Assalamu'alaikum wr.wb.

Rancak untuak dijadikan Kajian

*Penulis : Adjie Subela, Wartawan Senior*

Kita masih sering melihat orang pribumi dengan kacamata “Belanda” dengan
stigma lemah, malas, jahat, dll. Tapi mari kita lihat saat ini, ya, SAAT
INI. Pandangan itu sudah tidak relevan lagi. Sudah semakin banyak orang
pribumi yang maju-maju dalam berbagai bidang termasuk ekonomi yang umumnya
jadi tolok ukur keberhasilan.

Siapa memungkiri keberhasilan pengusaha pribumi seperti Chairul Tanjung,
Hasyim Djojohadikusumo, Nurhadi Sukamdani, Sandiaga Uno, Rachmat Gobel,
keluarga Kalla, dan masih banyak lagi?

Baiklah mereka mungkin pengusaha “beruntung” karena mendapatkan akses
bisnis yang bagus. Tapi etos kerja orang pribumi kian meningkat, baik dari
pembawaan budaya lokal mereka maupun karena lingkungan dan dorongan pribadi
kuat. Banyak yang berhasil.

Saya punya kenalan orang cina pengusaha toko potret. Ia langganan kantor
kami. Pelayanannya hebat, selalu menuruti kemauan kita, berani rugi kalau
menyangkut pelayanan pelanggan. Lama kami tak ketemu. Setelah lima tahun
saya dapatkan tokonya maju sekali. Saya tanya kenapa orang cina banyak yang
berhasil. Jawabannya kena sekali: orang pribumi banyak yang lebih pintar,
tapi kekurangannya satu: TIDAK TEKUN. Kami orang cina hanya memiliki satu
kemampuan, satu bidang saja, tapi kami dalami dan di situ kami pertahankan
hidup atau mati, katanya.

Apakah orang pribumi kini MASIH TIDAK TEKUN? Perlu diamati secara baik.

- WARTEG. Mari kita perendah sudut pandang. Tahun 1972 ketika saya merantau
ke Jakarta, orang pribumi kehidupannya memprihatinkan. Tukang becak di
Jakarta umumnya orang Tegal, simbol kemiskinan akut. Kehadiran mereka
membutuhkan warung makan murah tapi mengenyangkan. Maka muncullah warung
tegal yang menyajikan nasi banyak,sayur labu seadanya, tempe goreng, kecap,
dll, murah mengenyangkan. Maka sebagai mahasiswa melarat saya akrab dengan
warteg dari tahun 1972 hingga di masa tua tahun 2000. Saya menyaksikan
keberhasilan, dan kemajuan mereka. Pada tahun 1972 itu pula hadir warung
Padang yang memiliki standar pelayanan baku dan maju. Warteg belajar pada
mereka dan kini, banyak pengusaha warteg yang sukses, kaya raya, anaknya
bersekolah tinggi. Warteg kini hadir di kota-kota besar.

- WARUNG PADANG. Siapa tak kenal warung masakan Minang yang terkenal
sebagai warung padang? Warung ini ada di hampir setiap kota di tanah air.
Mereka ulet bertahan bertahun-tahun sampai dagangannya diterima warga
daerah ybs. Kehidupannya makin baik. Pengusaha “warung padang” banyak yang
sukses, lihat saja jaringan restoran padang seperti Sederhana, Sinar Baru,
Natrabu, dan masih banyak lagi.

- BENGKEL BATAK. Di manapun orang Batak mampu hidup hanya bermodal mesin
kompresor, tambal ban. Mereka tahan menderita pada awalnya sampai punya
bengkel besar. Itu gambaran umum saja, pengusaha asal Batak juga sudah
banyak yang sukses.

- WARKOP KUNINGAN. Warung kopi, bubur kacang ijo, dan mie instan di
Jakarta, umumnya dijalankan orang dari Kuningan, Jabar. Warung mereka
kecil-kecil saja, menjangkau warga kebanyakan, tapi jaringannya banyak dan
kuat. Warung Kuningan juga sudah merambah ke kota lain dengan spesialisasi:
bubur kacang ijo, kopi, dan mie instan. Di Semarang, ada pengusaha asal
Kuningan sudah belasan tahun berjualan seperti itu, dan sukses, mengalahkan
“burjo” lokal.

- TUKANG KREDIT TASIK. Siapa yang mau mengingkari keuletan orang
Tasikmalaya, Jabar, dalam berusaha kredit skala kecil/kampung? Mereka
dengan rajin dan ulet mengumpulkan seribu dua ribu rupiah per hari. Saya
pernah kenal orang Magelang asal Tasik yang belasan tahun berusaha kredit
di sana. Lumayan sukses juga. Waktu saya masih di kampung, saya heran
dengan keulean orang Tasik yang merantau ke sana dengan mengumpulkan lima
hingga sepuluh rupiah per harinya.

- TOILET TASIK. Selain bidang kredit, banyak orang Tasik “terlibat bisnis
berbau busuk” yaitu toilet. Toilet di Jabodetabek, umumnya dikelola orang
Tasik, ketika orang lain menolak bisnis yang berbau tidak enak. Hasilnya?
Banyak yang sudah jadi boss dan jangan heran di kampungnya mereka punya
sedan mewah dan rumah bagus.

- BAKSO WONOGIRI. Bakso asal cina tapi brand-nya di Jabodetabek dipegang
orang asal Wonogiri. Mereka merembes ibukota dari pinggiran, berjualan
bakso pikulan. Mereka membawa keluarga mereka untuk mengembangkan usaha.
Kini, bakso wonogiri ada di kota-kota besar di Jawa, dan berkembang
berjualan mie ayam. Tak terhitung pengusaha bakso asal Wonogiri yang sukses
memiliki rumah mewah, dan mobil mewah seperti BMW, Baby Benz, dsb. di
kampung mereka.

- BIS WONOGIRI. Populasi orang Wonogiri yang banyak di Jakarta, memunculkan
kebutuhan angkutan untuk pulang kampung. Lalu muncullah belasan perusahaan
bis malam milik orang pribumi. Perusahaan bis Wonogiri itu kemudian
berkembang hingga ke daerah-daerah lainnya. Silakan datang ke Kecamatan
Baturetno, Wonogiri, lihat siapa yang menguasai perdagangan di sana.

- RONGSOKAN MADURA. Orang Madura amat ulet mampu bertahan di tempat sulit
dengan mengandalkan keahlian mereka a.l. besi rongsokan dan kayu bekas.
Kalau urusan besi bekas, mereka sangat ahli, sekali pandang sudah tahu
berat dan harga besi itu. Kapal ukuran 1.500 DWH bisa discrap dalam waktu
seminggu, dijamin bersih. Workshop mereka kotor, tapi di situ sudah
nangkring BMW dan Mercy. Saya punya kenalan orang Madura, muda, berusaha di
besi rongsokan. Suatu kali ia datang ke show room mobil di Jakarta Pusat
membawa “kampluk” kantong kain. Ia membeli Jeep terbaru!

- SATE MADURA – sate ayam gaya madura kini dominan di tanah air. Padahal,
yang dikenalkan Presiden Soekarno dulu adalah sate ayam Ponorogo yang
terkenal sangat enak. Tapi pedagang Madura ulet, mereka masuk lewat
pinggiran dengan konsep murah meriah. Sate ayam Ponorogo sendiri tenggelam
karena kalah ulet.

- PECEL LELE – SOTO LAMONGAN. Dulu di kota-kota besar di Jawa muncul warung
dengan nama Soto Madura. Yang berjualan ternyata orang Lamongan. Lalu
mereka berjualan pecel lele dan sukses luar biasa. Bayangkan, tahun 2003
saya bekerja di Gorontalo, di sana baru ada satu warung K-5 jual pecel
lele. Tahun 2007 saya kembali ke sana dan sudah ada delapan atau sembilan
warung pecel lele. Bisa dibayangkan? Di daerah yang kaya ikan laut yang
bemutu, enak dan mahal-mahal akhirnya menerima ikan lele yang dulu dijauhi
karena jijik dan takut beracun. Apakah resep pecel lele Lamongan otentik?
Tidak. Masakan pecel lele bagi orang Jatim lebih canggih, tapi orang
Lamongan memodifikasi habis-habisan agar mudah dan meriah sehingga justru
resep “hibrida” ini yang dikenal masyarakat. Di Riau banyak orang Lamongan
berjualan, tapi diikuti suku lain dengan konsep dan penataan model
Lamongan. Kehidupan mereka baik-baik. Di Kalbar, pecel lele mulai datang
walaupun belum populer betul.

- SATE GULE “SOLO”. Di Boyolali, Jateng, ada satu kecamatan namanya
Glagahombo. Nyaris seluruh warganya merantau berjualan sate-gule Solo,
sehingga dibuat monumen dan organisasinya. Mirip pecel lele Lamongan, resep
sate gule mereka sangat berbeda dengan yang asli Solo. Tapi brand itu sudah
terpegang oleh orang Boyolali. Banyak yang sukses di berbagai kota besar.

- Pedagang perhiasan, permata, dulu datang dari Banjarmasin merantau ke
berbagai kota di tanah air. Mereka, saya kira, berjasa menularkan keahlian
mereka ke suku-suku lainnya

- PEKEBUN JAWA DELI – saya pernah bekerja sebentar di Riau tahun 2003. Ada
gejala menarik waktu itu. Ketika krisis ekonomi 1997, banyak orang
perkebunan di Sumut, keturunan kuli dari Jawa di jaman kolonial, berjudi
dengan nasib menjual rumahnya pindah ke Riau. Di sana ia membeli lahan
telantar, penuh semak dengan harga rata-rata Rp.10 juta untuk lima hektar.
Mereka membabati semak belukar dan menanaminya dengan kelapa sawit, satu
keahlian turun temurun mereka. Setelah itu mereka hidup sengsara menunggu
hasil kebun dari sisa uangnya. Tahun 2003 kebun mereka banyak yang berbuah
dan tak lama kemudian mereka mampu membiayai anaknya kuliah di Malaysia,
dan Kualalumpur, Melaka, maupun Singapura menjadi tempat tujuan wisata umum
mereka.

- Bisnis yang ramai sekarang ini di bidang kuliner. Orang semakin pandai.
Kebab bukan makanan asli Indonesia tapi di tangan orang pribumi, makanan
ini diambil alih lalu popular dan gerainya ada di banyak negara ASEAN.
Banyak waralaba yang ditangani orang Indonesia dan “mendunia”.

- GUDEG – gudeg Yogya sekarang sudah dikalengkan dan dijual ke luar negeri.
Pengusahanya asli orang Yogya, satu langkah maju dari gudeg Bu Tjitro, Yu
Djum, dll, yang pernah mengangkat harkat gudeg.

Itu hanya sebagian kecil kisah sukses orang pribumi, yang lain tentu masih
banyak silakan diamati.

Dorongannya satu: INGIN BERTAHAN HIDUP. Dan, mereka umumnya tidak
menggantungkan pada uluran tangan dan fasilitas pemerintah pusat maupun
daerah. Pemerintah daerah umumnya baru nimbrung setelah mereka berhasil.


Salam


Reza

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke