DIM (DAERAH ISTIMEWA MINANGKABAU), BUKAN DAERAH ISTIMEWA SUMATERA BARAT 
Mochtar Naim21 Sep 2015   
|  
  |

SEJARAH bergerak dan berubahterus. Dan sejarahpun berulang: L’histoirec’est 
repete, kata wong sana. Sebelumnya,di zaman penjajahan Belanda, bernama 
Residentie Soematra’s West Kust(Keresidenan Pantai Barat Sumatera).  
Sebelumpenjajahan bernama Kerajaan Minangkabau. Karena pusatnya di Pagaruyung, 
TanahDatar, maka biasa juga dinamakan Kerajaan Minangkabau Pagaruyung, 
ataudisingkat Kerajaan Pagaruyung. Daerah kuasanya pernah luas sekali. 
Mencakupbagian besar pulau Sumatera: bagian Barat dan Timur dari Aceh, bagian 
TimurSumatera Utara sekarang, pedalaman Riau dan Jambi, bagian Utara Bengkulu, 
sampaike seberang Selat Melaka, ke Melaka, Negeri Sembilan.            Itu 
wilayah politik-pemerintahannya. Wilayah sosial-budayanyajauh lebih luas lagi. 
Pernah sampai ke Brunai, di Borneo. Sampai ke Sulu danMindanau di Filipina. 
Pendiri kota Manila adalah Sultan Solaiman berdarahMinangkabau. Sampai ke 
daerah Bugis-Makasar di Sulawesi Selatan, dan daerahSulawesi bagian Tengah dan 
Utara, pengembang Islam adalah ulama-ulama dariMinangkabau. Madagaskar di 
Afrika bahkan pernah di bawah kawasan budayamatrilineal Minangkabau.            
Sekarang setelah kemerdekaan ini, Sumbar pernah bahagiandari Provinsi Sumatera; 
kemudian jadi Provinsi Sumatera Tengah, dan sekarangProvinsi Sumatera Barat.    
          Dengan Provinsi Sumatera Barat yang merupakan bahagianyang integral 
dari NKRI, kitapun ikut gelombang naik dan turunnya. Sampaiperistiwa PRRI di 
akhir 1950an, Sumbar baik sebagai wilayah politik maupunwilayah 
sosial-budayanya, menaik dan menanjak terus, sehingga bahagian banyakdari 
pentolan-pentolan nasional di bidang apapun berasal dari 
Minangkabau-SumateraBarat. Melalui budaya merantau, orang Minangpun banyak 
memberi sumbangan dan bimbingankepada masyarakat lokal sisi-sisi pencerahan 
budaya, agama dan pendidikan. Tapisejak kalahnya PRRI sampai sekarang ini, 
sudah lebih setengah abad, meluncurterus, sampai oleh Pusat Biro Statistik 
(PBS) tingkat cakupannya sekarang beradadi tingkat ketiga dari 34 provinsi, 
bukan dari atas, tapi dari bawah, sesudahNTT dan Papua. Masya Allah!            
Sumatera Barat sekarang ini berada di daerah lampukuning, ya ekonomi, politik, 
sosial budaya, dsb. Sisi-sisi suramnya yang selamaini tak dikenal, sekarang 
dikenal. Mau bicara tentang korupsi, kolusi dannepotisme, semua ada dan 
menyeramkan. Bicara tentang kebobrokan akhlaq, moral dansusila,  jangan dikata, 
semua ada.Bagaimana di tempat lain di Indonesia ini, di Sumbar semua pantangan 
itu jugaada.            Jelas, Sumatera Barat, sekadar 
mengikutiketentuan-ketentuan secara nasional di bidang hukum dan 
ketentuanperundang-undangan, tidak mempan; kecuali, di samping itu,  
dihidup-aktifkan kembali nilai-nilai adat,syarak dan agama yang selama ini 
sudah diabaikan, sekarang diaktifkan kembalidan menjadi bahagian yang esensial 
dari pola perbaikan kembali nilai sosialyang sudah rusak itu. Tegasnya, nilai 
sosial yang kita sebut-sebut selama initetapi tidak dipraktekkan dan tidak 
diacuhkan, dihidup-suburkan kembali. Nilaiitu ialah filosofi ABS-SBK, yang 
memadu secara integral antara adat dan syarak,dan sekaligus juga memadu semua 
yang baik dari manapun datangnya.            Karena ABS-SBK adalah nilai 
filosofi yang esensial daribudaya Minangkabau, maka secara sadar dan terencana 
kita hidup-aktifkan kembalinilai filosofi ABS-SBK itu. Ketentuan-ketentuan yang 
berlaku dalam nilaiABS-SBK itu kita fungsikan kembali secara sadar dan aktif di 
semua sisikehidupan, ya politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dsb. 
Karena ABS-SBKadalah naluri budaya yang khas Minangkabau, maka dengan 
kekhasannya itu, sesuaidengan ketentuan konstitusi dan perundang-undangan yang 
ada, kita mengajukanpermohonan kepada pemerintah pusat melalui Presiden, 
pimpinan MPR/DPR/DPD RI,untuk menjadikan Provinsi Sumatera Barat menjadi Daerah 
Istimewa Minangkabau(DIM), seperti halnya dengan Aceh, Jogya, Jakarta dan 
Papua. Kita sengaja pakaikata “Minangkabau” itu untuk mentahkikkan dan 
memastikan bahwa nilai budayautama yang kita praktekkan adalah nilai budaya 
ABS-SBK yang bersumber daribudaya Minangkabau itu, yang “Adatnya bersendi 
Syarak, dan Syarak bersendiKitabullah Al Qur’anul Karim.”            Kita tidak 
pilih dan pakai istilah “Daerah IstimewaSumatera Barat,” seperti yang diajukan 
oleh Buya Mas’ud Abidin Jabbar melaluiungkapan saudaranya, A Rahim Jabbar, 
karena kata “Sumatera Barat” atau “Sumbar”itu sejak semula hanyalah sekadar 
penyebutan wilayah administratif-teritorialbelaka yang menggambarkan lokasi 
geografisnya: Sumatera Barat. Sementara denganDIM (Daerah Istimewa Minangkabau) 
langsung kita tancapkan sekali esensi dansaripati dari sistem sosial dan 
budayanya, yaitu Minangkabau itu.            Bahwa secara historis maupun 
sosiologis, kendati wilayah budayanyasampai pernah sebegitu luas, seperti 
digambarkan di atas, kita tetapmempergunakan nama Minangkabau dengan DIM itu 
karena yang kita ambil adalahkekhasan budayanya itu yang sangat-sangat kita 
perlukan dan dambakan dalammengembalikan marwah kebesaran nama Minangkabau itu 
dan sekaligus sebagaikhasiat budaya untuk memperbaiki keadaan ranah Minang yang 
sudah sangatmengkhawatirkan itu. Bahwa wilayah budaya Minangkabau pernah 
melebar sampai keberbagai bagian Dunia Nusantara bahkan lebih jauh lagi, itu 
adalah catatansejarah yang tertulis dengan tinta emas.  Wilayah-wilayah itu 
sekarang ada di lokasiadministratifnya masing-masing yang terpencar-pencar, 
walau sisi sosial-budayanyabanyak yang masih melanjutkan yang dahulu yang 
berkiblat ke Minangkabau. Ternyata,memang, filosofi ABS-SBK tidak hanya diikuti 
dan dianut di Sumbar diMinangkabau saja, tetapi juga di banyak dunia Melayu 
lainnya yang dasarnyaadalah sama, yaitu sintetisme antara adat dan budaya 
Melayu yangdemokratis-egaliter dan syarak Islam yang sakral-theokratis yang 
berpunca kepadaKitabullah, Al Qur’anul Karim. Kita mengedepankan unsur 
syaraknya, denganprinsip: Adat yang sejalan dengan Syarak dipakai, yang tak 
sejalan, dibuang.             Marilah, ke depan, di samping ranah Minang adalah 
tetapbahagian yang integral dari NKRI, yang kontribusinya dalam pembentukan 
NKRI itusendiri tidak terpermanai, seperti berlebih dari yang lainnya, kita 
yang beradadi ranah dan di seluruh dunia rantau di manapun, seia-sekata dan 
bersatu-padudalam membangun Minangkabau ke masa depan dalam konteks DIM yang 
kita angan daninginkan itu. Dengan itu kita hidupkan kembali nilai filosofi 
dari ABS-SBK yangberlaku aktif dan efektif di semua sisi kehidupan, ya politik, 
ekonomi,sosial-budaya, pendidikan, agama, dsb. Marilah,untuk itu semua kita 
bersatu hati menyuarakan dan melantunkannya dalam sebuahKongres Minangkabau 
yang akan kita adakan sesudah selesainya Pilkada Des 2015ini di bahagian awal 
dari 2016 yad.            Kiranya Allah swt meridhai dan memberkatinya, Amin! 
***

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke