Sebagaimana dahulu Muhammad SAW, yang hanya tinggal di dusun di “tengah
padang pasir” kerontang Arab, namun jika Pencipta dan Penguasa Semesta
berkehendak menunjukinya, orang dusun yang tidak sekolah inipun kemudian
bisa dibuatNya menjelma menjadi “guru dari segala macam guru besar dan
professor dunia, pemimpin dari banyak pemimpin dan raja besar dunia,
menjadi tokoh terbesar pengubah jalannya kehidupan dunia”. Itupun bisa
terjadi selama berabad-abad mulai dari masa kerasulannya sampai sekarang.
Meskipun dia sendiri sudah lama mati dan jasadnya barangkali sudah dari
lama menjadi tanah kembali, namun seolah dia masih hidup di tengah-tengah
pengikut yang betul-betul percaya kepadanya, di seluruh dunia.



Copas artikel berikut agaknya juga memperlihatkan kebesaran Allah yang lain
di masa kita, di dekat kita, di di Dusun III Desa Telaga Said, Langkat,
Sumut, tidak berapa jauh dari Sumatera Barat atau Minangkabau. Jika Allah
berkehendak menunjuki manusia, orang dusunpun bisa dibuatNya jauh lebih
berakal dan hebat daripada ilmuan kota atau orang dan pemimpin “besar”
suatu wilayah atau negara, yang meskipun memiliki segala macam kekuasaan,
perangkat dan fasilitas lainnya yang seharusnya bisa jauh lebih hebat
daripada orang dusun ini.



Dari informasi artikel, terlihat bahwa sang pemimpin dusun, Muhammad Imam
Hanafi, sangatlah mengerti dengan ayat-ayat Al Qur’an berikut:



Al Qur’an, Al Hijr (Negri Kaum Samud) [15]:20

Dan KAMI TELAH MENJADIKAN UNTUKMU DI BUMI KEPERLUAN-KEPERLUAN HIDUP, dan
(Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang KAMU SEKALI-KALI BUKAN PEMBERI
REZEKI KEPADANYA.



Al Qur’an, Al A’raaf (Tempat Tertinggi) [7]:10

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka BUMI dan KAMI
ADAKAN BAGIMU DI MUKA BUMI ITU (SUMBER) PENGHIDUPAN. Amat sedikitlah kamu
bersyukur.



Dia tampaknya sangat mengerti bahwa “sejengkal” tanah kampung yang
dikaruniai Allah kepada mereka sangatlah cukup untuk menopang kehidupan
mereka dan berkembang dengan itu. Dia sangatlah mengerti bahwa tidaklah
perlu belajar sampai ke negeri Cina segala karena sudah memiliki Al Qur’an
yang merupakan petunjuk yang sangat lengkap untuk bisa hidup nyaman dan
sejahtera di kampungnya. Dia nampaknya juga sangat paham bahwa tidak
memerlukan investor luar apapun yang akan mengeksploitasi atau bahkan
menjarah kampungnya untuk membuat kampungnya bisa tumbuh dan berkembang.
Dan tampaknya, dia mensyukuri segala karunia yang diberikan Allah kepada
mereka dengan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Jika dia bisa
membuktikan semua objektif kehidupan tersebut bisa dengan mudah mereka
capai dengan perangkat yang sangat minim dan sederhana,  bagaimana mungkin
kita masih bisa menganggap seorang adalah “pakar” atau pemimpin hebat namun
tidak kunjung mencapainya meski dengan perangkat dan organisasi yang serba
kompleks dan mahal, lebih pintar dan hebat daripada dia ?



Jika saja ada malaikat disekitar kita selama membaca dan merenungkan kenapa
bisa terjadi ayat-ayat nyata dari artikel tersebut, barangkali saja dia
bisa bergumam,


*“Lah sagalo macam ayat Allah diagiahkan, dibacokan dan dicaliakkan sebagai
bukti dan petunjuk untuk bisa hidup dengan lebih mudah dan hebatnyo Islam,
indak mangarati lai den do, baa kok buku petunjuk mukjizat itu indak juo
dibaco dan diikuti ? Jalan rasul dan tuhan ma nan sabananyo diikuti ?”*


Wallahu alam bissawab. Semoga tidak ada malaikat yang bergumam seperti
demikian di kepada kita.



Salam Z





http://www.sumutonline.com/europe/item/1220-unik-perkampungan-matfa-menghidupi-1600-warga-swakelola.html


Unik ! Perkampungan MATFA, Menghidupi 1600 Warga Swakelola


Written by  SumutOnline
<http://www.sumutonline.com/europe/itemlist/user/317-sumutonline.html>
Published
in Gaya Hidup <http://www.sumutonline.com/europe.html> Sunday, 28 September
2014 06:42



Kampung ini menghidupi 1600 warga swakelola, memiliki pertanian, industri,
peternakan, untuk menghidupi kebutuhan pangan, pendidikan dan kesehatan
masyarakatnya. (Foto: Yose Piliang)


Langkat, *SumutOnline*- Hidup dengan *pengelolaan swakelola* pangan murni
ternyata bukan mimpi. *Perkampungan MATFA* di Dusun III Desa Telaga Said
Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat saat ini menjadi satu-satunya
kampung Muslim yang bisa memenuhi kebutuhan 1600 jiwa penghuni desa dengan
*swakelola* pangan luar biasa. *Mereka menempati rumah, kebutuhan
pendidikan,  pangan dan kesehatan secara gratis*. Di kampung ini, semua
bekerja untuk bersama, *konsep Peternakan, Industri, Pertanian, Perikanan
dan Perdagangan swakelola mandiri* yang menyebabkan *seluruh penghuni
kampung hidup tenang dan mencintai desa mereka.*



“Kami menyebutnya kampung kasih sayang,” kata *Sani Ritonga*, salah seorang
penghuni Perkampungan MATFA kepada SumutOnline, cerita yang akhirnya
mengggerakkan langkah kami untuk melongok kampung ini.



Dalam perjalanan, kami mengira akan mendatangi sebuah  kampung  dengan
komunitas unik dan berbeda dari biasa. Bayangan wanita-wanita dengan
pakaian longgar dan wajah tertutup cadar sempat menghampiri diskusi kami.
Butuh waktu 25 menit dari jalan raya Medan-Tanjung Pura, setelah melewati
jalan yang tak mulus, kami akhirnya tiba di pos pintu masuk dilengkapi
portal. Dua orang penjaga menyapa kami dengan ramah dan mempersilahkan
kenderaan masuk ke kampung ini.



Pos masuk dengan bangunan adat Melayu berwarna kuning dan hijau dengan atap
biru cerah membuat semua bayangan kami hilang tak berjejak. Kami memasuki
kampung yang sungguh Indonesia. Bendera merah putih didampingi bendera
hitam bertuliskan La ilaha ilallah menyambut kedatangan kami. Terdapat
masjid besar  berlantai dua dengan warna kuning dan hijau, yang terlihat
kokoh di atas tanah lebih tinggi. Di depan Masjid terdapat rumah panggung
adat Melayu dengan warna serupa terbuat dari kayu dan tiang panggung dari
batu. Inilah rumah pemimpin di kampung ini, namanya *Muhammad Imam Hanafi *dan
dipanggil *Tuan Imam*. Wilayahnya masuk dalam dua kecamatan, sebagian masuk
dalam wilayah Dusun III Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan dan sebagian
wilayah masuk dalam wilayah *Desa Buluh Telang, Kecamatan Padang Tualang.*



Hanya berjarak 100 meter, terdapat tanah yang dulunya bukit, diratakan
bersama-sama dan menjadi pemukiman warga. Deretan rumah beratap rumbia
dengan dinding tepas dan berpagar bambu  adalah rumah tinggal warga
Perkampungan
MATFA  (Majelis Taklim Fardhu Ain) Indonesia. Ada *260 rumah* yang dibagi
dalam 12 blok, Blok A hingga Blok L dengan ukuran *4 kali 7 meter*.



“Semua rumah ukurannya sama, kami boleh menghiasi rumah kami, *makan
diambil di **dapur bersama 3 kali sehari, **sekolah gratis, kesehatan ada
klinik di sini*, kalau harus ke rumah sakit besar, semua diurus, jadi nggak
mikir apa-apa, ” kata *Anik*, salah seorang penghuni kampung yang mengaku
sudah dua tahun tinggal di tempat ini. Kami saling berpandangan, koq bisa?
Uangnya dari mana? Pertanyaan itu melompat-lompat di kepala saya.



Saat kami tiba, belasan kaum perempuan tengah berada di dapur. Mereka *memasak
bersama* sambil berceloteh. Dapur adalah bangunan terbuka dengan atap tepas dan
tiang kayu tapi lantai terbuat dari keramik. Semua bekerja sambil
bercengkrama dari memutik cabai merah, mengukur kelapa, menyiapkan
kebutuhan gulai, menggoreng ikan yang semua dalam jumlah luar biasa, untuk
kebutuhan makan siang.



Di atas meja, terlihat ratusan rantang bertuliskan nama-nama pemilik rumah
dilengkapi dengan blok dan jumlah isi rumah. Persis suasana pesta.
Anak-anak terlihat bermain di dekat dapur. Sementara *remaja desa tengah
berjuang meluruskan sisi tebing untuk membuka lahan lebih lebar buat dapur
mereka.* Butuh *250 kilogram ikan setiap harinya, 6 ton minyak goreng dalam
sebulan, lebih 4 juta butir telur, 12 ton gula dan berton-ton cabai merah
untuk kebutuhan 1600 warga desa*. Jika dikalkulasikan butuh biaya *Rp 250
juta perbulan* hanya untuk *kebutuhan makan seluruh penghuni kampung.*



Di sebelah kiri masjid terdapat *Klinik sederhana*, tapi fasilitas lumayan
untuk ukuran sebuah desa. Ada dokter gigi, dokter umum, dan dokter anak yang
melayani 24 jam karena dokter tinggal tak jauh dari klinik.



*Harta Dikumpulkan Baitul Mal*



Adalah Muhammad Imam Hanafi yang diberi gelar Tuanku Imam, mengibahkan
tanah keluarga mereka dengan *7 hektar untuk 1600 warga desa* yang juga *jamaah
Majelis Taklim Fardhu Ain*. Pria berusia 27 tahun, putra ketujuh Tuanku
Guru Ali Mas’ud Bin Abdullah dengan gelar Al Mukarrom  Habib Maulana
Ayyidus Syekh KH Ali Mas’ud Al Banjari  Ar Rasuli, yang wafat 13 November
2011. Syekh KH Ali Mas’ud Al Banjari  Ar Rasuli  adalah Guru besar Ilmu
Hakikat yang mengajarkan Ilmu Tauhid, Ushuluddin, Fiqih dan Tasauf. Setelah
ayahanda wafat, Tuanku Imam dipilih menjadi Imam, meski usianya masih
sangat muda, Tuanku Imam menjadi pemimpin paling dihormati dan berhasil
membangun kampung dengan *mempersatukan seluruh harta jamaah.*



*“Rakyat adalau sebuah amanah bagi para **pemimpin*. Mereka wajib
untuk melindungi
rakyatnya dan mensejahterakannya. Barangsiapa diangkat oleh Allah untuk
mengurus urusan makhluk, baik sebagai raja, pemimpin, ketua, mentri, dan
yang lain, dia wajib untuk membentengi dan menyelamatkan rakyatnya.
Sehingga dia memperlakukan rakyatnya seperti yang dia lakukan kepada
dirinya sendiri,” kata Tuanku Imam saat bertemu dengan kami di rumah
panggung tepat di depan masjid.



Dengan gaya sederhana tapi modern, Imam menjelaskan bagaimana dia mengelola
kampong dengan *swakelola*. Dari *7 hektar lahan* yang dihibahkan, baru 2
hektar yang bisa *dikerjakan bersama*. Setiap bidang punya *ketua
kelompok* sejajaran
Menteri  yang menangani *urusan Peternakan, Industri, Pertanian, Perikanan
dan Perdagangan.*



Tak heran, jika di kampung ini terdapat *lebih 12 kolam ikan* yang
menghasilkan puluhan ton ikan sungai, jutaan ekor ayam petelur, 9 ekor
lembu, 9 kapal ikan yang bisa menghasilkan *400 kilogram ikan perhari,
ladang sayur mayur yang luasnya hampir mengelilingi seluruh desa, kebun
pisang* yang setiap pohon diberi nama masing-masing pemiliknya.



Untuk *perdagangan*, jamaah MATFA memiliki *koperasi* yang mengelola *18
kios* di pasar rakyat tepat jalan besar menuju kawasan masuk ke desa
mereka. Kios dilengkapi satu apotik yang buka 24 jam, rumah makan, salon
pangkas, teknisi elektronik, pengrajin batu hingga pasar ikan dikelola
oleh *seorang
pengawas.*

“Semua dilakukan dengan kepercayaan dan kejujuran karena para penjual tidak
digaji, kami memenuhi kebutuhannya,” kata *Hendriadi*, pengawas perdagangan.



*Semua hasil* dari pengelolaan pangan, jasa, dan industri *diserahkan ke
Baitul Mal* yang diketuai orang yang dipercaya, untuk keputusan-keputusan
penting menyangkut kebutuhan kampong akan *didiskusikan bersama Tuanku
Imam. *



Berjarak satu kilometer dari desa, ada sebuah *sekolah sederhana* Yayasan
Pendidikan Islam Pembangunan II di Dusun Darat Hulu, Desa Buluh Telang
Kecamatan Padang Tualang. Sekolah untuk TK, SD, SMP dan tahun 2014 menjadi
sekolah untuk pelajar SMA ini dididik guru-guru yang juga tidak digaji.

*“Untuk anak-anak jemaah, **gratis tak dipungut bayaran apapun termasuk
keperluan sekolahnya*, untuk *warga di luar jamaah* hanya membayar *uang
sekolah Rp 5000 sampai Rp 10.000* saja tergantung pendidikan apa yang
diikuti,” kata Sani Ritonga.

Selain pendidikan, *minat olahraga pun terjaga*. Di beberapa tempat terdapat
lokasi olahraga buat penghuni desa. *Latihan bela diri, latihan music,
latihan seni rupa, dan setiap pekan ada hiburan yang diselenggarakan. *



*Percaya Kepada Pemimpin*



Percaya kepada pemimpin menjadi modal utama ketenangan masyarakat di
kampung ini. Tak tanggung-tanggung, kami menemukan *‘orang-orang hebat’
yang akhirnya memilih tinggal dan ikut menata kampung ini menjadi kampung
peradaban Muslim* dengan  slogan kasih sayang dari kalimat
Bismillahirrahmanirrahim. Dari mantan polisi, mantan tokoh-tokoh pemuda,
pelatih beladiri, bahkan seorang ulama besar dari Goa yang memilih *belajar
Ilmu Tauhid dari tempat ini.*



*“Kami memutuskan menghibahkan harta kami*, karena keyakinan bahwa *pemimpin
mengajarkan kebenaran sesuai syariat Islam,**”* tambah Sani Ritonga yang
sudah 12 tahun menjadi guru Tarikat.



Ada Sembilan aturan yang terjaga dengan baik di kampong ini. Selain patuh
dan taat kepada pemimpin, Akhlakul Karimah kepada seluruh umat manusia,
mengerjakan Syariat Islam hingga *tak boleh tidak bertegur sapa*, dan
aturan *istri patuh pada suami* dan *anak harus cinta kepada orang tua*.



“Semua dijalankan dari ajaran kasih sayang, karena saya dipilih menjadi
pemimpin maka saya menjalankan kewajiban saya sebagai pemimpin, tapi semua
yang dipimpin juga harus menjalankan kewajibannya sebagai orang yang
dipimpin, *tugas saya mensejahterakan rakyat saya*, karena menjadi *pemimpin
adalah amanah*,” ujar Tuanku Imam.



Sehari tak cukup mengitari desa *dipenuhi ladang buah-buahan, sayur mayur,
kolam-kolam ikan*, dan bangunan-bangunan sederhana di atas bukit untuk
tempat beristirahat, memandangi aktifitas anak-anak dan aktifitas warga di
masing-masing tempat mereka bertugas. Kamipun beranjak usai Sholat
Isya. *Seandainya
semua pemimpin **berpikiran sama dengan pemimpin di kampung ini, dan semua
rakyat **berpikiran yang sama dengan rakyat di kampung ini, pasti Indonesia
tak serumit seperti sekarang. (YP) *



Read *21317* times

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke