DENGANDIM KITAMEMBANGUN EKONOMI KERAKYATANBERBASISKOPERASI SYARIAH DI NAGARI 
MochtarNaim21Juni 2015 I    
|  
  |

PERTANYAANmendasar pertama yang harus dijawab ketika kita merubah Provinsi 
Sumbar menjadiProvinsi DIM adalah, sistem ekonomi yang bagaimana yang akan kita 
kembangkanyang cocok dan sesuai dengan filosofi ABS-SBK yang menjadi landasan 
dari semuaaspek kehidupan kita, termasuk ekonomi? Karena dasar yang kita pakai 
adalahfilosofi ABS-SBK, maka sistem ekonomi yang kita pakai tidak lain 
dari"ekonomi kerakyatan berbasis koperasi syariah di Nagari." Dan sistemini 
kebetulan cocok pula dengan isi Pancasila yang ternukil dalam Preambula 
UUD1945,di mana dikatakan: "Negara Republik Indonesia itu berkedaulatan 
rakyatdengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil 
danberadab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh 
hikmatkebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, serta dengan mewujudkan 
suatuKeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia." Dan ini diperkuat lagi 
dengan bunyipasal 33 ayat (1) dari UUD1945 yang mengatakan bahwa "Perekonomian 
disusunsebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan;" dan ayat (4) 
nyamengatakan: "Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas 
demokrasiekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, 
berkelanjutan,berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga 
keseimbangan kemajuandan kesatuan ekonomi nasional." Namun, inilah namunnya. 
Yang kitapraktekkan dari semula adalah ekonomi liberal-kapitalistik yang 
tidakkena-mengena, malah bertentangan dengan cita Pancasila dan Konstitusi 
negarakita itu. Khusus sejak zaman Orde Baru, dan berlanjut ke zaman Orde 
Reformasidan Pasca Reformasi sekarang ini, ekonomi Indonesia praktis dikuasai 
olehtangan-tangan kapitalis multi-nasional, dengan konglomerat non-pribumi 
dibarisan depannya, dan semua dibek-ap oleh para penguasa pribumi, yang 
mendapatkangratifikasi daripadanya, demi kelangsungan jalannya roda 
pemerintahan di NKRIini.Dengan itu kita dengan DIM ini juga akandiuji, akankah 
"ekonomi kerakyatan berbasis syariah di Nagari ini"hanya akan berupa impian 
semata, atau benar-benar akan kita terapkan, apapunhambatan dan risikonya yang 
harus kita hadapi. Kita jelas akan diuji dengandiri dan kemampuan kita sendiri 
itu, apalagi kita tetap akan merupakan bagiantak terpisahkan dari NKRI ini, 
yang artinya tidak lain dari bahwa ekonomi makrodi daerah kita sendiri juga 
akan dikuasai oleh kelompok liberal-kapitalis dibawah komando kelompok 
konglomerat non-pri itu yang bekerjasama dengan kelompokpara penguasa pribumi 
di mana saja.II Katakanlah bahwa kita memang berangkat darikenyataan yang tidak 
bisa dipungkiri itu. Tapi kalau kita memang bertekad bulatmau merubahnya, yang 
dimulai di negeri dan ranah kita sendiri, bukankah adaAllah swt yang berada di 
samping kita. Jika semua itu kita niatkan dengan niatibadah dalam rangka 
merubah nasib yang menimpa diri kita selama ini, dan kitaistiqamah dengan itu, 
bagi Allah tidak ada yang mustahil, dan   tidak mungkin. Mencontoh pada diri 
kelompokkonglomerat dari Asia Timur – yaitu Jepang, Korea dan Cina sendiri – 
dansekarang Viet Nam, Thailand, Malaysia dan Brunai, semua mereka juga 
memulaidari impian. Tapi impian yang dipraktekkan dan diusahakan dengan 
mati-matian,sehingga semua mereka keluar sebagai negara yang terbebaskan. Di 
Jepang, Koreadan Cina Tiongkok, khususnya, semua dimulai dengan upaya menutup 
imporbarang-barang kebutuhan pokok, alias "sembako," yang bisa dan biasa 
diproduksidi dalam negeri sendiri -- walaupun harganya akan lebih mahal 
ketimbang diimporpada tahap-tahap awal penyesuaiannya. Dan dengan itu semua 
sembako kebutuhanpokok itu akan tumbuh kembali sampai menutupi kebutuhan pokok 
dalam negerisendiri tanpa impor.Di Jepang, Korea dan Cina Tiongkok, 
yangkemudian juga ditiru dan disusul oleh Viet Nam, Thailand, Malaysia dan 
Brunaiitu,  ekonominya bertumbuh dari bawahyang umumnya polanya juga kooperatif 
dengan saling isi-mengisi danbantu-membantu. Sekarang mereka tidak hanya 
menguasai ekonomi sendiri tetapijuga merembet ke ekonomi dunia 
sekalipun.Ekonomi Koperasi Kerakyatan yangberbasis syariah dan dimulai di 
Nagari, oleh karena itu, bukan suatu idamanyang mustahil tetapi bisa kita 
realisasikan jika kita yakin dan bergerakmemulainya dengan itu. Untuk itu perlu 
ada kesepakatan bulat dari kita semua diranah dan di rantau memulai membangun 
ekonomi bersama itu dari bawah, dariNagari kita masing-masing, dengan bimbingan 
yang padu dari atas, dari provinsidi DIM yang turun ke bawah, ke 
Kabupaten/Kota, ke Kecamatan dan Nagari-nagaridi seluruh Sumatera Barat. Yang 
diperlihatkan adalah keseiaan dan kesekataankita dalam membangun ranah yang 
kita cintai ini secara bersama dan sepenuh hatidan kemauan. Dengan ekonomi 
kerakyatan berbasisNagari dan dalam bentuk syariah ini kita tentu akan memulai 
dengan memanfaatkansecara optimal potensi ekonomi yang ada di Nagari 
masing-masing, baik di bidangpertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, 
perikanan, dan usaha industrirumah tangga yang bisa sangat berbagai dan 
beragam, di samping industrisumberdaya alam yang potensinya juga cukup besar. 
Tanah-tanah hak-ulayat rakyat berjumlahratusan ribu hektar yang telah 
diserahkan oleh pemerintah melalui HGU kepadapengusaha-pengusaha konglomerat 
non-pri  yangdatang dari berbagai daerah dan dari negara-negara tetangga yang 
sebagian besardijadikan menjadi perkebunan sawit, sudah harus dipersiapkan 
untuk dikembalikankepada rakyat di Nagari terkait secara terprogram. Mana-mana 
dari HGUnya yangsudah habis masa berlakunya, tidak lagi boleh diperpanjang, dan 
semua kembalikepada rakyat di Nagari terkait. Rakyat bisa melanjutkannya dengan 
melalui unitkoperasi perkebunan yang mereka bentuk, atau berbagi hasil dengan 
pemilik HGUsampai rakyat di Nagari bersangkutan mampu mengelolakannya 
sendiri.Tanah-tanah di sepanjang pesisir BaratSumbar, dari Air Bangis ke Air 
Haji, tambah lagi dengan tanah-tanah ulayat dipedalaman sepanjang sela-sela 
gunung-gunung dan Bukit Barisan sejak dariPasaman sampai ke Darmasyraya, Solok 
Selatan dan Pesisir Selatan, bisadisunglap menjadi daerah ekonomi perkayuan dan 
peternakan dalam jumlah dan besaranyang nyaris tidak terbatas. Sumbar yang 
sudah menjadi DIM dengan itu akanmenjadi daerah industri perkayuan dan 
peternakan serta perikanan darat yangtermasuk kelompok besar di Nusantara ini. 
Dengan empat danau – Danau Maninjau,Singkarak, Danau Di Atas dan Di Bawah – 
tambah dengan sekian banyakaliran-aliran sungai yang semua berhulu ke 
gunung-gunung dan bukit-bukit yangbegitu banyak dan bertebaran di ranah 
Minangkabau ini, semua itu juga bisamenjadi sumber perikanan darat – plus 
tebat-tebat yang bertebaran di berbagaiNagari. Belum pula dengan potensi Lautan 
Hindia yang terhampar di sepanjangpantai Barat dari Air Bangis ke Air Haji itu, 
dan batas ke baratnya hanyalahpantai timur Afrika, dan utaranya jejeran 
pantai-pantai dari negara-negara diAsia, semua itu juga potensi yang bisa kita 
masuki yang batas potensialnyapraktis tidak berhingga. Semua itu bisa dimulai 
dari membangun ekonomi koperasibersyariah di Nagari.Khusus untuk Kabupaten 
KepulauanMentawai, pengembangan ekonominya disesuaikan dengan potensi kepulauan 
dankelautannya yang orientasinya adalah sama, yaitu pembangunan ekonomi 
kerakyatanberbasis koperasi dan Desa di kepulauan itu. Sendirinya corak dan 
karakterkhusus sebagai daerah kepulauan harus diberikan kepada Mentawai yang 
hasil bersihnyaadalah untuk rakyat Mentawai sendiri. III Ide Koperasi Hatta 
yang sekarangdigabung dan diperkaya dengan kekayaan spiritual-ilmiyah dari  
Islam yang adalah agama satu-satunya yangditerima oleh rakyat dan masyarakat 
Minangkabau yang dibundel dalam filosofiABS-SBK untuk wilayah budaya Provinsi 
DIM, sendirinya akan juga menjadi penguatdan perangsang bagi berkembangnya 
ekonomi kerakyatan sesuai dengan ide daninspirasi Preambula dan Isi UUD1945, 
yaitu ekonomi kerakyatan yang disusunsebagai usaha bersama berdasar atas asas 
kekeluargaan, seperti yang dicitakanoleh Pasal 33 ayat (1) dan (4) UUD1945 
itu.Untuk itu waktunya adalah sekarang bagipara ahli ekonomi dan syariat Islam 
dari berbagai Universitas dan SekolahTinggi yang ada di Sumbar untuk berkumpul 
dalam berbagai FGD danseminar-seminar dalam merumuskan patokan dasar dan 
pedoman pelaksanaan dariEkonomi Kerakyatan Berbasis Syariah di Nagari 
itu.Rakyat Minang di ranah dan di rantausemua menunggu gerakan bersama dari 
para ahli ekonomi dan syariat Islammenyiapkan konsep yang diidamkan itu, dengan 
bantuan dan fasilitas dari PemdaProvinsi/ Kab/Kota dan ormas-ormas serta 
masyarakat di Nagari sendirimasing-masing. Dan tentu saja dari pemerintah pusat 
sekalipun di samping jugakerjasama dengan potensi luar negeri.Mari kita 
bismillahkan. Dan mari bersamakita membangun ekonomi kerakyatan berbasis 
Koperasi Syariah di Nagari itu untukkejayaan Bangsa dan Negara. Kita juga 
mengharapkan agar ide ekonomi kerakyatanberbasis Koperasi Syariah ini juga 
menjalar dan berkembang ke daerah-daerahlain di Indonesia ini. ***

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Attachment: 150621 DENGAN DIM KITA MEMBANGUN EKONOMI KERAKYATAN BERBASIS KOPERASI SYARIAH DI NAGARI.docx
Description: MS-Word 2007 document

Kirim email ke