Pascabencana, Sejumlah Nagari Terisolir
Warga Terancam Kelaparan
Rabu,10 Februari 2016 - 15:53:14 wib | Dibaca: 50 kali 
 
PASAMAN, HALUAN – Belasan ribu warga Sumbar khususnya mereka yang berdomisili 
di daerah yang sulit dijangkau, terancam terisolasi. Sebagian besar akses jalan 
dan listrik masih terputus pascabencana banjir dan longsor awal pekan ini. 
Ancaman kelaparan di depan mata karena suplai makanan juga akan sulit.
Camat Mapat Tunggul Selatan (MTS), Lotfriedo Rama, S.STp menyebutkan 4.000 jiwa 
warga Nagari Muaro Sungai Lolo telah terisolasi sejak Sabtu (6/2). Akibat 
guyuran hujan sejak Sabtu hingga Senin kemarin, ruas jalan di MTS banyak yang 
amblas karna longsor atau tertimbun material longsor.
Edo, sapaan akrab Lotfriedo Rama, S.STp, mengkhawatirkan cadangan makanan warga 
akan habis jika jalan menuju Muaro Sungai Lolo tak segera dibuka.”Saya 
khawatir, kalau dua hari ke depan jalan belum juga bisa dilalui, masyarakat 
akan kehabisan makanan.” jelasnya.
Ia menambahkan, longsoran itu banyak terdapat dari perbatasan MTS dengan Rao 
Selatan sampai ke ujung Nagari Muaro Sungai Lolo. ” Tidak terhitung lagi titik 
longsor tersebut, banyak.” kata Edo.
Selain itu, beberapa jembatan hanyut, di antaranya jembatan gantung yang 
merupakan akses utama masyarakat Sungai Lolo ke perkampungan mereka. Selain itu 
dua jembatan yang menghubungkan ke Jorong Rotan Gotah yakni jembatan Lubuak 
Pangkalan dan jembatan batang Timbulan juga putus total bahkan tak berbekas 
lagi. Di Sungai Lolo, empat jembatan yang ada di sana juga putus total.
Khusus Nagari Muaro Sungai Lolo dari enam jorong yang ada di sana hanya satu 
jorong yang bisa diakses itupun dengan kendaraan roda dua, yakni Jorong 
Pangian. Satu nagari lain di MTS yang ikut terisolir adalah Nagari Silayang. 
Jembatan di tengah perkampungan warga yang jadi akses dengan dunia luar, putus 
total akibat hujan deras tersebut. Akses jalan menuju Nagari Silayang juga 
dilanda longsor sekitar lima titik, tetapi bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.
Sarana lain yang juga hancur akibat musibah tersebut yakni pembangkit tenaga 
listrik yang selama ini menerangi perkampungan warga disana yakni PLTMH juga 
rusak total. Beberapa PLTMH yang rusak tersebut yakni PLTMH jorong Pangian, 
Sungai Tour dan PLTMH yang baru dalam proses pembuatan di Muaro Sungai Lolo 
juga ikut hancur.
Selain putusnya akses jalan dan jembatan itu, di Sungai Lolo lebih dari 30 
hektar sawah masyarakat yang baru dua minggu ditanami sudah hancur.  Lahan 
seluas 30 hektar sawah itu sudah dipenuhi oleh kayu glondongan. Masyarakat 
Sungai Lolo sudah mengungsi ke tempat yang lebih tinggi dari pemungkiman mereka.
Guna mengantisipasinya, Pemerintah Kabupaten Pasaman melalui dinas PU sudah 
mengerahkan satu unit alat berat untuk menyingkirkan material longsor dan 
lumpur yang menimbun badan jalan, Selasa (9/2). Kepala Dinas PU Ewilda dijumpai 
di lokasi longsor mengatakan bahwa pengerjaan pembersihan akses jalan ini akan 
diprioritaskannya. ”Kita susul jalan ini dan upayakan membersihkanya secepat 
mungkin.” ungkap Ewilda.
Dari Kabupaten Limapuluh Kota, pejabat setempat merilis ada 10 ribu warganya di 
Kecamatan Bukit Barisan masih terisolasi. Camat Rahmat Hidayat menyebutkan ada 
ratusan meter akses jalan penghubung ke kecamatan Bukit Barisan yang ambruk 
atau tertimbun material longsor. Tak ada akses yang memadai untuk mencapai 
kecamatan paling Utara di Kabupaten Limapuluh Kota itu.
Sebanyak 10 ribu warga itu, kata Rahmat, merupakan warga dari tiga nagari di 
Kecamatan Bukit Barisan, yakni Nagari Sungai Naniang, Nagari Baruah Gunuang dan 
Nagari Koto Tangah.  Selain memutus ruas jalan, longsor juga memutus aliran 
listrik karena ada tiang listrik yang terhondoh material longsor. “Dampak 
terparah terjadi  di Nagari Koto Tangah. Aliran listrik masih padam,”katanya.
Data sementara terkait kerusakan rumah warga di kecamatan yang ia pimpin, 
Rahmat Hidayat menyebutkan Barisan,mengungkapkan, total rumah yang rusak akibat 
pergerakan tanah terus  bertambah.
Dari data awal, ada 23 rumah yang rusak. Namun,  sekarang sudah mencapai 100 
rumah yang retak hingga rusak berat akibat pergerakan tanah longsor.  “Ada 100 
lebih rumah yang rusak dampak dari tanah longsor,”sebutnya.
Berbeda dengan dua daerah ini, di Solok Selatan (Solsel), sebanyak 150 KK 
(kepala keluarga) yang sebelumnya tersisolasi di Kompleks Karyawan PT Pekonina 
Baru (Uberta), telah bisa keluar. “Jalan menuju permukiman yang tertimbun 
longsoran setinggi satu meter lebih saat ini sudah bisa dilalui,”kata 
Walinagari Lubuk Gadang Selatan, Ari Hendratno.
Kepala BPBD Solsel, Editorial menyebutkan, pemerintah telah meminta bantuan 
warga daerah itu yang memiliki alat berat untuk membantu penanggulangan 
bencana, seperti melakukan penimbunan jalan nasional yang terban di daerah 
Liki, Nagari Lubuk Gadang Selatan, Kecamatan Sangir.
Masih Tersendat
Kepala Dishubkominfo Sumbar, Amran ditemui Haluan Selasa (9/2) sore di escape 
building Kantor Gubernur Sumbar mengatakan, hingga saat ini kendaraan di ruas 
jalan Sumbar-Riau di Pangkalan, masih mengantri disebabkan jalur yang akan 
dilalui masih tertutup material longsor. Diperkirakan antrian mencapai 10 
Kilometer.
"Kendaraan memang sudah lewat, namun yang bisa lewat itu baru kendaraan pribadi 
roda empat. Sementara untuk kendaraan truk dan lainnya masih belum bisa, karena 
kondisi jalan yang sempit," terangnya.
Dihubungi terpisah Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Sumbar, S Budi 
Syukur menuturkan, dengan terhambatnya jalur Sumbar - Riau memutus urat nadi 
perekonomian kedua daerah. Ditaksir kerugian akibat terhambatnya jalur ini 
mencapai Rp1 miliar per harinya.
"Memang kendaraan belum berani lewat karena tanahnya masih lembek untuk 
dilalui," terangnya Selasa (9/2) sore melalui sambungan telepon.
Untuk solusi saat ini kata Budi, kendaraan angkutan barang disarankan untuk 
melalui jalur lain yaitu melalui Kiliran Jao. Jalur ini 60 Kilometer lebih jauh 
dari jalur normal, sehingga butuh ongkos yang cukup besar.
Kepala Disprasjaltarkim Sumbar, Suprapto kepada media Selasa (9/2) mengatakan, 
sekarang pihaknya fokus pada tiga titik utama diantaranya Kabupaten Pasaman 
tepatnya di perbatasan Sumbar-Sumatera Utara, perbatasan Sumbar-Riau di 
Kecamatan Pangkalan, Limapuluh Kota dan Muara Labuh, Kabupaten Solok Selatan.
"Untuk daerah yang tidak terkena banjir, alat sudah bekerja. Sementara untuk 
daerah yang terkena banjir, alat masih stand by," kata Suprapto.
Darurat Bencana
Meski 10  kabupaten/kota di Sumbar dilanda bencana banjir dan longsor namun 
Pemprov Sumbar belum akan menaikkan status darurat banjir dan longsor. Saat ini 
baru empat kabupaten/kota yang menaikkan status menjadi darurat banjir dan 
longsor seperti Kabupaten Pasaman, Limapuluh Kota, Sijunjung dan Solok Selatan.
"Untuk Provinsi itu belum perlu," ujar Penjabat Gubernur Sumbar, Reydonnyzar 
Moenek melalui pesan singkatnya Selasa (9/2) sore.
Moenek juga meminta agar fasilitas layanan kesehatan seperti Puskesmas untuk 
buka 24 jam.
Ditemui terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Sumbar, Ali Asmar kepada 
media di Escape Building Kantor Gubernur Sumbar, Selasa (9/2)  pagi mengatakan, 
saat ini petugas BPBD Sumbar dan Kabupaten/Kota terdampak masih melakukan 
pendataan pasca bencana.(h/ndi/ddg/jef/isr)
 
 
 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke