Kawan2,
Bacalah yang saya tulis ini dan tanggapi. Mari bersama kita siapkan DIM. Salam,
MN
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
{\rtf1\ansi\ansicpg1252\deff0\nouicompat\deflang1033{\fonttbl{\f0\fnil\fcharset0 Times New Roman;}{\f1\fnil\fcharset0 Courier New;}}
{\*\generator Riched20 6.3.9600}\viewkind4\uc1
\pard\qc\b\f0\fs36 DENGAN DIM \par
KITA PERSIAPKAN ANAK BANGSA\par
YANG BERKARAKTER TANGGUH \par
DAN TANGGAP\par
\par
\fs28 Mochtar Naim\par
\fs24 7 Maret 2015\par
\fs28\par
*\par
\par
\pard\qj\b0\fs24 SAMPAI dengan terjadinya peristiwa PRRI di akhir tahun 1950an, di Sumatera Barat, rata-rata anak laki-laki tidur di surau. Dengan tidur di surau mereka dilatih untuk shalat berjamaah, belajar mengaji bersama, belajar bermasyarakat dan mempersiapkan diri untuk menjadi \i 'urang' \i0 ke masa depan. \par
\tab Namun dengan peristiwa PRRI itu semua menjadi terhenti seketika. Karena para pemuda juga termasuk yang ikut ber PRRI, maka gampang sekali bagi tentera pusat untuk menilap anak-anak muda itu dengan mencarinya ke surau di malam hari. Sejak itu surau menjadi sepi dan anak-anak muda tidak lagi tidur di surau. Mereka tinggal dan tidur di rumah ibu bersama dengan anak-anak perempuan. Kadang berepak bersama di ruang tengah; kadang di bilik yang kosong atau di mana saja. Dan itu berlanjut sampai hari ini, yang sudah lebih pula setengah abad lama masanya.\par
\tab Maka hasilnya kita melihat beda yang besar sekali antara anak muda yang tidur bersama di surau dengan cara yang sederhana dan apa adanya, di waktu dulu itu, dengan anak muda sekarang yang tinggal dan tidur di rumah ibu, seperti anak-anak perempuan pula. Dengan melihat nama-nama besar yang menjadi pemimpin bangsa yang jumlahnya begitu banyak yang berasal dari tanah Minang ini, di masa lalu, baik di pusat secara nasional maupun di daerah, yang rata-rata mereka adalah didikan surau di samping di sekolah dan di rumah tangga serta masyarakat, berbanding terbalik dengan yang sekarang, yang umumnya tidak banyak yang mencuat ke permukaan, walau bersekolah tinggi sekalipun.\par
\tab Dulu, sekolah adalah tempat mendidik selain mengajar anak-anak. Sekarang terutama hanya mengajar, sementara pendidikan terabaikan. Yang diutamakan hanyalah kemampuan akademik, tetapi adab sopan santun, agama dan budi pekerti diabaikan. Guru lebih menempatkan diri sebagai pengajar daripada pendidik, dan lebih merasa sebagai pegawai yang digaji dengan sifat-sifat asalan asal jadi, dengan disiplin yang rendah. Sekarang sampai nilai ujianpun bisa disunglap dan dinegosiasi.\par
\tab Di rumah tanggapun, kebutuhan pokok fisik anak-anak dicukupi, tetapi didikan dan pendidikan jauh terabaikan. Apapula, kalau yang pergi mencari rezeki tidak hanya ayah, tetapi juga ibu. Ibu pun merasa malu, dengan tingkat pendidikan yang mereka dapatkan, yang tidak hanya sekolah menengah tetapi juga universitas-perguruan tinggi, malu kalau tidak bekerja dapat gaji. Yang terabaikan sendirinya adalah asuhan dan didikan terhadap anak-anak di rumah tangga; tidak hanya anak laki-laki tapi tak kurangnya juga yang perempuan. Paling mereka bertemu hanya di sore dan malam hari. Pagi-pagi masing-masing sudah pergi dan berkirai ke tujuan masing-masing.\par
\tab Yang namanya "keluarga besar" -- beribu, berbapak, bermamak, ber-etek, bernenek, berinyiak, berangsumando, dsb -- itu semua adalah cerita masa lalu, karena keluarga besar \i (extended family)\i0 sudah menyusut menjadi keluarga batih \i (nuclear family) \i0 yang terdiri dari ibu, ayah dan anak semata. Anak-anak di rumah ibu praktis sudah tidak bertemu dan bersosialisasi dengan mamak, saudara laki-laki dari ibu. Paling cuma sekali-sekali, kalau memang lagi di kampung. Bisa bertahun tidak bertemu kalau mamakpun ikut merantau. Mamak dulu punya dua fungsi, dalam ungkapan adat: "Anak dipangku, kemenakan dibimbing." Tapi sekarang, itu tinggal mamangan. Bapak hanya mengenal anak tapi jauh dari kemenakan.\par
\tab Tidak kurangnya di masyarakat sendiri. Sistem kepemimpinan Triumvirat tiga serangkai: \i "Tali nan Tigo Sapilin, Tungku nan Tigo Sajarangan," \i0 ada dalam sebutan, tapi tidak dalam perbuatan. Masing-masing jalan sendiri-sendiri, dan masing-masing tidak pula melaksanakan tugasnya sebagaimana mestinya. Kalau ada urusan, langsung ke kantor Wali Nagari; sedang silang-sengketa harta-benda dsb langsung dibawa ke pengadilan. Yang mengeruk keuntungan termasuklah Pengacara dan Hakim serta Jaksa sendiri, yang periuk nasinya memang ada sana.\par
\tab Masyarakat Minangkabau sudah lama tidak memanfaatkan lembaga-lembaga tradisional, seperti TTS itu, selain juga KAN, \i Bundo Kanduang \i0 dan Pemuda. Pemuda adalah \i Parik Paga \i0 dalam Nagari di bawah kendali \i Dubalang Nagari, \i0 yang menjaga keamanan dalam Nagari\i . \i0 Yang polisi cukup menunggu di Kecamatan, dan baru turun tangan ke Nagari bila diperlukan. Tapi itupun ada di angan-angan, tidak dalam kenyataan.\par
\i\tab\i0 Seperti yang kita sorot sekarang ini, lembaga Adat Minangkabau yang tertuang ke dalam paradigma ABS-SBK \i (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah)\i0 , enak untuk disebut-sebut, tapi tak bersua dalam praktek pelaksanaannya. Masalahnya sederhana, karena paradigma ABS-SBK itu tidak diimplementasikan ke dalam sistem operasional kemasyarakatan, apalagi pemerintahan. Sistem operasional pemerintahan formal tidak kena mengena dengan paradigma ABS-SBK itu. ABS-SBK itu ada tapi tiada. \i "Dek-e ono, ning ora ono," \i0 kata orang Jawa\i . \i0 Atau \i "Wujudihi ka 'adamihi," \i0 kata orang Arab. \i "Nyo ado tapi nyo ndak ado," kecek urang\i0 Minang pula.\par
\tab Karenanya, berjalannya sistem pemerintahan Nagari sekarang ini hanyalah sebagai ujung tombak dari pemerintahan otonomi Kabupaten via Kecamatan. Pemerintahan Nagari bergerak kalau ada instruksi dan petunjuk dari atas. Inisiatif dari Nagari sendiri dengan memanfaatkan KAN dan TTS dan bahkan Bamus sendiri nyaris absen.\par
\tab Fungsi utama dari DIM yang kita inginkan itu adalah menghidupkan serta memfungsikan dan mengoperasionalisasikan paradigma ABS-SBK berlaku aktif dalam masyarakat, bargabung dan menyatu dengan pelaksanaan ketentuan dan operasionalisasi dari sistem pemerintahan formal yang bertali dari Nagari ke Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi. Letak keistimewaan dari DIM itu terutama di sini, yaitu bergabungnya sistem formal pemerintahan yang bertali sampai ke pusat dengan sistem non-formal adat dan syarak dalam wudjud paradigma ABS-SBK di wilayah otonomi Provinsi DIM itu.\par
\pard\qc *\par
\pard\qj\tab Kembali ke pangkal kaji, dengan DIM itu pula kita mengembalikan sistem pendidikan terhadap generasi muda yang menyatu dan berintegrasi secara simultan antara unit pendidikan dalam keluarga, masyarakat dan sekolah di bawah lindungan dan arahan dari paradigma ABS-SBK. Dengan itu kita menghidupkan kembali fungsi Surau sebagai tempat pengkaderan anak-anak generasi muda dalam mengisi dan membentuk watak dan kepribadian mereka untuk menjadi anak bangsa yang tangguh dan tanggap serta tahan uji dalam menentang dan menantang masa depan mereka.\par
\tab Bagaimana berfungsinya Surau dalam konteks situasi sosial yang telah berubah sekarang ini, tentu saja bisa kita formatkan dengan cara yang disesuaikan dengan situasi kini, misalnya dengan membagi fungsi rumah tangga dan surau yang anak-anak laki-laki ada dengan lugas di kedua tempat pembentukan watak itu. Misalnya ada hari-hari mereka tidur di surau -- di akhir pekan dan di hari-hari libur sekolah misalnya --, dengan mendapatkan gemblengan dan asuhan dari para guru dan para \i pituo\i0 masyarakat, dan ada pula hari-hari yang mereka tidur di rumah di bawah gemblengan dan asuhan dari orang-orang tua, utamanya ibu dan ayah.\par
\tab Karena surau sendiri kosong dari waktu setelah shalat shubuh sampai ke waktu zuhur masuk, yang bisa berarti 6-7 jam setiap hari, ideal sekali kalau juga dipakai untuk didikan PAUD bagi anak-anak pra-TK, sehingga di setiap ada surau di sana ada didikan PAUD. Jorong atau Nagari yang tidak ada TK nya bisa pula memanfaatkan surau yang sama untuk didikan TK. Dengan demikian, suraupun berfungsi ganda; sebagai tempat shalat setiap waktu, sebagai tempat menggembleng anak muda untuk menjadi "\i urang\i0 ", dan sebagai tempat mendidik anak-anak TK dan pra-TK. Yang ibu-ibu sendiri tentu bisa pula memanfaatkan surau untuk program-program khusus kewanitaan. Sedang bapak-bapak memanfaatkannya pula sebagai tempat berapat dan bermusyawarah untuk urusan sosial berkampung dan bernagari.\par
\tab Program "Kembali ke Surau" ini mau tak mau harus menjadi program bersama di Nagari, yang perencanaan dan pelaksanaannya serta pemenuhan kebutuhan fasilitas dan keuangannya ditanggung bersama dalam konteks pemerintahan Nagari dengan semangat berjorong dan berkampung.\par
\tab Al hasil, dengan surau yang sekaligus juga berarti termasuk mesjid dan mushalla yang ada di Jorong dan Nagari, kita bangun dan persiapkan generasi muda kita yang tangguh dan tanggap dalam menuju masa depan mereka yang bermakna dan diridhai Allah swt. ***\i\par
\i0\par
\par
\par
\par
\par
\par
\par
\par
\par
\par
\par
\f1\fs22\par
}