Jalan Kereta Api Payakumbuh - Limbanang.
Dari Sumber Parintang-rintang oleh Nalfira Pamenan kito baco carito dinbawah ko.
-- MakNgah



Nalfira Pamenan published a note.
February 24, 2014 at 1:16pm · 
KERETA API PAYAKUMBUH-LIMBANANG, JALUR HITAM BERTATAHKAN EMAS DAN PERAK MANGANI
PARINTANG-RINTANG: Hari baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Matahari belumlah 
terlalu tinggi. Cuaca pagi itu tidak terlalu panas. Di sebuah ruangan di 
stasiun overweg Payakumbuh, seorang pria Belanda, dengan topi bulat berwarna 
putih selaras dengan baju pantolannya tampak gelisah. Beberapa kali dia 
terlihat hilir mudik di dalam ruangan utama stasiun itu. Sesekali asap pipa 
cangklong yang selalu melekat dibibirnya tampak mengepul deras, persis seperti 
asap kereta api yang sedang ditunggunya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, 
tampak seorang pria Tionghoa, dengan kumis yang dikucir bercakap-cakap dengan 
istrinya. Wajahnya pun terlihat tengang, walaupun demikian lebih rileks dari 
pria Belanda tadi.
 
Tiba-tiba, pria Belanda, yang oleh teman-temannya dipanggil Meneer Haan, 
menghampiri petugas komunikasi Stasiun Overweg Payakumbuh. Sambil setengah 
berbisik dia meminta sang operator untuk menghubungi Stasion Aur Tajungkang di 
Fort De Kock guna memastikan apakah kereta yang ditumpangi Resident Sumatra’s 
Weskust sudah berangkat. Segera saja petugas itu memutar  Fk 14, nomor telpon 
Stasion Fort De Kock. Dari kejauhan terdengar jawaban bahwasanya rombongan 
resident masih berada di Hotel Centrum. Karena tidak sabaran pria itu lalu 
meminta izin pada petugas untuk menelpon ke Hotel Centrum. Segera diputarnya 
nomor FK 11. Dari seberang terdengar jawaban bahwa rombongan baru saja 
berangkat menuju stasion Aur Tajungkang. Wajah pria itu terlihat geram. Dia 
khawatir acara yang sedang dirancangya itu tidak akan terlaksana tepat waktu.
 
Dibalik kegelisahannya itu, Meneer Haan, lengkapnya Willem de Haan, terhanyut 
dan melayang dalam pikirannya. Terbayang keuntungan besar yang akan diperoleh 
perusahaannya dengan dioperasikannya jalur kereta api Payakumbuh-Limbanang yang 
terdiri dari sembilan stasion itu. Biaya angkut emas dan perak dari hasil 
tambang di Mangani tentu akan semakin murah. Biaya operasional perusahaan 
tempatnya bekerja, Mijnbouw Maatschappij Aequator, tentu akan semakin kecil. 
Sebagai general manajer yang diangkat sejak tahun 1919 pada Mijnbouw 
Maatschappij Aequator atau pertambangan Mangani dia tentu sangat berkepentingan 
dengan suksesnya operasi Kereta Api Payakumbuh-Limbanang ini.
 
Willem de Haan,  (mungkin) sebagai seorang insinyur pertambangan, sudah dua 
tahun diangkat sebagai general manajer pada saat itu. Perusahaan tambang 
Mijnbouw Maatschappij Aequator Mangani yang ditemukan pada tahun 1907 merupakan 
penghasil emas yang sangat penting di Barat dan Utara Pulau  Sumatera. Dalam 
perkembangannya, wilayah Mangani merupakan kawasan khusus pertambangan yang 
memiliki fasilitas yang sangat lengkap. Selain dari fasilitas toko dan barang 
kebutuhan lainnya, di sana juga terdapat sebuah rumah sakit mini. Dokter yang 
bertugas di sana pada kurun 1914-1915 di datangkan dari Austria. Mangani 
merupakan pesona berkilau di sepanjang equator (khatulistiwa) yang menghadirkan 
emas dan perak.
 
Atas usulan Willem de Haan (mungkin) dan atas desakan dari pemegang saham 
Mijnbouw Maatschappij Aequator pada pemerintah hindia Belandalah, jalur kereta 
api itu dibuka.  Sebagian besar biaya pembangunan rel kereta api  sepanjang 20 
km itu (mungkin) diperoleh dari perusahaan tambang Mijnbouw Maatschappij 
Aequator ini.
 
Tidak hanya untuk mengangkut hasil tambang, jalur kereta itu juga diproyeksikan 
untuk mengangkut seluruh perlengkapan dan kebutuhan hidup yang di datangkan 
dengan kapal dari Emmahaven (pelabuhan Teluk Bayur). Suplier kebutuhan tesebut 
adalah Firma milik pria Tionghoa yang juga berada di dalam ruangan tunggu 
stasion overweg Payakumbuh itu.
 
Di sudut lain, pria tionghoa yang tadi berbincang-bincang dengan istrinya 
tampak ditemani oleh dua orang tionghoa lainnya. Pria itu adalah Goan Tjoan Ge 
pemilik Firma Goan Soen Hin. Dua temannya adalah Tjoa Kong Bie pemilik Tjoa SP 
perusahaan tembakau dan gambir terbesar di Payakumbuh dan Tjoei Lay Njo pemilik 
Firma Tjong Hin & Co.
 
Sebagai orang Tionghoa, tiga orang tersebut memang tidak mendapatkan bagian 
dari hasil tambang Mijnbouw Maatschappij Aequator tetapi mereka mendapatkan 
keuntungan penjualan segala kebutuhan hidup pada kawasan pertambangan di 
Mangani. Disamping itu biaya angkut tembakau dari daerah Baruah Gunung, Banja 
Loweh dan daerah sekitarnya yang mereka usahakan juga akan semakin kecil. 
Dengan demikian ada keuntungan timbal balik yang akan mereka peroleh.
 
Hari itu adalah hari Minggu, tanggal 19 Juni tahun 1921. Hari itu merupakan 
hari keramaian (Pasar) di Payakumbuh. Pasar Syarikat beberapa nagari di 
afdelling Lima Puluh Kota sangat ramai pada hari itu. Tidak seperti biasanya, 
bendera merah putih biru berkibar dimana-mana. Resident Sumatra’s Weskust akan 
ke Payakumbuh untuk meresmikan dimulainya operasi layanan Kereta Api 
Payakumbuh-Limbanang, dari stasion overweg Payakumbuh ke stasion Sungai Sirah.  
 
Tiba-tiba lamunan Willem de Han dikejutkan dengan panggilan dari petugas 
komunikasi stasiun. Petugas kereta api stasion Batu Hampar dengan kode stasiun 
320b-24 mengabarkan kereta yang ditumpangi resident Sumatra’s Weskust dan 
rombongan lainnya baru saja berangkat. Hari memang sudah semakin siang. 
Orang-orangpun mulai berdatangan ke stasion overweg Payakumbuh. Untuk melihat 
pertama kali, jalur kereta api baru Payakumbuh-Limbanang mulai dioperasikan. 
Hampir bersamaan nomor telepon stasion Payakumbuh PJ 6 juga berbunyi. Ada 
pemberitahuan bahwa sebentar lagi kereta yang ditunggu akan sampai.
 
Dua jam kemudian, di stasiun overweg Payakumbuh, peresmian jalur kereta api 
hampir selesai dilaksanakan. Willem De Haan menyelinap ke ruang komunikasi. Dia 
pergi sebentar untuk memutar nomor Pj 42, mengabarkan kepada stafnya di 
Mijnbouw Maatschappij Aequator Limbanang bahwa kereta api yang mereka nantikan 
akan segera beroperasi.
 
**********
Demikianlah, sejak tanggal 19 Juni 1921, jalur kereta api Payakumbuh Limbanang 
mulai beroperasi. Jalur kereta dengan lintasan hitam kereta api 
Limbanang-Payakumbuh, yang bertatahkan emas dan perak Mangani dan berasapkan 
tembakau dari Baruah Gunuang, Banja Laweh dan sekitarnya beroperasi selama 12 
tahun tiga setengah bulan.  Dan hingga Kereta terakhir dari Limbanang 
https://www.facebook.com/notes/nalfira-pamenan/kereta-terakhir-dari-limbanang/10152196717088077
 , jalur kereta api yang pernah ada ini, dan beberapa sisanya masih dapat 
dilihat, menjadi sejarah yang hampir saja terlupakan.
 
Adakah hubungan antara Kereta Terakhir dari Limbanang dengan Tambang Emas 
Mangani?
 
******
Jalannya cerita ini, sekali lagi, hanyalah rekaan dan imajinasi sebagai 
Parintang-rintang. Nama tokoh, nomor telepon, nomor stasiun, dan tanggal 
kejadian dan nama lainnya ada dan tertera serta diambil dari referensi pada 
perpustakaan yang ada di dunia maya.
 
Wassalam
 
([email protected] , Gulidiak, 24 Februari 2014)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke