TERUNGKAPNYA MISTERI KERUSUHAN MEI 1998 DAN HUBUNGANNYA DENGAN AKTOR SUKSESI 
JOKOWI
Fahreenheat.com- Saya pernah menempuh pendidikan di sekolah milik Cosmas 
Batubara, tokoh eksponen’66 yang menghadiri rapat di rumah Fahmi Idris yang 
juga dihadiri Sofyan Wanandi. Rapat mana untuk pertama kalinya Benny Moerdani 
mengungkap rencana menggulingkan Presiden Soeharto melalui kerusuhan rasial 
anti Tionghoa dan Kristen (Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi, Penerbit 
Mizan, hal. 316).
Salah satu kegiatan wajib di sekolah milik Cosmas Batubara adalah melakukan 
retreat dan tahun ajaran 1992-1993, seluruh siswa kelas 5 SD retreat selama 
lima hari di sebuah wisma sekitar Klender yang lebih mirip asrama daripada 
tempat retreat. Wisma lokasi retreat tersebut sudah sangat tua dan berdesain 
khas gedung tahun 1960an. Sejak awal menjejakan kaki di sana saya sudah 
merasakan aura yang tidak enak dan ini sangat berbeda dari lokasi retreat lain 
seperti Maria Bunda Karmel di puncak.
Adapun kegiatan selama retreat lebih menekankan kepada kedisiplinan dan melatih 
mental sehingga setiap kamar tidak ada kipas angin atau AC, dan selama retreat 
kami dipaksa bangun jam 4 pagi padahal baru tidur rata-rata jam 11 malam, ada 
puasa sepanjang hari, berdoa semalam suntuk dan ada beberapa kegiatan yang 
tidak lazim seperti diminta mencium dan mengingat bau bumbu masakan atau bunga 
yang disimpan dalam beberapa botol kecil selanjutnya mata ditutup dan setiap 
anak akan disodori botol-botol tadi dan diminta menebak bau/wangi apa. Puluhan 
tahun kemudian saya membaca bahwa pada tahun 1967 tempat pendidikan Kaderisasi 
Sebulan (Kasebul) milik Pater Beek dipindahkan ke Klender, Jakarta Timur yang 
memiliki tiga blok, 72 ruangan dan 114 kamar tidur. Apakah lokasi yang sama 
Kasebul dengan tempat retreat adalah tempat yang sama? Saya tidak tahu.
Puluhan tahun kemudian saya masih ingat pengalaman selama lima hari yang luar 
biasa melelahkan tersebut padahal saya tidak ingat pengalaman retreat saat di 
Maria Bunda Karmel, dan karena itu saya menjadi paham maksud Richard Tanter 
bahwa metode Kasebul yang melelahkan jiwa dan raga tersebut pada akhirnya 
menciptakan kader yang sepenuhnya setia, patuh kepada Pater Beek secara 
personal, menjadi orangnya Beek seumur hidup dan bersedia melakukan apapun bagi 
Pater Beek sekalipun kader tersebut sudah pulang ke habitat asalnya.
Entah apakah Kasebul masih dilakukan hari ini mengingat kekuasaan Katolik dan 
Paus di Roma sudah tidak sekuat puluhan tahun silam, namun saya yakin Kasebul 
masih ada setidaknya tahun 1992-1993 sebab Suryasmoro Ispandrihari mengaku 
kepada Mujiburrahman bahwa tahun 1988 dia pernah ikut Kasebul dan diajarkan 
untuk anti Islam, pernyataan yang dibenarkan oleh Damai Pakpahan, peserta 
Kasebul tahun 1984. Oleh karena itu saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan 
murid-murid pertama Pater Beek seperti Jusuf Wanandi, dan Sofyan Wanandi di 
CSIS bila mereka sampai hari ini tidak bisa melepas karakter Ultra Kanan untuk 
melawan Islam, bagaimanapun begitulah didikan Pater Beek, tapi tetap saja 
mereka tidak bisa dimaafkan karena mendalangi Kerusuhan 13-14 Mei 1998 dan 
harus diproses secara hukum.
Upaya menggerakan massa untuk jatuhkan Presiden Soeharto dimulai tanggal 8 Juni 
1996, ketika Yopie Lasut selaku Ketua Yayasan Hidup Baru mengadakan pertemuan 
tertutup dengan 80 orang di Hotel Patra Jasa dengan tema “MENDORONG TERCIPTANYA 
PERLAWANAN RAKYAT TERHADAP REZIM ORDE BARU DI DAERAH-DAERAH” yang dihadiri 
antara lain oleh aktivis mahasiswa radikal, tokoh LSM, mantan tapol, Sofyan 
Wanandi-Megawati Soekarnoputri-Benny Moerdani. Tidak berapa lama, operasi Benny 
Moerdani untuk meradikalisasi rakyat dengan tujuan “mendorong” mereka bangkit 
melawan Presiden Soeharto dimulai ketika pada tanggal 22 Juni 1996, Dr. 
Soerjadi, orang yang pada tahun 1986 pernah diculik Benny Moerdani ke Denpasar 
dan akhirnya menjadi Ketua PDI periode 1986-1992 dengan diperbantukan Nico 
Daryanto dari CSIS dan bekerja di bank milik kelompok usaha Sofyan Wanandi 
yaitu Gemala Grup dan Presiden Direktur PT Aica Indonesia, akhirnya terpilih 
menjadi Ketua Umum PDI menggeser boneka Benny Moerdani untuk menggantikan 
Presiden Soeharto yaitu Megawati Soekarnoputri dalam kongres yang juga dibiayai 
oleh Sofyan Wanandi.
Adapun menurut kesaksian Alex Widya Siregar, terpilihnya Megawati Soekarnoputri 
pada munas tahun 1993 adalah karena Direktur A Badan Intelijen ABRI waktu itu 
yaitu Agum Gumelar menggiring peserta munas ke Hotel Presiden sambil ditodong 
pistol dan mengatakan “Siapa tidak memilih Megawati akan berhadapan dengan 
saya.” Belakangan diketahui bahwa Agum Gumelar adalah salah satu anak didik 
yang setia kepada Benny Moerdani dan bersama Hendropriyono menerima perintah 
untuk seumur hidup menjaga Megawati Soekarnoputri.
Sebulan kemudian pada tanggal 27 Juli 1996 terjadi penyerbuan ke kantor PDI 
oleh massa Dr. Soerjadi menghantam massa PDI Pro Mega yang sedang berorasi di 
depan kantor PDI, dan Megawati telah mengetahui dari Benny Moerdani bahwa 
penyerbuan akan terjadi namun dia mendiamkan sehingga berakibat matinya ratusan 
pendukung Megawati dan menelan korban harta dan jiwa dari rakyat sekitar. Pada 
hari bersamaan Persatuan Rakyat Demokratik yang didirikan oleh Daniel 
Indrakusuma alias Daniel Tikuwalu, Sugeng Bahagio, Wibby Warouw dan Yamin 
mendeklarasikan perubahan nama menjadi Partai Rakyat Demokratik yang mengambil 
tempat di YLBHI, dan selanjutnya pasca Budiman Soejatmiko dkk ditangkap, pada 
Agustus 1997 PRD deklarasikan perlawanan bersenjata.
Hasil karya CSIS-Benny Moerdani-Megawati dalam Kudatuli antara lain: berbagai 
gedung sepanjang ruas jalan Salemba Raya seperti Gedung Pertanian, Showroom 
Auto 2000, Showroom Honda, Bank Mayapada, Dept. Pertanian, Mess KOWAD, Bus 
Patas 20 jurusan Lebak Bulus – Pulo Gadung, bus AJA dibakar massa. Sepanjang 
Jl. Cikini Raya beberapa gedung perkantoran seperti Bank Harapan Sentosa dan 
tiga mobil sedan tidak luput dari amukan massa dll.
Selanjutnya pada hari Minggu, 18 Januari 1998 terjadi ledakan di kamar 510, 
Blok V, Rumah Susun Johar di Tanah Tinggi, Tanah Abang sesaat setelah jam 
berbuka puasa yang membuat ruangan seluas 4 x 4 meter tersebut hancur 
berantakan.
Langit-langit yang bercat putih porak-poranda, atap ambrol, dinding retak, 
salah satu sudut jebol dan di sana sini ada bercak darah. Menurut keterangan 
Mukhlis, Ketua RT 10 Tanah Tinggi bahwa Agus Priyono salah satu pelaku yang 
tertangkap saat melarikan diri, ditangkap dalam kondisi belepotan darah dan 
luka di bagian kepala dan tangannya, sementara dua lainnya berhasil kabur. 
Setelah melakukan pemeriksaan, polisi menemukan: 10 bom yang siap diledakan, 
obeng, stang, kabel, botol berisi belerang, dokumen notulen rapat, paspor dan 
KTP atas nama Daniel Indrakusuma, disket, buku tabungan, detonator, amunisi, 
laptop berisi email dan lain sebagainya. Dari dokumen tersebut ditemukan fakta 
bahwa Hendardi, Sofyan Wanandi, Jusuf Wanandi, Surya Paloh, Benny Moerdani, 
Megawati terlibat dalam sebuah konspirasi jahat untuk melancarkan kerusuhan di 
Indonesia demi gulingkan Presiden Soeharto.
Temuan tersebut ditanggapi Baskortanasda Jaya dengan memanggil Benny Moerdani 
(dibatalkan), Surya Paloh dan kakak beradik Wanandi dengan hasil:
1. Surya Paloh membantah terlibat dengan PRD namun tidak bisa mengelak ketika 
ditanya perihal pemecatan wartawati Media Indonesia yang menulis berita 
mengenai kasus bom rakitan di Tanah Tinggi tersebut.
2. Jusuf Wanandi dan Sofyan Wanandi membantah terlibat pendanaan PRD ketika 
menemui Bakorstanas tanggal 26 Januari 1998, namun keesokan harinya pada 
tanggal 27 Januari 1998 mereka mengadakan pertemuan mendadak di Simprug yang 
diduga rumah Jacob Soetoyo bersama Benny Moerdani, A. Pranowo, Zen Maulani dan 
seorang staf senior kementerian BJ Habibie dan kemudian tanggal 28 Januari 
1998, Sofyan Wanandi kabur ke Australia yang sempat membuat aparat berang dan 
murka. Sofyan Wanandi baru kembali pada bulan Februari 1998.
Bersamaan dengan temuan dokumen penghianatan CSIS dan Benny Moerdani tersebut, 
dan fakta bahwa Sofyan Wanandi menolak gerakan “Aku Cinta Rupiah” padahal 
negara sedang krisis membuat banyak rakyat Indonesia marah dan segera melakukan 
demo besar guna menuntut pembubaran CSIS namun Wiranto melakukan intervensi 
dengan melarang demonstrasi. Mengapa Wiranto membantu CSIS? Karena dia adalah 
orangnya Benny Moerdani dan bersama Try Soetrisno sempat digadang-gadang oleh 
CSIS untuk menjadi cawapres Presiden Soeharto karena CSIS tidak menyukai BJ 
Habibie dengan ICMI dan CIDESnya.
Kepanikan CSIS atas semua kejadian ini terlihat jelas dalam betapa tegangnya 
rapat konsolidasi pada hari Senin, 16 Februari 1998 di Wisma Samedi, Klender, 
Jakarta Timur (dekat lokasi Kasebul) dan dihadiri oleh Harry Tjan, Cosmas 
Batubara, Jusuf Wanandi, Sofyan Wanandi, J. Kristiadi, Hadi Susastro, Clara 
Juwono, Danial Dhakidae dan Fikri Jufri.
Ketegangan terutama terjadi antara J. Kristiadi dengan Sofyan Wanandi sebab 
Kristiadi menerima dana Rp. 5miliar untuk untuk menggalang massa anti Soeharto 
tapi CSIS malah menjadi sasaran tembak karena ketahuan mendanai gerakan makar. 
Akibatnya Sofyan dkk menuduh Kristiadi tidak becus dan menggelapkan dana. 
Tuduhan ini dijawab dengan beberkan penggunaan dana terutama kepada aktivis 
“kiri” di sekitar Jabotabek, misalnya Daniel Indrakusuma menerima Rp. 1,5miliar 
dll. Kristiadi juga menunjukan berkali-kali sukses menggalang massa anti 
Soeharto ke DPR, dan setelah CSIS didemo, Forum Komunikasi Mahasiswa Islam 
Jakarta (FKMIJ) yang setahun terakhir digarap segera mengecam demo tersebut. Di 
akhir rapat disepakati bahwa Kristiadi akan menerima dana tambahan Rp. 5miliar.
Karena kondisi sudah mendesak bagi Benny Moerdani, kakak beradik Wanandi dan 
CSIS sehingga mereka memutuskan untuk mempercepat pelaksanaan kejatuhan 
Presiden Soeharto memakai rencana yang pernah didiskusikan di rumah Fahmi Idris 
pada akhir tahun 1980an yaitu kerusuhan rasial. Adapun metode kerusuhan akan 
meniru Malari yang dilakukan oleh Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani dengan 
diperbantukan Sofyan Wanandi yang mendanai GUPPI, yaitu massa yang menunggangi 
demo mahasiswa UI demi menggulingkan Jenderal Soemitro.
Sekedar mengingatkan Malari yang terjadi pada tanggal 15 – 16 Januari 1976 
adalah kerusuhan dengan menunggangi aksi anti investasi asing oleh mahasiswa UI 
atas hasutan Hariman Siregar, orangnya Ali Moertopo. Kerusuhan mana kemudian 
membakar Glodok, Sudirman, Matraman, Cempaka Putih, Roxy, Jakarta-By-Pass, 11 
mati, 17 luka parah, 200 luka ringan, 807 mobil hancur atau terbakar, 187 motor 
hancur atau terbakar, 144 toko hancur dan 700 kios di Pasar Senen dibakar 
habis. Ini semua buah tangan Wanandi bersaudara, Ali Moertopo dan CSISnya.
Masalah yang harus dipecahkan untuk membuktikan bahwa CSIS adalah dalang 
Kerusuhan 13-14 Mei 1998 adalah:
1. Siapa yang membuat rencana dan mendanai (think);
2. Identitas massa perusuh (tank); dan
3. Siapa yang bisa menahan semua pasukan keamanan dan menghalangi perusuh?
Ad. 1. Pembuat rencana sudah dapat dipastikan muridnya Ali Moertopo, dalang 
Malari, yaitu Benny Moerdani dan Jusuf Wanandi. Sedangkan dana juga sudah dapat 
dipastikan berasal Sofyan Wanandi yang meneruskan peran almarhum Soedjono 
Hoemardani sebagai donatur semua operasi intelijen CSIS dan Ali Moertopo.
Benny Moerdani mengendalikan Kerusuhan 13-14 Mei 1998 dari Hotel Ria Diani, 
Cibogo, Puncak, Bogor. Adapun SiaR milik Goenawan Mohamad yang tidak lain 
sekutu Benny Moerdani bertugas membuat alibi bagi CSIS, antara lain dengan 
menyalahkan umat muslim sebagai dalang Kerusuhan 13-14 Mei 1998 dengan menulis 
bahwa terdapat pertemuan tujuh tokoh sipil dan militer pada awal Mei 1998 
antara lain Anton Medan, Adi Sasono, Zainuddin MZ, di mana konon Adi Sasono 
menegaskan perlu kerusuhan anti-Cina untuk menghabiskan penguasaan jalur 
distribusi yang selama ini dikuasai penguasa keturunan Tionghoa.
Sampai sekarang massa perusuh tidak diketahui identitasnya namun dalam sejarah 
kerusuhan CSIS, penggunaan preman bukan hal baru. Dalam kasus Malari, CSIS 
membina dan mengerahkan GUPPI, tukang becak, dan tukang ojek untuk tujuan 
menunggangi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Dalam kasus penyerbuan ke 
Timor Leste, CSIS dan Ali Moertopo mengirim orang untuk bekerja sama dengan 
orang lokal melawan Fretilin sehingga Timor Leste menjadi kisruh yang kemudian 
menjadi dalih bagi Benny Moerdani menyerbu Timor-Timur. Begitu juga dalam kasus 
Kudatuli, CSIS menggunakan preman dan buruh bongkar muat dari daerah Pasar 
Induk Kramat Jati, 200 orang yang terlatih bela diri dari Tangerang, dan lain 
sebagainya.
Bahkan setelah reformasi, terbukti Sofyan Wanandi mendalangi demonstrasi yang 
menamakan diri Front Pembela Amar Maruf Nahi Mungkar yang menuntut Kwik Kian 
Gie mundur karena memiliki saham di PT Dusit Thani yang bergerak dalam usaha 
panti pijat ketika pemerintah dan DPR berniat menuntaskan kredit macet milik 
kelompok usaha Sofyan Wanandi sebagaimana diungkap Aberson Marle Sihaloho dan 
Didik Supriyanto, keduanya anggota fraksi PDIP. Adapun kredit macet dimaksud 
adalah hutang PT Gemala Container milik Sofyan Wanandi kepada BNI sebesar Rp. 
92miliar yang dibayar melalui mekanisme cicilan sebesar Rp. 500juta/bulan atau 
baru lunas 184 tahun kemudian, dan tanpa bunga.
Adalah fakta tidak terbantahkan bahwa tidak ada tentara selama kerusuhan 
tanggal 13 dan 14 Mei 1998, dan bilapun ada, mereka hanya menyaksikan para 
perusuh menjarah dan membakar padahal bila saja dari awal para tentara tersebut 
bertindak tegas maka dapat dipastikan akan meminimalisir korban materi dan 
jiwa. Pertanyaannya apakah hilangnya negara pada kerusuhan Mei disengaja atau 
tidak?
Fakta lain yang tidak terbantahkan adalah Kepala BIA yaitu Zacky Anwar Makarim 
memberi pengakuan kepada TGPF bahwa ABRI telah memperoleh informasi akan 
terjadi kerusuhan Mei. Namun ketika ditanya bila sudah tahu mengapa kerusuhan 
masih terjadi, Zacky menjawab tugas selanjutnya bukan tanggung jawab BIA. Jadi 
siapa “user” BIA? Tentu saja Panglima ABRI Jenderal Wiranto yang berperilaku 
aneh sebab Jakarta rusuh pada tanggal 13 Mei 1998 dan pada tanggal 14 Mei 1998 
dia membawa KSAD, Danjen Kopassus, Pangkostrad, KSAU, KSAL ke Malang untuk 
mengikuti upacara serah terima jabatan sampai jam 1.30 di mana sekembalinya ke 
Jakarta, kota ini sudah kembali terbakar hebat.
Keanehan Wiranto juga tampak ketika malam tanggal 12 Mei 1998 dia menolak usul 
jam malam dari Syamsul Djalal dan dalam rapat garnisun tanggal 13 Mei 1998 
malam dengan agenda situasi terakhir ketika dia membenarkan keputusan Kasum 
Letjend Fahrul Razi menolak penambahan pasukan untuk Kodam Jaya dengan alasan 
sudah cukup. Selain itu Wirantomenolak permintaan Prabowo untuk mendatangkan 
pasukan dari Karawang, Cilodong, Makasar dan Malang dengan cara tidak mau 
memberi bantuan pesawat hercules sehingga Prabowo harus mencarter sendiri 
pesawat Garuda dan Mandala. Bukan itu saja, tapi KSAL Arief Kusharyadi sampai 
harus berinisiatif mendatangkan marinir dari Surabaya karena tidak ada marinir 
di markas mereka di Cilandak KKO dan atas jasanya ini, Wiranto mencopot Arief 
Kusharyadi tidak lama setelah kerusuhan mereda.
Mengapa Wiranto membiarkan kerusuhan terjadi? Tentu saja karena dia adalah 
orangnya Benny Moerdani, dan setelah Soeharto lengser, Wiranto bekerja sama 
dengan Benny Moerdani antara lain dengan melakukan reposisi terhadap 100 
perwira ABRI yang dipandang sebagai “ABRI Hijau” dan diganti dengan 
perwira-perwira yang dipandang sebagai “ABRI Merah Putih.”
Setelah Kerusuhan 13-14 Mei 1998, Wiranto bergerak menekan informasi mengenai 
terjadinya pemerkosaan massal terhadap wanita etnis Tionghoa termasuk marah 
karena pengumuman dari TGPF bahwa terjadi pemerkosaan selama kerusuhan. Tidak 
berapa lama, Ita Marthadinata, relawan yang membantu TGPF dan berumur 17 tahun 
mati dibunuh di kamarnya sendiri dengan luka mematikan di leher sedangkan 
sampai hari ini latar belakang pembunuhnya yaitu Otong tidak diketahui dan 
dicurigai dia adalah binaan intelijen. Kecurigaan semakin menguat sebab 
beberapa hari sebelum kejadian, Ita dan keluarganya membuat rencana akan 
memberikan kesaksian di Kongres Amerika mengenai temuan mereka terkait korban 
Kerusuhan 13-14 Mei 1998.
“Bersama Presiden Soeharto, Benny adalah Penasihat YPPI yang didirikan oleh 
para mantan tokoh demonstrasi 1966 dengan dukungan Ali Moertopo. Hadir di rumah 
Fahmi [Idris] pada malam itu para pemimpin demonstrasi 1966 seperti Cosmas 
Batubara, dr. Abdul Ghafur, Firdaus Wajdi, Suryadi [Ketua PDI yang menyerang 
Kubu Pro Mega tanggal 27 Juli 1996]; Sofjan Wanandi; Husni Thamrin dan sejumlah 
tokoh. Topik pembicaraan, situasi politik waktu itu…
Moerdani berbicara mengenai Soeharto yang menurut Menhankam itu, ‘Sudah tua, 
bahkan sudah pikun, sehingga tidak bisa lagi mengambil keputusan yang baik. 
Karena itu sudah waktunya diganti’…Benny kemudian berbicara mengenai gerakan 
massa sebagai jalan untuk menurunkan Soeharto. Firdaus menanggapi, ‘Kalau 
menggunakan massa, yang pertama dikejar adalah orang Cina dan kemudian kemudian 
gereja.’ ”
(Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi, Penerbit Mizan, hal. 316)
Pembicaraan di rumah Fahmi Idris, tokoh senior Golkar yang menyeberang ke kubu 
Jokowi-JK demi melawan Prabowo adalah bukti paling kuat yang menghubungkan 
Benny Moerdani dengan berbagai kerusuhan massa yang sangat marak menjelang 
akhir Orde Baru karena membuka informasi adanya pemikiran Benny Moerdani untuk 
menjatuhkan Soeharto melalui gerakan massa yang berpotensi mengejar orang Cina 
dan orang Kristen. Kesaksian Salim Said ini merupakan titik tolak paling 
penting guna membongkar berbagai kerusuhan yang belum terungkap seperti 
Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan 13-14 Mei 1998.
A. Peristiwa 27 Juli 1996 Adalah Politik Dizalimi (Play Victim) Paling Keji 
Sepanjang Sejarah Indonesia
Selanjutnya Robert Odjahan Tambunan dalam bukunya Otobiografi Politik RO 
Tambunan: Membela Demokrasi mengungkap bahwa Megawati bisa mencegah jatuhnya 
korban dalam Peristiwa 27 Juli 1996 bila menghendaki karena dia sudah tahu 
beberapa hari sebelumnya dari Benny Moerdani, akan tetapi Megawati ternyata 
lebih memilih kepentingan politik daripada kemanusiaan (hal. 150); Megawati 
menyogok Kelompok 124, korban serbuan kantor PDI yang diadili, agar tidak 
menuntut kelompok TNI (hal. 172); dan Megawati tidak pernah ingin menyelesaikan 
kasus tersebut antara lain terbukti tahun 2002 memilih gubernur yang terlibat 
kasus Peristiwa 27 Juli 1996 [Sutiyoso] (hal. 374).
Bila catatan Salim Said, R.O. Tambunan dihubungkan dengan catatan Rachmawati 
Soekarnoputri: Membongkar Hubungan Mega dan Orba di Harian Rakyat Merdeka 31 
Juli 2002 dan 1 Agustus 2002 maka terbukti bahwa akhirnya Benny mulai 
menjalankan rencana yang dia ungkap di rumah Fahmi Idris ketika dia 
bersekongkol dengan Megawati demi menaikan seseorang dari keluarga Soekarno 
sebagai lawan tanding Soeharto dengan merekayasa Peristiwa 27 Juli 1996. 
Kutipan dari Catatan Rachmawati Soekarnoputri:
“Sebelum mendekati Mega, kelompok Benny Moerdani mendekati saya [Rachmawati] 
terlebih dahulu. Mereka membujuk dan meminta saya tampil memimpin PDI. 
Permintaan orang dekat dan tangan kanan Soeharto itu jelas saya tolak, bagi 
saya, PDI itu cuma alat hegemoni Orde Baru yang dibentuk sendiri oleh Soeharto 
tahun 1973. Coba renungkan untuk apa jadi pemimpin boneka?
Orang-orang PDI yang dekat dengan Benny Moerdani, seperti Soerjadi dan Aberson 
Marie Sihaloho pun ikut mengajak saya gabung ke PDI. Tetapi tetap saya tolak.”
Dari ketiga catatan di atas kita menemukan nama-nama yang saling terkait dalam 
Peristiwa 27 Juli 1996, antara lain: Benny Moerdani; Megawati; Dr. Soerjadi; 
Sofjan Wanandi; dan Aberson Marie Sihaloho, dan ini adalah “eureka moment” yang 
membongkar persekongkolan jahat karena Aberson Marie adalah orang yang pertama 
kali menyebar pamflet bahwa Megawati calon pemimpin masa depan sehingga 
menimbulkan kecurigaan Mabes ABRI (modus Dokumen Ramadi sebelum Malari); 
sedangkan Dr. Soerjadi adalah Ketum PDI pengganti Megawati pasca Kongres Medan 
(atas biaya Sofjan Wanandi) yang menyerbu kantor PDI dan selama ini diasumsikan 
perpanjangan tangan Soeharto ternyata agen ganda didikan Benny Moerdani, dan 
tentu saja Agum Gumelar-Hendropriyono, murid Benny Moerdani juga berada di sisi 
Megawati atas perintah Benny Moerdani sebagaimana ditulis Jusuf Wanandi dari 
CSIS dalam memoarnya, Shades of Grey/Membuka Tabir Orde Baru.
Fakta di atas menjawab alasan Presiden Megawati menolak menyelidiki Peristiwa 
27 Juli 1996 sekalipun harus mengeluarkan kalimat pahit kepada para korban 
seperti “Siapa suruh kalian mau ikut saya?” dan malah memberi jabatan tinggi 
kepada SBY yang memimpin rapat Operasi Naga Merah; Sutiyoso komando lapangan 
penyerbuan Operasi Naga Merah; dan tidak lupa Agum Gumelar dan AM Hendropriyono 
yang pura-pura melawan koleganya. Sama saja Megawati bunuh diri bila dia sampai 
menyelidiki kejahatannya sendiri!
Fakta-fakta di atas juga membuktikan bahwa dokumen yang ditemukan pasca ledakan 
di Tanah Tinggi tanggal 18 Januari 1998 yang menyebutkan ada rencana revolusi 
dari Benny Moerdani; Megawati; CSIS dan Sofjan-Jusuf Wanandi membiayai gerakan 
PRD adalah dokumen asli dan otentik serta bukan buatan intelijen untuk 
mendiskriditkan PRD sebagaimana pembelaan mereka selama ini. Bunyi salah satu 
dokumen yang berupa email di laptop adalah:
“Kawan-kawan yang baik! Dana yang diurus oleh Hendardi belum diterima, sehingga 
kita belum bisa bergerak. Kemarin saya dapat berita dari Alex bahwa Sofjan 
Wanandi dari Prasetya Mulya akan membantu kita dalam dana, di samping itu 
bantuan moril dari luar negeri akan diurus oleh Jusuf Wanandi dari CSIS. Jadi 
kita tidak perlu tergantung kepada dana yang diurus oleh Hendardi untuk gerakan 
kita selanjutnya.”
(Majalah Gatra edisi 31 Januari 1998)
B. Kerusuhan 13-14 Mei 1998, Gerakan Benny Moerdani Menggulung Soeharto; 
Prabowo; dan Menaikan Megawati Soekarnoputri Ke Kursi Presiden.
Pernah dengar kisah Kapten Prabowo melawan usaha kelompok Benny Moerdani dan 
CSIS mendeislamisasi Indonesia? Kisah ini fakta dan sudah banyak buku sejarah 
yang membahas kisah-kisah saat itu, salah satunya cerita Kopassus masa 
kepanglimaan Benny. Saat Benny menginspeksi ruang kerja bawahan dia melihat 
sajadah di kursi dan bertanya “Apa ini?,” jawab sang perwira, “Sajadah untuk 
shalat, Komandan.” Benny membentak “TNI tidak mengenal ini.” Benny juga sering 
rapat staf saat menjelang ibadah Jumat sehingga menyulitkan perwira yang mau 
sholat Jumat.
Hartono Mardjono sebagaimana dikutip Republika tanggal 3 Januari 1997 
mengatakan bahwa rekrutan perwira Kopassus sangat diskriminatif terhadap yang 
beragama Islam, misalnya kalau direkrut 20 orang, 18 di antaranya adalah 
perwira beragama non Islam dan dua dari Islam. Penelitian Salim Said juga 
menemukan hal yang sama bahwa perwira yang menonjol keislamannya, misalnya 
mengirim anak ke pesantren kilat pada masa libur atau sering hadiri pengajian 
diperlakukan diskriminatif dan tidak mendapat kesempatan sekolah karena 
dianggap fanatik, singkatnya karirnya pasti suram.
Perhatikan perwira tinggi yang menduduki pos penting ketika Benny Moerdani 
berkuasa: Sintong Panjaitan; Try Sutrisno; Wiranto; TB Silalahi; TB Hasanuddin; 
R.S. Warouw; Albert Paruntu; AM Hendropriyono; Agum Gumelar; Sutiyoso; Susilo 
Bambang Yudhoyono; Luhut Panjaitan; Ryamizard Ryacudu; Jonny Lumintang; Tyasno 
Sudarto; Albert Inkiriwang; HBL Mantiri; Fachrul Razi; Adolf Rajagukguk; Theo 
Syafei; Soebagyo HS dll, maka terlihat pola tidak terbantahkan bahwa perwira 
tinggi pada masa kekuasaan Benny Moerdani adalah non Islam atau Islam abangan 
(“non-fanatik” atau “non-Islam santri” menurut versi Benny). Ketidakadilan 
inilah yang dilawan Prabowo antara lain bersama BJ Habibie membentuk ICMI yang 
sempat dilawan habis-habisan oleh kelompok Benny Moerdani. Tidak heran anggota 
kelompok Benny Moerdani yang masih tersisa membenci Prabowo karena dia 
menghancurkan cita-cita mendeislamisasi Indonesia.
Mengapa Benny Moerdani dan CSIS mau mendeislamisasi Indonesia? Karena CSIS 
didirikan oleh agen CIA, Pater Beek yang awalnya ditempatkan di Indonesia untuk 
melawan komunis namun setelah “Bahaya Merah”(komunis) teratasi, dia membuat 
analisa bahwa lawan Amerika Serikat berikutnya ada dua yaitu: “Hijau ABRI” dan 
“Hijau Islam,” lalu menyimpulkan ABRI bisa dimanfaatkan untuk melawan Islam, 
maka berdirilah CSIS yang dioperasikan oleh anak didiknya: Sofjan, Jusuf 
Wanandi, Harry Tjan, dan mewakili ABRI: Ali Moertopo, dan Soedjono Hoemardani 
(lihat: tulisan George Junus Aditjondro, mantan murid Pater Beek: CSIS, Pater 
Beek SJ, Ali Moertopo dan LB Moerdani).
Tidak percaya gerakan anti Prabowo di kubu Golkar-PDIP-Hanura-NasDem-Demokrat 
berhubungan dengan kelompok anti Islam yang dihancurkan Prabowo? Perhatikan 
pendukung Jokowi-JK: Sutiyoso (Gubernur DKI saat Kerusuhan 13-14 Mei 1998; Agus 
Widjojo; Fachrul Razi (klik Wiranto dan pengusul Jonny Lumintang, orang Benny, 
Pangkostrad pengganti Prabowo), Ryamizard Ryacudu (menantu wapres Try Sutrisno 
periode 1993-1998, agen Benny Moerdani); Agum Gumelar-Hendropriyono (bodyguard 
Megawati suruhan Benny); Andi Widjajanto (anak Theo Syafei); Fahmi Idris 
(rumahnya lokasi ketika ide Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan 13-14 Mei 1998 
pertama kali dilontarkan); Luhut Panjaitan; Tyasno Sudarto; Soebagyo HS (KSAD 
saat Kerusuhan 13-14 Mei 1998; Wiranto; TB Silalahi; TB Hasanuddin dll.
Wiranto anak buah Benny Moerdani? Benar, dan Jusuf Wanandi dalam memoarnya 
menulis bahwa ketika Presiden Soeharto berhasil menetralisir pengaruh Try 
Soetrisno dengan menempatkan Feisal Tanjung dan Prabowo Subianto dan tidak ada 
lagi yang bisa dilakukan klik Benny Moerdani, maka mereka menempatkan semua 
harapan kepada Wiranto. Selain itu setelah dilantik sebagai Panglima ABRI, 
diketahui Wiranto menghadap Benny Moerdani dan meminta bertemu setiap bulan. 
Tanggapan Benny menurut Jusuf Wanandi dan Salim Said adalah:
“Jangan berilusi, orang tua itu [Soeharto] tidak menyukai saya, tidak percaya 
kepada saya. Anda harus tetap di sana karena Anda satu-satunya yang kita 
miliki. Jangan membuat kesalahan karena kariermu akan selesai jika Soeharto 
tahu Anda dekat dengan saya.”
(Menyibak Tabir Orde Baru, hal. 365-366; Salim Said, hal. 320)
Wiranto memang membantah memiliki hubungan dekat dengan Benny, namun ada cara 
membuktikan Wiranto telah berbohong. Pertama, dalam memoarnya, Jusuf Wanandi 
bercerita pasca jatuhnya Soeharto, Wiranto menerima dari Benny daftar perwira 
yang dinilai sebagai “ABRI Hijau”, dan dalam sebulan semua orang dalam daftar 
nama tersebut disingkirkan Wiranto. Ketika dikonfrontir mengenai hal ini, 
Wiranto mengatakan cerita “daftar nama” adalah bohong, namun bila kita lihat 
kembali masa-masa setelah Soeharto jatuh maka faktanya banyak perwira “hijau” 
yang dimutasi Wiranto dan sempat menuai protes.
Wiranto orang Benny di samping Presiden Soeharto menjawab alasan Wiranto 
menjatuhkan semua kesalahan terkait Operasi Setan Gundul kepada Prabowo; 
menghasut BJ Habibie bahwa Prabowo mau kudeta sehingga Prabowo diberhentikan 
dari dinas militer; dan adu domba Soeharto dengan menantunya seolah Prabowo dan 
BJ Habibie bekerja sama menjatuhkan Soeharto sehingga dipaksa bercerai dari 
Titiek Soeharto. Alasannya tidak lain Wiranto adalah eksekutor dari rencana 
Benny menistakan Prabowo Subianto.
Bicara “kebejatan” Prabowo tentu tidak lengkap tanpa mengungkit Kerusuhan 13-14 
Mei 1998 yang ditudingkan pada dirinya padahal jelas-jelas Wiranto sebagai 
Panglima ABRI pergi ke Malang membawa Kasau, Kasal, Kasad dan Pangkostrad serta 
menolak permohonan Prabowo untuk mengerahkan pasukan demi mengusir perusuh. 
Berdasarkan temuan fakta di atas bahwa Benny Moerdani mau menjatuhkan Soeharto 
melalui kerusuhan rasial dan Wiranto adalah satu-satunya orang Benny di lingkar 
dalam Soeharto maka patut diduga Wiranto sengaja melarang pasukan keluar dari 
barak karena berniat membiarkan kerusuhan, tapi rencananya berantakan ketika 
pasukan marinir berinisiatif keluar kandang menghalau perusuh.
Selain itu tiga fakta yang menguatkan kesimpulan bahwa klik Benny Moerdani 
dalang Kerusuhan 13-14 Mei 1998 adalah sebagai berikut:
1. Menjatuhkan lawan dengan “gerakan massa” adalah keahlian Ali Moertopo (guru 
Benny Moerdani) dan CSIS yang terkenal sejak Peristiwa Malari’74 yang meletus 
karena provokasi Hariman Siregar, binaan Ali Moertopo (selengkapnya lihat 
kesaksian Jenderal Soemitro yang dicatat Heru Cahyono dalam buku Pangkopkamtib 
Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 74 terbitan Sinar Harapan).
2. Menurut temuan TGPF Kerusuhan 13-14 Mei 1998, penggerak lapangan adalah 
orang berkarakter militer yang sangat cekatan memprovokasi warga untuk menjarah 
dan membakar. Ini ciri-ciri orang yang terlatih sebagai intelijen, padahal baik 
Wiranto atau Prabowo adalah perwira tipe komando dan bukan tipe intelijen, 
sedangkan saat itu hanya Benny Moerdani yang memiliki kemampuan merekayasa 
kerusuhan skala besar karena dia mewarisi taktik dan jaringan yang dibangun Ali 
Moertopo (mengenai jaringan dimaksud bisa dibaca di Rahasia-Rahasia Ali 
Moertopo terbitan Tempo-Gramedia). Lagipula saat kejadian terbukti Benny sedang 
rapat di Bogor dan ada laporan intelijen bahwa provokator kerusuhan 27 Juli 
1996 dan 13-14 Mei 1998 dilatih di Bogor!!
3. Saat Kerusuhan 13-14 Mei 1998, Fachrul Razi yang saat itu menjabat sebagai 
Kasum melarang pengerahan pasukan untuk membantu Kodam Jaya menghentikan 
kerusuhan sistematis dan penjarahan. Perlu ditambahkan Fachrul Razi adalah 
anggota klik Wiranto yang di atas sudah terbukti adalah binaan Benny di dalam 
kabinet Presiden Soeharto yang terakhir. 
(http://www.liputan6.com/fullnews/77958.html).
Penutup
Benarkah Benny Moerdani tega membasahi tangannya dengan darah rakyat tidak 
berdosa? Tidak ada keraguan: Benny Moerdani berprinsip membunuh sebagian rakyat 
demi selamatkan negara layak dilakukan, sebagaimana diungkap David Jenkins, 
wartawan senior Australia yang memiliki jaringan luas dengan jenderal Orba 
dalam orbituari kepada Benny Moerdani, “Charismatic, Sinister Soeharto Man”:
“Hardened in battle and no stranger to violence, Moerdani believed that the 
ends justify the means…He once shocked members of an Indonesian parliamentary 
committee by saying, in effect, that if he had to sacrifice the lives of 2 
million Indonesians to save the lives of 200 million Indonesians he would do 
so.”
Para murid Benny Moerdani pendukung Jokowi tampaknya mewarisi kekejaman sang 
guru, misalnya Luhut Panjaitan pernah menghujani mahasiswa yang sedang berdemo 
dengan peluru tajam, menimbulkan banyak korban jiwa, dan hal ini diceritakan 
tanpa rasa bersalah:
“Letusan peluru itu tidak digubris para pendemo. Mereka terus melempari tentara 
dengan batu. Merasa terdesak Luhut [Panjaitan] memerintahkan anak buahnya 
menembak kaki para pendemo. Situasi makin kacau karena mereka kocar-kacir. 
Tentara yang mengejar tidak lagi mengarahkan moncong ke aspal, tapi sudah 
mengincar sasaran. Luhut menduga banyak yang tewas saat kejar-kejaran itu.”
(Massa Misterius Malari, Tempo, hal. 71)
Kekejaman Luhut Panjaitan membuatnya menjadi anak emas Benny Moerdani, sehingga 
wajar Luhut Panjaitan menyimpan kebencian begitu besar terhadap Prabowo karena 
dia kehilangan status dan fasilitas istimewa setelah Benny Moerdani tersingkir:
“Berbeda dengan panglima-panglima sebelum dan sesudahnya, Benny memang 
memelihara sejumlah orang yang disenanginya. “Mereka itu semacam golden boys 
Benny Moerdani,” kata Schwarz. Salah satu yang dikenal sebagai “anak emas” itu 
adalah Luhut Binsar Panjaitan.”
(Salim Said, hal. 343)
Kekejaman yang sama turut dimiliki AM Hendropriyono, murid Benny lain yang juga 
mendampingi Jokowi karena dia pelaku pembantaian Talangsari, Lampung; DOM di 
Aceh, lalu bersama Muchdi Pr dan Ass’at (keduanya mendukung Jokowi-JK) adalah 
dalang pembunuhan Munir
(lihat: http://www.wikileaks.org/plusd/cables/07JAKARTA163_a.html).
Sudah tidak bisa dibantah bahwa alasan klik Benny Moerdani mendukung Jokowi-JK 
sekalipun mengorbankan keutuhan partai masing-masing (PDIP, Hanura, Golkar, 
Demokrat) sekedar untuk melawan Prabowo adalah dendam kesumat yang belum 
terpuaskan sebab Prabowo menghalangi usaha mendeislamisasi Indonesia.
Menutup artikel ini saya akan mengutip Jusuf Wanandi, sahabat baik Benny 
Moerdani:
“But, maybe Benny’s biggest nemesis was Soeharto son-in-law, Prabowo Subianto.”
(Shades of Grey, hal. 240)
“…Saya menganggap lawan utama Benny adalah Prabowo Subianto, menantu Presiden 
Soeharto.”
(Menyibak Tabir Orde Baru, hal. 327)
Kita harus berterima kasih kepada Julian Assange karena mendirikan website 
Wikileaks yang membocorkan berbagai dokumen rahasia milik Amerika Serikat sebab 
tanpanya kita tidak akan mengetahui bahwa Jokowi sudah menjalankan agenda 
Amerika di Indonesia sejak tahun 2005. Berdasarkan dokumen rahasia CIA 
tertanggal 7 April 2006 yang diunggah Wikileaks kita mengetahui bahwa pada 
tanggal yang sama agen rahasia CIA bernama Pierangelo dan David S. Williams 
bertemu Jokowi selaku Walikota Solo yang baru dilantik 7 bulan sebelumnya.
Agenda pertemuan adalah membahas Abu Bakar Ba’asyir dari Ponpres Ngruki yang 
disebut oleh pelaku serangan 9/11 bernama Riduan Isamuddin alias Hambali 
terkait jaringan Al Qaeda di Indonesia bernama Jamaah Islamiyah. Dalam 
pertemuan agen CIA tersebut minta Jokowi mengendalikan Abu Bakar Ba’asyir dan 
disanggupi oleh Jokowi. Setelah itu Jokowi mendekati Abu Ba’asyir secara 
pribadi dan hubungan keduanya menjadi sangat dekat bagai seorang ayah dan anak, 
terbukti kendati sedang mendekam di dalam penjara namun pada tanggal 30 Januari 
2013 Abu Bakar Ba’asyir sempat mengirim utusan menemui Jokowi sekedar 
menyampaikan salam; yang dibalas oleh Jokowi dengan ucapan terima kasih dan 
salam balik.
Jokowi memang berhasil mengontrol Abu Bakar Ba’asyir dan mendapat pujian dari 
Dubes AS bernama Cameron R. Hume pada tahun 2008 sebagaimana bocoran kawat 
diplomatik di Wikileaks yang dikirim ke Pentagon dengan judul “Solo, From 
Radical Hub To Tourist Heaven,” yang intinya melaporkan bahwa Jokowi telah 
berhasil mengendalikan Abu Bakar Ba’asyir dan menekan tingkat kemilitanan 
Ponpres Ngruki yang terkenal radikal.
Selanjutnya pada tahun yang sama yaitu tahun 2008, Jokowi kedatangan Agus 
Widjojo, Luhut Binsar Pandjaitan dan Hendropriyono lalu Luhut bekerja sama 
dengan Jokowi membentuk perusahaan patungan bernama PT Rakabu Sejahtera dengan 
modal awal dari Luhut Rp. 15,5miliar dan dari anak Jokowi bernama Gibran 
Rakabumi Raka sebesar Rp. 19,2miliar (anak dua puluh tahun yang pelihara tuyul 
tampaknya). Perlu dicurigai bahwa perusahaan hanya kedok sebuah operasi 
intelijen karena tidak lama setelah Jokowi menjadi Gubernur DKI, kantor 
perusahaan tersebut dua kali terbakar dalam waktu berdekatan.
Kehadiran Hendropriyono dan Luhut Pandjaitan semakin melekatkan pengaruh 
Amerika pada kehidupan Jokowi sebab mereka adalah murid langsung dan anak emas 
Jenderal Benny Moerdani, seorang petinggi CSIS, sebuah lembaga yang didirikan 
agen CIA bernama Pater Beek. CSIS dan Pater Beek bukanlah satu-satunya hubungan 
CIA dengan Jokowi, sebab penanggung jawab proses memoles citra Jokowi dari 
walikota gagal menjadi “pemimpin muda masa depan” hingga masuk gerbang 
pencapresan adalah Goenawan Mohamad yang kerap menerima uang negara asing dan 
anak didik Ivan Kats, seorang agen CIA. Khusus CSIS, sejak awal mereka memiliki 
hubungan dengan Ali Moertopo yang terkenal dengan Opsus dan pernah merekayasa 
kerusuhan Malari pada 15 Januari 1974 dan setelah kematian Ali Moertopo, 
tampaknya Opsus diwariskan kepada Jusuf Wanandi, pemimpin tertinggi CSIS saat 
ini karena Wikileaks menemukan Jusuf Wanandi adalah orang Opsus:
“6. ASIDE FROM MURTONO, HOWEVER, ALI MURTOPO AND OPSUS SEEM TO HAVE DONE RATHER 
WELL. NUMBER TWO MAN (MARTONO) HAS LONG BEEN KNOWN AS OPSUS MAN IN OLD KOSGORO 
ORGANIZATION. JUSUF WANANDI (LIM BIAN KIE) HAS KEY POSITION HEADING LIST OF 
SECRETARIES ORGANIZED ACCCORDING TO FUNCTION, AND OPSUS STALWARTS DOMINATE AT 
THIS WORKING LEVEL.”
https://www.wikileaks.org/plu…/cables/1973JAKART10795_b.html
Kemunculan anak emas Benny Moerdani dari CSIS yang merupakan kepanjangan tangan 
kepentingan Amerika di Solo dan dilengkapi perangkat rekayasa ala Opsus sangat 
patut diduga terkait usaha mempersiapkan Jokowi sebagai presiden boneka Amerika 
Serikat. Jokowi dan timsesnya berhak membantah dia adalah boneka Amerika dan 
CSIS namun keberadaan Ajianto Dwi Nugroho yang dikader oleh murid-murid Pater 
Beek di dalam Jasmev untuk memenangkan Jokowi pada Pilkada DKI dan sekarang 
melalui cabang Jasmev, PartaiSocmed untuk memenangkan pilpres tidak bisa 
dibantah. Selain itu kita ingat kejadian memalukan di mana Jokowi membawa 
mantan Presiden Megawati menghadap Duta Besar Amerika, Inggris dan Kanada di 
rumah petinggi CSIS bernama Jacob Soetoyo dan kembali menyerahkan lehernya 
beberapa hari sebelum deklarasi pencapresannya adalah fakta umum yang tidak 
bisa dibantah.
Sebelum kita melanjutkan, apakah anda tahu bahwa salah satu taktik deislamisasi 
yang dilakukan oleh CSIS adalah melalui kebijakan kader mereka Daoed Joesoef 
yang saat menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melarang sekolah libur 
pada hari Ramadhan dan siswi beragama Islam dilarang menggunakan jilbab yang 
mana serupa dengan kebijakan Benny Moerdani yang melarang sajadah di lingkungan 
ABRI dan selalu mempersulit prajurit yang bermaksud sholat Jumat?
http://tikusmerah.com/?p=1204
Dengan fakta di atas maka sangat tidak mengherankan bila beberapa hari lalu 
seorang Dubes AS Robert Blake mencoba melakukan kampanye hitam menyerang 
Prabowo demi membantu meningkatkan peluang bagi capres boneka Amerika 
memenangkan pertarungan pilpres mendatang. Selain itu tidak heran juga ketika 
menjelang pilpres terbit sebuah fitnah keji bahwa Prabowo menghina kebutaan Gus 
Dur yang dilancarkan oleh media massa Time melalui tulisan jurnalis anti 
Indonesia bernama Yenny Kwok yang bersumber dari tulisan jurnalis anti 
Indonesia lain bernama Allan Neirn karena artikel tersebut memang hampir dapat 
dipastikan pesanan dari Pemerintah Amerika Serikat.
Belum selesai serangan kampanye hitam dari Dubes AS; dan Time melalui tangan 
duo Yenny Kwok dan Allan Neirn yang terafiliasi dengan mantan pelaku G30S/PKI 
bernama Carmel Budiardjo yang selama 50 tahun melancarkan kampanye anti 
Indonesia di dunia internasional, sekarang datang serangan dari Sofyan Wanandi, 
pemimpin para pengusaha-pengusaha di Indonesia yang mengatakan bahwa para 
pengusaha kuatir bila Prabowo menjadi presiden.
Siapa Sofyan Wanandi? Dia adalah adik Jusuf Wanandi dan orang yang memulai 
salah satu pembusukan karakter paling keji terhadap Prabowo ketika diwawancara 
Adam Schwarz mengatakan seolah Prabowo pernah bilang akan mengusir semua orang 
cina sekalipun hal itu akan membuat ekonomi Indonesia muncur 20-30 tahun tapi 
14 tahun setelah rumor tersebut merasuk ke sumsum rakyat Indonesia atau tahun 
2012, barulah Sofyan Wanandi membantah bahwa ia pernah mengeluarkan pernyataan 
seperti itu dengan alasan “jurnalis salah paham.”
Sebagai adik penguasa Opsus, Sofyan Wanandi memang bukan pengusaha biasa, 
terbukti dia adalah donatur utama banyak penggarapan yang dilakukan Opsus era 
pimpinan Jusuf Wanandi dan CSIS seperti membiayai Kongres PDI di Medan ketika 
Benny Moerdani merekayasa politik dizolimi dengan “menjatuhkan” Megawati dari 
kursi Ketua Umum PDI dan diganti oleh “antek Orde Baru” Dr. Soerjadi yang 
menurut kesaksian dari Rachmawati Soekarnoputri sebenarnya adalah orang binaan 
Benny Moerdani juga.
Nama Sofyan Wanandi juga kembali disebut dalam dua dokumen yang ditemukan pasca 
meledaknya bom rakitan di Rumah Susun Johar di Tanah Tinggi, Tanah 
Abang.tanggal 18 Januari 1998. Saat aparat menyisir lokasi ledakan ditemukan 
sebuah laptop berisi arsip e-mail dan dokumen notulen rapat “Kelompok Pro 
Demokrasi” di Leuwiliang, Bogor, pada tanggal 14 Januari 1998 yang merencanakan 
revolusi dan dihadiri oleh 19 aktivis mewakili 9 organisasi terdiri dari 
kelompok senior dan kelompok junior. Adapun kelompok senior terdiri atas:
Pertama, CSIS yang bertugas membuat analisis dan menyusun konsep perencanaan 
aktivitas ke depan.
Kedua, Benny Moerdani.
Ketiga, PDI Pro Megawati Soekarnoputri.
Keempat, kekuatan ekonomi diwakili oleh Sofjan Wanandi dan Yusuf Wanandi.
Sedangkan isi email:
“Kawan-kawan yang baik! Dana yang diurus oleh Hendardi belum diterima, sehingga 
kita belum bisa bergerak. Kemarin saya dapat berita dari Alex [Widya Siregar] 
bahwa Sofjan Wanandi dari Prasetya Mulya akan membantu kita dalam dana, di 
samping itu bantuan moril dari luar negeri akan diurus oleh Jusuf Wanandi dari 
CSIS. Jadi kita tidak perlu tergantung kepada dana yang diurus oleh Hendardi 
untuk gerakan kita selanjutnya.”
Sumber: Majalah Gatra edisi 31 Januari 1998
Kedua dokumen di atas selain membuktikan Sofyan Wanandi, Jusuf Wanandi, CSIS, 
Benny Moerdani dan Megawati adalah bagian dari kelompok yang bermaksud membuat 
sebuah kerusuhan yang dibungkus sebagai revolusi, ternyata terungkap juga bahwa 
Hendardi dari PBHI yang beberapa bulan terakhir konsisten meributkan 
pencapresan Prabowo dengan membawa isu HAM dan penculikan adalah bagian dari 
kelompok tersebut dengan tugas mencari pendanaan. Aksi-aksi Hendardi 
mempolitisasi penangkapan terduga teroris pada tahun 1998 tersebut juga 
dilakukan oleh Tempo, majalah milik anak didik agen CIA yaitu Goenawan Mohamad 
dan Haris Azhar dari Kontras yang pernah meminta Uni Eropa melanggar kedaulatan 
Indonesia dengan melakukan intervensi terhadap pemerintah Indonesia. Selain itu 
politisasi juga dilakukan Metro TV, tapi Surya Paloh hanya politisi oportunis, 
jadi dia bukan CSIS atau antek CIA.
http://protectioninternational.org/…/haris-azhar-on-the-ro…/
Bagi kalangan aktivis yang sampai sekarang masih memegang teguh idealisme, 
orang seperti Hendardi, Goenawan Mohamad, dan Haris Azhar dimasukan ke dalam 
kelompok “Pedagang Orang Hilang,” sebab mereka memperdagangkan isu “Orang 
Hilang” melalui serangkaian politisasi demi untuk mencapai keinginan mereka 
baik berupa uang donasi, jabatan, kedudukan sosial, atau mendiskriditkan lawan 
mereka. Hal ini terbukti dari fakta bahwa para orang yang berkumpul dalam 
Asosiasi Pedagang Orang Hilang ini tidak meliput pernyataan Andi Arief, salah 
satu “korban penculikan 1998″ bahwa Wiji Thukul, orang yang kerap menjadi salah 
satu ikon para Pedagang Orang Hilang ternyata masih hidup dengan sehat 
setidaknya dua bulan setelah reformasi dan fakta ini diketahui oleh Goenawan 
Mohamad dan Stanley dari Tempo, dan Jaap Erkelens.
http://m.inilah.com/…/akhirnya-andi-arief-bercerita-soal-wi…
http://m.rmol.co/news.php?id=161521
Selain fakta Wiji Thukul masih hidup dan sehat, para Pedagang Orang Hilang juga 
menyembunyikan fakta bahwa sejak 16 tahun lalu tim SiaR bentukan Goenawan 
Mohamad sudah menemukan bukti bahwa Prabowo tidak bersalah dan hanya difitnah. 
Mereka juga sengaja tidak meliput berita penyerahan dokumen kepada Komnas HAM 
berisi notulen rapat pembahasan Operasi Kuningan di antara para jenderal Orde 
Baru untuk memfitnah Prabowo.
Temuan tim SiaR adalah:
“Tapi, teknik ABRI menyelesaikan intern soal penculikan ini, agaknya memang 
sengaja ditempuh untuk menghindari terbongkarnya orang-orang di belakang 
Prabowo. Sebuah sumber di Mabes ABRI mengatakan, sebetulnya Prabowo punya surat 
perintah penculikan itu, yang diteken oleh Jenderal Feisal Tanjung, Pangab 
sebelumnya. Surat itu, konon, akan dibeberkan kalau Prabowo diseret ke 
Mahmilub. Akibatnya, Wiranto berkompromi dengan menjatuhkan hukuman yang ringan 
untuk Prabowo.”
http://www.minihub.org/siarlist/msg00741.html
Dokumen yang diserahkan kepada Komnas HAM adalah notulen rapat terbatas tanggal 
17 Juli 1998 di rumah Wiranto yang dihadiri oleh Agum Gumelar, Soebagio HS, 
Fachrul Rozi, dan Yusuf Kartanagara yang mana Agum Gumelar mengemukakan 
pendapat mengenai perlunya menciptakan “aktor” yang akan dijadikan dalang 
segala dalang kerusuhan Mei dan “penculikan aktivis,” selanjutnya Soebagyo HS 
menyarankan agar kepergian ke Malang tanggal 14 Mei 1998 dijadikan alibi untuk 
mengarahkan Prabowo sebagai aktor utama kerusuhan di Jakarta dan penangkapan 
aktivis. Letjend Fachrul Rozi juga mengusulkan pembentukan Dewan Kehormatan 
Perwira tanpa Mahkamah Militer untuk memberhentikan Prabowo sekaligus 
menciptakan opini bahwa Prabowo adalah dalang kerusuhan di Jakarta. Terakhir 
Wiranto memberi perintah agar para “aktivis” yang belum dilepas untuk 
“disukabumikan.”
Untuk membuktikan keaslian atau kepalsuan dokumen tersebut cukup mudah yaitu 
melakukan pemeriksaan forensik terhadap tanda tangan para peserta rapat yang 
dibubuhkan di dalam dokumen notulensi. Bila tanda tangannya asli, maka BOOM!!, 
tidak ada alasan untuk tidak membawa Wiranto, Soebagyo HS, Fachrul Razi, dan 
Agum Gumelar ke pengadilan.
http://m.aktual.co/…/145428operasi-kuningan-wiranto-perinta…
Kenapa Tempo; Media Indonesia; Metro TV; Jawa Pos dll yang biasa “peduli HAM” 
dan “penculikan aktivis” tidak membuat laporan kejadian tersebut? Padahal bila 
dokumen ternyata asli, maka kita akan bisa mengungkap penembakan Trisakti 
sampai Kerusuhan 13-14 Mei 1998. Namanya juga Pedagang Orang Hilang, yang 
membantu dagangan pasti dijadikan bahan marketing sedangkan yang merusak 
dagangan akan disingkirkan dan dianggap tidak ada. Kendati demikian terbukti 
kunci membuka misteri 1998 bukan di Bukit Hambalang, melainkan di Tanah Abang, 
Utan Kayu, Salatiga dan Semarang.
sumber: horabolt


AnwarDjambak
Alam Takambang Jadikan Guru
Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke