daerahnya .
 menjadi hunian  hanya oleh Pengusaha dan Buruh.
 
Orang Minangkabau , termasuk suku-suku- lainnya di tanah air Indonesia ini 
rasanya akan tetap  berusaha sekuat tenaga dan akan tetap mempertahankan agar 
tanah air yang sudah diperjuangkan  dengan susah payah dan tumpah darah ini 
tetap dikuasai dominan oleh pribumi, baik ekonomi maupun sosial politiknya.
 
Wass,
 
Maturidi (L/76) Talang, Solok, Kutianyia, Duri Riau






-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke