lah palak awak di Lapau ko salamo ko mampakatoan masalah kakuih, tondeh, tandas, di kampuang awak. Kini dari Haluan kito caliak dan baco pulo bara busuaknyo Masalah Kakuih ko indak ado penanganan untuak kebersihan di Sumatera Barat, sarupo dicontohkan di artikel ko. Baa kecek awak ka malewa-lewakan Pariwisata, nagari awak nagari rancak, sagalonyo tu, tapi, tapi dicaliak urang banyak nan baleak-leak. Iyo bak kato unkapan patang tu, indak ado dikarajokan...., Ota kareh ciik masiak ....!
-- Nyit Sunngut. Jamban Tak Ada, Warga Purus Manfaatkan Selokan Dibaca: *28* kali Selasa,28 Juni 2016 - 06:12:54 WIB [image: Jamban Tak Ada, Warga Purus Manfaatkan Selokan] Selokan yang melintasi kawasan Purus sering dijadikan sebagai septic tank darurat oleh warga karena tidak sanggup membangun jamban yang layak. Senin (27/6). (HUDA PUTRA) *PADANG, HALUAN—*Ratusan warga miskin di Kelurahan Purus, Padang Barat masih menggunakan bandar/selokan dan drainase sebagai saluran buangan sanitasi mereka. Selain itu juga masih banyak warganya yang masih memanfaatkan jamban sistem aster (asoy terbang). Lurah Purus, Salman yang ditemui Haluan di ruangannya, mengungkapkan banyak warga miskin di kawasan Purus yang tidak sanggup membuat jamban yang layak. Kalaupun memliki kaskus namun mereka tidak memiliki saptic tank. Selain itu, keterbatasan lahan menjadi alasan sulitnya membuat wc umum atau septic tank. “Hampir sebagian besar keluarga miskin yang tidak memiliki septic tank sehingga mereka membuat saluran pembuangan kotoran langsung ke bandar. Dan bahkan ada yang membuang langsung menggunakan asoy (plastik-red)” ungkap Salman, Senin (27/6). Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa saat ini warga miskin diwalayah nya ada 628 KK, dan sekitar 200 diantaranya masih menggunakan selokan sebagai saluran pembuangan kotoran. “Angka pastinya belum ada namun warga yang belum memiliki sanitasi layak sekitar 200 rumah, yang terdapat di sepanjang Bandar. Kalau didata, kadang mereka sering marah dan mengaku sudah punya wc, namun kenyataannya mereka tidak punya septic tank.” sambungnya. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dirinya mengaku telah melakukan berbagai upaya, mulai dari melakukan imbauan ke RT dan RW, menggerakan kegiatan gotong royong minimal sekali sebulan dan juga telah menyurati Dinas terkait. “Tahun 2015 kita juga sudah dapat bantuan lima buah jamban dari koramil. Kita telah mengirim surat ke Dinas PU sesuai perintah walikota Padang agar dibuatkan wc umum, rencananya pembangunan setelah Lebaran, ada warga yang bersedia tanah nya digunakan untuk membangun wc” terangnya kembali. Sementara untuk masyarakat yang mebuang kotoran ke Pantai, dirinya mengatakan bahwa saat ini hampir sudah tidak ada lagi, hal tersebut karena saat ini Pantai Padang sudah jauh berubah dan terbuka. Pendapat serupa di ungkapkan Kasi Objek Dinas Pariwisata Kota Padang, Damanik, mengatakan bahwa saat ini pantai Padang sudah jauh berubah. Untuk sanitasi disepanjang Pantai Padang telah terdapat enam WC umum. “Pantai sudah bersih, di sana juga sudah terbuka, sehingga tidak ada lagi (masyrakat atau pengunjung) yang buang air sembarangan di pantai. Kita juga ada 79 petugas kebersihan pantai yang bekerja 2 kali sehari,” tuturnya. *Selokan Kumuh* Kebiasaan warga Purus membuang sampah dan mengalirkan aliran air sisa Mandi Cuci Kakus (MCK) ke Bandar Purus menyebabkan kondisi selokan tidak lagi layak untuk drainase atau jalur pembuangan air. Pantauan *Haluan*, Senin (27/6), selokan sudah dipenuhi lumpur dan tanah. Air di dalamnya sudah berwarna kehitaman serta berbau tidak sedap dan mengalir secara perlahan hingga bermuara ke Danau Cimpago. Bandar dipenuhi sampah seperti plastik-plastik, popok bayi, sampah dapur, dan lainnya yang terlihat dari kawasan Purus I hingga ke Purus V. Pit (35), warga yang tinggal di pinggiran Bandar Purus II, mengakui kalau ia juga langsung mengalirkan air sisa Mandi Cuci Kakus (MCK) di rumahnya ke selokan. “*Septic Tank *yang dibuatkan tidak memadai, jadi mau tak mau langsung ke bandar,” ujarnya, Senin (27/6). Dikonfirmasi ke Ketua RT1/RW2 Purus 2, Ibrahim, benar kalau ada warga yang langsung mengalirkan air sisa MCK ke selokan. “Hal ini dikarenakan warga menggunakan *septic tank *secara bersama, satu *septic tank* untuk 4 sampai 5 rumah. Jadi tidak memadai,” jelas Ibrahim. *(h/mg-hud/mg-uje)* -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
