Assalammualaikum Wr Wb Dunsanak sa Palanta Yml

Untuk yang suka membaca tulisan Bung RA

klik disini

http://www.netralitas.com/kolom/read/12065/retak-gading-kinerja-kabinet-kerja

Semoga bermanfaat

Salam

Hanifah

(netralitas.com) - Berbagai kinerja yang telah dilakukan oleh Kabinet
Kerja selama dua tahun ini dapat diibaratkan sebagai "gading" dari
segerombolan gajah jantan yang besar dan perkasa.

Dalam konteks "material value", nilai dari gading tersebut tidak saja
setara dengan jumlah total APBN 2015 dan 2016, melainkan juga harus
ditambah dengan nilai investasi asing yang berhasil diaktualisasikan
selama 2 tahun ini dan tentunya juga nilai Tax Amnesty yang telah
berhasil dikumpulkan menjadi devisa hingga 20 Oktober ini.

Gading tersebut juga perlu diapresiasi secara khusus sejalan dengan
fakta objektif yang menunjukan membaiknya beberapa indikator ekonomi
makro; seperti naiknya cadangan devisa negara, serta menguatnya nilai
Rupiah.

Di sisi lain, perihal "nilai pengorbanan" yang harus ditanggung bangsa
ini dalam mewujudkan "gading" tersebut, untuk sementara waktu biarlah
menjadi bahan renungan kita bersama.

Adapun perihal "tingkat kepastian" dari manfaat dan "resiko" yang akan
diperoleh serta harus ditanggung dari "gading" tersebut biarlah
menjadi "pekerjaan rumah" bagi para akademisi dan cerdik-cendikia
lainnya dalam menegakan integritas keilmuan yang mereka miliki untuk
memprediksi dinamika sebab akibat yang akan muncul di masa datang.

Pepatah  "tak ada gading yang tak retak" mengisyaratkan tentang adanya
ketidaksempurnaan dalam bagian kehidupan manusia, dan juga ditujukan
untuk  mendorong manusia agar sadar dan jujur akan kekurangannya,
serta agar berusaha untuk memperbaiki kekurangan tersebut.

Terlepas dari semua hiruk pikuk penilaian yang diberikan banyak pihak
terhadap  kinerja dari Kabinet Kerja, maka barangkali ada baiknya jika
kita mencerna dan menikmati fenomena berbangsa dan bernegara yang
terjadi selama dua tahun ini.

Agar tidak terlalu melebar, maka barangkali ada perlunya jika kita
setuju untuk  menelusuri "retak gading" itu dengan menggunakan "roh"
Kabinet Kerja itu sendiri -- yaitu jargon Revolusi Mental -- sebagai
salah satu tolok ukurnya.

Marwah Kepemimpinan

Kerendahan hati adalah salah satu tonggak penting dalam membangun
Marwah Kepemimpinaan.

Hal ini  telah dimiliki oleh Presiden Jokowi secara alamiah.

Wajah beliau yang sejuk dan kegemaran beliau untuk blusukan adalah
modal dasar untuk eksisnya marwah beliau sebagai pemimpin.

Namun demikian, di sisi lain sepertinya Marwah Kepemimpinan beliau
berulang kali menjadi ternoda oleh "perilaku" Ahok yang menjadi sohib
beliau, dan perilaku sebagian  "Projo" yang cenderung melewati batas
dan membabi buta dalam membela Presiden atas berbagai kritik yang ada.

Ada pertanyaan besar di tengah masyarakat, yaitu : "Mengapa Presiden
tidak bisa mengatur Ahok yang menjadi sohib nya ?".

Anak dan istri Presiden saja begitu "terkontrolnya" dalam berperilaku,
kok Ahok malah melewati batas berkali-kali ? Tidak berlakukah revolusi
mental bagi Ahok?

Dalam konteks kritik dan "hujatan politik", sejarah bangsa ini
menunjukan bahwa barangkali tidak ada Presiden lain yang mengalami
"penghujatan" yang begitu hebat dan vulgar melewati batas selain yang
pernah dialami Presiden SBY.

Saat itu, perilaku vulgar dan tidak terpuji pendemo tersebut dijawab
oleh Presiden SBY dengan melahirkan terminologi "politik santun".

Dibandingkan dengan pengalaman Presiden SBY tersebut, maka sungguh
menjadi mengherankan bagi masyarakat, mengapa Presiden Jokowi hingga
kini hanya membiarkan adanya barisan pembela beliau yang berkata dan
berperilaku kasar dan tak terpuji dalam merespon kritik yang
dialamatkan pada Presiden. Tidak berlakukah "revolusi mental" sebagai
dogma bagi mereka ?

Pepatah negeri ini mengatakan "sesalah-salah yang kecil, maka yang
salah adalah yang besar".

Meskipun Ahok hanyalah Gubernur penerus Pak Jokowi di DKI, dan
meskipun "projo" adalah bukan bagian dari struktur Lembaga
Kepresidenen, namun adanya hubungan sejarah dan emosional Presiden
dengan Ahok dan "Projo" menjadikan citra  Presiden juga ternodai oleh
perilaku mereka.

Keganjilan yang senada juga tampak pada barisan "projo" yang tergolong
intelek, maupun yang bergelar Doktor dan/atau Professor.

Tidak hanya berkaitan dengan "posisi-empuk" yang mereka duduki tak
sesuai dengan kompetensi mereka, melainkan juga dalam hal performa
mereka dalam berbagai debat serta diskursus yang mencuat.

Tonton-ulanglah kembali perfoma-performa mereka di berbagai acara
talkshow di media TV.

Jika dicermati dengan seksama, janganlah Presiden menjadi heran jika
ternyata banyak diantara mereka yang gagal "membela" serta melindungi
Presiden secara terhormat.

Umumnya mereka hanya bermain semantik, lemah dalam substansi masalah,
"nicht klasse" (tidak berkelas) dalam teknik berdebat, mencuri
panggung untuk diri sendiri, dan diuntungkan oleh "framing" acara yang
memang sudah disiapkan oleh TV terkait.

Atas hal itu semua, maka menjadi sulit untuk menghindari munculnya
pertanyaan kritis di tengah masyarakat tentang makna revolusi mental
pada mereka.

Jangankan mewujudkan revolusi mental, sedangkan integritas dan
kompetensi akademis serta  profesionalitas mereka saja terlihat rapuh
dan berkarat.

Pembangunan Infrastruktur

Secara mendasar, tentunya tidak akan ada rakyat di negara  ini yang
akan mengatakan bahwa  bangsa ini tidak perlu mempercepat pembangunan
berbagai infrastruktur yang dibutuhkan untuk memajukan perekonomian
berbangsa dan bernegara.

Namun di sisi lain, ada 2 pertanyaan penting yang barangkali perlu
dijelaskan kepada rakyat secara terbuka dan objektif, yaitu: a).
Apakah semua memang harus seketika ini juga dan semua harus serentak
pula, serta b). Apakah investasi asing dan hutang LN hanya satu-satu
nya jalan untuk membiayai semua kebutuhan pembangunan tersebut, serta
apakah model investasi yang ada tersebut sudah adil untuk rakyat dan
bangsa sendiri dimasa kini hingga  masa mendatang ?

Semangat "semua harus seketika dan serentak" kenyataannya telah masuk
dalam perangkap "besar pasak dari pada tiang".

Pemotongan APBN yang dilakukan sampai dua kali, tidak saja
mengindikasikan adanya peristiwa "cacat perencanaan", melainkan juga
bisa diterjemahkan masyarakat sebagai bagian dari dinamika "nafsu
besar tenaga kurang".

Atas fenomena ini, maka secara teoritis bisa diduga ada 2 opsi kutub
penyebab, yaitu : a). Para pembantu Presiden "absolutely-misleading"
dalam berkinerja, atau b). Presiden "terperangkap" dalam ego impian
kejayaan nya sendiri.

Memaknai pola investasi asing yang sedang terjadi saat ini, tanpa
mengurangi rasa hormat kepada seorang Presiden, maka ada 1 pertanyaan
penting yang patut diajukan kepada beliau, yaitu : "apa sesungguhnya
market-rezime yang sedang beliau jalankan?"

Selama dua dekade terakhir, secara global masyarakat dunia
sesungguhnya telah meninggalkan rezim "consumer driven market" secara
cepat,  dan  berpindah total melancarkan "resources driven market"
secara masif.

Atas hal itu, mengapa Kabinet Kerja yang dipimpin Presiden Jokowi
malah menjadi "terperangkap" dan "tersiksa" oleh tingkah polah "buyer"
dan investor-asing yang memainkan langgam "consumer driven market".
Pembantu Presiden tidak kompeten, kah ?

Kuku Kekuasaan

Hadirnya fenomena "kuku kekuasaan" dalam Kabinet Kerja ditandai
masyarakat disaat KemenKumHam  memainkan lakon  kekuasaan untuk
"memporak-porandakan" partai-partai politik yang sedang masuk dalam
perangkap pertikaian.

Meskipun dalam teori dan kancah politik praktis hal tersebut mudah
untuk dijelaskan, namun dalam konteks revolusi mental  hal tersebut
sulit untuk diterima dan dipahami disaat semua itu hanya dibiarkan
oleh Presiden.

Secara sepintas, strategi kepemimpinan yang menggunakan pola "kuku
kekuasaan" tersebut nampak sangat efektif. Koalisi Merah Putih runtuh
tak berbekas dalam sekejap dan senyap, sedangkan Golkar telah "sangat
berani" untuk secara sangat dini menyatakan bahwa akan mendukung
Presiden Jokowi kembali pada Pemilu 2019.

Meskipun sikap Golkar tersebut secara teoritis dapat diterjemahkan
sebagai (maaf) "dagelan politik", namun demikian apapun juga hal
tersebut tetap harus dicatatkan dengan tinta khusus dalam Sejarah
Politik Indonesia.

Bukankah Presiden Soeharto pun pada masanya tidak pernah mengalami
dukungan seperti itu ?

Sesungguhnya dinamika "kuku kekuasan" adalah alamiah dan selalu akan
terjadi dalam setiap kancah politik, namun demikian tentunya roh
"revolusi mental" tetap harus bertanggungjawab atas dinamika tersebut,
yaitu  agar tidak ikut menimbulkan "luka" dan "cacat" yang tak
tersembuhkan pada bangsa dan negara.

Jika sadar tentang hal itu, maka ada dua  pertanyaan yang sulit untuk
kita hindari timbulnya di tengah masyarakat, yaitu: a). Apa wujud
hadirnya "roh revolusi mental" dalam dinamika deregulasi-masal dan
simplifikasi peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang dianggap
sebagai penghalang pembangunan, dan b). Apa pertanggungjawaban "roh
revolusi mental" dalam melihat KemenHumHam melanggar UU untuk
memberikan status kewarnegaraan RI kembali kepada Archanda Tahar
dengan begitu cepatnya?

Ada banyak substansi hukum dan kebijakan yang harus dibenahi untuk
menyongsong masa depan negeri ini adalah benar, namun demikian dari
kasus Kereta Cepat Jakarta-Bandung menyebabkan banyak pihak menjadi
sangat meragukan tujuan deregulasi dan simplifikasi berbagai peraturan
dan kebijakan yang dilancarkan oleh Kabinet Kerja.

Untuk menyongsong masa depan kah, atau hanya untuk memuluskan skenario
cengkraman "kuku kekuasaan" ?

Keraguan tersebut bertambah besar dengan hadirnya kasus penetapan
kewarganegaraan RI kembali bagi Archandra Tahar. Tidak kah KemenHumHam
menginjak-injak undang-undang? Diskresi kah ?

Jika iya, maka pertanyaan selanjutnya adalah "dimana sesungguhnya
batas dari suatu diskresi ?".

Tanpa penjelasan yang jujur dan objektif, maka semua dinamika tersebut
di atas tentu akan menjadi preseden buruk di masa mendatang.

Pungli dan Korupsi

Di satu sisi, kesaktian KPK barangkali dapat kita pandang dari semakin
banyaknya keberhasilan OTT yang dilakukan KPK.

Namun demikian di sisi lain, terus berlanjut nya peristiwa korupsi
selama berbilang tahun kehadiran KPK  adalah harus dimaknai lebih
dalam dari sekedar hanya mencanangkan berbagai gagasan hukuman dengan
pola "efek-jera".

Kabinet Kerja perlu untuk segera keluar dari perangkap jargon-jargon
kebijakan dan manajemen (maaf) "murahan" seperti "efek jera" dan
mekanisme-menkanisme E-government yang hanya menghabiskan devisa untum
membeli teknologi bangsa asing itu. Kabinet Kerja harus mampu
menunjukan keluhuran nilai "revolusi mental" sebagai roh dari gerakan
pembangunan yang sedang dipimpinnya.

Gerakan bebas pungli  juga bisa menjadi indikator kesungguhan Presiden
untuk membenahi korupsi secara serius.

Namun demikian di sisi lain, terjunnya Presiden secara langsung dalam
hal itu juga bisa bermakna adanya indikasi "one man show", adanya
indikasi "distrust", serta hadirnya indikator "lemahnya rantai
komando" dan rendahnya kompetensi sub-ordinat Presiden untuk
menyelesaikan hal tersebut.

Pepatah kepemimpinan dunia yang berbunyi "Big Portion For Big Serve"
mengisyaratkan ruang kinerja seorang Presiden  (big portion) haruslah
untuk suatu kinerja yang besar pula (big serve).

Bukankah masih sangat banyak masalah lain yang memerlukan "porsi"
Presiden untuk mengatasinya?

Kinerja Aparatur Negara

Jika kita cermati, sejak 20 tahun lalu semua pihak seperti didorong
dan gemar untuk menjadikan Aparatur Negara (PNS, POLRI dan TNI)
sebagai sumber dan penyebab banyak kesalahan di negeri kita ini.

Korupsi lah, kedisiplinan lah,  kualitas SDM lah, dan berbagai catatan
buruk lainnya semua dicorengkan ke muka aparatur negara.

Sejak reformasi, "coreng-moreng" wajah aparatur negara tersebut terus
diungkap secara hiperbolis dan subjektif.

Berbagai pihak juga cenderung terlalu bersemangat dalam menghalalkan
berbagai cara untuk "membantai" dan "memarginalkan" semua lini
aparatur negara.

Atas nama kebutuhan memberantas korupsi, maka gezah Aparatur
Kepolisian, Kejaksaan dan Kehakiman dipancung habis, untuk kemudian
diambil alih dan didikte oleh KPK.

Tanpa mengurangi arti KPK, maka ada beberapa pertanyaan kritis yang
perlu kita jawab bersama, yaitu: a). Fungsi-kehidupan  apakah yang
sesungguhnya terjadi dalam suatu peristiwa korupsi ?, b). Apakah
fungsi tersebut memang akan dapat diselesaikan oleh
"mechanistic-function" yang dibebankan pada KPK ?

Atas nama meningkatkan disiplin aparatur negara, mesin finger print
diberlakukan tanpa pandang bulu.

Harkat guru dan dosen pun "dilanyau" (dilindas) habis dengan penerapan
 sistem tolok ukur kinerja untuk kelompok "blue collar worker" itu.

Hal tersebut memang tidak dimulai di zaman Kabinet Kerja, namun
kenalilah apa yang dilakukan oleh Kabinet Kerja.

Tidak ada lagikah hal lain yang lebih subtantif dan mendasar pada
sektor pendidikan untuk dilakukan oleh MenDikBud daripada sekedar
melahirkan kebijakan administratif tentang jam sekolah?  Maknai
pulalah isu perampingan Aparatur negara yang sedang dipaksakan untuk
dilakukan oleh KEMENPAN-RB.

Benarkah jumlah apartur negara yang ada saat ini memang melebihi ratio
ideal terhadap jumlah penduduk? Jika dijawab IYA, maka jelaskanlah:
a). ratio negara mana yang dicontoh, b). asumsi apa yang berlaku pada
penerapan ratio tersebut, serta c). prakondisi dan kondisi apakah yang
dimiliki negara yang dicontoh itu dalam menerapkan ratio tersebut?

Tidak akan ada rakyat negeri ini yang akan menyangkal bahwa banyak hal
yang perlu diperbaiki dan ditata dalam sistem dan pola kerja aparatur
negara.

Tidak akan ada pula yang akan menolak fakta bahwa selama ini banyak
kesalahan yang dibuat oknum-oknum aparatur negara.

Namun demikian, Kabinet Kerja perlu menerapkan "revolusi mental" (baca
: revolusi cara memaknai) dalam menemukan solusi atas semua fenomena
negatif yang terjadi pada sistem aparatur negara selama ini.

Janganlah salah dalam mendefinisikan aparatur negara sebagai "zat dan
sifat" yang dibutuhkan dalam bernegara dan berbangsa. Jika negara ini
diibaratkan sebagai tubuh manusia, maka aparatur negara adalah bukan
"kuman dan virus" serta "musuh" negara, melainkan ibarat "darah" dalam
tubuh manusia.

PNS adalah ibarat darah merah, sedangkan TNI dan POLRI adalah ibarat
darah putih.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi pada diri manusia jika darahnya
terus di marginalkan, dan zat serta fungsinya digantikan oleh
"kantong-kantong darah donor".

Imajinasikan pula lah apa yang akan terjadi ketika fungsi organ tubuh
lainnya digantikan oleh "mesin cuci darah" (analogi KPK), oleh "mesin
pacu jantung" dan  "mesin insulin" sebagai analogi pembentukan
berbagai institusi adhoc yang terus menggejala dan membengkak pada
setiap rezim pemerintahan sesudah reformasi.

Penyerapan Anggaran

Belum optimalnya penyerapan APBN dari tahun ke tahun memang menjadi
hal yang menggemaskan.

Jika memanfaatkan uang yang sudah ada saja tidak bisa (secara baik dan
benar tentunya), apa lagi mencarinya, bukan ?

Saat ini di negeri kita kedua hal itu terjadi bersamaan, serapan
anggaran nya belum optimal, dan sumber uangnya pun masuk dalam
perangkap "hutang, hutang dan hutang". Jika dalam hal kuantitas
serapan saja sudah begitu adanya, maka bisa dibayangkan bagaimana
kualitas dan manfaat hasil pekerjaannya, bukan?

Sebagai contoh, barangkali menarik bagi kita untuk merenungkan
dinamika yang terjadi di Kementerian Pariwisata. Dalam 2 tahun
terakhir, anggaran untuk kementerian tersebut telah mendekati 6
Trilyun Rupiah. Naik lebih dari 100 % dari apa yang dianggarkan pada
zaman Presiden SBY.

Meskipun fungsi organisasinya "dikerdilkan", tapi semua dukungan
diberikan kepada kementerian tersebut. Anggaran diperbesar, bebas visa
diberikan, semua kementerian didorong untuk mendukung kinerja
kementerian tersebut, bukan ?

Cermatilah kinerja nya dalam 2 tahun terakhir ini. Sebagian besar
anggaran masih untuk aspek pemasaran dan promosi, itupun dipakai
dengan pola "membuang garam ke laut" dan pola "rancak di labuah".

Memasang videotron hingga ke New York, sedangkan "parking lot" dan WC
diberbagai destinasi saja masih banyak sekali yang tidak tertata apik
hingga saat ini, bukan ?

Statistik angka kunjungan wisman memang bergerak naik, tapi apakah
angka itu bisa dipercaya sepenuhnya?

Bukankah dalam beberapa minggu terakhir ini sudah semakin terkuak
berbagai kasus penyalahgunaan visa kunjungan ?

PSK dari negara asing pun bebas berkeliaran menebar berbagai penyakit
bagi masyarakat kita, bukan?

Penutup

Revolusi mental memang kita butuhkan dalam membangun bangsa dan negara
kita ke depan, namun pemaknaan dan implementasinya perlu kita cegah
dari hanya sekedar jargon manajemen.

Kehidupan berbangsa dan bernegara bukanlah merupakan fungsi mekanistik
seperti yang digaungkan para ahli manajemen dalam menjual berbagai
produk jasa dan barang yang mereka banggakan dalam lingkaran satu
Presiden.

Motto Kabinet Kerja yang berbunyi "Kerja, Kerja dan Kerja" kiranya
benar-benar perlu diterapkan secara disiplin dalam makna yang baik dan
benar untuk segala aspek kehidupan secara  ikhlas.

Mari kita tinggalkan pragmatisme dan jargon murahan, serta mari kita
suruh alam fikir, alam rasa, batin dan rohani kita untuk bekerja,
bekerja, dan bekerja agar menghasilkan buah fikir yang mumpuni dalam
membangun bangsa dan negara kita ke depan.

Setelah itu, bismillah, marilah kita satukan langkah untuk bekerja,
bekerja dan bekerja. Selamat bekerja. Salam.

#Penulis adalah pengajar di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan
cendekiawan Sumatera Barat.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke