Kemungkinan pengaruh sikap cuek dalam musibah Mekkah.
---------- Pesan terusan ----------
Dari: "Salim Said" <[email protected]>
Tanggal: 14 Sep 2015 07:51
Subjek: Fwd: Peristiwa Mekkah
Kepada: "Group Diskusi Kita" <[email protected]>, "alumnas-oot"
<[email protected]>, <[email protected]>, "Tito
Karnavian" <[email protected]>, <[email protected]>
Cc:


---------- Forwarded message ----------
From: Agus Abubakar Arsal <[email protected]>
Date: 2015-09-13 22:20 GMT+07:00
Subject: Peristiwa Mekkah
To: Salim Said <[email protected]>


Peristiwa Mekah

by : shamsi ali

Dalam suasana kesedihan seperti ini memang sebaiknya kita tidak saling
menyakahkan. Yang terbaik adalah saling mendoakan, khususnya untuk korban
dan keluarga mereka, semoga peristiwa ini membawa kebaikan bagi mereka.
Mereka husnul khatimah dan digolongkan ke dalam hamba-hambaNya yang syahid.

Akan tetapi di sisi lain hati yang lagi sedih ini juga cukup terusik.
Betapa tidak, peristiwa demi peristiwa, dari tahun ke tahun kerap terjadi
dan dalam skala yang sangat besar. Sejak peristiwa Mina tahun 1991 yang
menewaskan begitu banyak jamaah haji Indonesia, tramped (saling tabrakan di
Jamarat Mina, kebakaran tenda Mina, hingga ke jatuhnya crane di masjidil
haram kemarin hari.

Memang haqqul yakin bahwa tidak akan terjadi dalam hidup ini kecuali dengan
izin Allah. Tak sehelai daun yang akan terjatuh dari pohonnya kecuali
dengan izinNya jua. Takdir Ilahi memang ada di atas segalanya. Ketika Allah
berkehendak tak satupun yang mampu menolak.

Akan tetapi di satu sisi Allah juga telah menjadikan bahwa taqdirNya tidak
diyakink sebagai sikap apatisme. Sebab itu merupakan satu sisi ekstremisme
dalam menyikapi taqdir. Yaitu percaya jika manusia tidak punya pilihan
terkecuali ikut kepada ketentuan langit. Jika and ingin kaya tidak perlu
kerja. Cukup menunggu kekayaan yang akan turun dari langit. Ini apatisme
dan bukan takdir.

Maka berbagai peristiwa tragis yang terjadi di musin haji itu seharusnya
tidak saja dilihat dari sudut pandang keagamaan (baca takdir). Tapi harus
dilihat secara menyeluruh, termasuk sampai di mana sesungguhnya pihak
penyelenggara haji (pemerintah Saudi) bersungguh-sungguh dalam mencegaj
terjadinya tragedi itu?

Terus terang sebagai seorang Muslim yang telah berhaji berkali-kali, bahkan
ketika masih mahasiswa seringkali menjadi guide haji, baik sebagai temus
(tenaga musim) maupun guide haji untuk travel-travel haji ONH plus. Selama
berkali-kali haji itu sering saya memperhatikan cara kerja petugas haji di
Saudi Arabia yang tersimpulkan dalam satu kata: cuwek.

Jika anda turun dari pesawat dan memasuki area imigrasi anda akan merasakan
sikap cuwek dan kurang peduli ini. Sedemikian letihnya jamaah, tapi
seringkali petugas imimgrasi sibuk ngobrol di antara mereka. Banyak jamaah
yang tidak paham bahasa atau Inggris, tapi hampir tidak ada yang membantu
mereka apa yang harus dilakukan.

Sikap cuwek atau tepatnya tidak jeli dan teliti serta hati-hati, saya
yakin, menjadi penyebab terjadinya peristiwa-peristiwa tragis dari masa ke
masa. Dan pihak penyelenggara hanya akan serius menanganinya ketika
peristiwa tragis itu terjadi. Sehingga seolah-olah riban nyawa manusia itu
harus menjadi "percobaan" terlebih dahulu untuk dilakukannya perbaikan.

Terowongan Mina dijadikan dua arah setelah ratusan bahkan ribuan nyawa
melayang. Pelebaran tempat pelemparam (Jamarat) di Mina tidak diperluas
jika tidak terjadi desakan yang membawa maut. Jika bukan karena kebakaran
yang merenggut nyawa banyak jamaah Asia Selatan ketika itu kemah permanen
tidak akan dipasang.

Demikian juga dengan peristiwa jatuhnya crane ini. Kalau saja bukan karena
jatuhnya di saat musim haji mungkin "dicuwekin" saja. Pihak penyelenggara
tidak memikirkan keamanan jamaah, padahal crane bisa jatuh kapan saja walau
bukan karena angin keras.

Seharusnya jauh sebelum jamaah berdatangan crane itu sudah diamankan ke
daerah tertentu sehingga meyakinkan bahwa jamaah aman. Masalahnya sekali
lagi adakah perhatian akan keamanan jamaah?

Akhirnya semua ini ada di tangan otoritas Saudi Arabia. Akan tetapi
alangkah baiknya jika dalam organisasi OKi sudah mulai disuarakan agar
dunia Islam dilibatkan dalam pengurusan haji ini. Minimal pada posisi
"Advisories" yang berfungsi memberikan masukan kepada pihak Saudi dalam
penyelenggaraan haji.

Tapi apakah itu memungkinkan? Rasanya hampir mustahil karena Saudi sendiri
tidak merasa perlu bantuan dunia Islam (Amerika juga tidak karena ini
urusan agama). Dan yang terpenting dalam urusan haji dunia Islam lainnya
yang butuh Saudi dan bukan sebaliknya. So?
-- M Shamsi Ali, Imam Masjid New York

-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "diskusi kita" di Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
kirim email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke