*Menjemput Kejayaan Masa Lalu*

*Usaha Bus Wisata Vircansa dan NPM* Menjemput Kejayaan Masa Lalu 
Dibaca: *1697* kali 
Sabtu,27 Februari 2016 - 00:38:47 WIB
[image: Menjemput Kejayaan Masa Lalu] 

*USAHA *bus NPM yang merupakan singkatan dari Naikilah Perusahaan Minang, 
tentunya sudah tak asing lagi bagi masyarakat Sumbar. Bus yang me­layani 
pe­numpang antar kota dalam provinsi dan juga luar provinsi ini, sempat 
jaya pada masanya.

Namun seiring maraknya jasa travel dan makin ketatnya persaingan bisnis 
transportasi, usaha bus NPM mulai me­redup. Apalagi ketika angku­tan udara 
mematok tarif mu­rah, maka jasa bus antar pro­vinsi seperti NPM, mulai 
ditinggalkan. Penumpang le­bih memilih nasik pesawat.

Meski demikian, sang pe­milik NPM, Angga Vircansa Chairul tak patah arang. 
Angga adalah putra Chairul B. Ketika sang ayah meninggal dunia, Angga 
melanjutkan usaha ayahnya berbisnis moda trans­portasi, menjemput kembali 
kejayaan NPM sebagai usaha otobus tertua di Ranah Mi­nang yang sempat redup.

Dia seorang pengusaha muda asal Padangpanjang yang juga menjabat Wakil 
Ketua Ikatan Pengusaha Oto­bus Indonesia (IPOMI) Pusat. Meski sang ayah 
meninggalkan bisnis yang cukup  mapan, namun Angga tak langsung melanjutkan 
usaha tersebut. 

Alumni Charles Sturt Uni­versity Sidney ini, sempat menimba ilmu dan 
mencari pengalaman di bidang usaha lain sebagai ‘anak buah’ orang, seperti  
menjadi pelayan di KFC Sidney sambil kuliah.

“Sebelum masuk ke NPM, saya sempat bekerha sebagai Asisten Manager Produk 
Bank Danamon di Jakarta. Juga saat kuliah, saya pernah bekerja sebagai 
pelayan di KFC Sid­ney,” kata ayah 2 dari Rui (7) dan Ken (2) ini.

Kemudian, bermodal ke­yakinan sesuai ilmu dan juga pengalaman kerjanya, 
Angga membenahi 20 buah armada NPM peninggalan sang ayah. Semuanya boleh 
dikatakan tidak layak operasi. Sebagian diganti karoserinya dan se­bagian 
lagi dikanibal. Kerja kerasnya secara perlahan tapi pasti menunjukkan 
kemajuan.

Bertahap, moda trans­por­tasinya bertambah. Kini NPM memiliki 52 unit bus 
reguler eksekutif. Angga juga me­ngembangkan bisnis bus pari­wisata dengan 
merek Virca­nza. Tetapi mungkin tak ba­nyak yang tahu, jika merek bus 
tersebut diambil dari bagian dari namanya, Angga Vircansa Chairul.

“Peluang usaha ini sangat menjanjikan. Saat ini terdapat 8 unit bus wisata 
Vircansa. Dan untuk melayani konsumen, kita dibantu 30 orang  karya­wan 
tetap, 120 orang sopir dan 60 orang stoker,” terang Angga yang merupakan 
anak tertua dari 4 bersaudara ini.

Vircanza melayani kon­sumen untuk berbagai tujuan. Tarifnya untuk dalam 
provinsi selain ke Dharmasraya dan Pasaman Barat, dibandrol sehari 
Rp3.250.000. Sedang­kan luar provinsi Rp3.­750.­000/ hari. Bus ini bisa 
meng­angkut 47 penumpang. Bagi konsumen yang meman­faat­kan jasa bus lebih 
dari 5 hari, akan diberikan diskon khusus. 

Angga juga menyediakan bus ukuran medium dengan tarif Rp2.250.000/ hari, 
kecu­ali untuk rute Dharmasraya dan Pasaman Barat. Sedang­kan layanan untuk 
luar pro­vinsi Rp2.750.000. untuk jasa bus NPM, menyesuaikan saja.

Bus wisata Vircanza ada­lah bus wisata berkelas yang dirancang khusus, 
sehingga terasa nyaman dalam perja­lanan. Memiliki bangku du­duk ala kursi 
penumpang pesa­wat dan full AC. Untuk perja­lanan jarak jauh disediakan 
selimut serta wifi. Mayoritas bus Vircanza ini adalah kelu­aran Mercedes.

“Kami ingin memberikan pela­yanan terbaik bagi pelang­gan kami, karena 
penumpang itu adalah raja,”  sebut Angga di kantor pusat PT NPM Ngalau 
Padangpanjang bebe­rapa hari yang lalu.

Menurut suami dari Novia Gita Merryani ini, bus wisata eksekutif Vircansa 
adalah pengembangan angkutan regu­ler NPM. Dalam mengem­bangkan sayap 
bisnis, Angga menyebut kuncinya adalah menanamkan rasa cinta pada pekerjaan 
dan melakukannya sepenuh hati.

“Benih  itu yang ingin kita tanamkan pada karyawan. Ka­rena apabila 
pekerjaan itu dilakukan dengan rasa cinta dan sepenuh hati, maka pasti akan 
mendatangkan hasil,” jelasnya.

Angga juga menerapkan pada semua karyawannya agar selalu menebar senyum 
seba­gai aplikasi dari rasa cinta pekerjaan itu. Selain itu, dia juga 
menginginkan agar kar­yawannya memahami bahasa Inggris. Sebab bahasa adalah 
kata kunci dalam melayani wisatawan sejalan pula dengan era Masyarakat 
Ekonomi Ase­an (MEA). *(h/*)*

 

Laporan: *H IWAN DN*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke