Assalamu'alaikum wr.wb.
Kalau ndak jaleh sumber asli dan penulis nyo, derajat nyo samo jo koran kuniang, mayoritas referensi dari web-web nan kalua manjalang Pemilu patang, untuak tujuan pengalihan opini. Salam Reza 2015-10-25 9:15 GMT+07:00 Abraham Ilyas <[email protected]>: > Sanak Haqir WalFaqir n.a.h > > Ambo minta sumber asli dari tulisan iko dan siapa penulisnya ? > ....karano tatulih Maxis (?) > > Terima kasih dan wassalam > > > Pada 24 Oktober 2015 20.11, 'Haqir WalFaqir' via RantauNet < > [email protected]> menulis: > >> TERUNGKAPNYA MISTERI KERUSUHAN MEI 1998 DAN HUBUNGANNYA DENGAN AKTOR >> SUKSESI JOKOWI >> Fahreenheat.com <http://fahreenheat.com/>- Saya pernah menempuh >> pendidikan di sekolah milik Cosmas Batubara, tokoh eksponen’66 yang >> menghadiri rapat di rumah Fahmi Idris yang juga dihadiri Sofyan Wanandi. >> Rapat mana untuk pertama kalinya Benny Moerdani mengungkap rencana >> menggulingkan Presiden Soeharto melalui kerusuhan rasial anti Tionghoa dan >> Kristen (Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi, Penerbit Mizan, hal. 316). >> Salah satu kegiatan wajib di sekolah milik Cosmas Batubara adalah >> melakukan retreat dan tahun ajaran 1992-1993, seluruh siswa kelas 5 SD >> retreat selama lima hari di sebuah wisma sekitar Klender yang lebih mirip >> asrama daripada tempat retreat. Wisma lokasi retreat tersebut sudah sangat >> tua dan berdesain khas gedung tahun 1960an. Sejak awal menjejakan kaki di >> sana saya sudah merasakan aura yang tidak enak dan ini sangat berbeda dari >> lokasi retreat lain seperti Maria Bunda Karmel di puncak. >> Adapun kegiatan selama retreat lebih menekankan kepada kedisiplinan dan >> melatih mental sehingga setiap kamar tidak ada kipas angin atau AC, dan >> selama retreat kami dipaksa bangun jam 4 pagi padahal baru tidur rata-rata >> jam 11 malam, ada puasa sepanjang hari, berdoa semalam suntuk dan ada >> beberapa kegiatan yang tidak lazim seperti diminta mencium dan mengingat >> bau bumbu masakan atau bunga yang disimpan dalam beberapa botol kecil >> selanjutnya mata ditutup dan setiap anak akan disodori botol-botol tadi dan >> diminta menebak bau/wangi apa. Puluhan tahun kemudian saya membaca bahwa >> pada tahun 1967 tempat pendidikan Kaderisasi Sebulan (Kasebul) milik Pater >> Beek dipindahkan ke Klender, Jakarta Timur yang memiliki tiga blok, 72 >> ruangan dan 114 kamar tidur. Apakah lokasi yang sama Kasebul dengan tempat >> retreat adalah tempat yang sama? Saya tidak tahu. >> Puluhan tahun kemudian saya masih ingat pengalaman selama lima hari yang >> luar biasa melelahkan tersebut padahal saya tidak ingat pengalaman retreat >> saat di Maria Bunda Karmel, dan karena itu saya menjadi paham maksud >> Richard Tanter bahwa metode Kasebul yang melelahkan jiwa dan raga tersebut >> pada akhirnya menciptakan kader yang sepenuhnya setia, patuh kepada Pater >> Beek secara personal, menjadi orangnya Beek seumur hidup dan bersedia >> melakukan apapun bagi Pater Beek sekalipun kader tersebut sudah pulang ke >> habitat asalnya. >> Entah apakah Kasebul masih dilakukan hari ini mengingat kekuasaan Katolik >> dan Paus di Roma sudah tidak sekuat puluhan tahun silam, namun saya yakin >> Kasebul masih ada setidaknya tahun 1992-1993 sebab Suryasmoro Ispandrihari >> mengaku kepada Mujiburrahman bahwa tahun 1988 dia pernah ikut Kasebul dan >> diajarkan untuk anti Islam, pernyataan yang dibenarkan oleh Damai Pakpahan, >> peserta Kasebul tahun 1984. Oleh karena itu saya tidak bisa sepenuhnya >> menyalahkan murid-murid pertama Pater Beek seperti Jusuf Wanandi, dan >> Sofyan Wanandi di CSIS bila mereka sampai hari ini tidak bisa melepas >> karakter Ultra Kanan untuk melawan Islam, bagaimanapun begitulah didikan >> Pater Beek, tapi tetap saja mereka tidak bisa dimaafkan karena mendalangi >> Kerusuhan 13-14 Mei 1998 dan harus diproses secara hukum. >> Upaya menggerakan massa untuk jatuhkan Presiden Soeharto dimulai tanggal >> 8 Juni 1996, ketika Yopie Lasut selaku Ketua Yayasan Hidup Baru mengadakan >> pertemuan tertutup dengan 80 orang di Hotel Patra Jasa dengan tema >> “MENDORONG TERCIPTANYA PERLAWANAN RAKYAT TERHADAP REZIM ORDE BARU DI >> DAERAH-DAERAH” yang dihadiri antara lain oleh aktivis mahasiswa radikal, >> tokoh LSM, mantan tapol, Sofyan Wanandi-Megawati Soekarnoputri-Benny >> Moerdani. Tidak berapa lama, operasi Benny Moerdani untuk meradikalisasi >> rakyat dengan tujuan “mendorong” mereka bangkit melawan Presiden Soeharto >> dimulai ketika pada tanggal 22 Juni 1996, Dr. Soerjadi, orang yang pada >> tahun 1986 pernah diculik Benny Moerdani ke Denpasar dan akhirnya menjadi >> Ketua PDI periode 1986-1992 dengan diperbantukan Nico Daryanto dari CSIS >> dan bekerja di bank milik kelompok usaha Sofyan Wanandi yaitu Gemala Grup >> dan Presiden Direktur PT Aica Indonesia, akhirnya terpilih menjadi Ketua >> Umum PDI menggeser boneka Benny Moerdani untuk menggantikan Presiden >> Soeharto yaitu Megawati Soekarnoputri dalam kongres yang juga dibiayai oleh >> Sofyan Wanandi. >> Adapun menurut kesaksian Alex Widya Siregar, terpilihnya Megawati >> Soekarnoputri pada munas tahun 1993 adalah karena Direktur A Badan >> Intelijen ABRI waktu itu yaitu Agum Gumelar menggiring peserta munas ke >> Hotel Presiden sambil ditodong pistol dan mengatakan “Siapa tidak memilih >> Megawati akan berhadapan dengan saya.” Belakangan diketahui bahwa Agum >> Gumelar adalah salah satu anak didik yang setia kepada Benny Moerdani dan >> bersama Hendropriyono menerima perintah untuk seumur hidup menjaga Megawati >> Soekarnoputri. >> Sebulan kemudian pada tanggal 27 Juli 1996 terjadi penyerbuan ke kantor >> PDI oleh massa Dr. Soerjadi menghantam massa PDI Pro Mega yang sedang >> berorasi di depan kantor PDI, dan Megawati telah mengetahui dari Benny >> Moerdani bahwa penyerbuan akan terjadi namun dia mendiamkan sehingga >> berakibat matinya ratusan pendukung Megawati dan menelan korban harta dan >> jiwa dari rakyat sekitar. Pada hari bersamaan Persatuan Rakyat Demokratik >> yang didirikan oleh Daniel Indrakusuma alias Daniel Tikuwalu, Sugeng >> Bahagio, Wibby Warouw dan Yamin mendeklarasikan perubahan nama menjadi >> Partai Rakyat Demokratik yang mengambil tempat di YLBHI, dan selanjutnya >> pasca Budiman Soejatmiko dkk ditangkap, pada Agustus 1997 PRD deklarasikan >> perlawanan bersenjata. >> Hasil karya CSIS-Benny Moerdani-Megawati dalam Kudatuli antara lain: >> berbagai gedung sepanjang ruas jalan Salemba Raya seperti Gedung Pertanian, >> Showroom Auto 2000, Showroom Honda, Bank Mayapada, Dept. Pertanian, Mess >> KOWAD, Bus Patas 20 jurusan Lebak Bulus – Pulo Gadung, bus AJA dibakar >> massa. Sepanjang Jl. Cikini Raya beberapa gedung perkantoran seperti Bank >> Harapan Sentosa dan tiga mobil sedan tidak luput dari amukan massa dll. >> Selanjutnya pada hari Minggu, 18 Januari 1998 terjadi ledakan di kamar >> 510, Blok V, Rumah Susun Johar di Tanah Tinggi, Tanah Abang sesaat setelah >> jam berbuka puasa yang membuat ruangan seluas 4 x 4 meter tersebut hancur >> berantakan. >> Langit-langit yang bercat putih porak-poranda, atap ambrol, dinding >> retak, salah satu sudut jebol dan di sana sini ada bercak darah. Menurut >> keterangan Mukhlis, Ketua RT 10 Tanah Tinggi bahwa Agus Priyono salah satu >> pelaku yang tertangkap saat melarikan diri, ditangkap dalam kondisi >> belepotan darah dan luka di bagian kepala dan tangannya, sementara dua >> lainnya berhasil kabur. Setelah melakukan pemeriksaan, polisi menemukan: 10 >> bom yang siap diledakan, obeng, stang, kabel, botol berisi belerang, >> dokumen notulen rapat, paspor dan KTP atas nama Daniel Indrakusuma, disket, >> buku tabungan, detonator, amunisi, laptop berisi email dan lain sebagainya. >> Dari dokumen tersebut ditemukan fakta bahwa Hendardi, Sofyan Wanandi, Jusuf >> Wanandi, Surya Paloh, Benny Moerdani, Megawati terlibat dalam sebuah >> konspirasi jahat untuk melancarkan kerusuhan di Indonesia demi gulingkan >> Presiden Soeharto. >> Temuan tersebut ditanggapi Baskortanasda Jaya dengan memanggil Benny >> Moerdani (dibatalkan), Surya Paloh dan kakak beradik Wanandi dengan hasil: >> 1. Surya Paloh membantah terlibat dengan PRD namun tidak bisa mengelak >> ketika ditanya perihal pemecatan wartawati Media Indonesia yang menulis >> berita mengenai kasus bom rakitan di Tanah Tinggi tersebut. >> 2. Jusuf Wanandi dan Sofyan Wanandi membantah terlibat pendanaan PRD >> ketika menemui Bakorstanas tanggal 26 Januari 1998, namun keesokan harinya >> pada tanggal 27 Januari 1998 mereka mengadakan pertemuan mendadak di >> Simprug yang diduga rumah Jacob Soetoyo bersama Benny Moerdani, A. Pranowo, >> Zen Maulani dan seorang staf senior kementerian BJ Habibie dan kemudian >> tanggal 28 Januari 1998, Sofyan Wanandi kabur ke Australia yang sempat >> membuat aparat berang dan murka. Sofyan Wanandi baru kembali pada bulan >> Februari 1998. >> Bersamaan dengan temuan dokumen penghianatan CSIS dan Benny Moerdani >> tersebut, dan fakta bahwa Sofyan Wanandi menolak gerakan “Aku Cinta Rupiah” >> padahal negara sedang krisis membuat banyak rakyat Indonesia marah dan >> segera melakukan demo besar guna menuntut pembubaran CSIS namun Wiranto >> melakukan intervensi dengan melarang demonstrasi. Mengapa Wiranto membantu >> CSIS? Karena dia adalah orangnya Benny Moerdani dan bersama Try Soetrisno >> sempat digadang-gadang oleh CSIS untuk menjadi cawapres Presiden Soeharto >> karena CSIS tidak menyukai BJ Habibie dengan ICMI dan CIDESnya. >> Kepanikan CSIS atas semua kejadian ini terlihat jelas dalam betapa >> tegangnya rapat konsolidasi pada hari Senin, 16 Februari 1998 di Wisma >> Samedi, Klender, Jakarta Timur (dekat lokasi Kasebul) dan dihadiri oleh >> Harry Tjan, Cosmas Batubara, Jusuf Wanandi, Sofyan Wanandi, J. Kristiadi, >> Hadi Susastro, Clara Juwono, Danial Dhakidae dan Fikri Jufri. >> Ketegangan terutama terjadi antara J. Kristiadi dengan Sofyan Wanandi >> sebab Kristiadi menerima dana Rp. 5miliar untuk untuk menggalang massa anti >> Soeharto tapi CSIS malah menjadi sasaran tembak karena ketahuan mendanai >> gerakan makar. Akibatnya Sofyan dkk menuduh Kristiadi tidak becus dan >> menggelapkan dana. Tuduhan ini dijawab dengan beberkan penggunaan dana >> terutama kepada aktivis “kiri” di sekitar Jabotabek, misalnya Daniel >> Indrakusuma menerima Rp. 1,5miliar dll. Kristiadi juga menunjukan >> berkali-kali sukses menggalang massa anti Soeharto ke DPR, dan setelah CSIS >> didemo, Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta (FKMIJ) yang setahun >> terakhir digarap segera mengecam demo tersebut. Di akhir rapat disepakati >> bahwa Kristiadi akan menerima dana tambahan Rp. 5miliar. >> Karena kondisi sudah mendesak bagi Benny Moerdani, kakak beradik Wanandi >> dan CSIS sehingga mereka memutuskan untuk mempercepat pelaksanaan kejatuhan >> Presiden Soeharto memakai rencana yang pernah didiskusikan di rumah Fahmi >> Idris pada akhir tahun 1980an yaitu kerusuhan rasial. Adapun metode >> kerusuhan akan meniru Malari yang dilakukan oleh Ali Moertopo dan Soedjono >> Hoemardani dengan diperbantukan Sofyan Wanandi yang mendanai GUPPI, yaitu >> massa yang menunggangi demo mahasiswa UI demi menggulingkan Jenderal >> Soemitro. >> Sekedar mengingatkan Malari yang terjadi pada tanggal 15 – 16 Januari >> 1976 adalah kerusuhan dengan menunggangi aksi anti investasi asing oleh >> mahasiswa UI atas hasutan Hariman Siregar, orangnya Ali Moertopo. Kerusuhan >> mana kemudian membakar Glodok, Sudirman, Matraman, Cempaka Putih, Roxy, >> Jakarta-By-Pass, 11 mati, 17 luka parah, 200 luka ringan, 807 mobil hancur >> atau terbakar, 187 motor hancur atau terbakar, 144 toko hancur dan 700 kios >> di Pasar Senen dibakar habis. Ini semua buah tangan Wanandi bersaudara, Ali >> Moertopo dan CSISnya. >> Masalah yang harus dipecahkan untuk membuktikan bahwa CSIS adalah dalang >> Kerusuhan 13-14 Mei 1998 adalah: >> 1. Siapa yang membuat rencana dan mendanai (think); >> 2. Identitas massa perusuh (tank); dan >> 3. Siapa yang bisa menahan semua pasukan keamanan dan menghalangi perusuh? >> Ad. 1. Pembuat rencana sudah dapat dipastikan muridnya Ali Moertopo, >> dalang Malari, yaitu Benny Moerdani dan Jusuf Wanandi. Sedangkan dana juga >> sudah dapat dipastikan berasal Sofyan Wanandi yang meneruskan peran >> almarhum Soedjono Hoemardani sebagai donatur semua operasi intelijen CSIS >> dan Ali Moertopo. >> Benny Moerdani mengendalikan Kerusuhan 13-14 Mei 1998 dari Hotel Ria >> Diani, Cibogo, Puncak, Bogor. Adapun SiaR milik Goenawan Mohamad yang tidak >> lain sekutu Benny Moerdani bertugas membuat alibi bagi CSIS, antara lain >> dengan menyalahkan umat muslim sebagai dalang Kerusuhan 13-14 Mei 1998 >> dengan menulis bahwa terdapat pertemuan tujuh tokoh sipil dan militer pada >> awal Mei 1998 antara lain Anton Medan, Adi Sasono, Zainuddin MZ, di mana >> konon Adi Sasono menegaskan perlu kerusuhan anti-Cina untuk menghabiskan >> penguasaan jalur distribusi yang selama ini dikuasai penguasa keturunan >> Tionghoa. >> Sampai sekarang massa perusuh tidak diketahui identitasnya namun dalam >> sejarah kerusuhan CSIS, penggunaan preman bukan hal baru. Dalam kasus >> Malari, CSIS membina dan mengerahkan GUPPI, tukang becak, dan tukang ojek >> untuk tujuan menunggangi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Dalam kasus >> penyerbuan ke Timor Leste, CSIS dan Ali Moertopo mengirim orang untuk >> bekerja sama dengan orang lokal melawan Fretilin sehingga Timor Leste >> menjadi kisruh yang kemudian menjadi dalih bagi Benny Moerdani menyerbu >> Timor-Timur. Begitu juga dalam kasus Kudatuli, CSIS menggunakan preman dan >> buruh bongkar muat dari daerah Pasar Induk Kramat Jati, 200 orang yang >> terlatih bela diri dari Tangerang, dan lain sebagainya. >> Bahkan setelah reformasi, terbukti Sofyan Wanandi mendalangi demonstrasi >> yang menamakan diri Front Pembela Amar Maruf Nahi Mungkar yang menuntut >> Kwik Kian Gie mundur karena memiliki saham di PT Dusit Thani yang bergerak >> dalam usaha panti pijat ketika pemerintah dan DPR berniat menuntaskan >> kredit macet milik kelompok usaha Sofyan Wanandi sebagaimana diungkap >> Aberson Marle Sihaloho dan Didik Supriyanto, keduanya anggota fraksi PDIP. >> Adapun kredit macet dimaksud adalah hutang PT Gemala Container milik Sofyan >> Wanandi kepada BNI sebesar Rp. 92miliar yang dibayar melalui mekanisme >> cicilan sebesar Rp. 500juta/bulan atau baru lunas 184 tahun kemudian, dan >> tanpa bunga. >> Adalah fakta tidak terbantahkan bahwa tidak ada tentara selama kerusuhan >> tanggal 13 dan 14 Mei 1998, dan bilapun ada, mereka hanya menyaksikan para >> perusuh menjarah dan membakar padahal bila saja dari awal para tentara >> tersebut bertindak tegas maka dapat dipastikan akan meminimalisir korban >> materi dan jiwa. Pertanyaannya apakah hilangnya negara pada kerusuhan Mei >> disengaja atau tidak? >> Fakta lain yang tidak terbantahkan adalah Kepala BIA yaitu Zacky Anwar >> Makarim memberi pengakuan kepada TGPF bahwa ABRI telah memperoleh informasi >> akan terjadi kerusuhan Mei. Namun ketika ditanya bila sudah tahu mengapa >> kerusuhan masih terjadi, Zacky menjawab tugas selanjutnya bukan tanggung >> jawab BIA. Jadi siapa “user” BIA? Tentu saja Panglima ABRI Jenderal Wiranto >> yang berperilaku aneh sebab Jakarta rusuh pada tanggal 13 Mei 1998 dan pada >> tanggal 14 Mei 1998 dia membawa KSAD, Danjen Kopassus, Pangkostrad, KSAU, >> KSAL ke Malang untuk mengikuti upacara serah terima jabatan sampai jam 1.30 >> di mana sekembalinya ke Jakarta, kota ini sudah kembali terbakar hebat. >> Keanehan Wiranto juga tampak ketika malam tanggal 12 Mei 1998 dia menolak >> usul jam malam dari Syamsul Djalal dan dalam rapat garnisun tanggal 13 Mei >> 1998 malam dengan agenda situasi terakhir ketika dia membenarkan keputusan >> Kasum Letjend Fahrul Razi menolak penambahan pasukan untuk Kodam Jaya >> dengan alasan sudah cukup. Selain itu Wirantomenolak permintaan Prabowo >> untuk mendatangkan pasukan dari Karawang, Cilodong, Makasar dan Malang >> dengan cara tidak mau memberi bantuan pesawat hercules sehingga Prabowo >> harus mencarter sendiri pesawat Garuda dan Mandala. Bukan itu saja, tapi >> KSAL Arief Kusharyadi sampai harus berinisiatif mendatangkan marinir dari >> Surabaya karena tidak ada marinir di markas mereka di Cilandak KKO dan atas >> jasanya ini, Wiranto mencopot Arief Kusharyadi tidak lama setelah kerusuhan >> mereda. >> Mengapa Wiranto membiarkan kerusuhan terjadi? Tentu saja karena dia >> adalah orangnya Benny Moerdani, dan setelah Soeharto lengser, Wiranto >> bekerja sama dengan Benny Moerdani antara lain dengan melakukan reposisi >> terhadap 100 perwira ABRI yang dipandang sebagai “ABRI Hijau” dan diganti >> dengan perwira-perwira yang dipandang sebagai “ABRI Merah Putih.” >> Setelah Kerusuhan 13-14 Mei 1998, Wiranto bergerak menekan informasi >> mengenai terjadinya pemerkosaan massal terhadap wanita etnis Tionghoa >> termasuk marah karena pengumuman dari TGPF bahwa terjadi pemerkosaan selama >> kerusuhan. Tidak berapa lama, Ita Marthadinata, relawan yang membantu TGPF >> dan berumur 17 tahun mati dibunuh di kamarnya sendiri dengan luka mematikan >> di leher sedangkan sampai hari ini latar belakang pembunuhnya yaitu Otong >> tidak diketahui dan dicurigai dia adalah binaan intelijen. Kecurigaan >> semakin menguat sebab beberapa hari sebelum kejadian, Ita dan keluarganya >> membuat rencana akan memberikan kesaksian di Kongres Amerika mengenai >> temuan mereka terkait korban Kerusuhan 13-14 Mei 1998. >> “Bersama Presiden Soeharto, Benny adalah Penasihat YPPI yang didirikan >> oleh para mantan tokoh demonstrasi 1966 dengan dukungan Ali Moertopo. Hadir >> di rumah Fahmi [Idris] pada malam itu para pemimpin demonstrasi 1966 >> seperti Cosmas Batubara, dr. Abdul Ghafur, Firdaus Wajdi, Suryadi [Ketua >> PDI yang menyerang Kubu Pro Mega tanggal 27 Juli 1996]; Sofjan Wanandi; >> Husni Thamrin dan sejumlah tokoh. Topik pembicaraan, situasi politik waktu >> itu… >> Moerdani berbicara mengenai Soeharto yang menurut Menhankam itu, ‘Sudah >> tua, bahkan sudah pikun, sehingga tidak bisa lagi mengambil keputusan yang >> baik. Karena itu sudah waktunya diganti’…Benny kemudian berbicara mengenai >> gerakan massa sebagai jalan untuk menurunkan Soeharto. Firdaus menanggapi, >> ‘Kalau menggunakan massa, yang pertama dikejar adalah orang Cina dan >> kemudian kemudian gereja.’ ” >> (Salim Said, Dari Gestapu Ke Reformasi, Penerbit Mizan, hal. 316) >> Pembicaraan di rumah Fahmi Idris, tokoh senior Golkar yang menyeberang ke >> kubu Jokowi-JK demi melawan Prabowo adalah bukti paling kuat yang >> menghubungkan Benny Moerdani dengan berbagai kerusuhan massa yang sangat >> marak menjelang akhir Orde Baru karena membuka informasi adanya pemikiran >> Benny Moerdani untuk menjatuhkan Soeharto melalui gerakan massa yang >> berpotensi mengejar orang Cina dan orang Kristen. Kesaksian Salim Said ini >> merupakan titik tolak paling penting guna membongkar berbagai kerusuhan >> yang belum terungkap seperti Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan 13-14 Mei >> 1998. >> A. Peristiwa 27 Juli 1996 Adalah Politik Dizalimi (Play Victim) Paling >> Keji Sepanjang Sejarah Indonesia >> Selanjutnya Robert Odjahan Tambunan dalam bukunya Otobiografi Politik RO >> Tambunan: Membela Demokrasi mengungkap bahwa Megawati bisa mencegah >> jatuhnya korban dalam Peristiwa 27 Juli 1996 bila menghendaki karena dia >> sudah tahu beberapa hari sebelumnya dari Benny Moerdani, akan tetapi >> Megawati ternyata lebih memilih kepentingan politik daripada kemanusiaan >> (hal. 150); Megawati menyogok Kelompok 124, korban serbuan kantor PDI yang >> diadili, agar tidak menuntut kelompok TNI (hal. 172); dan Megawati tidak >> pernah ingin menyelesaikan kasus tersebut antara lain terbukti tahun 2002 >> memilih gubernur yang terlibat kasus Peristiwa 27 Juli 1996 [Sutiyoso] >> (hal. 374). >> Bila catatan Salim Said, R.O. Tambunan dihubungkan dengan catatan >> Rachmawati Soekarnoputri: Membongkar Hubungan Mega dan Orba di Harian >> Rakyat Merdeka 31 Juli 2002 dan 1 Agustus 2002 maka terbukti bahwa akhirnya >> Benny mulai menjalankan rencana yang dia ungkap di rumah Fahmi Idris ketika >> dia bersekongkol dengan Megawati demi menaikan seseorang dari keluarga >> Soekarno sebagai lawan tanding Soeharto dengan merekayasa Peristiwa 27 Juli >> 1996. Kutipan dari Catatan Rachmawati Soekarnoputri: >> “Sebelum mendekati Mega, kelompok Benny Moerdani mendekati saya >> [Rachmawati] terlebih dahulu. Mereka membujuk dan meminta saya tampil >> memimpin PDI. Permintaan orang dekat dan tangan kanan Soeharto itu jelas >> saya tolak, bagi saya, PDI itu cuma alat hegemoni Orde Baru yang dibentuk >> sendiri oleh Soeharto tahun 1973. Coba renungkan untuk apa jadi pemimpin >> boneka? >> Orang-orang PDI yang dekat dengan Benny Moerdani, seperti Soerjadi dan >> Aberson Marie Sihaloho pun ikut mengajak saya gabung ke PDI. Tetapi tetap >> saya tolak.” >> Dari ketiga catatan di atas kita menemukan nama-nama yang saling terkait >> dalam Peristiwa 27 Juli 1996, antara lain: Benny Moerdani; Megawati; Dr. >> Soerjadi; Sofjan Wanandi; dan Aberson Marie Sihaloho, dan ini adalah >> “eureka moment” yang membongkar persekongkolan jahat karena Aberson Marie >> adalah orang yang pertama kali menyebar pamflet bahwa Megawati calon >> pemimpin masa depan sehingga menimbulkan kecurigaan Mabes ABRI (modus >> Dokumen Ramadi sebelum Malari); sedangkan Dr. Soerjadi adalah Ketum PDI >> pengganti Megawati pasca Kongres Medan (atas biaya Sofjan Wanandi) yang >> menyerbu kantor PDI dan selama ini diasumsikan perpanjangan tangan Soeharto >> ternyata agen ganda didikan Benny Moerdani, dan tentu saja Agum >> Gumelar-Hendropriyono, murid Benny Moerdani juga berada di sisi Megawati >> atas perintah Benny Moerdani sebagaimana ditulis Jusuf Wanandi dari CSIS >> dalam memoarnya, Shades of Grey/Membuka Tabir Orde Baru. >> Fakta di atas menjawab alasan Presiden Megawati menolak menyelidiki >> Peristiwa 27 Juli 1996 sekalipun harus mengeluarkan kalimat pahit kepada >> para korban seperti “Siapa suruh kalian mau ikut saya?” dan malah memberi >> jabatan tinggi kepada SBY yang memimpin rapat Operasi Naga Merah; Sutiyoso >> komando lapangan penyerbuan Operasi Naga Merah; dan tidak lupa Agum Gumelar >> dan AM Hendropriyono yang pura-pura melawan koleganya. Sama saja Megawati >> bunuh diri bila dia sampai menyelidiki kejahatannya sendiri! >> Fakta-fakta di atas juga membuktikan bahwa dokumen yang ditemukan pasca >> ledakan di Tanah Tinggi tanggal 18 Januari 1998 yang menyebutkan ada >> rencana revolusi dari Benny Moerdani; Megawati; CSIS dan Sofjan-Jusuf >> Wanandi membiayai gerakan PRD adalah dokumen asli dan otentik serta bukan >> buatan intelijen untuk mendiskriditkan PRD sebagaimana pembelaan mereka >> selama ini. Bunyi salah satu dokumen yang berupa email di laptop adalah: >> “Kawan-kawan yang baik! Dana yang diurus oleh Hendardi belum diterima, >> sehingga kita belum bisa bergerak. Kemarin saya dapat berita dari Alex >> bahwa Sofjan Wanandi dari Prasetya Mulya akan membantu kita dalam dana, di >> samping itu bantuan moril dari luar negeri akan diurus oleh Jusuf Wanandi >> dari CSIS. Jadi kita tidak perlu tergantung kepada dana yang diurus oleh >> Hendardi untuk gerakan kita selanjutnya.” >> (Majalah Gatra edisi 31 Januari 1998) >> B. Kerusuhan 13-14 Mei 1998, Gerakan Benny Moerdani Menggulung Soeharto; >> Prabowo; dan Menaikan Megawati Soekarnoputri Ke Kursi Presiden. >> Pernah dengar kisah Kapten Prabowo melawan usaha kelompok Benny Moerdani >> dan CSIS mendeislamisasi Indonesia? Kisah ini fakta dan sudah banyak buku >> sejarah yang membahas kisah-kisah saat itu, salah satunya cerita Kopassus >> masa kepanglimaan Benny. Saat Benny menginspeksi ruang kerja bawahan dia >> melihat sajadah di kursi dan bertanya “Apa ini?,” jawab sang perwira, >> “Sajadah untuk shalat, Komandan.” Benny membentak “TNI tidak mengenal ini.” >> Benny juga sering rapat staf saat menjelang ibadah Jumat sehingga >> menyulitkan perwira yang mau sholat Jumat. >> Hartono Mardjono sebagaimana dikutip Republika tanggal 3 Januari 1997 >> mengatakan bahwa rekrutan perwira Kopassus sangat diskriminatif terhadap >> yang beragama Islam, misalnya kalau direkrut 20 orang, 18 di antaranya >> adalah perwira beragama non Islam dan dua dari Islam. Penelitian Salim Said >> juga menemukan hal yang sama bahwa perwira yang menonjol keislamannya, >> misalnya mengirim anak ke pesantren kilat pada masa libur atau sering >> hadiri pengajian diperlakukan diskriminatif dan tidak mendapat kesempatan >> sekolah karena dianggap fanatik, singkatnya karirnya pasti suram. >> Perhatikan perwira tinggi yang menduduki pos penting ketika Benny >> Moerdani berkuasa: Sintong Panjaitan; Try Sutrisno; Wiranto; TB Silalahi; >> TB Hasanuddin; R.S. Warouw; Albert Paruntu; AM Hendropriyono; Agum Gumelar; >> Sutiyoso; Susilo Bambang Yudhoyono; Luhut Panjaitan; Ryamizard Ryacudu; >> Jonny Lumintang; Tyasno Sudarto; Albert Inkiriwang; HBL Mantiri; Fachrul >> Razi; Adolf Rajagukguk; Theo Syafei; Soebagyo HS dll, maka terlihat pola >> tidak terbantahkan bahwa perwira tinggi pada masa kekuasaan Benny Moerdani >> adalah non Islam atau Islam abangan (“non-fanatik” atau “non-Islam santri” >> menurut versi Benny). Ketidakadilan inilah yang dilawan Prabowo antara lain >> bersama BJ Habibie membentuk ICMI yang sempat dilawan habis-habisan oleh >> kelompok Benny Moerdani. Tidak heran anggota kelompok Benny Moerdani yang >> masih tersisa membenci Prabowo karena dia menghancurkan cita-cita >> mendeislamisasi Indonesia. >> Mengapa Benny Moerdani dan CSIS mau mendeislamisasi Indonesia? Karena >> CSIS didirikan oleh agen CIA, Pater Beek yang awalnya ditempatkan di >> Indonesia untuk melawan komunis namun setelah “Bahaya Merah”(komunis) >> teratasi, dia membuat analisa bahwa lawan Amerika Serikat berikutnya ada >> dua yaitu: “Hijau ABRI” dan “Hijau Islam,” lalu menyimpulkan ABRI bisa >> dimanfaatkan untuk melawan Islam, maka berdirilah CSIS yang dioperasikan >> oleh anak didiknya: Sofjan, Jusuf Wanandi, Harry Tjan, dan mewakili ABRI: >> Ali Moertopo, dan Soedjono Hoemardani (lihat: tulisan George Junus >> Aditjondro, mantan murid Pater Beek: CSIS, Pater Beek SJ, Ali Moertopo dan >> LB Moerdani). >> Tidak percaya gerakan anti Prabowo di kubu >> Golkar-PDIP-Hanura-NasDem-Demokrat berhubungan dengan kelompok anti Islam >> yang dihancurkan Prabowo? Perhatikan pendukung Jokowi-JK: Sutiyoso >> (Gubernur DKI saat Kerusuhan 13-14 Mei 1998; Agus Widjojo; Fachrul Razi >> (klik Wiranto dan pengusul Jonny Lumintang, orang Benny, Pangkostrad >> pengganti Prabowo), Ryamizard Ryacudu (menantu wapres Try Sutrisno periode >> 1993-1998, agen Benny Moerdani); Agum Gumelar-Hendropriyono (bodyguard >> Megawati suruhan Benny); Andi Widjajanto (anak Theo Syafei); Fahmi Idris >> (rumahnya lokasi ketika ide Peristiwa 27 Juli 1996 dan Kerusuhan 13-14 Mei >> 1998 pertama kali dilontarkan); Luhut Panjaitan; Tyasno Sudarto; Soebagyo >> HS (KSAD saat Kerusuhan 13-14 Mei 1998; Wiranto; TB Silalahi; TB Hasanuddin >> dll. >> Wiranto anak buah Benny Moerdani? Benar, dan Jusuf Wanandi dalam >> memoarnya menulis bahwa ketika Presiden Soeharto berhasil menetralisir >> pengaruh Try Soetrisno dengan menempatkan Feisal Tanjung dan Prabowo >> Subianto dan tidak ada lagi yang bisa dilakukan klik Benny Moerdani, maka >> mereka menempatkan semua harapan kepada Wiranto. Selain itu setelah >> dilantik sebagai Panglima ABRI, diketahui Wiranto menghadap Benny Moerdani >> dan meminta bertemu setiap bulan. Tanggapan Benny menurut Jusuf Wanandi dan >> Salim Said adalah: >> “Jangan berilusi, orang tua itu [Soeharto] tidak menyukai saya, tidak >> percaya kepada saya. Anda harus tetap di sana karena Anda satu-satunya yang >> kita miliki. Jangan membuat kesalahan karena kariermu akan selesai jika >> Soeharto tahu Anda dekat dengan saya.” >> (Menyibak Tabir Orde Baru, hal. 365-366; Salim Said, hal. 320) >> Wiranto memang membantah memiliki hubungan dekat dengan Benny, namun ada >> cara membuktikan Wiranto telah berbohong. Pertama, dalam memoarnya, Jusuf >> Wanandi bercerita pasca jatuhnya Soeharto, Wiranto menerima dari Benny >> daftar perwira yang dinilai sebagai “ABRI Hijau”, dan dalam sebulan semua >> orang dalam daftar nama tersebut disingkirkan Wiranto. Ketika dikonfrontir >> mengenai hal ini, Wiranto mengatakan cerita “daftar nama” adalah bohong, >> namun bila kita lihat kembali masa-masa setelah Soeharto jatuh maka >> faktanya banyak perwira “hijau” yang dimutasi Wiranto dan sempat menuai >> protes. >> Wiranto orang Benny di samping Presiden Soeharto menjawab alasan Wiranto >> menjatuhkan semua kesalahan terkait Operasi Setan Gundul kepada Prabowo; >> menghasut BJ Habibie bahwa Prabowo mau kudeta sehingga Prabowo >> diberhentikan dari dinas militer; dan adu domba Soeharto dengan menantunya >> seolah Prabowo dan BJ Habibie bekerja sama menjatuhkan Soeharto sehingga >> dipaksa bercerai dari Titiek Soeharto. Alasannya tidak lain Wiranto adalah >> eksekutor dari rencana Benny menistakan Prabowo Subianto. >> Bicara “kebejatan” Prabowo tentu tidak lengkap tanpa mengungkit Kerusuhan >> 13-14 Mei 1998 yang ditudingkan pada dirinya padahal jelas-jelas Wiranto >> sebagai Panglima ABRI pergi ke Malang membawa Kasau, Kasal, Kasad dan >> Pangkostrad serta menolak permohonan Prabowo untuk mengerahkan pasukan demi >> mengusir perusuh. Berdasarkan temuan fakta di atas bahwa Benny Moerdani mau >> menjatuhkan Soeharto melalui kerusuhan rasial dan Wiranto adalah >> satu-satunya orang Benny di lingkar dalam Soeharto maka patut diduga >> Wiranto sengaja melarang pasukan keluar dari barak karena berniat >> membiarkan kerusuhan, tapi rencananya berantakan ketika pasukan marinir >> berinisiatif keluar kandang menghalau perusuh. >> Selain itu tiga fakta yang menguatkan kesimpulan bahwa klik Benny >> Moerdani dalang Kerusuhan 13-14 Mei 1998 adalah sebagai berikut: >> 1. Menjatuhkan lawan dengan “gerakan massa” adalah keahlian Ali Moertopo >> (guru Benny Moerdani) dan CSIS yang terkenal sejak Peristiwa Malari’74 yang >> meletus karena provokasi Hariman Siregar, binaan Ali Moertopo (selengkapnya >> lihat kesaksian Jenderal Soemitro yang dicatat Heru Cahyono dalam buku >> Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari 74 terbitan Sinar >> Harapan). >> 2. Menurut temuan TGPF Kerusuhan 13-14 Mei 1998, penggerak lapangan >> adalah orang berkarakter militer yang sangat cekatan memprovokasi warga >> untuk menjarah dan membakar. Ini ciri-ciri orang yang terlatih sebagai >> intelijen, padahal baik Wiranto atau Prabowo adalah perwira tipe komando >> dan bukan tipe intelijen, sedangkan saat itu hanya Benny Moerdani yang >> memiliki kemampuan merekayasa kerusuhan skala besar karena dia mewarisi >> taktik dan jaringan yang dibangun Ali Moertopo (mengenai jaringan dimaksud >> bisa dibaca di Rahasia-Rahasia Ali Moertopo terbitan Tempo-Gramedia). >> Lagipula saat kejadian terbukti Benny sedang rapat di Bogor dan ada laporan >> intelijen bahwa provokator kerusuhan 27 Juli 1996 dan 13-14 Mei 1998 >> dilatih di Bogor!! >> 3. Saat Kerusuhan 13-14 Mei 1998, Fachrul Razi yang saat itu menjabat >> sebagai Kasum melarang pengerahan pasukan untuk membantu Kodam Jaya >> menghentikan kerusuhan sistematis dan penjarahan. Perlu ditambahkan Fachrul >> Razi adalah anggota klik Wiranto yang di atas sudah terbukti adalah binaan >> Benny di dalam kabinet Presiden Soeharto yang terakhir. ( >> http://www.liputan6.com/fullnews/77958.html >> <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.liputan6.com%2Ffullnews%2F77958.html&h=oAQE0Us3yAQH_oGK47inhgckX9KEmDknOMAV-QKv5aiS5VA&enc=AZPk3oCQGeXtMye2wkhqG6xHv2TBuSuKHPSb6HLn0AjRsLAb-4wrS_e_yy94-FUhm4wi7K8w--F83IzixFL2EHJ3I3SPwN48DmZjJNZX4I9SJ6STNqPe_ZWy_r5N0tacI9I6RmHsFfIAIK3p0vZP4oJQYWG1xAHx1LVWASwZ9EUgvCUVOPCcVVPz4hOGetBUGNc&s=1> >> ). >> Penutup >> Benarkah Benny Moerdani tega membasahi tangannya dengan darah rakyat >> tidak berdosa? Tidak ada keraguan: Benny Moerdani berprinsip membunuh >> sebagian rakyat demi selamatkan negara layak dilakukan, sebagaimana >> diungkap David Jenkins, wartawan senior Australia yang memiliki jaringan >> luas dengan jenderal Orba dalam orbituari kepada Benny Moerdani, >> “Charismatic, Sinister Soeharto Man”: >> “Hardened in battle and no stranger to violence, Moerdani believed that >> the ends justify the means…He once shocked members of an Indonesian >> parliamentary committee by saying, in effect, that if he had to sacrifice >> the lives of 2 million Indonesians to save the lives of 200 million >> Indonesians he would do so.” >> Para murid Benny Moerdani pendukung Jokowi tampaknya mewarisi kekejaman >> sang guru, misalnya Luhut Panjaitan pernah menghujani mahasiswa yang sedang >> berdemo dengan peluru tajam, menimbulkan banyak korban jiwa, dan hal ini >> diceritakan tanpa rasa bersalah: >> “Letusan peluru itu tidak digubris para pendemo. Mereka terus melempari >> tentara dengan batu. Merasa terdesak Luhut [Panjaitan] memerintahkan anak >> buahnya menembak kaki para pendemo. Situasi makin kacau karena mereka >> kocar-kacir. Tentara yang mengejar tidak lagi mengarahkan moncong ke aspal, >> tapi sudah mengincar sasaran. Luhut menduga banyak yang tewas saat >> kejar-kejaran itu.” >> (Massa Misterius Malari, Tempo, hal. 71) >> Kekejaman Luhut Panjaitan membuatnya menjadi anak emas Benny Moerdani, >> sehingga wajar Luhut Panjaitan menyimpan kebencian begitu besar terhadap >> Prabowo karena dia kehilangan status dan fasilitas istimewa setelah Benny >> Moerdani tersingkir: >> “Berbeda dengan panglima-panglima sebelum dan sesudahnya, Benny memang >> memelihara sejumlah orang yang disenanginya. “Mereka itu semacam golden >> boys Benny Moerdani,” kata Schwarz. Salah satu yang dikenal sebagai “anak >> emas” itu adalah Luhut Binsar Panjaitan.” >> (Salim Said, hal. 343) >> Kekejaman yang sama turut dimiliki AM Hendropriyono, murid Benny lain >> yang juga mendampingi Jokowi karena dia pelaku pembantaian Talangsari, >> Lampung; DOM di Aceh, lalu bersama Muchdi Pr dan Ass’at (keduanya mendukung >> Jokowi-JK) adalah dalang pembunuhan Munir >> (lihat: http://www.wikileaks.org/plusd/cables/07JAKARTA163_a.html >> <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.wikileaks.org%2Fplusd%2Fcables%2F07JAKARTA163_a.html&h=VAQFWO1OoAQEoKK4TPmyvjZS_cm4ylpIyREFs3v_WkUP0yg&enc=AZPckajywMtj9CPuLlOClFdeNuKazz4hYwZf-m17vAW5wqFx31m4oznw6quDVX0iQxzIigxGLZ_zycVBoGxpFSc5H0jW_ouGqS-q_EIr_YSdNB3jfJsf8FO8NZH8pRzyCevTSgyv6CEwaovyalwsI-RbI_nq3KOD-Yqz4zwbadWlpm_cwQ5DVn4Wk6OR45bpMX0&s=1> >> ). >> Sudah tidak bisa dibantah bahwa alasan klik Benny Moerdani mendukung >> Jokowi-JK sekalipun mengorbankan keutuhan partai masing-masing (PDIP, >> Hanura, Golkar, Demokrat) sekedar untuk melawan Prabowo adalah dendam >> kesumat yang belum terpuaskan sebab Prabowo menghalangi usaha >> mendeislamisasi Indonesia. >> Menutup artikel ini saya akan mengutip Jusuf Wanandi, sahabat baik Benny >> Moerdani: >> “But, maybe Benny’s biggest nemesis was Soeharto son-in-law, Prabowo >> Subianto.” >> (Shades of Grey, hal. 240) >> “…Saya menganggap lawan utama Benny adalah Prabowo Subianto, menantu >> Presiden Soeharto.” >> (Menyibak Tabir Orde Baru, hal. 327) >> Kita harus berterima kasih kepada Julian Assange karena mendirikan >> website Wikileaks yang membocorkan berbagai dokumen rahasia milik Amerika >> Serikat sebab tanpanya kita tidak akan mengetahui bahwa Jokowi sudah >> menjalankan agenda Amerika di Indonesia sejak tahun 2005. Berdasarkan >> dokumen rahasia CIA tertanggal 7 April 2006 yang diunggah Wikileaks kita >> mengetahui bahwa pada tanggal yang sama agen rahasia CIA bernama Pierangelo >> dan David S. Williams bertemu Jokowi selaku Walikota Solo yang baru >> dilantik 7 bulan sebelumnya. >> Agenda pertemuan adalah membahas Abu Bakar Ba’asyir dari Ponpres Ngruki >> yang disebut oleh pelaku serangan 9/11 bernama Riduan Isamuddin alias >> Hambali terkait jaringan Al Qaeda di Indonesia bernama Jamaah Islamiyah. >> Dalam pertemuan agen CIA tersebut minta Jokowi mengendalikan Abu Bakar >> Ba’asyir dan disanggupi oleh Jokowi. Setelah itu Jokowi mendekati Abu >> Ba’asyir secara pribadi dan hubungan keduanya menjadi sangat dekat bagai >> seorang ayah dan anak, terbukti kendati sedang mendekam di dalam penjara >> namun pada tanggal 30 Januari 2013 Abu Bakar Ba’asyir sempat mengirim >> utusan menemui Jokowi sekedar menyampaikan salam; yang dibalas oleh Jokowi >> dengan ucapan terima kasih dan salam balik. >> Jokowi memang berhasil mengontrol Abu Bakar Ba’asyir dan mendapat pujian >> dari Dubes AS bernama Cameron R. Hume pada tahun 2008 sebagaimana bocoran >> kawat diplomatik di Wikileaks yang dikirim ke Pentagon dengan judul “Solo, >> From Radical Hub To Tourist Heaven,” yang intinya melaporkan bahwa Jokowi >> telah berhasil mengendalikan Abu Bakar Ba’asyir dan menekan tingkat >> kemilitanan Ponpres Ngruki yang terkenal radikal. >> Selanjutnya pada tahun yang sama yaitu tahun 2008, Jokowi kedatangan Agus >> Widjojo, Luhut Binsar Pandjaitan dan Hendropriyono lalu Luhut bekerja sama >> dengan Jokowi membentuk perusahaan patungan bernama PT Rakabu Sejahtera >> dengan modal awal dari Luhut Rp. 15,5miliar dan dari anak Jokowi bernama >> Gibran Rakabumi Raka sebesar Rp. 19,2miliar (anak dua puluh tahun yang >> pelihara tuyul tampaknya). Perlu dicurigai bahwa perusahaan hanya kedok >> sebuah operasi intelijen karena tidak lama setelah Jokowi menjadi Gubernur >> DKI, kantor perusahaan tersebut dua kali terbakar dalam waktu berdekatan. >> Kehadiran Hendropriyono dan Luhut Pandjaitan semakin melekatkan pengaruh >> Amerika pada kehidupan Jokowi sebab mereka adalah murid langsung dan anak >> emas Jenderal Benny Moerdani, seorang petinggi CSIS, sebuah lembaga yang >> didirikan agen CIA bernama Pater Beek. CSIS dan Pater Beek bukanlah >> satu-satunya hubungan CIA dengan Jokowi, sebab penanggung jawab proses >> memoles citra Jokowi dari walikota gagal menjadi “pemimpin muda masa depan” >> hingga masuk gerbang pencapresan adalah Goenawan Mohamad yang kerap >> menerima uang negara asing dan anak didik Ivan Kats, seorang agen CIA. >> Khusus CSIS, sejak awal mereka memiliki hubungan dengan Ali Moertopo yang >> terkenal dengan Opsus dan pernah merekayasa kerusuhan Malari pada 15 >> Januari 1974 dan setelah kematian Ali Moertopo, tampaknya Opsus diwariskan >> kepada Jusuf Wanandi, pemimpin tertinggi CSIS saat ini karena Wikileaks >> menemukan Jusuf Wanandi adalah orang Opsus: >> “6. ASIDE FROM MURTONO, HOWEVER, ALI MURTOPO AND OPSUS SEEM TO HAVE DONE >> RATHER WELL. NUMBER TWO MAN (MARTONO) HAS LONG BEEN KNOWN AS OPSUS MAN IN >> OLD KOSGORO ORGANIZATION. JUSUF WANANDI (LIM BIAN KIE) HAS KEY POSITION >> HEADING LIST OF SECRETARIES ORGANIZED ACCCORDING TO FUNCTION, AND OPSUS >> STALWARTS DOMINATE AT THIS WORKING LEVEL.” >> https://www.wikileaks.org/plu…/cables/1973JAKART10795_b.html >> <https://www.facebook.com/l.php?u=https%3A%2F%2Fwww.wikileaks.org%2Fplusd%2Fcables%2F1973JAKART10795_b.html&h=eAQHsYYCjAQGtLgQ9lN4796V3kaKBJk423OEPCLWgLaaHTQ&enc=AZMdnBjKXCz1PJasVbtsc_V4EXq97qQ_pvo7Et2y3m7sicCLf0pnBt3vv9U5xwgvcEkI55k2AU6fv_07TKUwoJwhIa3ttgVfS2_O4tIrTpfsHfxQUiZhZM0NLJRhcbMbpHbYWXK9mi9aILkNCgX6fQauwMTQ80g2ZZ-w-Lgpro7lloheGoc_t57py0sQRTAWE1g&s=1> >> Kemunculan anak emas Benny Moerdani dari CSIS yang merupakan kepanjangan >> tangan kepentingan Amerika di Solo dan dilengkapi perangkat rekayasa ala >> Opsus sangat patut diduga terkait usaha mempersiapkan Jokowi sebagai >> presiden boneka Amerika Serikat. Jokowi dan timsesnya berhak membantah dia >> adalah boneka Amerika dan CSIS namun keberadaan Ajianto Dwi Nugroho yang >> dikader oleh murid-murid Pater Beek di dalam Jasmev untuk memenangkan >> Jokowi pada Pilkada DKI dan sekarang melalui cabang Jasmev, PartaiSocmed >> untuk memenangkan pilpres tidak bisa dibantah. Selain itu kita ingat >> kejadian memalukan di mana Jokowi membawa mantan Presiden Megawati >> menghadap Duta Besar Amerika, Inggris dan Kanada di rumah petinggi CSIS >> bernama Jacob Soetoyo dan kembali menyerahkan lehernya beberapa hari >> sebelum deklarasi pencapresannya adalah fakta umum yang tidak bisa dibantah. >> Sebelum kita melanjutkan, apakah anda tahu bahwa salah satu taktik >> deislamisasi yang dilakukan oleh CSIS adalah melalui kebijakan kader mereka >> Daoed Joesoef yang saat menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melarang >> sekolah libur pada hari Ramadhan dan siswi beragama Islam dilarang >> menggunakan jilbab yang mana serupa dengan kebijakan Benny Moerdani yang >> melarang sajadah di lingkungan ABRI dan selalu mempersulit prajurit yang >> bermaksud sholat Jumat? >> http://tikusmerah.com/?p=1204 >> <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Ftikusmerah.com%2F%3Fp%3D1204&h=GAQFfPOsbAQHY81yR3GS9STLVtGHj9Gru96_2bjK1NS5zmA&enc=AZMMuYDLacHC-7zM_tyJKMSPK81JzJKx2FRbbG96x2BfkBCS_qdG-pxOJqzuMOw0RzeRQzdxprjcdfG3iHl_HuFf4R4ZvpP3h76SaG9InjSoo1bBs3DbckB25njdoZ_Ii5rdyG-s4gSUVG9xzsP8-shWVIR4r7vSuUTSro3C6htY9xPk1z0YjIzsFp6euzeX990&s=1> >> Dengan fakta di atas maka sangat tidak mengherankan bila beberapa hari >> lalu seorang Dubes AS Robert Blake mencoba melakukan kampanye hitam >> menyerang Prabowo demi membantu meningkatkan peluang bagi capres boneka >> Amerika memenangkan pertarungan pilpres mendatang. Selain itu tidak heran >> juga ketika menjelang pilpres terbit sebuah fitnah keji bahwa Prabowo >> menghina kebutaan Gus Dur yang dilancarkan oleh media massa Time melalui >> tulisan jurnalis anti Indonesia bernama Yenny Kwok yang bersumber dari >> tulisan jurnalis anti Indonesia lain bernama Allan Neirn karena artikel >> tersebut memang hampir dapat dipastikan pesanan dari Pemerintah Amerika >> Serikat. >> Belum selesai serangan kampanye hitam dari Dubes AS; dan Time melalui >> tangan duo Yenny Kwok dan Allan Neirn yang terafiliasi dengan mantan pelaku >> G30S/PKI bernama Carmel Budiardjo yang selama 50 tahun melancarkan kampanye >> anti Indonesia di dunia internasional, sekarang datang serangan dari Sofyan >> Wanandi, pemimpin para pengusaha-pengusaha di Indonesia yang mengatakan >> bahwa para pengusaha kuatir bila Prabowo menjadi presiden. >> Siapa Sofyan Wanandi? Dia adalah adik Jusuf Wanandi dan orang yang >> memulai salah satu pembusukan karakter paling keji terhadap Prabowo ketika >> diwawancara Adam Schwarz mengatakan seolah Prabowo pernah bilang akan >> mengusir semua orang cina sekalipun hal itu akan membuat ekonomi Indonesia >> muncur 20-30 tahun tapi 14 tahun setelah rumor tersebut merasuk ke sumsum >> rakyat Indonesia atau tahun 2012, barulah Sofyan Wanandi membantah bahwa ia >> pernah mengeluarkan pernyataan seperti itu dengan alasan “jurnalis salah >> paham.” >> Sebagai adik penguasa Opsus, Sofyan Wanandi memang bukan pengusaha biasa, >> terbukti dia adalah donatur utama banyak penggarapan yang dilakukan Opsus >> era pimpinan Jusuf Wanandi dan CSIS seperti membiayai Kongres PDI di Medan >> ketika Benny Moerdani merekayasa politik dizolimi dengan “menjatuhkan” >> Megawati dari kursi Ketua Umum PDI dan diganti oleh “antek Orde Baru” Dr. >> Soerjadi yang menurut kesaksian dari Rachmawati Soekarnoputri sebenarnya >> adalah orang binaan Benny Moerdani juga. >> Nama Sofyan Wanandi juga kembali disebut dalam dua dokumen yang ditemukan >> pasca meledaknya bom rakitan di Rumah Susun Johar di Tanah Tinggi, Tanah >> Abang.tanggal 18 Januari 1998. Saat aparat menyisir lokasi ledakan >> ditemukan sebuah laptop berisi arsip e-mail dan dokumen notulen rapat >> “Kelompok Pro Demokrasi” di Leuwiliang, Bogor, pada tanggal 14 Januari 1998 >> yang merencanakan revolusi dan dihadiri oleh 19 aktivis mewakili 9 >> organisasi terdiri dari kelompok senior dan kelompok junior. Adapun >> kelompok senior terdiri atas: >> Pertama, CSIS yang bertugas membuat analisis dan menyusun konsep >> perencanaan aktivitas ke depan. >> Kedua, Benny Moerdani. >> Ketiga, PDI Pro Megawati Soekarnoputri. >> Keempat, kekuatan ekonomi diwakili oleh Sofjan Wanandi dan Yusuf Wanandi. >> Sedangkan isi email: >> “Kawan-kawan yang baik! Dana yang diurus oleh Hendardi belum diterima, >> sehingga kita belum bisa bergerak. Kemarin saya dapat berita dari Alex >> [Widya Siregar] bahwa Sofjan Wanandi dari Prasetya Mulya akan membantu kita >> dalam dana, di samping itu bantuan moril dari luar negeri akan diurus oleh >> Jusuf Wanandi dari CSIS. Jadi kita tidak perlu tergantung kepada dana yang >> diurus oleh Hendardi untuk gerakan kita selanjutnya.” >> Sumber: Majalah Gatra edisi 31 Januari 1998 >> Kedua dokumen di atas selain membuktikan Sofyan Wanandi, Jusuf Wanandi, >> CSIS, Benny Moerdani dan Megawati adalah bagian dari kelompok yang >> bermaksud membuat sebuah kerusuhan yang dibungkus sebagai revolusi, >> ternyata terungkap juga bahwa Hendardi dari PBHI yang beberapa bulan >> terakhir konsisten meributkan pencapresan Prabowo dengan membawa isu HAM >> dan penculikan adalah bagian dari kelompok tersebut dengan tugas mencari >> pendanaan. Aksi-aksi Hendardi mempolitisasi penangkapan terduga teroris >> pada tahun 1998 tersebut juga dilakukan oleh Tempo, majalah milik anak >> didik agen CIA yaitu Goenawan Mohamad dan Haris Azhar dari Kontras yang >> pernah meminta Uni Eropa melanggar kedaulatan Indonesia dengan melakukan >> intervensi terhadap pemerintah Indonesia. Selain itu politisasi juga >> dilakukan Metro TV, tapi Surya Paloh hanya politisi oportunis, jadi dia >> bukan CSIS atau antek CIA. >> http://protectioninternational.org/…/haris-azhar-on-the-ro…/ >> <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fprotectioninternational.org%2Fvideo%2Fharis-azhar-on-the-role-of-kontras%2F&h=JAQH27OO8AQGKtbBQQNgypieUsIl1pL4EVJFHqhnhPXb5Zw&enc=AZNeiw8rU1qQMvnZHYi7A8gSM2ivau30c8aJt454f_EeWs5if2JZ0JjwQuyHGkf6MKz22nKFFDbewQrXkg7SxcLWkO4Gyf-nn8Jb7DrW5iD1ubvTnvWtrVXffyj1sP_Zug-lw_NaeGhgMUFvnnoVt5PkmLrOAy0t5Ks7Ndf3DymjnjcQ0VTpA6Jxicw0CjPvCho&s=1> >> Bagi kalangan aktivis yang sampai sekarang masih memegang teguh >> idealisme, orang seperti Hendardi, Goenawan Mohamad, dan Haris Azhar >> dimasukan ke dalam kelompok “Pedagang Orang Hilang,” sebab mereka >> memperdagangkan isu “Orang Hilang” melalui serangkaian politisasi demi >> untuk mencapai keinginan mereka baik berupa uang donasi, jabatan, kedudukan >> sosial, atau mendiskriditkan lawan mereka. Hal ini terbukti dari fakta >> bahwa para orang yang berkumpul dalam Asosiasi Pedagang Orang Hilang ini >> tidak meliput pernyataan Andi Arief, salah satu “korban penculikan 1998″ >> bahwa Wiji Thukul, orang yang kerap menjadi salah satu ikon para Pedagang >> Orang Hilang ternyata masih hidup dengan sehat setidaknya dua bulan setelah >> reformasi dan fakta ini diketahui oleh Goenawan Mohamad dan Stanley dari >> Tempo, dan Jaap Erkelens. >> http://m.inilah.com/…/akhirnya-andi-arief-bercerita-soal-wi… >> <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fm.inilah.com%2Fread%2Fdetail%2F2114481%2Fakhirnya-andi-arief-bercerita-soal-widji-thukul&h=5AQFwzrxLAQEl3EJnl-NVSq-ZBASQFrhHKMhCN8aiWIM_Aw&enc=AZPc8MjR-_I7wCUIUfzVT8w6K2EpqOk0aS48iNRpPMoz-iLVMKEcbkA4aTD-Y7mJIFTIZ-21GirbukSca2c3rB9fcUMtkXDA39GrvdYuiyPxi--7dfbRxFlpAAw-u6itSmYcWMwrTUEz6T9rj0DivW-0PY8nBsY_thAhOqWubntjVkAzz29WvuHkYIf6pu0lmf8&s=1> >> http://m.rmol.co/news.php?id=161521 >> <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fm.rmol.co%2Fnews.php%3Fid%3D161521&h=9AQFOEFAoAQGHXCFFuyRhAvRc5vd-ZNkuQeeNhOL-A7G7KA&enc=AZPYWxvrjqaxObhNpIBupji81jQ2Zkd6BPYxEeZFg0ewI9nvFq6AvD2ovvb9_XGwoQApFS68UJXaPwJYV09gZer6snD3YknM60h4ZBa9fNPmosuldstgm5h5lpQTQkfcyU4Sazh48lLI6R92X9Sl4YXIUcjY3QNO4hNgRvnPM0OZOncTOk83g7UDKF0ybMNj38A&s=1> >> Selain fakta Wiji Thukul masih hidup dan sehat, para Pedagang Orang >> Hilang juga menyembunyikan fakta bahwa sejak 16 tahun lalu tim SiaR >> bentukan Goenawan Mohamad sudah menemukan bukti bahwa Prabowo tidak >> bersalah dan hanya difitnah. Mereka juga sengaja tidak meliput berita >> penyerahan dokumen kepada Komnas HAM berisi notulen rapat pembahasan >> Operasi Kuningan di antara para jenderal Orde Baru untuk memfitnah Prabowo. >> Temuan tim SiaR adalah: >> “Tapi, teknik ABRI menyelesaikan intern soal penculikan ini, agaknya >> memang sengaja ditempuh untuk menghindari terbongkarnya orang-orang di >> belakang Prabowo. Sebuah sumber di Mabes ABRI mengatakan, sebetulnya >> Prabowo punya surat perintah penculikan itu, yang diteken oleh Jenderal >> Feisal Tanjung, Pangab sebelumnya. Surat itu, konon, akan dibeberkan kalau >> Prabowo diseret ke Mahmilub. Akibatnya, Wiranto berkompromi dengan >> menjatuhkan hukuman yang ringan untuk Prabowo.” >> http://www.minihub.org/siarlist/msg00741.html >> <http://l.facebook.com/l.php?u=http%3A%2F%2Fwww.minihub.org%2Fsiarlist%2Fmsg00741.html&h=jAQGLM0vRAQFbkNKlYjktIsKD0Wn7n6y-1bx-T-wYLw5DbQ&enc=AZOMLD0dJb5XI3-daTtdklDov8nYp8puXWuEYJ9hSZgG5NvdW0fHG0cWkmzUsFesIwAhfqc27B1DItGjadifPMs4EQTUwXissFoqLqm0vqPVjUx_3n_NOy6LYxjGqqo255C9hf87u42XwD9TgvWTYAmPUnq0C208sI452w27lL53egKMothrVb5lDSfvikFIL7I&s=1> >> Dokumen yang diserahkan kepada Komnas HAM adalah notulen rapat terbatas >> tanggal 17 Juli 1998 di rumah Wiranto yang dihadiri oleh Agum Gumelar, >> Soebagio HS, Fachrul Rozi, dan Yusuf Kartanagara yang mana Agum Gumelar >> mengemukakan pendapat mengenai perlunya menciptakan “aktor” yang akan >> dijadikan dalang segala dalang kerusuhan Mei dan “penculikan aktivis,” >> selanjutnya Soebagyo HS menyarankan agar kepergian ke Malang tanggal 14 Mei >> 1998 dijadikan alibi untuk mengarahkan Prabowo sebagai aktor utama >> kerusuhan di Jakarta dan penangkapan aktivis. Letjend Fachrul Rozi juga >> mengusulkan pembentukan Dewan Kehormatan Perwira tanpa Mahkamah Militer >> untuk memberhentikan Prabowo sekaligus menciptakan opini bahwa Prabowo >> adalah dalang kerusuhan di Jakarta. Terakhir Wiranto memberi perintah agar >> para “aktivis” yang belum dilepas untuk “disukabumikan.” >> Untuk membuktikan keaslian atau kepalsuan dokumen tersebut cukup mudah >> yaitu melakukan pemeriksaan forensik terhadap tanda tangan para peserta >> rapat yang dibubuhkan di dalam dokumen notulensi. Bila tanda tangannya >> asli, maka BOOM!!, tidak ada alasan untuk tidak membawa Wiranto, Soebagyo >> HS, Fachrul Razi, dan Agum Gumelar ke pengadilan. >> http://m.aktual.co/…/145428operasi-kuningan-wiranto-perinta… >> <http://m.aktual.co/politik/145428operasi-kuningan-wiranto-perintahkan-13-aktifis-98-dibumihanguskan> >> Kenapa Tempo; Media Indonesia; Metro TV; Jawa Pos dll yang biasa “peduli >> HAM” dan “penculikan aktivis” tidak membuat laporan kejadian tersebut? >> Padahal bila dokumen ternyata asli, maka kita akan bisa mengungkap >> penembakan Trisakti sampai Kerusuhan 13-14 Mei 1998. Namanya juga Pedagang >> Orang Hilang, yang membantu dagangan pasti dijadikan bahan marketing >> sedangkan yang merusak dagangan akan disingkirkan dan dianggap tidak ada. >> Kendati demikian terbukti kunci membuka misteri 1998 bukan di Bukit >> Hambalang, melainkan di Tanah Abang, Utan Kayu, Salatiga dan Semarang. >> sumber: horabolt >> >> >> AnwarDjambak >> Alam Takambang Jadikan Guru >> Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone >> >> -- >> . >> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat >> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >> =========================================================== >> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >> * DILARANG: >> 1. Email besar dari 200KB; >> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >> 3. Email One Liner. >> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta >> mengirimkan biodata! >> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >> mengganti subjeknya. >> =========================================================== >> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: >> http://groups.google.com/group/RantauNet/ >> --- >> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google >> Grup. >> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >> kirim email ke [email protected]. >> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. >> > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
