MINANGKABAUDAN DUNIAMELAYU Disampaikan pada Simposium 
DiasporaMinang:Sejarah, Budaya dan Teknologi serta SeniBina,Di Politeknik Port 
Dickson, NegeriSembilan,Faculty of Built Environment,UTM (Universiti Teknologi 
Malaysia), JohorBahru,Malaysia, 26-27 April 2014  Mochtar Naim IPengantar 

 
|

 
|  M  |

 INANGKABAU adalah bahagian dari Dunia Melayu, sebagaimana sekian banyaklainnya 
di Asia Tenggara ini yang tergolong ke dalam suku ataupun bangsaMelayu, yang 
jumlahnya tidak kurang dari 300 juta jiwa seluruhnya. Suku Melayuini merupakan 
kelompok mayoritas di kawasan Nusantara dan Semenanjung Melayudan Filipina. Ada 
minoritas Melayu di Thailand, terutama di Pattani di bagianSelatan, di 
Kambodya, di Myanmar, di Sri Langka, dan bahkan di Madagaskar, di Suriname,lalu 
di kepulauan Pasifik. Suku Melayu yang tadinya menguasai Singapura dibawah 
Kerajaan Temasek sekarang jadi minoritas di negerinya sendiri di bawahkekuasaan 
Cina perantau. Juga begitu di Filipina yang secara demografismayoritas 
penduduknya adalah tergolong pribumi Melayu tetapi secara politis,ekonomi dan 
bahkan sosial-budaya dikuasai perantau Cina.    Indonesia kontemporer sekarang 
ini kelihatannya juga menuju ke arah itu;walau mayoritas terbesar penduduk 
adalah pribumi Melayu, serta suku2 di Papua,Maluku dan NTT yang non-Melayu, 
tetapi ekonominya juga didominasi atau bahkandikuasai oleh penduduk 
non-priCina. Seperti di Filipina dan Singapura, dari penguasaan ekonomi lalu 
menjuruske arah penguasaan politik dan sosial-budaya, sedang jumlah penduduk 
non-priCina sangat kecil sekali – sekitar 2% -- sementaradi Malaysia penduduk 
Cina di atas 25 %, di Filipina 2 %.Di Malaysiauntung ada Mahathir yang sejak 
awal 1970an memberi peluang lebih besar kepadabumi-putera Melayu untuk 
berkiprah dalam mengangkatkan diri dariketerbelakangannya yang juga didukung 
sepenuhnya oleh pemerintah Malaysia.Ribuan mahasiswa Melayu dikirim tiap tahun 
bersekolah ke luar negeri untukmempercepat terkejarnya ketinggalan di bidang 
pendidikan yang efek multiplairnya menjurus kepada terbukanya usaha 
lain2nya.Sekarang orang Melayu di Malaysia tidak hanya di pedesaan menggarap 
pertaniandan perkebunan tetapi juga di bidang industri, bisnis dan teknologi 
diperkotaan – walau Cina masih dominan.Indonesia sampai sekarang ini 
kelihatannya belumada usaha yang sama ke arah itu. Indonesia tidak punyatokoh 
seperti Mahathir yang mendahulukan kepentingan pribumi dalam mengejarsegala 
ketinggalannya. Kelompok birokrat-aristokratik  penguasa pribumi cenderung 
memanfaatkan peluang mempergemuk diri denganbekerjasama dengan pengusaha 
non-pri Cina dalam mengelolakan ekonomi NKRI iniyang potensi sumberdaya alamnya 
termasuk terkaya di dunia. Korupsi, kolusi dannepotisme yang merajalela sejak 
Orde Baru sampai sekarang ini adalah danhanyalah konsekuensi logis dari hasil 
kerjasama yang mesra antara kelompokpenguasa pribumi dan pengusaha non-pri Cina 
itu. Kelompok penguasa pribumimakanya lebih memberi peluang kepada 
pengusaha-konglomerat non-pri Cina dalammenggeluti usaha2 di bidang ekonomi, 
perdagangan dan industri, ketimbangmemberi peluang kepada kelompok pribumi 
seperti yang dilakukan oleh penguasapribumi Melayu di Malaysia itu. Pemerintah 
dan penguasa NKRI sejauh ini lebihmemikirkan percepatan pertumbuhan angka2 
statistik ekonomi per tahunnyadaripada memikirkan bagaimana kelompok pribumi 
yang merupakan pewaris yang sahdari Republik ini terlepas dari kemiskinan, 
keterbelakangan dan kebodohan.Sekarang saja kelompok pengusaha konglomerat 
non-pri Cina di Indonesia telahmenguasai kegiatan ekonomi, bisnis dan industri, 
dari hulu sampai ke muara, didarat, laut dan udara. Mereka, seperti di 
Fipilina, mulai bergerak ke bidangpolitik dan sosial-budaya. Yang jadi alasan, 
seperti dikemukakan di awal OrdeBaru oleh para pakar ekonomi lulusan Berkeley 
(Berkeley Mafia), pendukungSuharto, adalah: “Seratus tahunpun diberi peluang 
kepada penduduk pribumi untukmenyelesaikan kemelut ekonomi yang ditinggalkan 
oleh Sukarno, tidak akanberhasil, karena mereka tidak punya budaya 
bisnis-entrepreneurial, seperti yangdimiliki oleh non-pri Cina. Makanya mau tak 
mau kita mengandalkan kepadakelompok konglomerat non-pri Cina untuk 
menyelamatkan dan mengangkatkan ekonomiIndonesia yang ditinggalkan oleh Sukarno 
yang sudah di ambang kehancuran itu.”  IIMelayu Proto dan Deutero      Suku 
Melayu inisecara antropo-etnografis, pertama, terbagi dua: Melayu Proto (Tua) 
dan MelayuDeutero (Muda). Yang tua seperti Batak, Nias, Mentawai, Enggano, 
Kubu, Dayak,dan suku2 Melayu di Filipina Utara; dan yang muda seperti yang 
lain2nya,termasuk Minangkabau ini. Melayu Proto yang menjadi inceran 
kristenisasi kebanyakan sekarang Kristen atau masih animis, sementara 
MelayuDeutero: Islam.     Ada yangmengatakan kedua-duanya berasal dari Asia 
Belakang, yakni daratan AsiaTenggara, yang ada unsur Mongoloidnya. Yang Proto 
lebihdahulu datang ke Nusantara dari yang Deutero. Ada yang datang 
melaluiSemenanjung Melayu, turun ke Sumatera dan Jawa, dan pulau2 lainnya di 
bagianTengah dan Timur. Lalu ada pula yang datang melalui Korea ke Filipina, 
kepulau2 lainnya di Nusantara. Tapi ada pula yang mengatakan, yang Proto, 
asliautokton di Nusantara, hanya yang Deutero yang bergerak bermigrasi dari 
AsiaBelakang. Lalu ada pula teori Kon Tiki dari Thor Heyerdahl yang 
memperkirakanbahwa orang Melayu, seperti orang2 di Polinesia, berasal dari 
suku2 asli diAmerika Selatan, serumpun dengan orang2 Indian yang ada di Amerika 
Latin itu.Mereka bergerak dengan perahu2 Kon Tiki ke pulau2 di Pasifik, dan ada 
yanglanjut ke Asia Tenggara ini.    Semua ini apakah fakta atau legenda atau 
mitos dan cerita belaka, kitatidak tahu. Kabut tebal sejarah ke masa lalu 
menyelimutinya yang makin kebelakang makin tebal dan gelap. Kita serahkanlah 
kepada para ahlinya untukmenggelutinya. Cerita2 yang  bersifat legenda yang 
juga tertuang dalam Tambo sendirinya juga tidakkurangnya menghiasi cerita masa 
lalu itu. Dan masing2 suku Melayu itu punyalegenda sendiri2. Suku Melayu 
Minangkabau misalnya mengaitkan asal-usulnya keGunung Merapi ketika masih 
sebesar telur itik. Ketika galodo Nabi Nuh di manayang kelihatan hanya 
puncaknya, tiga orang bersaudara dari anak2 SultanIskandar Zulkarnain, atau 
Alexander the Great, dari Masedonia, berlayar ke arah pulau Perca di Nusantara 
ini. Yang satuturun di puncak Gunung Merapi, yang satu terus ke timur ke 
Tiongkok, dan yangsatu lagi kembali ke Benua Ruhum.Dengan surutnya air, 
merekapun turun, ke SawahSetampang Benih, ke Langgundi nan Baselo, kira2 di 
Pariangan-Sungai Jambusekarang. Dst, dst. Dengan perkembangan penduduk, dari 
Taratak jadi Dusun,Dusun jadi Koto dan Koto jadi Nagari. Dan Nagaripun menjadi 
Luhak nan Tigo yangseterusnya juga berkembang ke Rantau, ke Barat ke Pesisir 
Pariaman, Padang danPesisir Selatan, yang kemudian juga sampai ke Muko2 dan 
Bangkahulu di Selatandan ke Pasaman, Air Bangis, Natal, Sibolga, Singkil, Tapak 
Tuan, dan terus keutara ke sepanjang pantai barat Aceh, ke daerahnya Anak Jameu 
sekarang ini.Belum pula yang turun ke pantai Timur, di Riau, Jambi dan Sumatera 
Selatan sekarang iniserta ada pula yang melintas ke Johor, Melaka, Negeri 
Sembilan, Pahang danSelangor di Malaysia sekarang ini. Dengan proses migrasi 
yang terus berlanjutsampai sekarang ini, akhirnya orang Minang bisa ditemukan 
di mana saja, baik diNusantara, di Dunia Melayu sampai ke Manca Negara 
sekalipun. Diaspora orangMinang ini hanya bisa ditandingi oleh orang Yahudi 
yang juga bertebaran kemana-mana di dunia ini, di samping juga orang Cina. 
Orang Minang, seperti jugaorang Yahudi dan Cina, hanya memilih kota2 
(urbanoriented migration), di bidang perdagangan dan jasa, dan tidak desa2 
(rural oriented migration), di bidangpertanian dan nelayan, seperti orang Jawa 
dan Bugis-Makasar. Profesi merekasendirinya banyak2 di bidang perdagangan, 
terutama yang menengah ke bawah, dipasar2 dan kaki lima; sementara yang 
menengah ke atas diborong habis oleh orangCina dan di bidang industri dasar 
oleh para kapitalis Barat dengan bekerjasamadengan konglomerat Cina. Orang 
Minang melalui proses pendidikan juga bergerakdi bidang jasa dan sivil, swasta 
maupun pemerintah. Satu hal yang istimewa:budaya kuliner yang menyebabkan 
warung nasi Padang ditemukan berjejer sejakdari Aceh sampai ke Papua, di 
semenanjung Malaysia dan Singapura, dan di kota2di Australia dan bahkan 
beberapa di Eropah dan Amerika. Rendang Padang akhirnyamencapai puncaknya yang 
dinyatakan sebagai “masakan terenak” di dunia.  IIIKenapa bernama Minangkabau   
   Kenapa makabernama “Minangkabau,” itupun ada legendanya, yang larinya ke 
masa Majapahitmau memperluas daerah kekuasaannya ke pulau Sumatra. Karena 
cerdiknya orangMinang, peperangan dialihkan ke adu kerbau. Pada waktu yang 
telah ditentukan,orang Jawa membawa kerbau jantan, besar dan garang, sementara 
orang Minangmembawa anak kerbau yang masih erat menyusu, dan dikandangkan 
beberapa haritidak disusui. Dua2 dilepas di medan laga, yang kerbau Minang 
langsung menyerbudan menyeruak mencari puting susu dari kerbau Jawa itu, yang 
mengira induknya.Kerbau Jawa yang besar dan kuat itu akhirnya rebah kena 
serudukan taji  yang dipasangkandi tempat tanduk akan tumbuh di kepala anak 
kerbau Minang itu. Semua darikelompok Minang bersorak kegirangan, manang kabau, 
manang kabau! Watak cerdik orang Minang rupanya sampaike sana, ke legenda itu. 
Intinya: mentang kecil tapi mana mau kalah. IVSisi Tinjauan Sosiologinya      
Itu semua adalahcerita masa lalu yang penuh berkabut yang kita hanya pandai 
mengutip tapi tidaktahu benar-tidaknya. Sisi sosiologi dari orang Minang dalam 
kerangka DuniaMelayu ini bagi kita yang awam sejarah dan arkeologi ini mungkin 
akan lebihmenarik, dan di jalur ini kita akan mencoba melihat bagaimana peranan 
orangMinang dalam Dunia Melayu itu.     Dengan masuknyaIslam ke Nusantara ini 
maka orang Melayu pun terbelah dua dalam sikapnyaterhadap agama2. Ada yang 
sintetik ada yangsinkretik. Garis pemisahnya adalah Laut Jawa: utara Laut Jawa 
dan selatan LautJawa. Semua yang ada di utara Laut Jawa beraliran sintetik, 
termasukMinangkabau, dan semua puak Melayu sampai ke Semenanjung, Thailand 
Selatan,Borneo Utara dan Filipina Selatan. Dan yang ada di selatan Laut Jawa, 
termasukJawa, Madura dan Sunda, berorientasi sinkretik. Tipis-tebalnya 
pahamsintetisme-sinkretisme ini banyak dipengaruhi oleh tipis-tebalnya 
pengaruhagama dan budaya Hinduisme dan Budhisme yang masuk ke wilayah budaya 
masing2sebelumnya. Jawa yang kental unsur Hinduisme dan Budhismenya, di samping 
unsurbudaya primordial Jawa: Kejawen,memang cenderung berorientasi sinkretik 
dari sintetik, karena latar-belakangdari unsur budaya yang membentuknya itu.    
 Di Jawa,karenanya, sikap yang menonjol adalah sinkretisme yang melihat semua 
agamasebagai sama (Jw: sadaya agami sami kemawon), sama baiknya dan sama 
benarnya, walauajaran berbeda. Yang terjadi lalu adalah perbauran antara agama2 
dengan tingkattoleransi yang tinggi, sehingga tidak hanya dalam masyarakat dan 
kelompokmasyarakat yang sama, dalam keluarga yang samapun bisa dan biasa 
terjadiperbauran antar-agama.       Dengan mayoritaspenduduk Indonesia adalah 
orang Jawa, dan pusat kekuasaan sejak semula ada diJawa, kecenderungan 
sinkretisme Jawa ini juga masuk ke dalam sistem kenegaraanyang terefleksi ke 
dalam NKRI sekarang ini yang memang didominasi oleh kelompokberbudaya Jawa, 
baik sivil maupun militer. Kendati sila pertama Pancasilamengatakan: Ketuhanan 
Yang Maha Esa, dan kita tahu bahwa satu2nya agama yangberketuhanan YME adalah 
Islam, tetapi NKRI bukanlah negara Islam, tetapi negarayang belakangan 
dilambangkan dengan “Empat Pilar Kebangsaan,” yaitu: Pancasila,UUD1945, NKRI 
dan Bhinneka Tunggal Ika -- tapi yangkemudian dimahzulkan oleh MK (Mahkamah 
Konstitusi) kembali. Semua ini jelasmenunjukkan kecenderungan orientasi budaya 
sinkretik tadi.    Dalam masyarakat Melayu Luar Jawa, sebaliknya. Yang terjadi 
adalahsintetisme antara budaya primordial Melayu dan Islam, dengan prinsip, 
mana yangsesuai dengan Islam, diterima; yang tidak, dibuang. Itulah yang 
sekarangdibuhul ke dalam filosofi budaya: “ABS-SBK – Adat Bersendi Syarak, 
SyarakBersendi Kitabullah.” Biasanya dilengkapi lagi: “Syarak Mengata, Adat 
Memakai.Alam Terkembang Jadi Guru.” Dan dengan itu pula muncul adagium Melayu: 
DMDI –Dunia Melayu Dunia Islam.  Konsekuensinya, orang Melayu yang keluar dari 
Islam, dan pindah ke agamalain, dia juga berhenti jadi orang Melayu dan tidak 
lagi diterima dalammasyarakat Melayu. Artinya, dibuang sepanjang adat.     
Sinkretismeversus sintetisme juga berkaitan dengan sistem dan struktur sosial 
masyarakatMelayu: Jawa yang hirarkis-vertikal, aristokratik-feodal, 
sentripetal; LuarJawa yang horizontal, egaliter, demokratik,sentrifugal. Ketika 
pentolan2 dari kedua belah pihak, Jawa dan Luar Jawa,akhirnya bertemu untuk 
bersama-sama memperjuangkan hapusnya penjajahan dantegaknya Negara Indonesia 
Merdeka, di pentas sejarah itu kita melihat bagaimanakedua kelompok Melayu ini 
saling memperlihatkan ciri2 dari latar-belakangbudaya yang berbeda yang 
membentuk watak dan karakter masing2, yanggaris-besarnya berujung pada dikotomi 
budaya J (Jawa) yang sinkretik dan M (Melayu,Minang) yang sintetik itu. 
Lihatlah bagaimana wajah penampilan dari tokoh2 yangberbudaya Jawa, sejak dari 
Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantoro, sampai ke Sukarno,Supomo, Sastroamijoyo, dan 
sekian banyak o-o yang lainnya itu. Dan lihat pula,dan langsung bandingkan 
dengan yang dari Luar Jawa, khususnya Minangkabau, yangber a-a, sejak dari Tan 
Malaka, Agus Salim, Hatta, Mohd Yamin, Syahrir, Natsir,Assaat, dsb. Baik secara 
sendiri2 maupun secara kolektif mereka memperlihatkanpantulan dari sifat2 
budaya primordial mereka masing2, kendati semua merekatelah mendapat sepuhan 
budaya Barat melalui sekolah yang mereka masuki, yangujungnya adalah dikotomi 
itu, yaitu J yang sinkretik, dan M yang sintetik. VDunia Melayu Dunia Islam 
Islam sendiri sekarang telah memasuki eragelombang ketiga dari perkembangan 
peradabannya, yang masing2 era itu berjalanselama lk tujuh abad. Ini sesuai 
dengan bunyi ayat: “Hari2 itu Kami peredarkandi antara manusia2 (Al Qur’an, Ali 
‘Imran 140). Era gelombang pertama adalah sejaklahirnya Islam di sahara Arabia, 
di kota Makkah dan Madinah di abad ke 6-7 M, lalu menjalar ke berbagai negara, 
danmencapai titik zenitnya di Kordoba di Spanyol dan Baghdad di Parsia, di abad 
ke13-14. Sehabis-habis mendaki di zaman keemasannya, sampai di puncaknya, 
lalumeluncur, dan meluncur habis ke titik nadirnya, di gelombang kedua, selama 
lk 7 abad pula (abad 13-20), dengan seluruh duniaIslam berada di bawah 
kekuasaan dan penjajahan Barat. Baru mulai bangkitkembali setelah usainya 
Perang Dunia Kedua (1945) dengan terbebaskannya satuper satu negara2 Islam itu 
dari penjajahan Barat yang Keristen itu. Eragelombang ketiga ini diperkirakan 
juga akan berjalan selama 7 abad pula kedepan.Sekarang Dunia Islam sedang mulai 
bangkit kembaliuntuk menuju zenitnya kembali. Dalam rangka itulah kita melihat 
di awal titikbalik ini munculnya DMDI di Asia Tenggara ini. Waktu dan peluang 
sekarangberada di pihak mereka. Ummat Islam sekarang, sebagaimana yang lainnya, 
harusbelajar banyak dari gelombang sejarah yang dilaluinya.Inspirasi DMDI ini 
sebenarnya sudah bermula sejaksebelum Perang Dunia Kedua, di mana tokoh2 
politik dan pujangga dari Indonesia,Malaysia dan Filipina sudah memikirkan 
untuk terbangunnya sebuah commonwealthnegara2 Melayu di Asia Tenggara ini. 
Namun hubungan antara sesama Melayusendiri tidak selalu berjalan  mulus. Ada 
waktunya mereka bertengkar bercakar-cakaran, terutama di zamanKonfrontasi Orde 
Lamanya Sukarno. Ada istilah: Ganyang Malaysia. Karenalatar-belakang 
pembentukan budaya moderen yang berbeda, Malaysia yang dijajaholeh Inggeris, 
dan Indonesia oleh Belanda, perbedaan cara berfikir, di atasdari dikotomi 
sintetisme dan sinkretisme primordial tadi, juga melempias kepadacara masing2 
membangun dan membentuk negara. Malaysia menekankan pada filosofi Lawand Order, 
sementara Indonesia pada supremasi birokrasi di mana hukum jadiobyek, bukan 
subyek. Lantunannya adalah pada tiada terkendalinya nafsu ber KKN– Korupsi, 
Kolusi, Nepotisme -- di mana saja, dari atas sampai ke bawah pun, daripusat 
sampai ke daerah. Malaysia, yang menjunjung budaya Melayu, lebihberorientasi 
sentrifugal, sementara Indonesia yang terkonsentrasi di Jawa lebihberorientasi 
sentripetal.Ide DMDI gampang tercerna oleh Dunia Melayu yangdi utara Laut Jawa, 
tetapi tidak oleh Dunia Melayu yang di selatan Laut Jawa,yang larinya pada 
perbedaan orientasi budaya antara yang sintetis dan yangsinkretis tadi. Karena 
negara NKRI lebih dikendalikan dari budaya sinkretikdaripada sintetik, maka, 
walaupun sila pertama Pancasila mengatakan: KetuhananYang Maha Esa, tapi NKRI 
dengan orientasi sinkretismenya itu tidak mungkinmenjadi Negara Islam – kendati 
satu2nya agama yang berketuhanan YME adalahIslam. Apalagi mayoritas terbesar 
(85 %) dari warganegara adalah orang Islam, dan Indonesia pun adalah negara 
berpenduduk muslimterbesar di dunia. Namun karena dasarnya adalah sinkretik, 
bukan sintetik,prinsip demokrasi yang juga dianut tidak bisa diberlakukan 
secara efektif, tapidibumbui dengan dan dikendalikan oleh budaya sinkretik 
itu.Aspirasi DMDI sejauh ini masih diserap dandiresapi di belahan Malaysia, 
termasuk Brunei dan Sabah, di samping jugamungkin ada sentuhannya ke Pattani di 
Thailand Selatan dan Moro di FilipinaSelatan, tetapi belum ke Indonesia. Walau 
hubungan dagang dan bisnis antaraMalaysia dan Indonesia, dan khususnya di kedua 
belah sisi Selat Melaka, di ataspermukaan berjalan biasa tanpa gangguan 
berarti, tapi hubungan budaya tidakselancar seperti diharapkan. Kendalanya a.l. 
adalah karena adanya ketimpangan pertumbuhanekonomi antara kedua negara, yang 
Malaysia lebih cepat naiknya dari Indonesia.Banyak tenaga kerja yang 
berdatangan dari Indonesia berupa TKI dan TKW ditingkat akar rumput, tetapi di 
Malaysia mendapat perlakuan yang kurangdihargai. Dan ini merembet ke bidang 
budaya, yang Malaysia lalu melihat kebawah ke Indonesia. Ini juga adalah 
lempiasan dari ketidak-sukaan hubungan dimasa lalu di masa Orde Lama di bawah 
Sukarno yang sebaliknya melihat rendahkepada Malaysia, dengan serangan2 
politis: Ganyang Malaysia, dsb. Seranganbalik yang dilakukan Malaysia yang 
berkelanjutan ke saat ini adalah dicecarnyaIndonesia dengan sebutan2 yang sinis 
dan bahkan menghina, seperti penggunaanistilah “Indon” kepada warga Indonesia 
yang ada di Malaysia, di samping pembabatantrade mark puncak2 budaya Indonesia 
yang lalu dikleim dan bahkandipatenkan sebagai trade mark budaya Malaysia. 
Sejauh ini sudah ada 200 obyekwarisan kebangsaan yang dipatenkan oleh Malaysia 
sebagai warisan budaya mereka– termasuk makanan, spt rendang, dendeng, 
serundeng, ikan bakar, ayam panggang, cendol, air kelapa, otak-otak, 
sate,pisang goreng, kerupuk, dodol, wajik, serikaya, tapai, dsb; lalu di 
bidangkesenian, spt silat, wayang kulit, batik, dsb; lalu pantun, syair, 
tulisanjawi, dsb. Semua itu kalau bukan berasal dari Indonesia, sekurangnya 
milikbersama; tapi lalu dikleim sebagai milik sendiri.       Yang bermain 
dibelakang ini jangan2 adalah pihak2 yang tidak menginginkan adanya kesatuan 
dankeserasian antara dua suku bangsa Melayu dan dua negara Melayu yang 
berjirananini, yang kebetulan di kedua negara berjiran ini mereka menguasai 
ekonomi,perdagangan dan industrinya. Istilah lama: “divideet impera” demi 
kekuasaan adalah sebuah lagu lama yang berlaku di mana2 disepanjang sejarah 
manusia.     Di sisi lain,denyut yang makin bermakna dari Tamaddun Dunia Islam 
Gelombang Ketiga di abadke 21 dst ini mau tak mau akan juga mempertemukan Dunia 
Melayu di Asia Tenggaraini makin dekat antara sesama ke masa depan. 
Kerjasama-kerjasama di berbagaibidang dan berbagai tingkat diharapkan akan 
makin mempertemukan puak2 dariDunia Melayu ini ke masa depan. Makin menonjolnya 
penguasaan ekonomi, bisnisperdagangan dan industri dari Dunia Kuning, sejalan 
dengan makin berkembangnyamereka sebagai negara termaju di Dunia ke masa depan, 
menggantikan supremasiDunia kapitalis Barat selama ini, pada gilirannya, 
sebagai reaksi sebaliknya,Dunia Melayu pun akan makin mendapatkan pegangan yang 
makin kuat, yang terlahirdengan bermacam kerjasama di berbagai bidang kehidupan 
itu. Dan di atas semuaitu, DMDI yang sekarang masih berupa impian, nanti akan 
menjadi kenyataan.Siapa tahu, yang diimpikan oleh Jose Rizal, Tan Malaka dan 
Tuanku Abdul Rahman, maupun Yousuf Ishaq di masa lalu, ke depan akan 
menjadikenyataan, dan kenyataan sejarah, di penggal selanjutnya dari abad ke 21 
M ini. VIPeran Potensial Suku Melayu Minangkabaudalam Konteks Dunia Melayu Suku 
Melayu Minangkabau sejak dari hulunya memangsudah tergolong kepada suku Melayu 
yang tertinggi tingkat mobilitas sosialnya.Dorongan ke arah mobilitas sosial 
yang tinggi ini juga terkait kepada sistemsosialnya yang mengharuskan anak 
mudanya merantau terlebih dahulu “selagi dirumah berguna belum,” sesuai dengan 
bunyi liriknya: “Karatau madang di hulu, berbuahberbunga belum; merantau bujang 
dahulu di rumah berguna belum.” Akibatnya,lebih dari separoh orang Minang, yang 
jumlah totalnya sekitar 10 juta, berdiaspora keluar kampung halamannya, 
bertebaran kemana2 di segenap penjuru Dunia Melayu, bahkan ke banyak negara di 
dunia ini.Karena orientasi budayanya adalah sentrifugal,bukan sentripetal, di 
samping juga egaliter-demokratis, mereka juga punyakemampuan yang tinggi untuk 
menyesuaikan diri dengan situasi setempat. ... “Dimana bumi dipijak, di sana 
langit dijunjung”... “Menyauk di hilir2, mandi di bawah2” ... “Nan di urang 
diiyakan, nan di awak dilalukan,” dst, dst. Karenanyajadilah dia seorang Yousuf 
Ishaq dan Zubir Said di Singapura; Rais Yatim dansekian banyak yang lainnya di 
Malaysia; Datuk yang bertiga di Sulawesi Selatan– Datuk Ri Bandang, Datuk Ri 
Tiro, Datuk Ri Pattimang – yang mengembangkanIslam di Sulawesi, serta Raja 
Baginda di Sulu, Raja Solaiman di Manila, yangmengembangkan Islam di Filipina. 
Dan tentu saja nyaris tak terhitung banyaknyapara peneruka kemerdekaan dan 
pelopor-pendiri NKRI, yang dalam persentaseperbandingannya adalah suku yang 
tertinggi dalam memberikan kontribusinya.Belum pula kalau kita turun ke bawah, 
ke tingkat menengah sampai ke akar rumputsekalipun di seluruh Nusantara dan 
Dunia Melayu ini, sesuai dengan  kemampuan sertaminat dan himmat masing2.     
Ini semua karenabertemunya adat dan budaya Minangkabau dengan Islam yang 
kedua-duanya ternyatapunya banyak kesamaan dalam pandangan 
weltanschauung-nyayang berorientasi global-universal dan terbuka, yang “kalau 
dibalun sebalun kuku, kalau dikembang selebar alam.”     Namun, karenajalur 
sejarah itu memang beriak-bergelombang, sejak peristiwa PRRI di dekade1950-an 
sampai ke masa kini, performansi orang Minang sudah banyak meluntur 
danmeluncur, sehingga sudah sukar untuk melihat mana dari ketokohan mereka 
yangmenonjol di pelataran nasional maupun daerah sekalipun, seperti 
sebelumnya.Faktor penyebabnya ternyata juga banyak: internal dan eksternal. 
Internal,ternyata tali tempat perpegangan mereka, yaitu budaya adat dan Islam 
itusendiri, sudah banyak yang dilepas tak bertali, sehingga yang adat dan 
agamaitu banyak yang tinggal hanya formalitasnya. Rata2 generasi muda sekarang 
taklagi mengetahui isi dan inti hakekat dari budayaABS-SBK itu. Eksternal, 
dalam pakaian hidup hari2 mereka sudah lebih banyakmelihat ke luar, ke ajaran 
nasional yang disalurkan melalui pelajaranSivik-Kewarganegaraan di sekolah2 dan 
jejaran budaya global melalui komputerdan jaringan teknologi hiper-canggih 
lainnya sekarang ini. Semua itu memperjauhmereka dari nilai2 luhur yang 
diajarkan oleh adat dan agama mereka.    Dengan upaya mengangkatkan kembali 
nilai2 luhur yang dibuhul dalambentuk filosofi hidup: ABS-SBK itu, kita 
mengharapkan, inilah nanti yang akanmenjadi suluh-bendang dalam mengangkatkan 
kembali marwah dan semangat juang dari suku Minang danMelayu umumnya dalam 
menghadapi tantangan ke masa depan itu. Dengan filosofiABS-SBK itu pula kita 
mengharapkan agar futurisme DMDI akan bergerak menuju kecita luhurnya, yaitu 
bersatunya Dunia Melayu dalam genggaman ajaran Islam dalamkonteks Dunia Islam. 
Peranan potensial dari suku Melayu Minangkabau dalammemajukan Dunia Melayu 
dalam konteks Dunia Islam ke masa depan adalah tantanganterbesar yang kita 
hadapkan kepada suku Minang, di ranah dan di rantau dimanapun. ***

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke