Wuah Indonesia Hebat dan Minangkabau akan hebat apabila kejadian dan keluhan 
surat terbuka yang ada tersebut ada solusinya. Semoga LKAAM, Tungku Tigo 
Sajarangan, Parik Paga dan stake holder  Minangkabau Hebat dengan ABS SBK dapat 
melakukan upaya2 preventif dan lainnya. Mungkin ada kesalahan dalam menulis 
Mental seyogyanya REVOLUSI METAL yaitu group band tsb.Haasma.
 

    Pada Sabtu, 9 Januari 2016 17:32, Mizardi <[email protected]> menulis:
 

  Renungan:Surat terbuka dari guru di Pariaman kpd Walikota-nya
Selasa, 05 Januari 2016
Tertibkan Orgen Tunggal, Selamatkan Moral Kemenakan!
       Aku hanya seorang gadis kecil yang coba menulis sesuatu padamu yang 
pantasnya ku panggil Mamak, bukan, Pak. Surat ini bukan suatu bentuk 
pembangkangan, kagadang-gadangan atau sok mengajari pandeka basilek. Sepuluh 
jari kemenakan susun beserta kepala, memohon maaf apabila ada kata-kata 
kemanakan yang patut dibimbing ini yang tidak enak Mamak baca.
        Mamak, disini aku ingin berbicara tentang orgen tunggal di Pariaman. 
Kemenakan kecilmu ini kini telah beranjak dewasa, hingga ketika aku menyaksikan 
orgen tunggal yang menampilkan biduannya berpakaian minim, seolah-olah aku yang 
sedang ditelanjangi, ditonton dan dijadikan objek tertawa licik para lelaki 
yang puas menatapnya. Aku malu!
       Hingga sebelum acara itu usai aku sudah lebih dulu pergi karena 
terbayang apa yang akan aku saksikan selanjutnya. Ya, seperti yang sudah-sudah, 
seperti yang sama-sama diketahui, seperti yang sudah mulai dimaklumi, para 
biduan wanita itu akan melecuti beberapa bagian pakaiannya lebih minim lagi, 
lebih terbuka lagi, lebih memancing hawa nafsu lagi, lalu mereka bersama 
pemuda-pemuda bahkan mamak-mamak yang tengah mabuk akan berpesta pora. 
Bergoyang seolah lupa siapa mereka. Apa kedudukan mereka. Seorang mamak akan 
lupa memberi contoh yang baik pada kemenakannya. Pemuda yang masih sekolah lupa 
akan apa tanggungjawabnya esok pagi. Dan itu berlangsung hingga pukul empat 
pagi. Hampir mendekati subuh. Dan hal tersebut digelar diruang terbuka.
            Maka akan sangat miris lagi ketika pagi-pagi beberapa bocah usia 
sekolah dasar menceritakan perihal apa yang dilihatnya dari gelaran orgen 
tunggal semalam yang ditontonnya itu pada teman sebayanya. Menceritakan 
bagaimana terbukanya pakaian biduan-biduan wanitanya. Menyebutkan nama-nama 
orang kampungnya yang mabuk berat malam itu, dan menceritakan siapa-siapa saja 
yang memeluk biduan wanita seraya memberi beberapa lembar uang saweran. Miris! 
Bocah sekecil itu menurutku hanya boleh bercerita tentang bagaimana ia 
menyelesaikan PR Matematikanya semalam. Bukan bercerita tentang tontonan tak 
pantas yang disuguhkan kakaknya, ayahnya, mamak-mamaknya dan 
tetangga-tetangganya.
            Lebih miris lagi ku saksikan di kota ini, nasionalisme pemudanya 
hanya sebatas gelaran orgen tunggal. Mereka menanti datangnya hari peringatan 
kemerdekaan demi berpesta dengan orgen tunggal  dengan goyangan eotis lengkap 
dengan minuman keras, lalu acara itu dikemas dengan tajuk ALEK PEMUDA. Apa 
dengan  begitu mereka akan tahu bagaimana perjuangan para pahlawan 
memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan mungkin lagu wajib Indonesia raya saja 
mereka tak tahu. Mereka lebih hafal judul lagu dangdut koplo yang membuat 
goyangan mereka semakin asyik dan malam mereka semakin panas. Toh kemerdekaan 
bagi mereka adalah sebatas bebas bermabuk-mabukan dan bebas menikmati aurat 
yang dipertontonkan.
            Aku bukan ahli agama, Mamak. Tapi yang aku tahu mengumbar aurat itu 
berdosa. Meliuk-liukan badan dengan pakaian super pendek itu berdosa. Melelang 
harga diri dengan beberapa lembar rupiah yang diserukan dengan pengeras suara 
itu amat berdosa. Minuman keras itu berdosa. Bukankah oranng Minang terkenal 
dengan adat istiadat dan agamanya? Lalu kenapa Pariaman kini seolah menjadi 
Pantura jilid dua?
            Aku teringat himbauan “Maghrib mengaji” yang Mamak serukan dulu. 
Lalu kenapa tak bisa mamak buat himbauan “Pariaman bebas orgen tunggal”? 
Jikapun rumah orang baralek dan alek pemuda harus dihibur orgen tunngal, kenapa 
tak tegas tegakkan aturan orgen tunggal hanya boleh hingga pukul dua belas 
malam saja dengan menjunjung tinggi adat kesopanan dan nilai agama?
            Aku yang bodoh ini menangkap adanya pergeseran nilai di ranah yang 
begitu ku sanjung ini, Mamak. Jika dulu kemenakan segan bertemu mamak di lapau, 
kini kemanakan dan mamak duduk bersama bermain domino. Bahkan menonton orgen 
dilokasi yang sama dengan kelakuan yang sama. Begitu sedih aku mendapati hal 
tersebut. Seolah-olah Minang kabau kini tak lagi bisa dijadikan panutan. 
Seolah-olah nilai-nilai kesopanan dipertaruhkan demi tameng “hiburan”.
            Lakukanlah sesuatu, Mamak! Anggaplah biduan wanita itu, 
pemuda-pemuda itu dan anak-anak kecil yang gemar menonton orgen tunggal itu 
adalah kemenakan-kemanakanmu juga yang pantas Mamak ajari hal-hal baik dan 
Mamak lindungi dari segala yang tercela. Tak ku minta biduan-biduan seksi itu 
lantas berbaju kurung, Mamak, setidaknya buat mereka lebih menghargai badan 
mereka sendiri. Jjika tidak bisa mamak buat pemuda-pemuda itu kembali ke Surau, 
setidaknya buat mereka kembali ke rumah orang tuanya lebih awal. Aku menulis 
surat terbuka ini bukan berangkat dari resahku sendiri. Namun dari resahnya 
Bundo Kanduang oleh dunia yang tak lagi “talok diaja”. Aku sadar benar, Mamak 
bukanlah orang yang patut dipersalahkan. Ada orang tua, niniak mamak, dan urang 
tuo di kampung-kampung yang harusnya lebih paham menjaga anak kemenakannya. 
Tapi bolehkah aku memohon, Mamak? Datanglah ke lapau-lapau tiap kampung itu, 
temuai tiap niniak mamaknya, beritahu mereka apa yang seharusnya mereka 
lakukan. Ingatkan mereka jikalau lupa. Berbincang-bincanglah di lapau dengan 
mereka, sebagaimana biasa Mamak lakukan di masa-masa kampanye dulu. 
            Aku mohon diri mengakhiri surat ini, Mamak. Aku masih harus 
memeriksa hasil ulangan anak didikku yang mengerjakan ulangan dengan mata 
terkantuk-kantuk ulah orgen tunggal 'bahoyak' di kampung mereka semalam...
Netri Yeni di 06.15
http://netriolala.blogspot.co.id/2016/01/2016-pariaman-harus-bebas-orgen-tunggal.html?m=1
  
Salam,Mizardi Amir.
 
|   Dari: Mochtar Naim [email protected] [surau]Terkirim: Selasa, 5 Januari 
2016 14.51Ke: RantauNet Group; Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo; Nasir Zulhasril; 
Asmun Sjueib; Mohcholilbaridjambek; Amri AZIZ; Mestika Zed; Alfitri FISIP; 
Harlizon MBAu; Anggun Gunawan; Dr. Gusti ASNAN; Edy Utama; Basri Mangun; Drs 
Sjafnir Aboe NAIN; Mas'oed ABIDIN; Zulharbi Salim; Lies Suryadi; BADRUL 
MUSTAFA; BUNDO KANDUANG LIMPAPEH RUMAH GADANG BERSATU; yahoogroups; Azmi Dt Bgd 
Abu; Yahoo!; Prof Dr Taufik ABDULLAH; Prof Dr Djohermansyah DJOHAN; Prof. Dr 
Azyumardi AZRA; Ilhamy Elias; Fasli JALAL; Miko Kamal; Irman Gusman; Chairil 
Anwar; Emil Habli HasanNaim; Herlina Hasan Basri; Dr. Saafroedin BAHAR; Ir. 
Raja Ermansyah YAMIN; Feraldi W. Loeis; Zulhendri Chaniago; Jusril Jamarin; 
Nurmatias Zakaria; Jafrinur Jafrinur; [email protected]; Novesar62; Dr. 
Herwandi WENDY; Arief Rangkayo Mulia; Bunda Nismah; Redaksi_haluan; Kardimatus 
Suheimi; Elfitra Baikoeni; Meuthia Suyudi; yahoogroups; Khairul Jasmi; Prof.Dr 
Emil SALIM; Novizar Zen; Muslim Kasim; Yuliasma Muluk; Ambiar Lani; Abdurrahman 
Aman; M. ABDUH; Amelia Naim Indrajaya; Gebuminang Pusat; Opinihaluan; Sutan 
Sinaro; Darman - MOENIR; Eri Bagindo Rajo; Sjamsir_sjarif; OBS Saldi; Riri 
Chaidir; Muslih Sayan; Zulfahmi Burhan; S. SURYADI; Zizie Fauzan; WiNda AmeLia; 
Elvira Naim; Herman Jambak; Asmardi Arbi; Rahim Jabbar; Susi Moeis; 
[email protected]; Nina Rivai; Rizal Ramli; Datuk Endang; Revrisond 
Baswir; Zuriyati Ati; Ajoduta; ADMIN DIM ORI; PUSAT KAJIAN ADAT ALAM 
MINANGKABAU; Yeyen Kiram; Mahyudin Al Mudra; Kasim Musliar; Dutamardin Umar; 
Asril Tanjung; Chaca Mesyarah; Wannofri Samry; Marwan BatubaraBalas Ke: 
[email protected]: [surau] MOCHTAR NAIM: "RM DAN ABS-SBK" |


       REVOLUSI MENTAL (“RM”) dan “ABS-SBK” Mochtar Naim5 Jan 2016    
|  P  |

ERTANYAAN pertama yang wajardikemukakan dengan didengungkannya konsep Revolusi 
Mental (“RM”) oleh PresidenJoko Widodo adalah: Dapatkah konsep RM yang berjalan 
secara nasional jugaberjalan seirama dengan konsep ABS-SBK di bumi Minangkabau 
dalam konteks DIM kemasa depan?             Jawabnya tentu saja: Kenapa tidak? 
Kita tahu bahwa darikeduanya itu ada yang sejalan ada yang tidak. Beda yang 
jelas antara keduanyaialah bahwa yang satu, RM, sifatnya adalah sinkretik, 
sementara ABS-SBK,sintetik. Seperti halnya dengan ciri budaya Jawa di 
mana-mana, semua agama itudasarnya sama. Jawanya: Sadaya agami samikemawon. 
Malah yang satu bisa mengisi yang lainnya. Dan yang satu sama lainsaling 
isi-mengisi. Begitu agama, begitu adat dan budaya lain-lainnya.            
Kalau di Minang, tidak. Dengan prinsip ABS-SBK, sepertibunyinya itu: Adatnya 
bersandarkan Syarak, dan Syarak berdasar Kitabullah.  Yang tertinggi adalah 
Kitabullah Al Qur’anulKarim itu. Syarak berada di bawahnya, sementara Adat 
tidak ada yang bolehbertentangan dengan Syarak. Mana-mana Adat yang 
bertentangan dengan Syarak,dibuang. Dikatakan: Syarak mengata, Adat memakai.    
        Diskrepansi yang terjadi dalam budaya nasional NKRIadalah: Kendati Sila 
Pertama Pancasila mengatakan: Ketuhanan Yang Maha Esa,yang mengukuhkan prinsip 
ketauhidan dari Islam, dan Islam adalah satu-satunyaagama berdasar kepada 
Ketuhanan YME itu, namun dalam pengakuannya semua agamadiakui sebagai sama, 
baik yang Maha Esa (Islam), Tri Esa (Trinitas Kristen),Poli Esa alias 
politheisme  (Hindu),maupun yang tak jelas diakui apakah Tuhan itu ada atau 
tidak (Budhisme dan KongHu Chu). Bahkan di zaman Orde Lama Soekarno, komunisme 
yang jelas-jelas atheistjuga diakui – karena Soekarno, katanya, tidak mau 
menunggangi kuda berkakitiga: Islam, Sosialisme dan Nasionalisme. Karena itu 
komunisme-atheismenya PKIjuga diakui. Juga, kendati 80 % dari penduduk 
Indonesia adalah muslim, namunIndonesia dinyatakan bukanlah Negara Islam, 
seperti halnya dengan Malaysia,Brunai, Bangladesh, Pakistan, negara-negara 
Arab, Mesir, Turki, dsb, yang semuaadalah Negara Islam. Indonesia sekarang 
walau bukan negara Islam, tetapistatistiknya diakui sebagai negara yang 
berpenduduk mayoritas muslim terbesardan terbanyak di dunia ini.            Di 
DIM sendiri, kendati prinsipnya adalah ABS-SBK, tetapitidak menghalangi 
penduduk yang bukan muslim, seperti masyarakat Mentawai,Masyarakat Nias, 
masyarakat Batak non-muslim, masyarakat non-pribumi Cina, dsb,untuk tetap 
menjadi warga Provinsi Sumbar dan nantinya warga Provinsi DaerahIstimewa 
Minangkabau itu. Kecuali di dua kota suci, Mekkah dan Madinah, orangKristen dan 
Yahudi dan non-muslim lainnya di seluruh dunia Arab  diakui sebagai sama dengan 
warga muslim.Begitu juga di DIM sendiri, warga muslim dan non-Muslim 
diperlakukan sebagaisama, dan hak-hak mereka sebagai warga-negara sebagai sama. 
            Dikotomi antara RM dan ABS-SBK makin terasa di manamental dalam 
konteks RM diartikan dalam artian etika dan estetika, sementaramental dalam 
konteks ABS-SBK tidak hanya dalam arti etika dan estetika tetapijuga adalah 
bahagian yang esensial dan tak terpisahkan dari ibadah danmu’amalah yang 
diartikan sebagai “akhlâq” dan sempurnanya: “akhlâqul karîmah.” Tegasnya,Islam 
akan tiada makna tanpa akhlaq dan akhlaqul karimah itu.            Dalam RM, 
sebagai contoh, laki-laki dan perempuan yangberduaan dalam ruang tertutup, lalu 
melakukan praktek hubungan seks, tidak akandiapa-apakan, dan tidak akan 
diproses secara hukum, jika tidak ada yangmengadukan. Makanya kamar hotel dan 
penginapan  dan tempat-tempat indehoi lainnya di tepipantai, di daerah resort 
pariwisata, dsb, adalah tempat yang aman untukmelakukan hubungan mesum antar 
gender itu. Dalam Islam, seperti yang jugadiberlakukan dalam ABS-SBK, jangankan 
sampai berhubungan seks, tinggal berduaandalam ruangan saja, atau jalan 
berduaan untuk tujuan indehoi saja, sudahdilarang; apalagi kalau dengan tujuan 
mau gituan pula. Dalam Islam yangmenentukan itu adalah motif atau niat kita 
melakukan sesuatu itu. Niat yangbaik dengan cara yang baik maka ganjarannya 
akan baik yang akan diterimakantidak hanya di dunia ini saja, tetapi juga di 
akhirat nanti. Ganjaran baiksorga tantangannya; ganjaran jelek neraka 
tantangannya. Dalam RM tidak adaperhitungan buruk-baik dengan ganjaran 
surga-neraka itu. Perhitungan RMhanyalah semata perhitungan  untung-rugisecara 
material saja.            RM dengan tujuan untuk mendorong kerja keras, 
kerjaberdisiplin, kerjasama berkelompok yang optimal, saling 
tolong-menolong,santun-menyantuni, dsb, tentu saja baik, dan sangat baik 
sekali. Tapi karenaada jarak dan bahkan jurang antara pengusaha yang memiliki 
badan usaha danburuh dan pekerja yang menjual tenaga dan keahliannya, apalagi 
dalam sistemekonomi yang bersifat kapitalistik, RM sukar menerapkannya; tidak 
lain karenamotif yang berbeda itu. Badan usaha yang sifatnya kapitalistik itu 
menginginkanadanya RM yang tinggi dengan produktivitas yang tinggi,  dan 
keuntungan material yang tinggi. Sementarabadan usaha yang sifatnya syar’i dan 
islami, kecuali itu, adalah keberkatanyang juga tinggi, yang dinikmati secara 
bersama, di dunia ini dan di akhiratnanti. ***                __._,_.___     
Posted by: Mochtar Naim <[email protected]>     
|  Reply via web post  | • |   Reply to sender   | • |   Reply to group   | • | 
 Start a New Topic  | • |  Messages in this topic (1)  |

                   "Sudahkah anda shalat dan berinfaq hari ini ?


<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> To subscribe from this group, send an email to:
    [email protected]
   Visit Your Group    
    • Privacy • Unsubscribe • Terms of Use 
     .  
 __,_._,___ #yiv9800617547 #yiv9800617547 -- #yiv9800617547ygrp-mkp {border:1px 
solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547ygrp-mkp #yiv9800617547hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-mkp #yiv9800617547ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-mkp .yiv9800617547ad 
{padding:0 0;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-mkp .yiv9800617547ad p 
{margin:0;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-mkp .yiv9800617547ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-sponsor 
#yiv9800617547ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547ygrp-sponsor #yiv9800617547ygrp-lc #yiv9800617547hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547ygrp-sponsor #yiv9800617547ygrp-lc .yiv9800617547ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9800617547 #yiv9800617547actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9800617547
 #yiv9800617547activity span {font-weight:700;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv9800617547 #yiv9800617547activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9800617547 #yiv9800617547activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv9800617547 #yiv9800617547activity span 
.yiv9800617547underline {text-decoration:underline;}#yiv9800617547 
.yiv9800617547attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv9800617547 .yiv9800617547attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv9800617547 .yiv9800617547attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9800617547 .yiv9800617547attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9800617547 .yiv9800617547attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv9800617547 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv9800617547 .yiv9800617547bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9800617547 
.yiv9800617547bold a {text-decoration:none;}#yiv9800617547 dd.yiv9800617547last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9800617547 dd.yiv9800617547last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9800617547 
dd.yiv9800617547last p span.yiv9800617547yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv9800617547 div.yiv9800617547attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv9800617547 div.yiv9800617547attach-table 
{width:400px;}#yiv9800617547 div.yiv9800617547file-title a, #yiv9800617547 
div.yiv9800617547file-title a:active, #yiv9800617547 
div.yiv9800617547file-title a:hover, #yiv9800617547 div.yiv9800617547file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9800617547 div.yiv9800617547photo-title a, 
#yiv9800617547 div.yiv9800617547photo-title a:active, #yiv9800617547 
div.yiv9800617547photo-title a:hover, #yiv9800617547 
div.yiv9800617547photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9800617547 
div#yiv9800617547ygrp-mlmsg #yiv9800617547ygrp-msg p a 
span.yiv9800617547yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9800617547 
.yiv9800617547green {color:#628c2a;}#yiv9800617547 .yiv9800617547MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv9800617547 o {font-size:0;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547photos div {float:left;width:72px;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9800617547
 #yiv9800617547reco-category {font-size:77%;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547reco-desc {font-size:77%;}#yiv9800617547 .yiv9800617547replbq 
{margin:4px;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547ygrp-mlmsg select, #yiv9800617547 input, #yiv9800617547 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547ygrp-mlmsg pre, #yiv9800617547 code {font:115% 
monospace;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-mlmsg #yiv9800617547logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-msg 
p#yiv9800617547attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547ygrp-reco #yiv9800617547reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-sponsor 
#yiv9800617547ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547ygrp-sponsor #yiv9800617547ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547ygrp-sponsor #yiv9800617547ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv9800617547 #yiv9800617547ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9800617547 
#yiv9800617547ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv9800617547 


  

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke