Studi Klub Sejarah UI
Blog Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia
Jumat, 27 Februari 2015

H.R.Rasuna Said: Sang "Singa Betina" Revolusioner
Oleh: Usman Manor (Mahasiswa Ilmu Sejarah UI 2011)


Sumber Gambar: https://anakaseliindonesia.files.wordpress.com/2012/10/said_1.jpg

“Rasuna, karena perbuatan anda sendiri, anda akan dihukum. Saya akan mengajukan 
hal-hal yang meringankan. Usia anda masih muda, anda berbakat pidato, wajah 
anda elok, tetapi semua ini tidak akan mencegah hukuman. Pakailah waktu untuk 
berpikir mengenai kegagalan-kegagalan anda. Usahakan berbuat sesuatu yang baik 
dan janganlah kembali ke politik,” ujar Controleur Daniel Van der Meulen saat 
melakukan interogasi terhadap Rasuna Said di dalam sebuah sel tahanan (Rosihan 
Anwar, 2004 : 100). Kaum perempuan di Indonesia mempunyai kedudukan dan peran 
yang penting dalam menentukan jalannya sejarah di samping perannya sebagai ibu 
rumah tangga (Poesponegoro, 2010 : 398). Jika kaum lelaki memiliki “Singa 
Podium” seperti Ir. Soekarno, kaum wanita juga memiliki “Singa Betina” bernama 
Rasuna (Saydam, 2009: 213). Rasuna Said yang memiliki nama lengkap Hajjah 
Rangkayo Rasuna Said merupakan salah satu dari sekian banyak perempuan yang 
berjasa dalam proses nation and state building di Indonesia. Sebagai wujud 
penghormatan atas jasanya, nama Rasuna Said diabadikan sebagai nama jalan di 
kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Rasuna Said lahir saat pemuda-pemudi sedang menggelorakan semangat kebangkitan 
nasional dan anti kolonialisme yang dipelopori oleh munculnya organisasi Budi 
Utomo. Ia lahir di Maninjau, Sumatra Barat, tanggal 15 September tahun 1910. 
Selang beberapa tahun setelah kelahirannya, tepatnya pada tahun 1915, Zainuddin 
Labai El Yunus mendirikan Sekolah Diniyah di Padang Panjang. Selain itu, muncul 
reformasi dibidang pendidikan dengan berdirinya Sekolah Thawalib berbasis Islam 
Modern yang dipelopori oleh Haji Abdul Kasim Abdullah atau Haji Rasul. Tidak 
hanya sampai disitu, pendidikan modern untuk perempuan juga muncul dengan 
berdirinya Sekolah Diniyah Putri yang dibentuk oleh adik Zainuddin Labai El 
Yunus, yaitu Rahmah El Yunusiah pada tahun 1923 (Sally White, 2013 : 111-113).
Situasi dan kondisi pergerakan nasional kala itu membentuk pribadi Rasuna Said 
muda sebagai perempuan yang religious dan anti kolonialisme. Sejak kecil ia 
tinggal bersama pamannya karena ayahnya telah meninggal dunia. Ia didik dan 
diajarkan pendidikan Islam mulai dari sekolah dasar. Setelah itu, ia pindah ke 
Padang Panjang dan masuk ke Sekolah Diniyah Putri. Saat belajar di Sekolah 
Diniyah Putri, ia mengenal Rahmah El Yunusiah, Rohana Kudus, dan Zainuddin 
Labai El Yunus. Perkenalan ini mulai membuka pikirannya tentang Islam dan 
pentingnya pendidikan. Pada tahun 1926, Padang Panjang mengalami gempa dahsyat 
sehingga ia harus kembali ke kampung halamannya di Maninjau. Bencana gempa 
tidak menyurutkan niatnya untuk tetap belajar. Ia kemudian berkenalan dengan 
Haji Udin Rachmany yang saat itu memimpin Sekolah Thawalib. Haji Udin Rachmany 
inilah yang banyak mengajarkannya mengenai politik, gerakan pembaruan Islam dan 
pidato (Sally White, 2013 : 104).
Rasuna Said kemudian mulai aktif berorganisasi politik dengan menjadi anggota 
Sarikat Rakyat yang berafiliasi dengan Partai Komunis atas ajakan dari Haji 
Udin Rachmany pada tahun 1926. Selain aktif dalam Sarikat Rakyat, Rasuna Said 
yang akrab dengan sapaan Kak Una juga aktif mengajar pelajaran kewanitaan di 
Sekolah Diniyah Putri. Ketika terjadi pemberontakan komunis di daerah 
Silungkang pada tahun 1927, Rasuna Said dan Haji Udin Rachmany disinyalir 
terlibat oleh pemerintah Hindia Belanda sehingga Sarikat Rakyat dibubarkan. 
Pasca pemberontakan ini pemerintah Hindia Belanda bertindak lebih represif 
terhadap organisasi kepemudaan. Hal ini justru membuat Rasuna Said semakin 
tertantang dan membuktikannya dengan ikut serta dalam Partai Sarikat Islam pada 
tahun 1928. Ia dipercaya menjadi ketua cabang Maninjau. Setahun berselang ia 
menikah dengan Dusky Samad, seorang pengajar di Sekolah Thawalib dan aktivis 
politik. Namun, pernikahan tersebut tidak berlangsung lama akibat kesibukan 
masing-masing. Dari pernikahannya ini, ia memperoleh 1 orang anak perempuan 
bernama Auda Zaschkya Dusky.
Pada tahun 1930, Rasuna Said bergabung dengan Persatuan Muslimin Indonesia 
(PERMI). Bersama dengan Rasimah Ismail dan Ratna Sari, ia menjadi propagandis 
perempuan yang mengkampanyekan modernisasi pendidikan, persamaan hak antara 
perempuan dan laki-laki, reformasi pergerakan Islam, serta kemerdekaan 
Indonesia. Dalam setiap kesempatan, terutama saat mengajar di Sekolah Diniyah 
Putri, ia menanamkan pentingnya politik dalam upaya keluar dari belenggu 
penjajah. Saat Rasuna pindah ke Padang pada tahun 1931, ia berkenalan dengan 
pemimpin PERMI, yaitu Muchtar Loethfi. Pasca diasingkannya Muchtar Loethfi ke 
Bogen Digul, kepemimpinan PERMI diambil alih oleh Rasuna Said. Sejak tahun 
1931, bersama dengan Muhammadiyah, PERMI mulai diawasi dengan ketat. Bahkan 
Gubenur G. F. E. Gonggrijp menyurati Gubernur Jenderal De Graeff yang 
menyatakan bahwa PERMI dan Muhammadiyah tidak loyal dan bersikap anti-Barat 
(Ahmad Syafii Maarif, 2009 : 114).  
Sikap represif pemerintah Hindia Belanda seakan tidak digubris oleh Rasuna 
Said. Ia terus memberikan pidato-pidato dan kampanye anti penjajahan seperti 
halnya yang ia lakukan pada tahun 1932 dalam kongres perempuan PERMI di Padang 
Panjang. Ia menyampaikan pidato dengan judul “Langkah-langkah menuju 
Kemerdekaan Rakyat Indonesia”. Sikapnya yang sangat anti pada pemerintah Hindia 
Belanda ini membuatnya harus merasakan dinginnya ruangan sel tahanan di 
Semarang selama 15 bulan. Setelah di bebaskan, ia tetap memegang teguh 
prinsipnya yang anti pada penjajahan. Ia banyak menulis artikel dalam jurnal 
“Raya”. Karena control pemerintah yang ketat, ia terpaksa pindah ke Medan. 
Perjuangannya tetap berlanjut dengan menulis pada jurnal “Menara Putri” yang 
mengangkat isu seputar Islam dan Wanita.
Pasca berakhirnya pemerintahan Hindia Belanda dan Jepang yang mulai berkuasa di 
Nusantara, Rasuna kembali ke Padang. Ia direkrut oleh Chatib Sulaiman untuk 
menjadi pemimpin dalam Giyu Gun bagian wanita dengan nama Hahanokai bersama 
dengan sahabat lamanya, Rahmah El Yunusiah dan Ratna Sari. Ia pun kemudian 
menikah lagi dengan Bariun AS. Pasca Proklamasi Kemerdekaan, Rasuna tetap aktif 
dalam kegiatan politik. Pada masa revolusi kemerdekaan tahun 1947, ia menjadi 
pemimpin Front Pertahanan Nasional Wanita atas permintaan Bung Hatta yang saat 
itu mengunjungi Bukittinggi. Selain itu, sejak tahun 1946, ia bergabung dengan 
Persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka bersama dengan Bariun AS, suaminya, 
dan Chatib Sulaiman (Sally White, 2013: 115).
Setelah Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda dan memiliki bentuk negara 
Serikat, Rasuna menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia 
Serikat (DPR RIS). Ia memiliki kedekatan dengan Soekarno (Ahmad Syafii Maarif, 
2009 : 114). Dalam beberapa kesempatan Soekarno sering menanyakan pendapat 
Rasuna mengenai kebijakan politik. Beberapa tokoh politik yang berasal dari 
Sumatra saat itu mayoritas bergabung dengan Partai Masyumi, namun Rasuna tidak 
mengikuti jejak para tokoh-tokoh tersebut. Saat situasi Sumatra mulai tidak 
kondusif dengan munculnya isu pemberontakan yang akan dilakukan oleh Kolonel 
Achmad Husein, ia menemui Achmad Husein dan memberikan nasihat untuk 
membatalkan rencana tersebut. Ia pun memberikan pandangan untuk tetap setia 
pada Republik.

Kiprahnya dalam bidang politik tidak berakhir sampai di situ. Rasuna kemudian 
menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung pada masa Demokrasi Terpimpin, yaitu 
tahun 1959 hingga akhir hayatnya. Rasuna menghembuskan nafas yang terakhir pada 
2 November 1965. Sepanjang hayatnya, Rasuna memegang teguh sikap progresif, 
revolusioner, non-kooperatif, dan pantang menyerah (Jajat Burhanuddin, 2002 : 
94). Sikap-sikap tersebut yang dewasa ini jarang ditemui dari dalam diri 
seorang politikus. Baginya, kemerdekaan terbagi dalam tiga unsur penting, yaitu 
keislaman, kebangsaan, dan kewanitaan. Kemerdekaan tidak hanya sebatas pada 
terbebas dari belenggu penjajah, namun kemerdekaan memberikan makna yang lebih 
luas; Merdeka itu Terdidik, Tersadar dan Tercerahkan.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke