MINANGKABAUDAN DUNIAMELAYU Disampaikan pada Simposium DiasporaMinang:Sejarah, Budaya dan Teknologi serta SeniBina,Di Politeknik Port Dickson, NegeriSembilan,Faculty of Built Environment,UTM (Universiti Teknologi Malaysia), JohorBahru,Malaysia, 26-27 April 2014 Mochtar Naim IPengantar
| | M | INANGKABAU adalah bahagian dari Dunia Melayu, sebagaimana sekian banyaklainnya di Asia Tenggara ini yang tergolong ke dalam suku ataupun bangsaMelayu, yang jumlahnya tidak kurang dari 300 juta jiwa seluruhnya. Suku Melayuini merupakan kelompok mayoritas di kawasan Nusantara dan Semenanjung Melayudan Filipina. Ada minoritas Melayu di Thailand, terutama di Pattani di bagianSelatan, di Kambodya, di Myanmar, di Sri Langka, dan bahkan di Madagaskar, di Suriname,lalu di kepulauan Pasifik. Suku Melayu yang tadinya menguasai Singapura dibawah Kerajaan Temasek sekarang jadi minoritas di negerinya sendiri di bawahkekuasaan Cina perantau. Juga begitu di Filipina yang secara demografismayoritas penduduknya adalah tergolong pribumi Melayu tetapi secara politis,ekonomi dan bahkan sosial-budaya dikuasai perantau Cina. Indonesia kontemporer sekarang ini kelihatannya juga menuju ke arah itu;walau mayoritas terbesar penduduk adalah pribumi Melayu, serta suku2 di Papua,Maluku dan NTT yang non-Melayu, tetapi ekonominya juga didominasi atau bahkandikuasai oleh penduduk non-priCina. Seperti di Filipina dan Singapura, dari penguasaan ekonomi lalu menjuruske arah penguasaan politik dan sosial-budaya, sedang jumlah penduduk non-priCina sangat kecil sekali – sekitar 2% -- sementaradi Malaysia penduduk Cina di atas 25 %, di Filipina 2 %.Di Malaysiauntung ada Mahathir yang sejak awal 1970an memberi peluang lebih besar kepadabumi-putera Melayu untuk berkiprah dalam mengangkatkan diri dariketerbelakangannya yang juga didukung sepenuhnya oleh pemerintah Malaysia.Ribuan mahasiswa Melayu dikirim tiap tahun bersekolah ke luar negeri untukmempercepat terkejarnya ketinggalan di bidang pendidikan yang efek multiplairnya menjurus kepada terbukanya usaha lain2nya.Sekarang orang Melayu di Malaysia tidak hanya di pedesaan menggarap pertaniandan perkebunan tetapi juga di bidang industri, bisnis dan teknologi diperkotaan – walau Cina masih dominan.Indonesia sampai sekarang ini kelihatannya belumada usaha yang sama ke arah itu. Indonesia tidak punyatokoh seperti Mahathir yang mendahulukan kepentingan pribumi dalam mengejarsegala ketinggalannya. Kelompok birokrat-aristokratik penguasa pribumi cenderung memanfaatkan peluang mempergemuk diri denganbekerjasama dengan pengusaha non-pri Cina dalam mengelolakan ekonomi NKRI iniyang potensi sumberdaya alamnya termasuk terkaya di dunia. Korupsi, kolusi dannepotisme yang merajalela sejak Orde Baru sampai sekarang ini adalah danhanyalah konsekuensi logis dari hasil kerjasama yang mesra antara kelompokpenguasa pribumi dan pengusaha non-pri Cina itu. Kelompok penguasa pribumimakanya lebih memberi peluang kepada pengusaha-konglomerat non-pri Cina dalammenggeluti usaha2 di bidang ekonomi, perdagangan dan industri, ketimbangmemberi peluang kepada kelompok pribumi seperti yang dilakukan oleh penguasapribumi Melayu di Malaysia itu. Pemerintah dan penguasa NKRI sejauh ini lebihmemikirkan percepatan pertumbuhan angka2 statistik ekonomi per tahunnyadaripada memikirkan bagaimana kelompok pribumi yang merupakan pewaris yang sahdari Republik ini terlepas dari kemiskinan, keterbelakangan dan kebodohan.Sekarang saja kelompok pengusaha konglomerat non-pri Cina di Indonesia telahmenguasai kegiatan ekonomi, bisnis dan industri, dari hulu sampai ke muara, didarat, laut dan udara. Mereka, seperti di Fipilina, mulai bergerak ke bidangpolitik dan sosial-budaya. Yang jadi alasan, seperti dikemukakan di awal OrdeBaru oleh para pakar ekonomi lulusan Berkeley (Berkeley Mafia), pendukungSuharto, adalah: “Seratus tahunpun diberi peluang kepada penduduk pribumi untukmenyelesaikan kemelut ekonomi yang ditinggalkan oleh Sukarno, tidak akanberhasil, karena mereka tidak punya budaya bisnis-entrepreneurial, seperti yangdimiliki oleh non-pri Cina. Makanya mau tak mau kita mengandalkan kepadakelompok konglomerat non-pri Cina untuk menyelamatkan dan mengangkatkan ekonomiIndonesia yang ditinggalkan oleh Sukarno yang sudah di ambang kehancuran itu.” IIMelayu Proto dan Deutero Suku Melayu inisecara antropo-etnografis, pertama, terbagi dua: Melayu Proto (Tua) dan MelayuDeutero (Muda). Yang tua seperti Batak, Nias, Mentawai, Enggano, Kubu, Dayak,dan suku2 Melayu di Filipina Utara; dan yang muda seperti yang lain2nya,termasuk Minangkabau ini. Melayu Proto yang menjadi inceran kristenisasi kebanyakan sekarang Kristen atau masih animis, sementara MelayuDeutero: Islam. Ada yangmengatakan kedua-duanya berasal dari Asia Belakang, yakni daratan AsiaTenggara, yang ada unsur Mongoloidnya. Yang Proto lebihdahulu datang ke Nusantara dari yang Deutero. Ada yang datang melaluiSemenanjung Melayu, turun ke Sumatera dan Jawa, dan pulau2 lainnya di bagianTengah dan Timur. Lalu ada pula yang datang melalui Korea ke Filipina, kepulau2 lainnya di Nusantara. Tapi ada pula yang mengatakan, yang Proto, asliautokton di Nusantara, hanya yang Deutero yang bergerak bermigrasi dari AsiaBelakang. Lalu ada pula teori Kon Tiki dari Thor Heyerdahl yang memperkirakanbahwa orang Melayu, seperti orang2 di Polinesia, berasal dari suku2 asli diAmerika Selatan, serumpun dengan orang2 Indian yang ada di Amerika Latin itu.Mereka bergerak dengan perahu2 Kon Tiki ke pulau2 di Pasifik, dan ada yanglanjut ke Asia Tenggara ini. Semua ini apakah fakta atau legenda atau mitos dan cerita belaka, kitatidak tahu. Kabut tebal sejarah ke masa lalu menyelimutinya yang makin kebelakang makin tebal dan gelap. Kita serahkanlah kepada para ahlinya untukmenggelutinya. Cerita2 yang bersifat legenda yang juga tertuang dalam Tambo sendirinya juga tidakkurangnya menghiasi cerita masa lalu itu. Dan masing2 suku Melayu itu punyalegenda sendiri2. Suku Melayu Minangkabau misalnya mengaitkan asal-usulnya keGunung Merapi ketika masih sebesar telur itik. Ketika galodo Nabi Nuh di manayang kelihatan hanya puncaknya, tiga orang bersaudara dari anak2 SultanIskandar Zulkarnain, atau Alexander the Great, dari Masedonia, berlayar ke arah pulau Perca di Nusantara ini. Yang satuturun di puncak Gunung Merapi, yang satu terus ke timur ke Tiongkok, dan yangsatu lagi kembali ke Benua Ruhum.Dengan surutnya air, merekapun turun, ke SawahSetampang Benih, ke Langgundi nan Baselo, kira2 di Pariangan-Sungai Jambusekarang. Dst, dst. Dengan perkembangan penduduk, dari Taratak jadi Dusun,Dusun jadi Koto dan Koto jadi Nagari. Dan Nagaripun menjadi Luhak nan Tigo yangseterusnya juga berkembang ke Rantau, ke Barat ke Pesisir Pariaman, Padang danPesisir Selatan, yang kemudian juga sampai ke Muko2 dan Bangkahulu di Selatandan ke Pasaman, Air Bangis, Natal, Sibolga, Singkil, Tapak Tuan, dan terus keutara ke sepanjang pantai barat Aceh, ke daerahnya Anak Jameu sekarang ini.Belum pula yang turun ke pantai Timur, di Riau, Jambi dan Sumatera Selatan sekarang iniserta ada pula yang melintas ke Johor, Melaka, Negeri Sembilan, Pahang danSelangor di Malaysia sekarang ini. Dengan proses migrasi yang terus berlanjutsampai sekarang ini, akhirnya orang Minang bisa ditemukan di mana saja, baik diNusantara, di Dunia Melayu sampai ke Manca Negara sekalipun. Diaspora orangMinang ini hanya bisa ditandingi oleh orang Yahudi yang juga bertebaran kemana-mana di dunia ini, di samping juga orang Cina. Orang Minang, seperti jugaorang Yahudi dan Cina, hanya memilih kota2 (urbanoriented migration), di bidang perdagangan dan jasa, dan tidak desa2 (rural oriented migration), di bidangpertanian dan nelayan, seperti orang Jawa dan Bugis-Makasar. Profesi merekasendirinya banyak2 di bidang perdagangan, terutama yang menengah ke bawah, dipasar2 dan kaki lima; sementara yang menengah ke atas diborong habis oleh orangCina dan di bidang industri dasar oleh para kapitalis Barat dengan bekerjasamadengan konglomerat Cina. Orang Minang melalui proses pendidikan juga bergerakdi bidang jasa dan sivil, swasta maupun pemerintah. Satu hal yang istimewa:budaya kuliner yang menyebabkan warung nasi Padang ditemukan berjejer sejakdari Aceh sampai ke Papua, di semenanjung Malaysia dan Singapura, dan di kota2di Australia dan bahkan beberapa di Eropah dan Amerika. Rendang Padang akhirnyamencapai puncaknya yang dinyatakan sebagai “masakan terenak” di dunia. IIIKenapa bernama Minangkabau Kenapa makabernama “Minangkabau,” itupun ada legendanya, yang larinya ke masa Majapahitmau memperluas daerah kekuasaannya ke pulau Sumatra. Karena cerdiknya orangMinang, peperangan dialihkan ke adu kerbau. Pada waktu yang telah ditentukan,orang Jawa membawa kerbau jantan, besar dan garang, sementara orang Minangmembawa anak kerbau yang masih erat menyusu, dan dikandangkan beberapa haritidak disusui. Dua2 dilepas di medan laga, yang kerbau Minang langsung menyerbudan menyeruak mencari puting susu dari kerbau Jawa itu, yang mengira induknya.Kerbau Jawa yang besar dan kuat itu akhirnya rebah kena serudukan taji yang dipasangkandi tempat tanduk akan tumbuh di kepala anak kerbau Minang itu. Semua darikelompok Minang bersorak kegirangan, manang kabau, manang kabau! Watak cerdik orang Minang rupanya sampaike sana, ke legenda itu. Intinya: mentang kecil tapi mana mau kalah. IVSisi Tinjauan Sosiologinya Itu semua adalahcerita masa lalu yang penuh berkabut yang kita hanya pandai mengutip tapi tidaktahu benar-tidaknya. Sisi sosiologi dari orang Minang dalam kerangka DuniaMelayu ini bagi kita yang awam sejarah dan arkeologi ini mungkin akan lebihmenarik, dan di jalur ini kita akan mencoba melihat bagaimana peranan orangMinang dalam Dunia Melayu itu. Dengan masuknyaIslam ke Nusantara ini maka orang Melayu pun terbelah dua dalam sikapnyaterhadap agama2. Ada yang sintetik ada yangsinkretik. Garis pemisahnya adalah Laut Jawa: utara Laut Jawa dan selatan LautJawa. Semua yang ada di utara Laut Jawa beraliran sintetik, termasukMinangkabau, dan semua puak Melayu sampai ke Semenanjung, Thailand Selatan,Borneo Utara dan Filipina Selatan. Dan yang ada di selatan Laut Jawa, termasukJawa, Madura dan Sunda, berorientasi sinkretik. Tipis-tebalnya pahamsintetisme-sinkretisme ini banyak dipengaruhi oleh tipis-tebalnya pengaruhagama dan budaya Hinduisme dan Budhisme yang masuk ke wilayah budaya masing2sebelumnya. Jawa yang kental unsur Hinduisme dan Budhismenya, di samping unsurbudaya primordial Jawa: Kejawen,memang cenderung berorientasi sinkretik dari sintetik, karena latar-belakangdari unsur budaya yang membentuknya itu. Di Jawa,karenanya, sikap yang menonjol adalah sinkretisme yang melihat semua agamasebagai sama (Jw: sadaya agami sami kemawon), sama baiknya dan sama benarnya, walauajaran berbeda. Yang terjadi lalu adalah perbauran antara agama2 dengan tingkattoleransi yang tinggi, sehingga tidak hanya dalam masyarakat dan kelompokmasyarakat yang sama, dalam keluarga yang samapun bisa dan biasa terjadiperbauran antar-agama. Dengan mayoritaspenduduk Indonesia adalah orang Jawa, dan pusat kekuasaan sejak semula ada diJawa, kecenderungan sinkretisme Jawa ini juga masuk ke dalam sistem kenegaraanyang terefleksi ke dalam NKRI sekarang ini yang memang didominasi oleh kelompokberbudaya Jawa, baik sivil maupun militer. Kendati sila pertama Pancasilamengatakan: Ketuhanan Yang Maha Esa, dan kita tahu bahwa satu2nya agama yangberketuhanan YME adalah Islam, tetapi NKRI bukanlah negara Islam, tetapi negarayang belakangan dilambangkan dengan “Empat Pilar Kebangsaan,” yaitu: Pancasila,UUD1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika -- tapi yangkemudian dimahzulkan oleh MK (Mahkamah Konstitusi) kembali. Semua ini jelasmenunjukkan kecenderungan orientasi budaya sinkretik tadi. Dalam masyarakat Melayu Luar Jawa, sebaliknya. Yang terjadi adalahsintetisme antara budaya primordial Melayu dan Islam, dengan prinsip, mana yangsesuai dengan Islam, diterima; yang tidak, dibuang. Itulah yang sekarangdibuhul ke dalam filosofi budaya: “ABS-SBK – Adat Bersendi Syarak, SyarakBersendi Kitabullah.” Biasanya dilengkapi lagi: “Syarak Mengata, Adat Memakai.Alam Terkembang Jadi Guru.” Dan dengan itu pula muncul adagium Melayu: DMDI –Dunia Melayu Dunia Islam. Konsekuensinya, orang Melayu yang keluar dari Islam, dan pindah ke agamalain, dia juga berhenti jadi orang Melayu dan tidak lagi diterima dalammasyarakat Melayu. Artinya, dibuang sepanjang adat. Sinkretismeversus sintetisme juga berkaitan dengan sistem dan struktur sosial masyarakatMelayu: Jawa yang hirarkis-vertikal, aristokratik-feodal, sentripetal; LuarJawa yang horizontal, egaliter, demokratik,sentrifugal. Ketika pentolan2 dari kedua belah pihak, Jawa dan Luar Jawa,akhirnya bertemu untuk bersama-sama memperjuangkan hapusnya penjajahan dantegaknya Negara Indonesia Merdeka, di pentas sejarah itu kita melihat bagaimanakedua kelompok Melayu ini saling memperlihatkan ciri2 dari latar-belakangbudaya yang berbeda yang membentuk watak dan karakter masing2, yanggaris-besarnya berujung pada dikotomi budaya J (Jawa) yang sinkretik dan M (Melayu,Minang) yang sintetik itu. Lihatlah bagaimana wajah penampilan dari tokoh2 yangberbudaya Jawa, sejak dari Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantoro, sampai ke Sukarno,Supomo, Sastroamijoyo, dan sekian banyak o-o yang lainnya itu. Dan lihat pula,dan langsung bandingkan dengan yang dari Luar Jawa, khususnya Minangkabau, yangber a-a, sejak dari Tan Malaka, Agus Salim, Hatta, Mohd Yamin, Syahrir, Natsir,Assaat, dsb. Baik secara sendiri2 maupun secara kolektif mereka memperlihatkanpantulan dari sifat2 budaya primordial mereka masing2, kendati semua merekatelah mendapat sepuhan budaya Barat melalui sekolah yang mereka masuki, yangujungnya adalah dikotomi itu, yaitu J yang sinkretik, dan M yang sintetik. VDunia Melayu Dunia Islam Islam sendiri sekarang telah memasuki eragelombang ketiga dari perkembangan peradabannya, yang masing2 era itu berjalanselama lk tujuh abad. Ini sesuai dengan bunyi ayat: “Hari2 itu Kami peredarkandi antara manusia2 (Al Qur’an, Ali ‘Imran 140). Era gelombang pertama adalah sejaklahirnya Islam di sahara Arabia, di kota Makkah dan Madinah di abad ke 6-7 M, lalu menjalar ke berbagai negara, danmencapai titik zenitnya di Kordoba di Spanyol dan Baghdad di Parsia, di abad ke13-14. Sehabis-habis mendaki di zaman keemasannya, sampai di puncaknya, lalumeluncur, dan meluncur habis ke titik nadirnya, di gelombang kedua, selama lk 7 abad pula (abad 13-20), dengan seluruh duniaIslam berada di bawah kekuasaan dan penjajahan Barat. Baru mulai bangkitkembali setelah usainya Perang Dunia Kedua (1945) dengan terbebaskannya satuper satu negara2 Islam itu dari penjajahan Barat yang Keristen itu. Eragelombang ketiga ini diperkirakan juga akan berjalan selama 7 abad pula kedepan.Sekarang Dunia Islam sedang mulai bangkit kembaliuntuk menuju zenitnya kembali. Dalam rangka itulah kita melihat di awal titikbalik ini munculnya DMDI di Asia Tenggara ini. Waktu dan peluang sekarangberada di pihak mereka. Ummat Islam sekarang, sebagaimana yang lainnya, harusbelajar banyak dari gelombang sejarah yang dilaluinya.Inspirasi DMDI ini sebenarnya sudah bermula sejaksebelum Perang Dunia Kedua, di mana tokoh2 politik dan pujangga dari Indonesia,Malaysia dan Filipina sudah memikirkan untuk terbangunnya sebuah commonwealthnegara2 Melayu di Asia Tenggara ini. Namun hubungan antara sesama Melayusendiri tidak selalu berjalan mulus. Ada waktunya mereka bertengkar bercakar-cakaran, terutama di zamanKonfrontasi Orde Lamanya Sukarno. Ada istilah: Ganyang Malaysia. Karenalatar-belakang pembentukan budaya moderen yang berbeda, Malaysia yang dijajaholeh Inggeris, dan Indonesia oleh Belanda, perbedaan cara berfikir, di atasdari dikotomi sintetisme dan sinkretisme primordial tadi, juga melempias kepadacara masing2 membangun dan membentuk negara. Malaysia menekankan pada filosofi Lawand Order, sementara Indonesia pada supremasi birokrasi di mana hukum jadiobyek, bukan subyek. Lantunannya adalah pada tiada terkendalinya nafsu ber KKN– Korupsi, Kolusi, Nepotisme -- di mana saja, dari atas sampai ke bawah pun, daripusat sampai ke daerah. Malaysia, yang menjunjung budaya Melayu, lebihberorientasi sentrifugal, sementara Indonesia yang terkonsentrasi di Jawa lebihberorientasi sentripetal.Ide DMDI gampang tercerna oleh Dunia Melayu yangdi utara Laut Jawa, tetapi tidak oleh Dunia Melayu yang di selatan Laut Jawa,yang larinya pada perbedaan orientasi budaya antara yang sintetis dan yangsinkretis tadi. Karena negara NKRI lebih dikendalikan dari budaya sinkretikdaripada sintetik, maka, walaupun sila pertama Pancasila mengatakan: KetuhananYang Maha Esa, tapi NKRI dengan orientasi sinkretismenya itu tidak mungkinmenjadi Negara Islam – kendati satu2nya agama yang berketuhanan YME adalahIslam. Apalagi mayoritas terbesar (85 %) dari warganegara adalah orang Islam, dan Indonesia pun adalah negara berpenduduk muslimterbesar di dunia. Namun karena dasarnya adalah sinkretik, bukan sintetik,prinsip demokrasi yang juga dianut tidak bisa diberlakukan secara efektif, tapidibumbui dengan dan dikendalikan oleh budaya sinkretik itu.Aspirasi DMDI sejauh ini masih diserap dandiresapi di belahan Malaysia, termasuk Brunei dan Sabah, di samping jugamungkin ada sentuhannya ke Pattani di Thailand Selatan dan Moro di FilipinaSelatan, tetapi belum ke Indonesia. Walau hubungan dagang dan bisnis antaraMalaysia dan Indonesia, dan khususnya di kedua belah sisi Selat Melaka, di ataspermukaan berjalan biasa tanpa gangguan berarti, tapi hubungan budaya tidakselancar seperti diharapkan. Kendalanya a.l. adalah karena adanya ketimpangan pertumbuhanekonomi antara kedua negara, yang Malaysia lebih cepat naiknya dari Indonesia.Banyak tenaga kerja yang berdatangan dari Indonesia berupa TKI dan TKW ditingkat akar rumput, tetapi di Malaysia mendapat perlakuan yang kurangdihargai. Dan ini merembet ke bidang budaya, yang Malaysia lalu melihat kebawah ke Indonesia. Ini juga adalah lempiasan dari ketidak-sukaan hubungan dimasa lalu di masa Orde Lama di bawah Sukarno yang sebaliknya melihat rendahkepada Malaysia, dengan serangan2 politis: Ganyang Malaysia, dsb. Seranganbalik yang dilakukan Malaysia yang berkelanjutan ke saat ini adalah dicecarnyaIndonesia dengan sebutan2 yang sinis dan bahkan menghina, seperti penggunaanistilah “Indon” kepada warga Indonesia yang ada di Malaysia, di samping pembabatantrade mark puncak2 budaya Indonesia yang lalu dikleim dan bahkandipatenkan sebagai trade mark budaya Malaysia. Sejauh ini sudah ada 200 obyekwarisan kebangsaan yang dipatenkan oleh Malaysia sebagai warisan budaya mereka– termasuk makanan, spt rendang, dendeng, serundeng, ikan bakar, ayam panggang, cendol, air kelapa, otak-otak, sate,pisang goreng, kerupuk, dodol, wajik, serikaya, tapai, dsb; lalu di bidangkesenian, spt silat, wayang kulit, batik, dsb; lalu pantun, syair, tulisanjawi, dsb. Semua itu kalau bukan berasal dari Indonesia, sekurangnya milikbersama; tapi lalu dikleim sebagai milik sendiri. Yang bermain dibelakang ini jangan2 adalah pihak2 yang tidak menginginkan adanya kesatuan dankeserasian antara dua suku bangsa Melayu dan dua negara Melayu yang berjirananini, yang kebetulan di kedua negara berjiran ini mereka menguasai ekonomi,perdagangan dan industrinya. Istilah lama: “divideet impera” demi kekuasaan adalah sebuah lagu lama yang berlaku di mana2 disepanjang sejarah manusia. Di sisi lain,denyut yang makin bermakna dari Tamaddun Dunia Islam Gelombang Ketiga di abadke 21 dst ini mau tak mau akan juga mempertemukan Dunia Melayu di Asia Tenggaraini makin dekat antara sesama ke masa depan. Kerjasama-kerjasama di berbagaibidang dan berbagai tingkat diharapkan akan makin mempertemukan puak2 dariDunia Melayu ini ke masa depan. Makin menonjolnya penguasaan ekonomi, bisnisperdagangan dan industri dari Dunia Kuning, sejalan dengan makin berkembangnyamereka sebagai negara termaju di Dunia ke masa depan, menggantikan supremasiDunia kapitalis Barat selama ini, pada gilirannya, sebagai reaksi sebaliknya,Dunia Melayu pun akan makin mendapatkan pegangan yang makin kuat, yang terlahirdengan bermacam kerjasama di berbagai bidang kehidupan itu. Dan di atas semuaitu, DMDI yang sekarang masih berupa impian, nanti akan menjadi kenyataan.Siapa tahu, yang diimpikan oleh Jose Rizal, Tan Malaka dan Tuanku Abdul Rahman, maupun Yousuf Ishaq di masa lalu, ke depan akan menjadikenyataan, dan kenyataan sejarah, di penggal selanjutnya dari abad ke 21 M ini. VIPeran Potensial Suku Melayu Minangkabaudalam Konteks Dunia Melayu Suku Melayu Minangkabau sejak dari hulunya memangsudah tergolong kepada suku Melayu yang tertinggi tingkat mobilitas sosialnya.Dorongan ke arah mobilitas sosial yang tinggi ini juga terkait kepada sistemsosialnya yang mengharuskan anak mudanya merantau terlebih dahulu “selagi dirumah berguna belum,” sesuai dengan bunyi liriknya: “Karatau madang di hulu, berbuahberbunga belum; merantau bujang dahulu di rumah berguna belum.” Akibatnya,lebih dari separoh orang Minang, yang jumlah totalnya sekitar 10 juta, berdiaspora keluar kampung halamannya, bertebaran kemana2 di segenap penjuru Dunia Melayu, bahkan ke banyak negara di dunia ini.Karena orientasi budayanya adalah sentrifugal,bukan sentripetal, di samping juga egaliter-demokratis, mereka juga punyakemampuan yang tinggi untuk menyesuaikan diri dengan situasi setempat. ... “Dimana bumi dipijak, di sana langit dijunjung”... “Menyauk di hilir2, mandi di bawah2” ... “Nan di urang diiyakan, nan di awak dilalukan,” dst, dst. Karenanyajadilah dia seorang Yousuf Ishaq dan Zubir Said di Singapura; Rais Yatim dansekian banyak yang lainnya di Malaysia; Datuk yang bertiga di Sulawesi Selatan– Datuk Ri Bandang, Datuk Ri Tiro, Datuk Ri Pattimang – yang mengembangkanIslam di Sulawesi, serta Raja Baginda di Sulu, Raja Solaiman di Manila, yangmengembangkan Islam di Filipina. Dan tentu saja nyaris tak terhitung banyaknyapara peneruka kemerdekaan dan pelopor-pendiri NKRI, yang dalam persentaseperbandingannya adalah suku yang tertinggi dalam memberikan kontribusinya.Belum pula kalau kita turun ke bawah, ke tingkat menengah sampai ke akar rumputsekalipun di seluruh Nusantara dan Dunia Melayu ini, sesuai dengan kemampuan sertaminat dan himmat masing2. Ini semua karenabertemunya adat dan budaya Minangkabau dengan Islam yang kedua-duanya ternyatapunya banyak kesamaan dalam pandangan weltanschauung-nyayang berorientasi global-universal dan terbuka, yang “kalau dibalun sebalun kuku, kalau dikembang selebar alam.” Namun, karenajalur sejarah itu memang beriak-bergelombang, sejak peristiwa PRRI di dekade1950-an sampai ke masa kini, performansi orang Minang sudah banyak meluntur danmeluncur, sehingga sudah sukar untuk melihat mana dari ketokohan mereka yangmenonjol di pelataran nasional maupun daerah sekalipun, seperti sebelumnya.Faktor penyebabnya ternyata juga banyak: internal dan eksternal. Internal,ternyata tali tempat perpegangan mereka, yaitu budaya adat dan Islam itusendiri, sudah banyak yang dilepas tak bertali, sehingga yang adat dan agamaitu banyak yang tinggal hanya formalitasnya. Rata2 generasi muda sekarang taklagi mengetahui isi dan inti hakekat dari budayaABS-SBK itu. Eksternal, dalam pakaian hidup hari2 mereka sudah lebih banyakmelihat ke luar, ke ajaran nasional yang disalurkan melalui pelajaranSivik-Kewarganegaraan di sekolah2 dan jejaran budaya global melalui komputerdan jaringan teknologi hiper-canggih lainnya sekarang ini. Semua itu memperjauhmereka dari nilai2 luhur yang diajarkan oleh adat dan agama mereka. Dengan upaya mengangkatkan kembali nilai2 luhur yang dibuhul dalambentuk filosofi hidup: ABS-SBK itu, kita mengharapkan, inilah nanti yang akanmenjadi suluh-bendang dalam mengangkatkan kembali marwah dan semangat juang dari suku Minang danMelayu umumnya dalam menghadapi tantangan ke masa depan itu. Dengan filosofiABS-SBK itu pula kita mengharapkan agar futurisme DMDI akan bergerak menuju kecita luhurnya, yaitu bersatunya Dunia Melayu dalam genggaman ajaran Islam dalamkonteks Dunia Islam. Peranan potensial dari suku Melayu Minangkabau dalammemajukan Dunia Melayu dalam konteks Dunia Islam ke masa depan adalah tantanganterbesar yang kita hadapkan kepada suku Minang, di ranah dan di rantau dimanapun. *** -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
