Assalamu'alaikum,wr,wb.

Dunsanak sadonyo (sadayana),

Tulisan berikut ambo forwardkan untuak manambah pengetahuan kito.

Kapado dunsanak Bobby, semoga capek sembuh. Jan lupo banyak minum Juice
Jambu Biji (komo). Ado istilah "Komo disubaliak daun", apo lah artinyo Mak
Ngah.

Best Regards,
Mulyadi

Tenaga bantuan Engineer dari PT.Pusri pada :

Mechanical Dept. 
PT. REKAYASA INDUSTRI - Jakarta
Jl.Kalibata Timur I No.36, Jakarta - 12740
Phone : +62-21-7988700 ext. 2215
Fax     : +62-21-7988701
email   : [EMAIL PROTECTED]
atau  : [EMAIL PROTECTED]


-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: 01 April 2008 13:17
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Fwd: FYI : Demam dan trombosit turun = demam berdarah ?]

---------------------------- Original Message ----------------------------
Subject: FYI : Demam dan trombosit turun = demam berdarah ?
From:    "Aziz Siregar" <aziz.siregar@>
Date:    Thu, February 21, 2008 11:06 am
--------------------------------------------------------------------------

http://anakkublog.blogspot.com/

Demam dan trombosit turun = demam berdarah ?

Dr. Alan R. Tumbelaka, SpA(K)
Divisi Infeksi dan Penyakit Tropik
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM

Artikel Majalah Anakku Januari 2006

" Dok, anak saya gak kena demam berdarah kan?" tanya Mira saat berkonsultasi
dengan dokter anaknya sore itu. Anaknya sudah demam tinggi sejak kemarin
malam dan Mira khawatir ini bukan demam biasa. Ibunya tadi malam sudah
mewanti-wanti. "Buruan di bawa ke dokter, takut demam berdarah," temannya
pun menasehatkan." Periksa saja trombositnya, jangan-jangan demam berdarah,
sekarang lagi musim lho." Mira bertambah panik, apalagi setelah melihat
siaran televisi bahwa banyak korban meninggal karena demam berdarah.

Mira kurang puas ketika dokter menjelaskan bahwa anaknya baru mengalami
demam selama satu hari, jadi belum bisa dipastikan apakah anaknya demam
berdarah atau tidak. "Dok, tidak apa-apa deh anak saya diperiksa darahnya,
yang penting bisa ketahuan demam berdarah atau bukan."

Episode ini pasti sering terdengar di balik bilik konsultasi. Benarkah demam
tinggi mendadak berarti demam berdarah? Mengapa ada kasus yang begitu berat
hingga pasien meninggal dunia, tetapi mengapa pula ada yang ringan saja?
Apakah trombosit turun sudah jaminan bahwa anak terkena demam berdarah?Demam
berdarah disebabkan virus dengue sehingga disebut sebagai demam berdarah
dengue (DBD). Virus dengue terdiri dari empat jenis atau strain yaitu dengue
tipe 1, 2, 3, dan 4. Virus ini dapat menginfeksi manusia lewat nyamuk Aedes
Aegipty atau Aedes Albopictus. Nyamuk ini kakinya belang-belang putih-hitam
dan mengigitnya justru di siang hari.
Tidak semua orang yang terkena virus dengue akan mengalami demam dengan
gejala berat, sebagian lagi hanya sakit ringan.

Mengenal lebih dalam demam berdarah

Sudah banyak teori yang coba menjelaskan mengapa pada anak yang satu bisa
mengalami demam berdarah yang berat sedangkan pada anak lain tidak. Salah
satu teori mengatakan, bila kita terinfeksi virus dengue 2 kali dengan
strain yang berbeda, penyakit yang muncul akan lebih parah. Teori yang lain
menyebutkan si virus dengue punya "sifat ganas" yang berbeda-beda.
Ini menjelaskan mengapa pada bayi yang baru terkena virus dengue satu kali
saja langsung menjadi demam berdarah yang fatal.

Di Indonesia dengan iklim tropis dan curah hujan tinggi, DBD sudah menjadi
"langganan" setiap tahun. Angka kejadiannya paling tinggi pada musim
penghujan yaitu sekitar bulan Februari, Maret, dan April. Di pedesaan,
peningkatan kasus sudah mulai terjadi di bulan Desember, sedangkan untuk
perkotaan, puncak terjadi pada bulan Mei-Juni.

Gejala
Bisa dimengerti mengapa Mira tidak puas mendengar jawaban dokter. Bila demam
baru satu hari, demam berdarah memang sulit dibedakan dengan demam yang
disebabkan penyakit lain seperti influenza, sakit tenggorokan, atau tipes
karena gejalanya amat mirip.

WHO pada tahun 1997 telah membuat pedoman yang bisa membuat kita curiga
adanya demam berdarah:

  1.. Demam mendadak tinggi 2-7 hari
  2.. Adanya gejala perdarahan, misalnya bintik-bintik merah di kulit yang
tidak hilang meski kulit diregangkan, gusi berdarah, mimisan, dan tinja
berdarah. Bintik-bintik merah di kulit bisa muncul sendiri atau dibuat
muncul dengan uji bendung. Biasanya uji bendung dilakukan dengan menggunakan
alat pengukur tekanan darah yang digembungkan di seputar lengan hingga
pembuluh darah tertekan. Bila positif, akan muncul bintik-bintik merah.
  3.. Ada pembesaran hati.
  4.. Terjadi syok: denyut nadi lemah dan cepat, tekanan darah turun, anak
gelisah, tangan dan kaki dingin.
  5.. Pemeriksaan laboratorium: trombosit turun dan terjadi kenaikan
kekentalan darah. Ditandai dengan trombosit kurang dari 100.000/µl dan
hematokrit meningkat 20% lebih tinggi dari normal.

Trombosit turun belum pasti demam berdarah Pemeriksaan Trombosit dan
hematokrit merupakan tes awal sederhana yang bisa membuat kita curiga adanya
demam berdarah. Trombosit adalah sejenis sel darah yang diperlukan untuk
pembekuan darah. Jika nilainya turun, maka tubuh menjadi mudah berdarah
seperti mimisan, gusi berdarah, dan sebagainya. Jumlah trombosit yang normal
adalah sekitar 150-200.000/ µl.
Ingatlah bahwa trombosit yang turun bisa pula terjadi pada penyakit lain
seperti campak, demam chikungunya, infeksi bakteri seperti tipes, dan
lain-lain. Pada demam berdarah, trombosit baru turun setelah 2-4 hari.
Bila demam baru satu hari sedangkan trombosit sudah turun, patut dicurigai
apakah laboratoriumnya yang salah, orang tua salah menghitung hari demam,
atau penyakit itu bukan DBD.

Hematokrit menunjukkan kadar sel darah merah dibandingkan jumlah cairan
darah. Untuk anak Indonesia, nila Hematokrit yang normal adalah sekitar
37-43%. Pada DBD, hematokrit meningkat. Lha kita kan tidak tahu nilai
hematokrit anak sebelum sakit? Untuk mudahnya, ambil saja patokan bahwa
nilai hematokrit lebih dari 40% dianggap sebagai meningkat. Apalagi kalau
lebih dari 43%. Mengapa hematokrit meningkat? Karena terjadi perembesan
cairan ke luar dari pembuluh darah sehingga darah menjadi lebih kental.
Hematokrit yang meningkat merupakan hal penting karena dapat membedakan DBD
dengan infeksi virus yang lain.

Untuk lebih pastinya, demam berdarah memerlukan pemeriksaan yang lebih
khusus seperti menemukan virus dengue, atau uji reaksi antibodi dan antigen.

Pemeriksaan darah terlalu dini tidak banyak gunanya

Pemeriksaan darah yang dilakukan terlalu dini (misalnya demam baru satu
hari) belum bisa memperkirakan apakah benar anak terkena DBD, karena
trombosit dan hematokrit masih normal. Bila demam telah berlangsung sekitar
3-4 hari, barulah hematokrit meningkat dan trombosit mulai menurun.
Terkadang, pemeriksaan ditambah pula dengan tes Widal untuk menyingkirkan
tipes (seperti yang ditawarkan berbagai paket laboratorium), padahal ini
belum diperlukan sebelum 7 hari.

Masa kritis

Prinsipnya, orang tua harus benar-benar menghitung hari, sejak kapan anaknya
demam. Satu hari berarti satu hari penuh atau 24 jam setelah mulainya demam.
Karena dengan begitu, bisa ditentukan kapan anak masuk dalam fase kritis
yang merupakan momok mengerikan pada DBD. Pada DBD, demam biasanya akan
turun setelah berlangsung 3-4 hari. Namun, justru pada saat demam turun anak
dapat masuk ke masa kritis, atau sebaliknya sembuh tanpa komplikasi apapun.

Orang tua justru harus waspada pada saat demamnya turun. Pada anak yang
masuk masa kritis, pada saat demam turun, ujung-ujung jari teraba dingin,
denyut nadi kecil dan cepat serta tekanan darah menurun dan anak tampak
lemas. Semua ini terjadi akibat cairan merembes ke luar dari pembuluh darah.
Anak seolah-olah kekurangan cairan darah dan sirkulasi tubuh menjadi gagal
berfungsi. Akhirnya anak mengalami syok. Tandanya, kulit teraba dingin
terutama ujung jari dan kaki, biru di sekitar mulut, anak gelisah sekali dan
lemas, nadinya lemah dan cepat bahkan bisa tidak teraba denyutnya.

Selain syok, dapat pula terjadi perdarahan. Yang paling sering adalah
perdarahan saluran cerna, ditandai dengan buang air besar berdarah, akibat
trombosit yang rendah ataupun karena syok yang berkelanjutan. Kedua keadaan
ini memerlukan penanganan sangat serius dan intensif karena merupakan
keadaan sangat gawat.

Namun, untungnya tidak semua anak yang terkena DBD akan mengalami hal yang
seram tersebut. Sebagian besar anak akan cepat kembali normal dan sembuh
seperti sedia kala setelah fase kritis ini lewat.

Apakah harus dirawat?

Penyebab demam kan belum tentu DBD? Jadi anak yang baru demam biasa selama
1 hari tidak perlu dirawat di rumah sakit. Tapi ada catatannya: Orang tua
harus dapat memantau perkembangan penyakit anak di rumah dan kembali kontrol
ke dokter. Di rumah, anak harus dipastikan minum banyak cairan dan dipantau
suhunya setiap hari. Dokter seharusnya meminta orang tua untuk datang
kembali kontrol setelah demam berlangsung 3 hari, dan melakukan pemeriksaan
Hemoglobin, trombosit dan hematokrit setiap hari berikutnya.
Bila hasil laboratorium menunjukkan ada tanda-tanda penurunan trombosit
(kurang atau sama dengan 100.000/µl) atau peningkatan hematokrit (lebih dari
40%), barulah anak harus masuk rumah sakit.

Apalagi kalau setelah 3 hari demam tidak turun juga atau muncul gejala demam
berdarah seperti mimisan, gusi berdarah, muntah, lemah, anak gelisah, jangan
tawar lagi. Segera masuk rumah sakit.

Kapan anakku boleh pulang dari rumah sakit?

Perawatan demam berdarah tidak memerlukan waktu yang lama. Asalkan fase
kritis sudah lewat, orang tua boleh lega. Umumnya, dokter memperbolehkan
pulang bila anak sudah tak demam satu hari tanpa pertolongan obat, nafsu
makannya membaik, anak tampak makin sehat, hematokrit membaik, trombosit
lebih dari 50.000//µl. Dan bila anak mengalami syok, dokter akan
memulangkannya tiga hari setelah masa syok lewat.

MITOS DAN FAKTA DBD

Demam plus perdarahan sama dengan DBD (salah) Diagnosis DBD perlu
memperhatikan kriteria WHO yaitu: ada demam tinggi, ada perdarahan, ada
pembesaran hati, dan perembesan cairan darah.

Bila uji bendung positif sudah pasti DBD (salah) Uji bendung bisa juga
positif pada penyakit lain, bahkan pada anak yang tidak sakit sekalipun.

DBD merupakan penyakit yang hanya menyerang anak-anak (salah) Semua umur
(bayi hingga orang tua) dapat terkena DBD

DBD hanya menyerang orang yang tinggal di perumahan kumuh atau sosial
ekonomi rendah (salah) Semua orang dari kalangan mana pun bisa terkena DBD



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke