Sangat menarik!

Resensi Buku menarik di Kompas Hari ini, p. 28.
---------

RAHASIA DULLES "OBOK-OBOK" INDONESIA

Oleh Harry Bhaskara

Sering orang bertanya, apakah kekayaan alam merupakan berkah atau kutukan? Bagi 
Greg Poulgrain tampaknya lebih merupakan kutukan. Mengapa?

Menurut Poulgrain, dosen Sejarah Politik Indonesia di Universitas Sunshine 
Coast, di utara Brisbane, Australia, kekayaan alam Papua menjadi pusaran maut 
yang merenggut nyawa Presiden Amerika Serikat John F Kennedy, menjatuhkan 
Presiden Soekarno, dan melahirkan rezim militer di Indonesia. Poulgrain 
menambahkan, pembunuhan Dag Hammarskjold, Sekretaris Jenderal PBB, pada tahun 
1961, juga terkait dengan Papua. Kendali ”kutukan” berada di tangan mantan 
Kepala Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) Allan Dulles yang dikenal 
dekat dengan Raja Minyak Rockefeller dan pejabat departemen pertahanan AS.

Mengapa Hammarskjold? Itu karena ia sedang merencanakan sebuah program ekonomi 
untuk membantu rakyat Papua. Kalau rencana ini berhasil, Dulles akan batal 
mengobok-obok Indonesia untuk menguasai gunung emas di Papua. Untuk itu, Dulles 
berusaha agar Belanda keluar dari Netherlands New Guinea (sekarang Papua).

EMAS PAPUA

Selain riset berpuluh tahun, Poulgrain juga menemui pelaku sejarah, termasuk 
Jean Jacques Dozy, ahli geologi Belanda yang pertama kali menemukan emas pada 
tahun 1936. Kedua gunung ini sejak pertengahan 1960-an digarap perusahaan AS 
yang kini bernama Freeport Indonesia. Dua puluh tahun setelah penemuan Dozy, 
barulah ia bersaksi bahwa yang ia temukan adalah gunung emas, bukan gunung 
tembaga. Selain Dozy, Poulgrain juga menemui mantan Menteri Luar Negeri Belanda 
Joseph Lunz yang terlibat langsung dalam proses terlepasnya Papua dari Belanda.

Bab pertama berkisah tentang penemuan Ertsberg yang merupakan tambang emas 
terbesar di dunia dan Grassberg yang ternyata lima kali lebih besar. Penemuan 
rahasia ini membalut politik luar negeri Belanda dan AS terhadap Indonesia, 
termasuk sengketa Irian Barat selama 13 tahun, dan strategi Dulles merebut 
tambang ini.

Bab kedua mengungkap rencana Kennedy ke Jakarta pada awal 1964 untuk 
menghentikan konfrontasi Indonesia dengan Malaysia. Namun, tanpa sadar, 
rencananya bertentangan dengan rencana Dulles yang bernafsu mendongkel 
Soekarno, sementara Kennedy ingin mempertahankan Soekarno. Pertentangan 
strategi ini dibahas di bab ketiga ditambah ulasan tentang hubungan Dulles 
dengan sahabatnya, George de Mohrenschildt, seorang pengusaha minyak.

Bab keempat berkisah tentang para komandan militer di Sumatera Tengah dan 
Sulawesi Utara yang mendeklarasikan pembentukan Pemerintah Revolusioner 
Republik Indonesia-Permesta tahun 1958 dengan tujuan menggulingkan Soekarno. 
CIA membantu pemberontakan ini melalui operasi terbesar kedua sesudah Vietnam. 
Dulles mencapai tujuannya memancing Jakarta untuk bereaksi dan membuat militer 
Indonesia dikendalikan dari pusat untuk pertama kali.

Dulles melihat proses ini sebagai kesempatan untuk mengusir Belanda dari 
Netherlands New Guinea dan membuka jalan untuk menjatuhkan Soekarno. Walau 
operasi CIA ini dinilai ”gagal”, sebenarnya pemberontakan ini hanya sebuah 
rekayasa untuk membidani lahirnya rezim militer di Indonesia.

Dulles memelintir tuntutan bagi hasil yang lebih adil antara pusat dan daerah 
menjadi ”pemberontakan”. Konfrontasi dengan Malaysia tak terlepas dari tangan 
Dulles untuk menghancurkan ekonomi Indonesia, sebuah kondisi untuk 
menggulingkan Soekarno. Dulles juga menciptakan program pelatihan besar-besaran 
perwira Indonesia di AS sejak 1957. Ketika Soekarno digulingkan tahun 1965, dua 
pertiga perwira Indonesia telah mendapat pelatihan di AS.

Bab kelima menjelaskan program ”Plan of Action” Kennedy itu untuk membendung 
pengaruh komunis yang makin menguat. Namun, program ini gagal menembus Kongres 
AS karena dihalang-halangi Dulles. Dulles bahkan memperingatkan Kennedy untuk 
membatalkan programnya, tetapi Kennedy tetap bertekad melakukannya. Dan ketika 
semua jalan menghadapi kebuntuan, Kennedy memutuskan untuk datang ke Jakarta.

Jika Kennedy jadi ke Jakarta, menurut Poulgrain, rencana Dulles mendongkel 
Soekarno akan gagal. Soekarno akan menjadi presiden seumur hidup dan 
perkembangan Indonesia ataupun Asia Tenggara akan menjadi lain sama sekali. 
Sampai ia tertembak November 1963, Kennedy tak pernah tahu tentang gunung emas 
di Papua.

KENNEDY VS DULLES

Tertembaknya Kennedy merupakan puncak konflik antara presiden muda AS yang 
brilian melawan Dulles yang sudah menjadi intel ketika Kennedy lahir. Konflik 
yang menggariskan nasib bangsa Indonesia selama berpuluh tahun ke depan ini 
tecermin dari judul buku (intervensi yang membawa penderitaan yang 
berkepanjangan) karena memakan korban jiwa luar biasa besarnya dan penderitaan 
tak terperikan.

Menurut Poulgrain, Kennedy tak percaya pada cap yang ada pada diri Soekarno 
bahwa ia seorang komunis. Poulgrain mencatat yang dikatakan Soekarno kepada 
Kennedy bahwa hanya 10 persen dari sekitar dua juta anggota PKI yang komunis, 
sisanya adalah nasionalis.

Selepas tahun 1965 narasi politik Indonesia berubah drastis. Kebebasan 
berpendapat dikekang, Pemerintah Orde Baru menelurkan interpretasi tunggal 
sejarah. Minat pada sejarah turun ke titik nadir, padahal untuk berkiprah hari 
ini kita harus tahu yang terjadi kemarin.

Buku Poulgrain tidak hanya mengisi kekosongan ini, tetapi juga memberi 
perspektif baru pada sejarah Indonesia sejak tahun 1936. Selama 50 tahun, 
misalnya, pemberontakan 1958 masih dilihat sebagai upaya daerah untuk keluar 
dari negara kesatuan. Padahal, ini hanya rekayasa Dulles. Di sinilah letak 
keunggulan buku ini.

Penggelapan sejarah dan kebohongan publik terjadi di mana-mana, termasuk AS. 
Semua terbingkai dalam kerangka Perang Dingin ketika AS berusaha memengaruhi 
Indonesia dari tarikan kuat Beijing dan Moskwa.

Selain enak dibaca, kegigihan pengarangnya menggali bukti sejarah menjadikan 
buku ini bak novel detektif. Bahwa peristiwa G30S tidak disinggung, walau 
sepintas, merupakan kekurangan buku ini sebab apabila kita merunut alur 
analisis Poulgrain, mestinya strategi Dulles juga bermuara pada peristiwa G30S.

*HARRY BHASKARA, wartawan, berdomisili di Brisbane.

@Hayatun Nismah Rumzy@

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke