Assalamu'alaikum wr.wb.


Kalau ndak jaleh sumber asli dan penulis nyo, derajat nyo samo jo koran
kuniang, mayoritas referensi dari web-web nan kalua manjalang Pemilu
patang, untuak tujuan pengalihan opini.


Salam


Reza




2015-10-25 9:15 GMT+07:00 Abraham Ilyas <[email protected]>:

> Sanak Haqir WalFaqir n.a.h
>
> Ambo minta sumber asli dari tulisan iko dan siapa penulisnya ?
> ....karano tatulih Maxis (?)
>
> Terima kasih dan wassalam
>
>
> Pada 24 Oktober 2015 20.11, 'Haqir WalFaqir' via RantauNet <
> [email protected]> menulis:
>
>> TERUNGKAPNYA MISTERI KERUSUHAN MEI 1998 DAN HUBUNGANNYA DENGAN AKTOR
>> SUKSESI JOKOWI
>> Fahreenheat.com <http://fahreenheat.com/>- Saya pernah menempuh
>> pendidikan di sekolah milik Cosmas Batubara, tokoh eksponen’66 yang
>> menghadiri rapat di rumah Fahmi Idris yang juga dihadiri Sofyan Wanandi.
>> Rapat mana untuk pertama kalinya Benny Moerdani mengungkap rencana
>> menggulingkan Presiden Soeharto melalui kerusuhan rasial anti Tionghoa dan
>> Kristen (Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi, Penerbit Mizan, hal. 316).
>> Salah satu kegiatan wajib di sekolah milik Cosmas Batubara adalah
>> melakukan retreat dan tahun ajaran 1992-1993, seluruh siswa kelas 5 SD
>> retreat selama lima hari di sebuah wisma sekitar Klender yang lebih mirip
>> asrama daripada tempat retreat. Wisma lokasi retreat tersebut sudah sangat
>> tua dan berdesain khas gedung tahun 1960an. Sejak awal menjejakan kaki di
>> sana saya sudah merasakan aura yang tidak enak dan ini sangat berbeda dari
>> lokasi retreat lain seperti Maria Bunda Karmel di puncak.
>> Adapun kegiatan selama retreat lebih menekankan kepada kedisiplinan dan
>> melatih mental sehingga setiap kamar tidak ada kipas angin atau AC, dan
>> selama retreat kami dipaksa bangun jam 4 pagi padahal baru tidur rata-rata
>> jam 11 malam, ada puasa sepanjang hari, berdoa semalam suntuk dan ada
>> beberapa kegiatan yang tidak lazim seperti diminta mencium dan mengingat
>> bau bumbu masakan atau bunga yang disimpan dalam beberapa botol kecil
>> selanjutnya mata ditutup dan setiap anak akan disodori botol-botol tadi dan
>> diminta menebak bau/wangi apa. Puluhan tahun kemudian saya membaca bahwa
>> pada tahun 1967 tempat pendidikan Kaderisasi Sebulan (Kasebul) milik Pater
>> Beek dipindahkan ke Klender, Jakarta Timur yang memiliki tiga blok, 72
>> ruangan dan 114 kamar tidur. Apakah lokasi yang sama Kasebul dengan tempat
>> retreat adalah tempat yang sama? Saya tidak tahu.
>> Puluhan tahun kemudian saya masih ingat pengalaman selama lima hari yang
>> luar biasa melelahkan tersebut padahal saya tidak ingat pengalaman retreat
>> saat di Maria Bunda Karmel, dan karena itu saya menjadi paham maksud
>> Richard Tanter bahwa metode Kasebul yang melelahkan jiwa dan raga tersebut
>> pada akhirnya menciptakan kader yang sepenuhnya setia, patuh kepada Pater
>> Beek secara personal, menjadi orangnya Beek seumur hidup dan bersedia
>> melakukan apapun bagi Pater Beek sekalipun kader tersebut sudah pulang ke
>> habitat asalnya.
>> Entah apakah Kasebul masih dilakukan hari ini mengingat kekuasaan Katolik
>> dan Paus di Roma sudah tidak sekuat puluhan tahun silam, namun saya yakin
>> Kasebul masih ada setidaknya tahun 1992-1993 sebab Suryasmoro Ispandrihari
>> mengaku kepada Mujiburrahman bahwa tahun 1988 dia pernah ikut Kasebul dan
>> diajarkan untuk anti Islam, pernyataan yang dibenarkan oleh Damai Pakpahan,
>> peserta Kasebul tahun 1984. Oleh karena itu saya tidak bisa sepenuhnya
>> menyalahkan murid-murid pertama Pater Beek seperti Jusuf Wanandi, dan
>> Sofyan Wanandi di CSIS bila mereka sampai hari ini tidak bisa melepas
>> karakter Ultra Kanan untuk melawan Islam, bagaimanapun begitulah didikan
>> Pater Beek, tapi tetap saja mereka tidak bisa dimaafkan karena mendalangi
>> Kerusuhan 13-14 Mei 1998 dan harus diproses secara hukum.
>> Upaya menggerakan massa untuk jatuhkan Presiden Soeharto dimulai tanggal
>> 8 Juni 1996, ketika Yopie Lasut selaku Ketua Yayasan Hidup Baru mengadakan
>> pertemuan tertutup dengan 80 orang di Hotel Patra Jasa dengan tema
>> “MENDORONG TERCIPTANYA PERLAWANAN RAKYAT TERHADAP REZIM ORDE BARU DI
>> DAERAH-DAERAH” yang dihadiri antara lain oleh aktivis mahasiswa radikal,
>> tokoh LSM, mantan tapol, Sofyan Wanandi-Megawati Soekarnoputri-Benny
>> Moerdani. Tidak berapa lama, operasi Benny Moerdani untuk meradikalisasi
>> rakyat dengan tujuan “mendorong” mereka bangkit melawan Presiden Soeharto
>> dimulai ketika pada tanggal 22 Juni 1996, Dr. Soerjadi, orang yang pada
>> tahun 1986 pernah diculik Benny Moerdani ke Denpasar dan akhirnya menjadi
>> Ketua PDI periode 1986-1992 dengan diperbantukan Nico Daryanto dari CSIS
>> dan bekerja di bank milik kelompok usaha Sofyan Wanandi yaitu Gemala Grup
>> dan Presiden Direktur PT Aica Indonesia, akhirnya terpilih menjadi Ketua
>> Umum PDI menggeser boneka Benny Moerdani untuk menggantikan Presiden
>> Soeharto yaitu Megawati Soekarnoputri dalam kongres yang juga dibiayai oleh
>> Sofyan Wanandi.
>> Adapun menurut kesaksian Alex Widya Siregar, terpilihnya Megawati
>> Soekarnoputri pada munas tahun 1993 adalah karena Direktur A Badan
>> Intelijen ABRI waktu itu yaitu Agum Gumelar menggiring peserta munas ke
>> Hotel Presiden sambil ditodong pistol dan mengatakan “Siapa tidak memilih
>> Megawati akan berhadapan dengan saya.” Belakangan diketahui bahwa Agum
>> Gumelar adalah salah satu anak didik yang setia kepada Benny Moerdani dan
>> bersama Hendropriyono menerima perintah untuk seumur hidup menjaga Megawati
>> Soekarnoputri.
>> Sebulan kemudian pada tanggal 27 Juli 1996 terjadi penyerbuan ke kantor
>> PDI oleh massa Dr. Soerjadi menghantam massa PDI Pro Mega yang sedang
>> berorasi di depan kantor PDI, dan Megawati telah mengetahui dari Benny
>> Moerdani bahwa penyerbuan akan terjadi namun dia mendiamkan sehingga
>> berakibat matinya ratusan pendukung Megawati dan menelan korban harta dan
>> jiwa dari rakyat sekitar. Pada hari bersamaan Persatuan Rakyat Demokratik
>> yang didirikan oleh Daniel Indrakusuma alias Daniel Tikuwalu, Sugeng
>> Bahagio, Wibby Warouw dan Yamin mendeklarasikan perubahan nama menjadi
>> Partai Rakyat Demokratik yang mengambil tempat di YLBHI, dan selanjutnya
>> pasca Budiman Soejatmiko dkk ditangkap, pada Agustus 1997 PRD deklarasikan
>> perlawanan bersenjata.
>> Hasil karya CSIS-Benny Moerdani-Megawati dalam Kudatuli antara lain:
>> berbagai gedung sepanjang ruas jalan Salemba Raya seperti Gedung Pertanian,
>> Showroom Auto 2000, Showroom Honda, Bank Mayapada, Dept. Pertanian, Mess
>> KOWAD, Bus Patas 20 jurusan Lebak Bulus – Pulo Gadung, bus AJA dibakar
>> massa. Sepanjang Jl. Cikini Raya beberapa gedung perkantoran seperti Bank
>> Harapan Sentosa dan tiga mobil sedan tidak luput dari amukan massa dll.
>> Selanjutnya pada hari Minggu, 18 Januari 1998 terjadi ledakan di kamar
>> 510, Blok V, Rumah Susun Johar di Tanah Tinggi, Tanah Abang sesaat setelah
>> jam berbuka puasa yang membuat ruangan seluas 4 x 4 meter tersebut hancur
>> berantakan.
>> Langit-langit yang bercat putih porak-poranda, atap ambrol, dinding
>> retak, salah satu sudut jebol dan di sana sini ada bercak darah. Menurut
>> keterangan Mukhlis, Ketua RT 10 Tanah Tinggi bahwa Agus Priyono salah satu
>> pelaku yang tertangkap saat melarikan diri, ditangkap dalam kondisi
>> belepotan darah dan luka di bagian kepala dan tangannya, sementara dua
>> lainnya berhasil kabur. Setelah melakukan pemeriksaan, polisi menemukan: 10
>> bom yang siap diledakan, obeng, stang, kabel, botol berisi belerang,
>> dokumen notulen rapat, paspor dan KTP atas nama Daniel Indrakusuma, disket,
>> buku tabungan, detonator, amunisi, laptop berisi email dan lain sebagainya.
>> Dari dokumen tersebut ditemukan fakta bahwa Hendardi, Sofyan Wanandi, Jusuf
>> Wanandi, Surya Paloh, Benny Moerdani, Megawati terlibat dalam sebuah
>> konspirasi jahat untuk melancarkan kerusuhan di Indonesia demi gulingkan
>> Presiden Soeharto.
>> Temuan tersebut ditanggapi Baskortanasda Jaya dengan memanggil Benny
>> Moerdani (dibatalkan), Surya Paloh dan kakak beradik Wanandi dengan hasil:
>> 1. Surya Paloh membantah terlibat dengan PRD namun tidak bisa mengelak
>> ketika ditanya perihal pemecatan wartawati Media Indonesia yang menulis
>> berita mengenai kasus bom rakitan di Tanah Tinggi tersebut.
>> 2. Jusuf Wanandi dan Sofyan Wanandi membantah terlibat pendanaan PRD
>> ketika menemui Bakorstanas tanggal 26 Januari 1998, namun keesokan harinya
>> pada tanggal 27 Januari 1998 mereka mengadakan pertemuan mendadak di
>> Simprug yang diduga rumah Jacob Soetoyo bersama Benny Moerdani, A. Pranowo,
>> Zen Maulani dan seorang staf senior kementerian BJ Habibie dan kemudian
>> tanggal 28 Januari 1998, Sofyan Wanandi kabur ke Australia yang sempat
>> membuat aparat berang dan murka. Sofyan Wanandi baru kembali pada bulan
>> Februari 1998.
>> Bersamaan dengan temuan dokumen penghianatan CSIS dan Benny Moerdani
>> tersebut, dan fakta bahwa Sofyan Wanandi menolak gerakan “Aku Cinta Rupiah”
>> padahal negara sedang krisis membuat banyak rakyat Indonesia marah dan
>> segera melakukan demo besar guna menuntut pembubaran CSIS namun Wiranto
>> melakukan intervensi dengan melarang demonstrasi. Mengapa Wiranto membantu
>> CSIS? Karena dia adalah orangnya Benny Moerdani dan bersama Try Soetrisno
>> sempat digadang-gadang oleh CSIS untuk menjadi cawapres Presiden Soeharto
>> karena CSIS tidak menyukai BJ Habibie dengan ICMI dan CIDESnya.
>> Kepanikan CSIS atas semua kejadian ini terlihat jelas dalam betapa
>> tegangnya rapat konsolidasi pada hari Senin, 16 Februari 1998 di Wisma
>> Samedi, Klender, Jakarta Timur (dekat lokasi Kasebul) dan dihadiri oleh
>> Harry Tjan, Cosmas Batubara, Jusuf Wanandi, Sofyan Wanandi, J. Kristiadi,
>> Hadi Susastro, Clara Juwono, Danial Dhakidae dan Fikri Jufri.
>> Ketegangan terutama terjadi antara J. Kristiadi dengan Sofyan Wanandi
>> sebab Kristiadi menerima dana Rp. 5miliar untuk untuk menggalang massa anti
>> Soeharto tapi CSIS malah menjadi sasaran tembak karena ketahuan mendanai
>> gerakan makar. Akibatnya Sofyan dkk menuduh Kristiadi tidak becus dan
>> menggelapkan dana. Tuduhan ini dijawab dengan beberkan penggunaan dana
>> terutama kepada aktivis “kiri” di sekitar Jabotabek, misalnya Daniel
>> Indrakusuma menerima Rp. 1,5miliar dll. Kristiadi juga menunjukan
>> berkali-kali sukses menggalang massa anti Soeharto ke DPR, dan setelah CSIS
>> didemo, Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta (FKMIJ) yang setahun
>> terakhir digarap segera mengecam demo tersebut. Di akhir rapat disepakati
>> bahwa Kristiadi akan menerima dana tambahan Rp. 5miliar.
>> Karena kondisi sudah mendesak bagi Benny Moerdani, kakak beradik Wanandi
>> dan CSIS sehingga mereka memutuskan untuk mempercepat pelaksanaan kejatuhan
>> Presiden Soeharto memakai rencana yang pernah didiskusikan di rumah Fahmi
>> Idris pada akhir tahun 1980an yaitu kerusuhan rasial. Adapun metode
>> kerusuhan akan meniru Malari yang dilakukan oleh Ali Moertopo dan Soedjono
>> Hoemardani dengan diperbantukan Sofyan Wanandi yang mendanai GUPPI, yaitu
>> massa yang menunggangi demo mahasiswa UI demi menggulingkan Jenderal
>> Soemitro.
>> Sekedar mengingatkan Malari yang terjadi pada tanggal 15 – 16 Januari
>> 1976 adalah kerusuhan dengan menunggangi aksi anti investasi asing oleh
>> mahasiswa UI atas hasutan Hariman Siregar, orangnya Ali Moertopo. Kerusuhan
>> mana kemudian membakar Glodok, Sudirman, Matraman, Cempaka Putih, Roxy,
>> Jakarta-By-Pass, 11 mati, 17 luka parah, 200 luka ringan, 807 mobil hancur
>> atau terbakar, 187 motor hancur atau terbakar, 144 toko hancur dan 700 kios
>> di Pasar Senen dibakar habis. Ini semua buah tangan Wanandi bersaudara, Ali
>> Moertopo dan CSISnya.
>> Masalah yang harus dipecahkan untuk membuktikan bahwa CSIS adalah dalang
>> Kerusuhan 13-14 Mei 1998 adalah:
>> 1. Siapa yang membuat rencana dan mendanai (think);
>> 2. Identitas massa perusuh (tank); dan
>> 3. Siapa yang bisa menahan semua pasukan keamanan dan menghalangi perusuh?
>> Ad. 1. Pembuat rencana sudah dapat dipastikan muridnya Ali Moertopo,
>> dalang Malari, yaitu Benny Moerdani dan Jusuf Wanandi. Sedangkan dana juga
>> sudah dapat dipastikan berasal Sofyan Wanandi yang meneruskan peran
>> almarhum Soedjono Hoemardani sebagai donatur semua operasi intelijen CSIS
>> dan Ali Moertopo.
>> Benny Moerdani mengendalikan Kerusuhan 13-14 Mei 1998 dari Hotel Ria
>> Diani, Cibogo, Puncak, Bogor. Adapun SiaR milik Goenawan Mohamad yang tidak
>> lain sekutu Benny Moerdani bertugas membuat alibi bagi CSIS, antara lain
>> dengan menyalahkan umat muslim sebagai dalang Kerusuhan 13-14 Mei 1998
>> dengan menulis bahwa terdapat pertemuan tujuh tokoh sipil dan militer pada
>> awal Mei 1998 antara lain Anton Medan, Adi Sasono, Zainuddin MZ, di mana
>> konon Adi Sasono menegaskan perlu kerusuhan anti-Cina untuk menghabiskan
>> penguasaan jalur distribusi yang selama ini dikuasai penguasa keturunan
>> Tionghoa.
>> Sampai sekarang massa perusuh tidak diketahui identitasnya namun dalam
>> sejarah kerusuhan CSIS, penggunaan preman bukan hal baru. Dalam kasus
>> Malari, CSIS membina dan mengerahkan GUPPI, tukang becak, dan tukang ojek
>> untuk tujuan menunggangi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Dalam kasus
>> penyerbuan ke Timor Leste, CSIS dan Ali Moertopo mengirim orang untuk
>> bekerja sama dengan orang lokal melawan Fretilin sehingga Timor Leste
>> menjadi kisruh yang kemudian menjadi dalih bagi Benny Moerdani menyerbu
>> Timor-Timur. Begitu juga dalam kasus Kudatuli, CSIS menggunakan preman dan
>> buruh bongkar muat dari daerah Pasar Induk Kramat Jati, 200 orang yang
>> terlatih bela diri dari Tangerang, dan lain sebagainya.
>> Bahkan setelah reformasi, terbukti Sofyan Wanandi mendalangi demonstrasi
>> yang menamakan diri Front Pembela Amar Maruf Nahi Mungkar yang menuntut
>> Kwik Kian Gie mundur karena memiliki saham di PT Dusit Thani yang bergerak
>> dalam usaha panti pijat ketika pemerintah dan DPR berniat menuntaskan
>> kredit macet milik kelompok usaha Sofyan Wanandi sebagaimana diungkap
>> Aberson Marle Sihaloho dan Didik Supriyanto, keduanya anggota fraksi PDIP.
>> Adapun kredit macet dimaksud adalah hutang PT Gemala Container milik Sofyan
>> Wanandi kepada BNI sebesar Rp. 92miliar yang dibayar melalui mekanisme
>> cicilan sebesar Rp. 500juta/bulan atau baru lunas 184 tahun kemudian, dan
>> tanpa bunga.
>> Adalah fakta tidak terbantahkan bahwa tidak ada tentara selama kerusuhan
>> tanggal 13 dan 14 Mei 1998, dan bilapun ada, mereka hanya menyaksikan para
>> perusuh menjarah dan membakar padahal bila saja dari awal para tentara
>> tersebut bertindak tegas maka dapat dipastikan akan meminimalisir korban
>> materi dan jiwa. Pertanyaannya apakah hilangnya negara pada kerusuhan Mei
>> disengaja atau tidak?
>> Fakta lain yang tidak terbantahkan adalah Kepala BIA yaitu Zacky Anwar
>> Makarim memberi pengakuan kepada TGPF bahwa ABRI telah memperoleh informasi
>> akan terjadi kerusuhan Mei. Namun ketika ditanya bila sudah tahu mengapa
>> kerusuhan masih terjadi, Zacky menjawab tugas selanjutnya bukan tanggung
>> jawab BIA. Jadi siapa “user” BIA? Tentu saja Panglima ABRI Jenderal Wiranto
>> yang berperilaku aneh sebab Jakarta rusuh pada tanggal 13 Mei 1998 dan pada
>> tanggal 14 Mei 1998 dia membawa KSAD, Danjen Kopassus, Pangkostrad, KSAU,
>> KSAL ke Malang untuk mengikuti upacara serah terima jabatan sampai jam 1.30
>> di mana sekembalinya ke Jakarta, kota ini sudah kembali terbakar hebat.
>> Keanehan Wiranto juga tampak ketika malam tanggal 12 Mei 1998 dia menolak
>> usul jam malam dari Syamsul Djalal dan dalam rapat garnisun tanggal 13 Mei
>> 1998 malam dengan agenda situasi terakhir ketika dia membenarkan keputusan
>> Kasum Letjend Fahrul Razi menolak penambahan pasukan untuk Kodam Jaya
>> dengan alasan sudah cukup. Selain itu Wirantomenolak permintaan Prabowo
>> untuk mendatangkan pasukan dari Karawang, Cilodong, Makasar dan Malang
>> dengan cara tidak mau memberi bantuan pesawat hercules sehingga Prabowo
>> harus mencarter sendiri pesawat Garuda dan Mandala. Bukan itu saja, tapi
>> KSAL Arief Kusharyadi sampai harus berinisiatif mendatangkan marinir dari
>> Surabaya karena tidak ada marinir di markas mereka di Cilandak KKO dan atas
>> jasanya ini, Wiranto mencopot Arief Kusharyadi tidak lama setelah kerusuhan
>> mereda.
>> Mengapa Wiranto membiarkan kerusuhan terjadi? Tentu saja karena dia
>> adalah orangnya Benny Moerdani, dan setelah Soeharto lengser, Wiranto
>> bekerja sama dengan Benny Moerdani antara lain dengan melakukan reposisi
>> terhadap 100 perwira ABRI yang dipandang sebagai “ABRI Hijau” dan diganti
>> dengan perwira-perwira yang dipandang sebagai “ABRI Merah Putih.”
>> Setelah Kerusuhan 13-14 Mei 1998, Wiranto bergerak menekan informasi
>> mengenai terjadinya pemerkosaan massal terhadap wanita etnis Tionghoa
>> termasuk marah karena pengumuman dari TGPF bahwa terjadi pemerkosaan selama
>> kerusuhan. Tidak berapa lama, Ita Marthadinata, relawan yang membantu TGPF
>> dan berumur 17 tahun mati dibunuh di kamarnya sendiri dengan luka mematikan
>> di leher sedangkan sampai hari ini latar belakang pembunuhnya yaitu Otong
>> tidak diketahui dan dicurigai dia adalah binaan intelijen. Kecurigaan
>> semakin menguat sebab beberapa hari sebelum kejadian, Ita dan keluarganya
>> membuat rencana akan memberikan kesaksian di Kongres Amerika mengenai
>> temuan mereka terkait korban Kerusuhan 13-14 Mei 1998.
>> “Bersama Presiden Soeharto, Benny adalah Penasihat YPPI yang didirikan
>> oleh para mantan tokoh demonstrasi 1966 dengan dukungan Ali Moertopo. Hadir
>> di rumah Fahmi [Idris] pada malam itu para pemimpin demonstrasi 1966
>> seperti Cosmas Batubara, dr. Abdul Ghafur, Firdaus Wajdi, Suryadi [Ketua
>> PDI yang menyerang Kubu Pro Mega tanggal 27 Juli 1996]; Sofjan Wanandi;
>> Husni Thamrin dan sejumlah tokoh. Topik pembicaraan, situasi politik waktu
>> itu…
>> Moerdani berbicara mengenai Soeharto yang menurut Menhankam itu, ‘Sudah
>> tua, bahkan sudah pikun, sehingga tidak bisa lagi mengambil keputusan yang
>> baik. Karena itu sudah waktunya diganti’…Benny kemudian berbicara mengenai
>> gerakan massa sebagai jalan untuk menurunkan Soeharto. Firdaus menanggapi,
>> ‘Kalau menggunakan massa, yang pertama dikejar adalah orang Cina dan
>> kemudian kemudian gereja.’ ”
>> (Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi, Penerbit Mizan, hal. 316)
>> Pembicaraan di rumah Fahmi Idris, tokoh senior Golkar yang menyeberang ke
>> kubu Jokowi-JK demi melawan Prabowo adalah bukti paling kuat yang
>> menghubungkan Benny Moerdani dengan berbagai kerusuhan massa yang sangat
>> marak menjelang akhir Orde Baru karena membuka informasi adanya pemikiran
>> Benny Moerdani untuk menjatuhkan Soeharto melalui gerakan massa yang
>> berpotensi mengejar orang Cina dan orang Kristen. Kesaksian Salim Said ini
>> merupakan titik tolak paling penting guna membongkar berbagai kerusuhan
>> yang belum terungkap seperti Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan 13-14 Mei
>> 1998.
>> A. Peristiwa 27 Juli 1996 Adalah Politik Dizalimi (Play Victim) Paling
>> Keji Sepanjang Sejarah Indonesia
>> Selanjutnya Robert Odjahan Tambunan dalam bukunya Otobiografi Politik RO
>> Tambunan: Membela Demokrasi mengungkap bahwa Megawati bisa mencegah
>> jatuhnya korban dalam Peristiwa 27 Juli 1996 bila menghendaki karena dia
>> sudah tahu beberapa hari sebelumnya dari Benny Moerdani, akan tetapi
>> Megawati ternyata lebih memilih kepentingan politik daripada kemanusiaan
>> (hal. 150); Megawati menyogok Kelompok 124, korban serbuan kantor PDI yang
>> diadili, agar tidak menuntut kelompok TNI (hal. 172); dan Megawati tidak
>> pernah ingin menyelesaikan kasus tersebut antara lain terbukti tahun 2002
>> memilih gubernur yang terlibat kasus Peristiwa 27 Juli 1996 [Sutiyoso]
>> (hal. 374).
>> Bila catatan Salim Said, R.O. Tambunan dihubungkan dengan catatan
>> Rachmawati Soekarnoputri: Membongkar Hubungan Mega dan Orba di Harian
>> Rakyat Merdeka 31 Juli 2002 dan 1 Agustus 2002 maka terbukti bahwa akhirnya
>> Benny mulai menjalankan rencana yang dia ungkap di rumah Fahmi Idris ketika
>> dia bersekongkol dengan Megawati demi menaikan seseorang dari keluarga
>> Soekarno sebagai lawan tanding Soeharto dengan merekayasa Peristiwa 27 Juli
>> 1996. Kutipan dari Catatan Rachmawati Soekarnoputri:
>> “Sebelum mendekati Mega, kelompok Benny Moerdani mendekati saya
>> [Rachmawati] terlebih dahulu. Mereka membujuk dan meminta saya tampil
>> memimpin PDI. Permintaan orang dekat dan tangan kanan Soeharto itu jelas
>> saya tolak, bagi saya, PDI itu cuma alat hegemoni Orde Baru yang dibentuk
>> sendiri oleh Soeharto tahun 1973. Coba renungkan untuk apa jadi pemimpin
>> boneka?
>> Orang-orang PDI yang dekat dengan Benny Moerdani, seperti Soerjadi dan
>> Aberson Marie Sihaloho pun ikut mengajak saya gabung ke PDI. Tetapi tetap
>> saya tolak.”
>> Dari ketiga catatan di atas kita menemukan nama-nama yang saling terkait
>> dalam Peristiwa 27 Juli 1996, antara lain: Benny Moerdani; Megawati; Dr.
>> Soerjadi; Sofjan Wanandi; dan Aberson Marie Sihaloho, dan ini adalah
>> “eureka moment” yang membongkar persekongkolan jahat karena Aberson Marie
>> adalah orang yang pertama kali menyebar pamflet bahwa Megawati calon
>> pemimpin masa depan sehingga menimbulkan kecurigaan Mabes ABRI (modus
>> Dokumen Ramadi sebelum Malari); sedangkan Dr. Soerjadi adalah Ketum PDI
>> pengganti Megawati pasca Kongres Medan (atas biaya Sofjan Wanandi) yang
>> menyerbu kantor PDI dan selama ini diasumsikan perpanjangan tangan Soeharto
>> ternyata agen ganda didikan Benny Moerdani, dan tentu saja Agum
>> Gumelar-Hendropriyono, murid Benny Moerdani juga berada di sisi Megawati
>> atas perintah Benny Moerdani sebagaimana ditulis Jusuf Wanandi dari CSIS
>> dalam memoarnya, Shades of Grey/Membuka Tabir Orde Baru.
>> Fakta di atas menjawab alasan Presiden Megawati menolak menyelidiki
>> Peristiwa 27 Juli 1996 sekalipun harus mengeluarkan kalimat pahit kepada
>> para korban seperti “Siapa suruh kalian mau ikut saya?” dan malah memberi
>> jabatan tinggi kepada SBY yang memimpin rapat Operasi Naga Merah; Sutiyoso
>> komando lapangan penyerbuan Operasi Naga Merah; dan tidak lupa Agum Gumelar
>> dan AM Hendropriyono yang pura-pura melawan koleganya. Sama saja Megawati
>> bunuh diri bila dia sampai menyelidiki kejahatannya sendiri!
>> Fakta-fakta di atas juga membuktikan bahwa dokumen yang ditemukan pasca
>> ledakan di Tanah Tinggi tanggal 18 Januari 1998 yang menyebutkan ada
>> rencana revolusi dari Benny Moerdani; Megawati; CSIS dan Sofjan-Jusuf
>> Wanandi membiayai gerakan PRD adalah dokumen asli dan otentik serta bukan
>> buatan intelijen untuk mendiskriditkan PRD sebagaimana pembelaan mereka
>> selama ini. Bunyi salah satu dokumen yang berupa email di laptop adalah:
>> “Kawan-kawan yang baik! Dana yang diurus oleh Hendardi belum diterima,
>> sehingga kita belum bisa bergerak. Kemarin saya dapat berita dari Alex
>> bahwa Sofjan Wanandi dari Prasetya Mulya akan membantu kita dalam dana, di
>> samping itu bantuan moril dari luar negeri akan diurus oleh Jusuf Wanandi
>> dari CSIS. Jadi kita tidak perlu tergantung kepada dana yang diurus oleh
>> Hendardi untuk gerakan kita selanjutnya.”
>> (Majalah Gatra edisi 31 Januari 1998)
>> B. Kerusuhan 13-14 Mei 1998, Gerakan Benny Moerdani Menggulung Soeharto;
>> Prabowo; dan Menaikan Megawati Soekarnoputri Ke Kursi Presiden.
>> Pernah dengar kisah Kapten Prabowo melawan usaha kelompok Benny Moerdani
>> dan CSIS mendeislamisasi Indonesia? Kisah ini fakta dan sudah banyak buku
>> sejarah yang membahas kisah-kisah saat itu, salah satunya cerita Kopassus
>> masa kepanglimaan Benny. Saat Benny menginspeksi ruang kerja bawahan dia
>> melihat sajadah di kursi dan bertanya “Apa ini?,” jawab sang perwira,
>> “Sajadah untuk shalat, Komandan.” Benny membentak “TNI tidak mengenal ini.”
>> Benny juga sering rapat staf saat menjelang ibadah Jumat sehingga
>> menyulitkan perwira yang mau sholat Jumat.
>> Hartono Mardjono sebagaimana dikutip Republika tanggal 3 Januari 1997
>> mengatakan bahwa rekrutan perwira Kopassus sangat diskriminatif terhadap
>> yang beragama Islam, misalnya kalau direkrut 20 orang, 18 di antaranya
>> adalah perwira beragama non Islam dan dua dari Islam. Penelitian Salim Said
>> juga menemukan hal yang sama bahwa perwira yang menonjol keislamannya,
>> misalnya mengirim anak ke pesantren kilat pada masa libur atau sering
>> hadiri pengajian diperlakukan diskriminatif dan tidak mendapat kesempatan
>> sekolah karena dianggap fanatik, singkatnya karirnya pasti suram.
>> Perhatikan perwira tinggi yang menduduki pos penting ketika Benny
>> Moerdani berkuasa: Sintong Panjaitan; Try Sutrisno; Wiranto; TB Silalahi;
>> TB Hasanuddin; R.S. Warouw; Albert Paruntu; AM Hendropriyono; Agum Gumelar;
>> Sutiyoso; Susilo Bambang Yudhoyono; Luhut Panjaitan; Ryamizard Ryacudu;
>> Jonny Lumintang; Tyasno Sudarto; Albert Inkiriwang; HBL Mantiri; Fachrul
>> Razi; Adolf Rajagukguk; Theo Syafei; Soebagyo HS dll, maka terlihat pola
>> tidak terbantahkan bahwa perwira tinggi pada masa kekuasaan Benny Moerdani
>> adalah non Islam atau Islam abangan (“non-fanatik” atau “non-Islam santri”
>> menurut versi Benny). Ketidakadilan inilah yang dilawan Prabowo antara lain
>> bersama BJ Habibie membentuk ICMI yang sempat dilawan habis-habisan oleh
>> kelompok Benny Moerdani. Tidak heran anggota kelompok Benny Moerdani yang
>> masih tersisa membenci Prabowo karena dia menghancurkan cita-cita
>> mendeislamisasi Indonesia.
>> Mengapa Benny Moerdani dan CSIS mau mendeislamisasi Indonesia? Karena
>> CSIS didirikan oleh agen CIA, Pater Beek yang awalnya ditempatkan di
>> Indonesia untuk melawan komunis namun setelah “Bahaya Merah”(komunis)
>> teratasi, dia membuat analisa bahwa lawan Amerika Serikat berikutnya ada
>> dua yaitu: “Hijau ABRI” dan “Hijau Islam,” lalu menyimpulkan ABRI bisa
>> dimanfaatkan untuk melawan Islam, maka berdirilah CSIS yang dioperasikan
>> oleh anak didiknya: Sofjan, Jusuf Wanandi, Harry Tjan, dan mewakili ABRI:
>> Ali Moertopo, dan Soedjono Hoemardani (lihat: tulisan George Junus
>> Aditjondro, mantan murid Pater Beek: CSIS, Pater Beek SJ, Ali Moertopo dan
>> LB Moerdani).
>> Tidak percaya gerakan anti Prabowo di kubu
>> Golkar-PDIP-Hanura-NasDem-Demokrat berhubungan dengan kelompok anti Islam
>> yang dihancurkan Prabowo? Perhatikan pendukung Jokowi-JK: Sutiyoso
>> (Gubernur DKI saat Kerusuhan 13-14 Mei 1998; Agus Widjojo; Fachrul Razi
>> (klik Wiranto dan pengusul Jonny Lumintang, orang Benny, Pangkostrad
>> pengganti Prabowo), Ryamizard Ryacudu (menantu wapres Try Sutrisno periode
>> 1993-1998, agen Benny Moerdani); Agum Gumelar-Hendropriyono (bodyguard
>> Megawati suruhan Benny); Andi Widjajanto (anak Theo Syafei); Fahmi Idris
>> (rumahnya lokasi ketika ide Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan 13-14 Mei
>> 1998 pertama kali dilontarkan); Luhut Panjaitan; Tyasno Sudarto; Soebagyo
>> HS (KSAD saat Kerusuhan 13-14 Mei 1998; Wiranto; TB Silalahi; TB Hasanuddin
>> dll.
>> Wiranto anak buah Benny Moerdani? Benar, dan Jusuf Wanandi dalam
>> memoarnya menulis bahwa ketika Presiden Soeharto berhasil menetralisir
>> pengaruh Try Soetrisno dengan menempatkan Feisal Tanjung dan Prabowo
>> Subianto dan tidak ada lagi yang bisa dilakukan klik Benny Moerdani, maka
>> mereka menempatkan semua harapan kepada Wiranto. Selain itu setelah
>> dilantik sebagai Panglima ABRI, diketahui Wiranto menghadap Benny Moerdani
>> dan meminta bertemu setiap bulan. Tanggapan Benny menurut Jusuf Wanandi dan
>> Salim Said adalah:
>> “Jangan berilusi, orang tua itu [Soeharto] tidak menyukai saya, tidak
>> percaya kepada saya. Anda harus tetap di sana karena Anda satu-satunya yang
>> kita miliki. Jangan membuat kesalahan karena kariermu akan selesai jika
>> Soeharto tahu Anda dekat dengan saya.”
>> (Menyibak Tabir Orde Baru, hal. 365-366; Salim Said, hal. 320)
>> Wiranto memang membantah memiliki hubungan dekat dengan Benny, namun ada
>> cara membuktikan Wiranto telah berbohong. Pertama, dalam memoarnya, Jusuf
>> Wanandi bercerita pasca jatuhnya Soeharto, Wiranto menerima dari Benny
>> daftar perwira yang dinilai sebagai “ABRI Hijau”, dan dalam sebulan semua
>> orang dalam daftar nama tersebut disingkirkan Wiranto. Ketika dikonfrontir
>> mengenai hal ini, Wiranto mengatakan cerita “daftar nama” adalah bohong,
>> namun bila kita lihat kembali masa-masa setelah Soeharto jatuh maka
>> faktanya banyak perwira “hijau” yang dimutasi Wiranto dan sempat menuai
>> protes.
>> Wiranto orang Benny di samping Presiden Soeharto menjawab alasan Wiranto
>> menjatuhkan semua kesalahan terkait Operasi Setan Gundul kepada Prabowo;
>> menghasut BJ Habibie bahwa Prabowo mau kudeta sehingga Prabowo
>> diberhentikan dari dinas militer; dan adu domba Soeharto dengan menantunya
>> seolah Prabowo dan BJ Habibie bekerja sama menjatuhkan Soeharto sehingga
>> dipaksa bercerai dari Titiek Soeharto. Alasannya tidak lain Wiranto adalah
>> eksekutor dari rencana Benny menistakan Prabowo Subianto.
>> Bicara “kebejatan” Prabowo tentu tidak lengkap tanpa mengungkit Kerusuhan
>> 13-14 Mei 1998 yang ditudingkan pada dirinya padahal jelas-jelas Wiranto
>> sebagai Panglima ABRI pergi ke Malang membawa Kasau, Kasal, Kasad dan
>> Pangkostrad serta menolak permohonan Prabowo untuk mengerahkan pasukan demi
>> mengusir perusuh. Berdasarkan temuan fakta di atas bahwa Benny Moerdani mau
>> menjatuhkan Soeharto melalui kerusuhan rasial dan Wiranto adalah
>> satu-satunya orang Benny di lingkar dalam Soeharto maka patut diduga
>> Wiranto sengaja melarang pasukan keluar dari barak karena berniat
>> membiarkan kerusuhan, tapi rencananya berantakan ketika pasukan marinir
>> berinisiatif keluar kandang menghalau perusuh.
>> Selain itu tiga fakta yang menguatkan kesimpulan bahwa klik Benny
>> Moerdani dalang Kerusuhan 13-14 Mei 1998 adalah sebagai berikut:
>> 1. Menjatuhkan lawan dengan “gerakan massa” adalah keahlian Ali Moertopo
>> (guru Benny Moerdani) dan CSIS yang terkenal sejak Peristiwa Malari’74 yang
>> meletus karena provokasi Hariman Siregar, binaan Ali Moertopo (selengkapnya
>> lihat kesaksian Jenderal Soemitro yang dicatat Heru Cahyono dalam buku
>> Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 74 terbitan Sinar
>> Harapan).
>> 2. Menurut temuan TGPF Kerusuhan 13-14 Mei 1998, penggerak lapangan
>> adalah orang berkarakter militer yang sangat cekatan memprovokasi warga
>> untuk menjarah dan membakar. Ini ciri-ciri orang yang terlatih sebagai
>> intelijen, padahal baik Wiranto atau Prabowo adalah perwira tipe komando
>> dan bukan tipe intelijen, sedangkan saat itu hanya Benny Moerdani yang
>> memiliki kemampuan merekayasa kerusuhan skala besar karena dia mewarisi
>> taktik dan jaringan yang dibangun Ali Moertopo (mengenai jaringan dimaksud
>> bisa dibaca di Rahasia-Rahasia Ali Moertopo terbitan Tempo-Gramedia).
>> Lagipula saat kejadian terbukti Benny sedang rapat di Bogor dan ada laporan
>> intelijen bahwa provokator kerusuhan 27 Juli 1996 dan 13-14 Mei 1998
>> dilatih di Bogor!!
>> 3. Saat Kerusuhan 13-14 Mei 1998, Fachrul Razi yang saat itu menjabat
>> sebagai Kasum melarang pengerahan pasukan untuk membantu Kodam Jaya
>> menghentikan kerusuhan sistematis dan penjarahan. Perlu ditambahkan Fachrul
>> Razi adalah anggota klik Wiranto yang di atas sudah terbukti adalah binaan
>> Benny di dalam kabinet Presiden Soeharto yang terakhir. (
>> http://www.liputan6.com/fullnews/77958.html
>> <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.liputan6.com%2Ffullnews%2F77958.html&h=oAQE0Us3yAQH_oGK47inhgckX9KEmDknOMAV-QKv5aiS5VA&enc=AZPk3oCQGeXtMye2wkhqG6xHv2TBuSuKHPSb6HLn0AjRsLAb-4wrS_e_yy94-FUhm4wi7K8w--F83IzixFL2EHJ3I3SPwN48DmZjJNZX4I9SJ6STNqPe_ZWy_r5N0tacI9I6RmHsFfIAIK3p0vZP4oJQYWG1xAHx1LVWASwZ9EUgvCUVOPCcVVPz4hOGetBUGNc&s=1>
>> ).
>> Penutup
>> Benarkah Benny Moerdani tega membasahi tangannya dengan darah rakyat
>> tidak berdosa? Tidak ada keraguan: Benny Moerdani berprinsip membunuh
>> sebagian rakyat demi selamatkan negara layak dilakukan, sebagaimana
>> diungkap David Jenkins, wartawan senior Australia yang memiliki jaringan
>> luas dengan jenderal Orba dalam orbituari kepada Benny Moerdani,
>> “Charismatic, Sinister Soeharto Man”:
>> “Hardened in battle and no stranger to violence, Moerdani believed that
>> the ends justify the means…He once shocked members of an Indonesian
>> parliamentary committee by saying, in effect, that if he had to sacrifice
>> the lives of 2 million Indonesians to save the lives of 200 million
>> Indonesians he would do so.”
>> Para murid Benny Moerdani pendukung Jokowi tampaknya mewarisi kekejaman
>> sang guru, misalnya Luhut Panjaitan pernah menghujani mahasiswa yang sedang
>> berdemo dengan peluru tajam, menimbulkan banyak korban jiwa, dan hal ini
>> diceritakan tanpa rasa bersalah:
>> “Letusan peluru itu tidak digubris para pendemo. Mereka terus melempari
>> tentara dengan batu. Merasa terdesak Luhut [Panjaitan] memerintahkan anak
>> buahnya menembak kaki para pendemo. Situasi makin kacau karena mereka
>> kocar-kacir. Tentara yang mengejar tidak lagi mengarahkan moncong ke aspal,
>> tapi sudah mengincar sasaran. Luhut menduga banyak yang tewas saat
>> kejar-kejaran itu.”
>> (Massa Misterius Malari, Tempo, hal. 71)
>> Kekejaman Luhut Panjaitan membuatnya menjadi anak emas Benny Moerdani,
>> sehingga wajar Luhut Panjaitan menyimpan kebencian begitu besar terhadap
>> Prabowo karena dia kehilangan status dan fasilitas istimewa setelah Benny
>> Moerdani tersingkir:
>> “Berbeda dengan panglima-panglima sebelum dan sesudahnya, Benny memang
>> memelihara sejumlah orang yang disenanginya. “Mereka itu semacam golden
>> boys Benny Moerdani,” kata Schwarz. Salah satu yang dikenal sebagai “anak
>> emas” itu adalah Luhut Binsar Panjaitan.”
>> (Salim Said, hal. 343)
>> Kekejaman yang sama turut dimiliki AM Hendropriyono, murid Benny lain
>> yang juga mendampingi Jokowi karena dia pelaku pembantaian Talangsari,
>> Lampung; DOM di Aceh, lalu bersama Muchdi Pr dan Ass’at (keduanya mendukung
>> Jokowi-JK) adalah dalang pembunuhan Munir
>> (lihat: http://www.wikileaks.org/plusd/cables/07JAKARTA163_a.html
>> <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.wikileaks.org%2Fplusd%2Fcables%2F07JAKARTA163_a.html&h=VAQFWO1OoAQEoKK4TPmyvjZS_cm4ylpIyREFs3v_WkUP0yg&enc=AZPckajywMtj9CPuLlOClFdeNuKazz4hYwZf-m17vAW5wqFx31m4oznw6quDVX0iQxzIigxGLZ_zycVBoGxpFSc5H0jW_ouGqS-q_EIr_YSdNB3jfJsf8FO8NZH8pRzyCevTSgyv6CEwaovyalwsI-RbI_nq3KOD-Yqz4zwbadWlpm_cwQ5DVn4Wk6OR45bpMX0&s=1>
>> ).
>> Sudah tidak bisa dibantah bahwa alasan klik Benny Moerdani mendukung
>> Jokowi-JK sekalipun mengorbankan keutuhan partai masing-masing (PDIP,
>> Hanura, Golkar, Demokrat) sekedar untuk melawan Prabowo adalah dendam
>> kesumat yang belum terpuaskan sebab Prabowo menghalangi usaha
>> mendeislamisasi Indonesia.
>> Menutup artikel ini saya akan mengutip Jusuf Wanandi, sahabat baik Benny
>> Moerdani:
>> “But, maybe Benny’s biggest nemesis was Soeharto son-in-law, Prabowo
>> Subianto.”
>> (Shades of Grey, hal. 240)
>> “…Saya menganggap lawan utama Benny adalah Prabowo Subianto, menantu
>> Presiden Soeharto.”
>> (Menyibak Tabir Orde Baru, hal. 327)
>> Kita harus berterima kasih kepada Julian Assange karena mendirikan
>> website Wikileaks yang membocorkan berbagai dokumen rahasia milik Amerika
>> Serikat sebab tanpanya kita tidak akan mengetahui bahwa Jokowi sudah
>> menjalankan agenda Amerika di Indonesia sejak tahun 2005. Berdasarkan
>> dokumen rahasia CIA tertanggal 7 April 2006 yang diunggah Wikileaks kita
>> mengetahui bahwa pada tanggal yang sama agen rahasia CIA bernama Pierangelo
>> dan David S. Williams bertemu Jokowi selaku Walikota Solo yang baru
>> dilantik 7 bulan sebelumnya.
>> Agenda pertemuan adalah membahas Abu Bakar Ba’asyir dari Ponpres Ngruki
>> yang disebut oleh pelaku serangan 9/11 bernama Riduan Isamuddin alias
>> Hambali terkait jaringan Al Qaeda di Indonesia bernama Jamaah Islamiyah.
>> Dalam pertemuan agen CIA tersebut minta Jokowi mengendalikan Abu Bakar
>> Ba’asyir dan disanggupi oleh Jokowi. Setelah itu Jokowi mendekati Abu
>> Ba’asyir secara pribadi dan hubungan keduanya menjadi sangat dekat bagai
>> seorang ayah dan anak, terbukti kendati sedang mendekam di dalam penjara
>> namun pada tanggal 30 Januari 2013 Abu Bakar Ba’asyir sempat mengirim
>> utusan menemui Jokowi sekedar menyampaikan salam; yang dibalas oleh Jokowi
>> dengan ucapan terima kasih dan salam balik.
>> Jokowi memang berhasil mengontrol Abu Bakar Ba’asyir dan mendapat pujian
>> dari Dubes AS bernama Cameron R. Hume pada tahun 2008 sebagaimana bocoran
>> kawat diplomatik di Wikileaks yang dikirim ke Pentagon dengan judul “Solo,
>> From Radical Hub To Tourist Heaven,” yang intinya melaporkan bahwa Jokowi
>> telah berhasil mengendalikan Abu Bakar Ba’asyir dan menekan tingkat
>> kemilitanan Ponpres Ngruki yang terkenal radikal.
>> Selanjutnya pada tahun yang sama yaitu tahun 2008, Jokowi kedatangan Agus
>> Widjojo, Luhut Binsar Pandjaitan dan Hendropriyono lalu Luhut bekerja sama
>> dengan Jokowi membentuk perusahaan patungan bernama PT Rakabu Sejahtera
>> dengan modal awal dari Luhut Rp. 15,5miliar dan dari anak Jokowi bernama
>> Gibran Rakabumi Raka sebesar Rp. 19,2miliar (anak dua puluh tahun yang
>> pelihara tuyul tampaknya). Perlu dicurigai bahwa perusahaan hanya kedok
>> sebuah operasi intelijen karena tidak lama setelah Jokowi menjadi Gubernur
>> DKI, kantor perusahaan tersebut dua kali terbakar dalam waktu berdekatan.
>> Kehadiran Hendropriyono dan Luhut Pandjaitan semakin melekatkan pengaruh
>> Amerika pada kehidupan Jokowi sebab mereka adalah murid langsung dan anak
>> emas Jenderal Benny Moerdani, seorang petinggi CSIS, sebuah lembaga yang
>> didirikan agen CIA bernama Pater Beek. CSIS dan Pater Beek bukanlah
>> satu-satunya hubungan CIA dengan Jokowi, sebab penanggung jawab proses
>> memoles citra Jokowi dari walikota gagal menjadi “pemimpin muda masa depan”
>> hingga masuk gerbang pencapresan adalah Goenawan Mohamad yang kerap
>> menerima uang negara asing dan anak didik Ivan Kats, seorang agen CIA.
>> Khusus CSIS, sejak awal mereka memiliki hubungan dengan Ali Moertopo yang
>> terkenal dengan Opsus dan pernah merekayasa kerusuhan Malari pada 15
>> Januari 1974 dan setelah kematian Ali Moertopo, tampaknya Opsus diwariskan
>> kepada Jusuf Wanandi, pemimpin tertinggi CSIS saat ini karena Wikileaks
>> menemukan Jusuf Wanandi adalah orang Opsus:
>> “6. ASIDE FROM MURTONO, HOWEVER, ALI MURTOPO AND OPSUS SEEM TO HAVE DONE
>> RATHER WELL. NUMBER TWO MAN (MARTONO) HAS LONG BEEN KNOWN AS OPSUS MAN IN
>> OLD KOSGORO ORGANIZATION. JUSUF WANANDI (LIM BIAN KIE) HAS KEY POSITION
>> HEADING LIST OF SECRETARIES ORGANIZED ACCCORDING TO FUNCTION, AND OPSUS
>> STALWARTS DOMINATE AT THIS WORKING LEVEL.”
>> https://www.wikileaks.org/plu…/cables/1973JAKART10795_b.html
>> <https://www.facebook.com/l.php?u=https%3A%2F%2Fwww.wikileaks.org%2Fplusd%2Fcables%2F1973JAKART10795_b.html&h=eAQHsYYCjAQGtLgQ9lN4796V3kaKBJk423OEPCLWgLaaHTQ&enc=AZMdnBjKXCz1PJasVbtsc_V4EXq97qQ_pvo7Et2y3m7sicCLf0pnBt3vv9U5xwgvcEkI55k2AU6fv_07TKUwoJwhIa3ttgVfS2_O4tIrTpfsHfxQUiZhZM0NLJRhcbMbpHbYWXK9mi9aILkNCgX6fQauwMTQ80g2ZZ-w-Lgpro7lloheGoc_t57py0sQRTAWE1g&s=1>
>> Kemunculan anak emas Benny Moerdani dari CSIS yang merupakan kepanjangan
>> tangan kepentingan Amerika di Solo dan dilengkapi perangkat rekayasa ala
>> Opsus sangat patut diduga terkait usaha mempersiapkan Jokowi sebagai
>> presiden boneka Amerika Serikat. Jokowi dan timsesnya berhak membantah dia
>> adalah boneka Amerika dan CSIS namun keberadaan Ajianto Dwi Nugroho yang
>> dikader oleh murid-murid Pater Beek di dalam Jasmev untuk memenangkan
>> Jokowi pada Pilkada DKI dan sekarang melalui cabang Jasmev, PartaiSocmed
>> untuk memenangkan pilpres tidak bisa dibantah. Selain itu kita ingat
>> kejadian memalukan di mana Jokowi membawa mantan Presiden Megawati
>> menghadap Duta Besar Amerika, Inggris dan Kanada di rumah petinggi CSIS
>> bernama Jacob Soetoyo dan kembali menyerahkan lehernya beberapa hari
>> sebelum deklarasi pencapresannya adalah fakta umum yang tidak bisa dibantah.
>> Sebelum kita melanjutkan, apakah anda tahu bahwa salah satu taktik
>> deislamisasi yang dilakukan oleh CSIS adalah melalui kebijakan kader mereka
>> Daoed Joesoef yang saat menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melarang
>> sekolah libur pada hari Ramadhan dan siswi beragama Islam dilarang
>> menggunakan jilbab yang mana serupa dengan kebijakan Benny Moerdani yang
>> melarang sajadah di lingkungan ABRI dan selalu mempersulit prajurit yang
>> bermaksud sholat Jumat?
>> http://tikusmerah.com/?p=1204
>> <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Ftikusmerah.com%2F%3Fp%3D1204&h=GAQFfPOsbAQHY81yR3GS9STLVtGHj9Gru96_2bjK1NS5zmA&enc=AZMMuYDLacHC-7zM_tyJKMSPK81JzJKx2FRbbG96x2BfkBCS_qdG-pxOJqzuMOw0RzeRQzdxprjcdfG3iHl_HuFf4R4ZvpP3h76SaG9InjSoo1bBs3DbckB25njdoZ_Ii5rdyG-s4gSUVG9xzsP8-shWVIR4r7vSuUTSro3C6htY9xPk1z0YjIzsFp6euzeX990&s=1>
>> Dengan fakta di atas maka sangat tidak mengherankan bila beberapa hari
>> lalu seorang Dubes AS Robert Blake mencoba melakukan kampanye hitam
>> menyerang Prabowo demi membantu meningkatkan peluang bagi capres boneka
>> Amerika memenangkan pertarungan pilpres mendatang. Selain itu tidak heran
>> juga ketika menjelang pilpres terbit sebuah fitnah keji bahwa Prabowo
>> menghina kebutaan Gus Dur yang dilancarkan oleh media massa Time melalui
>> tulisan jurnalis anti Indonesia bernama Yenny Kwok yang bersumber dari
>> tulisan jurnalis anti Indonesia lain bernama Allan Neirn karena artikel
>> tersebut memang hampir dapat dipastikan pesanan dari Pemerintah Amerika
>> Serikat.
>> Belum selesai serangan kampanye hitam dari Dubes AS; dan Time melalui
>> tangan duo Yenny Kwok dan Allan Neirn yang terafiliasi dengan mantan pelaku
>> G30S/PKI bernama Carmel Budiardjo yang selama 50 tahun melancarkan kampanye
>> anti Indonesia di dunia internasional, sekarang datang serangan dari Sofyan
>> Wanandi, pemimpin para pengusaha-pengusaha di Indonesia yang mengatakan
>> bahwa para pengusaha kuatir bila Prabowo menjadi presiden.
>> Siapa Sofyan Wanandi? Dia adalah adik Jusuf Wanandi dan orang yang
>> memulai salah satu pembusukan karakter paling keji terhadap Prabowo ketika
>> diwawancara Adam Schwarz mengatakan seolah Prabowo pernah bilang akan
>> mengusir semua orang cina sekalipun hal itu akan membuat ekonomi Indonesia
>> muncur 20-30 tahun tapi 14 tahun setelah rumor tersebut merasuk ke sumsum
>> rakyat Indonesia atau tahun 2012, barulah Sofyan Wanandi membantah bahwa ia
>> pernah mengeluarkan pernyataan seperti itu dengan alasan “jurnalis salah
>> paham.”
>> Sebagai adik penguasa Opsus, Sofyan Wanandi memang bukan pengusaha biasa,
>> terbukti dia adalah donatur utama banyak penggarapan yang dilakukan Opsus
>> era pimpinan Jusuf Wanandi dan CSIS seperti membiayai Kongres PDI di Medan
>> ketika Benny Moerdani merekayasa politik dizolimi dengan “menjatuhkan”
>> Megawati dari kursi Ketua Umum PDI dan diganti oleh “antek Orde Baru” Dr.
>> Soerjadi yang menurut kesaksian dari Rachmawati Soekarnoputri sebenarnya
>> adalah orang binaan Benny Moerdani juga.
>> Nama Sofyan Wanandi juga kembali disebut dalam dua dokumen yang ditemukan
>> pasca meledaknya bom rakitan di Rumah Susun Johar di Tanah Tinggi, Tanah
>> Abang.tanggal 18 Januari 1998. Saat aparat menyisir lokasi ledakan
>> ditemukan sebuah laptop berisi arsip e-mail dan dokumen notulen rapat
>> “Kelompok Pro Demokrasi” di Leuwiliang, Bogor, pada tanggal 14 Januari 1998
>> yang merencanakan revolusi dan dihadiri oleh 19 aktivis mewakili 9
>> organisasi terdiri dari kelompok senior dan kelompok junior. Adapun
>> kelompok senior terdiri atas:
>> Pertama, CSIS yang bertugas membuat analisis dan menyusun konsep
>> perencanaan aktivitas ke depan.
>> Kedua, Benny Moerdani.
>> Ketiga, PDI Pro Megawati Soekarnoputri.
>> Keempat, kekuatan ekonomi diwakili oleh Sofjan Wanandi dan Yusuf Wanandi.
>> Sedangkan isi email:
>> “Kawan-kawan yang baik! Dana yang diurus oleh Hendardi belum diterima,
>> sehingga kita belum bisa bergerak. Kemarin saya dapat berita dari Alex
>> [Widya Siregar] bahwa Sofjan Wanandi dari Prasetya Mulya akan membantu kita
>> dalam dana, di samping itu bantuan moril dari luar negeri akan diurus oleh
>> Jusuf Wanandi dari CSIS. Jadi kita tidak perlu tergantung kepada dana yang
>> diurus oleh Hendardi untuk gerakan kita selanjutnya.”
>> Sumber: Majalah Gatra edisi 31 Januari 1998
>> Kedua dokumen di atas selain membuktikan Sofyan Wanandi, Jusuf Wanandi,
>> CSIS, Benny Moerdani dan Megawati adalah bagian dari kelompok yang
>> bermaksud membuat sebuah kerusuhan yang dibungkus sebagai revolusi,
>> ternyata terungkap juga bahwa Hendardi dari PBHI yang beberapa bulan
>> terakhir konsisten meributkan pencapresan Prabowo dengan membawa isu HAM
>> dan penculikan adalah bagian dari kelompok tersebut dengan tugas mencari
>> pendanaan. Aksi-aksi Hendardi mempolitisasi penangkapan terduga teroris
>> pada tahun 1998 tersebut juga dilakukan oleh Tempo, majalah milik anak
>> didik agen CIA yaitu Goenawan Mohamad dan Haris Azhar dari Kontras yang
>> pernah meminta Uni Eropa melanggar kedaulatan Indonesia dengan melakukan
>> intervensi terhadap pemerintah Indonesia. Selain itu politisasi juga
>> dilakukan Metro TV, tapi Surya Paloh hanya politisi oportunis, jadi dia
>> bukan CSIS atau antek CIA.
>> http://protectioninternational.org/…/haris-azhar-on-the-ro…/
>> <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fprotectioninternational.org%2Fvideo%2Fharis-azhar-on-the-role-of-kontras%2F&h=JAQH27OO8AQGKtbBQQNgypieUsIl1pL4EVJFHqhnhPXb5Zw&enc=AZNeiw8rU1qQMvnZHYi7A8gSM2ivau30c8aJt454f_EeWs5if2JZ0JjwQuyHGkf6MKz22nKFFDbewQrXkg7SxcLWkO4Gyf-nn8Jb7DrW5iD1ubvTnvWtrVXffyj1sP_Zug-lw_NaeGhgMUFvnnoVt5PkmLrOAy0t5Ks7Ndf3DymjnjcQ0VTpA6Jxicw0CjPvCho&s=1>
>> Bagi kalangan aktivis yang sampai sekarang masih memegang teguh
>> idealisme, orang seperti Hendardi, Goenawan Mohamad, dan Haris Azhar
>> dimasukan ke dalam kelompok “Pedagang Orang Hilang,” sebab mereka
>> memperdagangkan isu “Orang Hilang” melalui serangkaian politisasi demi
>> untuk mencapai keinginan mereka baik berupa uang donasi, jabatan, kedudukan
>> sosial, atau mendiskriditkan lawan mereka. Hal ini terbukti dari fakta
>> bahwa para orang yang berkumpul dalam Asosiasi Pedagang Orang Hilang ini
>> tidak meliput pernyataan Andi Arief, salah satu “korban penculikan 1998″
>> bahwa Wiji Thukul, orang yang kerap menjadi salah satu ikon para Pedagang
>> Orang Hilang ternyata masih hidup dengan sehat setidaknya dua bulan setelah
>> reformasi dan fakta ini diketahui oleh Goenawan Mohamad dan Stanley dari
>> Tempo, dan Jaap Erkelens.
>> http://m.inilah.com/…/akhirnya-andi-arief-bercerita-soal-wi…
>> <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fm.inilah.com%2Fread%2Fdetail%2F2114481%2Fakhirnya-andi-arief-bercerita-soal-widji-thukul&h=5AQFwzrxLAQEl3EJnl-NVSq-ZBASQFrhHKMhCN8aiWIM_Aw&enc=AZPc8MjR-_I7wCUIUfzVT8w6K2EpqOk0aS48iNRpPMoz-iLVMKEcbkA4aTD-Y7mJIFTIZ-21GirbukSca2c3rB9fcUMtkXDA39GrvdYuiyPxi--7dfbRxFlpAAw-u6itSmYcWMwrTUEz6T9rj0DivW-0PY8nBsY_thAhOqWubntjVkAzz29WvuHkYIf6pu0lmf8&s=1>
>> http://m.rmol.co/news.php?id=161521
>> <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fm.rmol.co%2Fnews.php%3Fid%3D161521&h=9AQFOEFAoAQGHXCFFuyRhAvRc5vd-ZNkuQeeNhOL-A7G7KA&enc=AZPYWxvrjqaxObhNpIBupji81jQ2Zkd6BPYxEeZFg0ewI9nvFq6AvD2ovvb9_XGwoQApFS68UJXaPwJYV09gZer6snD3YknM60h4ZBa9fNPmosuldstgm5h5lpQTQkfcyU4Sazh48lLI6R92X9Sl4YXIUcjY3QNO4hNgRvnPM0OZOncTOk83g7UDKF0ybMNj38A&s=1>
>> Selain fakta Wiji Thukul masih hidup dan sehat, para Pedagang Orang
>> Hilang juga menyembunyikan fakta bahwa sejak 16 tahun lalu tim SiaR
>> bentukan Goenawan Mohamad sudah menemukan bukti bahwa Prabowo tidak
>> bersalah dan hanya difitnah. Mereka juga sengaja tidak meliput berita
>> penyerahan dokumen kepada Komnas HAM berisi notulen rapat pembahasan
>> Operasi Kuningan di antara para jenderal Orde Baru untuk memfitnah Prabowo.
>> Temuan tim SiaR adalah:
>> “Tapi, teknik ABRI menyelesaikan intern soal penculikan ini, agaknya
>> memang sengaja ditempuh untuk menghindari terbongkarnya orang-orang di
>> belakang Prabowo. Sebuah sumber di Mabes ABRI mengatakan, sebetulnya
>> Prabowo punya surat perintah penculikan itu, yang diteken oleh Jenderal
>> Feisal Tanjung, Pangab sebelumnya. Surat itu, konon, akan dibeberkan kalau
>> Prabowo diseret ke Mahmilub. Akibatnya, Wiranto berkompromi dengan
>> menjatuhkan hukuman yang ringan untuk Prabowo.”
>> http://www.minihub.org/siarlist/msg00741.html
>> <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.minihub.org%2Fsiarlist%2Fmsg00741.html&h=jAQGLM0vRAQFbkNKlYjktIsKD0Wn7n6y-1bx-T-wYLw5DbQ&enc=AZOMLD0dJb5XI3-daTtdklDov8nYp8puXWuEYJ9hSZgG5NvdW0fHG0cWkmzUsFesIwAhfqc27B1DItGjadifPMs4EQTUwXissFoqLqm0vqPVjUx_3n_NOy6LYxjGqqo255C9hf87u42XwD9TgvWTYAmPUnq0C208sI452w27lL53egKMothrVb5lDSfvikFIL7I&s=1>
>> Dokumen yang diserahkan kepada Komnas HAM adalah notulen rapat terbatas
>> tanggal 17 Juli 1998 di rumah Wiranto yang dihadiri oleh Agum Gumelar,
>> Soebagio HS, Fachrul Rozi, dan Yusuf Kartanagara yang mana Agum Gumelar
>> mengemukakan pendapat mengenai perlunya menciptakan “aktor” yang akan
>> dijadikan dalang segala dalang kerusuhan Mei dan “penculikan aktivis,”
>> selanjutnya Soebagyo HS menyarankan agar kepergian ke Malang tanggal 14 Mei
>> 1998 dijadikan alibi untuk mengarahkan Prabowo sebagai aktor utama
>> kerusuhan di Jakarta dan penangkapan aktivis. Letjend Fachrul Rozi juga
>> mengusulkan pembentukan Dewan Kehormatan Perwira tanpa Mahkamah Militer
>> untuk memberhentikan Prabowo sekaligus menciptakan opini bahwa Prabowo
>> adalah dalang kerusuhan di Jakarta. Terakhir Wiranto memberi perintah agar
>> para “aktivis” yang belum dilepas untuk “disukabumikan.”
>> Untuk membuktikan keaslian atau kepalsuan dokumen tersebut cukup mudah
>> yaitu melakukan pemeriksaan forensik terhadap tanda tangan para peserta
>> rapat yang dibubuhkan di dalam dokumen notulensi. Bila tanda tangannya
>> asli, maka BOOM!!, tidak ada alasan untuk tidak membawa Wiranto, Soebagyo
>> HS, Fachrul Razi, dan Agum Gumelar ke pengadilan.
>> http://m.aktual.co/…/145428operasi-kuningan-wiranto-perinta…
>> <http://m.aktual.co/politik/145428operasi-kuningan-wiranto-perintahkan-13-aktifis-98-dibumihanguskan>
>> Kenapa Tempo; Media Indonesia; Metro TV; Jawa Pos dll yang biasa “peduli
>> HAM” dan “penculikan aktivis” tidak membuat laporan kejadian tersebut?
>> Padahal bila dokumen ternyata asli, maka kita akan bisa mengungkap
>> penembakan Trisakti sampai Kerusuhan 13-14 Mei 1998. Namanya juga Pedagang
>> Orang Hilang, yang membantu dagangan pasti dijadikan bahan marketing
>> sedangkan yang merusak dagangan akan disingkirkan dan dianggap tidak ada.
>> Kendati demikian terbukti kunci membuka misteri 1998 bukan di Bukit
>> Hambalang, melainkan di Tanah Abang, Utan Kayu, Salatiga dan Semarang.
>> sumber: horabolt
>>
>>
>> AnwarDjambak
>> Alam Takambang Jadikan Guru
>> Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
>> Grup.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke [email protected].
>> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>>
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke