Surauku Rumahku Ayah setiap pagi sebelum shubuh bangun dan yang pertama kali beliau lakukan adalah membangunkan saya.
Ayah sambil menggoyang badan saya berkata: “Win, hari alah hampia shubuh jagolah.” Seperti biasanya anak kecil, saya mengeliat saja. Ayah kembali mengusap punggung saya dan berkata: “Win, bangunlah kito ka surau.” Saya sangat malas untuk bangun dan langsung berpura-pura tidur, seperti biasanya Ayah akan menggendong saya kesurau, maka Ayah langsung mengangkat dan menggendong saya pergi ke surau. Sesampainya kami di surau, Ayah meletakkan atau membiarkan saya melanjutkan tidur diteras surau.Tinggi badan saya saat itu, sesuai dengan ingatan saya, lantai teras surau sama tinggi dengan saya. Kalau dilihat dalam foto surau dibawah ini maka ketinggian saya yang masih berumur 3 tahun berarti tahun itu adalah tahun 1952 akhir, tinggi badan saya adalah sekitar 40 cm lebih. Karena surau ini mempunyai dua step anak tangga. Ayah mandi lebih dahulu dipemandian laki-laki dikolam surau. Kolam tersebut berada sekitar 10 meter dari surau dan ada dilembah kecil sehingga perlu turun tangga. Kolam mandi ini disebut dengan istilah kulah yang dibuat untuk menampung air dari mata air yang berada didasar kolam. Karena kolam ini dipakai secara bersama maka cara mandi adalah dengan memakai kain basahan dan air diciduk dari kolam dengan memakai gayung yang dibuat dari pelepah pinang. Jika sebelum shubuh saya sudah bangun dan sangat jarang terjadi maka saya akan berjalan bersama Ayah kesurau dipagi shubuh tersebut, secara otomatis saya akan ikut dimandikan Ayah dikolam surau tersebut tentu tanpa perlu memakai kain basahan. Kebiasaan saya walaupun sudah bangun tapi berpura-pura masih tidur, maka Ayah yang sudah siap masuk Surau untuk sholat shubuh. Ayah kembali menggoyang tubuh saya dan berkata: “Win, ayo berwudhu kita sholat.” Saya tetap tiduran dan hanya mengeliat, paling-paling berkata: “Ahhh.” Ayah langsung mengangkat saya dan memaksa saya berdiri dengan berkomentar: “anak laki-laki harus sholat di surau berjamaah.” Ayah membimbing saya beridiri disebelah kolam yang ada disebelah surau mengambil air dengan tangannya dan mengusapkannya kemuka saya sebagaimana cara berwudhu yang benar. Saya begitu diusap dengan air dingin berteriak: “Ayah, airnya dingin sekali.” Ayah dengan tenang melanjutkan kerjanya sambil berkata: “Sehat kita kalau pagi-pagi mandi air dingin.” Selesai mewudhukkan saya dengan air kolam yang dingin, ayah membimbing saya berdoa dengan membaca “Asyhadu allaa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluhu. Allahumma j’alnii minat tawwabiina, waj’alnii minal mutathahiriina waj’alnii min ‘ibaadikash shalihiina” Dan setelahnya dibawa masuk surau untuk mengikuti sholat shubuh berjemaah. Ayah selalu mengambil saf paling depan, Sambil bersalaman dengan tetangga sekampung yang sudah duduk duluan. Ayah langsung sholat sunnah tahiyatul masjid dan berzikir sambil menunggu masuknya waktu sholat shubuh. Sesudah selesai sholat shubuh berjemaah. Acara selanjutnya adalah Angku Saliah yang berdiam dan menjaga surau melanjutkan dengan ceramah agama rutinnya sekitar setengah jam.Setelah sholat shubuh adalah hal yang paling menarik bagi saya kalau saya tidak tertidur selama tausiyah Angku Saliah. Ayah membuka diskusi antar tetangga: “Angku Saliah, masih adakah beras didapua untuk ka makan.” Angku Saliah menjawab: “Alhamdulillah Bareh masih ado.” Ayah membuka kopiahnya dan membalikkan serta meletakkan uang recehan sambil berkata: “Angku Saliah paralu mambali langkok2 jo Lauak, iko bantuan ambo.’ Ayah memberikan topi terbuka dan sudah ada uangnya itu kesebelah sambil berkata: “Agiahlah saketek untuk Angku Saliah balanjo.” Kopiah tersebut diedarkan diantara Jemaah sholat shubuh yang berjumlah tidak sampai 10 orang, Sehingga kembali kepada Ayah. Uang recehan yang ada dihitung langsung oleh Ayah dan diserahkan kepada Angku Saliah. Kegiatan mengumpulkan sumbangan ini paling kurang dilakukan sekali seminggu oleh Ayah. Angku Saliah memang tidak punya penghasilan selain menerima beras dan bantuan dari Jemaah surau. Kembali kepada rutinitas pagi hari bagi anak-anak kecil yang “dipaksa” ikut sholat berjemaah disurau tentu kembali tidur pada saat ceramah ba’da shubuh. Akibatnya saya jarang pulang dari surau dengan berjalan kaki, kebanyakan digendong Ayah pulang dan bangun beberapa saat kemudian diatas tikar dirumah, biasanya terbangun akibat suara-suara kesibukan dimulainya kegiatan rumah tangga pagi hari. Surau Paninjauan adalah sebuah surau tua yang mempunyai sejarah panjang dalam membangkitkan kekuatan ummat Islam diera kebangkitan nasional dan setelahnya. Surau Paninjauan ini telah rusak berat serta tidak dapat digunakan akibat Gempa berkekuatan 7.9 skala Richter pada tanggal 30 September 2009 yang melanda daerah Padang Pariaman.Kuraitaji merupakan salah satu Nagari di Sumatera Barat. Pada saat ini, Nagari Kuraitaji terbagi dalam 2 (dua) daerah otonom, yaitu Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman. Pada masa Pemerintahan Nagari sampai dengan tahun 1983, ibu negeri Nagari Kuraitaji adalah Korong Balai (Sekarang Desa Balai Kuraitaji Kecamatan Pariaman Selatan Kota Pariaman). Sampai dengan terbentuknya Kota Administratif Pariaman pada tahun 1990, Nagari Kuraitaji secara keseluruhan masuk dalam Kecamatan Nan Sabaris Kabupaten Padang Pariaman.Nagari Kuraitaji dibelah oleh aliran Batang Mangau. Sungai ini menjadi batas antara Kuraitaji Padang Pariaman dan Kuraitaji Kota Pariaman. Nagari Kuraitaji terdiri dari 21 korong yaitu : 1. Korong Balaim, 2. Korong Pauh. 3. Korong Simpang. 4. Korong Toboh Palabah. 5. Korong Merbau. 6. Korong Taluk. 7. Korong Padang Cakua. 8. Korong Marunggi. 9. Korong Kampung Apar. 10. Korong Sikabu. 11. Korong Palak Aneh. 12. Korong Sungai Kasai. 13. Korong Batang Tajongkek. (1 s.d. 13 masuk Kota Pariaman, berikutnya masuk Kabupaten Padang Pariaman) 14. Korong Muaro (terletak terpisah dibatasi oleh korong-korong dalam Nagari Sunur dan Laut Pariaman) 15. Korong Lubuk Ipuh. 16. Korong Kampung Tangah. 17. Korong Paguh Duku. 18. Korong Talogondan. 19. Korong Paguh Dalam. 20. Korong Kampung Ladang 21. Korong Sungai Laban. Dalam Nagari Kuraitaji terdapat dua pasar nagari, yaitu Pasar di Korong Balai Kuraitaji dan Pasar di Korong Sei Laban Kuraitaji. Di dua pasar ini terdapat stasiun kereta api, akan tetapi pada saat ini stasiun kereta api di Korong Sei Laban sudah tidak berfungsi. Dengan adanya stasiun kereta api di Korong Balai Kuraitaji, sampai dengan tahun 1970-an, Pasar di Korong Balai Kuraitaji merupakan pasar yang sangat ramai dan merupakan simpul nadi perdagangan yang penting di Kabupaten Padang Pariaman. Hasil pertanian dan industri kecil yang berasal dari nagari-nagari sekitar Kuraitaji, seperti Sunur, Padang Sago, Ampalu, Balai Baru dll, didistribusikan melalui stasiun kereta api Kuraitaji. Saksi bisu dari aktivitas ekonomi ini dapat dilihat pada saat ini dari gudang-gudang yang sebagian besar juga sudah rusak.Produk utama yang dihasilkan selain beras (padi) adalah kelapa dan turunannya kopra. Bahkan pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, di sebelah utara stasiun kereta api di Korong Balai Kuraitaji terdapat pabrik minyak kelapa yang cukup besar. Sayang, hampir semua fasilitas pabrik tersebut sudah rubuh atau dirubuhkan karena diperuntukan untuk pemukiman. Namun kampung tersebut saat ini masih disebut dengan Pabirik (pabrik dalam lisan orang Kuraitaji). Pasar di Korong Balai Kuraitaji dengan adanya aktivitas ekonomi tersebut menumbuhkan beraneka ragam kuliner yang sampai saat ini masih dilestarikan dengan adanya Los Lambuang (Lambuang = perut) yang menyediakan beraneka macam makanan khas daerah. Los Lambung dan pelataran sekitarnya sangat ramai oleh pedagang kuliner setiap harinya, terutama pagi hari. Los Lambung bahkan masih menyediakan makanan sampai tengah malam.Sebagai pusat perdagangan pada masa lalu, maka pergerakan manusia dan barang disini sangat cepat dan beragam. Usaha dan kerja merupakan kunci sukses di sebuah kota dagang. Sehingga para pujangga melihat situsi yang demikian, lahirlah sebuah mamangan yang cukup terkenal : Kuraitaji pakan sinayan, urang mudo manjua lado; Capek kaki ringan tangan, salero lapeh juo. Darwin Chalidi 65+ Tangsel On Mar 13, 2015 11:06 AM, "Abraham Ilyas" <[email protected]> wrote: > Barangkali p Abraham Ilyas yg induak barehnya orang Jawa bisa menyampaikan > peribahasa serupa dari orang Minang > > ------- > Ha, ha angku Fashrijal M. Noor ... dek *moro tuo* lah almarhum ... daulu > diagiahnyo ambo kopi buku nan bajudul: *"Butir butir Budaya Jawa, > Anggayuh, Kasampurnaning Urip Ber Budi Bawa Leksana Ngudi Sajatining Becik" > *(Disusun oleh Pak Harto untuak anak anaknyo). > Isi buku tsb.merupokan kutipan dari pituah pituah dalam bermacam surek > atau serat....diantaronyo serat Wedatama, Dewaritji dsb...... karangan > pujangga pujangga kraton Jawa ! > > Setelah ambo baco ..... pituah *rajo dari rantau* itu ....... > sistematikanyo dibagi manjadi 2 macam,..... yang sifatnyo "PITUDUH" > (suruhan) dan WEWALER" (larangan). .... bandiangkan di awak labiah banyak > disuruah bapikia/maliek kepada alam takambang ! -----------> *Luhak* ba > pangulu,* Rantau* ba Rajo ! > > Masing masing Pituduh dan Wewaler itu dibagi lagi manjadi 5 subjek yaitu > tentang : 1. Ketuhanan Yang Maha Esa 2. Kerohanian. 3. Kemanusiaan 4 > Kebangsaan 5. Kekeluargaan 6. Kebendaan > > Pituduh: *Rame ing gawe, sepi ing pamrih, mamayu hayuning bawana* = > Banyak berkarya tanpa menuntut balas jasa, menyelamatkan kesejateraan > dunia...... ini termasuk bagian PITUDUH tentang sikap seseorang tentang > Kemanusiaan ! > > Ambo batanyo ka kawan nan ahli sambah kato...... baru hari iko beliau > mambari jawaban : *Bia banyak paluah kalua, indak ka mamintak aie do !* > > Salam > > Abraham Ilyas lk. , 70 th. > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
