Antah lah Elthaf ndak tau aaa nan ka di baco, bantuak itu bana lah kondisi 
Indonesia kini . Aaa lah nan salah di awak ko.
Dulu zaman orde baru di kecek kan pemerintah nan korupsi. Sasudah reformasi 
masuak lah urang Partai, Perguruan tinggi, swata dll nan jadi Mentri, Gubernur, 
Wako, Bupati. Apo nan tajadi labiah parah pulo dari zaman orde baru tu.
Di perusahaan swasta maupu asiang ampia samo sen pulo nan tajadi. Di caliak 
pulo sakaliliang, pelaku ko ado nan tetangga, urang sakampuang dan mungkin juo 
dunsanak awak. 
Tibo pulo di awak kalau di posisi itu, tapaso pulo di tanyo badan tu, lai indak 
ka bantuak tu pulo. 
Jawek no iyo binguang sen,

Wassalam
Tan Ameh
  ----- Original Message ----- 
  From: Elthaf (elthaf) 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Friday, April 11, 2008 3:56 PM
  Subject: [EMAIL PROTECTED] Renungan 10/04/2008



  FYI, sangaik manyantuah kalbu

   

------------------------------------------------------------------------------
  From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Mawri, 
Viermitrio
  Sent: Friday, April 11, 2008 3:14 PM
  Subject: [TanjungMedan] RE: Renungan 10/04/2008


  CERITA DARI SEORANG TEMAN :

   

  Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi
   trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum jua lewat, sedang
   matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik
   utuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termangu di tepi jalan
   dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar.
   Matanya memandang kosong ke arah jalan.

   Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan. Pak Jumari,
   demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang
   biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta
   Timur. "Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?"
   tanya saya.

   Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang
   seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia
   limapuluh dua tahun ini menggeleng. "Gak ada minyaknya."

   Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan,
   katanya, pemerintah akan mencabut subsidi harga minyak tanah. "Saya
   bingung. saya pasti gak bisa lagi jualan minyak. Saya gak tahu lagi
   harus jualan apa. modal gak ada.keterampilan gak punya.." Pak Jumari
   bercerita. Kedua matanya menatap kosong memandang jalanan. Tiba-tiba
   kedua matanya basah. Dua bulir air segera turun melewati pipinya yang
   cekung.

   "Maaf /dik/ saya menangis, saya benar-benar bingung. mau makan apa kami
   kelak.., " ujarnya lagi. Kedua bahunya terguncang menahan tangis. Saya
   tidak mampu untuk menolongnya dan hanya bisa menghibur dengan kata-kata.
   Tangan saya mengusap punggungnya. Saya tahu ini tidak mampu mengurangi
   beban hidupnya.

   Pak Jumari bercerita jika anaknya yang paling besar kabur entah ke mana.
   "Dia kabur dari rumah ketika saya sudah tidak kuat lagi bayar sekolahnya
   di SMP. Dia mungkin malu. Sampai sekarang saya tidak pernah lagi melihat
   dia.. Adiknya juga putus sekolah dan sekarang ngamen di jalan. Sedangkan
   dua adiknya lagi ikut ibunya ngamen di kereta. Entah sampai kapan kami
   begini ."

   Mendengar penuturannya, kedua mata saya ikut basah.

   Pak Jumari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil lusuh yang
   melingkar di leher. "/Dik/, katanya adik wartawan.. tolong bilang kepada
   pemerintah kita, kepada bapak-bapak yang duduk di atas sana, keadaan
   saya dan banyak orang seperti saya ini sungguh-sungguh berat sekarang
   ini. Saya dan orang-orang seperti saya ini cuma mau hidup sederhana,
   punya rumah kecil, bisa nyekolahin anak, bisa makan tiap hari, itu saja.
   " Kedua mata Pak Jumari menatap saya dengan sungguh-sungguh.

   "/Dik/, mungkin orang-orang seperti kami ini lebih baik mati... mungkin
   kehidupan di sana lebih baik daripada di sini yah..." Pak Jumari
   menerawang.

   Saya tercekat. Tak mampu berkata apa-apa. Saya tidak sampai hati
   menceritakan keadaan sesungguhnya yang dilakukan oleh para pejabat kita,
   oleh mereka-mereka yang duduk di atas singgasananya. Saya yakin Pak
   Jumari juga sudah tahu dan saya hanya mengangguk.

   Mereka, orang-orang seperti Pak Jumari itu telah bekerja siang malam
   membanting tulang memeras keringat, bahkan mungkin jika perlu memeras
   darah pun mereka mau. Namun kemiskinan tetap melilit kehidupannya.
   Mereka sangat rajin bekerja, tetapi mereka tetap melarat.

   Kontras sekali dengan para pejabat kita yang seenaknya numpang hidup
   mewah dari hasil merampok uang rakyat. Uang rakyat yang disebut
   'anggaran negara' digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah,
   fasilitas alat komunikasi yang canggih, rumah dinas yang megah, gaji dan
   honor yang gede-gedean, uang rapat, uang transport, uang makan,
   akomodasi hotel berbintang nan gemerlap, dan segala macam fasilitas gila
   lainnya. /Mumpung ada anggaran negara maka sikat sajalah! /

   Inilah para perampok berdasi dan bersedan mewah, yang seharusnya bekerja
   untuk mensejahterakan rakyatnya namun malah berkhianat mensejahterakan
   diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Inilah para lintah darat yang
   menghisap dengan serakah keringat, darah, tulang hingga sum-sum
   rakyatnya sendiri. Mereka sama sekali tidak perduli betapa rakyatnya
   kian hari kian susah bernafas. Mereka tidak pernah perduli. Betapa
   zalimnya pemerintahan kita ini!

   Subsidi untuk rakyat kecil mereka hilangkan. Tapi subsidi agar para
   pejabat bisa hidup mewah terus saja berlangsung. Ketika rakyat antri
   minyak berhari-hari, para pejabat kita enak-enakan keliling dalam mobil
   mewah yang dibeli dari uang rakyat, menginap berhari-hari di kasur empuk
   hotel berbintang yang dibiayai dari uang rakyat, dan melancong ke luar
   negeri berkedok studi banding, juga dari uang rakyat.

   Sepanjang jalan, di dalam angkot, hati saya menangis. Bocah-bocah kecil
   berbaju lusuh bergantian turun naik angkot mengamen. Di perempatan lampu
   merah, beberapa bocah perempuan berkerudung menengadahkan tangan. Di
   tepi jalan, poster-poster pilkadal ditempel dengan norak. Perut saya
   mual dibuatnya.

   Setibanya di rumah, saya peluk dan cium anak saya satu-satunya. "Nak,
   ini nasi bungkus yang engkau minta." Dia makan dengan lahap. Saya tatap
   dirinya dengan penuh kebahagiaan. /Alhamdulillah/ , saya masih mampu
   menghidupi keluarga dengan uang halal hasil keringat sendiri, bukan
   numpang hidup dari fasilitas negara, mengutak-atik anggaran negara yang
   sesungguhnya uang rakyat, atau bagai lintah yang mengisap kekayaan negara.

   Saat malam tiba, wajah Pak Jumari kembali membayang. Saya tidak tahu
   apakah malam ini dia tidur dengan perut kenyang atau tidak. Saya berdoa
   agar Allah senantiasa menjaga dan menolong orang-orang seperti Pak
   Jumari, dan memberi hidayah kepada para pejabat kita yang korup.
   Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke jalan yang benar. Mudah-mudahan
   mereka bisa kembali paham bahwa jabatan adalah amanah yang harus
   dipertanggungjawabk an di mahkamah akhir kelak. Mudah-mudahan mereka
   masih punya nurani dan mau melihat ke bawah.

   Mudah-mudahan mereka bisa lebih sering naik angkot untuk bisa mencium
   keringat anak-anak negeri ini yang harus bekerja hingga malam demi
   sesuap nasi, bukan berkeliling kota naik sedan mewah...

   Mudah-mudahan mereka lebih sering menemui para dhuafa, bukan menemui
   konglomerat dan pejabat... Mudah-mudahan mereka lebih sering berkeliling
   ke wilayah-wilayah kumuh, bukan ke mal...

   Amien Ya Allah.


        This email and any attachments are confidential and may also be 
privileged. If you are not the addressee, do not disclose, copy, circulate or 
in any other way use or rely on the information contained in this email or any 
attachments. If received in error, notify the sender immediately and delete 
this email and any attachments from your system. Emails cannot be guaranteed to 
be secure or error free as the message and any attachments could be 
intercepted, corrupted, lost, delayed, incomplete or amended. Standard 
Chartered PLC and its subsidiaries do not accept liability for damage caused by 
this email or any attachments and may monitor email traffic.



        Standard Chartered PLC is incorporated in England with limited 
liability under company number 966425 and has its registered office at 1 
Aldermanbury Square, London, EC2V 7SB.



        Standard Chartered Bank ("SCB") is incorporated in England with limited 
liability by Royal Charter 1853, under reference ZC18. The Principal Office of 
SCB is situated in England at 1 Aldermanbury Square, London EC2V 7SB. In the 
United Kingdom, SCB is authorised and regulated by the Financial Services 
Authority under FSA register number 114276.



        If you are receiving this email from SCB outside the UK, please click 
http://www.standardchartered.com/global/email_disclaimer.html to refer to the 
information on other jurisdictions.
       


  


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet.
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting.
- Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply.
- Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur 
pribadi.
- Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta 
maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku.
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]

Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke