Wuah ada kelompok Atheis dan Syeitan yang dipikirkan mereka itu apa mengenai 
kehidupan ini? Mo tahu aza cara dan latar belakang kelompok ini sebenarnya apa? 
Harap kembalikan kepada tataran Pemerintahan R.I. dengan Philosophy Pancasila 
dan Konstitusi 1945! Kelompok demikian dapat dikategorikan kelompok a Pancasila 
dan dapat dipecat jadi warganegara R.I.  karena tidak mengakui Pancasila yang 
paham pertama adalahKetuhanan Y.M.E. silahkan saja tidak bertuhan, tidak 
berpromosi dan tidak mengganggu ketertiban kehidupan beragama di Indonesia. 
Kalo mo jadi syetan silahkan saja. wassalam Haasma   

     Pada Selasa, 2 April 2013 19:41, Dedi Suryadi <[email protected]> 
menulis:
   

 Hati-hati jo sanak keluarga awak sanak....
Mudah2an jan sampai nan ado tajarumuih...

Kami tidak percaya Tuhan dalam wujud apapun
Reporter : Faisal AssegafSenin, 1 April 2013 09:29:31Kategori KhasBerita tag 
terkait Manusia kian tak percaya Tuhan Kumpulan penolak Tuhan
Karl Karnadi (kiri). (merdeka.com/istimewa) 
370 

Menjadi ateis di Indonesia tentu tidak mudah. Sebab itu, banyak dari mereka 
menyembunyikan identitas sebagai kaum penolak Tuhan. 

Berbeda dengan Karl Karnadi. Dia cuek saja nama lengkapnya disebut dan fotonya 
dipublikasi. Dia hanya ingin masyarakat Indonesia menerima kenyataan sekaligus 
perbedaan. Meski sebagai negara berketuhanan, ada sebagian kecil dari warga 
Indonesia menolak mengakui Tuhan itu ada. 

Mulanya, dia sedikit tertutup lantaran belum ada media berbahasa Indonesia 
mewawancarai dia sebagai pendiri komunitas Indonesian Atheists. Berikut 
wawancara Faisal Assegaf dari merdeka.com dengan Karl Karnadi melalui surat 
elektronik, Selasa (19/3). 

Gagasan siapa mendirikan Komunitas Ateis Indonesia?

Pada Oktober 2008, saya mendirikan komunitas Facebook bernama Indonesian 
Atheists, disingkat IA (catatan: namanya persis seperti itu dgn istilah 
Inggris, berbeda dgn ateis indonesia atau komunitas atheis indonesia). Sebelum 
itu, sebenarnya sudah ada beberapa komunitas ateis di forum-forum atau milis 
meski belum ada yang dikembangkan serius. Ide dari saya awalnya sederhana saja. 

Saya ingin tempat berdiskusi dengan teman-teman saya dari Indonesia yang juga 
ketemu bertemu di Internet dan sama-sama ateis atau agnostik. Awalnya jumlahnya 
kecil sekali, kurang dari sepuluh orang. Sekarang tentu ini berkembang jauh 
dari sekadar online di mana kami bisa berkumpul juga di dunia nyata, saling 
dukung satu sama lain pada saat ada yang terkena diskriminasi.

Pada 2011, teman saya (salah satunya akan anda wawancara), mendirikan laman 
Facebook bernama Anda Bertanya Ateis Menjawab, disingkat ABAM beralamatkan di 
http://FB.ateismenjawab.com dan ini sedang kami kembangkan. Gagasan ini berasal 
dari teman saya tadi, tapi saya dan beberapa teman lain sangat mendukung dan 
ikut mengembangkan. Grup IA di atas diperuntukkan untuk sesama ateis dan 
agnostik, sementara ABAM untuk semua orang, baik beragama atau tidak. Kami 
mengharuskan format interaksi di ABAM dalam bentuk tanya jawab sehingga 
menghindarkan debat kusir atau interaksi tidak sehat.

Apa tujuan pendirian komunitas ini?

Tujuannya ada dua, ke dalam dan keluar. Ke dalam, kami ingin mendukung dan 
menghibur teman-teman ateis terdiskriminasi dalam dunia nyata, dan ada banyak 
sekali yang seperti ini. Ada banyak orang masih menyembunyikan identitas 
sebagai ateis, pelajar harus berpura-pura beragama di hadapan keluarganya, 
suami atau istri harus berpura-pura di hadapan anak dan pasangannya. Sama 
sekali tidak mudah. 

Bayangkan bila teman-teman beragama dipaksa harus berpura-pura beragama lain, 
kira-kira rasanya sama. Tidak setuju tetapi tidak bisa bersuara, tidak bisa 
menampilkan jati diri tanpa jadi korban kebencian dan diskriminasi. Komunitas 
online sangat berperan sebagai kelompok pendukung dan memberikan dukungan bagi 
mereka yang terdiskriminasi.

Keluar, kami ingin mengenalkan ada ateis juga di Indonesia dan kami ingin 
dipandang bukan sebagai musuh, tapi sebagai sesama manusia, sesama warga 
Indonesia. Sumber dari permusuhan adalah prasangka negatif sering salah tetapi 
tersebar luas. Prasangka-prasangka negatif ini ingin kami luruskan. 

Ateis adalah orang-orang normal dan bermoral, warga yang membayar pajak dan 
mengikuti hukum, sama seperti orang-orang lain beragama. Bedanya, kami tidak 
percaya keberadaan Tuhan agama apapun. Perbedaan kadang menimbulkan 
ketersinggungan. Ini lumrah, tetapi tidak harus disikapi dengan permusuhan dan 
kebencian. Sebagai sesama manusia, sebenarnya kita memiliki lebih banyak 
persamaan ketimbang perbedaan, hanya kita sering lupakan itu dan fokus pada 
perbedaannya saja.

Tujuan pertama kami capai dengan grup IA dan tujuan kedua dengan laman ABAM.

Kapan komunitas itu dibentuk? Siapa saja pendirinya dan di mana didirikan?

Ini kebetulan sudah saya sebutkan di atas. Kami adalah satu komunitas dan 
menyediakan berbagai macam media interaksi, dua di antaranya melalui IA 
(Indonesian Atheists) ke sesama ateis dan ABAM (Anda Bertanya Ateis Menjawab) 
kepada orang lain. 

Sampai kini sudah berapa jumlah anggota komunitas? dari mana saja, berapa 
lelaki dan perempuan? Asal agama mana saja?

Pencatatan lumayan akurat bisa dilihat di http://atheistcensus.com/. Di situ 
bisa terlihat jumlah dari komunitas ateis dari Indonesia sekitar 600-an orang. 
Tentu yang aktif dan bertemu reguler tidak sebanyak itu. Urutan eks agama apa 
saja sesuai dengan demografis Indonesia, jadi terbesar dari muslim, kemudian 
Kristen, dan seterusnya. Kami tidak mencatat atau mendata anggota-anggota kami 
baik yang aktif atau tidak aktif. Banyak dari mereka masih tertutup di 
kehidupan nyata dan mungkin tidak akan merasa nyaman bila didata seperti itu, 
jadi maaf kalau tidak mendetail. Tapi data-data dari atheistcensus saya rasa 
cukup bagus.

Apakah komunitas ini memiliki kantor dan ada pertemuan rutin? Kalau ada, apa 
saja yang dibahas?

Tidak, kantor kami di Facebook dan media sosial lainnya. Seperti saya sebut di 
atas, ada pertemuan-pertemuan di beberapa kota besar meski tidak rutin. Nonton 
bioskop atau film DVD bersama-sama, datang ke acara tertentu bareng, menyanyi 
karaokean, dan makan malam rame-rame. Tentu ada beraneka ragam topik dibahas, 
di antaranya juga curhat pada saat ada kesulitan atau frustrasi terhadap 
kondisi kehidupan penuh diskriminasi. Tetapi yang terutama adalah 
bersenang-senang bersama-sama. 

Bagaimana reaksi saat komunitas ini dibentuk?

Pemberitaan dimulai pada saat AFP (salah satu media internasional) mewawancarai 
saya dan memberitakan pada Januari 2009 tentang komunitas ateis di Indonesia. 
Kemudian tidak lama, komunitas kami berkembang pesat, baik dari jumlah atau 
pemberitaan di media. Jadi saya rasa sejauh ini cukup positif. Banyak 
pengunjung laman ABAM dari orang-orang beragama mulai menerima keberadaan kami 
meski di saat yang sama tidak setuju dengan ateis. Saya harap pembaca artikel 
ini akan memiliki kesan sama.

Apa alasan Anda menjadi atheis? Sejak kapan Anda menjadi atheis? Bagaimana 
reaksi keluarga Anda?

Tiga pertanyaan ini saya jawab sekaligus. Saya menjadi ateis baru sekitar akhir 
2007, tetapi sudah melalui sekitar dua tahun penuh pergumulan. Saya belajar 
banyak hal sebelumnya tentang sains dan agama. Jawaban dari masing-masing agama 
berdasar kitab atau tokoh tertentu mereka sucikan tidak memuaskan saya. 

Keluarga saya beragama dan taat. Mereka tentunya kecewa dengan jalan saya 
tempuh tetapi saya cukup beruntung mereka tetap menerima saya sebagai anak. 
Banyak teman-teman ateis lain mengalami nasib jauh lebih buruk dengan adanya 
pengusiran dari rumah dan pengucilan. Saya juga beruntung karena saya berangkat 
untuk studi di Jerman sehingga relatif sedikit tekanan psikologis dan 
diskriminasi saya terima. Saya salut kepada teman-teman ateis lain tinggal di 
Indonesia dan harus mengalami diskriminasi setiap hari. Pastinya tidak mudah.

Apakah Anda yakin orang bisa benar-benar tidak percaya Tuhan?

Seorang muslim tidak percaya agama Kristen, Hindu, dan agama lain selain Islam. 
Seorang Kristen tidak percaya semua agama kecuali Kristen. Kami mirip seperti 
itu, bedanya adalah kami tidak percaya semua agama. Ini sesuatu mungkin asing 
bagi masyarakat Indonesia belum pernah mendengar, tetapi kami benar-benar tidak 
percaya Tuhan. Kami menjalani hidup seperti biasa, dengan mimpi-mimpi dan 
ambisi, dengan keberhasilan dan kegagalan, sama seperti orang lain. Hanya saja 
kami tidak menggantungkan pada Tuhan melainkan pada harapan, pembelajaran, 
introspeksi diri, pada berbagai hal manusiawi kami bisa pelajari.

Atau ateis itu sekadar tidak percaya Tuhan versi agama dan keyakinan selama 
ini? Jadinya ateis itu punya Tuhan dalam wujud lain?

Tidak ada, ateis benar-benar tidak percaya Tuhan apapun yang berwujud. Ateis 
bukan selalu didasarkan pada kekecewaan atas agama tertentu. Ada yang 
didasarkan pada pembelajaran pribadi, bahkan ada yang dari kecil memang tidak 
menerima pelajaran agama. Saya termasuk yang melalui pembelajaran dan 
pergumulan pribadi cukup panjang.

Anda yakin tidak pernah ingat Tuhan atau menyebut nama Tuhan sejak menjadi 
ateis?

Tidak, saya rasa sikap bergantung pada Tuhan ini terutama adalah kebiasaan. 
Banyak dari kita sejak kecil terdidik secara agama tentu terbiasa dengan hal 
itu. Tetapi kebiasaan juga bisa berubah, begitu pula kepercayaan.

Pernahkah Anda hampir mati? Kalau belum, kepada siapa minta tolong waktu hampir 
mati?

Saya belum pernah mengalami pengalaman hampir mati, tetapi saya pernah 
mengalami kecelakaan dan saat-saat di mana saya merasa terancam secara fisik 
(kecelakaan lalu lintas pada saat saya ada di Indonesia, tidak ada kaitan dgn 
ateisme saya). Saya hanya terpikir meminta tolong pada orang bisa dimintai 
tolong dan pada saat ada orang lain bermurah hati menolong saya berterima kasih 
atau bersyukur pada orang itu. 

Saya paham ini sesuatu yang asing atau terlihat aneh bagi banyak orang, tetapi 
memang akan selalu terasa asing pada hal-hal orang belum pernah kenal. Tak 
kenal maka tak sayang. Kami berusaha sebaik-baiknya mengenalkan diri kami 
sebenarnya dan berharap mendapat sayang dari masyarakat Indonesia meski kami 
berbeda.

Biodata

Nama:
Karl Karnadi

Umur:
29 tahun

Pendidikan:
Kuliah S2 ilmu komputer

Pekerjaan:
Periset paruh waktu
Pendiri Indonesian Atheists
Administratur Anda Bertanya Ateis Menjawab.

Tempat Tinggal:
Jerman sejak 2006
Salam dan Terima Kasih,Dedi Suryadi

_____________________________________________________________________________
                       *****    Sukses Seringkali Datang Pada Mereka Yang 
Berani Bertindak Dan   *****
      *****Jarang Menghampiri Penakut Yang Tidak Berani Mengambil Konsekuensi 
(Jawaharlal Nehru) *****
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
         "The Best Human Being Among of You is The Most Beneficial for The 
Others" (Hadith by Bukhari)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
****...."Kasihilah Yang Di Bumi, Maka Yang Di Langit Akan 
Mengasihimu...".....*****                  "Love What On Earth, Then What On 
Sky Will Love You ..."
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
 1. E-mail besar dari 200KB;
 2. E-mail attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
 3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://rantaunet.wordpress.com/2011/01/01/tata-tertib-adat-salingka-palanta-rntaunet/
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
 
 


   

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke