Tarimo kasih Bundo Nizzmah semoga sehat s
elalu. Wass. H.asmun Depok
Pada Kamis, 28 April 2016 21:28, 'Bunda Nismah' via RantauNet
<[email protected]> menulis:
Salah satu dari tujuan PRRI gerakan bersama anti komunis (GEBAK)
Sejarah, Kronologi Dan Daftar Kekejaman PKI Di Indonesia Sejak 1945-1965
Di era Reformasi sekarang ini, di saat orang disibukkan dengan urusan
masing-masing, dipusingkan dengan melonjaknya harga aneka kebutuhan,
diputus-asakan oleh ketidak-adilan sosial dan penegakkan hukum, boleh jadi
orang akan melupakan sejarah hitam yang pernah dilakukan PKI di negeri ini.
Dua kali di tahun 1948 dan 1965 mereka mencoba merampas kedaulatan negara ini
dengan cara yang brutal, membantai, menyembelih dan mengubur hidup-hidup siapa
saja yang dianggap menghalangi upaya mengkomuniskan Indonesia.
Janganlah kita hanya mengingat kebiadaban mereka hanya setahun sekali tiap
tanggal 30 September saja.
Sangat mungkin mereka terus bergerilya bahkan menyusup ke pilar-pilar kekuasaan
untuk dapat mengulangi usahanya yang sudah dua kali gagal.
Mereka belum menampak kan wajah aslinya, sampai masanya dianggap sudah pas, dan
di saat itu bangsa ini terlambat untuk menghentikannya,
Naudzubillah min dzaalik.
Artikel ini menyajikan kronologi serangkaian kekejaman mereka yang terstruktur
dan berkesinambungan, agar masyarakat Indonesia terus mewaspadai gerak-gerik
mereka, mengidentifikasi dan mengenal modus-modus yang menjadi ciri khasnya.
Jangan lupakan sejarah !!!
Kronologis Kekejaman PKI Di Indonesia
Tanggal 8 Oktober 1945 : Gerakan Bawah Tanah PKI membentuk API (Angkatan Pemuda
Indonesia) dan AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia).
Medio Oktober 1945 : AMRI Slawi pimpinan Sakirman dan AMRI Talang pimpinan
Kutil menteror, menangkap dan membunuh sejumlah pejabat pemerintah di Tegal.
Tanggal 17 Oktober 1945 : Tokoh Komunis Banten Ce’ Mamat yang terpilih sebagai
Ketua KNI (Komite Nasional Indonesia) membentuk DPRS (Dewan Pemerintahan Rakyat
Serang) dan merebut pemerintahan Keresidenan Banten melalui teror dengan
kekuatan massanya.
Tanggal 18 Oktober 1945 : Badan Direktorium Dewan Pusat yang dipimpin Tokoh
Komunis Tangerang, Ahmad Khoirun, membentuk laskar yang diberi nama Ubel-Ubel
dan mengambil alih kekuasaan pemerintahan Tangerang dari Bupati Agus
Padmanegara.
Tanggal 21 Oktober 1945 : PKI dibangun kembali secara terbuka.
Tanggal 4 November 1945 : API dan AMRI menyerbu Kantor Pemda Tegal dan Markas
TKR, tapi gagal. Lalu membentuk Gabungan Badan Perjuangan Tiga Daerah untuk
merebut kekuasaan di Keresidenan Pekalongan yang meliputi Brebes, Tegal dan
Pemalang.
Tanggal 9 Desember 1945 : PKI Banten pimpinan Ce’ Mamat menculik dan membunuh
Bupati Lebak, R. Hardiwinangun, di Jembatan Sungai Cimancak.
Tanggal 12 Desember 1945 : Ubel-Ubel Mauk yang dinamakan Laskar Hitam di bawah
pimpinan Usman membunuh Tokoh Nasional Oto Iskandar Dinata.
Tanggal 12 Februari 1946 : PKI Cirebon di bawah pimpinan Mr.Yoesoef dan
Mr.Soeprapto membentuk Laskar Merah merebut kekuasaan Kota Cirebon dan melucuti
TRI.
Tanggal 14 Februari 1946 : TRI merebut kembali Kota Cirebon dari PKI.
Tanggal 3 - 9 Maret 1946 : PKI Langkat – Sumatera di bawah pimpinan Usman
Parinduri dan Marwan dengan gerakan massa atas nama revolusi sosial menyerbu
Istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura dan membunuh Sultan bersama
keluarganya serta menjarah harta kekayaannya.
Tahun 1947 : Kader PKI Amir Syarifuddin Harahap berhasil jadi PM Republik
Indonesia dan membentuk kabinet.
Tanggal 17 Januari 1948 : PM Amir Syarifuddin Harahap menggelar Perjanjian
Renville dengan Belanda.
Tanggal 23 Januari 1948 : Presiden Soekarno membubarkan Kabinet PM Amir
Syarifuddin Harahap dan menunjuk Wapres M Hatta untuk membentuk Kabinet baru.
Bulan Januari 1948 : PKI membentuk FDR (Front Demokrasi Rakyat) yang dipimpin
oleh Amir Syarifuddin untuk beroposisi terhadap Kabinet Hatta.
Tanggal 29 Mei 1948 : M. Hatta melakukan ReRa (Reorganisasi dan Rasionalisasi)
terhadap TNI dan PNS untuk membersihkannya dari unsur-unsur PKI.
Bulan Mei 1948 : Muso pulang kembali dari Moskow – Rusia setelah 12 (dua belas)
tahun tinggal disana.
Tanggal 23 Juni – 18 Juli 1948 : PKI Klaten melalui SARBUPRI (Serikat Buruh
Perkebunan Republik Indonesia) melakukan pemogokan massal untuk merongrong
pemerintah RI.
Tanggal 11 Agustus 1948 : Muso memimpin FDR / PKI dan merekonstruksi Politbiro
PKI, termasuk DN. Aidit, MH Lukman dan Nyoto.
Tanggal 13 Agustus 1948 : Muso bertemu dengan Presiden Soekarno dan diminta
untuk memperkuat Perjuangan Revolusi, namun dijawab bahwa dia pulang untuk
menertibkan keadaan, yaitu untuk membangun dan memajukan FDR / PKI.
Tanggal 19 Agustus 1948 : PKI Surakarta membuat KERUSUHAN membakar pameran HUT
RI ke-3 di Sriwedari – Surakarta, Jawa Tengah.
Tanggal 26 – 27 Agustus 1948 : Konferensi PKI .
Tanggal 31 Agustus 1948 : FDR dibubarkan, lalu Partai Buruh dan Partai Sosialis
berfusi ke PKI.
Tanggal 5 September 1948 : Muso dan PKI nya menyerukan RI agar berkiblat ke UNI
SOVIET.
Tanggal 10 September 1948 : Gubernur Jawa Timur RM Ario Soerjo dan dua perwira
polisi dicegat massa PKI di Kedunggalar – Ngawi dan dibunuh, serta jenazahnya
dibuang di dalam hutan.
Medio September 1948 : Dr. Moewardi yang bertugas di Rumah Sakit Solo dan
sering menentang PKI diculik dan dibunuh oleh PKI, begitu juga Kol. Marhadi
diculik dan dibunuh oleh PKI di Madiun, kini namanya jadi nama Monumen di
alun-alun Kota Madiun.
Tanggal 13 September 1948 : Bentrok antara TNI pro pemerintah dengan unsur TNI
pro PKI di Solo.
Tanggal 17 September 1948 : PKI menculik para Kyai Pesantren Takeran di
Magetan. KH Sulaiman Zuhdi Affandi digelandang secara keji oleh PKI dan dikubur
hidup-hidup di sumur pembantaian Desa Koco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan.
Di sumur tersebut ditemukan 108 (seratus delapan) kerangka jenazah korban
kebiadaban PKI. Selain itu, ratusan orang ditangkap dan dibantai PKI di Pabrik
Gula Gorang Gareng.
Tanggal 18 September 1948 : Kolonel Djokosujono dan Sumarsono mendeklarasikan
NEGARA REPUBLIK SOVIET INDONESIA dengan Muso sebagai Presiden dan Amir
Syarifoeddin Harahap sebagai Perdana Menteri.
Tanggal 19 September 1948 : Soekarno menyerukan rakyat Indonesia untuk memilih
Muso atau Soekarno–Hatta. Akhirnya, Pecah perang di Madiun : Divisi I
Siliwiangi pimpinan Kol. Soengkono menyerang PKI dari Timur dan Divisi II
pimpinan Kol.Gatot Soebroto menyerang PKI dari Barat.
Tanggal 19 September 1948 : PKI merebut Madiun, lalu menguasai Magetan,
Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Ngawi, Purwantoro, Sukoharjo, Wonogiri,
Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang dan Cepu serta kota-kota lainnya.
Tanggal 20 September 1948 : PKI Madiun menangkap 20 orang polisi dan menyiksa
serta membantainya.
Tanggal 21 September 1948 : PKI Blitar menculik dan menyembelih Bupati Blora
Mr. Iskandar dan Camat Margorojo – Pati Oetoro, bersama tiga orang lainnya
yaitu Dr.Susanto, Abu Umar dan Gunandar, lalu jenazahnya dibuang ke sumur di
Dukuh Pohrendeng Desa Kedungringin Kecamatan Tujungan Kabupaten Blora.
Tanggal 18 – 21 September 1948 : PKI menciptakan 2 (Dua) Ladang Pembantaian /
Killing Fields dan 7 (Tujuh) Sumur Neraka di MAGETAN untuk membuang semua
jenazah korban yang mereka siksa dan bantai :
a. Ladang Pembantaian Pabrik Gula Gorang Gareng di Desa Geni Langit.
b. Ladang Pembantaian Alas Tuwa di Desa Geni Langit.
c. Sumur Neraka Desa Dijenan Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Magetan.
d. Sumur Neraka Desa Soco I Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan.
e. Sumur Neraka Desa Soco II Kecamatan Bendo Kabupaten Magetan.
f. Sumur Neraka Desa Cigrok Kecamatan Kenongomulyo Kabupaten Magetan.
g. Sumur Neraka Desa Pojok Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan.
h. Sumur Neraka Desa Bogem Kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan.
i. Sumur Neraka Desa Batokan Kecamatan Banjarejo Kabupaten Magetan.
Tanggal 30 September 1948 : Panglima Besar Sudirman mengumumkan bahwa tentara
pemerintah RI berhasil merebut dan menguasai kembali Madiun. Namun Tentara PKI
yang lari dari Madiun memasuki Desa Kresek Kecamatan Wungu Kabupaten Dungus dan
membantai semua tawanan yang terdiri dari TNI, Polisi, pejabat pemerintah,
Tokoh Masyarakat dan Ulama serta Santri.
Tanggal 4 Oktober 1948 : PKI membantai sedikitnya 212 tawanan di ruangan bekas
Laboratorium dan gudang dinamit di Tirtomulyo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Tanggal 30 Oktober 1948 : Para Pimpinan Pemberontakan PKI di Madiun ditangkap
dan dihukum mati, seperti Muso, Amir Syarifuddin, Suripno, Djokosujono, Maru
to Darusman, Sajogo, dan lainnya.
Tanggal 31 Oktober 1948 : Muso dieksekusi di Desa Niten Kecamatan Sumorejo
Kabupaten Ponorogo. Sedang MH Lukman dan Nyoto pergi ke pengasingan di Republik
Rakyat China (RRC).
Akhir November 1948 : seluruh pimpinan PKI Muso berhasil dibunuh atau
ditangkap, dan seluruh daerah yang semula dikuasai PKI berhasil direbut, antara
lain : Ponorogo, Magetan, Pacitan, Purwodadi, Cepu, Blora, Pati, Kudus, dan
lainnya.
Tanggal 19 Desember 1948 : Agresi Militer Belanda kedua ke Yogyakarta.
Tahun 1949 : PKI tetap tidak dilarang, sehingga tahun 1949 dilakukan
rekontruksi PKI dan tetap tumbuh berkembang hingga tahun 1965.
Awal Januari 1950 : Pemerintah RI dengan disaksikan puluhan ribu masyarakat
yang datang dari berbagai daerah seperti Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo dan
Trenggalek, melakukan pembongkaran 7 (Tujuh) Sumur Neraka PKI dan
mengidentifikasi para korban.
Di Sumur Neraka Soco I ditemukan 108 kerangka mayat yang 68 dikenali dan 40
tidak dikenali, sedang di Sumur Neraka Soco II ditemukan 21 kerangka mayat yang
semuanya berhasil diidentifikasi. Para korban berasal dari berbagai kalangan
Ulama dan Umara serta Tokoh Masyarakat.
Tahun 1950 : PKI memulai kembali kegiatan penerbitan Harian Rakyat dan Bintang
Merah.
Tanggal 6 Agustus 1951 : Gerombolan Eteh dari PKI menyerbu Asrama Brimob di
Tanjung Priok dan merampas semua senjata api yang ada.
Tahun 1951 : Dipa Nusantara Aidit memimpin PKI sebagai Partai Nasionalis yang
sepenuhnya mendukung Presiden Soekarno sehingga disukai Soekarno, lalu Lukman
dan Nyoto pun kembali dari pengasingan untuk membantu DN Aidit membangun
kembali PKI.
Tahun 1955 : PKI ikut Pemilu pertama di Indonesia dan berhasil masuk empat
Besar setelah MASYUMI, PNI dan NU.
Tanggal 8 – 11 September 1957 : Kongres Alim Ulama Seluruh Indonesia di
Palembang – Sumatera Selatan mengharamkan ideologi Komunis dan mendesak
Presiden Soekarno untuk mengeluarkan Dekrit Pelarangan PKI dan semua mantel
organisasinya, tapi ditolak oleh Soekarno.
Tahun 1958 : Kedekatan Soekarno dengan PKI mendorong Kelompok Anti PKI di
Sumatera dan Sulawesi melakukan koreksi hingga melakukan pemberontakan terhadap
Soekarno. Saat itu MASYUMI dituduh terlibat, karena Masyumi merupakan MUSUH
BESAR PKI.
Tanggal 15 Februari 1958 : Para pemberontak di Sumatera dan Sulawesi
mendeklarasikan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), namun
pemberontakkan ini berhasil dikalahkan dan dipadamkan.
Tanggal 11 Juli 1958 : DN Aidit dan Rewang mewakili PKI ikut Kongres Partai
Persatuan Sosialis Jerman di Berlin.
Bulan Agustus 1959 : TNI berusaha menggagalkan Kongres PKI, namun kongres
tersebut tetap berjalan karena ditangani sendiri oleh Presiden Soekarno.
Tahun 1960 : Soekarno meluncurkan slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis)
yang didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali
terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.
Tanggal 17 Agustus 1960 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan
Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustuts 1960 tentang PEMBUBARAN
MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) dengan dalih tuduhan keterlibatan
Masyumi dalam pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.
Pertengahan Tahun 1960 : Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin
kuat dengan keanggotaan mencapai 2 (dua) juta orang.
Bulan Maret 1962 : PKI resmi masuk dalam pemerintahan Soekarno, DN Aidit dan
Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.
Bulan April 1962 : Kongres PKI.
Tahun 1963 : PKI memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan
Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yang terdiri dari BURUH
dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela
negara” melawan Malaysia.
Tanggal 10 Juli 1963 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden
RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan
Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.
Tahun 1963 : Atas desakan dan tekanan PKI terjadi Penangkapan Tokoh-Tokoh
Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : KH. Buya Hamka, KH.Yunan H
elmi Nasution, KH. Isa Anshari, KH. Mukhtar Ghazali, KH. EZ. Muttaqien, KH.
Soleh Iskandar, KH. Ghazali Sahlan dan KH. Dalari Umar.
Bulan Desember 1964 : Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat
Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa
PKI sedang menyiapkan KUDETA.
Tanggal 6 Januari 1965 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Surat Keputusan
Presiden RI No.1 / KOTI / 1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN
PARTAI MURBA, dengan dalih telah memfitnah PKI.
Tanggal 13 Januari 1965 : Dua sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI
(Barisan Tani Indonesia) menyerang dan menyiksa peserta Training PII (Pelajar
Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus
melecehkan pelajar wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mush-haf Al-Qur’an dan
merobek serta menginjak-injaknya.
Awal Tahun 1965 : PKI dengan 3 juta anggota menjadi Partai Komunis terkuat di
luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain : SOBSI
(Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, BTI
(Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan
Sardjana Indonesia).
Tanggal 14 Mei 1965 : Tiga sayap organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI
merebut perkebunan negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara,
dengan menangkap dan menyiksa serta membunuh Pelda Sodjono penjaga PPN
(Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi. Bulan Juli 1965 : PKI
menggelar pelatihan militer untuk 2000 anggotanya di Pangkalan Udara Halim
dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela negara”, dan dibantu oleh unsur
TNI Angkatan Udara.
Tanggal 21 September 1965 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan
Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN
PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.
Tanggal 30 September 1965 Pagi : Ormas PKI Pemuda Rakjat dan Gerwani menggelar
Demo Besar di Jakarta.
Tanggal 30 September 1965 Malam : Terjadi Gerakan G30S / PKI atau disebut juga
GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh) :
a. PKI menculik dan membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan
membuang mayatnya ke dalam sumur di LUBANG BUAYA – Halim, mereka adalah :
Jenderal Ahmad Yani, Letjen R.Suprapto, Letjen MT Haryono, Letjen S. Parman,
Mayjen Panjaitan dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo.
b. PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal
Abdul Haris Nasution. c. PKI pun membunuh AIP KS Tubun seorang Ajun Inspektur
Polisi yang sedang bertugas menjaga rumah kediaman Wakil PM Dr. J. Leimena yang
bersebelahan dengan rumah Jenderal AH Nasution. d. PKI juga menembak putri
bungsu Jenderal AH Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, Ade Irma Suryani
Nasution, yang berusaha menjadi perisai ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian
ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965. e. G30S / PKI
dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yang membentuk tiga kelompok gugus tugas
penculikan, yaitu : Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan Pasukan
Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta Pasukan Bima Sakti dipimpin
Kapten Suradi. f. Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh
sejumlah perwira ABRI / TNI dari berbagai angkatan, antara lain : - Angkatan
Darat : Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, Brigjen TNI Soepardjo dan Kolonel
Infantri A. Latief. - Angkatan Laut : Mayor KKO Pramuko Sudarno, Letkol Laut
Ranu Sunardi dan Komodor Laut Soenardi. - Angakatan Udara : Men / Pangau
Laksyda Udara Omar Dhani, Letkol Udara Heru Atmodjo dan Mayor Udara Sujono. -
Kepolisian : Brigjen Pol. Soetarto, Kombes Pol. Imam Supoyo dan AKBP Anwas
Tanuamidjaja.
Tanggal 1 Oktober 1965 : PKI di Yogyakarta juga membunuh Brigjen Katamso
Darmokusumo dan Kolonel Sugiono. Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya
DEWAN REVOLUSI baru yang telah mengambil alih kekuasaan.
Tanggal 2 Oktober 1965 : Soeharto mnegambil alih kepemimpinan TNI dan
menyatakan Kudeta PKI gagal dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut pangkalan
udara Halim dari PKI.
Tanggal 6 Oktober 1965 : Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet
dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan
terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung
ditangkap.
Tanggal 13 Oktober 1965 : Ormas Anshor NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di
seluruh Jawa.
Tanggal 18 Oktober 1965 : PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini
Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar
untuk pengajian.
Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yang menyamar
sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah keracunan mereka dibantai
oleh PKI dan jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa /
Kecamatan Cluring Kabupaten Banyuwangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang
Pemuda Anshor yang dibantai, dan ada beberapa pemuda yang selamat dan melarikan
diri, sehingga menjadi saksi mata peristiwa. Persitiwa tragis itu disebut
Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen
Pancasila Jaya.
Tanggal 19 Oktober 1965 : Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di
Jawa.
Tanggal 11 November 1965 : PNI dan PKI bentrok di Bali.
Tanggal 22 November 1965 : DN Aidit ditangkap dan diadili serta dihukum mati.
Bulan Desember 1965 : Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.
Tanggal 11 Maret 1965 : Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari
Presiden Soekarno yang memberi wewenang penuh kepada Soeharto untuk mengambil
langkah pengamanan Negara RI.
Tanggal 12 Maret 1965 : Soeharto melarang secara resmi PKI.Bulan April 1965 :
Soeharto melarang Serikat Buruh Pro PKI yaitu SOBSI.
Tanggal 13 Februari 1966 : Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara
terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan : ”Di
Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa
sebesar PKI…”
Tanggal 5 Juli 1966 : Terbit TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani
Ketua MPRS – RI Jenderal TNI AH Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan
penyebaran paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.
Bulan Desember 1966 : Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk
membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1967.
Tahun 1967 : Sejumlah kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea dan Ruslan
Widjajasastra, bersembunyi di di wilayah terpencil di Selatan Blitar bersama
kaum Tani PKI.Bulan Maret 1968 : Kaum Tani PKI di Selatan Blitar menyerang para
pemimpin dan kader NU, sehingga 60 (enam puluh) orang NU tewas dibunuh.
Pertengahan 1968 : TNI menyerang Blitar dan menghancurkan persembunyian
terakhir PKI.
Dari tahun 1968 s/d 1998 : Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh
mantel organisasi nya dilarang di seluruh Indonesia dengan dasar TAP MPRS
No.XXV Tahun 1966.
Dari tahun 1998 s/d 2015 : Pasca Reformasi 1998 Pimpinan dan Anggota PKI yang
dibebaskan dari penjara, beserta keluarga dan simpatisannya yang masih
mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga
kini mereka meraja-lela melakukan aneka gerakan pemutar balikkan fakta sejarah
dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN pejuang kemerdekaan RI.
Sejarah kekejaman yang sangat panjang, jangan biarkan mereka menambah lagi
daftar kekejaman di negeri tercinta ini.
INSYAALLAH bermanfaat.
Sent from my iPad
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.