Sanak Haqir WalFaqir n.a.h Ambo minta sumber asli dari tulisan iko dan siapa penulisnya ? ....karano tatulih Maxis (?)
Terima kasih dan wassalam Pada 24 Oktober 2015 20.11, 'Haqir WalFaqir' via RantauNet < [email protected]> menulis: > TERUNGKAPNYA MISTERI KERUSUHAN MEI 1998 DAN HUBUNGANNYA DENGAN AKTOR > SUKSESI JOKOWI > Fahreenheat.com <http://fahreenheat.com/>- Saya pernah menempuh > pendidikan di sekolah milik Cosmas Batubara, tokoh eksponen’66 yang > menghadiri rapat di rumah Fahmi Idris yang juga dihadiri Sofyan Wanandi. > Rapat mana untuk pertama kalinya Benny Moerdani mengungkap rencana > menggulingkan Presiden Soeharto melalui kerusuhan rasial anti Tionghoa dan > Kristen (Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi, Penerbit Mizan, hal. 316). > Salah satu kegiatan wajib di sekolah milik Cosmas Batubara adalah > melakukan retreat dan tahun ajaran 1992-1993, seluruh siswa kelas 5 SD > retreat selama lima hari di sebuah wisma sekitar Klender yang lebih mirip > asrama daripada tempat retreat. Wisma lokasi retreat tersebut sudah sangat > tua dan berdesain khas gedung tahun 1960an. Sejak awal menjejakan kaki di > sana saya sudah merasakan aura yang tidak enak dan ini sangat berbeda dari > lokasi retreat lain seperti Maria Bunda Karmel di puncak. > Adapun kegiatan selama retreat lebih menekankan kepada kedisiplinan dan > melatih mental sehingga setiap kamar tidak ada kipas angin atau AC, dan > selama retreat kami dipaksa bangun jam 4 pagi padahal baru tidur rata-rata > jam 11 malam, ada puasa sepanjang hari, berdoa semalam suntuk dan ada > beberapa kegiatan yang tidak lazim seperti diminta mencium dan mengingat > bau bumbu masakan atau bunga yang disimpan dalam beberapa botol kecil > selanjutnya mata ditutup dan setiap anak akan disodori botol-botol tadi dan > diminta menebak bau/wangi apa. Puluhan tahun kemudian saya membaca bahwa > pada tahun 1967 tempat pendidikan Kaderisasi Sebulan (Kasebul) milik Pater > Beek dipindahkan ke Klender, Jakarta Timur yang memiliki tiga blok, 72 > ruangan dan 114 kamar tidur. Apakah lokasi yang sama Kasebul dengan tempat > retreat adalah tempat yang sama? Saya tidak tahu. > Puluhan tahun kemudian saya masih ingat pengalaman selama lima hari yang > luar biasa melelahkan tersebut padahal saya tidak ingat pengalaman retreat > saat di Maria Bunda Karmel, dan karena itu saya menjadi paham maksud > Richard Tanter bahwa metode Kasebul yang melelahkan jiwa dan raga tersebut > pada akhirnya menciptakan kader yang sepenuhnya setia, patuh kepada Pater > Beek secara personal, menjadi orangnya Beek seumur hidup dan bersedia > melakukan apapun bagi Pater Beek sekalipun kader tersebut sudah pulang ke > habitat asalnya. > Entah apakah Kasebul masih dilakukan hari ini mengingat kekuasaan Katolik > dan Paus di Roma sudah tidak sekuat puluhan tahun silam, namun saya yakin > Kasebul masih ada setidaknya tahun 1992-1993 sebab Suryasmoro Ispandrihari > mengaku kepada Mujiburrahman bahwa tahun 1988 dia pernah ikut Kasebul dan > diajarkan untuk anti Islam, pernyataan yang dibenarkan oleh Damai Pakpahan, > peserta Kasebul tahun 1984. Oleh karena itu saya tidak bisa sepenuhnya > menyalahkan murid-murid pertama Pater Beek seperti Jusuf Wanandi, dan > Sofyan Wanandi di CSIS bila mereka sampai hari ini tidak bisa melepas > karakter Ultra Kanan untuk melawan Islam, bagaimanapun begitulah didikan > Pater Beek, tapi tetap saja mereka tidak bisa dimaafkan karena mendalangi > Kerusuhan 13-14 Mei 1998 dan harus diproses secara hukum. > Upaya menggerakan massa untuk jatuhkan Presiden Soeharto dimulai tanggal 8 > Juni 1996, ketika Yopie Lasut selaku Ketua Yayasan Hidup Baru mengadakan > pertemuan tertutup dengan 80 orang di Hotel Patra Jasa dengan tema > “MENDORONG TERCIPTANYA PERLAWANAN RAKYAT TERHADAP REZIM ORDE BARU DI > DAERAH-DAERAH” yang dihadiri antara lain oleh aktivis mahasiswa radikal, > tokoh LSM, mantan tapol, Sofyan Wanandi-Megawati Soekarnoputri-Benny > Moerdani. Tidak berapa lama, operasi Benny Moerdani untuk meradikalisasi > rakyat dengan tujuan “mendorong” mereka bangkit melawan Presiden Soeharto > dimulai ketika pada tanggal 22 Juni 1996, Dr. Soerjadi, orang yang pada > tahun 1986 pernah diculik Benny Moerdani ke Denpasar dan akhirnya menjadi > Ketua PDI periode 1986-1992 dengan diperbantukan Nico Daryanto dari CSIS > dan bekerja di bank milik kelompok usaha Sofyan Wanandi yaitu Gemala Grup > dan Presiden Direktur PT Aica Indonesia, akhirnya terpilih menjadi Ketua > Umum PDI menggeser boneka Benny Moerdani untuk menggantikan Presiden > Soeharto yaitu Megawati Soekarnoputri dalam kongres yang juga dibiayai oleh > Sofyan Wanandi. > Adapun menurut kesaksian Alex Widya Siregar, terpilihnya Megawati > Soekarnoputri pada munas tahun 1993 adalah karena Direktur A Badan > Intelijen ABRI waktu itu yaitu Agum Gumelar menggiring peserta munas ke > Hotel Presiden sambil ditodong pistol dan mengatakan “Siapa tidak memilih > Megawati akan berhadapan dengan saya.” Belakangan diketahui bahwa Agum > Gumelar adalah salah satu anak didik yang setia kepada Benny Moerdani dan > bersama Hendropriyono menerima perintah untuk seumur hidup menjaga Megawati > Soekarnoputri. > Sebulan kemudian pada tanggal 27 Juli 1996 terjadi penyerbuan ke kantor > PDI oleh massa Dr. Soerjadi menghantam massa PDI Pro Mega yang sedang > berorasi di depan kantor PDI, dan Megawati telah mengetahui dari Benny > Moerdani bahwa penyerbuan akan terjadi namun dia mendiamkan sehingga > berakibat matinya ratusan pendukung Megawati dan menelan korban harta dan > jiwa dari rakyat sekitar. Pada hari bersamaan Persatuan Rakyat Demokratik > yang didirikan oleh Daniel Indrakusuma alias Daniel Tikuwalu, Sugeng > Bahagio, Wibby Warouw dan Yamin mendeklarasikan perubahan nama menjadi > Partai Rakyat Demokratik yang mengambil tempat di YLBHI, dan selanjutnya > pasca Budiman Soejatmiko dkk ditangkap, pada Agustus 1997 PRD deklarasikan > perlawanan bersenjata. > Hasil karya CSIS-Benny Moerdani-Megawati dalam Kudatuli antara lain: > berbagai gedung sepanjang ruas jalan Salemba Raya seperti Gedung Pertanian, > Showroom Auto 2000, Showroom Honda, Bank Mayapada, Dept. Pertanian, Mess > KOWAD, Bus Patas 20 jurusan Lebak Bulus – Pulo Gadung, bus AJA dibakar > massa. Sepanjang Jl. Cikini Raya beberapa gedung perkantoran seperti Bank > Harapan Sentosa dan tiga mobil sedan tidak luput dari amukan massa dll. > Selanjutnya pada hari Minggu, 18 Januari 1998 terjadi ledakan di kamar > 510, Blok V, Rumah Susun Johar di Tanah Tinggi, Tanah Abang sesaat setelah > jam berbuka puasa yang membuat ruangan seluas 4 x 4 meter tersebut hancur > berantakan. > Langit-langit yang bercat putih porak-poranda, atap ambrol, dinding retak, > salah satu sudut jebol dan di sana sini ada bercak darah. Menurut > keterangan Mukhlis, Ketua RT 10 Tanah Tinggi bahwa Agus Priyono salah satu > pelaku yang tertangkap saat melarikan diri, ditangkap dalam kondisi > belepotan darah dan luka di bagian kepala dan tangannya, sementara dua > lainnya berhasil kabur. Setelah melakukan pemeriksaan, polisi menemukan: 10 > bom yang siap diledakan, obeng, stang, kabel, botol berisi belerang, > dokumen notulen rapat, paspor dan KTP atas nama Daniel Indrakusuma, disket, > buku tabungan, detonator, amunisi, laptop berisi email dan lain sebagainya. > Dari dokumen tersebut ditemukan fakta bahwa Hendardi, Sofyan Wanandi, Jusuf > Wanandi, Surya Paloh, Benny Moerdani, Megawati terlibat dalam sebuah > konspirasi jahat untuk melancarkan kerusuhan di Indonesia demi gulingkan > Presiden Soeharto. > Temuan tersebut ditanggapi Baskortanasda Jaya dengan memanggil Benny > Moerdani (dibatalkan), Surya Paloh dan kakak beradik Wanandi dengan hasil: > 1. Surya Paloh membantah terlibat dengan PRD namun tidak bisa mengelak > ketika ditanya perihal pemecatan wartawati Media Indonesia yang menulis > berita mengenai kasus bom rakitan di Tanah Tinggi tersebut. > 2. Jusuf Wanandi dan Sofyan Wanandi membantah terlibat pendanaan PRD > ketika menemui Bakorstanas tanggal 26 Januari 1998, namun keesokan harinya > pada tanggal 27 Januari 1998 mereka mengadakan pertemuan mendadak di > Simprug yang diduga rumah Jacob Soetoyo bersama Benny Moerdani, A. Pranowo, > Zen Maulani dan seorang staf senior kementerian BJ Habibie dan kemudian > tanggal 28 Januari 1998, Sofyan Wanandi kabur ke Australia yang sempat > membuat aparat berang dan murka. Sofyan Wanandi baru kembali pada bulan > Februari 1998. > Bersamaan dengan temuan dokumen penghianatan CSIS dan Benny Moerdani > tersebut, dan fakta bahwa Sofyan Wanandi menolak gerakan “Aku Cinta Rupiah” > padahal negara sedang krisis membuat banyak rakyat Indonesia marah dan > segera melakukan demo besar guna menuntut pembubaran CSIS namun Wiranto > melakukan intervensi dengan melarang demonstrasi. Mengapa Wiranto membantu > CSIS? Karena dia adalah orangnya Benny Moerdani dan bersama Try Soetrisno > sempat digadang-gadang oleh CSIS untuk menjadi cawapres Presiden Soeharto > karena CSIS tidak menyukai BJ Habibie dengan ICMI dan CIDESnya. > Kepanikan CSIS atas semua kejadian ini terlihat jelas dalam betapa > tegangnya rapat konsolidasi pada hari Senin, 16 Februari 1998 di Wisma > Samedi, Klender, Jakarta Timur (dekat lokasi Kasebul) dan dihadiri oleh > Harry Tjan, Cosmas Batubara, Jusuf Wanandi, Sofyan Wanandi, J. Kristiadi, > Hadi Susastro, Clara Juwono, Danial Dhakidae dan Fikri Jufri. > Ketegangan terutama terjadi antara J. Kristiadi dengan Sofyan Wanandi > sebab Kristiadi menerima dana Rp. 5miliar untuk untuk menggalang massa anti > Soeharto tapi CSIS malah menjadi sasaran tembak karena ketahuan mendanai > gerakan makar. Akibatnya Sofyan dkk menuduh Kristiadi tidak becus dan > menggelapkan dana. Tuduhan ini dijawab dengan beberkan penggunaan dana > terutama kepada aktivis “kiri” di sekitar Jabotabek, misalnya Daniel > Indrakusuma menerima Rp. 1,5miliar dll. Kristiadi juga menunjukan > berkali-kali sukses menggalang massa anti Soeharto ke DPR, dan setelah CSIS > didemo, Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta (FKMIJ) yang setahun > terakhir digarap segera mengecam demo tersebut. Di akhir rapat disepakati > bahwa Kristiadi akan menerima dana tambahan Rp. 5miliar. > Karena kondisi sudah mendesak bagi Benny Moerdani, kakak beradik Wanandi > dan CSIS sehingga mereka memutuskan untuk mempercepat pelaksanaan kejatuhan > Presiden Soeharto memakai rencana yang pernah didiskusikan di rumah Fahmi > Idris pada akhir tahun 1980an yaitu kerusuhan rasial. Adapun metode > kerusuhan akan meniru Malari yang dilakukan oleh Ali Moertopo dan Soedjono > Hoemardani dengan diperbantukan Sofyan Wanandi yang mendanai GUPPI, yaitu > massa yang menunggangi demo mahasiswa UI demi menggulingkan Jenderal > Soemitro. > Sekedar mengingatkan Malari yang terjadi pada tanggal 15 – 16 Januari 1976 > adalah kerusuhan dengan menunggangi aksi anti investasi asing oleh > mahasiswa UI atas hasutan Hariman Siregar, orangnya Ali Moertopo. Kerusuhan > mana kemudian membakar Glodok, Sudirman, Matraman, Cempaka Putih, Roxy, > Jakarta-By-Pass, 11 mati, 17 luka parah, 200 luka ringan, 807 mobil hancur > atau terbakar, 187 motor hancur atau terbakar, 144 toko hancur dan 700 kios > di Pasar Senen dibakar habis. Ini semua buah tangan Wanandi bersaudara, Ali > Moertopo dan CSISnya. > Masalah yang harus dipecahkan untuk membuktikan bahwa CSIS adalah dalang > Kerusuhan 13-14 Mei 1998 adalah: > 1. Siapa yang membuat rencana dan mendanai (think); > 2. Identitas massa perusuh (tank); dan > 3. Siapa yang bisa menahan semua pasukan keamanan dan menghalangi perusuh? > Ad. 1. Pembuat rencana sudah dapat dipastikan muridnya Ali Moertopo, > dalang Malari, yaitu Benny Moerdani dan Jusuf Wanandi. Sedangkan dana juga > sudah dapat dipastikan berasal Sofyan Wanandi yang meneruskan peran > almarhum Soedjono Hoemardani sebagai donatur semua operasi intelijen CSIS > dan Ali Moertopo. > Benny Moerdani mengendalikan Kerusuhan 13-14 Mei 1998 dari Hotel Ria > Diani, Cibogo, Puncak, Bogor. Adapun SiaR milik Goenawan Mohamad yang tidak > lain sekutu Benny Moerdani bertugas membuat alibi bagi CSIS, antara lain > dengan menyalahkan umat muslim sebagai dalang Kerusuhan 13-14 Mei 1998 > dengan menulis bahwa terdapat pertemuan tujuh tokoh sipil dan militer pada > awal Mei 1998 antara lain Anton Medan, Adi Sasono, Zainuddin MZ, di mana > konon Adi Sasono menegaskan perlu kerusuhan anti-Cina untuk menghabiskan > penguasaan jalur distribusi yang selama ini dikuasai penguasa keturunan > Tionghoa. > Sampai sekarang massa perusuh tidak diketahui identitasnya namun dalam > sejarah kerusuhan CSIS, penggunaan preman bukan hal baru. Dalam kasus > Malari, CSIS membina dan mengerahkan GUPPI, tukang becak, dan tukang ojek > untuk tujuan menunggangi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Dalam kasus > penyerbuan ke Timor Leste, CSIS dan Ali Moertopo mengirim orang untuk > bekerja sama dengan orang lokal melawan Fretilin sehingga Timor Leste > menjadi kisruh yang kemudian menjadi dalih bagi Benny Moerdani menyerbu > Timor-Timur. Begitu juga dalam kasus Kudatuli, CSIS menggunakan preman dan > buruh bongkar muat dari daerah Pasar Induk Kramat Jati, 200 orang yang > terlatih bela diri dari Tangerang, dan lain sebagainya. > Bahkan setelah reformasi, terbukti Sofyan Wanandi mendalangi demonstrasi > yang menamakan diri Front Pembela Amar Maruf Nahi Mungkar yang menuntut > Kwik Kian Gie mundur karena memiliki saham di PT Dusit Thani yang bergerak > dalam usaha panti pijat ketika pemerintah dan DPR berniat menuntaskan > kredit macet milik kelompok usaha Sofyan Wanandi sebagaimana diungkap > Aberson Marle Sihaloho dan Didik Supriyanto, keduanya anggota fraksi PDIP. > Adapun kredit macet dimaksud adalah hutang PT Gemala Container milik Sofyan > Wanandi kepada BNI sebesar Rp. 92miliar yang dibayar melalui mekanisme > cicilan sebesar Rp. 500juta/bulan atau baru lunas 184 tahun kemudian, dan > tanpa bunga. > Adalah fakta tidak terbantahkan bahwa tidak ada tentara selama kerusuhan > tanggal 13 dan 14 Mei 1998, dan bilapun ada, mereka hanya menyaksikan para > perusuh menjarah dan membakar padahal bila saja dari awal para tentara > tersebut bertindak tegas maka dapat dipastikan akan meminimalisir korban > materi dan jiwa. Pertanyaannya apakah hilangnya negara pada kerusuhan Mei > disengaja atau tidak? > Fakta lain yang tidak terbantahkan adalah Kepala BIA yaitu Zacky Anwar > Makarim memberi pengakuan kepada TGPF bahwa ABRI telah memperoleh informasi > akan terjadi kerusuhan Mei. Namun ketika ditanya bila sudah tahu mengapa > kerusuhan masih terjadi, Zacky menjawab tugas selanjutnya bukan tanggung > jawab BIA. Jadi siapa “user” BIA? Tentu saja Panglima ABRI Jenderal Wiranto > yang berperilaku aneh sebab Jakarta rusuh pada tanggal 13 Mei 1998 dan pada > tanggal 14 Mei 1998 dia membawa KSAD, Danjen Kopassus, Pangkostrad, KSAU, > KSAL ke Malang untuk mengikuti upacara serah terima jabatan sampai jam 1.30 > di mana sekembalinya ke Jakarta, kota ini sudah kembali terbakar hebat. > Keanehan Wiranto juga tampak ketika malam tanggal 12 Mei 1998 dia menolak > usul jam malam dari Syamsul Djalal dan dalam rapat garnisun tanggal 13 Mei > 1998 malam dengan agenda situasi terakhir ketika dia membenarkan keputusan > Kasum Letjend Fahrul Razi menolak penambahan pasukan untuk Kodam Jaya > dengan alasan sudah cukup. Selain itu Wirantomenolak permintaan Prabowo > untuk mendatangkan pasukan dari Karawang, Cilodong, Makasar dan Malang > dengan cara tidak mau memberi bantuan pesawat hercules sehingga Prabowo > harus mencarter sendiri pesawat Garuda dan Mandala. Bukan itu saja, tapi > KSAL Arief Kusharyadi sampai harus berinisiatif mendatangkan marinir dari > Surabaya karena tidak ada marinir di markas mereka di Cilandak KKO dan atas > jasanya ini, Wiranto mencopot Arief Kusharyadi tidak lama setelah kerusuhan > mereda. > Mengapa Wiranto membiarkan kerusuhan terjadi? Tentu saja karena dia adalah > orangnya Benny Moerdani, dan setelah Soeharto lengser, Wiranto bekerja sama > dengan Benny Moerdani antara lain dengan melakukan reposisi terhadap 100 > perwira ABRI yang dipandang sebagai “ABRI Hijau” dan diganti dengan > perwira-perwira yang dipandang sebagai “ABRI Merah Putih.” > Setelah Kerusuhan 13-14 Mei 1998, Wiranto bergerak menekan informasi > mengenai terjadinya pemerkosaan massal terhadap wanita etnis Tionghoa > termasuk marah karena pengumuman dari TGPF bahwa terjadi pemerkosaan selama > kerusuhan. Tidak berapa lama, Ita Marthadinata, relawan yang membantu TGPF > dan berumur 17 tahun mati dibunuh di kamarnya sendiri dengan luka mematikan > di leher sedangkan sampai hari ini latar belakang pembunuhnya yaitu Otong > tidak diketahui dan dicurigai dia adalah binaan intelijen. Kecurigaan > semakin menguat sebab beberapa hari sebelum kejadian, Ita dan keluarganya > membuat rencana akan memberikan kesaksian di Kongres Amerika mengenai > temuan mereka terkait korban Kerusuhan 13-14 Mei 1998. > “Bersama Presiden Soeharto, Benny adalah Penasihat YPPI yang didirikan > oleh para mantan tokoh demonstrasi 1966 dengan dukungan Ali Moertopo. Hadir > di rumah Fahmi [Idris] pada malam itu para pemimpin demonstrasi 1966 > seperti Cosmas Batubara, dr. Abdul Ghafur, Firdaus Wajdi, Suryadi [Ketua > PDI yang menyerang Kubu Pro Mega tanggal 27 Juli 1996]; Sofjan Wanandi; > Husni Thamrin dan sejumlah tokoh. Topik pembicaraan, situasi politik waktu > itu… > Moerdani berbicara mengenai Soeharto yang menurut Menhankam itu, ‘Sudah > tua, bahkan sudah pikun, sehingga tidak bisa lagi mengambil keputusan yang > baik. Karena itu sudah waktunya diganti’…Benny kemudian berbicara mengenai > gerakan massa sebagai jalan untuk menurunkan Soeharto. Firdaus menanggapi, > ‘Kalau menggunakan massa, yang pertama dikejar adalah orang Cina dan > kemudian kemudian gereja.’ ” > (Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi, Penerbit Mizan, hal. 316) > Pembicaraan di rumah Fahmi Idris, tokoh senior Golkar yang menyeberang ke > kubu Jokowi-JK demi melawan Prabowo adalah bukti paling kuat yang > menghubungkan Benny Moerdani dengan berbagai kerusuhan massa yang sangat > marak menjelang akhir Orde Baru karena membuka informasi adanya pemikiran > Benny Moerdani untuk menjatuhkan Soeharto melalui gerakan massa yang > berpotensi mengejar orang Cina dan orang Kristen. Kesaksian Salim Said ini > merupakan titik tolak paling penting guna membongkar berbagai kerusuhan > yang belum terungkap seperti Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan 13-14 Mei > 1998. > A. Peristiwa 27 Juli 1996 Adalah Politik Dizalimi (Play Victim) Paling > Keji Sepanjang Sejarah Indonesia > Selanjutnya Robert Odjahan Tambunan dalam bukunya Otobiografi Politik RO > Tambunan: Membela Demokrasi mengungkap bahwa Megawati bisa mencegah > jatuhnya korban dalam Peristiwa 27 Juli 1996 bila menghendaki karena dia > sudah tahu beberapa hari sebelumnya dari Benny Moerdani, akan tetapi > Megawati ternyata lebih memilih kepentingan politik daripada kemanusiaan > (hal. 150); Megawati menyogok Kelompok 124, korban serbuan kantor PDI yang > diadili, agar tidak menuntut kelompok TNI (hal. 172); dan Megawati tidak > pernah ingin menyelesaikan kasus tersebut antara lain terbukti tahun 2002 > memilih gubernur yang terlibat kasus Peristiwa 27 Juli 1996 [Sutiyoso] > (hal. 374). > Bila catatan Salim Said, R.O. Tambunan dihubungkan dengan catatan > Rachmawati Soekarnoputri: Membongkar Hubungan Mega dan Orba di Harian > Rakyat Merdeka 31 Juli 2002 dan 1 Agustus 2002 maka terbukti bahwa akhirnya > Benny mulai menjalankan rencana yang dia ungkap di rumah Fahmi Idris ketika > dia bersekongkol dengan Megawati demi menaikan seseorang dari keluarga > Soekarno sebagai lawan tanding Soeharto dengan merekayasa Peristiwa 27 Juli > 1996. Kutipan dari Catatan Rachmawati Soekarnoputri: > “Sebelum mendekati Mega, kelompok Benny Moerdani mendekati saya > [Rachmawati] terlebih dahulu. Mereka membujuk dan meminta saya tampil > memimpin PDI. Permintaan orang dekat dan tangan kanan Soeharto itu jelas > saya tolak, bagi saya, PDI itu cuma alat hegemoni Orde Baru yang dibentuk > sendiri oleh Soeharto tahun 1973. Coba renungkan untuk apa jadi pemimpin > boneka? > Orang-orang PDI yang dekat dengan Benny Moerdani, seperti Soerjadi dan > Aberson Marie Sihaloho pun ikut mengajak saya gabung ke PDI. Tetapi tetap > saya tolak.” > Dari ketiga catatan di atas kita menemukan nama-nama yang saling terkait > dalam Peristiwa 27 Juli 1996, antara lain: Benny Moerdani; Megawati; Dr. > Soerjadi; Sofjan Wanandi; dan Aberson Marie Sihaloho, dan ini adalah > “eureka moment” yang membongkar persekongkolan jahat karena Aberson Marie > adalah orang yang pertama kali menyebar pamflet bahwa Megawati calon > pemimpin masa depan sehingga menimbulkan kecurigaan Mabes ABRI (modus > Dokumen Ramadi sebelum Malari); sedangkan Dr. Soerjadi adalah Ketum PDI > pengganti Megawati pasca Kongres Medan (atas biaya Sofjan Wanandi) yang > menyerbu kantor PDI dan selama ini diasumsikan perpanjangan tangan Soeharto > ternyata agen ganda didikan Benny Moerdani, dan tentu saja Agum > Gumelar-Hendropriyono, murid Benny Moerdani juga berada di sisi Megawati > atas perintah Benny Moerdani sebagaimana ditulis Jusuf Wanandi dari CSIS > dalam memoarnya, Shades of Grey/Membuka Tabir Orde Baru. > Fakta di atas menjawab alasan Presiden Megawati menolak menyelidiki > Peristiwa 27 Juli 1996 sekalipun harus mengeluarkan kalimat pahit kepada > para korban seperti “Siapa suruh kalian mau ikut saya?” dan malah memberi > jabatan tinggi kepada SBY yang memimpin rapat Operasi Naga Merah; Sutiyoso > komando lapangan penyerbuan Operasi Naga Merah; dan tidak lupa Agum Gumelar > dan AM Hendropriyono yang pura-pura melawan koleganya. Sama saja Megawati > bunuh diri bila dia sampai menyelidiki kejahatannya sendiri! > Fakta-fakta di atas juga membuktikan bahwa dokumen yang ditemukan pasca > ledakan di Tanah Tinggi tanggal 18 Januari 1998 yang menyebutkan ada > rencana revolusi dari Benny Moerdani; Megawati; CSIS dan Sofjan-Jusuf > Wanandi membiayai gerakan PRD adalah dokumen asli dan otentik serta bukan > buatan intelijen untuk mendiskriditkan PRD sebagaimana pembelaan mereka > selama ini. Bunyi salah satu dokumen yang berupa email di laptop adalah: > “Kawan-kawan yang baik! Dana yang diurus oleh Hendardi belum diterima, > sehingga kita belum bisa bergerak. Kemarin saya dapat berita dari Alex > bahwa Sofjan Wanandi dari Prasetya Mulya akan membantu kita dalam dana, di > samping itu bantuan moril dari luar negeri akan diurus oleh Jusuf Wanandi > dari CSIS. Jadi kita tidak perlu tergantung kepada dana yang diurus oleh > Hendardi untuk gerakan kita selanjutnya.” > (Majalah Gatra edisi 31 Januari 1998) > B. Kerusuhan 13-14 Mei 1998, Gerakan Benny Moerdani Menggulung Soeharto; > Prabowo; dan Menaikan Megawati Soekarnoputri Ke Kursi Presiden. > Pernah dengar kisah Kapten Prabowo melawan usaha kelompok Benny Moerdani > dan CSIS mendeislamisasi Indonesia? Kisah ini fakta dan sudah banyak buku > sejarah yang membahas kisah-kisah saat itu, salah satunya cerita Kopassus > masa kepanglimaan Benny. Saat Benny menginspeksi ruang kerja bawahan dia > melihat sajadah di kursi dan bertanya “Apa ini?,” jawab sang perwira, > “Sajadah untuk shalat, Komandan.” Benny membentak “TNI tidak mengenal ini.” > Benny juga sering rapat staf saat menjelang ibadah Jumat sehingga > menyulitkan perwira yang mau sholat Jumat. > Hartono Mardjono sebagaimana dikutip Republika tanggal 3 Januari 1997 > mengatakan bahwa rekrutan perwira Kopassus sangat diskriminatif terhadap > yang beragama Islam, misalnya kalau direkrut 20 orang, 18 di antaranya > adalah perwira beragama non Islam dan dua dari Islam. Penelitian Salim Said > juga menemukan hal yang sama bahwa perwira yang menonjol keislamannya, > misalnya mengirim anak ke pesantren kilat pada masa libur atau sering > hadiri pengajian diperlakukan diskriminatif dan tidak mendapat kesempatan > sekolah karena dianggap fanatik, singkatnya karirnya pasti suram. > Perhatikan perwira tinggi yang menduduki pos penting ketika Benny Moerdani > berkuasa: Sintong Panjaitan; Try Sutrisno; Wiranto; TB Silalahi; TB > Hasanuddin; R.S. Warouw; Albert Paruntu; AM Hendropriyono; Agum Gumelar; > Sutiyoso; Susilo Bambang Yudhoyono; Luhut Panjaitan; Ryamizard Ryacudu; > Jonny Lumintang; Tyasno Sudarto; Albert Inkiriwang; HBL Mantiri; Fachrul > Razi; Adolf Rajagukguk; Theo Syafei; Soebagyo HS dll, maka terlihat pola > tidak terbantahkan bahwa perwira tinggi pada masa kekuasaan Benny Moerdani > adalah non Islam atau Islam abangan (“non-fanatik” atau “non-Islam santri” > menurut versi Benny). Ketidakadilan inilah yang dilawan Prabowo antara lain > bersama BJ Habibie membentuk ICMI yang sempat dilawan habis-habisan oleh > kelompok Benny Moerdani. Tidak heran anggota kelompok Benny Moerdani yang > masih tersisa membenci Prabowo karena dia menghancurkan cita-cita > mendeislamisasi Indonesia. > Mengapa Benny Moerdani dan CSIS mau mendeislamisasi Indonesia? Karena CSIS > didirikan oleh agen CIA, Pater Beek yang awalnya ditempatkan di Indonesia > untuk melawan komunis namun setelah “Bahaya Merah”(komunis) teratasi, dia > membuat analisa bahwa lawan Amerika Serikat berikutnya ada dua yaitu: > “Hijau ABRI” dan “Hijau Islam,” lalu menyimpulkan ABRI bisa dimanfaatkan > untuk melawan Islam, maka berdirilah CSIS yang dioperasikan oleh anak > didiknya: Sofjan, Jusuf Wanandi, Harry Tjan, dan mewakili ABRI: Ali > Moertopo, dan Soedjono Hoemardani (lihat: tulisan George Junus Aditjondro, > mantan murid Pater Beek: CSIS, Pater Beek SJ, Ali Moertopo dan LB Moerdani). > Tidak percaya gerakan anti Prabowo di kubu > Golkar-PDIP-Hanura-NasDem-Demokrat berhubungan dengan kelompok anti Islam > yang dihancurkan Prabowo? Perhatikan pendukung Jokowi-JK: Sutiyoso > (Gubernur DKI saat Kerusuhan 13-14 Mei 1998; Agus Widjojo; Fachrul Razi > (klik Wiranto dan pengusul Jonny Lumintang, orang Benny, Pangkostrad > pengganti Prabowo), Ryamizard Ryacudu (menantu wapres Try Sutrisno periode > 1993-1998, agen Benny Moerdani); Agum Gumelar-Hendropriyono (bodyguard > Megawati suruhan Benny); Andi Widjajanto (anak Theo Syafei); Fahmi Idris > (rumahnya lokasi ketika ide Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan 13-14 Mei > 1998 pertama kali dilontarkan); Luhut Panjaitan; Tyasno Sudarto; Soebagyo > HS (KSAD saat Kerusuhan 13-14 Mei 1998; Wiranto; TB Silalahi; TB Hasanuddin > dll. > Wiranto anak buah Benny Moerdani? Benar, dan Jusuf Wanandi dalam memoarnya > menulis bahwa ketika Presiden Soeharto berhasil menetralisir pengaruh Try > Soetrisno dengan menempatkan Feisal Tanjung dan Prabowo Subianto dan tidak > ada lagi yang bisa dilakukan klik Benny Moerdani, maka mereka menempatkan > semua harapan kepada Wiranto. Selain itu setelah dilantik sebagai Panglima > ABRI, diketahui Wiranto menghadap Benny Moerdani dan meminta bertemu setiap > bulan. Tanggapan Benny menurut Jusuf Wanandi dan Salim Said adalah: > “Jangan berilusi, orang tua itu [Soeharto] tidak menyukai saya, tidak > percaya kepada saya. Anda harus tetap di sana karena Anda satu-satunya yang > kita miliki. Jangan membuat kesalahan karena kariermu akan selesai jika > Soeharto tahu Anda dekat dengan saya.” > (Menyibak Tabir Orde Baru, hal. 365-366; Salim Said, hal. 320) > Wiranto memang membantah memiliki hubungan dekat dengan Benny, namun ada > cara membuktikan Wiranto telah berbohong. Pertama, dalam memoarnya, Jusuf > Wanandi bercerita pasca jatuhnya Soeharto, Wiranto menerima dari Benny > daftar perwira yang dinilai sebagai “ABRI Hijau”, dan dalam sebulan semua > orang dalam daftar nama tersebut disingkirkan Wiranto. Ketika dikonfrontir > mengenai hal ini, Wiranto mengatakan cerita “daftar nama” adalah bohong, > namun bila kita lihat kembali masa-masa setelah Soeharto jatuh maka > faktanya banyak perwira “hijau” yang dimutasi Wiranto dan sempat menuai > protes. > Wiranto orang Benny di samping Presiden Soeharto menjawab alasan Wiranto > menjatuhkan semua kesalahan terkait Operasi Setan Gundul kepada Prabowo; > menghasut BJ Habibie bahwa Prabowo mau kudeta sehingga Prabowo > diberhentikan dari dinas militer; dan adu domba Soeharto dengan menantunya > seolah Prabowo dan BJ Habibie bekerja sama menjatuhkan Soeharto sehingga > dipaksa bercerai dari Titiek Soeharto. Alasannya tidak lain Wiranto adalah > eksekutor dari rencana Benny menistakan Prabowo Subianto. > Bicara “kebejatan” Prabowo tentu tidak lengkap tanpa mengungkit Kerusuhan > 13-14 Mei 1998 yang ditudingkan pada dirinya padahal jelas-jelas Wiranto > sebagai Panglima ABRI pergi ke Malang membawa Kasau, Kasal, Kasad dan > Pangkostrad serta menolak permohonan Prabowo untuk mengerahkan pasukan demi > mengusir perusuh. Berdasarkan temuan fakta di atas bahwa Benny Moerdani mau > menjatuhkan Soeharto melalui kerusuhan rasial dan Wiranto adalah > satu-satunya orang Benny di lingkar dalam Soeharto maka patut diduga > Wiranto sengaja melarang pasukan keluar dari barak karena berniat > membiarkan kerusuhan, tapi rencananya berantakan ketika pasukan marinir > berinisiatif keluar kandang menghalau perusuh. > Selain itu tiga fakta yang menguatkan kesimpulan bahwa klik Benny Moerdani > dalang Kerusuhan 13-14 Mei 1998 adalah sebagai berikut: > 1. Menjatuhkan lawan dengan “gerakan massa” adalah keahlian Ali Moertopo > (guru Benny Moerdani) dan CSIS yang terkenal sejak Peristiwa Malari’74 yang > meletus karena provokasi Hariman Siregar, binaan Ali Moertopo (selengkapnya > lihat kesaksian Jenderal Soemitro yang dicatat Heru Cahyono dalam buku > Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 74 terbitan Sinar > Harapan). > 2. Menurut temuan TGPF Kerusuhan 13-14 Mei 1998, penggerak lapangan adalah > orang berkarakter militer yang sangat cekatan memprovokasi warga untuk > menjarah dan membakar. Ini ciri-ciri orang yang terlatih sebagai intelijen, > padahal baik Wiranto atau Prabowo adalah perwira tipe komando dan bukan > tipe intelijen, sedangkan saat itu hanya Benny Moerdani yang memiliki > kemampuan merekayasa kerusuhan skala besar karena dia mewarisi taktik dan > jaringan yang dibangun Ali Moertopo (mengenai jaringan dimaksud bisa dibaca > di Rahasia-Rahasia Ali Moertopo terbitan Tempo-Gramedia). Lagipula saat > kejadian terbukti Benny sedang rapat di Bogor dan ada laporan intelijen > bahwa provokator kerusuhan 27 Juli 1996 dan 13-14 Mei 1998 dilatih di > Bogor!! > 3. Saat Kerusuhan 13-14 Mei 1998, Fachrul Razi yang saat itu menjabat > sebagai Kasum melarang pengerahan pasukan untuk membantu Kodam Jaya > menghentikan kerusuhan sistematis dan penjarahan. Perlu ditambahkan Fachrul > Razi adalah anggota klik Wiranto yang di atas sudah terbukti adalah binaan > Benny di dalam kabinet Presiden Soeharto yang terakhir. ( > http://www.liputan6.com/fullnews/77958.html > <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.liputan6.com%2Ffullnews%2F77958.html&h=oAQE0Us3yAQH_oGK47inhgckX9KEmDknOMAV-QKv5aiS5VA&enc=AZPk3oCQGeXtMye2wkhqG6xHv2TBuSuKHPSb6HLn0AjRsLAb-4wrS_e_yy94-FUhm4wi7K8w--F83IzixFL2EHJ3I3SPwN48DmZjJNZX4I9SJ6STNqPe_ZWy_r5N0tacI9I6RmHsFfIAIK3p0vZP4oJQYWG1xAHx1LVWASwZ9EUgvCUVOPCcVVPz4hOGetBUGNc&s=1> > ). > Penutup > Benarkah Benny Moerdani tega membasahi tangannya dengan darah rakyat tidak > berdosa? Tidak ada keraguan: Benny Moerdani berprinsip membunuh sebagian > rakyat demi selamatkan negara layak dilakukan, sebagaimana diungkap David > Jenkins, wartawan senior Australia yang memiliki jaringan luas dengan > jenderal Orba dalam orbituari kepada Benny Moerdani, “Charismatic, Sinister > Soeharto Man”: > “Hardened in battle and no stranger to violence, Moerdani believed that > the ends justify the means…He once shocked members of an Indonesian > parliamentary committee by saying, in effect, that if he had to sacrifice > the lives of 2 million Indonesians to save the lives of 200 million > Indonesians he would do so.” > Para murid Benny Moerdani pendukung Jokowi tampaknya mewarisi kekejaman > sang guru, misalnya Luhut Panjaitan pernah menghujani mahasiswa yang sedang > berdemo dengan peluru tajam, menimbulkan banyak korban jiwa, dan hal ini > diceritakan tanpa rasa bersalah: > “Letusan peluru itu tidak digubris para pendemo. Mereka terus melempari > tentara dengan batu. Merasa terdesak Luhut [Panjaitan] memerintahkan anak > buahnya menembak kaki para pendemo. Situasi makin kacau karena mereka > kocar-kacir. Tentara yang mengejar tidak lagi mengarahkan moncong ke aspal, > tapi sudah mengincar sasaran. Luhut menduga banyak yang tewas saat > kejar-kejaran itu.” > (Massa Misterius Malari, Tempo, hal. 71) > Kekejaman Luhut Panjaitan membuatnya menjadi anak emas Benny Moerdani, > sehingga wajar Luhut Panjaitan menyimpan kebencian begitu besar terhadap > Prabowo karena dia kehilangan status dan fasilitas istimewa setelah Benny > Moerdani tersingkir: > “Berbeda dengan panglima-panglima sebelum dan sesudahnya, Benny memang > memelihara sejumlah orang yang disenanginya. “Mereka itu semacam golden > boys Benny Moerdani,” kata Schwarz. Salah satu yang dikenal sebagai “anak > emas” itu adalah Luhut Binsar Panjaitan.” > (Salim Said, hal. 343) > Kekejaman yang sama turut dimiliki AM Hendropriyono, murid Benny lain yang > juga mendampingi Jokowi karena dia pelaku pembantaian Talangsari, Lampung; > DOM di Aceh, lalu bersama Muchdi Pr dan Ass’at (keduanya mendukung > Jokowi-JK) adalah dalang pembunuhan Munir > (lihat: http://www.wikileaks.org/plusd/cables/07JAKARTA163_a.html > <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.wikileaks.org%2Fplusd%2Fcables%2F07JAKARTA163_a.html&h=VAQFWO1OoAQEoKK4TPmyvjZS_cm4ylpIyREFs3v_WkUP0yg&enc=AZPckajywMtj9CPuLlOClFdeNuKazz4hYwZf-m17vAW5wqFx31m4oznw6quDVX0iQxzIigxGLZ_zycVBoGxpFSc5H0jW_ouGqS-q_EIr_YSdNB3jfJsf8FO8NZH8pRzyCevTSgyv6CEwaovyalwsI-RbI_nq3KOD-Yqz4zwbadWlpm_cwQ5DVn4Wk6OR45bpMX0&s=1> > ). > Sudah tidak bisa dibantah bahwa alasan klik Benny Moerdani mendukung > Jokowi-JK sekalipun mengorbankan keutuhan partai masing-masing (PDIP, > Hanura, Golkar, Demokrat) sekedar untuk melawan Prabowo adalah dendam > kesumat yang belum terpuaskan sebab Prabowo menghalangi usaha > mendeislamisasi Indonesia. > Menutup artikel ini saya akan mengutip Jusuf Wanandi, sahabat baik Benny > Moerdani: > “But, maybe Benny’s biggest nemesis was Soeharto son-in-law, Prabowo > Subianto.” > (Shades of Grey, hal. 240) > “…Saya menganggap lawan utama Benny adalah Prabowo Subianto, menantu > Presiden Soeharto.” > (Menyibak Tabir Orde Baru, hal. 327) > Kita harus berterima kasih kepada Julian Assange karena mendirikan website > Wikileaks yang membocorkan berbagai dokumen rahasia milik Amerika Serikat > sebab tanpanya kita tidak akan mengetahui bahwa Jokowi sudah menjalankan > agenda Amerika di Indonesia sejak tahun 2005. Berdasarkan dokumen rahasia > CIA tertanggal 7 April 2006 yang diunggah Wikileaks kita mengetahui bahwa > pada tanggal yang sama agen rahasia CIA bernama Pierangelo dan David S. > Williams bertemu Jokowi selaku Walikota Solo yang baru dilantik 7 bulan > sebelumnya. > Agenda pertemuan adalah membahas Abu Bakar Ba’asyir dari Ponpres Ngruki > yang disebut oleh pelaku serangan 9/11 bernama Riduan Isamuddin alias > Hambali terkait jaringan Al Qaeda di Indonesia bernama Jamaah Islamiyah. > Dalam pertemuan agen CIA tersebut minta Jokowi mengendalikan Abu Bakar > Ba’asyir dan disanggupi oleh Jokowi. Setelah itu Jokowi mendekati Abu > Ba’asyir secara pribadi dan hubungan keduanya menjadi sangat dekat bagai > seorang ayah dan anak, terbukti kendati sedang mendekam di dalam penjara > namun pada tanggal 30 Januari 2013 Abu Bakar Ba’asyir sempat mengirim > utusan menemui Jokowi sekedar menyampaikan salam; yang dibalas oleh Jokowi > dengan ucapan terima kasih dan salam balik. > Jokowi memang berhasil mengontrol Abu Bakar Ba’asyir dan mendapat pujian > dari Dubes AS bernama Cameron R. Hume pada tahun 2008 sebagaimana bocoran > kawat diplomatik di Wikileaks yang dikirim ke Pentagon dengan judul “Solo, > From Radical Hub To Tourist Heaven,” yang intinya melaporkan bahwa Jokowi > telah berhasil mengendalikan Abu Bakar Ba’asyir dan menekan tingkat > kemilitanan Ponpres Ngruki yang terkenal radikal. > Selanjutnya pada tahun yang sama yaitu tahun 2008, Jokowi kedatangan Agus > Widjojo, Luhut Binsar Pandjaitan dan Hendropriyono lalu Luhut bekerja sama > dengan Jokowi membentuk perusahaan patungan bernama PT Rakabu Sejahtera > dengan modal awal dari Luhut Rp. 15,5miliar dan dari anak Jokowi bernama > Gibran Rakabumi Raka sebesar Rp. 19,2miliar (anak dua puluh tahun yang > pelihara tuyul tampaknya). Perlu dicurigai bahwa perusahaan hanya kedok > sebuah operasi intelijen karena tidak lama setelah Jokowi menjadi Gubernur > DKI, kantor perusahaan tersebut dua kali terbakar dalam waktu berdekatan. > Kehadiran Hendropriyono dan Luhut Pandjaitan semakin melekatkan pengaruh > Amerika pada kehidupan Jokowi sebab mereka adalah murid langsung dan anak > emas Jenderal Benny Moerdani, seorang petinggi CSIS, sebuah lembaga yang > didirikan agen CIA bernama Pater Beek. CSIS dan Pater Beek bukanlah > satu-satunya hubungan CIA dengan Jokowi, sebab penanggung jawab proses > memoles citra Jokowi dari walikota gagal menjadi “pemimpin muda masa depan” > hingga masuk gerbang pencapresan adalah Goenawan Mohamad yang kerap > menerima uang negara asing dan anak didik Ivan Kats, seorang agen CIA. > Khusus CSIS, sejak awal mereka memiliki hubungan dengan Ali Moertopo yang > terkenal dengan Opsus dan pernah merekayasa kerusuhan Malari pada 15 > Januari 1974 dan setelah kematian Ali Moertopo, tampaknya Opsus diwariskan > kepada Jusuf Wanandi, pemimpin tertinggi CSIS saat ini karena Wikileaks > menemukan Jusuf Wanandi adalah orang Opsus: > “6. ASIDE FROM MURTONO, HOWEVER, ALI MURTOPO AND OPSUS SEEM TO HAVE DONE > RATHER WELL. NUMBER TWO MAN (MARTONO) HAS LONG BEEN KNOWN AS OPSUS MAN IN > OLD KOSGORO ORGANIZATION. JUSUF WANANDI (LIM BIAN KIE) HAS KEY POSITION > HEADING LIST OF SECRETARIES ORGANIZED ACCCORDING TO FUNCTION, AND OPSUS > STALWARTS DOMINATE AT THIS WORKING LEVEL.” > https://www.wikileaks.org/plu…/cables/1973JAKART10795_b.html > <https://www.facebook.com/l.php?u=https%3A%2F%2Fwww.wikileaks.org%2Fplusd%2Fcables%2F1973JAKART10795_b.html&h=eAQHsYYCjAQGtLgQ9lN4796V3kaKBJk423OEPCLWgLaaHTQ&enc=AZMdnBjKXCz1PJasVbtsc_V4EXq97qQ_pvo7Et2y3m7sicCLf0pnBt3vv9U5xwgvcEkI55k2AU6fv_07TKUwoJwhIa3ttgVfS2_O4tIrTpfsHfxQUiZhZM0NLJRhcbMbpHbYWXK9mi9aILkNCgX6fQauwMTQ80g2ZZ-w-Lgpro7lloheGoc_t57py0sQRTAWE1g&s=1> > Kemunculan anak emas Benny Moerdani dari CSIS yang merupakan kepanjangan > tangan kepentingan Amerika di Solo dan dilengkapi perangkat rekayasa ala > Opsus sangat patut diduga terkait usaha mempersiapkan Jokowi sebagai > presiden boneka Amerika Serikat. Jokowi dan timsesnya berhak membantah dia > adalah boneka Amerika dan CSIS namun keberadaan Ajianto Dwi Nugroho yang > dikader oleh murid-murid Pater Beek di dalam Jasmev untuk memenangkan > Jokowi pada Pilkada DKI dan sekarang melalui cabang Jasmev, PartaiSocmed > untuk memenangkan pilpres tidak bisa dibantah. Selain itu kita ingat > kejadian memalukan di mana Jokowi membawa mantan Presiden Megawati > menghadap Duta Besar Amerika, Inggris dan Kanada di rumah petinggi CSIS > bernama Jacob Soetoyo dan kembali menyerahkan lehernya beberapa hari > sebelum deklarasi pencapresannya adalah fakta umum yang tidak bisa dibantah. > Sebelum kita melanjutkan, apakah anda tahu bahwa salah satu taktik > deislamisasi yang dilakukan oleh CSIS adalah melalui kebijakan kader mereka > Daoed Joesoef yang saat menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melarang > sekolah libur pada hari Ramadhan dan siswi beragama Islam dilarang > menggunakan jilbab yang mana serupa dengan kebijakan Benny Moerdani yang > melarang sajadah di lingkungan ABRI dan selalu mempersulit prajurit yang > bermaksud sholat Jumat? > http://tikusmerah.com/?p=1204 > <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Ftikusmerah.com%2F%3Fp%3D1204&h=GAQFfPOsbAQHY81yR3GS9STLVtGHj9Gru96_2bjK1NS5zmA&enc=AZMMuYDLacHC-7zM_tyJKMSPK81JzJKx2FRbbG96x2BfkBCS_qdG-pxOJqzuMOw0RzeRQzdxprjcdfG3iHl_HuFf4R4ZvpP3h76SaG9InjSoo1bBs3DbckB25njdoZ_Ii5rdyG-s4gSUVG9xzsP8-shWVIR4r7vSuUTSro3C6htY9xPk1z0YjIzsFp6euzeX990&s=1> > Dengan fakta di atas maka sangat tidak mengherankan bila beberapa hari > lalu seorang Dubes AS Robert Blake mencoba melakukan kampanye hitam > menyerang Prabowo demi membantu meningkatkan peluang bagi capres boneka > Amerika memenangkan pertarungan pilpres mendatang. Selain itu tidak heran > juga ketika menjelang pilpres terbit sebuah fitnah keji bahwa Prabowo > menghina kebutaan Gus Dur yang dilancarkan oleh media massa Time melalui > tulisan jurnalis anti Indonesia bernama Yenny Kwok yang bersumber dari > tulisan jurnalis anti Indonesia lain bernama Allan Neirn karena artikel > tersebut memang hampir dapat dipastikan pesanan dari Pemerintah Amerika > Serikat. > Belum selesai serangan kampanye hitam dari Dubes AS; dan Time melalui > tangan duo Yenny Kwok dan Allan Neirn yang terafiliasi dengan mantan pelaku > G30S/PKI bernama Carmel Budiardjo yang selama 50 tahun melancarkan kampanye > anti Indonesia di dunia internasional, sekarang datang serangan dari Sofyan > Wanandi, pemimpin para pengusaha-pengusaha di Indonesia yang mengatakan > bahwa para pengusaha kuatir bila Prabowo menjadi presiden. > Siapa Sofyan Wanandi? Dia adalah adik Jusuf Wanandi dan orang yang memulai > salah satu pembusukan karakter paling keji terhadap Prabowo ketika > diwawancara Adam Schwarz mengatakan seolah Prabowo pernah bilang akan > mengusir semua orang cina sekalipun hal itu akan membuat ekonomi Indonesia > muncur 20-30 tahun tapi 14 tahun setelah rumor tersebut merasuk ke sumsum > rakyat Indonesia atau tahun 2012, barulah Sofyan Wanandi membantah bahwa ia > pernah mengeluarkan pernyataan seperti itu dengan alasan “jurnalis salah > paham.” > Sebagai adik penguasa Opsus, Sofyan Wanandi memang bukan pengusaha biasa, > terbukti dia adalah donatur utama banyak penggarapan yang dilakukan Opsus > era pimpinan Jusuf Wanandi dan CSIS seperti membiayai Kongres PDI di Medan > ketika Benny Moerdani merekayasa politik dizolimi dengan “menjatuhkan” > Megawati dari kursi Ketua Umum PDI dan diganti oleh “antek Orde Baru” Dr. > Soerjadi yang menurut kesaksian dari Rachmawati Soekarnoputri sebenarnya > adalah orang binaan Benny Moerdani juga. > Nama Sofyan Wanandi juga kembali disebut dalam dua dokumen yang ditemukan > pasca meledaknya bom rakitan di Rumah Susun Johar di Tanah Tinggi, Tanah > Abang.tanggal 18 Januari 1998. Saat aparat menyisir lokasi ledakan > ditemukan sebuah laptop berisi arsip e-mail dan dokumen notulen rapat > “Kelompok Pro Demokrasi” di Leuwiliang, Bogor, pada tanggal 14 Januari 1998 > yang merencanakan revolusi dan dihadiri oleh 19 aktivis mewakili 9 > organisasi terdiri dari kelompok senior dan kelompok junior. Adapun > kelompok senior terdiri atas: > Pertama, CSIS yang bertugas membuat analisis dan menyusun konsep > perencanaan aktivitas ke depan. > Kedua, Benny Moerdani. > Ketiga, PDI Pro Megawati Soekarnoputri. > Keempat, kekuatan ekonomi diwakili oleh Sofjan Wanandi dan Yusuf Wanandi. > Sedangkan isi email: > “Kawan-kawan yang baik! Dana yang diurus oleh Hendardi belum diterima, > sehingga kita belum bisa bergerak. Kemarin saya dapat berita dari Alex > [Widya Siregar] bahwa Sofjan Wanandi dari Prasetya Mulya akan membantu kita > dalam dana, di samping itu bantuan moril dari luar negeri akan diurus oleh > Jusuf Wanandi dari CSIS. Jadi kita tidak perlu tergantung kepada dana yang > diurus oleh Hendardi untuk gerakan kita selanjutnya.” > Sumber: Majalah Gatra edisi 31 Januari 1998 > Kedua dokumen di atas selain membuktikan Sofyan Wanandi, Jusuf Wanandi, > CSIS, Benny Moerdani dan Megawati adalah bagian dari kelompok yang > bermaksud membuat sebuah kerusuhan yang dibungkus sebagai revolusi, > ternyata terungkap juga bahwa Hendardi dari PBHI yang beberapa bulan > terakhir konsisten meributkan pencapresan Prabowo dengan membawa isu HAM > dan penculikan adalah bagian dari kelompok tersebut dengan tugas mencari > pendanaan. Aksi-aksi Hendardi mempolitisasi penangkapan terduga teroris > pada tahun 1998 tersebut juga dilakukan oleh Tempo, majalah milik anak > didik agen CIA yaitu Goenawan Mohamad dan Haris Azhar dari Kontras yang > pernah meminta Uni Eropa melanggar kedaulatan Indonesia dengan melakukan > intervensi terhadap pemerintah Indonesia. Selain itu politisasi juga > dilakukan Metro TV, tapi Surya Paloh hanya politisi oportunis, jadi dia > bukan CSIS atau antek CIA. > http://protectioninternational.org/…/haris-azhar-on-the-ro…/ > <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fprotectioninternational.org%2Fvideo%2Fharis-azhar-on-the-role-of-kontras%2F&h=JAQH27OO8AQGKtbBQQNgypieUsIl1pL4EVJFHqhnhPXb5Zw&enc=AZNeiw8rU1qQMvnZHYi7A8gSM2ivau30c8aJt454f_EeWs5if2JZ0JjwQuyHGkf6MKz22nKFFDbewQrXkg7SxcLWkO4Gyf-nn8Jb7DrW5iD1ubvTnvWtrVXffyj1sP_Zug-lw_NaeGhgMUFvnnoVt5PkmLrOAy0t5Ks7Ndf3DymjnjcQ0VTpA6Jxicw0CjPvCho&s=1> > Bagi kalangan aktivis yang sampai sekarang masih memegang teguh idealisme, > orang seperti Hendardi, Goenawan Mohamad, dan Haris Azhar dimasukan ke > dalam kelompok “Pedagang Orang Hilang,” sebab mereka memperdagangkan isu > “Orang Hilang” melalui serangkaian politisasi demi untuk mencapai keinginan > mereka baik berupa uang donasi, jabatan, kedudukan sosial, atau > mendiskriditkan lawan mereka. Hal ini terbukti dari fakta bahwa para orang > yang berkumpul dalam Asosiasi Pedagang Orang Hilang ini tidak meliput > pernyataan Andi Arief, salah satu “korban penculikan 1998″ bahwa Wiji > Thukul, orang yang kerap menjadi salah satu ikon para Pedagang Orang Hilang > ternyata masih hidup dengan sehat setidaknya dua bulan setelah reformasi > dan fakta ini diketahui oleh Goenawan Mohamad dan Stanley dari Tempo, dan > Jaap Erkelens. > http://m.inilah.com/…/akhirnya-andi-arief-bercerita-soal-wi… > <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fm.inilah.com%2Fread%2Fdetail%2F2114481%2Fakhirnya-andi-arief-bercerita-soal-widji-thukul&h=5AQFwzrxLAQEl3EJnl-NVSq-ZBASQFrhHKMhCN8aiWIM_Aw&enc=AZPc8MjR-_I7wCUIUfzVT8w6K2EpqOk0aS48iNRpPMoz-iLVMKEcbkA4aTD-Y7mJIFTIZ-21GirbukSca2c3rB9fcUMtkXDA39GrvdYuiyPxi--7dfbRxFlpAAw-u6itSmYcWMwrTUEz6T9rj0DivW-0PY8nBsY_thAhOqWubntjVkAzz29WvuHkYIf6pu0lmf8&s=1> > http://m.rmol.co/news.php?id=161521 > <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fm.rmol.co%2Fnews.php%3Fid%3D161521&h=9AQFOEFAoAQGHXCFFuyRhAvRc5vd-ZNkuQeeNhOL-A7G7KA&enc=AZPYWxvrjqaxObhNpIBupji81jQ2Zkd6BPYxEeZFg0ewI9nvFq6AvD2ovvb9_XGwoQApFS68UJXaPwJYV09gZer6snD3YknM60h4ZBa9fNPmosuldstgm5h5lpQTQkfcyU4Sazh48lLI6R92X9Sl4YXIUcjY3QNO4hNgRvnPM0OZOncTOk83g7UDKF0ybMNj38A&s=1> > Selain fakta Wiji Thukul masih hidup dan sehat, para Pedagang Orang Hilang > juga menyembunyikan fakta bahwa sejak 16 tahun lalu tim SiaR bentukan > Goenawan Mohamad sudah menemukan bukti bahwa Prabowo tidak bersalah dan > hanya difitnah. Mereka juga sengaja tidak meliput berita penyerahan dokumen > kepada Komnas HAM berisi notulen rapat pembahasan Operasi Kuningan di > antara para jenderal Orde Baru untuk memfitnah Prabowo. > Temuan tim SiaR adalah: > “Tapi, teknik ABRI menyelesaikan intern soal penculikan ini, agaknya > memang sengaja ditempuh untuk menghindari terbongkarnya orang-orang di > belakang Prabowo. Sebuah sumber di Mabes ABRI mengatakan, sebetulnya > Prabowo punya surat perintah penculikan itu, yang diteken oleh Jenderal > Feisal Tanjung, Pangab sebelumnya. Surat itu, konon, akan dibeberkan kalau > Prabowo diseret ke Mahmilub. Akibatnya, Wiranto berkompromi dengan > menjatuhkan hukuman yang ringan untuk Prabowo.” > http://www.minihub.org/siarlist/msg00741.html > <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.minihub.org%2Fsiarlist%2Fmsg00741.html&h=jAQGLM0vRAQFbkNKlYjktIsKD0Wn7n6y-1bx-T-wYLw5DbQ&enc=AZOMLD0dJb5XI3-daTtdklDov8nYp8puXWuEYJ9hSZgG5NvdW0fHG0cWkmzUsFesIwAhfqc27B1DItGjadifPMs4EQTUwXissFoqLqm0vqPVjUx_3n_NOy6LYxjGqqo255C9hf87u42XwD9TgvWTYAmPUnq0C208sI452w27lL53egKMothrVb5lDSfvikFIL7I&s=1> > Dokumen yang diserahkan kepada Komnas HAM adalah notulen rapat terbatas > tanggal 17 Juli 1998 di rumah Wiranto yang dihadiri oleh Agum Gumelar, > Soebagio HS, Fachrul Rozi, dan Yusuf Kartanagara yang mana Agum Gumelar > mengemukakan pendapat mengenai perlunya menciptakan “aktor” yang akan > dijadikan dalang segala dalang kerusuhan Mei dan “penculikan aktivis,” > selanjutnya Soebagyo HS menyarankan agar kepergian ke Malang tanggal 14 Mei > 1998 dijadikan alibi untuk mengarahkan Prabowo sebagai aktor utama > kerusuhan di Jakarta dan penangkapan aktivis. Letjend Fachrul Rozi juga > mengusulkan pembentukan Dewan Kehormatan Perwira tanpa Mahkamah Militer > untuk memberhentikan Prabowo sekaligus menciptakan opini bahwa Prabowo > adalah dalang kerusuhan di Jakarta. Terakhir Wiranto memberi perintah agar > para “aktivis” yang belum dilepas untuk “disukabumikan.” > Untuk membuktikan keaslian atau kepalsuan dokumen tersebut cukup mudah > yaitu melakukan pemeriksaan forensik terhadap tanda tangan para peserta > rapat yang dibubuhkan di dalam dokumen notulensi. Bila tanda tangannya > asli, maka BOOM!!, tidak ada alasan untuk tidak membawa Wiranto, Soebagyo > HS, Fachrul Razi, dan Agum Gumelar ke pengadilan. > http://m.aktual.co/…/145428operasi-kuningan-wiranto-perinta… > <http://m.aktual.co/politik/145428operasi-kuningan-wiranto-perintahkan-13-aktifis-98-dibumihanguskan> > Kenapa Tempo; Media Indonesia; Metro TV; Jawa Pos dll yang biasa “peduli > HAM” dan “penculikan aktivis” tidak membuat laporan kejadian tersebut? > Padahal bila dokumen ternyata asli, maka kita akan bisa mengungkap > penembakan Trisakti sampai Kerusuhan 13-14 Mei 1998. Namanya juga Pedagang > Orang Hilang, yang membantu dagangan pasti dijadikan bahan marketing > sedangkan yang merusak dagangan akan disingkirkan dan dianggap tidak ada. > Kendati demikian terbukti kunci membuka misteri 1998 bukan di Bukit > Hambalang, melainkan di Tanah Abang, Utan Kayu, Salatiga dan Semarang. > sumber: horabolt > > > AnwarDjambak > Alam Takambang Jadikan Guru > Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
