| Banda Aceh sudah memploklamirkan kalau mereka. "Muslim Tourism City", jadi yo lah tatingga awak. sekitar 2 bulan yg lalu Walikota Banda Aceh Eliza di Ruang Sapta Pesona kementrian Parawisata mendampingi Mentri Parawisata mendeklarasikan kalau mereka menerapkan konseb wisata Muslim. Kini Sumbar a nan ka diusuang. cubo buek lo ko konseb wisata berbasiskan ABS SBK. Nanang, sadang di Bukiktinggi Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Indosat network.
Meski potensi Wisata Syariah yang sudah diumumkan secara resmi ini di mana Sumbar termasuk 9 Destinasi Wisata Syariah ini belum terlalu menggembirakan, tetapi alhamdulillah mulai ada geliat kebangkitan.
-- Data dari UNWTO (Utilizing the World Tourism Organization) menunjukkan bahwa wisatawan muslim mancanegara (global muslim traveler) secara agregat berkontribusi sebesar USD 126 miliar (2011), jauh mengungguli belanja turis Jerman (USD 111 miliar), AS (USD 93 miliar) dan Tiongkok (USD 65 miliar). Bahka pada periode 2012-2020 diperkirakan tren pertumbuhan wisatawan muslim sebesar 4,79 persen per tahun dibandingkan pertumbuhan wisatawan dunia yang hanya 3,8 persen. Pada 2020 itu diprediksi kontribusi belanja wisatawan muslim sebesar hampir menyentuk USD 200 miliar atau sekitar 13,5 persen dari belanja turis global. Itu sebabnya banyak destinasi wisata non-muslim pun kini bebenah untuk mendapatkan "kue" ini. Di Gold Coast, Queensland, yang menjadi salah satu unggulan wisata di Australia, kian banyak mall yang menyediakan musholla dengan kondisi sangat layak dan makanan halal di banyak restoran. Arah kiblat juga mulai ditampilkan di banyak kamar hotel papan atas. Sehingga jangan heran jika Gold Coast termasuk dalam 10 besar daerah wisata syariah di luar negara OKI. Bayangkan! Hong Kong yang merupakan salah satu tempat tersulit bagi muslim untuk mencari tempat makan halal dan masjid/musholla, kini juga menerapkan cara Gold Coast. CEO Hong Kong Tourism Board, Anthony Lau, belum lama ini sudah menginstruksikan para pelaku industri pariwisata di bawah koordinasinya untuk lebih banyak menyiapkan musholla dan resto makanan halal bagi muslim. Italia tak mau kalah dengan menyediakan pantai khusus untuk wanita bernama Rimini. Pria dilarang lalu lalang, apalagi menghabiskan waktu, di pantai ini. Indonesia? Indonesia, seperti biasa, berada di "persimpangan kebingungan" terhadap perubahan global yang cepat ini, kalau tidak ingin disebut berada dalam kondisi kontradiktif. Di mana kontradiksinya? Indonesia termasuk dalam 10 besar negara dengan wisatawan muslim terbanyak. Ini artinya, BANYAK MUSLIM INDONESIA YANG BERWISATA KE LUAR NEGERI. Akan tetapi jika dilihat dari daftar 10 Negara yang Banyak Didatangi Wisatawan Muslim, Indonesia TIDAK ADA PADA DAFTAR ITU. 10 besar urutan negara yang menjadi destinasi favorit wisatawan muslim dunia adalah:
Tragis sekali bukan, Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim terbanyak di dunia dengan beragam kekayaan adat lokal bernuansa Islam yang menarik, justru kalah bersaing dalam menarik perhatian WISATAWAN MUSLIM DUNIA dibanding Singapura bahkan Thailand! Devisa yang didapatkan Indonesia dari global muslim traveler diperkirakan hanya sekitar USD 1,6 miliar, atau hanya sekitar 1,2 persen dari total belanja global muslim traveler. Kalau di level Indonesia saja baru seperti itu, apalagi di level provinsi di mana Sumbar masih harus bersaing dengan 8 Destinasi Wisata Syariah lainnya (yang resmi menurut pemerintah), namun di lapangan tentu kompetitor Sumbar jauh lebih banyak lagi. Sudah saatnya muslim Indonesia yang sudah mencapai kemampuan finansial sebagai "global muslim traveler" menyimak data di atas baik-baik. Betul banyak hal perlu diubah dari kondisi wisata di Sumbar (dan Indonesia khususnya), terutama menyangkut hospitality, kebersihan lingkungan, dan kelengkapan infrastruktur (di Sumbar/Indonesia sesungguhnya sudah tidak masalah menyangkut masjid/musholla dan resto halal yang bisa ditemukan di setiap kelokan jalan). Tapi yang terpenting adalah, kembali mengutip konsep "Politik Garam" Bung Hatta, agar masyarakat harus berpikir lebih holistik ketimbang berkukuh pada "Politik Gincu" yang hanya menampilkan formalitas Perda Syariat dan sejenisnya, bahwa industri pariwisata bisa menjadi andalan devisa masa depan, halal, dan tetap dalam ikhtiar mendapatkan ridha Allah Swt. Wassalam, ANB * * * Pada 3 Juni 2015 17.59, St Parapatiah <[email protected]> menulis: Pak Maturidi n a h . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. | ||
Re: [R@ntau-Net] Menyongsong Pariwisata Bahari Terpadu di Kawasan MANDEH
'asfarinalnanang' via RantauNet Thu, 04 Jun 2015 03:17:29 -0700
- Bls: Re: [R@ntau-Net] Menyongsong Pariwisa... St Parapatiah
- Re: Re: [R@ntau-Net] Menyongsong Pari... Maturidi Donsan
- Re: Re: [R@ntau-Net] Menyongsong Pari... Akmal Nasery Basral
- Re: Re: [R@ntau-Net] Menyongsong ... Sjamsir Sjarif
- Re: Re: [R@ntau-Net] Menyongs... Akmal Nasery Basral
- Re: [R@ntau-Net] Menyongsong Pari... 'asfarinalnanang' via RantauNet
- Re: [R@ntau-Net] Menyongsong ... Sjamsir Sjarif
- Re: [R@ntau-Net] Menyongs... 'asfarinalnanang' via RantauNet
- Re: [R@ntau-Net] Men... Sjamsir Sjarif
- Re: [R@ntau-Net]... 'asfarinalnanang' via RantauNet
