Lompong Sagu Khas Minang Dulu Berjaya Kini Mulai Langka 
Dibaca: *8* kali 
Selasa,16 Februari 2016 - 03:05:33 WIB
[image: Dulu Berjaya Kini Mulai Langka] 

*Lompong ** sagu adalah satu dari sekian banyak kuliner masyarakat 
Minangkabau yang dikenal dengan rasanya yang khas. Dibuat dari adonan 
tepung sagu dan pisang, makanan satu  ini dulunya cukup dikenal oleh 
masyarakat Minang.*

Salah satu hal yang membuktikan lom­pong sagu pernah berjaya di­masanya 
adalah, munculnya lagu berjudul Lom­pong Sagu yang pernah dibawa­kan 
penyanyi Elly Kasim.

Meski dulu begitu dikenal hingga dituangkan dalam bentuk lirik lagu,  
seiring perkem­bangan zaman lompong sagu sudah tak mudah untuk dite­mukan.

Di Kota Padang saja misal­nya, mereka yang masih menjual penganan satu ini 
hampir bisa  dihitung dengan jari. Salah satu tempat  masih mampu  
ber­tahan menjual makanan ini ada­lah, usaha Lompong Sagu Nizar yang 
terletak di Jalan Gunung Pangilun Siteba Padang.

Lompong Sagu Nizar diam­bilkan dari nama pemiliknya, yaitu Nizar (60). 
Sekitar 20 tahun sudah ibu lima anak ini setia untuk menjual lompong sagu.

Bahkan saat makanan tra­disional ini hampir terlupakan dan digantikan 
dengan beragam jenis makanan cepat saji yang menggugah selera, ia tetap 
ber­tahan untuk menjual makanan yang didalamnya diisikan gula merah 
tersebut.

Kakak dari Nizar, Bani yang saat ditemui tengah menggan­tikan Nizar yang 
sedang sakit untuk berjualan, mengatakan, beberapa alasan mem­buat adik­nya 
bertahan untuk men­jajakan lompong sagu.

Yang pastinya, sebut, Bani, adalah untuk menyambung hi­dup. Agar hidup ia 
dan anak-anaknya tetap berlanjut, dan tanpa harus me­min­ta belas kasih 
orang lain, saban tahun Ni­zar tanpa rasa letih menjalani hari  se­bagai 
pedagang lom­pong sagu.

”Suaminya su­dah tak ada saat anak-anaknya masih kecil. Kalau tidak 
berjualan akan dika­sih makan apa kepo­nakan saya itu. Ka­rena dia pandai 
dalam membuat lompong sagu,  jadinya Nizar menjadikan ini sebagai mata 
pencaharian,” kata Bani menceritakan tentang kehidupan adiknya pada 
*Haluan.*

Sebesar keyakinan  Nizar untuk membesarkan anak-anak­nya sepeninggal sang 
suami, sepertinya, sebesar itu pula lah tuhan membukakan pintu reze­ki pada 
wanita yang berkam­pung halaman di Solok tersebut.

Meski menjual makanan yang notabene sudah tidak begitu dikenal, ia tetap 
bisa melanjutkan hidup, menyekolahkan anak-anak, dan bahkan mem­bangun 
rumah untuk ting­gal mereka.

Menurut Bani  mela­lui ber­ju­alan lompong sagu, dengan modal se­kitar 
Rp200 ribu usai berjualan Nizar bisa mem­bawa pulang sekitar Rp350 ribu 
per­hari.

“Yang membeli tak hanya dari Padang saja, ada yang datang dari luar Padang. 
Bagi yang merasa makanan ini sesuai selera, tak jarang mereka membeli 
da­lam jumlah banyak.

Kemarin saja, ada yang me­mesan satu karton untuk di bawa ke Pakanbaru, 
sebe­lum­nya hal seperti itu juga sering terjadi, pembeli memesan untuk 
dibawa ke luar daerah,”  papar Bani.

Disebut  Bani lagi, alasan lain yang juga mem­buat adiknya ber­tahan 
berjualan lompong sagu selama bertahun-tahun adalah, karena ia sadar 
penganan satu ini sudah tak banyak lagi tersedia atau dijual dipasaran.

Dulu waktu ia dan Nizar kecil,  kata Bani, selain nasi, sang ibu sering 
membuat makanan tradisonal seperti lompong sagu untuk dimakan oleh  
anak-anak­nya.

“Waktu kami kecil itu, pulang main kami sering makan lom­pong sagu buatan 
ibu sebagai pengganjal perut.  Tapi sayang, hal seperti itu sekarang sudah 
jarang dilakukan orang-orang. Jika kami yang tua-tua ini masih bisa 
mengenalkan lompong sagu melalui berjualan makanan ini, kenapa tidak. 

Dengan begitu anak-anak sekarang kan jadi tau juga maka­nan apa yang biasa 
dimakan nenek-nenek mereka saat kecil dulu,” kata Bani dengan terse­nyum.

Tentang usaha Lompong Sa­gu Nizar, menurut Bani tempat berdagang yang 
dirintis adiknya tersebut telah dibuka dari pukul 14.00 siang hingga usai 
magrib.

 Selain lompong sagu,  di sana tersedia atau dijual juga palai bada. 
Lompong sagu harganya Rp2.000 perbungkus, dan palai bada dijual seharga 
Rp6.000 perbungkus daun pisangnya.

“Kalau  untuk buka berju­alan, adik saya itu bukanya setiap hari. Seperti 
sekarang saja mi­salnya biarpun dia sedang sakit dia minta saya untuk 
meng­gantikan,” pungkas Bani. *(*)*

 

Laporan: *LENI MARLINA*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke