Ada artikel bagus dari milis tetangga tuk nambah referensi mengenai perjalanan 
sejarah bangsa.

 
Wass.& Bgds.,

Herman Jambak
Cooperative of Garuda Indonesia Group Employees (KOKARGA)

GarudaIndonesia Building7th Fl.
Jl. Gunung Sahari Raya 52, Jakarta 10610 Indonesia
Ph. (62-21) 4262058-4262060 Fax. (62-21) 4262061
+62811961908, +62818981259
E-mail: [EMAIL PROTECTED]  http://www.kokarga.com
Secretary of Board of Eldership Member Federasi Awak Kabin Udara Indonesia 
(FAKUI) & Indo-Beatlemania Club (IBC)



----- Forwarded Message ----
From: "[EMAIL PROTECTED]" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, April 8, 2008 8:18:58 AM
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Cheng Ho tidak pernah singgah di Semarang 
sesuai catatan sejarah tra 
Posted by:      "Wal Suparmo" [EMAIL PROTECTED]    wal.suparmo  
Mon Apr 7, 2008 9:47 am        (PDT) Salam,
Dalam KOMPAS tgl 7 Apil 2008 kolom RITUAL: Antara Fakta Sejarah dan
Legenda Sang Laksamana, disebut adanya 3 teori mengenai perjalanan Chen
Ho . Sebagaimana diketahui dalam artikel itu ditulis bahwa menurut
cacatan sejarah tradisional Cina yang a.l.ditulis oleh Ma
Huang(sekretaris Cheng Ho) dan seorang sejarawan Cina yang bernama
Yuanzi, yang pertama menyatakan tidak ada catatan tentang perjalanan
Cheng Ho di Semarang( tidak pernah singggah) dan teori yang mengatakan
adanya salah satu kapal tetapi bukan kapal Cheng Ho yang mampir di
Semarang atau pelabuhan lain di sekitarnya.
Karena waktu itu Semarang belum ada, mustahil Cheng Ho akan mengambil
perbekalan dari tempat yang tak berpenghuni. Chen Ho telah singgah di
salah satu pelabuhan kerajaan yaitu Tuban (Majapahit) atau Japara(Demak
).
Jadi dari fihak Cina sendiri tidak pernah ada yang menudukung teori
bahwa Cheng Ho pernah mampir di Semarang.Sementara itu satu teori saja
yang dikemukakan orang Indonesia yang mendukung Cheng Ho singgah di
Semarang yaitu dari M.O.Parlindungan dalam bukunya Tuanku Rao.
Dibawah ini disampaikan pula tulisan dari Saifur Rochman( pacasarjana Ilmu 
Susastra UI)

Cheng Ho Tak Mampir di Semarang 
§ SELALU DISEBUT BAHWA Kelenteng Sam Po Kong sebagai jejak kesejarahan
yang memperkuat mampirnya Cheng Ho di Gedongbatu, Semarang . Bisa
diberikan keterangan pendek sebelum tulisan ini dipaparkan, kiranya
tidak bisa dibayangkan bila pada awal muhibah pada 1405 Cheng Ho
langsung menuju Semarang sebagai target perjalanan. Padahal menengok
Semarang pada awal abad ke-15 adalah daerah tak bertuan, karena
Kerajaan Demak belum tampil dan Majapahit masih menjadi bermahadiraja.
Baru pada 1478 M tercatat sebagai tahun pendirian Kerajaan Demak. 
Karena itu, betapapun besarnya perayaan yang akan dilangsungkan 7 Juli
2005 di Kelenteng Sam Po Kong, tetap saja harus dibaca sebagai upaya
memperkukuh dua pengandaian. 
Pertama, andai saja muhibah itu terjadi pada 1405, dan andai saja
laksamana muslim yang hidup pada Dinasti Ming itu memang berkunjung ke
Semarang . Perihal pengandaian pertama, laporan paling mutakhir
diturunkan majalah Time berjudul "Out to Sea with The Great Ship"
(edisi 20-27 Agustus 2001). Laporan itu diawali dengan kalimat mirip
puisi tentang kebesaran Cheng Ho yang mampu melawan badai, rasa sakit,
dan keadaan yang tidak menentu di tengah-tengah samudera.
Di tengah-tengah puisi, penulis Tim McGirk menyatakan dengan tegas,
"More than 300 vessels with some 30.000 men sailed in the first
imperial expedition in 1405 (kolom 1)." Karena itu, dikatakan bahwa
Cheng Ho adalah penjelajah pertama kali dan memiliki awak terbesar
sepanjang sejarah. Untuk memperkuat dugaannya, kemudian dia
membandingkan dengan penjelajah lain setelah itu. Setelah ekspedisi
pertama Cheng Ho pada 1405, Christopher Columbus baru melakukan
penjelajahan pada 1492 dan menemukan daratan Amerika. Setelah Columbus,
Vasco da Gama yang berkebangsaan Portugis memulai pada 1497, Ferdinand
Magellan berkebangsaan Portugis baru pada 1519, dan Francis D Frake
berkebangsaan Inggris menjelajah pada 1567. 
Alih-alih disamai, separuh kapal dan awak kapal yang dibawa Cheng Ho
itu pun tetap lebih besar dibanding para penjelajah setelahnya. Cheng
Ho adalah kata kunci bagi sejarah kebesaran China yang bisa ditemui
jejaknya di pelbagai belahan Nusantara.
Perihal pengandaian kedua, teks kontemporer yang bisa dirujuk adalah
novel Remy Silado bertajuk "Sam Po Kong: Perjalanan Pertama" (2004).
Ceritera yang pada mulanya sebagai cerbung (cerita bersambung) di Suara
Merdeka (2003) itu mengisahkan perjalanan seorang jenderal besar
bernama Cheng Ho ke Semarang . Cerita ini dilatarbelakangi oleh
kesadaran historis, yang tidak sekadar berpegang pada deskripsi
geografis yang bersifat diakronis, tetapi juga mitos-mitos yang
berkembang di tengah-tengah masyarakat.
Sebuah dialog menarik terjadi antara Laksamana Cheng Ho dengan
syahbandar pelabuhan Quinh No. Disebutkan oleh pencerita, pelabuhan
tersebut merupakan pertemuan antara China selatan dengan Nusantara
(2004: 124). Sebelum berpamitan, syahbandar sekali lagi menanyakan
kepergiannya. Dengan mantap Cheng Ho berujar bahwa dia bersama ratusan
awak kapalnya akan berlabuh ke Asem Arang. Perhatikan, idiom yang
disebut penutur merujuk pada etimologi Kota Semarang, sebagaimana
masyarakat Kota memercayai morfofonemik "Semarang" berasal dari dua
morfem "Asem" dan "Arang" (Bahasa Jawa: pohon asam yang jarang).
Kedatangan Cheng Ho di Asem Arang itu semakin diyakinkan melalui
konflik dengan kekuasaan Majapahit, terutama dengan Raja
Wikramawardhana. Berbeda dengan cerita yang berkembang di masyarakat,
bahwa Sam Po Kong adalah gelar Cheng Ho sebagai tokoh yang dipuja.
Dalam cerita ini Sam Po Kong digambarkan sebagai anak buah Raja
Majapahit yang siap mengadang Laksamana kapan saja, dan Wu Ping selaku
pengikut setia Laksamana akan siap membela atasannya sampai mati.
Narasi yang dibangun Silado bukanlah paparan yang semata-mata
ditelorkan dari angan-angan yang lepas dari kenyataan. Bila gagasan
Hans Robert Jauss tentang perspektif kesejarahan dalam karya sastra itu
bisa diterapkan, maka novel Sam Po Kong -sekalipun tidak bisa dijadikan
sebagai data sejarah- adalah butir-butir kenyataan yang diikat melalui
serangkaian mitos-mitos agar tafsir bisa berjalan.
Ketidakpastian
Armada yang dimpimpin Laksamana Cheng Ho disebut-sebut menyamai armada
Jepang dan Spanyol selama Perang Dunia II. Kapal yang digunakan sang
Laksamana memiliki panjang sekitar 130 meter, lebar 60 meter, dan
digerakkan dengan teknologi kelautan yang begitu canggih pada masanya.
Dengan 300 kapal, sebagaimana dicatat oleh WP Groenevelt, seorang
Chinolog dan Indonesiolog, dalam Notes on the Malay Archipelago and
Malacca Compiled from Chinesse Source (1877), Cheng Ho melakukan
pelayaran selama tujuh kali selama 25 tahun, yakni antara 1407-1432.
Jumlah pelayaran itu dibenarkan pula oleh catatan Melayu yang bertajuk
Tuanku Rao (1964) oleh MO Parlindungan. Akan tetapi, baik catatan
Melayu maupun sumber Groenevelt yang berasal dari China daratan tidak
memastikan tahun-tahun Cheng Ho berlabuh. 
Ketidakpastian tahun-tahun keberangkatan itu sama tidak pastinya dengan
tempat-tempat yang disinggahi, terutama ketika harus menyebut Kota
Semarang. Gedongbatu, Kecamatan Semarang Barat, yang saat ini berada
sekitar 15 km dari bibir laut disebut-sebut sebagai tempat pendaratan
Cheng Ho dan balatentaranya.
Hal itu konon terbukti dengan hadirnya Kelenteng Sam Po Kong yang
disebut-sebut sebagai petilasan Cheng Ho. Keislamannya dibuktikan
dengan adanya makam Islam di sisinya yang dipercayai sebagai juru mudi
sang Laksamana. Ceritera yang turun-temurun itu setidaknya dikukuhkan
oleh Amen Budiman melalui Semarang Riwayatmu Dulu (1978). Menurutnya,
jenazah yang beristirahat di bawahnya adalah Dampo Awang, juru mudi
sang Laksamana yang memeluk agama Islam. 
Dalam mitologi Jawa, tokoh Dampo Awang selalu muncul di sejumlah tempat
di pesisir utara pulau Jawa. Di Jepara, Rembang, dan Tuban dipercayai
terdapat jangkar milik Dampo Awang.
Kecuali itu, sebuah argumentasi menarik dipaparkan HJ de Graaf dan Th
Pigeaud, pakar sejarah Jawa yang disetarakan dengan Raffles, dalam
laporan Chinesse Muslims in Java in the 15th Centuries: The Malay
Annals of Semarang and Cerbon (1984). Dia mengkaji secara kritis
Catatan Melayu yang disusun Parlindungan. Paparan kronologis itu
berujung pada simpulan bahwa Laksamana Cheng Ho tidak pernah mampir di
Semarang . Argumentasi ini didasarkan atas dua hal. Pertama, tidak ada
bukti-bukti tertulis, baik dalam Catatan Cina maupun dalam Catatan
Melayu tentang persinggahan Sang Laksamana. Kedua, tidak ada satu situs
pun yang "mencurigakan" sebagai jejak-jejak mereka sehingga bisa
menyakinkan. De Graaf berulang kali menandaskan dalam simpulannya,
"Kapal Cheng Ho meninggalkan Fukkien bukan sebelum Januari tahun 1414
(ini adalah awal ekpedisi keempatnya) dan Ma Huan (juru bahasa muslim
dan pembantu sang Laksamana serta penulis jurnal ekspedisi) tidak
menyebut Kota Semarang di antara
empat kota Jawa yang dia sebutkan, sehingga pernyataan bahwa Cheng Ho
di Semarang selama satu bulan tidak mungkin benar (2004: 56)."
Pernyataan tersebut tidak mengagetkan, karena Semarang pada abad ke-15
adalah sebuah wilayah yang "tidak dikenal" oleh para pendatang asing,
karena letaknya menjorok ke dalam dan tidak ada daya tarik secara
ekonomi dan politik. Pada masa itu, keruntuhan
Mahapahit pada awal abad ke-15 sekaligus memindahkan pusat pemerintahan
dari Jawa Timur ke Demak; itu pun puluhan tahun setelah Cheng Ho
meninggal sekitar tahun 1440. Kendati disinyalir kerajaan Majapahit
masih beroperasi pada pemerintahan Ratu Suhita (1429-1447) sampai akhir
abad ke-15, namun Demak berupaya melakukan klaim kemenangan dengan
menuliskan candra sengkala untuk keruntuhan Majapahit yang berbunyi
"sirna ilang kertaning bumi" (sirna= 0, ilang = 0, kertaning= 4, bumi
=1), yang bisa dibaca sebagai tahun 1400 Saka atau 1478 Masehi. 
Walhasil, menjadi jauh kemungkinannya bila Cheng Ho singgah di sebuah
pesisir yang tidak ramai. Sebab, di samping pemerintahan Demak belum
terbentuk dan pusat kekuasaan masih berada di bawah tampuk pemerintahan
Raja Wikramawardahana, juga alasan perbekalan yang harus dipenuhi Cheng
Ho sebelum berlayar kembali.
Justru satu-satunya kota di Jawa yang disebut dalam sumber China dan
catatan Melayu adalah Jepara, sebuah kota kabupaten di pesisir utara
Jawa Tengah, sekitar 78 km dari Semarang. Pada masa itu (abad ke-15),
Kabupaten Jepara masih menjadi sebuah pulau dengan batas lautan berada
di wilayah Demak. Kota itu telah menjadi pelabuhan internasional karena
di sebelah utara Jepara terdapat pula situs peninggalan ekpedisi
Alfonso Darlbuquerque berkebangsaan Portugis, diperkirakan pada abad
ke-15. 
Lagi pula, kota Jepara bagi komunitas China bukanlah wilayah asing
untuk persinggahan. Pada abad ke-8, para penjelajah China sudah
mendiami kota di lereng gunung itu. Harian Locomotief yang terbit di
Semarang pernah menurunkan artikel bertajuk "Japaraís Verleden" (Jepara
di Masa Lalu) pada 4-5 Maret 1931. Disebutkan, "Jepara atau Djapara
letaknja ada di tanah pegoenoengan Moeria . . . Satoe antara itoe warta
penting jang terdapet di ini bilangan adalah kota dapetken satoe
formulier soempah dalem Kawiorkonde tahun 762 Caka. Dari dalam tanah
telah dapet digali banjak sekali persolein-porselein Tionghoa koeno
yang indah. Di antara dongengan yang tersiar, ada ditjeritakan tentang
satu pelgrim (pendita) Tionghoa doeloe telah diapatken katjilakaían
dengan ia poenja kapal di Jepara, kemoedian di Welahan ia dapetken
banyak moerid." 
Dengan alasan itu pula, Liem Thian Joe dalam Riwajat Semarang (Dari
Jamannja Sam Poo Sampae Terhapusnja Kongkoan) (1931) menulis bahwa
pendatang Tionghoa yang menetap di Semarang bukanlah Cheng Ho,
melainkan Sam Po Tay Jien. Mereka berdua diutus oleh Dinasti Ming untuk
mencari batu permata ke Nan Yang (Asia Tenggara). Adanya kelenteng di
gua tersebut, katanya, menandai keberadaan komunitas Sam Po pada masa
itu, sedangkan makam Islam yang terdapat tak jauh dari lingkungan
kelenteng adalah juru mudi Sam Po yang beragama Islam. 
Keterangan Thian Joe tampak ahistoris dan bertolak belakang dengan de
Graaf dan Catatan Melayu. Menurut de Graaf, kelenteng di Gedongbatu
didirikan oleh Gan Si Cang, anak bupati Tuban Gang Eng Cu yang murtad
dari Islam. Dia kemudian ditunjuk menjadi Kapitan Cina non-Islam di
Semarang oleh bapaknya. Keterangan ini selaras dengan laporan Catatan
Melayu, bahwa Gan Si Cang memiliki saudara bernama Kin San, yang pada
akhirnya ditunjuk ayahnya untuk menjadi penguasa Islam di Semarang. Kin
San di kemudian hari dikenal dengan nama Raja Husein. Pemerintahan Raja
Husein ini memiliki jalur koordinasi dengan pemerintahan Demak yang
dipegang oleh Jin Bun (Raden Fatah) yang masih satu saudara dengan Gan
Eng Cu maupun Kin San. 
Bila melihat masa kekuasan Raden Fatah, maka Gan Si Cang, si Kapitan
China non-Islam itu mestinya juga hidup pada masa itu dan menjadi wajar
bila akhirnya membangun komunitas kelenteng di Gedongbatu, yang jauh
dari pusat pemerintahan Islam. Adapun perihal makam Islam yang
dikeramatkan itu bisa disusun keterangan bahwa pemukim di Gedongabtu
bukanlah komunitas yang homogen, karena tidak semua pendatang China
yang semula berada di Jepara pada abad ke-8, kemudian pindah ke
Gedongabatu abad ke-15 dan ke-16, sampai akhirnya ke kawasan Johar pada
abad ke-19, adalah penganut Kong Hu Cu. Apalagi masing-masing masa
dipengaruhi oleh kekuasaan yang mampu melakukan subordinasi pada
komunitas yang bernaung di bawahnya. 
Sulitnya, titik-titik terang historis yang diharapkan mampu membuka
tabir kegelapan telah membeku menjadi mitos-mitos yang bertebaran di
sana-sini atas nama peringatan dan perayaan. Perlawanan terhadap mitos
adalah keberanian membongkar lapis demi lapis ketidaksadaran kolektif
dan menata dalam satu jalinan yang lebih terang. Begitulah, catatan ini
tidak bermaksud menutup kemungkinan perihal kedatangan Cheng Ho di
daratan Semarang pada awal abad ke-15, tetapi keyakinan yang terlampau
besar hanya akan menafikan data-fata yang berkeliaran di luarnya. 
Wasalam, 
Wal Suparmo


      
____________________________________________________________________________________
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.  
http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text5.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke