Banda Aceh sudah memploklamirkan kalau mereka. "Muslim Tourism City", jadi yo lah tatingga awak.
sekitar 2 bulan yg lalu Walikota Banda Aceh Eliza di Ruang Sapta Pesona kementrian Parawisata mendampingi Mentri Parawisata mendeklarasikan kalau mereka menerapkan konseb wisata Muslim.
Kini Sumbar a nan ka diusuang. cubo buek lo ko konseb wisata berbasiskan ABS SBK.


Nanang, sadang di Bukiktinggi

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Indosat network.
From: Akmal Nasery Basral
Sent: Thursday, 4 June 2015 15:48
Subject: Re: Re: [R@ntau-Net] Menyongsong Pariwisata Bahari Terpadu di Kawasan MANDEH

Meski potensi Wisata Syariah yang sudah diumumkan secara resmi ini di mana Sumbar termasuk 9 Destinasi Wisata Syariah ini belum terlalu menggembirakan, tetapi alhamdulillah mulai ada geliat kebangkitan.

Data dari UNWTO (Utilizing the World Tourism Organization) menunjukkan bahwa wisatawan muslim mancanegara (global muslim traveler) secara agregat berkontribusi sebesar USD 126 miliar (2011), jauh mengungguli belanja turis Jerman (USD 111 miliar), AS (USD 93 miliar) dan Tiongkok (USD 65 miliar). 

Bahka  pada periode 2012-2020 diperkirakan tren pertumbuhan wisatawan muslim sebesar 4,79 persen per tahun dibandingkan pertumbuhan wisatawan dunia yang hanya 3,8 persen. Pada 2020 itu diprediksi kontribusi belanja wisatawan muslim sebesar hampir menyentuk USD 200 miliar  atau sekitar 13,5 persen dari belanja turis global.

Itu sebabnya banyak destinasi wisata non-muslim pun kini bebenah untuk mendapatkan "kue" ini. Di Gold Coast, Queensland, yang menjadi salah satu unggulan wisata di Australia, kian banyak mall yang menyediakan musholla dengan kondisi sangat layak dan makanan halal di banyak restoran. Arah kiblat juga mulai ditampilkan di banyak kamar hotel papan atas. Sehingga jangan heran jika Gold Coast termasuk dalam 10 besar daerah wisata syariah di luar negara OKI. Bayangkan!

Hong Kong yang merupakan salah satu tempat tersulit bagi muslim untuk mencari tempat makan halal dan masjid/musholla, kini juga menerapkan cara Gold Coast. CEO Hong Kong Tourism Board, Anthony Lau, belum lama ini sudah menginstruksikan para pelaku industri pariwisata di bawah koordinasinya untuk lebih banyak menyiapkan musholla dan resto makanan halal bagi muslim. 

Italia tak mau kalah dengan menyediakan pantai khusus untuk wanita bernama Rimini. Pria dilarang lalu lalang, apalagi menghabiskan waktu, di pantai ini. 

Indonesia?

Indonesia, seperti biasa, berada di "persimpangan kebingungan" terhadap perubahan global yang cepat ini, kalau tidak ingin disebut berada dalam kondisi kontradiktif. 

Di mana kontradiksinya? 

Indonesia termasuk dalam 10 besar negara dengan wisatawan muslim terbanyak. Ini artinya, BANYAK MUSLIM INDONESIA YANG BERWISATA KE LUAR NEGERI.

Akan tetapi jika dilihat dari daftar 10 Negara yang Banyak Didatangi Wisatawan Muslim, Indonesia TIDAK ADA PADA DAFTAR ITU.

10 besar urutan negara yang menjadi destinasi favorit wisatawan muslim dunia adalah: 
  1. Malaysia
  2. Turki
  3. Uni Emirat Arab
  4. Singapura
  5. Rusia
  6. Cina
  7. Prancis
  8. Thailand
  9. Italia, dan, believe it or not
  10. Syria (sebelum meletus konflik).
Tragis sekali bukan, Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia dengan beragam kekayaan adat lokal bernuansa Islam yang menarik, justru kalah bersaing dalam menarik perhatian WISATAWAN MUSLIM DUNIA dibanding Singapura bahkan Thailand! 

Devisa yang didapatkan Indonesia dari global muslim traveler diperkirakan hanya sekitar USD 1,6 miliar, atau hanya sekitar 1,2 persen dari total belanja global muslim traveler

Kalau di level Indonesia saja baru seperti itu, apalagi di level provinsi di mana Sumbar masih harus bersaing dengan 8 Destinasi Wisata Syariah lainnya (yang resmi menurut pemerintah), namun di lapangan tentu kompetitor Sumbar jauh lebih banyak lagi.

Sudah saatnya muslim Indonesia yang sudah mencapai kemampuan finansial sebagai "global muslim traveler" menyimak data di atas baik-baik.

Betul banyak hal perlu diubah dari kondisi wisata di Sumbar (dan Indonesia khususnya), terutama menyangkut hospitality, kebersihan lingkungan, dan kelengkapan infrastruktur (di Sumbar/Indonesia sesungguhnya sudah tidak masalah menyangkut masjid/musholla dan resto halal yang bisa ditemukan di setiap kelokan jalan). 

Tapi yang terpenting adalah, kembali mengutip konsep  "Politik Garam" Bung Hatta, agar masyarakat harus berpikir lebih holistik ketimbang berkukuh pada "Politik Gincu" yang hanya menampilkan formalitas Perda Syariat dan sejenisnya, bahwa industri pariwisata bisa menjadi andalan devisa masa depan, halal, dan tetap dalam ikhtiar mendapatkan ridha Allah Swt. 

Wassalam,

ANB

* * *



Pada 3 Juni 2015 17.59, St Parapatiah <[email protected]> menulis:
Pak Maturidi n a h

Curiga buliah. tapi indak ciwk caro mamandangno doh.

Dulu ado biliak Wisata Syariah di Rn ko, kah kian kamari diskusino.

Nan paralu kini paga nagari jo ABSSBK. Buen daftar 'do and do not do'. Jadukan itu aturan.

Kalau dicaliak dari negatifno indak jadi karajo.

pak Maturidi lai tau baa keadaan negatif dikampuang awak kini? Kalau dietong negatifno indaj taetong doh.

Bari maaf mbo dek mungkin mancaliak jo sisi balain.

Salam
DM StP
ex rang dapua tempo doeloe

Hanifah Damanhuri <[email protected]> menulis:

Assalammualaikum Wr Wb Bapak Maturidi Yml

Mudah-mudahan tulisan Bapak dibaca oleh Bapak Andrinof dan Da Nofrins.

Hanifah tidak punya ilmu untuk menjawab pertanyaan Bapak.

Disatu sisi mungkin Bapak benar, namun disisi lain tujuan dari pariwisata untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat juga tidak salah.

Jadi yang perlu difikirkan bagaimana caranya agar tujuan pariwisata tercapai tanpa mengorbankan ajaran agama islam,  adat istiadat dan budaya Ranahminang.

Mohon maaf atas jawaban singkat hanifah

Salam

Hanifah


Pada 2 Juni 2015 18.16, Maturidi Donsan <[email protected]> menulis:

Bu Ifah dan sanak dipalanta n.a.h

 

Ambo ambiak saketek puisi ibu:

 

Semoga pesta yang baru saja digelar

Telah membuka mata dan matahati warga masyarakat

Tentang keelokkan nagari yang mereka huni

Tentang para tamu yang akan mengunjungi

Tentang peranan masyarakat yang menanti

Tentang sikap masyarakat yang harus dimiliki

Sehingga para tamu nyaman, bahagia dan mau kembali lagi

 

Ambo mungkin terlalu kolot barangkali, satiok tadanga/tabaco kato-kato pariwisata,  pelisiran bahaso awaknyo,  tabayang berkeliarannyo doly jo gigolo.

Tapi kebanyakan generasi nan lahir 60-80-an sangek bersumangek  menggelorakan pariwisata gunung/maritim untuk meningkatkan PAD termasuk pimpinan tertinggi negara ini.

Malayang-layang pikiran ambo ka BALI.

Suatu ciri parawisata, dimanapun di dunia ini, kalau tak ada wanita sewaannya tak akan ramai. Pada  milenium ke 3 ini terang-terangan tapil lagi laki-laki sewaan yang dikenal dengan gigolo, ini sudah populer di Bali

 

Menurut pendapek ambo nan singkek, untuk daerah lain mungkin cocok, tapi untuk minang, saya kuatir akan lebih banyak kerugiannya dari keuntungannya.

Kekawatiran ambo adolah membanjirnyo kedatangan tamu ex Doly Surabaya,dan Doly-Doly lainya baik dalam negeri maupun luar negeri.

Kalau pintu parwisata (kasarnya pelisiran) sudah dibuka semua akan terbuka.

Kita tak akan bisa membendung, karena itu mata pencaharian dan kita ingat Wali-wali kota di Sumbar bukan Trisma Rini.

Trisma Rini disamping keberaniannya dari dalam dirinya, keberanian ini tak surut karena pejabat lain yang dihadapi dari suku yang sama, Gubenur, Panglima, Kapolda, Kejati, Korem, Kapolres dst kebawah dari suku yang sama.

Wakot / Bupati, sampai Gubenur di Sumbar, apa berani, masih tanda tannya.

 

Penertiban tenda-tenda  ceper dari Bungus di Padang  alangkah susahnya, sampai sekarang apakah sudah bersih atau pindah tempat tak tahulah.

Begitu juga kehidupan malam di Bikittinggi dan Padang yang banyak doly-dolynya  (http://www.nagari.or.id/?moda=palanta&no=112).

Kalau kita membuka pintu pariwisata/pelisiran, kita harus bersedia juga menerima doly, kecuali kalau pariwisatanya jalan, doly tak boleh datang tapi siapa yang mau mengontrol, apa UU daerahnya.

Apalagi bagi pengelola yang penting uang masuk, apa yang terjadi di diarena wisata bukan urusan prioritas. Lebih lagi kalau keyakinan yang dianut  pengelolanya memang esek-esek itu adalah hak individu seperti yang kebanyakan diteriakan corong HAM sekarang ini. keadaan akan lebih merusak kebudayaan minang.

Maafkan ambo kalau berpekiran terlalu kuno.

Wass,

Maturidi (L/76) Talang Solok, Kutianyia, Duri Riau

 

 

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke