Wuah Indonesia Hebat dan Minangkabau akan hebat apabila kejadian dan keluhan
surat terbuka yang ada tersebut ada solusinya. Semoga LKAAM, Tungku Tigo
Sajarangan, Parik Paga dan stake holder Minangkabau Hebat dengan ABS SBK dapat
melakukan upaya2 preventif dan lainnya. Mungkin ada kesalahan dalam menulis
Mental seyogyanya REVOLUSI METAL yaitu group band tsb.Haasma.
Pada Sabtu, 9 Januari 2016 17:32, Mizardi <[email protected]> menulis:
Renungan:Surat terbuka dari guru di Pariaman kpd Walikota-nya
Selasa, 05 Januari 2016
Tertibkan Orgen Tunggal, Selamatkan Moral Kemenakan!
Aku hanya seorang gadis kecil yang coba menulis sesuatu padamu yang
pantasnya ku panggil Mamak, bukan, Pak. Surat ini bukan suatu bentuk
pembangkangan, kagadang-gadangan atau sok mengajari pandeka basilek. Sepuluh
jari kemenakan susun beserta kepala, memohon maaf apabila ada kata-kata
kemanakan yang patut dibimbing ini yang tidak enak Mamak baca.
Mamak, disini aku ingin berbicara tentang orgen tunggal di Pariaman.
Kemenakan kecilmu ini kini telah beranjak dewasa, hingga ketika aku menyaksikan
orgen tunggal yang menampilkan biduannya berpakaian minim, seolah-olah aku yang
sedang ditelanjangi, ditonton dan dijadikan objek tertawa licik para lelaki
yang puas menatapnya. Aku malu!
Hingga sebelum acara itu usai aku sudah lebih dulu pergi karena
terbayang apa yang akan aku saksikan selanjutnya. Ya, seperti yang sudah-sudah,
seperti yang sama-sama diketahui, seperti yang sudah mulai dimaklumi, para
biduan wanita itu akan melecuti beberapa bagian pakaiannya lebih minim lagi,
lebih terbuka lagi, lebih memancing hawa nafsu lagi, lalu mereka bersama
pemuda-pemuda bahkan mamak-mamak yang tengah mabuk akan berpesta pora.
Bergoyang seolah lupa siapa mereka. Apa kedudukan mereka. Seorang mamak akan
lupa memberi contoh yang baik pada kemenakannya. Pemuda yang masih sekolah lupa
akan apa tanggungjawabnya esok pagi. Dan itu berlangsung hingga pukul empat
pagi. Hampir mendekati subuh. Dan hal tersebut digelar diruang terbuka.
Maka akan sangat miris lagi ketika pagi-pagi beberapa bocah usia
sekolah dasar menceritakan perihal apa yang dilihatnya dari gelaran orgen
tunggal semalam yang ditontonnya itu pada teman sebayanya. Menceritakan
bagaimana terbukanya pakaian biduan-biduan wanitanya. Menyebutkan nama-nama
orang kampungnya yang mabuk berat malam itu, dan menceritakan siapa-siapa saja
yang memeluk biduan wanita seraya memberi beberapa lembar uang saweran. Miris!
Bocah sekecil itu menurutku hanya boleh bercerita tentang bagaimana ia
menyelesaikan PR Matematikanya semalam. Bukan bercerita tentang tontonan tak
pantas yang disuguhkan kakaknya, ayahnya, mamak-mamaknya dan
tetangga-tetangganya.
Lebih miris lagi ku saksikan di kota ini, nasionalisme pemudanya
hanya sebatas gelaran orgen tunggal. Mereka menanti datangnya hari peringatan
kemerdekaan demi berpesta dengan orgen tunggal dengan goyangan eotis lengkap
dengan minuman keras, lalu acara itu dikemas dengan tajuk ALEK PEMUDA. Apa
dengan begitu mereka akan tahu bagaimana perjuangan para pahlawan
memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan mungkin lagu wajib Indonesia raya saja
mereka tak tahu. Mereka lebih hafal judul lagu dangdut koplo yang membuat
goyangan mereka semakin asyik dan malam mereka semakin panas. Toh kemerdekaan
bagi mereka adalah sebatas bebas bermabuk-mabukan dan bebas menikmati aurat
yang dipertontonkan.
Aku bukan ahli agama, Mamak. Tapi yang aku tahu mengumbar aurat itu
berdosa. Meliuk-liukan badan dengan pakaian super pendek itu berdosa. Melelang
harga diri dengan beberapa lembar rupiah yang diserukan dengan pengeras suara
itu amat berdosa. Minuman keras itu berdosa. Bukankah oranng Minang terkenal
dengan adat istiadat dan agamanya? Lalu kenapa Pariaman kini seolah menjadi
Pantura jilid dua?
Aku teringat himbauan “Maghrib mengaji” yang Mamak serukan dulu.
Lalu kenapa tak bisa mamak buat himbauan “Pariaman bebas orgen tunggal”?
Jikapun rumah orang baralek dan alek pemuda harus dihibur orgen tunngal, kenapa
tak tegas tegakkan aturan orgen tunggal hanya boleh hingga pukul dua belas
malam saja dengan menjunjung tinggi adat kesopanan dan nilai agama?
Aku yang bodoh ini menangkap adanya pergeseran nilai di ranah yang
begitu ku sanjung ini, Mamak. Jika dulu kemenakan segan bertemu mamak di lapau,
kini kemanakan dan mamak duduk bersama bermain domino. Bahkan menonton orgen
dilokasi yang sama dengan kelakuan yang sama. Begitu sedih aku mendapati hal
tersebut. Seolah-olah Minang kabau kini tak lagi bisa dijadikan panutan.
Seolah-olah nilai-nilai kesopanan dipertaruhkan demi tameng “hiburan”.
Lakukanlah sesuatu, Mamak! Anggaplah biduan wanita itu,
pemuda-pemuda itu dan anak-anak kecil yang gemar menonton orgen tunggal itu
adalah kemenakan-kemanakanmu juga yang pantas Mamak ajari hal-hal baik dan
Mamak lindungi dari segala yang tercela. Tak ku minta biduan-biduan seksi itu
lantas berbaju kurung, Mamak, setidaknya buat mereka lebih menghargai badan
mereka sendiri. Jjika tidak bisa mamak buat pemuda-pemuda itu kembali ke Surau,
setidaknya buat mereka kembali ke rumah orang tuanya lebih awal. Aku menulis
surat terbuka ini bukan berangkat dari resahku sendiri. Namun dari resahnya
Bundo Kanduang oleh dunia yang tak lagi “talok diaja”. Aku sadar benar, Mamak
bukanlah orang yang patut dipersalahkan. Ada orang tua, niniak mamak, dan urang
tuo di kampung-kampung yang harusnya lebih paham menjaga anak kemenakannya.
Tapi bolehkah aku memohon, Mamak? Datanglah ke lapau-lapau tiap kampung itu,
temuai tiap niniak mamaknya, beritahu mereka apa yang seharusnya mereka
lakukan. Ingatkan mereka jikalau lupa. Berbincang-bincanglah di lapau dengan
mereka, sebagaimana biasa Mamak lakukan di masa-masa kampanye dulu.
Aku mohon diri mengakhiri surat ini, Mamak. Aku masih harus
memeriksa hasil ulangan anak didikku yang mengerjakan ulangan dengan mata
terkantuk-kantuk ulah orgen tunggal 'bahoyak' di kampung mereka semalam...
Netri Yeni di 06.15
http://netriolala.blogspot.co.id/2016/01/2016-pariaman-harus-bebas-orgen-tunggal.html?m=1
Salam,Mizardi Amir.
| Dari: Mochtar Naim [email protected] [surau]Terkirim: Selasa, 5 Januari
2016 14.51Ke: RantauNet Group; Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo; Nasir Zulhasril;
Asmun Sjueib; Mohcholilbaridjambek; Amri AZIZ; Mestika Zed; Alfitri FISIP;
Harlizon MBAu; Anggun Gunawan; Dr. Gusti ASNAN; Edy Utama; Basri Mangun; Drs
Sjafnir Aboe NAIN; Mas'oed ABIDIN; Zulharbi Salim; Lies Suryadi; BADRUL
MUSTAFA; BUNDO KANDUANG LIMPAPEH RUMAH GADANG BERSATU; yahoogroups; Azmi Dt Bgd
Abu; Yahoo!; Prof Dr Taufik ABDULLAH; Prof Dr Djohermansyah DJOHAN; Prof. Dr
Azyumardi AZRA; Ilhamy Elias; Fasli JALAL; Miko Kamal; Irman Gusman; Chairil
Anwar; Emil Habli HasanNaim; Herlina Hasan Basri; Dr. Saafroedin BAHAR; Ir.
Raja Ermansyah YAMIN; Feraldi W. Loeis; Zulhendri Chaniago; Jusril Jamarin;
Nurmatias Zakaria; Jafrinur Jafrinur; [email protected]; Novesar62; Dr.
Herwandi WENDY; Arief Rangkayo Mulia; Bunda Nismah; Redaksi_haluan; Kardimatus
Suheimi; Elfitra Baikoeni; Meuthia Suyudi; yahoogroups; Khairul Jasmi; Prof.Dr
Emil SALIM; Novizar Zen; Muslim Kasim; Yuliasma Muluk; Ambiar Lani; Abdurrahman
Aman; M. ABDUH; Amelia Naim Indrajaya; Gebuminang Pusat; Opinihaluan; Sutan
Sinaro; Darman - MOENIR; Eri Bagindo Rajo; Sjamsir_sjarif; OBS Saldi; Riri
Chaidir; Muslih Sayan; Zulfahmi Burhan; S. SURYADI; Zizie Fauzan; WiNda AmeLia;
Elvira Naim; Herman Jambak; Asmardi Arbi; Rahim Jabbar; Susi Moeis;
[email protected]; Nina Rivai; Rizal Ramli; Datuk Endang; Revrisond
Baswir; Zuriyati Ati; Ajoduta; ADMIN DIM ORI; PUSAT KAJIAN ADAT ALAM
MINANGKABAU; Yeyen Kiram; Mahyudin Al Mudra; Kasim Musliar; Dutamardin Umar;
Asril Tanjung; Chaca Mesyarah; Wannofri Samry; Marwan BatubaraBalas Ke:
[email protected]: [surau] MOCHTAR NAIM: "RM DAN ABS-SBK" |
REVOLUSI MENTAL (“RM”) dan “ABS-SBK” Mochtar Naim5 Jan 2016
| P |
ERTANYAAN pertama yang wajardikemukakan dengan didengungkannya konsep Revolusi
Mental (“RM”) oleh PresidenJoko Widodo adalah: Dapatkah konsep RM yang berjalan
secara nasional jugaberjalan seirama dengan konsep ABS-SBK di bumi Minangkabau
dalam konteks DIM kemasa depan? Jawabnya tentu saja: Kenapa tidak?
Kita tahu bahwa darikeduanya itu ada yang sejalan ada yang tidak. Beda yang
jelas antara keduanyaialah bahwa yang satu, RM, sifatnya adalah sinkretik,
sementara ABS-SBK,sintetik. Seperti halnya dengan ciri budaya Jawa di
mana-mana, semua agama itudasarnya sama. Jawanya: Sadaya agami samikemawon.
Malah yang satu bisa mengisi yang lainnya. Dan yang satu sama lainsaling
isi-mengisi. Begitu agama, begitu adat dan budaya lain-lainnya.
Kalau di Minang, tidak. Dengan prinsip ABS-SBK, sepertibunyinya itu: Adatnya
bersandarkan Syarak, dan Syarak berdasar Kitabullah. Yang tertinggi adalah
Kitabullah Al Qur’anulKarim itu. Syarak berada di bawahnya, sementara Adat
tidak ada yang bolehbertentangan dengan Syarak. Mana-mana Adat yang
bertentangan dengan Syarak,dibuang. Dikatakan: Syarak mengata, Adat memakai.
Diskrepansi yang terjadi dalam budaya nasional NKRIadalah: Kendati Sila
Pertama Pancasila mengatakan: Ketuhanan Yang Maha Esa,yang mengukuhkan prinsip
ketauhidan dari Islam, dan Islam adalah satu-satunyaagama berdasar kepada
Ketuhanan YME itu, namun dalam pengakuannya semua agamadiakui sebagai sama,
baik yang Maha Esa (Islam), Tri Esa (Trinitas Kristen),Poli Esa alias
politheisme (Hindu),maupun yang tak jelas diakui apakah Tuhan itu ada atau
tidak (Budhisme dan KongHu Chu). Bahkan di zaman Orde Lama Soekarno, komunisme
yang jelas-jelas atheistjuga diakui – karena Soekarno, katanya, tidak mau
menunggangi kuda berkakitiga: Islam, Sosialisme dan Nasionalisme. Karena itu
komunisme-atheismenya PKIjuga diakui. Juga, kendati 80 % dari penduduk
Indonesia adalah muslim, namunIndonesia dinyatakan bukanlah Negara Islam,
seperti halnya dengan Malaysia,Brunai, Bangladesh, Pakistan, negara-negara
Arab, Mesir, Turki, dsb, yang semuaadalah Negara Islam. Indonesia sekarang
walau bukan negara Islam, tetapistatistiknya diakui sebagai negara yang
berpenduduk mayoritas muslim terbesardan terbanyak di dunia ini. Di
DIM sendiri, kendati prinsipnya adalah ABS-SBK, tetapitidak menghalangi
penduduk yang bukan muslim, seperti masyarakat Mentawai,Masyarakat Nias,
masyarakat Batak non-muslim, masyarakat non-pribumi Cina, dsb,untuk tetap
menjadi warga Provinsi Sumbar dan nantinya warga Provinsi DaerahIstimewa
Minangkabau itu. Kecuali di dua kota suci, Mekkah dan Madinah, orangKristen dan
Yahudi dan non-muslim lainnya di seluruh dunia Arab diakui sebagai sama dengan
warga muslim.Begitu juga di DIM sendiri, warga muslim dan non-Muslim
diperlakukan sebagaisama, dan hak-hak mereka sebagai warga-negara sebagai sama.
Dikotomi antara RM dan ABS-SBK makin terasa di manamental dalam
konteks RM diartikan dalam artian etika dan estetika, sementaramental dalam
konteks ABS-SBK tidak hanya dalam arti etika dan estetika tetapijuga adalah
bahagian yang esensial dan tak terpisahkan dari ibadah danmu’amalah yang
diartikan sebagai “akhlâq” dan sempurnanya: “akhlâqul karîmah.” Tegasnya,Islam
akan tiada makna tanpa akhlaq dan akhlaqul karimah itu. Dalam RM,
sebagai contoh, laki-laki dan perempuan yangberduaan dalam ruang tertutup, lalu
melakukan praktek hubungan seks, tidak akandiapa-apakan, dan tidak akan
diproses secara hukum, jika tidak ada yangmengadukan. Makanya kamar hotel dan
penginapan dan tempat-tempat indehoi lainnya di tepipantai, di daerah resort
pariwisata, dsb, adalah tempat yang aman untukmelakukan hubungan mesum antar
gender itu. Dalam Islam, seperti yang jugadiberlakukan dalam ABS-SBK, jangankan
sampai berhubungan seks, tinggal berduaandalam ruangan saja, atau jalan
berduaan untuk tujuan indehoi saja, sudahdilarang; apalagi kalau dengan tujuan
mau gituan pula. Dalam Islam yangmenentukan itu adalah motif atau niat kita
melakukan sesuatu itu. Niat yangbaik dengan cara yang baik maka ganjarannya
akan baik yang akan diterimakantidak hanya di dunia ini saja, tetapi juga di
akhirat nanti. Ganjaran baiksorga tantangannya; ganjaran jelek neraka
tantangannya. Dalam RM tidak adaperhitungan buruk-baik dengan ganjaran
surga-neraka itu. Perhitungan RMhanyalah semata perhitungan untung-rugisecara
material saja. RM dengan tujuan untuk mendorong kerja keras,
kerjaberdisiplin, kerjasama berkelompok yang optimal, saling
tolong-menolong,santun-menyantuni, dsb, tentu saja baik, dan sangat baik
sekali. Tapi karenaada jarak dan bahkan jurang antara pengusaha yang memiliki
badan usaha danburuh dan pekerja yang menjual tenaga dan keahliannya, apalagi
dalam sistemekonomi yang bersifat kapitalistik, RM sukar menerapkannya; tidak
lain karenamotif yang berbeda itu. Badan usaha yang sifatnya kapitalistik itu
menginginkanadanya RM yang tinggi dengan produktivitas yang tinggi, dan
keuntungan material yang tinggi. Sementarabadan usaha yang sifatnya syar’i dan
islami, kecuali itu, adalah keberkatanyang juga tinggi, yang dinikmati secara
bersama, di dunia ini dan di akhiratnanti. *** __._,_.___
Posted by: Mochtar Naim <[email protected]>
| Reply via web post | • | Reply to sender | • | Reply to group | • |
Start a New Topic | • | Messages in this topic (1) |
"Sudahkah anda shalat dan berinfaq hari ini ?
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> To subscribe from this group, send an email to:
[email protected]
Visit Your Group
• Privacy • Unsubscribe • Terms of Use
.
__,_._,___ #yiv9800617547 #yiv9800617547 -- #yiv9800617547ygrp-mkp {border:1px
solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9800617547
#yiv9800617547ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9800617547
#yiv9800617547ygrp-mkp #yiv9800617547hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-mkp #yiv9800617547ads
{margin-bottom:10px;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-mkp .yiv9800617547ad
{padding:0 0;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-mkp .yiv9800617547ad p
{margin:0;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-mkp .yiv9800617547ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-sponsor
#yiv9800617547ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9800617547
#yiv9800617547ygrp-sponsor #yiv9800617547ygrp-lc #yiv9800617547hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9800617547
#yiv9800617547ygrp-sponsor #yiv9800617547ygrp-lc .yiv9800617547ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9800617547 #yiv9800617547actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9800617547
#yiv9800617547activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9800617547
#yiv9800617547activity span {font-weight:700;}#yiv9800617547
#yiv9800617547activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv9800617547 #yiv9800617547activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9800617547 #yiv9800617547activity span
span {color:#ff7900;}#yiv9800617547 #yiv9800617547activity span
.yiv9800617547underline {text-decoration:underline;}#yiv9800617547
.yiv9800617547attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv9800617547 .yiv9800617547attach div a
{text-decoration:none;}#yiv9800617547 .yiv9800617547attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9800617547 .yiv9800617547attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9800617547 .yiv9800617547attach label a
{text-decoration:none;}#yiv9800617547 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv9800617547 .yiv9800617547bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9800617547
.yiv9800617547bold a {text-decoration:none;}#yiv9800617547 dd.yiv9800617547last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9800617547 dd.yiv9800617547last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9800617547
dd.yiv9800617547last p span.yiv9800617547yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv9800617547 div.yiv9800617547attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv9800617547 div.yiv9800617547attach-table
{width:400px;}#yiv9800617547 div.yiv9800617547file-title a, #yiv9800617547
div.yiv9800617547file-title a:active, #yiv9800617547
div.yiv9800617547file-title a:hover, #yiv9800617547 div.yiv9800617547file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9800617547 div.yiv9800617547photo-title a,
#yiv9800617547 div.yiv9800617547photo-title a:active, #yiv9800617547
div.yiv9800617547photo-title a:hover, #yiv9800617547
div.yiv9800617547photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9800617547
div#yiv9800617547ygrp-mlmsg #yiv9800617547ygrp-msg p a
span.yiv9800617547yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9800617547
.yiv9800617547green {color:#628c2a;}#yiv9800617547 .yiv9800617547MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv9800617547 o {font-size:0;}#yiv9800617547
#yiv9800617547photos div {float:left;width:72px;}#yiv9800617547
#yiv9800617547photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9800617547
#yiv9800617547photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9800617547
#yiv9800617547reco-category {font-size:77%;}#yiv9800617547
#yiv9800617547reco-desc {font-size:77%;}#yiv9800617547 .yiv9800617547replbq
{margin:4px;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9800617547
#yiv9800617547ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9800617547
#yiv9800617547ygrp-mlmsg select, #yiv9800617547 input, #yiv9800617547 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9800617547
#yiv9800617547ygrp-mlmsg pre, #yiv9800617547 code {font:115%
monospace;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-mlmsg #yiv9800617547logo
{padding-bottom:10px;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-msg
p#yiv9800617547attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9800617547
#yiv9800617547ygrp-reco #yiv9800617547reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-sponsor
#yiv9800617547ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9800617547
#yiv9800617547ygrp-sponsor #yiv9800617547ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9800617547
#yiv9800617547ygrp-sponsor #yiv9800617547ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9800617547
#yiv9800617547ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv9800617547
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.