Nakan Fasrdjal M Noor, mak Ngah  n.a. h

Kemungkinan kita /Indonesia kurang bisa memasarkan atau kata orang sekarang
kurang ahli dalam  marketing.

Pengalaman lapangan kita masing-masing tentu ada.

Saya melihat dan mengalami, punya produksi jengkol, pada saat panen,  tak
ada yang beli,akhirnya dibagi-bagi saja ke tetangga,  punya produksi kelapa
susah sekali menjualnya akhirnya banyak yang busuk. Produksi ini tak
banyak, toh sulit menjualnya. Kadang termangu sendiri, apa yang salah pada
kita?.

Atau mungkin ada sindikat yang tahu, begitu ada produk rayat, diadakan
pemogokan pembelian, akhirnya rakyat kapok menanam, kemudian terbuka kran
impor. Barangkali begitu, ini pikiran, secara  bodoh.

Kemudian saya terpikir,  kebetulan waktunya beriringan dengan dibuangnya
susu cair bertruk-truk kekali Plumpang Jakarta oleh  petani peternak susu
Ciamis, Garut atau produksi Jabar karena Bulog yang tadinya menjanjikan
akan menampung  ternyata menolak alasan tak ada uang pada hal pada tahun
yang sama kita impor susu  cair Cap Bendera  dari Belanda /Eropah.Kejadian
ini mendekati tahun 90-an.

Begitu juga dengan surplus beras tahun 86-87-an, tak bisa jual, akhirnya
rakyat disuruh jangan terus-terusan nanam padi selingi dengan palawija dsb.
pada hal waktu itu orang di Etiopia dan Sudan banyak yang mati kelaparan
tak ada beras.

Waktu kita makan bulgur sekitar 60-an  karena tak ada uang pembeli beras,
kenapa bisa beli beras  utang 20 tahun ke Rusia atau kemana, kita kelebihan
beras kok tak bisa jual dengan kredit kenegara yang perlu beras.Ini pada
saat ka Bulognya sekaligus menteri Koperasi alm pak Bustanul Arifin

Kelebihan cengkeh juga demikian, tak bisa jual, petani dianjurkan
tukar-tukar tanaman, cengkeh itu tanaman tua umur 20 30 tahunan dengan apa
mau ditumpang tindihkan, akhirnya petani di Menado dan Lampung membakar
kebun cengkehnya, karena jengkel dengan kebijakan pemerintah, disuruh
giatkan produksi, steleh produksi melimpah pemerintah tak mau menolong
menjualkan.

Kejadia pa terjadi juga dengan kedele.

Alhasil selalu dipaksa membuka kran import, bermainlah cukong dan oknum
disini.

Apakah keadaan ini sudah dilupakan orang saja.

Makanya kita selagi masih pengaturan ekonomi ini diurus setengah-setengah,
koperasi setengah, pasar bebas setengah, kebutuhan dalam negeri kita akan
selalu dari impor. apalagi sekarang sudah pasar bebas. Pasar ditentukan
oleh tengkulak.

2015 ASEAN masuk dengan membawa barang dagangannya kesini, siap siaplah
petani kita akan tercekik.

Menghadapi sanak-sanak dari ASEAN, bagi Sumbar, bertanilah untuk kebutuhan
sendiri, yang penting tidak beli.
Kalau Rakyat Sumbar harus menggantungkan bahan pangannya dari pasar,
celakalah.

Untuk renungan bagi kita yang punya sanak famili di Sumbar.

Wass,

Maturidi (L/76) Talang, Solok, Kutianyia, Duri Riau

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke