JG hadir dengan PSI nya hanya untuk ambisi memiliki saham di republik ini
dengan back up kapitalis china di belakangnya.. saya orang yang turut tim inti
dia untuk pilgub dan hari ini saya kecewa sama dia sudah rusak juga cara
berfikir Buya Syafii..
Wasallam.
Best Regards,
Zuhrizul Chaniago/45 /padang
Pada Selasa, 6 Maret 2018 03.15.59 WIB, Alec Sutaryo <[email protected]>
menulis:
Jeffrie Geovanie, PSI & Jokowi
5 March 2018Edit
Lama tak muncul ke permukaan, tahu-tahu nama Jeffrie Geovanie, pengusaha muda
berdarah Minang, muncul di sebuah partai baru, Partai Solidaritas Indonesia
(PSI), yang bernomor urut 11, atau lebih dikenal sebagai partainya generasi
milenial alias kawula muda. Di situ ia duduk sebagai Ketua Dewan Pembina.
Mungkin banyak yang belum tahu siapa pria yang kini duduk sebagai Anggota
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia periode 2014–2019
setelah terpilih menjadi Anggota Dewan Perwakilan Daerah dari daerah pemilihan
Provinsi Sumatera Barat pada Pemilu Legislatif 2014 ini.
Jeffrie tercatat sebagai alumnus lulusan dua perguruan tinggi di Jakarta yaitu
jurusan Sastra Indonesia, Universitas Nasional serta Program Pascasarjana Ilmu
Komunikasi di Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), Jakarta.
Kedua orang tuanya berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat. Ayahnya merupakan
seorang profesional dengan tugas terakhir di Yayasan milik PBB yang mengurus
soal pengungsi Vietnam di Pulau Galang yang wafat ketika Jeffrie masih kecil
sementara ibunya bekerja sebagai seorang PNS.
Tentang ibunya ini, Jeffrie pernah bercerita ketika diwawancarai oleh M Guntur
Romli dari Islamlib.com sebagai tipikal perempuan Minang yang fanatik soal
agama Islam dalam mendidik anak-anaknya.
“…Saya dari kecil memang diasuh oleh ibu karena ayah sudah almarhum. Jadi bagi
kami apapun kata ibu harus dilaksanakan.”
Sebelum menekuni usahanya sendiri di bidang properti dan perhotelan, Jeffrie
pernah bekerja di American Express Bank Ltd Jakarta, Direktur Trego Holdings
Ltd Singapore, serta Direktur Bank Artha Prima Jakarta.
Pada tahun 2002, Jeffrie mendirikan Syafii Maarif Foundation atau lebih dikenal
sebagai Maarif Institute, sebuah LSM yang aktif mengkaji masalah kebudayaan dan
kemanusiaan di mana ia duduk sebagai Ketua Yayasan.
jeffrie jakartasatucom
foto: jakartasatu.com
Jeffrie juga aktif sebagai salah seorang Dewan Penasehat Center for Strategic
and International Studies (CSIS). JG, begitu dia dikenal, pernah menjadi Ketua
Umum PB. Percasi, dan menjadi salah seorang anggota Dewan Redaktur Penerbitan
Balai Pustaka.
Dikutip dari situs pribadinya Jeffriegeovanie.id, disebutkan bahwa karier
politik Jeffrie dimulai ketika ia menjadi anggota Muhammadiyah dan kemudian
bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN).
Pada tahun 2005, karier politiknya menanjak saat dicalonkan sebagai kandidat
Gubernur Sumatera Barat oleh Koalisi Sakato yang berisikan 16 partai politik,
berpasangan dengan Dasman Lanin sebagai wakilnya.
Dalam Pilkada tersebut, meski belum berhasil menjadi yang pertama, namun
Jeffrie berhasil menduduki peringkat ketiga di bawah pasangan Gamawan
Fauzi-Marlis Rahman serta Irwan Prayitno-Ikasuma Hamid.
Pada musim pemilihan 2009, Jeffrie berkampanye di bawah naungan Partai Golkar.
Kali ini kiprahnya bersama Golkar menuai sukses dengan terpilihnya Jeffrie
sebagai anggota DPR periode 2009 – 2014.
Namun pada Maret 2012, Jeffrie mengejutkan publik melalui pernyataan
pengunduran dirinya dari Golkar. Beberapa sinyalemen media mengungkap kaitan
pengunduran diri ini dengan rencananya berkonsentrasi di organisasi masyarakat,
yakni Nasional Demokrat (Nasdem).
Karier politik Jeffrie berlanjut pada Pemilu 2014. Dia berhasil terpilih
sebagai Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia dari daerah
pemilihan Provinsi Sumatera Barat dengan raihan 195.930 suara, terbanyak ketiga
setelah Irman Gusman dan Emma Yohana.
harianpijakdotcom
foto: harianpijar.com
Meski dididik secara fanatik keagamaan oleh ibunya, Jeffrie termasuk tipe yang
memiliki toleransi tinggi dalam beragama, terbukti ketika ia tidak memaksakan
pelaksanaan ritual keagamaannya kepada keluarganya termasuk terhadap istrinya
yang mualaf dan anak-anak.
Dalam naskah yang ia tulis berjudul “Melawan Politik Kebencian” di situsnya
itu Jeffrie dengan sangat gamblang menentang politisasi agama yang terlalu
berlebihan, termasuk cara-cara kotor seperti memproduksi fitnah dan kabar-kabar
bohong (hoax).
Di PSI, partai berlambang bunga mawar, Jeffrie seperti berada di habitat
alaminya di mana banyak bergabung orang-orang yang masuk dalam kategori
kelompok yang “sudah selesai dengan dirinya sendiri.”
jeffrie_pinterest_couk
foto: pinterest.co.uk
Kelompok orang-orang seperti itu diyakini tidak akan mudah tergiur dengan
godaan korupsi dan akan lebih banyak meluangkan sisa umurnya untuk aktualisasi
diri dan pengabdian kepada kepentingan orang banyak.
Selain itu, dalam laporan wawancara berjudul: Jeffrie Geovanie: “Tuhan Dapat
Diajak Dialog” itu dapat disimpulkan bagaimana kedalaman pengalaman spiritual
Jeffrie dalam mencari ‘wujud’ Tuhannya.
Dia menjadikan keseharian hidupnya sebagai wacana dialog dengan Sang Pencipta,
semacam pengalaman spiritual ini oleh Buya Hamka disebut sebagai “tasawuf” yang
mana tiap orang boleh jadi menjalani perjalanan spiritual yang berbeda-beda
pula.
Bagaimanapun, kehadiran Jeffrie di PSI lebih pas diletakkan sebagai formalitas
struktural semata, tanda apresiasi kepada dia karena telah memberi dukungan
penuh bagi PSI, sebagai salah seorang donatur utamanya.
Hal itu penting, mengingat di tubuh PSI berlaku aturan main yang ketat bahwa
pengurus harian partai atau orang-orang yang mengelola segala kepentingan
partai dalam day-to-day basis (skala harian) mesti bebas dari partai lama
manapun.
Karena itu, bisa dimaklumi jika nama Jeffrie Geovanie tidak dimunculkan dalam
struktur pengurusan harian partai di situs resminya http://www.psi.id, kecuali
dalam dokumen arsip di KPU dan Kemenkumdang.
kaskus
foto: kaskus.co.id
Karena memang Jeffrie tidak memiliki kendali langsung apapun terhadap partai,
selain sebagai pembina atau lebih tepatnya penasehat semata.
Sebetulnya, ketokohan Jeffrie yang sudah malang melintang di sejumlah partai
memiliki nilai tambah tersendiri.
Ini penting mengingat kondisi perpolitikan di Tanah Air yang kini tengah
dilanda kevakuman tokoh berintegritas, selain Jokowi, untuk berlaga di Pemilu
2019.
Bukan tak mungkin, kehadiran Ketua Umum PSI, Grace Natali, beserta Sekjen Raja
Juli Antoni dan Ketua Tsamara Amany di Istana Negara belum lama ini sempat
menyinggung masalah siapa cawapres ideal pendamping Jokowi.
Kenapa Jeffrie adalah figur yang pas untuk pasangan Jokowi maju di Pemilu 2019?
Beberapa poin berikut menjadi bahan pertimbangan strategis:
Satu. Jeffrie terhitung sebagai tokoh muda yang berintegritas tinggi, bisa
diterima oleh beragam kalangan termasuk elite-elite politik dan ormas-ormas.
ali cestar psi
foto: cestarweb.wordpress.com
Dua. PDIP tidak mungkin mencalonkan cawapres dari partainya sendiri setelah
Jokowi, kalau tidak ingin dinilai ‘rakus’ dan ditentang oleh partai-partai lain
dalam koalisi.
Tiga. Sejak pasangan Bung Karno dan Bung Hatta, orang Minang punya pengalaman
traumatis pasca PRRI dan menghindari jadi orang nomor satu karena dianggap
sebagai ‘umpan peluru’ dan cenderung menjadikan nomor dua sebagai karir
tertinggi di negeri ini.
Artinya, Jeffrie tidak punya ambisi untuk menjadi RI 1 pada pemilu 2024 seperti
yang dikhawatirkan jika jabatan cawapres dipegang oleh tokoh-tokoh muda lain
yang lebih ambisius.
Empat. Jeffrie dikenal memiliki kedekatan hubungan dengan sejumlah pengusaha
keturunan, sehingga kehadirannya diharapkan bisa mengikis habis potensi
menguatnya dikotomi dan sentimen SARA di tengah masyarakat.
Lima. Jeffrie menjadi simbol perlawanan terhadap kelompok oposisi yang notabene
dikomandoi oleh orang sekampungnya sama-sama dari Sumbar, Fadli Zon bersama
Partai Gerinda-nya.
Kehadiran Jeffrie di kubu Jokowi diperkirakan akan bisa menarik kelompok
milenial dari Gerindra untuk berpaling mendukung Jokowi.
Hal itu bukanlah sesuatu mustahil terjadi. Contoh terbaru akhir-akhir ini
adalah dirilisnya tulisan gubernur Sumbar Irwan Prayitno, seorang kader PKS,
yang mengelu-elukan Jokowi sebagai tokoh ideal, hanya karena takjub dengan
ketulusan Jokowi berbuat untuk rakyatnya, setelah seharian menemani Presiden
blusukan ke beberapa tempat.
Dalam artikel berjudul “Blusukan Presiden Jokowi” yang dimuat di Harian
Singgalang, 15/2, Irwan dengan tegas mengatakan apa yang dilakukan Jokowi sama
sekali bukan pencitraan, tapi layaknya kerja seorang pemimpin yang mengayomi
rakyat.
Karena itu, bisa disimpulkan bahwa Jeffrie sebagai pasangan untuk cawapres
Jokowi pada pemilu 2019 adalah pilihan yang sangat logis.
Ali Cestar
(Penulis adalah pemerhati masalah sosial politik untuk sementara berdomisili di
Hambalang, Bogor)
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.