Iyo MakNgah, sebetulnya tentang DIM (Daerah Istimewa Madura) ini hanya intermeso saja.
Tetapi kalau akronim DIM ini mau dikaji lebih serius berdasarkan "konvensi penamaan" Daerah Istimewa, Daerah Khusus dan Otonomi Khusus yang sudah ada selama ini, maka sebelumnya akronim DIM lebih cocok untuk Daerah Istimewa Madura, bukan Daerah Istimewa Minangkabau. Untuk yang terakhir lebih cocok sebutan Daerah Istimewa Sumatra Barat. Dan ini alasannya: 1. Pola penamaan DI itu kalau kita cermati benar, sebetulnya mengacu pada wilayah admistratif, bukan pada etnis yang berdiam pada wilayah administratif itu. Contohnya: Daerah Istimewa Jogjakarta (mengacu pada wilayah administratif, bukan Daerah Istimewa Jawa, yang menjadi etnis dominan), atau Daerah Khusus Ibukota Jakarta (bukan Daerah Khusus Betawi). 2. Kalau pun ada nama DI yang sepintas mengacu pada nama etnis seperti DI Aceh atau DI (Otsus) Papua, maka alasan utamanya adalah karena nama provinsi mereka pun SAMA dengan nama etnis dominan yang turun temurun bermukim di wilayah administratif itu. Seperti kita ketahui, untuk Aceh, misalnya, ada sedikitnya 12 suku di sana (yang origin, selain suku Aceh sendiri, seperti suku Alas, Gayo, dll). Dengan kata lain, KELIRU jika menafsirkan nama DI Aceh itu mengacu pada ETNIS Aceh, karena sesungguhnya nama itu mengacu pada wilayah administratif Aceh di masa silam (sebelum namanya kini menjadi lebih panjang: Nanggroe Aceh Darussalam). 3. Bisa juga kita hipotesiskan, sebagai contoh saja, sekiranya ada semangat yang sama dari warga Sumatra Utara atau Sulawesi Selatan untuk membentuk Daerah Istimewa juga. Seandainya keinginan itu gol, kira-kira nama apa yang akan mereka pakai: A. Daerah Istimewa Batak dan Daerah Istimewa Makassar/Bugis, atau B. Daerah Istimewa Sumatra Utara dan Daerah Istimewa Sulawesi Selatan? Jawabannya sederhana: dengan mengikuti konvensi penamaan pada poin 1 dan 2, sudah jelas jawabannya B. Nama yang akan muncul adalah DI Sumatra Utara dan DI Sulawesi Selatan. Karena itulah dengan melihat pola ini, akronim DIM akan lebih cocok digunakan oleh Daerah Istimewa Madura tersebab mengacu pada nama wilayah administratif, yang kebetulan sama dengan nama mayoritas etnis penghuni, layaknya dalam contoh DI Aceh. Nama DIM untuk Daerah Istimewa Minangkabau, berdasarkan contoh-contoh di atas, justru tidak pas karena seharusnya bernama Daerah Istimewa Sumatra Barat, apalagi jelas yang diinginkan adalah bahwa bagian wilayah provinsi Sumbar sebelum ini pun seperti Mentawai tetap berada dalam wilayah Daerah Istimewa yang diinginkan. Sebetulnya, kekaburan memaknai konsep nama Daerah Istimewa ini (bukan konsep legalitas hukum dalam UUD Ps. 18 yang berulangkali disampaikan para pengusung "DIM") ini yang membuat selalu muncul dua pertanyaan utama: 1. Kalau namanya Daerah Istimewa Minangkabau, nanti Mentawai bagaimana karena mereka bukan suku Minang? 2. Kalau namanya DI Minangkabau, bagaimana pula dengan suku Minangkabau yang bermukim di LUAR wilayah Sumbar yang tersebar dari Riau sampai Malaysia? Walhasil, para pengusung konsep DIM kerepotan sendiri menjelaskan dua pertanyaan yang berkelindan di atas, dengan jawaban akhir selalu: DIM tetap pada wilayah Sumbar dalam konteks NKRI. Dari contoh poin 1-3 di atas, terlihat bahwa para pengusung yang selalu bersemangat mengajak stakeholders Minangkabau di ranah dan rantau untuk melihat contoh sejarah dari DI-DI (dan Otsus) lain yang sudah berdiri, namun pada saat yang sama para pengusung "Daerah Istimewa Minangkabau" bersikap AHISTORIS dengan tidak melihat (mungkin karena abai, atau mungkin sengaja meminggirkan fakta) bahwa seluruh nama DI yang ada (dan pernah ada di Tanah Air ini, seperti Daerah Istimewa Berau atau Daerah Istimewa Surakarta, di awal tahun 50-an), semuanya mengacu pada nama WILAYAH ADMINISTRATIF (provinsi), bukan mengacu pada nama ETNIS (dominan) yang bermukim di wilayah itu. Wassalam, ANB 47, Cibubur Pada 28 Juli 2015 19.34, Sjamsir Sjarif <[email protected]> menulis: > Walaupun tampaknyo Madura agak saulah dalam politik, namun tampaknyo > diperobject oleh etnik tetangga nan bukan sajo gadang dan kuat tapi > mamaciak pusek kareh. Jambatan Suramadu dibuek tampaknyo untuak mampalamja > pengobjekan tu. Ibo hati panguasa malapeh. Indak taraso garamnyo keceknyo. > Walaupun jauah jalan mandaki mungkin juo tacipta DIM Madura tu nanti. > > -- MakNgah > > Caliaklah komentarnyo : > > Menteri Tjahjo: Jatim Tanpa Madura Ibarat Sayur Tanpa Garam > Sabtu, 25 Juli 2015 15:12 WIB > > TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN > Mendagri Tjahjo Kumolo (kiri). > TRIBUNNEWS.COM, BANGKALAN - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo > secara tersirat berat hati melepas Pulau Madura terpisah dari Pulau Jawa. > Itu disampaikannya dalam Musyawarah Besar (Mubes) IV Masyarakat Madura di > Gedung Cakra Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Sabtu (25/7/2015). > "Jatim (Jawa Timur) tanpa Madura ibarat sayur tanpa garam. Pulau Jawa > tanpa Madura tidak lengkap," ungkap Tjahjo Kumolo dalam sambutannya. > Bahkan, ia mengatakan, solusi bagi Madura adalah dengan langkah perceparan > pembangunan di berbagai sektor seperti infratruktur terpadu dan > industrialisasi. > "Tolong sampaikan Pak Wagub (Syailullah Yusuh), percepatlah pembangunan di > Madura. Anggaran di Madura diperbanyak," katanya. > Menurutnya, pembentukan Provinsi Madura tidak cukup dengan keberadaan > Jembatan Suramadu. Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) juga harus > berjalan sejajar. > Apalagi, lanjutnya, Madura mempunyai masyarakat yang tenang dan ulet. > Banyak tokoh ulama dan kunci sukses pembangunan adalah ketenangan. > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari > Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
