Semoga berkenan Selingan sajo diantaro diskusi sanak di siko ----------------------- SEMALAM SUNTUK MENIKMATI RABAB By : Andi Jupardi Rebab atau Rabab merupakan salah satu kesenian tradisional Minagkabau yang dimainkan dengan alat musik biola yang ditegakan bukan seperti biola pada umumnya yang disandang dibahu sambil digesek. Dalam rabab ini diceritakan berbagai kisah umumnya seputar kehidupan yang berlatar belakang adat/kebudayaan minang. Kehadiran Rabab berkaitan erat masuknya Islam di Miangkabau terutama daerah pesisir pantai sumatera bagian barat. Rabab yang terkenal di Minangkabau tentunya dari Pesisir Selatan biasa disebut Rabab Pasisie, sebuah seni tradisi lisan atau biasa disebut "bakaba" Seni tradisi rabab pasisie ini biasanya menampilkan seorang tukang rabab (biola), seorang tukang gendang, dan seorang tukang dendang (biasanya perempuan). Tukang rabab merangkap juga sebagai pencerita. Inilah sekulumit kisah hidup saya ketika menikmati rabab semalam suntuk, sekitar tahun 1990 selepas usai Piala Dunia di Itali, saya cuti pulang berlibur ke Padang. Dari muko-muko Bengkulu Utara (daerah perbatasan Sumbar-Bengkulu) tempat saya bekerja kala itu, saya ke Padang melalui jalan darat sepanjang pesisir pantai barat sumatera . Perjalanan dimulai dari Muko-muko masuk daerah perbatasan Kota Pinang, Lunang, Kambang, Batang Kapas, Painan ibukota kabupaten Pesisir Selatan, Bungus masuk kota Padang dengan waktu tempuh sekitar 10 Jam, saat itu kondisi jalan sempit, rata-rata jurang yang terjal disisi garis pantai, beberapa ruas jalan belum beraspal dan dalam pengerjaan. Perjalanan yang cukup melelahkan, tapi cukup terhibur dengan pemandangan pesisir pantai yang indah dengan lautan biru berkilau diterpa sinar matahari terik tengah hari, pantai-pantai landai dengan nyiur melambai, pulau-pulau kecil yang bertaburan, "kaki pulau" kecil yang terjal dihembas ombak tiada hentinya, perahu-perahu nelayan dengan aneka layar berwarna warni. Satu hari berada di kota kelaharin saya ini, salah seorang teman lama menawarkan sebuah ajakan : "Ndi..mandanga rabab awak lah..samalam suntuak" Sebuah ajakan yang susah ditolak, dan ini memang saya inginkan sejak lama "Dima tu Man.., begitu nama teman saya ini "Beko malam ado tukang rabab nan mangamen di emperen ruko dijalan M Yamin dakek masajik Muhamadiyah" Selepas Isya kami bergerak menuju tempat yang dimaksud oleh teman saya ini, sebelumnya kami sudah janjian makan malam diwarung emperan/tenda yang bertaburan disisi kiri kanan jalan M Yamin, warung ini terkosentrasi di seputar mesjid Muhamadiyah dan mulut jalan menuju pasar raya Kota Padang. Sekitar jam 9.30 kami bergerak ketempat tukang rabab, tidak jauh dari warung tenda, tepatnya diemperan toko menjelang (dulunya) masuk terminal Goan Hoat tempat mangkal Oto siti ekpres begitu orang Padang menyebut angkot. Tukang Rabab ini menggelar tikar (lesehan), dengan penerangan 2 buah lampu teplok ukuran besar (lampu togok berkaca semprong). Kami mengambil posisi duduk dengan penonton lain yang kebanyakan orang tua rata-rata berumur 50 tahunan, mungkin kami saja yang muda belia (25 tahun) diantara penonton yang tua-tua tersebut. Sementara Tukang Rabab dengan biolanya telah mulai pemanasan dengan dendang pantun-pantun dan lagu sebelum masuk inti cerita "bakaba" Salah seorang penonton yang duduk bersila ala pendekar sambil menikmati sebatang rokok dan segelas kopi dihadapannya, berkata "Lah..lah mulai lai carito tu...tukang rabab, urang lah rami ko duduak bakuliliang...oyak lah lai" Tukang rabab mengambil posisi, sambil menstel senar biolanya agar suaranya tidak lari, segala sesuatu telah siap, mulailah tukang rabab "bakaba" Malam semakin larut dan dingin, teman saya telah mengingatkan saya sebelum berangkat" "Ndi jaan lupo bawok saruang" Tentunya sarung ini bukan sekedar penahan hawa dingin, lebih dari itu kami ingin menikmati "suasananya", dengan selembar sarung tentunya kesannya seperti duduk dilapau-lapau kampung/pedesaan dan lebih "natural" Untuk menghangatkan badan kami memesan sekoteng/serbat yang mangkal disekitar tukang rabab ini, sekoteng plus begitu pesanan kami karena dikasih susu kental manis dan telur ayam kampung (seperti teh telor) Saya begitu larut dengan alunan dendang tukang rabab ini yang bercerita tentang sebuah kisah. Pada intinya sebuah kisah hidup dengan latar belakang budaya minangkabau, tentang nasib "parasaian seseorang. Ada konflik cinta, kasih tak sampai, pertikaian anak, kamanakan dan ibu, mengadu nasib dirantau orang, hidup terlunta-lunta diperantauan. Dengan gesekan biola yang melengking tinggi dan rendah yang sendu membuat pendengar tersayat pilu dengan kisah yang "mengharu birukan" Ketika tukang rabab rehat sejenak, pak tua tiba-tiba dengan tatapan sendu berkata pada tukang rabab tersebut.. "onde Yuang yo sadiah waden..kisah hiduik waden bana nan waang caritokan"....taruih lah..jaan lamo bana istirahat tu. Tukang Rabab meminum seteguk kopi dihadapannya dan menyulut sebatang rokok serta menghisapnya dalam-dalam, sementara saya dan teman saya sejenak menikmati sekoteng plus yang mulai dingin. Sarung semakin kami "pulun" dari leher menutupi sampai kaki sambil duduk bersila. Tukang rabab sebelum melanjutkan ceritanya yang "haru biru" diselingi terlebih dahulu dengan dendang-dendang atau lagu pantun yang kadang-kadang liriknya jenaka yang dibawakan asistennya seorang wanita (mungkin istrinya) Cerita inti "bakaba" dilanjutkan oleh tukang rabab ini, jam menunjukan pukul 01.00 dini hari, semakin larut cerita semakin memilukan dengan perasaian anak manusia dalam menempuh hidup. Saya begitu terpesona dengan tukang rabab ini, begitu detailnya dia menceritakan setiap kejadian seolah-olah kita berada dalam kisah tersebut sebagai contoh, ketika tokoh utama ini pergi merantau ketanah jawa dari kampung naik oto bus. Tukang Rabab ini sangat-sangat detail menceritakan bagaimana perjalanan oto tersebut, mulai dari sopir injak rem, masuk perseneling, memutar stir, menempuh jalan yang berlobang terombang ambing. Roda mobil yang Slip (jika sedikit saya bawa-bawa ilmu Fisika slip ini artinya putaran/rotasi ban mobil tidak sebanding dengan jarak tempuh...ya ngegasing geto lo) Ketika ban mobil tersebut "ngegasing" tukang rababpun menceritakan..berdesir-desir..kerikil..terpelanting..kira-kira begitu, lebih halusnya tentu tukang rabab ini dengan "goyangan" kata-katanya. Dan lebih hebat lagi tukang rabab yang berkisah begitu panjang tanpa contekan didepannya atau sebuah buku tebal yang dibolak-balik setiap halamannya untuk menyampaikan kaba ini. Luar biasa saya pikir tukang rabab ini adalah seorang jenius didunianya. Mengalir lancar dimulutnya setiap bagian kisah tanpa kehilangan alur cerita ditambah lagi beban kosentrasi terbagi untuk menggesek biola..apa ini tidak luar biasa. Kisahnya memang penuh haru, jalan panjang yang berliku untuk menempuh hidup yang kadang-kadang terlalu sulit diraih, seperti sebuah lagu The Beatles yang sendu " The Long and Winding Road" "many times I 've been alone and many times I 've cried" "Anyway you 'll never know the many ways I 've tried "But still they lead me back to the long and winding road" "You left me standing here a long...long time ago" Don't leave mewaiting here, lead me to your door" Begitulah kira-kira lagu the Beatles ini dengan kaba si tukang rabab...yang menyayat hati. Jam menunjukan sekitar pukul 3 menjelang subuh, tukang rabab memohon diri, ini mungkin "stretegi komersilnya" kaba masih berlanjut besoknya, dia memohon maaf, tentunya dengan harapan penonton yang berada disekitarnya kembali lagi besok malamnya untuk melanjutkan kisahnya. Kami mulai beranjak dari tempat duduk dengan mata menahan kantuk, lalu kami isi piring lebar yang telah disediakan tukang rabab dengan sejumlah uang yang cukup lumayanlah... Bapak tua yang larut dengan kisah tadi sedikit penasaran Tukang Rabab..angku gantuang lo yo caritonyo Kok bantuak itu..datang lah waden baliak bisuak malam Secara diplomatis tukang rabab menjawab Mooh Pak.. hari lah manjalang azan subuah" Iyolah kata Pak Tua ini sambil melemparkan uang dipiring tukang rabab. Besok malamnya kami tidak melanjutkan lagi untuk mendengar lanjutan kisah si tukang rabab ba kaba, cukup.....ini sebuah pengalaman yang tak terlupakan menonton rabab semalam suntuk di emperen toko. Sekarang kesenian Rabab semakin tertekan dengan kemajuan zaman, kondisinya semakin kritis karena generasi sekarang boleh dikatakan tidak banyak meneruskan tradisi Rabab ini. Sementara perabab handal semakin tua dan uzur pada akhirnya kisah tersebut terkubur bersama jasadnya. Walaupun ada "catatan" kisah yang menyayat itu dalam bentuk kaset, tapi seni ber kaba yang indah ini tidak dipelajari dan diteruskan oleh generasi muda sekarang. Salam-Jepe/Pku 8 April 2008
__________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet. - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting. - Hapus footer & bagian tidak perlu, jika melakukan reply. - Email attachment, DILARANG! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi. - Posting email besar dari >200KB akan dibanned, sampai yg bersangkutan minta maaf & menyampaikan komitmen mengikuti peraturan yang berlaku. =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
