hatur nuhun bang Z (y) 2015-07-13 21:49 GMT+07:00 Harlizon MBAu <[email protected]>:
> AssWrWb P Mochtar, > > > > *Korupsi adalah suatu bentuk “extra ordinary crime” (kejahatan puncak)* dalam > kehidupan karena hakikatnya adalah mencuri harta orang banyak atau harta > bersama. Sebagaimana bentuk kejahatan atau dosa lainnya, semua itu terjadi > akibat *dilaksanakannya sistem kehidupan atau interaksi antar manusia > yang TIDAK ADIL.* > > > > Khususnya korupsi, peyebab utamanya adalah akibat SISTEM EKONOMI YANG > TIDAK ADIL dan TIADANYA KEMAUAN PEMIMPIN untuk melaksanakan atau membangun > sistem ekonomi yang adil di negara tersebut. Bagaimana mungkin disebut adil > jika orang yang kerjanya cuma cuap-cuap atau sekedar memindahkan barang > dari sinikesana mendapatkan pendapatan yang lebih besar daripada orang yang > mengurusi orang banyak ? Bagaimana bisa disebut adil jika petani yang kumuh > berlumpur dan berpanas-panasan mendapatkan pendapatan yang sangat sedikit > dibanding petani berdasi di ruang ber AC atas penggarapan tanah sangat luas > yang sebenarnya adalah milik nenek moyang dan anak-cucu petani ber AC > tersebut ? Bagaimana mungkin disebut adil jika pemilik saham perusahaan > yang tidak bekerja dan bahkan menggunakan modal dari public (masyarakat) > mendapatkan pembagian keuntungan yang jauh lebih besar daripada > pekerja-pekerjanya yang banting tulang secara langsung mengupayakan > keuntungan tersebut dan bahkan juga turut serta mencari tambahan modal > untuk usaha tersebut ? Bagaimana mungkin disebut adil jika SISTEM EKONOMI > bergerak menyedot harta orang banyak (masyarakat) atau harta bersama > menjadi harta milik segelintir orang yang berhasil memperkuda orang lain > karena SYSTEM EKONOMI dan SISTEM HUKUMnya membolehkan hal seperti itu ? > > > > Selagi SISTEM KEHIDUPAN TIDAK ADIL dan TIDAK ADA PEMIMPIN YANG BERKEMAUAN > MENGUBAHNYA, *KORUPSI AKAN TETAP ADA*, meski dibuat segala macam program > lain yang pada intinya tidak menumbuhkan system kehidupan yang adil itu. > > > > Sebagai referensi, berikut saya kutipkan beberapa cuplikan artikel tentang > pernah terjadinya *system* *kehidupan yang adil* semasa Umar di dalam > system Islam, yakni terciptanya kondisi dimana, *Tidak ada lagi orang > yang mau menerima zakat atau sedekah *karena masyarakat luas sudah hidup > berkecukupan. Pada kondisi ini, tentulah sudah TIDAK ADA KORUPSI LAGI. > > > > > > http://zakat.or.id/sejarah-kegemilangan-zakat/#sthash.XYlz99iQ.dpbs > > Pada masa *Umar bin Khattab* sahabat Muaz bin Jabal yang menjabat sebagai > Gubernur Yaman ditunjuk pertama kali untuk menjadi Ketua Amil Zakat di > Yaman. Konsekwensi dengan model sentralisasi dipahami sebagai satu > kewajiban ketaatan karena system dan infrastruktur yang sudah > *established.* Pada tahun pertama Muaz bin Jabal mengirimkan 1/3 dari > surplus dana zakatnya ke pemerintah pusat, lalu khalifah umar mengembalikan > kembali untuk pengentasan kemiskinan di daerah Yaman. Sebuah kebijakan yang > semestinya dilakukan sebagai pendidikan otorisasi wilayah dalam system > kebijakan zakat pada saat itu. Pada tahun kedua Muaz bin Jabal > menyerahkan ½ dari surplus zakatnya ke pemerintah pusat. Dan Subhanallah > pada tahun ketiga Muaz bin Jabal menyerahkan seluruh pengumpulan dana > zakatnya ke pemerintah pusat. Hal ini dilakukan karena *sudah tidak ada > lagi orang yang mau menerima zakat* dan disebut sebagai mustahik, > sehingga kebijakan pemerintah pusat mengalihkan distribusi dana tersebut > pada daerah lain yang masih miskin. Paradigma merubah mustahik menjadi > muzaki bukanlah mimpi ketika pengelolaan zakat didukung dengan managemen > professional dan system kebijakan pemerintah yang komprehensip dan bermuara > pada kepentingan kesejahteraan mustahik. - See more at: > http://zakat.or.id/sejarah-kegemilangan-zakat/#sthash.XYlz99iQ.dpuf > > > > > > http://baitul-maal.com/mindset-kami/ > > > > Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (13-22 H) dan Umar bin > Abdul Aziz (99-101 H) *orang miskin yang berhak menerima zakat menjadi > semakin langka dari tahun ke tahun*. > > > > Abu Ubaid (1353 H) meriwayatkan dari Amr bin Shuayb bahwa, “Mu’adz bin > Jabal terus menjabat sebagai gubernur semenjak Rasulullah saw. mengutusnya > ke Yaman hingga pada masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khattab. > > Selang satu tahun menjabat sebagai gubernur, Mu’adz bin Jabal mengirimkan > sepertiga dari sadaqah (zakat) yang terkumpul (di Yaman) kepada Umar (di > Madinah), namun khalifah Umar menolaknya, seraya berkata: “Saya tidak > mengutusmu sebagai seorang pengumpul zakat saja, dan kita tidak ditugaskan > untuk itu, *saya hanya mengutusmu untuk mengambil dari orang-orang kaya > kemudian memberikannya kepada orang miskin*”. Mu’adz berkata: “*Saya > tidak dapat memberikan sesuatu yang tidak seorang pun dapat menerimanya > dariku”.* > > Pada tahun berikutnya, Mu’adz mengirimkan setengah dari sadaqah (zakat) > yang terkumpul kepada khalifah Umar (di Madinah), dan terulang dialog yang > sama. Setelah tiga tahun berlalu, Mu’adz mengirimkan seluruh sadaqah > (zakat) yang terkumpul kepada khalifah Umar. Khalifah Umar pun mengatakan > hal yang sama, tetapi Mu’adz kemudian berkata, “(tahun ini) saya tidak > menemukan seorang pun (yang butuh dan mau menerima) sadaqah (dana zakat) > dariku.” > > Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (13-22 H) dan Umar bin > Abdul Aziz (99-101 H) orang miskin yang berhak menerima zakat menjadi > semakin langka dari tahun ke tahun. > > Riwayat yang kedua datang dari masa pemerintahan Umar bi Abdul Aziz. > Gubernur Mesir mengirimkan surat kepada Umar bin Abdul Aziz yang menanyakan > tentang apa yang harus ia lakukan atas sadaqah (zakat) yang terkumpul, > karena ia tidak menemukan seorang miskin pun di seluruh penjuru negeri. > Umar menjawab, “belilah budak dan merdekakan mereka, bangunlah > tempat-tempat peristirahatan di pingir jalan raya, dan nikahkan para pemuda > yang belum menikah”. > > Ibnu Katsir meriwayatkan, “Umar menunjuk seorang untuk menggumumkan dan > mencari, “siapa yang memiliki hutang? siapa yang masih miskin? siapa yang > belum menikah? siapa yang yatim?” di sepanjang jalan dan penjuru kota > setiap harinya. (proses ini terus berlanjut) sampai orang-orang ini tidak > ditemukan lagi. > > > > > http://m.aslamiyah.abatasa.co.id/post/detail/13910/mengupas-sejarah-reformasi-ekonomi-umar-bin-abdul-aziz-dan-mengapa-kita-gagal---- > > > > Mungkin indikator kemakmuran yang ada ketika itu tidak akan pernah > terulang kembali, yaitu ketika para amil zakat berkeliling di > perkampungan-perkampungan Afrika, tapi m*ereka tidak menemukan seseorang > pun yang mau menerima zakat*. Negara benar-benar mengalami surplus, > bahkan sampai ke tingkat dimana utang-utang pribadi dan biaya pernikahan > warga pun ditanggung oleh negara. > > Memulai dari Diri Sendiri, Keluarga dan Istana Umar Bin Abdul Aziz > menyadari dengan baik bahwa ia adalah bagian dari masa lalu. Ia tidak > mungkin sanggup melakukan perbaikan dalam kehidupan negara yang luas > kecuali kalau ia berani memulainya dari dirinya sendiri, kemudian > melanjutkannya pada keluarga intinya dan selanjutnya pada keluarga istana > yang lebih besar. Maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah > membersihkan dirinya sendiri, keluarga dan istana kerajaan. Dengan tekad > itulah ia memulai sebuah reformasi besar yang abadi dalam sejarah. > > Begitu selesai dilantik Umar segera memerintahkan mengembalikan seluruh > harta pribadinya, baik berupa uang maupun barang, ke kas negara, termasuk > seluruh pakaiannya yang mewah. Ia juga menolak tinggal di istana, ia tetap > menetap di rumahnya. Pola hidupnya berubah secara total, dari seorang > pencinta dunia menjadi seorang zahid yang hanya mencari kehidupan akhirat > yang abadi. Sejak berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi > makanan enak. Akibatnya, badan yang tadinya padat berisi dan kekar berubah > menjadi kurus dan ceking. > > Setelah selesai dengan diri sendiri, ia melangkah kepada keluarga intinya. > Ia memberikan dua pilihan kepada isterinya, "Kembalikan seluruh perhiasan > dan harta pribadimu ke kas negara, atau kita harus bercerai." Tapi > istrinya, Fatimah Binti Abdul Malik, memilih ikut bersama suaminya dalam > kafilah reformasi tersebut. Langkah itu juga ia lakukan dengan > anak-anaknya. Suatu saat anak-anaknya memprotesnya karena sejak beliau > menjadi khalifah mereka tidak pernah lagi menikmati makanan-makanan enak > dan lezat yang biasa mereka nikmati sebelumnya. Tapi Umar justeru menangis > tersedu-sedu dan memberika dua pilihan kepada anak-anak, "Saya beri kalian > makanan yang enak dan lezat tapi kalian harus rela menjebloskan saya ke > neraka, atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan > masuk surga bersama." > > Selanjutnya, Umar melangkah ke istana dan keluarga istana. Ia > memerintahkan menjual seluruh barang-barang mewah yang ada di istana dan > mengembalikan harganya ke kas negara. Setelah itu ia mulai mencabut semua > fasilitas kemewahan yang selama ini diberikan ke keluarga istana, satu per > satu dan perlahan-lahan. Keluarga istana melakukan protes keras, tapi Umar > tetap tegar menghadapi mereka. Hingga suatu saat, setelah gagalnya berbagai > upaya keluarga istana menekan Umar, mereka mengutus seorang bibi Umar > menghadapnya. > > Boleh jadi Umar tegar menghadapi tekanan, tapi ia mungkin bisa terenyuh > menghadapi rengekan seorang perempuan. Umar sudah mengetahui rencana itu > begitu sang bibi memasuki rumahnya. Umar pun segera memerintahkan mengambil > sebuah uang logam dan sekerat daging. Beliau lalu membakar uang logam > tersebut dan meletakkan daging diatasnya. Daging itu jelas jadi "sate." > Umar lalu berkata kepada sang bibi: "Apakah bibi rela menyaksikan saya > dibakar di neraka seperti daging ini hanya untuk memuaskan keserakahan > kalian? Berhentilah menekan atau merayu saya, sebab saya tidak akan pernah > mundur dari jalan reformasi ini." > > Langkah pembersihan diri, keluarga dan istana ini telah meyakinkan publik > akan kuat political will untuk melakukan reformasi dalam kehidupan > bernegara, khususnya dalam pemberihan KKN. Sang pemimpin telah telah > menunjukkan tekadnya, dan memberikan keteladanan yang begitu menakjubkan. > > http://www.kisah.web.id/tokoh-islam/umar-bin-abdul-aziz-ra-61-101-h.html > > > > Pada masa pemerintahan beliau, kerajaan Umaiyyah semakin kuat tiada > pemberontakan dalaman, kurang berlaku penyelewengan, rakyat mendapat > layanan yang sewajarnya dan menjadi kaya-raya hinggakan Baitulmal penuh > dengan harta zakat kerana *tiada lagi orang yang mahu menerima zakat.* Rakyat > umumnya sudah kaya ataupun sekurang-kurangnya mau berdikari sendiri. Pada > zaman pemerintahan Umar bin Abdul Aziz ra, pasukan kaum muslimin sudah > mencapai pintu kota Paris di sebelah barat dan negeri Cina di sebelah > timur. Pada waktu itu kekausaan pemerintahan di Portugal dan Spanyol berada > di bawah kekuasaannya. > > > > http://opsezi.org/?p=427 > > > > Pada masa dulu zakat yang dikumpulkan di Baitulmaal (Lembaga Amil Zakat > pada saat itu) sangat berpotensi untuk mengentaskan kemiskinan, pada masa > Umar bin Khattab, Muaz bin Jabal yang menjabat sebagai Gubernur di Yaman, > ditunjuk untuk menjadi Ketua Amil Zakat disana. Pada tahun pertama Muaz bin > Jabal mengirimkan 1/3 dari surplus dana zakat ke pemerintahan pusat, lalu > dikembalikan ke Yaman oleh beliau. Pada tahun ke 2, Muaz mengirimkan ½ dari > surplus dana zakat yang terkumpul di baitulmaal. Dan pada tahun ketiga > semua dana zakat dikirimkan ke pemerintahan pusat, karena *sudah tidak > ada lagi orang yang mau menerima dana zakat* dan merasa sebagai mustahik, > akhirnya dana tersebut dialihkan pemanfaatannya ke daerah lain yang masih > minim. Hal tersebut terjadi juga pada masa Umar bin Abdul Aziz, sebagaimana > diriwayatkan oleh Abu Ubaid, bahwa Gubernur Baghdad Yazid bin Abdurrahman > mengirim surat kepada Amirul Mukminin tentang melimpahnya dana zakat di > baitulmaal karena sudah tidak ada lagi yang mau menerima zakat. Lalu Umar > bin Abdul Aziz memerintahkan untuk memberikan upah kepada mereka yang biasa > menerima upah, dijawab oleh Yazid, “kami sudah memberikannya tetapi dana > zakat begitu banyak di baitulmaal, lalu Umar bin Abdul Aziz > menginstruksikan untuk memberikan dana zakat tersebut kepada mereka yang > berhutang dan tidak boros. Yazid pun berkata, “kami sudah bayarkan > hutang-hutang mereka, tetapi dana zakat begitu banyak di baitulmaal”, > kemudian Umar bin Abdul Aziz memerintahkan agar ia mencari orang lajang > yang ingin menikah agar dinikahkan dan dibayarkan maharnya, dijawab lagi > “kami sudah nikahkan mereka dan bayarkan maharnya tetapi dana zakat begitu > banyak di Baitul Maal”. Akhirnya Umar bin Abdul Aziz memerintahkan agar > Yazid bin Abdurrahman mencari seorang yang mempunyai usaha dan kekurangan > modal, lalu memberikan mereka modal tambahan tanpa harus mengembalikannya. > > > > > http://feryusb.blogspot.com/2013/11/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html > > > > Pada tahun kedua Muaz bin Jabal menyerahkan dari surplus zakatnya ke > pemerintah pusat. Dan Subhanallah, pada tahun ketiga Muaz bin Jabal > menyerahkan seluruh pengumpulan dana zakatnya ke pemerintah pusat. Hal ini > dilakukan karena sudah tidak ada lagi orang yang mau menerima zakat dan > disebut sebagai mustahik, sehingga kebijakan pemerintah pusat mengalihkan > distribusi dana tersebut pada daerah lain yang masih miskin. > > > > > http://www.telagahikmah.com/kisah/apakah-betul-umar-bin-abdul-aziz-menghabisi-kemiskinan > > > > Dalam rentang waktu yang sangat pendek, Umar bin Abdul Aziz berhasil > merubah dunia menjadi seperti “surga“. Hanya *dalam tempo lebih kurang > 2,5 tahun tidak ada orang miskin yang mau menerima zakat.* Kemakmuran itu > tidak hanya dirasakan oleh rakyat yang tinggal berdekatan dengan ibu kota > negara Islam waktu itu, yaitu Damaskus, tapi sampai ke ujung-ujung dan > pelosok Afrika. Kesejahteraan itu juga tidak hanya dinikmati oleh penduduk > muslim, tapi juga dirasakan oleh non muslim. > > > http://shop.pengusahamuslim.com/products-page/buku/buku-khalifah-umar-bin-abdul-aziz/ > > > > *Buku Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Perjalanan Hidup Umar bin Abdul Aziz. * > Mungkin sebagian besar dari kita sudah mengenal sosok Umar bin Abdul > Aziz.Beliau adalah khalifah/pemimpin kaum muslimin yang adil di masa > kepemimpinannya kezhaliman terkikis, menerapkan prinsip musyawarah > mufakat, dan masyarakat terlindungi bahkan seorang kafir dzimmi sekalipun. > Kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz terwujud terutama sebagai karunia dari > Allah dan berawal dari kesungguhannya dalam menuntut ilmu, usaha yang tidak > mengenal lelah dan orientasi yang lurus untuk mengharap wajah Allah Ta’ala > semata. Perbaikan yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz > meliputi berbagai bidang kehidupan baik keagamaan, ekonomi, sosial dan > politik. Hasilnya bisa terlihat dari masyarakat luas yang hidup > berkecukupan baik muslim dan non muslim hidup, sampai-sampai *tak ada > orang yang mau menerima zakat dan sedekah*. Khalifah Umar bin Abdul Aziz > membuktikan bahwa Negara yang berdasar atas syariat islam menjadikan > keadilan tegak, tidak ada tirani mayoritas dan tidak ada minoritas yang > tertindas. Hal ini berbeda dengan orang-orang yang tidak memiliki ilmu yang > menyatakan bahwa negara yang tegak di atas syariat Islam sangat rentan > didera krisis dan masalah. > > > > > http://ittihadboys07.blogspot.com/2011/08/biografi-khalifah-umar-bin-abdul-aziz.html > > > > Khalifah Umar b Abdul Aziz yang terkenal dengan keadilannya telah > menjadikan keadilan sebagai keutamaan pemerintahannya. Beliau mahu semua > rakyat dilayan sama adil tidak mengira keturunan dan pangkat supaya > keadilan dapat berjalan dengan sempurna. Keadilan yang beliau perjuangan > adalah menyamai keadilan di zaman datuknya, Khalifah Umar Al-Khatab ! yang > sememangnya dinanti-nantikan oleh rakyat yang selalu ditindas oleh pembesar > yang angkuh dan zalim sebelumnya. > > Beliau juga dijuluki umar yang kedua kerana beliau banyak mengamalkan > cara-cara yang pemerintahkan yang telah dijalankan oleh datujnya itu dahulu > “Umar bin khattab”. > > Beliau akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah memerintah > selama 2 tahun 5 bulan > > 2 tahun 5 bulan satu tempoh yang terlalu pendek bagi sebuah pemerintahan. > > Tetapi Khalifah Umar b Abdul Aziz telah membuktikan sebaliknya. Dalam > tempoh tersebut, kerajaan Umaiyyah semakin kuat tiada pemberontakan > dalaman, kurang berlaku penyelewengan, rakyat mendapat layanan yang > sewajarnya dan menjadi kaya-raya hinggakan Baitulmal penuh dengan harta > zakat kerana *tiada lagi orang yang mahu menerima zakat*, kebanyakannya > sudah kaya ataupun sekurang-kurangnya boleh berdikari sendiri. > > Semua ini adalah jasa Khalifah Umar b Abdul Aziz yang sangat masyhur, adil > dan warak yang wajar menjadi contoh kepada pemerintahan zaman moden ini, > hanya *852* *hari*dapat mengubah sistem pemerintahan ke arah pemerintahan > yang diredahi Allah dan menjadi contoh sepanjang zaman, satu rekod yang > sukar diikuti oleh orang lain melainkan ornag yang benar-benar ikhlas. > > > http://ittihadboys07.blogspot.com/2011/08/biografi-khalifah-umar-bin-abdul-aziz.html > > > > *Mengupas sejarah reformasi kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, dan mengapa > kita gagal?* > > Umar Bin Abdul Aziz muncul di persimpangan sejarah umat Islam di bawah > kepemimpinan dinasti Bani Umayyah. Pada penghujung abad pertama hijriyah, > dinasti ini memasuki usianya yang keenam puluh, atau dua pertiga dari > usianya, dan telah mengalami pembusukan internal yang serius. Umar sendiri > adalah bagian dari dinasti ini, hampir dalam segala hal. Walaupun pada > dasarnya ia seorang ulama yang telah menguasai seluruh ilmu ulama-ulama > Madinah, tapi secara pribadi ia juga merupakan simbol dari gaya hidup > dinasti Bani Umayyah yang korup, mewah dan boros. > > Itu membuatnya tidak cukup percaya diri untuk memimpin ketika keluarga > kerajaan memintanya menggantikan posisi Abdul Malik Bin Marwan setelah > beliau wafat. Bukan saja karena persoalan internal kerajaan yang kompleks, > tapi juga karena ia sendiri merupakan bagian dari persoalan tersebut. Ia > adalah bagian dari masa lalu. Tapi pilihan atas dirinya, bagi keluarga > kerajaan, adalah sebuah keharusan. Karena Umar adalah tokoh yang paling > layak untuk posisi ini. > > Ketika akhirnya Umar menerima jabatan ini, ia mengatakan kepada seorang > ulama yang duduk di sampingnya, Al-Zuhri, “Aku benar-benar takut pada > neraka.” Dan sebuah rangkaian cerita kepahlawanan telah dimulai dari sini, > dari ketakutan pada neraka, saat beliau berumur 37 tahun, dan berakhir dua > tahun lima bulan kemudian, atau ketika beliau berumur 39 tahun, dengan > sebuah fakta: reformasi total telah dilaksanakan, keadilan telah ditegakkan > dan kemakmuran telah diraih. > > Ulama-ulama kita bahkan menyebut Umar Bin Abdul Aziz sebagai pembaharu > abad pertama hijriyah, bahkan juga disebut sebagai khulafa rasyidin kelima. > Mungkin indikator kemakmuran yang ada ketika itu tidak akan pernah terulang > kembali, yaitu ketika para amil zakat berkeliling di > perkampungan-perkampungan Afrika, tapi *mereka tidak menemukan seseorang > pun yang mau menerima zakat*. Negara benar-benar mengalami surplus, > bahkan sampai ke tingkat dimana utang-utang pribadi dan biaya pernikahan > warga pun ditanggung oleh negara. > > Memulai dari Diri Sendiri, Keluarga dan Istana > > Umar Bin Abdul Aziz menyadari dengan baik bahwa ia adalah bagian dari masa > lalu. Ia tidak mungkin sanggup melakukan perbaikan dalam kehidupan negara > yang luas kecuali kalau ia berani memulainya dari dirinya sendiri, kemudian > melanjutkannya pada keluarga intinya dan selanjutnya pada keluarga istana > yang lebih besar. Maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah > membersihkan dirinya sendiri, keluarga dan istana kerajaan. Dengan tekad > itulah ia memulai sebuah reformasi besar yang abadi dalam sejarah. > > Begitu selesai dilantik Umar segera memerintahkan mengembalikan seluruh > harta pribadinya, baik berupa uang maupun barang, ke kas negara, termasuk > seluruh pakaiannya yang mewah. Ia juga menolak tinggal di istana, ia tetap > menetap di rumahnya. Pola hidupnya berubah secara total, dari seorang > pencinta dunia menjadi seorang zahid yang hanya mencari kehidupan akhirat > yang abadi. Sejak berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi > makanan enak. Akibatnya, badan yang tadinya padat berisi dan kekar berubah > menjadi kurus dan ceking. > > Setelah selesai dengan diri sendiri, ia melangkah kepada keluarga intinya. > Ia memberikan dua pilihan kepada isterinya, “Kembalikan seluruh perhiasan > dan harta pribadimu ke kas negara, atau kita harus bercerai.” Tapi > istrinya, Fatimah Binti Abdul Malik, memilih ikut bersama suaminya dalam > kafilah reformasi tersebut. Langkah itu juga ia lakukan dengan > anak-anaknya. Suatu saat anak-anaknya memprotesnya karena sejak beliau > menjadi khalifah mereka tidak pernah lagi menikmati makanan-makanan enak > dan lezat yang biasa mereka nikmati sebelumnya. Tapi Umar justeru menangis > tersedu-sedu dan memberika dua pilihan kepada anak-anak, “Saya beri kalian > makanan yang enak dan lezat tapi kalian harus rela menjebloskan saya ke > neraka, atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan > masuk surga bersama.” > > Selanjutnya, Umar melangkah ke istana dan keluarga istana. Ia > memerintahkan menjual seluruh barang-barang mewah yang ada di istana dan > mengembalikan harganya ke kas negara. Setelah itu ia mulai mencabut semua > fasilitas kemewahan yang selama ini diberikan ke keluarga istana, satu per > satu dan perlahan-lahan. Keluarga istana melakukan protes keras, tapi Umar > tetap tegar menghadapi mereka. Hingga suatu saat, setelah gagalnya berbagai > upaya keluarga istana menekan Umar, mereka mengutus seorang bibi Umar > menghadapnya. Boleh jadi Umar tegar menghadapi tekanan, tapi ia mungkin > bisa terenyuh menghadapi rengekan seorang perempuan. Umar sudah mengetahui > rencana itu begitu sang bibi memasuki rumahnya. Umar pun segera > memerintahkan mengambil sebuah uang logam dan sekerat daging. Beliau lalu > membakar uang logam tersebut dan meletakkan daging diatasnya. Daging itu > jelas jadi “sate.” Umar lalu berkata kepada sang bibi: “Apakah bibi rela > menyaksikan saya dibakar di neraka seperti daging ini hanya untuk memuaskan > keserakahan kalian? Berhentilah menekan atau merayu saya, sebab saya tidak > akan pernah mundur dari jalan reformasi ini.” > > Langkah pembersihan diri, keluarga dan istana ini telah meyakinkan publik > akan kuat political will untuk melakukan reformasi dalam kehidupan > bernegara, khususnya dalam pemberihan KKN. Sang pemimpin telah telah > menunjukkan tekadnya, dan memberikan keteladanan yang begitu menakjubkan. > > Gerakan Penghematan > > Langkah kedua yang dilakukan Umar Bin Abdul Aziz adalah penghematan total > dalam penyelenggaraan negara. Langkah ini jauh lebih mudah dibanding > langkah pertama, karena pada dasarnya pemerintah telah menunjukkan > kredibilitasnya di depan publik melalui langkah pertama. Tapi dampaknya > sangat luas dalam menyelesaikan krisis ekonomi yang terjadi ketika itu. > > Sumber pemborosan dalam penyelenggaraan negara biasanya terletak pada > struktur negara yang tambun, birokrasi yang panjang, administrasi yang > rumit. Tentu saja itu disamping gaya hidup keseluruhan dari para > penyelenggara negara. Setelah secara pribadi beliau menunjukkan tekad untuk > membersihkan KKN dan hidup sederhana, maka beliau pun mulai membersihkan > struktur negara dari pejabat korup. Selanjutnya beliau merampingkan > struktur negara, memangkas rantai birokrasi yang panjang, menyederhanakan > sistem administrasi. Dengan cara itu negara menjadi sangat efisien dan > efektif. > > Simaklah sebuah contoh bagaimana penyederhanaan sistem administrasi akan > menciptakan penghematan. Suatu saat gubernur Madinah mengirim surat kepada > Umar Bin Abdul Aziz meminta tambahan blangko surat untuk beberapa keperluan > adminstrasi kependudukan. Tapi beliau membalik surat itu dan menulis > jawabannya, “Kaum muslimin tidak perlu mengeluarkan harta mereka untuk > hal-hal yang tidak mereka perlukan, seperti blangko surat yang sekarang > kamu minta.” > > > > Redistribusi Kekayaan Negara > > Langkah ketiga adalah melakukan redistribusi kekayaan negara secara adil. > Dengan melakukan restrukturisasi organisasi negara, pemangkasan birokrasi, > penyederhanaan sistem administrasi, pada dasarnya Umar telah menghemat > belanja negara, dan pada waktu yang sama, mensosialisasikan semangat bisnis > dan kewirausahaan di tengah masyarakat. Dengan cara begitu Umar memperbesar > sumber-sumber pendapatan negara melalui zakat, pajak dan jizyah. > > Dalam konsep distribusi zakat, penetapan delapan objek penerima zakat atau > mustahiq, sesungguhnya mempunyai arti bahwa zakat adalah sebentuk subsidi > langsung. Zakat harus mempunyai dampak pemberdayaan kepada masyarakat yang > berdaya beli rendah. Sehingga dengan meningkatnya daya beli mereka, secara > langsung zakat ikut merangsang tumbuhnya demand atau permintaan dari > masyarakat, yang selanjutnya mendorong meningkatnya suplai. Dengan > meningkatnya konsumsi masyarakat, maka produksi juga akan ikut meningkat. > Jadi, pola distribusi zakat bukan hanya berdampak pada hilangnya kemiskinan > absolut, tapi juga dapat menjadi faktor stimulan bagi pertumbuhan ekonomi > di tingkat makro. > > Itulah yang kemudian terjadi di masa Umar Bin Abdul Aziz. Jumlah pembayar > zaka terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, > bahkan habis sama sekali. Para amil zakat berkeliling di pelosok-pelosok > Afrika untuk membagikan zakat, tapi *tak seorang pun yang mau menerima > zakat*. Artinya, para mustahiq zakat benar-benar habis secara absolut. > Sehingga negara mengalami surplus. Maka redistribusi kekayaan negara > selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi > (swasta), dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang > sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya perkawinan. Suatu > saat akibat surplus yang berlebih, negara mengumumkan bahwa “negara akan > menanggung seluruh biaya pernikahan bagi setiap pemuda yang hendak menikah > di usia muda.” > > > 2015-07-08 14:06 GMT+07:00 Mochtar Naim <[email protected]>: > >> Kawan2, >> Menarik juga membaca kembali tulisan yang pernah ditulis, seperti >> yang saya ungkapkan kembali ini. Apalagi karena topiknya masih saja >> menggiurkan: Korupsi! >> Silahkan baca yang saya lampirkan ini kalau lai manyalero. Kalau >> paralu tanggapi. >> Salam manjalang ari rayo. >> MN 08/07/15 >> > >
