Dari Antara Sumbar kita baca: *Lentera: Perangi HIV/AIDS, Jangan Benci Penderitanya* Jumat, 2 Desember 2016 15:12 WIB Pewarta : Pratiwi Tamela Ilustrasi - (ANTARA SUMBAR/Zulham Beni Kusuma)
Padang, (*Antara Sumbar*) - Dinas Kesehatan Sumatera Barat (Sumbar) menyatakan penularan HIV/AIDS di provinsi itu didominasi oleh hubungan seks berisiko pada heteroseksual. "Secara kumulatif hingga saat ini kasus AIDS mencapai 570 kasus yang didominasi heteroseksual," kata Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Sumbar, Irene di padang, Jumat. Kemudian diikuti penggunaan Napza suntik, homoseksual, biseksual, penularan dari ibu ke anak (perinatal), akibat pemakaian tato dan dari sumber penularan yang tidak diketahui. Ia menyebutkan hingga Juli 2016 ditemukan kasus baru AIDS di Sumbar mencapai 64 kasus, dimana Kota Padang memiliki kasus AIDS tertinggi yaitu sebanyak 28 kasus. Tingginya kasus AIDS di Padang, hal ini membuktikan bahwa penularan penyakit ini banyak terjadi di kota besar yang arus kehidupan bebasnya cukup tinggi. Untuk data hingga akhir 2015, total kasus HIV di Sumbar ialah 1.435 kasus yakni 1.213 kasus sebaran wilayahnya tidak diketahui dan 222 kasus berasal dari luar wilayah. Sementara untuk distribusi kasus AIDS hingga akhir 2015, sebutnya mencapai 1.346 kasus yang tersebar di 19 kabupaten/kota serta luar wilayah dan beberapa kasus yang tidak diketahui sebaran wilayahnya. "Pada 2015 itu, bahkan 173 penderita meninggal akibat penyakit tersebut," ujarnya. Dengan demikian, pihaknya terus berusaha untuk meminimalisasi penyebaran HIV/AIDS di Sumbar dengan melakukan pencegahan diantaranya memberikan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) HIV/AIDS dan napza pada kelompok berisiko tinggi, petugas kesehatan, anak sekolah dan warga binaan. Lalu bekerja sama dengan universitas untuk penyuluhan HIV pada generasi muda dan kegiatan lainnya. Sementara itu penggiat LSM HIV/AIDS Kelompok Dukungan Sebaya Lentera Minangkabau Alfitri mengatakan pemahaman yang perlu ditekankan pada mayarakat bahwa HIV/AIDS tidak menular melalui jabatan tangan, makan bersama atau yang termasuk kegiatan rutin bersama sehari-hari. Penularan penyakit ini terutama melalui hubungan seksual atau air mani dan cairan vagina, melalui transfusi darah, kemudian dari ibu kepada bayi pada masa kehamilan, ketika melahirkan atau menyusui, dan pemakaian jarum suntik bergantian pada pengguna penyalahgunaan narkotika. "Selama ini kuat melekat stigma terhadap penderita HIV/AIDS," katanya. Oleh karena itu, imbuhnya perlu bersama-sama memerangi HIV/AIDS yang merupakan penyakit mematikan, tetapi jangan membenci maupun mendiskriminasi penderitanya. "Perangi HIV/AIDS, tapi jangan hindari dan benci penderitanya," ujarnya. (*) Editor : Joko Nugroho COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2016 On Wednesday, September 7, 2016 at 12:18:51 PM UTC-7, Sjamsir Sjarif wrote: > > Apa sebabnya yaa? > > -- MakNgah > > > *Kanker Payudara Tertinggi di Indonesia* > Kamis,08 September 2016 - 01:56:43 WIB > [image: Kanker Payudara Tertinggi di Indonesia] Ilustrasi. > > <http://harianhaluan.com/news/detail/59537/kanker-payudara-tertinggi-di-indonesia> > > > *JAKARTA, HALUAN* — Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), > Linda Gumelar, mengatakan, kanker payudara merupakan jenis kanker tertinggi > pada pasien rawat inap maupun rawat jalan di seluruh rumah sakit di > Indonesia. > > “Pada 2010, jumlah pasien kanker payudara 28,7 persen dari total penderita > kanker,” kata Linda sebelum membuka diskusi panel “Implementasi Jaminan > Kesehatan Nasional dalam Penjaminan Pelayanan Kepada Pasien Kanker Anak dan > Kanker Payudara” di Jakarta, Rabu (7/9). > > Secara umum, Linda mengatakan prevalensi penyakit kanker di Indonesia juga > cukup tinggi. Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi kanker di > Indonesia adalah 1,4 dari 1.000 penduduk atau sekitar 347.000 orang. Di > seluruh dunia, 8,2 juta orang meninggal dunia setiap tahun akibat kanker, > meningkat dari sebelumnya 7,6 juta pada 2008. Diperkirakan pada 2025, > jumlah orang meninggal dunia akibat kanker meningkat menjadi 11,5 juta bila > tidak dilakukan upaya pencegahan dan pengendalian yang efektif. > > “Di Indonesia, kasus baru kanker payudara menjadi kasus kematian tertinggi > dengan angka 21,5 pada setiap 100.000. Yang memprihatinkan, 70 persen > pasien kanker payudara baru datang ke fasilitas kesehatan pada stadium > lanjut,” tuturnya. *(h/ant)* > > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
