Ibu Rahima Saya punya mimpi satu saat nanti mendengar Khatib dimimbar Jum'at-an berceramah tentang "organic theory" atau "prehistoric plants and animals" Didukung oleh ayat ayat Al Quran seperti yang Ibu Rahima tuliskan pasti tidak ada yang mengantuk. Wassalam Rahima <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Guna Sejarah Penciptaan manusia sebagai subjek sejarah dengan tugas sebagai khalifah (Q.S Al baqarah 30), adalah untuk menciptakan sejarah dimuka bumi ini. Kalau pengertian khalifah sebagai "wakil" Allah, sedangkan Allah memiliki alam raya, maka penciptaan sejarah itu meliputi alam raya. Artinya tidak sebatas dibumi semata, tetapi menempatkan diri dan buminya dalam ekosistem, dengan rumusan rahmatan lil'alaamin. Tugas yang demikian luas itu, bila dipikirkan sebagai tugas yang individual, tidak mungkin akan tercapai. Tetapi dalam konsep pemikiran sejarah secara universal, dalam ukuran waktu sejarah yang bukan pragmental, melainkan berkesinambungan, tugas itu harus dapat diwujudkan. Setiap pelaku sejarah, hakikatnya tidak mengetahui hasil perubahan yang direncanakannya(Q.S 31:34). Dengan kata lain, setiap orang tidak dapat memastikan "masa depannya".Masa depan ternyata penuh tanda tanya. Allah memerintahkan kita agar "wal tandzur nafsun maa qaddamat lighad"(Perhatikanlah sejarahmu, untuk masa depanmu)(Q.S 59:18). Mengapa Allah memberikan rumusan, untuk memperoleh masa depan, harus menoleh kemasa lalu? Ada apa kisah dalam sejarah dalam AlQuran dapat digunakan sebagai pedoman "Mengubah Sejarah" ditempat berbeda, dan waktu yang tidak sama? Sejarah memberikan Mau'idzah (pelajaran) yang membuat umat Islam dzikra(sadar) sebagai actor sejarah, untuk menciptakan sejarah yang benar(Q.S 11: 120) Bila AlQuran merupakan petunjuk penciptaan perubahan sejarah disepanjang waktu dan diseluruh wilayah dipermukaan bumi, maka dari peristiwa sejarah kerasulan yang benar-benar terjadi, terdapat pesan-pesan yang perlu ditafsirkan oleh ilmu sejarah. Sebagai penafsiran sejarah yang bukan per peristiwa atau secara pragmental, melainkan secara menyeluruh dan terpadu, dan dengan tetap mendasakan kaitan arti ayat-ayat yang terdapat dalam Al Quran itu sendiri. Al Quran tidak diragukan lagi sebagai kitab petunjuk yang menciptakan sejarah (Q.S 2:2), dan actor sejarah sebagai khalifah adalah manusia (Q.S 2:30), yang memiliki indra telinga, dan mata, yang memungkinkan sikap dan kelakuannya tergerak ingin mengubah sejarah hingga tetap maju, maka diingatkan akan adanya halangan rintangan seperti yang dihadapi oleh 'Ulum 'Adzmi. Peristiwa sejarah yang demikian itu, akan tetap terulang kembali. Karena apa yang terjadi, bukanlah "mati" atau final melainkan "tetap hidup dimasa kini"(Q.S 2: 154). Dengan menjadikan Al Quran sebagai petunjuk sejarah bukan berarti kita akan "kembali kemasa silam". Atau sebaliknya "membebaskan diri"dari peristiwa masa lampau. Melainkan Al Quran dijadikan sebagai kunci untuk memahami tugas hidup dimasa sekarang, menuju kemasa depan(Q.S 58:19) Dengan demikian, bila umat islam berhasil "menangkap pesan-pesan sejarah yang terumuskan dalam peristiwa ulum adzmi tersebut, tidak saja mengetahui guna sejarah, tetapi sekaligus akan mampu memanfaatkannya sesuai dnegan fungsinya masing-masing. Karena Al Quran merupakan petunjuk untuk seluruh umat, maka dalam menafsirkan "penangkapan arti pesannya tergantung pada disiplin apa yang dimilikinya". Esensi Sejarah Tugas hidup manusia dimuka bumi adalah :" menciptakan perubahan sejarah" (khalifah). Esensi sejarah adalah perubahan. Perubahan sejarah yang akan terjadi merupakan pengulangan dari peristiwa yang telah terumuskan dalam Al Quran. Peristiwa yang terjadi, bukanlah merupakan masa lalu yang mati (not a dead past), melainkan sebagai peristiwa yang tetap hidup dimasa kini (still living in the present)(Q.S 2 : 154) Menjadikan Al Quran sebagai petunjuk sejarah, bukanlah untuk kembali kemasa lalu, atau sebaliknya membebaskan diri kemasa lalu, melainkan peristiwa sejarah kerasulan, dijadikan sebagai kunci untuk memahami peristiwa yang terjadi disini dan masa kini. Sejarah ini selalu progress. Oleh karena itu memerlukan a constructive out look over the past. Manusia sebagai "Aktor sejarah" harus disadarkan bahwa ia hidup dalam masyarakat yang selalu berubah (Q.S 55: 26). Dengan mempelajari sejarah peristiwa kerasulan dalam Al Quran berarti memperoleh contoh yang benar, yang tidak dapat diragukan lagi (Q.S 2:2). Wassalamu'alaikum. Cairo, 26 Maret 2008 Rahima Sarmadi Yusuf (38 thn) ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ Zulkarnain Kahar, 49th Click http://www.west-sumatra.com/ - Spice your life --------------------------------- Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi. - Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
