Markisa Manis, Sebuah Icon yang Mulai Langka [image: PDF] <http://www.harianhaluan.com/index.php/feature/37849-markisa-manis-sebuah-icon-yang-mulai-langka?format=pdf> [image: Cetak] <http://www.harianhaluan.com/index.php/feature/37849-markisa-manis-sebuah-icon-yang-mulai-langka?tmpl=component&print=1&layout=default&page=> [image: Surel] <http://www.harianhaluan.com/index.php/component/mailto/?tmpl=component&link=f005a2df6a30e3870f00f0fc44ef4d434bf82772> Kamis, 05 Februari 2015 02:26
*SENTRA BUAH-BUAHAN DI SUMBAR* *Ketika *memasuki Kabupaten Solok dari arah kota Padang, pandangan mata akan tertuju kepada sebuah monumen penanda batas yang di atasnya bertengger buah-buahan beruntai. Buah itu tak lain adalah markisa. Buah segar yang dibungkus kulit seperti gabus, dengan isinya yang kenyal seperti jelly bertabur bijinya yang berjubel serta rasanya yang manis. Markisa merupakan tanaman khas Kabupaten Solok dan menjadi salah satu buah *icon *di daerah itu. Hal ini mengingat tanaman ini tidak berkembang di Kabupaten/Kota lainnya di Sumatera Barat dan hanya tumbuh di beberapa daerah di Indonesia. Yang membuat Kabupaten Solok terkenal di nusantara karena dijuluki bumi markisa. Sebagai salah satu komoditi buah segar, markisa dapat di komsumsi secara langsung ataupun bentuk olahan seperti sirup dan jus. Buah ini juga bisa dijadikan sebagai alternatif buah tangan bagi pengunjung daerah berhawa sejuk itu, jika akan pulang. Bagi pembeli yang ingin mendapatkan buah ini juga cukup gampang, karena buah ini banyak dijual secara konvensional di sepanjang jalan dari Nagari Talang hingga ke Lubuk Selasih dan di sepanjang jalan menuju ke Kab. Solok Selatan. .. dst langkok caliak di Haluan ... On Wednesday, February 4, 2015 at 8:27:37 AM UTC-8, Maturidi Donsan wrote: > > Nakan Fasrdjal M Noor, mak Ngah n.a. h > > Kemungkinan kita /Indonesia kurang bisa memasarkan atau kata orang > sekarang kurang ahli dalam marketing. > > Pengalaman lapangan kita masing-masing tentu ada. > > Saya melihat dan mengalami, punya produksi jengkol, pada saat panen, tak > ada yang beli,akhirnya dibagi-bagi saja ke tetangga, punya produksi kelapa > susah sekali menjualnya akhirnya banyak yang busuk. Produksi ini tak > banyak, toh sulit menjualnya. Kadang termangu sendiri, apa yang salah pada > kita?. > > Atau mungkin ada sindikat yang tahu, begitu ada produk rayat, diadakan > pemogokan pembelian, akhirnya rakyat kapok menanam, kemudian terbuka kran > impor. Barangkali begitu, ini pikiran, secara bodoh. > > Kemudian saya terpikir, kebetulan waktunya beriringan dengan dibuangnya > susu cair bertruk-truk kekali Plumpang Jakarta oleh petani peternak susu > Ciamis, Garut atau produksi Jabar karena Bulog yang tadinya menjanjikan > akan menampung ternyata menolak alasan tak ada uang pada hal pada tahun > yang sama kita impor susu cair Cap Bendera dari Belanda /Eropah.Kejadian > ini mendekati tahun 90-an. > > Begitu juga dengan surplus beras tahun 86-87-an, tak bisa jual, akhirnya > rakyat disuruh jangan terus-terusan nanam padi selingi dengan palawija dsb. > pada hal waktu itu orang di Etiopia dan Sudan banyak yang mati kelaparan > tak ada beras. > > Waktu kita makan bulgur sekitar 60-an karena tak ada uang pembeli beras, > kenapa bisa beli beras utang 20 tahun ke Rusia atau kemana, kita kelebihan > beras kok tak bisa jual dengan kredit kenegara yang perlu beras.Ini pada > saat ka Bulognya sekaligus menteri Koperasi alm pak Bustanul Arifin > > Kelebihan cengkeh juga demikian, tak bisa jual, petani dianjurkan > tukar-tukar tanaman, cengkeh itu tanaman tua umur 20 30 tahunan dengan apa > mau ditumpang tindihkan, akhirnya petani di Menado dan Lampung membakar > kebun cengkehnya, karena jengkel dengan kebijakan pemerintah, disuruh > giatkan produksi, steleh produksi melimpah pemerintah tak mau menolong > menjualkan. > > Kejadia pa terjadi juga dengan kedele. > > Alhasil selalu dipaksa membuka kran import, bermainlah cukong dan oknum > disini. > > Apakah keadaan ini sudah dilupakan orang saja. > > Makanya kita selagi masih pengaturan ekonomi ini diurus setengah-setengah, > koperasi setengah, pasar bebas setengah, kebutuhan dalam negeri kita akan > selalu dari impor. apalagi sekarang sudah pasar bebas. Pasar ditentukan > oleh tengkulak. > > 2015 ASEAN masuk dengan membawa barang dagangannya kesini, siap siaplah > petani kita akan tercekik. > > Menghadapi sanak-sanak dari ASEAN, bagi Sumbar, bertanilah untuk kebutuhan > sendiri, yang penting tidak beli. > Kalau Rakyat Sumbar harus menggantungkan bahan pangannya dari pasar, > celakalah. > > Untuk renungan bagi kita yang punya sanak famili di Sumbar. > > Wass, > > Maturidi (L/76) Talang, Solok, Kutianyia, Duri Riau > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
