Bung Nofend,  izin share ya?
8 Feb 2015 11:53, "Nofend St. Mudo" <[email protected]> menulis:

> Http://hariansinggalang.co.id/demokrasi-minang-di-tubir-jurang/
> <http://hariansinggalang.co.id/demokrasi-minang-di-tubir-jurang/>
> Demokrasi Minang di Tubir Jurang
> <http://hariansinggalang.co.id/demokrasi-minang-di-tubir-jurang/>February
> 7, 2015
>
> Akmal Nasery Basral — Demokrasi memang topik yang nyaris abstrak, tetapi
> sesungguhnya bisa diukur. Mungkin tak banyak publik tahu, kini ada Indeks
> Demokrasi Indonesia (IDI) yang disusun Lembaga Penelitian Psikologi
> Universitas Indonesia (LPPsi UI) bersama Perhimpunan Pendidikan Demokrasi
> (P2D).
>
>
> IDI 2013 sudah diumumkan pada Mei 2014. Sambil menunggu keluarnya hasil
> pengukuran IDI terbaru (2014) yang mungkin akan dipublikasikan pada
> trimester kedua tahun ini, ada baiknya kita teroka kembali salah satu
> dimensi IDI 2013, khususnya Indeks Demokrasi Per Provinsi (IDPP) dimana
> Sumatera Barat berada di dalamnya.
>
>
> Dari 30 provinsi yang disurvei, Sumatera Barat meraih skor 64 dalam skala
> 0-100, sehingga berada di peringkat 15 dengan kategori “Agak Demokratis.”
> Skor ini sedikit lebih tinggi dari nilai rerata nasional yang memiliki skor
> 61. Tetapi jangan dulu berbahagia karena untuk Sumatera, peringkat Sumatera
> Barat berada di posisi kelima (dari 10 provinsi) setelah Lampung, Sumatera
> Selatan, Bangka Belitung, dan Sumatera Utara.
>
> Secara umum hasil IDI 2013 menunjukkan hasil mengejutkan tersebab hanya 20
> persen provinsi (atau hanya enam provinsi saja) yang berstatus
> “Demokratis,” yakni Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat,
> Maluku, Sulawesi Utara, dan Lampung, dengan skor bervariasi dari 72 sampai
> 79. Setelah itu 60 persen provinsi termasuk “Agak Demokratis”, sedangkan 20
> persen sisanya tergolong “Kurang Demokratis,” yakni Jawa Timur, NTT, Bali,
> Riau, Papua Barat, dan DKI Jakarta dengan skor terendah 41.
>
>
> Elemen demokrasi
>
>
> John Gastil (1993) dan Kenneth A. Bollen (1993) menyatakan ada dua ciri
> pokok demokrasi yakni hak-hak politik (political rights) dan kebebasan
> sipil (civil liberties). Hak-hak politik terlihat pada kesediaan dan
> kemampuan warga berpartisipasi dalam politik, sedangkan untuk kebebasan
> sipil salah satunya dilihat sejauh mana persaingan yang sehat untuk
> menduduki jabatan publik bisa dijamin.
>
>
> Sementara Dahl (1971) menjabarkan demokratis tidaknya sebuah pemerintahan
> ke dalam delapan ciri ada tidaknya jaminan pemerintah bagi kebebasan warga
> negara untuk: (1) Membentuk dan ikut serta dalam organisasi; (2)
> Berekspresi atau berpendapat; (3) Menjadi pejabat publik; (4) Melakukan
> persaingan atau kontestasi di antara warga untuk mendapatkan dukungan dalam
> rangka memperebutkan jabatan-jabatan publik yang penting; (5) Memberikan
> suara dalam pemilihan umum; (6) Adanya pemilihan umum yang jujur dan adil:
> (7) Adanya sumber-sumber informasi selain yang diberikan pemerintah; serta
> (8) Adanya jaminan kelembagaan bahwa setiap kebijakan pemerintah tergantung
> pada dukungan suara dan bentuk-bentuk ekspresi keinginan lainnya, dan oleh
> sebab itu harus ada jaminan pemilihan umum secara periodik agar setiap
> kebijakan yang dibuat oleh pemerintah terbuka untuk dievaluasi dan
> dipertanggungjawabkan dalam pemilihan umum.
>
>
> Dari dua ciri pokok demokrasi dan Gastil dan Bollen serta delapan ciri
> pemerintahan demokratis yang disebutkan Dahl, elemen-elemen IDI
> diformulasikan menjadi tiga dimensi yang berkelindan satu dengan yang lain,
> yakni (1) Kualitas pemerintahan daerah, (2) Partisipasi politik warga, dan
> (3) Kebebasan sipil.
>
>
> Ketiga elemen IDI itu kemudian dipecah menjadi 19 komponen yang dijadikan
> indikator pengukuran, mulai dari pelaksaan pilkada secara teratur;
> pemerintah daerah yang bekerja sesuai aturan; perempuan dan laki-laki
> mendapat kesempatan yang sama di berbagai bidang; sampai penerapan hukum
> yang tidak pandang bulu.
>
>
> Dengan 19 komponen itulah dilakukan survei dengan teknik multistage random
> sampling terhadap 2.367 responden (sampling error 1,98 persen) dari 30
> provinsi di Indonesia yang mengisi kuesioner dengan pilihan jawaban skala
> Likert (‘sangat buruk’, ‘buruk’, ‘baik,’ ‘sangat baik’). Adapun hasilnya
> untuk Indeks Demokrasi Per provinsi sebagai berikut: Sulawesi Selatan (79)
> Kalimantan Timur (78), Kalimantan Barat (76), Maluku (75), Sulawesi Utara
> (73), Lampung (72) Kalimantan Selatan (71) Sulawesi Tengah (69), NTB (69)
> dan kesepuluh Jawa Barat (68). Sedangkan Sumatera Barat berada di posisi 15
> dengan nilai 64. Sedang posisi terakhir DKI Jakarta dengan nilai 41.
>
>
> Masih di persimpangan jalan
>
>
> Kendati skor rerata IDI 2013 adalah 61 yang termasuk dalam kategori “Agak
> Demokratis,” namun hasil ini seperti memberikan konfirmasi atas studi
> global Freedom House “Countries at the Crossroads 2012,” yang menempatkan
> Indonesia pada kategori dengan kualitas demokrasi “di persimpangan jalan.”
>
>
> Bukan hanya di bidang demokrasi, di bidang ekonomi pun Freedom House
> menunjukkan peringkat daya saing ekonomi (economic competitiveness)
> Indonesia berdasarkan laporan World Economic Forum anjlok dari peringkat 46
> (dari 142 negara, 2011) menjadi peringkat 50 (dari 114 negara, 2012).
> Dengan total jumlah negara yang disurvei menurun jauh, maka penurunan
> peringkat Indonesia pun sesungguhnya lebih buruk dari sekadar penurunan
> empat tingkat seperti yang terbaca.
>
>
> Jika ke-30 provinsi dikelompokkan ke dalam 5 (lima) pulau dan wilayah
> besar yakni: Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia Bagian
> Timur (Bali, Maluku, NTB, NTT, Papua dan Papua Barat), maka skor rerata
> tertinggi diraih Sulawesi (71), berturut-turut diikuti Kalimantan (69),
> Sumatera (61), IBT (59), dan Pulau Jawa (56).
>
>
> Posisi Sumatera persis “di pertengahan jalan” ini dalam pengukuran
> demokrasi Indonesia ini juga perlu mendapat perhatian khusus karena sebagai
> wilayah yang memberikan kontribusi besar unsur kemelayuan bagi pembangunan
> republik — terutama dari bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa
> Indonesia modern — dan tradisi egaliter dalam praktik bermasyarakat yang
> menjadi ciri utama masyarakat Melayu selama ini, meski pernah pada satu
> ketika mereka juga hidup dalam sistem kerajaan di pelbagai wilayah Sumatera
> sebagaimana layaknya banyak kerajaan lain di wilayah Nusantara.
>
>
> Perbedaan skor rerata yang tipis antara Sumatera dan kawasan IBT akan
> betul-betul menjadi bencana besar jika pada publikasi berikutnya
> menunjukkan nilai rerata Sumatera bisa dilewati IBT, karena hal itu
> terlihat lebih mudah dilakukan dibandingkan Sumatera melewati nilai rerata
> Kalimantan yang memiliki perbedaan skor lebih jauh.
>
>
> Alarm mulai memekik
>
>
> Opini saya di harian ini pada Sabtu, 10 Januari 2015 yang berjudul “Geliat
> Ekonomi Syariah,” memaparkan posisi Sumatera Barat di peringkat ke-4 dari
> 10 provinsi Sumatera untuk DPK di bank syariah berdasarkan pemantauan OJK.
> Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat yang juga di peringkat 4 dibandingkan
> tetangga-tetangganya di Pulau Andalas, ditambah dengan indeks IDI ini yang
> menunjukkan dimensi tata kelola pemerintahan (*Good Corporate Governance*),
> ibarat alarm yang mulai memekik untuk membangunkan kesadaran para pemangku
> kepentingan di mana pun berada: baik ranah maupun rantau.
>
>
> Kondisi Sumatera Barat kini sudah berbeda jauh dengan jejak kegemilangan
> masa silam. Sumatera Barat kini, berdasarkan tiga pengukuran di atas,
> adalah provinsi medioker yang bahkan untuk ukuran Pulau Sumatera pun sudah
> terlihat kepayahan mengejar kemajuan provinsi tetangga, apatah lagi untuk
> berkilau di tingkat nasional. Tentu kondisi ini bukan hanya tercipta dalam
> 1-2 tahun terakhir, melainkan akumulasi dari beragam permasalahan yang tak
> tuntas ditangani dari para gubernur sebelum petahana.
>
>
> Karena itu momentum pilkada yang akan berlangsung tahun ini di Sumatera
> Barat merupakan momen krusial yang akan mendefinisikan wajah provinsi ini
> ke masa depan. Dengan sedikit imajinasi kita bisa membayangkan betapa
> sedihnya para Bapak Bangsa yang juga para kampiun demokrasi seperti Bung
> Hatta, Haji Agus Salim, Muhammad Yamin, jika melihat tanah kelahiran mereka
> yang pernah begitu memukau seluruh Nusantara pada satu masa dan menjadi
> acuan demokrasi ala Nusantara, kini secara perlahan kehilangan cerlang
> cahayanya.
>
>
> Demokrasi Minang di pinggir jurang. Jika kondisi ini tak diperbaiki secara
> sistemik dan menyeluruh, bukan tak mungkin Sumatra Barat menjadi pariah
> bahkan di kalangan provinsi tetangga Pulau Sumatra sendiri. Saatnya segenap
> pemangku kepentingan Sumatra Barat untuk bersinergi dan membuat prioritas
> tindakan yang akan kembali meninggikan marwah bersama secara bermartabat,
> elegan, sambil tetap berpegang teguh pada falsafah ABS SBK.
>
>
> (Penulis Ketua Forum Akselerasi Masyarakat Madani Indonesia, pengamat
> masalah sosial, politik dan ekonomi syariah)
>
>>
>
>
>
> --
>
>
>
> *Wassalam*
>
>
>
> *Nofend St. Mudo38th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok
> SelatanTweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola *
>
> *https://www.facebook.com/nofend <https://www.facebook.com/nofend>*
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke