Ass, wr, wbr pak Harlizon MBAU

Unik ! Perkampungan MATFA, Menghidupi 1600 Warga Swakelola

Saya menundukkan kepala membaca tulisan diatas.

Rasanya kemampuan diri, jauh sekali  dibawah bapak-bapak  yang mengelola
kampung MAFTA.

Semoga kedepan MAFTA-MAFTA ditempat lain akan tumbuh.


Wass,


Maturidi





Pada 6 Mei 2016 01.42, Harlizon MBAu <[email protected]> menulis:

> Jika Allah berhendak menunjuki, orang dusunpun bisa dibuatNya jauh lebih
> berakal dan lebih hebat daripada ilmuan kota dan pemimpin “besar”
>
>
>
>
> <http://www.sumutonline.com/europe/item/1220-unik-perkampungan-matfa-menghidupi-1600-warga-swakelola.html>
>
>
> http://www.sumutonline.com/europe/item/1220-unik-perkampungan-matfa-menghidupi-1600-warga-swakelola.html
>
>
>
> Unik ! Perkampungan MATFA, Menghidupi 1600 Warga Swakelola
>
>
> Written by  SumutOnline
> <http://www.sumutonline.com/europe/itemlist/user/317-sumutonline.html> 
> Published
> in Gaya Hidup <http://www.sumutonline.com/europe.html> Sunday, 28
> September 2014 06:42
>
>
>
> [image: Kampung ini menghidupi 1600 warga swakelola, memiliki pertanian,
> industri, peternakan, untuk menghidupi kebutuhan pangan, pendidikan dan
> kesehatan masyarakatnya. (Foto: Yose Piliang)]
>
>
> Kampung ini menghidupi 1600 warga swakelola, memiliki pertanian, industri,
> peternakan, untuk menghidupi kebutuhan pangan, pendidikan dan kesehatan
> masyarakatnya. (Foto: Yose Piliang)
>
>
> Langkat, *SumutOnline*- Hidup dengan *pengelolaan swakelola* pangan murni
> ternyata bukan mimpi. *Perkampungan MATFA* di Dusun III Desa Telaga Said
> Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat saat ini menjadi satu-satunya
> kampung Muslim yang bisa memenuhi kebutuhan 1600 jiwa penghuni desa dengan
> *swakelola* pangan luar biasa. *Mereka menempati rumah, kebutuhan
> pendidikan,  pangan dan kesehatan secara gratis*. Di kampung ini, semua
> bekerja untuk bersama, *konsep Peternakan, Industri, Pertanian, Perikanan
> dan Perdagangan swakelola mandiri* yang menyebabkan *seluruh penghuni
> kampung hidup tenang dan mencintai desa mereka.*
>
>
>
> “Kami menyebutnya kampung kasih sayang,” kata *Sani Ritonga*, salah
> seorang penghuni Perkampungan MATFA kepada SumutOnline, cerita yang
> akhirnya mengggerakkan langkah kami untuk melongok kampung ini.
>
>
>
> Dalam perjalanan, kami mengira akan mendatangi sebuah  kampung  dengan
> komunitas unik dan berbeda dari biasa. Bayangan wanita-wanita dengan
> pakaian longgar dan wajah tertutup cadar sempat menghampiri diskusi kami.
> Butuh waktu 25 menit dari jalan raya Medan-Tanjung Pura, setelah melewati
> jalan yang tak mulus, kami akhirnya tiba di pos pintu masuk dilengkapi
> portal. Dua orang penjaga menyapa kami dengan ramah dan mempersilahkan
> kenderaan masuk ke kampung ini.
>
>
>
> Pos masuk dengan bangunan adat Melayu berwarna kuning dan hijau dengan
> atap biru cerah membuat semua bayangan kami hilang tak berjejak. Kami
> memasuki kampung yang sungguh Indonesia. Bendera merah putih didampingi
> bendera hitam bertuliskan La ilaha ilallah menyambut kedatangan kami.
> Terdapat masjid besar  berlantai dua dengan warna kuning dan hijau, yang
> terlihat kokoh di atas tanah lebih tinggi. Di depan Masjid terdapat rumah
> panggung adat Melayu dengan warna serupa terbuat dari kayu dan tiang
> panggung dari batu. Inilah rumah pemimpin di kampung ini, namanya *Muhammad
> Imam Hanafi *dan dipanggil *Tuan Imam*. Wilayahnya masuk dalam dua
> kecamatan, sebagian masuk dalam wilayah Dusun III Desa Telaga Said,
> Kecamatan Sei Lepan dan sebagian wilayah masuk dalam wilayah *Desa Buluh
> Telang, Kecamatan Padang Tualang.*
>
>
>
> Hanya berjarak 100 meter, terdapat tanah yang dulunya bukit, diratakan
> bersama-sama dan menjadi pemukiman warga. Deretan rumah beratap rumbia
> dengan dinding tepas dan berpagar bambu  adalah rumah tinggal warga 
> Perkampungan
> MATFA  (Majelis Taklim Fardhu Ain) Indonesia. Ada *260 rumah* yang dibagi
> dalam 12 blok, Blok A hingga Blok L dengan ukuran *4 kali 7 meter*.
>
>
>
> “Semua rumah ukurannya sama, kami boleh menghiasi rumah kami, *makan
> diambil di **dapur bersama 3 kali sehari, **sekolah gratis, kesehatan ada
> klinik di sini*, kalau harus ke rumah sakit besar, semua diurus, jadi
> nggak mikir apa-apa, ” kata *Anik*, salah seorang penghuni kampung yang
> mengaku sudah dua tahun tinggal di tempat ini. Kami saling berpandangan,
> koq bisa? Uangnya dari mana? Pertanyaan itu melompat-lompat di kepala saya.
>
>
>
> Saat kami tiba, belasan kaum perempuan tengah berada di dapur. Mereka *memasak
> bersama* sambil berceloteh. Dapur adalah bangunan terbuka dengan atap
> tepas dan tiang kayu tapi lantai terbuat dari keramik. Semua bekerja
> sambil bercengkrama dari memutik cabai merah, mengukur kelapa, menyiapkan
> kebutuhan gulai, menggoreng ikan yang semua dalam jumlah luar biasa, untuk
> kebutuhan makan siang.
>
>
>
> Di atas meja, terlihat ratusan rantang bertuliskan nama-nama pemilik rumah
> dilengkapi dengan blok dan jumlah isi rumah. Persis suasana pesta.
> Anak-anak terlihat bermain di dekat dapur. Sementara *remaja desa tengah
> berjuang meluruskan sisi tebing untuk membuka lahan lebih lebar buat dapur
> mereka.* Butuh *250 kilogram ikan setiap harinya, 6 ton minyak goreng
> dalam sebulan, lebih 4 juta butir telur, 12 ton gula dan berton-ton cabai
> merah untuk kebutuhan 1600 warga desa*. Jika dikalkulasikan butuh biaya *Rp
> 250 juta perbulan* hanya untuk *kebutuhan makan seluruh penghuni kampung.*
>
>
>
> Di sebelah kiri masjid terdapat *Klinik sederhana*, tapi fasilitas
> lumayan untuk ukuran sebuah desa. Ada dokter gigi, dokter umum, dan
> dokter anak yang melayani 24 jam karena dokter tinggal tak jauh dari
> klinik.
>
>
>
> *Harta Dikumpulkan Baitul Mal*
>
>
>
> Adalah Muhammad Imam Hanafi yang diberi gelar Tuanku Imam, mengibahkan
> tanah keluarga mereka dengan *7 hektar untuk 1600 warga desa* yang juga 
> *jamaah
> Majelis Taklim Fardhu Ain*. Pria berusia 27 tahun, putra ketujuh Tuanku
> Guru Ali Mas’ud Bin Abdullah dengan gelar Al Mukarrom  Habib Maulana
> Ayyidus Syekh KH Ali Mas’ud Al Banjari  Ar Rasuli, yang wafat 13 November
> 2011. Syekh KH Ali Mas’ud Al Banjari  Ar Rasuli  adalah Guru besar Ilmu
> Hakikat yang mengajarkan Ilmu Tauhid, Ushuluddin, Fiqih dan Tasauf. Setelah
> ayahanda wafat, Tuanku Imam dipilih menjadi Imam, meski usianya masih
> sangat muda, Tuanku Imam menjadi pemimpin paling dihormati dan berhasil
> membangun kampung dengan *mempersatukan seluruh harta jamaah.*
>
>
>
> *“Rakyat adalau sebuah amanah bagi para **pemimpin*. Mereka wajib untuk 
> melindungi
> rakyatnya dan mensejahterakannya. Barangsiapa diangkat oleh Allah untuk
> mengurus urusan makhluk, baik sebagai raja, pemimpin, ketua, mentri, dan
> yang lain, dia wajib untuk membentengi dan menyelamatkan rakyatnya.
> Sehingga dia memperlakukan rakyatnya seperti yang dia lakukan kepada
> dirinya sendiri,” kata Tuanku Imam saat bertemu dengan kami di rumah
> panggung tepat di depan masjid.
>
>
>
> Dengan gaya sederhana tapi modern, Imam menjelaskan bagaimana dia
> mengelola kampong dengan *swakelola*. Dari *7 hektar lahan* yang
> dihibahkan, baru 2 hektar yang bisa *dikerjakan bersama*. Setiap bidang
> punya *ketua kelompok* sejajaran Menteri  yang menangani *urusan
> Peternakan, Industri, Pertanian, Perikanan dan Perdagangan.*
>
>
>
> Tak heran, jika di kampung ini terdapat *lebih 12 kolam ikan* yang
> menghasilkan puluhan ton ikan sungai, jutaan ekor ayam petelur, 9 ekor
> lembu, 9 kapal ikan yang bisa menghasilkan *400 kilogram ikan perhari,
> ladang sayur mayur yang luasnya hampir mengelilingi seluruh desa, kebun
> pisang* yang setiap pohon diberi nama masing-masing pemiliknya.
>
>
>
> Untuk *perdagangan*, jamaah MATFA memiliki *koperasi* yang mengelola *18
> kios* di pasar rakyat tepat jalan besar menuju kawasan masuk ke desa
> mereka. Kios dilengkapi satu apotik yang buka 24 jam, rumah makan, salon
> pangkas, teknisi elektronik, pengrajin batu hingga pasar ikan dikelola
> oleh *seorang pengawas.*
>
> “Semua dilakukan dengan kepercayaan dan kejujuran karena para penjual
> tidak digaji, kami memenuhi kebutuhannya,” kata *Hendriadi*, pengawas
> perdagangan.
>
>
>
> *Semua hasil* dari pengelolaan pangan, jasa, dan industri *diserahkan ke
> Baitul Mal* yang diketuai orang yang dipercaya, untuk keputusan-keputusan
> penting menyangkut kebutuhan kampong akan *didiskusikan bersama Tuanku
> Imam. *
>
>
>
> Berjarak satu kilometer dari desa, ada sebuah *sekolah sederhana* Yayasan
> Pendidikan Islam Pembangunan II di Dusun Darat Hulu, Desa Buluh Telang
> Kecamatan Padang Tualang. Sekolah untuk TK, SD, SMP dan tahun 2014
> menjadi sekolah untuk pelajar SMA ini dididik guru-guru yang juga tidak
> digaji.
>
> *“Untuk anak-anak jemaah, **gratis tak dipungut bayaran apapun termasuk
> keperluan sekolahnya*, untuk *warga di luar jamaah* hanya membayar *uang
> sekolah Rp 5000 sampai Rp 10.000* saja tergantung pendidikan apa yang
> diikuti,” kata Sani Ritonga.
>
> Selain pendidikan, *minat olahraga pun terjaga*. Di beberapa tempat terdapat
> lokasi olahraga buat penghuni desa. *Latihan bela diri, latihan music,
> latihan seni rupa, dan setiap pekan ada hiburan yang diselenggarakan. *
>
>
>
> *Percaya Kepada Pemimpin*
>
>
>
> Percaya kepada pemimpin menjadi modal utama ketenangan masyarakat di
> kampung ini. Tak tanggung-tanggung, kami menemukan *‘orang-orang hebat’
> yang akhirnya memilih tinggal dan ikut menata kampung ini menjadi kampung
> peradaban Muslim* dengan  slogan kasih sayang dari kalimat
> Bismillahirrahmanirrahim. Dari mantan polisi, mantan tokoh-tokoh pemuda,
> pelatih beladiri, bahkan seorang ulama besar dari Goa yang memilih *belajar
> Ilmu Tauhid dari tempat ini.*
>
>
>
> *“Kami memutuskan menghibahkan harta kami*, karena keyakinan bahwa *pemimpin
> mengajarkan kebenaran sesuai syariat Islam,**”* tambah Sani Ritonga yang
> sudah 12 tahun menjadi guru Tarikat.
>
>
>
> Ada Sembilan aturan yang terjaga dengan baik di kampong ini. Selain patuh
> dan taat kepada pemimpin, Akhlakul Karimah kepada seluruh umat manusia,
> mengerjakan Syariat Islam hingga *tak boleh tidak bertegur sapa*, dan
> aturan *istri patuh pada suami* dan *anak harus cinta kepada orang tua*.
>
>
>
> “Semua dijalankan dari ajaran kasih sayang, karena saya dipilih menjadi
> pemimpin maka saya menjalankan kewajiban saya sebagai pemimpin, tapi semua
> yang dipimpin juga harus menjalankan kewajibannya sebagai orang yang
> dipimpin, *tugas saya mensejahterakan rakyat saya*, karena menjadi *pemimpin
> adalah amanah*,” ujar Tuanku Imam.
>
>
>
> Sehari tak cukup mengitari desa *dipenuhi ladang buah-buahan, sayur
> mayur,  kolam-kolam ikan*, dan bangunan-bangunan sederhana di atas bukit
> untuk tempat beristirahat, memandangi aktifitas anak-anak dan aktifitas
> warga di masing-masing tempat mereka bertugas. Kamipun beranjak usai
> Sholat Isya. *Seandainya semua pemimpin **berpikiran sama dengan pemimpin
> di kampung ini, dan semua rakyat **berpikiran yang sama dengan rakyat di
> kampung ini, pasti Indonesia tak serumit seperti sekarang. (YP) *
>
>
>
> Read *21317* times
>
>
>
>
>
> Sebagaimana dahulu Muhammad SAW, yang hanya tinggal di dusun di “tengah
> padang pasir” kerontang Arab, namun jika Pencipta dan Penguasa Semesta
> berkehendak menunjukinya, orang dusun yang tidak sekolah inipun kemudian
> bisa dibuatNya menjelma menjadi “guru dari segala macam guru besar dan
> professor dunia, pemimpin dari banyak pemimpin dan raja besar dunia,
> menjadi tokoh terbesar pengubah jalannya kehidupan dunia”. Itupun bisa
> terjadi selama berabad-abad mulai dari masa kerasulannya sampai sekarang.
> Meskipun dia sendiri sudah lama mati dan jasadnya barangkali sudah dari
> lama menjadi tanah kembali, namun seolah dia masih hidup di tengah-tengah
> pengikut yang betul-betul percaya kepadanya, di seluruh dunia.
>
>
>
> Copas artikel berikut agaknya juga memperlihatkan kebesaran Allah yang
> lain di masa kita, di dekat kita, di di Dusun III Desa Telaga Said,
> Langkat, Sumut, tidak berapa jauh dari Sumatera Barat atau Minangkabau.
> Jika Allah berkehendak menunjuki manusia, orang dusunpun bisa dibuatNya
> jauh lebih berakal dan hebat daripada ilmuan kota atau orang dan pemimpin
> “besar” suatu wilayah atau negara, yang meskipun memiliki segala macam
> kekuasaan, perangkat dan fasilitas lainnya yang seharusnya bisa jauh lebih
> hebat daripada orang dusun ini.
>
>
>
> Dari informasi artikel, terlihat bahwa sang pemimpin dusun, Muhammad Imam
> Hanafi, sangatlah mengerti dengan ayat-ayat Al Qur’an berikut:
>
>
>
> Al Qur’an, Al Hijr (Negri Kaum Samud) [15]:20
>
> Dan KAMI TELAH MENJADIKAN UNTUKMU DI BUMI KEPERLUAN-KEPERLUAN HIDUP, dan
> (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang KAMU SEKALI-KALI BUKAN PEMBERI
> REZEKI KEPADANYA.
>
>
>
> Al Qur’an, Al A’raaf (Tempat Tertinggi) [7]:10
>
> Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka BUMI dan KAMI
> ADAKAN BAGIMU DI MUKA BUMI ITU (SUMBER) PENGHIDUPAN. Amat sedikitlah kamu
> bersyukur.
>
>
>
> Dia tampaknya sangat mengerti bahwa “sejengkal” tanah kampung yang
> dikaruniai Allah kepada mereka sangatlah cukup untuk menopang kehidupan
> mereka dan berkembang dengan itu. Dia sangatlah mengerti bahwa tidaklah
> perlu belajar sampai ke negeri Cina segala karena sudah memiliki Al Qur’an
> yang merupakan petunjuk yang sangat lengkap untuk bisa hidup nyaman dan
> sejahtera di kampungnya. Dia nampaknya juga sangat paham bahwa tidak
> memerlukan investor luar apapun yang akan mengeksploitasi atau bahkan
> menjarah kampungnya untuk membuat kampungnya bisa tumbuh dan berkembang.
> Dan tampaknya, dia mensyukuri segala karunia yang diberikan Allah kepada
> mereka dengan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Jika dia bisa
> membuktikan semua objektif kehidupan tersebut bisa dengan mudah mereka
> capai dengan perangkat yang sangat minim dan sederhana,  bagaimana
> mungkin kita masih bisa menganggap seorang adalah “pakar” atau pemimpin
> hebat namun tidak kunjung mencapainya meski dengan perangkat dan organisasi
> yang serba kompleks dan mahal, lebih pintar dan hebat daripada dia ?
>
>
>
> Jika saja ada malaikat disekitar kita selama membaca dan merenungkan
> kenapa bisa terjadi ayat-ayat nyata dari artikel tersebut, barangkali saja
> dia bisa bergumam,
>
> *“Lah sagalo macam ayat Allah diagiahkan, dibacokan dan dicaliakkan
> sebagai bukti dan petunjuk untuk bisa hidup dengan lebih mudah dan hebatnyo
> Islam, indak mangarati lai den do, baa kok buku petunjuk mukjizat itu indak
> juo dibaco dan diikuti ? Jalan rasul dan tuhan ma nan sabananyo diikuti ?”*
>
> Wallahu alam bissawab. Semoga tidak ada malaikat yang bergumam seperti
> demikian di kepada kita.
>
>
>
> Salam Z
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke