DEMANG LOETANSang Politisi Volksraad dari Lereng Marapi Secuil catatan dari Mochtar Naim9 Okt 2015* | L |
EWAT sedikit dari PasarKotobaru, dan Stasiun keretaapi yang masih berdiri sebelah kanannya, diketinggian 1400 m, dalam kita menuju Bukittinggi dari arah Padang Panjang, adajalan yang membelok ke kanan yang berkelok dan menanjak menuju Nagari Batu Palano. Dari Batu Palano ini kita bisaterus ke Nagari Sariak-Sungai Pua. Lalu ke kirinya ke Kubang Putiah-Banuhampu,dan terusnya ke Kurai-Bukittinggi. Dari Sungai Pua tadi kita bisa terus ke Lasi-BukikBatabuah dan Ampek Angkek-Canduang yang nantinya sampai di Baso untuk terus kePayakumbuh. Sementara dari Bukittinggi pun kita bisa ke Payakumbuh melaluijalan utama lewat Ampek-Angkek-Canduang dan Baso tadi. Apa yang terbayang oleh kita dan kita lihat sendiri ketikamasih berada di Batu Palano tadi? Batu Palano sendiri sampai ke Sariak-SungaiPua, sampai ke Lasi-Bukik Batabuah terletak memanjang di pinggang gunungMarapi, dengan pemandangan yang indah menawan ke bawahnya, yang terhamparnagari-nagari Agam Tuo, termasuk IV Koto-Koto Gadang, Tilatang-Kamang, AmpekAngkek-Canduang, Kurai-Banuhampu dan kota Bukittinggi di tengah-tengahnya. Sementara di sebelah kiri di Batu Palano, keseberangnya, menanjak lagi ke atas ke puncaknya, terbentang pula GunungSinggalang, dengan Gunung Tandikek di belakangnya, yang membikin nagari-nagaridi Agam Tuo dan Bukittinggi di tengah-tengahnya menjadi pesona alam datarantinggi yang sangat indah dan menakjubkan itu. Entah ada kaitannya dengan keindahan alam di datarantinggi Agam Tuo ini, entah tidak, tapi semua orang tahu bahwa nagari-nagari didataran tinggi Agam Tuo, yang Kota Bukittinggi terletak di tengah-tengahnya itu,telah menghasilkan banyak pentolan bangsa yang menonjol dalam berbagai kegiatanyang mereka masuki. Semasa dengan Demang Loetan (1884-1941), sebelum PerangDunia Kedua, dan masih di zaman penjajahan Belanda, dari dataran tinggi Agam Tuoini saja sudah muncul nama-nama tenar seperti Hatta, Agus Salim, Syahrir, Assaat,A Halim, Sirajuddin Abbas, Abdul Muis, Khairul Saleh, Syekh Ibrahim Musa, SyekhSulaiman Ar Rasuli, Syekh Jamil Jambek, AK Gani, Dt Palimo Kayo, Gaffar Ismail,Ali Akbar, dsb. Dan kalau kita turun melalui Kelok 44 ke Maninjau kita temukantidak kurangnya banyak pula pentolan bangsa yang lahir di sekitar danauManinjau itu, termasuk Buya Hamka, Inyiak De Er, Rasuna Said, Mohd Natsir, IsaAnshary, Nazir Pamuncak, dsb. Dan kalau kita lintasi bukit Kamang ke arah KotoTinggi-Suliki, ada pula Tan Malaka dll di sana. Di nagari Batu Palano sendiri, di pinggang Gunung Merapi,yang sudah berada di ketinggian 1500 m, dengan pemandangan nan indah-menawan kedataran tinggi Agam Tuo di bawah dan di hadapannya, adalah tempat lahirnya seorang Demang Loetan yang riwayathidup dan sepak-terjangnya selaku Demang dan anggota Volksraad dinukilkan dalambuku ini. Demang Loetan, seperti juga dengan banyak pemuka Minang pada waktuitu, sekolah formalnya hanya sekolah dasar saja, tetapi bisa dan pintarberbahasa Belanda, dan pintar pula berbicara politik di Volksraad, yang namadan prestasinya juga melejit ke mana-mana. Kenapa bisa begitu? Ternyata, seperti yang dialami olehDemang Loetan sendiri, belajar itu tidak hanya melalui sekolah secara formalsaja. Apalagi sekolah sendiri pada waktu itu masih langka dan hanya anak-anaktertentu yang orang tuanya berduit dan berada atau punya kaitan dengankonstelasi pemerintahan kolonial pada waktu itu, yang punya peluang masuksekolah formal. Yang selebihnya, belajar dari alam: “Alam terkembang jadikanguru,” kata peribahasa Minang. Apa lagi, waktu itu, rata-rata anak laki-laki tidurdi surau. Bangunnya tidak bangun pagi, tetapi bangun subuh, dan salatnya selaluberjamaah. Dengan pembagian waktu salat yang lima kali sehari inilah merekamenata jadwal kegiatan mereka dari hari ke hari. Dan di surau inilah pula merekaanak laki-laki mendapatkan pengajaran yang sesungguhnya, yang tidak hanyabelajar mengaji dan mendengarkan ceramah-ceramah agama, tetapi juga mendapatkanbimbingan rohani dan tingkah laku, atau sekarang disebut character-building. Merekakalau salah dimarahi, kalau bertingkah dilecuti. Tapi kalau berbuat baik dipujidan disayangi. Yang mengajar mereka bukan hanya ayah dan ibu serta mamak-mamakdi rumah tetapi seluruh warga yang tua-tua di kampungnya perduli kepada merekaanak-anak muda itu. Masa pertumbuhan untuk menjadi “orang” inilah yangrata-rata dilalui oleh anak laki-laki Minangkabau sebelum mereka siap untukpergi merantau. Lebih dariitu, selagi masih di kampung, mereka juga ikut aktif melakukan usaha-usahaberkampung, apapun corak dan macamnya. Misalnya, ikut bergotong-royongmembersihkan surau, jalan-jalan kampung, memperbaiki saluran air untuk ke sawahdi musim menanam, ikut ke “darek” yang artinya ke sawah, dari musim membajaksampai ke musim mengirik dan membawa padi pulang. Semua dikerjakan secarabersama melalui sistem bergotong-royong. Karenanya semangat bersosial danperduli dengan kepentingan bersama sudah ditanamkan sejak umur masih muda. Dansemangat inilah yang dibawa pergi merantau, yang tiba di rantau, disadari atautidak disadari, orang Minang dekat dengan masyarakat yang dimasuki. Mereka laluhidup bergaul dan tidak suka menyendiri.Bisadibayangkan, sifat-sifat suka bersosial inilah yang membikin orang Minang dirantau, dan di manapun, cenderung laluterbiasa jadi pemimpin. Hasilnya adalah nama-nama besar seperti yang dinukilkandi atas. Namun, sayangnya, masa keemasan dari era Demang Loetan ini sekarang sudahberlalu. Ketika di zaman kemerdekaan ini orang Minang tidak lagi hanya orangMinang tetapi juga orang Indonesia dan bahkan orang dunia, yang Minangnyapudar, yang menonjol adalah Indonesianya. Sebagai anak Indonesia, merekamendapatkan pendidikan formal dari SD ke SMP, SMA dan PT. Tidak sedikit yangjadi sarjana, S1, S2 dan S3. Dan tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga diluar negeri. Tetapi, seperti yang sudah diduga, yang diisi hanya kepalanya,dengan bermacam ilmu dan kebolehan akademik, tetapi yang hati-sanubarinyanyaris kosong. Sekolah terutama hanya untuk mendapatkan ijazah untuk carikerja, yang makin tinggi sekolahnya makin banyak duit dan kesenangan hidupdidapatkan. Yang terjadi adalah, karena tujuan utama adalah untuk mendapatkankesenangan hidup itu, maka segala macam cara juga suka dilakukan, yang tidakhanya yang baik-baik, yang menyerempet ke sana ke mari juga dilakukan.Seperti yangkita lihat dan rasakan sekarang, berbagai penyimpangan kelakuan sosial terjadi.Korupsi, kolusi dan nepotisme yang tadinya haram dan diharamkan, sekarang merebakdan disukai. Sekarang ini susah sekalimencari pejabat dari atas sampai ke bawah, di bidang apapun, dan di manapun,yang tidak keserempet dengan KKN itu. Belum pula yang namanya kebejatan moraldalam berbagai bentuk perilaku sosial. Di Sumbar sendiri lokasi hiburan di pantai, di tempat-tempat rekreasi,jadi tempat pemesuman. Belum pula hotel-hotel, penginapan, klub-klub malam,jadi tempat orang melepaskan selera dan hawa nafsunya. Malah nyaris di setiappesta kawin, orang dihibur dengan musik dan tarian seronok dengan pakaianbugil-bugilan yang menyolok. Dan itu terjadi sampai ke desa-desa yang jauh darikota, di Sumbar. Masya Allah dan na’udzu billah. Dalam kitamengingat nama Demang Loetan dan sekian banyak nama-nama generasi seangkatan denganDemang Loetan, yang mereka rata-rata telah memperlihatkan contoh dansuri-tauladan yang baik, bagaimana kita hidup dan berbuat di dunia ini dalammenjelang ke akhirat nanti, generasi penerukaitu serasa merintih di alam baka mereka. Anak keturunan mereka sekarangternyata sudah jauh melenceng. Yang diutamakan hanya ilmu, tetapi tidak amalyang baik dan akhlak yang mulia.Oleh karenaitu, waktunya sekarang kita sebagai generasi pelanjut menghidupkan kembalinilai-nilai budaya yang pernah kita jawat dari generasi peneruka yang DemangLoetan ada di dalamnya. Nilai-nilai budaya yang kita warisi itu adalah gabungansintetis antara budaya adat Minangkabau dan budaya serta ajaran Islam, yangkeduanya kita jalin dalam wahana ABS-SBK – “Adat bersendi Syarak, Syarakbersendi Kitabullah. Syarak Mengata, Adat Memakai.”Denganitu semoga rakyat, masyarakat dan alam Minangkabau ini kembali bangkit dan jayakembali, seperti yang diimpikan oleh Demang Loetan dan peneruka lain-lainnyaitu. Semoga…! Dan semoga Allahpun membukakan jalan ke jalan yang diridhai-Nyaitu, amin! *** -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
