Travel Budget Nobatkan Nagari Pariangan sebagai salah satu Desa Terindah 
Dunia 
October 12, 2016 | 0 
<http://www.indonesianlantern.com/travel-budget-nobatkan-nagari-pariangan-sebagai-salah-satu-desa-terindah-dunia/#respond>

Asep Burhanudin/travel Budget/geowisata.co —  Kabar gembira ini datang dari 
New York, Amerika Serikat. Travel Budget, sebuah media pariwisata 
berpengaruh di dunia,  menjatuhkan pilihan pada Nagari Pariangan sebagai 
Desa terindah di dunia. Banyak kriteria  dalam menjatuhkan pilihan, di 
antaranya keasrian dan   warisan leluhur  yang masih terjaga apik, yang 
menjadi ciri dan identitas budaya Sumatera Barat.

Perkampungan di lereng Gunung Marapi nan sejuk ini mampu bersanding dengan 
keindahan Desa Wengen dari  Swiss, Desa Eze dari Prancis, Niagara on The 
Lake di Kanada, serta Desa Cesky Krumlov dari Republik Ceko.

Kabar ini  sebetulnya muncul dan dirilis seluruh media  beberapa tahun 
silam, namun dampaknya baru terasa sekarang. Nagari Pariangan belakangan 
semakin banyak dikunjungi pendatang. Tak hanya turis lokal, tapi turis dari 
mancanegarea pun kerap mampir di sini. Saat pelaksanaan Tour de Singkarak 
—  event balap sepeda internasional– misalnya,  Nagari Pariangan ini tak 
luput menjadi salah satu destinasi mereka.

Nagari Pariangan dapat ditempuh sekitar tiga jam dari Padang, Ibu Kota 
Propinsi Sumatera Barat. Lokasi  ini berjarak sekitar 14 km dari Kota 
Batusangkar, Ibukota Kabupaten Tanah Datar. Desa seluas 17.92 km 2 secara 
administratif di bawah Kecamatan Pariangan dan dihuni sekitar 6.479 jiwa. 
Posisi Pariangan  di bawah lereng Gunung Marapi, sebuah gunung api aktif 
berketinggian 700 m di atas permukaan air laut,  menjadikan udara di 
nagari  cukup sejuk.  Di desa ini terdapat sebuah mesjid terbesar  yang 
berusia ratusan tahun yang dikenal dengan Masjid Ishlah.

Masjid dengan gaya arsitektur Dongson ala dataran tinggi Tibet,  
menggambarkan betapa majunya peradaban Minangkabau kala itu.  Di desa ini 
pun terdapat bangunan rumah gadang  dengan dinding terbuat anyaman rotan, 
ukiran kayu sebagai ciri khas bangunan di Sumbar. Rumah gadang ini di 
antaranya seperti Balairung Sari Tabek  atau Rumah Gadang tertua di 
Minangkabau, Rumah Gadang Dt. Bandaro I, Rumah Gadang Dt. Rangkayo Sati, 
Masjid Tuo Pariangan, serta Monumen Api Porda.

Nagari Pariangan merupakan desa kuno dan sebagai cikal lahirnya sistem 
pemerintahan khas masyarakat Minangkabau, yang populer dengan nama nagari. 
Namun, sistem pemerintahan nagari hanya bertahan sampai tahun 1980 menyusul 
lahirnya undang-undang tentang perubahan sistem pemerintahan tingkat bawah 
yang mengharuskan  nagari diganti dengan sistem pemerintah desa, 
sebagaimana yang berkembang pada masyarakat Jawa.

Namun, sejalan dengan semangat Otonomi Daerah, 1999 yang memberi peluang 
bagi daerah untuk mengembangkan diri secara mandiri, masyarakat Sumatra 
Barat pun kembali menerapkan sistem pemerintahan nagari. Baliak ka nagari, 
istilah inilah kala itu populer terutama di luhak nan tigo, yaitu Kabupaten 
Tanah Datar, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Sistem 
pemerintahan desa pun berganti dengan sistem pemerintahan nagari. Pariangan 
sebagai daerah asal Minangkabau pun berganti nama dari Desa Pariangan 
menjadi Nagari Pariangan.

Tak hanya dikenal sebagai asal-muasal nagari, Nagari Tuo Pariangan juga 
dikenal sebagai asal-mula masyarakat Minangkabau. Dalam catatan sejarah 
yang terekam dalam tambo Minang menunjukkan bahwa Nagari Pariangan adalah 
nagari asal suku Minangkabau yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai 
“Tampuk Tangkai Alam Minangkabau”.

Artinya, nagari ini dipercaya sebagai tempat pertama munculnya kehidupan di 
Alam Minangkabau ratusan tahun silam. Dalam tambo diceritakan, bahwa 
masyarakat Minangkabau merupakan keturunan Alexander Agung. Konon, beliau 
memiliki tiga orang putra, yaitu Sultan Maharaja Dipang (Sutan Maharajo 
Dipang), Sultan Maharaja Alif (Sutan Maharjo Alif), dan Sultan Maharaja 
Diraja (Sutan Maharajo Dirajo.

Lalu bagaimana Nagari Pariangan bisa terpiih sebagai  desa terindah di 
dunia? Banyak variabel yang menentukan pilihan jatuh pada Pariangan, di 
antaranya masyarakat dan Pemda setempat mampu mempertahankan  warisan 
budaya leluhur mereka. Kearipan lokal mereka gunakan sebagai modal untuk 
mengembangkan desa yang penuh sejarah ini. Hasilnya, Nagari Pariangan tak 
hanya sebagai maskot Kabupaten Tanah Datar tapi sudah kebanggaan Sumatera 
Barat.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+unsubscr...@googlegroups.com.
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke